You are on page 1of 27

Diagnosa Tujuan Gangguan pola istirahat tidur b.

d pusing kepala DS: Klien mengatakan sering susuah tidur DO: klien tampak sedikit lemas Tupen: Klien dapat tidur sesuai dengan waktu nya setelah dilakukan tindakan keperawata selama 3X24 jam dengan criteria klien mengatakan bisa klien tampak segar klien mengatakan pola tidur dengan mudah Tupan : Pola tidur klien 8 jam setiap hari

Perencanaan Inervensi 1. kaji pola kebiasaan tidur klien 2. beri pengetahuan kepada klien tentang manfaat tidur sesuai waktu 3. anjurkan kepada klien agar minum susu hangat sebelum tidur 4. anjurkan kepada keluarga agar menciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien menjelang klien tidur

Rasional 1. mengkaji pola kebiasaan tidur klien berguna utuk mrencanakan tindakan selanjutnya 2. kurang tidur dapat menstimulasi fikiran klien menjadi tidak enak sehingga dapat menaikan TD dan klien merasa lemas 3. dapat menstimulasi klien untuk cepat tidur 4. lingkungan yang nyaman diciptakan keluarga agar klien mampu tidur dengan nyaman 1. tekanan darah yag tinggi dapat mejadikan pasien pusing 2. tempat tidur yang rendah dapat meminimalkan resiko klien terjatuh 3. memiimalkan klien agar tidak jatuh di kamar mandi

tidur 8 jam perhari

Resiko cedera b.d pusig DS: Klien mengatakan pusing DO: klien tampak TD 190/80 sempoyongan

Tupan : Cedera tidak terjadi Tupen : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam Resiko cedera berkurang bahkan tidak terjadi dengan criteria

1. awasi tanda-tanda vital 2. anjurkan kepada keluarga agar menempatkan tempat tidur yang rendah bagi klen 3. anjurkan kepada

klien tidak mengeluh jalan klien tidak tampak TD 120/70

keluarga untuk mendampingi klien apabila klien mau ke kemar mandi 4. anjurkan klien agar beristirahat dengan cukup 5. anjurkan kepada keluarga agar melarang klien menggunakan barang-barang yang berbahaya

4. istirahat yang cukup dapat menenangkan fikiran klien dan dapat pula mestabilkan tekanan darah 5. membiarkan klien menggunakan barang-barang yang berbahaya seperti pisau untuk mengupas sayuran dapat menambah resiko cedera bagi klien

pusing sempoyongan

Potensial perubahan perfusi jaringan serebral , jantung, ginjal b.d gangguan sirkulasi DS: Klien mengatakan memiliki riwayat penyakit hipertensi DO: TD 190/80 mmhg Klien tampak pusing

Tupan : Perfusi jaringan normal Tupen : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam potensial perubahan perfusi jaringan serebral, jantung, ginjal berkurang bahkan tidak terjadi denga criteria : TD 120/70-130/80 mmhg

1. observasi tanda Vital 2. observasi intake dan output 3. observasi perubahan sensoris dan motoris (tanda-tanda neurologist) 4. anjurkan diet rendah kalori rendah garam 5. anjurkan klien agar berobat rutin ke puskesmas

1. tekanan darah tinggi dapat menambah resiko gangguan perfusi jaringan 2. intake dan out put klien harus seimbang 3. perubahan sensoris dan motoris dapat diindikasikan sebagai adanya gangguan perfusi jaringan 4. diet rendah kalori rendah garam dapat menurunkan tekanan

Klien tidak tampak

darah

pusing

No DX 1 Selasa 13-06-06 jam 11.00

implementasi

evaluasi Selasa 13-06-06 jam 12.00 S :Klien mengatakan masih sussah tidur O: klien tampak lemas A: masalah belum teratasi P: lanjutkan intervensi (1-4) I: melakukan implementasi (1-4) E: masalah belum teratasi dengan criteria : - klien megatakan masih susah tidur - klie tam,pak lemas R : mengkaji ulang masalah

1. mengkaji pola kebiasaan tidur kien hasil klien tidur pada pukul 01 malam karena klien susah tidur sampai jam 05 subuh selasa 13-06-06 jam 11.10 2. memberi pegetahuan kepada klien tentang manfaat tidur dan efek yang timbul bila kekurangan tidur 3. menganjurkan kepada klien agar minum susu hangat sebelum klien tidur 4. menganjurkan kepada keluarga agar menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman bagi klien menjelag klien tidur

Selasa 13-06-06 jam 11.00 1. mengobservasi tanda-tanda vital TD : 190/80 mmhg N: 80 R: 20 2. menganjurkan kepada keluarga agar klien tidur diotempat yang rendah 3. menganjurkan kepada keluarga agar mendampingi klien saat klien kekamar andi 4. menganjuurkan klie agar beristirahat yang cukup 5. mengajurka kepada klien dan keluarga agar tidak menggunakan barangbarang yag dapat melukai/membahayakan klien

Selasa 13-06-05 jam 12.00 S: - klien megatakan pusing - keluarga mengatakan akan mendampingi klien ke kamar mandi - keluarga engatakan akan menempatkan tempat tidur klien dalam posisi rendah O:

klien tampak pusing jalan klien sempoyongan

A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi (1-4) I: melakukan implementasi (1-4) 3 Selasa 13-06-06 jam 11.00 1. mengobservasi TTV 2. mengobservasi intake dan output (intake 5-6 gelas perhari, output 4-5 kali/hari) jam 11.30 3. mengobservasi perubahan sensoris dan motoris klien GCS klie 15 (E4 M6 V5) orientasi klien terhadap waktu dan hari kurang jam 11.45 4. menganjurkan klien agar diet rendah kalori dan rendah garam 5. meganjurkan klien agar berobat rutin ke puskesmas A: masalah belum teratasi P lanjutkan intervensi (1-5) I : melakukan implemenasi (1-5) R: mengkaji ulang masalah Selasa 13-06-06 jam 12.00 S: O: - TD 190/90 mmhg - Orietasi klien terhadap hari dan waktu kurang

NURSES LIBRARY
_it's about care and love_

Beranda About

ASUHAN KEEPERAWATAN KELUARGA DENGAN HIPERTENSI


BAB I PENDAHULUAN 1. A. LATAR BELAKANG

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolic di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolic 90 mmHg. Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke dan gagal ginjal. Disebut sebagai pembunuh diam-diam karena orang

hipertensi sering tidak menampakkan gejala. Institute Nasional Jantung, Paru dan Darah memperkirakan separuh orang yang menderita hipertensi tidak sadar akan kondisinya. Begitu penyakit ini diderita, tekanan darah pasien harus dipantau teratur karena hipertensi merupakan kondisi seumur hidup.

Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% diantara mereka menderita hipertensi esensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan penyebab medisnya. Misalnya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder), seperti penyempitan arteri renalais atau penyakit parenkim ginjal, berbagai obat, disfungsi organ, tumor dan kehamilan. Hipertensi merupakan risiko morbiditas dan mortalitas premature, yang meningkat sesuai dengan peningkatan tekanan sistolik dan diastolik. Laporan Joint Nationale Committee on Detection Evaluation and Treatment of High Blood Presure (1993) yang kelima mengeluarkan panduan baru mengenai deteksi, evaluasi dan penanganan hipertensi. Komite ini juga memberikan klasifikasi tekanan darah pada individu berumur 18 tahun ke atas, yang akan sangat berguna sebagai criteria tindak lanjut bila digunakan berdasarkan pemahaman bahwa diagnosis didasarkan pada rata-rata dua pengukuran yang dilakukan secara terpisah. Hipertensi esensial biasanya dimulai sebagai proses labil (intermitten) pada individu pada akhir 30-an dan awal 50-an dan secara bertahap menetap. Pada suatu saat dapat saja terjadi secara mendadak dan berat, perjalannya dipercepat atau maligna yang menyebabkan kondisi pasien memburuk dengan cepat. Gangguan emosi, obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, dan rangsangan kopi yang berlebihan, serta tembakau obat-obatan yang merangsang dapat berperan disini, tetapi penyakit ini sangat dipengaruhi factor keturunan. Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita daripada pria, tetapi pria khususnya pria Amerika keturunan Afrika, lebih tidak mampu menoleransi penyakit ini. Di Amerika Serikat, insidens hipertensi meningkat sesuai proses penuaan dan insidens pada orang Amerika keturunan Afrika jauh melebihi orang kulit putih. 1. B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penyusunan makalah ini untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan keluarga pada pasien dengan penyakit hipertensi. 1. 1. C. TUJUAN Tujuan Umum

Mengetahui gambaran umum tentang hipertensi yang terjadi. 1. Tujuan Khusus

1. 2.

Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, serta tanda dan gejala yang terjadi pada pasien penderita hipertensi. Mengetahui penatalaksanaan dan asuhan keperawatan keluarga yang seharusnya diberikan pada pasien penderita hipertensi BAB II LANDASAN TEORITIS

1.

A. PENGERTIAN

Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolic nya diatas 90 mmHg (Smith Tom, 1995). Menurut WHO penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama dengan atau lebih besar 95 mmHg. Hipertensi dikatagorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95-104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105-114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih (Smith Tom, 1995). 1. B. ETIOLOGI

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu(Lany Gunawan,2001) 1. 2. Hipertensi Primer (Essensial), yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi Sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain. beberapa factor yang sering menyebabkan

Hipertensi primer belum diketahui pasti penyebabnya, penelitian sebelumnya menemukan hipertensi. Factor-faktornya adalah sebagai berikut: 1. Faktor keturunan

Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. 1. Ciri Perseorangan

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur, (jika umur bertambah maka tekanan darah meningkat), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi daripada perempuan) dan ras (ras kulit hitam lebih banyak daripada kulit putih). 1. Kebiasaan hidup

Kebiasaan hidup yang sering menimbulkan hipertensi adalah; konsumsi garam yang tinggi (melebihi 30 gr), kegemukan atau makan berlebihan, stress, dan pengaruh lain, misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan (ephedrine,prednisone, dan epinephrin). 1. C. PATOFISIOLOGI

Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganlia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinephrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medulla adrenal mensekresi epinephrine, yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah menjadi angiotensin II, suatu vasokontriktor kuat,

yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan rtensi Natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vascular. Semua factor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Untuk pertimbangan gerontology, perubahan sruktural dan fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (Volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2002). 1. D. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala pada hipertensi menurut Edward K Chung, 1995 adalah sebagai berikut: 1. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan artei tidak terukur. 1. Gejala yang lazim

Sering dikatakan gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataan ini meruapakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan. Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala . Bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung,. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing. 1. E. PENATALAKSANAAN

Deteksi dan tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik di bawah 140 mmHg dan tekanan diastolic di bawah 90 mmHg dan mengntrol factor risiko. Hal ini dapat di capai melalui modifikasi gaya hidup saja atau dengan obat antihipertensi.

1. 1. 1. 1.

Terapi tanpa Obat Diet; yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Penurunan konsumsi garam dari 10 gr/hari menjadi 5 gr/hari Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Latihan fisik atau olahraga yang teratur dan terarah. Olahraga yang dianjurkan seperti lari, jogging, bersepeda, berenang, dan lain-lain. Lamanya latihan berkisar antara 20-25 menit berada dalam zona latihan. Intensitas olahraga yang baik antara 60-80% dari kapasitas aerobic atau 72-80% dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Frekuensi latihan sebaiknya 3 kali/minggu dan lebih baik lagi 5 kali/minggu. Pendidikan kesehatan (penyuluhan)

Tujuan pendidikan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplkasi lebih lanjut. 1. Terapi dengan Obat

Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pilihan obat untuk penderita hipertensi adalah sebagai berikut : 1. 2. Hipertensi tanpa komplikasi : diuretic, beta blocker. Hipertensi dengan indikasi penyakit tertentu : inhibitor ACE, penghambat reseptor angiotensin II, alfa blocker, alfa-beta-blocker, beta

blocker, antagonis Ca dan diuretic

3. 4. 5. 6.

Indikasi yang sesuai Diabetes Mellitus tipe I dengan proteinuria diberikan inhibitor ACE. Pada penderita dengan gagal jantung diberikan inhibitor ACE dan diuretic. Hipertensi sistolik terisolasi : diuretic, antagonis Ca dihidropiridin kerja sama. Penderita dengan infark miokard : beta blocker (non ISA), inhibitor ACE (dengan disfungsi sistolik).

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Riwayat Kasus Di keluarga bapak Ardiansyah (58 tahun) ada istrinya yaitu ibu Rani (48 tahun) yang mengalami hipertensi. Bapak Ardiansyah dan ibu Rani tinggal bersama kedua anaknya yaitu Mira (22 tahun) putrid pertamanya dan Aditya (15 tahun) putra kedua mereka. Keluarga mengatakan bahwa ibu Rani telah menderita penyakit darah tinggi sejak 2 tahun yang lalu. Keluarga juga mengungkapkan bahwa ibu Rani lebih cepat tersinggung dan gampang marah. Ibu Rani sering mengeluh pada keluarganya kalau Ia sering mengalami sakit di belakang kuduk, sering pusing, kepala berdenyut-denyut dan jantung berdebar-debar. Keluarga mengatakan bahwa ibu Rani suka makan ikan asin dan daging. Pada pemeriksaan fisik ibu Rani, didapatkan tekanan darahnya 150/100 mmHg. Ketika ditanya kepada keluarga mengenai penyakit ibu Rani, keluarga mengatakan bahwa penyakit ibu Rani merupakan penyakit yang diturunkan dari ayahnya yang sudah meninggal. Keluarga mengatakan ibu Rani dibawa ke Puskesmas kalau penyakitnya kambuh dan keluarga juga menyatakan jika mereka tidak melarang memakan makanan kesukaannya dan keluarga tidak memisahkan makanan yang dikonsumsi anggota keluarga dengan makanan yang dikonsumsi ibu Rani, keluarga juga mengungkapkan bahwa ibu Rani mudah lelah ketika melakukan aktifitas. 1. PENGKAJIAN

1.Identitas keluarga Nama keluarga : Ardiansyah

Alamat Komposisi keluarga

: Desa Tanjung Selamat, Darussalam, Aceh Besar. :

Nama Ardiansyah Rani Mira Aditya

Gender Hubungan Usia Tempat lahir L Ayah 58 th Sigli P Ibu 48 th Aceh Besar P Anak 22 th Aceh Besar L Anak 15 th Aceh Besar

Pekerjaan Pendidikan Status kesehatan PNS S1 Sehat IRT SMA Sakit Mahasiswi S1 Pelajar SMU Sehat sehat

Tipe keluarga

: Keluarga dengan tipe keluarga inti dimana hanya ada bapak Ardiansyah, ibu Rani, dan kedua anaknya Mira

dan Aditya. Latar Belakang budaya : keluarga ini adalah sebuah keluarga dari suku Aceh asli. Jaringan social keluarga berasal dari kelompok

etnis dan agama yang sama. Kegiatan keagamaan menjadi kegiatan utama. Identifikasi Religius : keluarga terlibat secara aktif dalam praktik-praktik dalam sistem keyakinan ajaran Islam : menghadiri

pengajian secara teratur setiap hari Minggu malam yang diadakan di meunasah. Status Kelas Keluarga : ayah merupakan pencari nafkah. Terkadang ibu juga menerima pesanan catering untuk menambah

penghasilan keluarga. Status Ekonomi Aktivitas Rekreasional : keluarga memiliki pendapatan yang mencukupi kebutuhan mereka, penghasilan tetap. : Bapak Ardiansyah dan Ibu Rani memanfaatkan waktu luang mereka untuk bercocok tanam di kebunnya,

merawat dan memetik sejumlah hasil tanaman yang mereka tanam. Sementara kedua anaknya sering pergi bersama teman-teman mereka. 1. Perkembangan Keluarga Tahap perkembangan keluarga : keluarga sedang berada dalam tahap mengadapi

saat ini

anak remaja/dewasa muda Jangkauan sejauh mana keluarga

memenuhi tugas-tugas perkembangan : keluarga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keamanan dan kenyamanan terjaga dengan baik. Pemeliharaan hubungan anak-orang tua

keluarga dalam hal papan, sadang dan pangan, memuaskan. Riwayat keluarga

: Bapak Ardiansyah dan ibu Rina tinggal bersama

anak-anaknya. Mereka mengatakan bahwa selama tidak ada permasalahan /konflik yang berarti dalam keluarga mereka. Riwayat keluarga asal dari kedua : orang tua Bapak Ardiansyah tinggal di Laweung,

orang tua

Sigli dan bekerja sebagai nelayan tradisional. Anak-anak dibesarkan deengan nilai-nilai agama yang tinggi. Meskipun keadaan ekonomi mereka menengah ke bawah, tapi orang tua Bapak Ardi-

ansyah mampu membiayai biaya pendidikan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Orang tua Ibu Rani tinggal di Tanjung Selamat, A. Besar. Sebelum kedua orang tersebut meninggal, saat Ibu Rani 20 th, Ibu Rani yang membesarkan Kedua adik laki-lakinya sampai mereka dewasa. 1. Struktur Keluarga Pola komunikasi keluarga :Ibu Rani selalu mengemukakan persoalan-persoalan dan meminta pendapat suaminya, begitu pula

sebaliknya. Bapak Ardiansyah dan kedua anaknya mengatakan bahwa komunikasi mereka dengan ibu mereka terkadang terganggu saat penyakit Ibu Rani kambuh, Ibu Rani menjadi mudah tersinggung dan cepat marah sehingga Bapak Ardiansyah dan kedua anaknya sulit mengutarakan sesuatu karena khawatir Ibu Rani tersinggung. Saat Ibu Rani kambuh, keluarga memilih untuk diam saja. Sruktur kekuatan keluarga :Bapak Ardiansyah berperan memberikan nafkah sedangkan Ibu Rani mengatur pengeluaran dalam rumah

tangga. Strukur peran keluarga

Bapak Ardiansyah ; ayah dan suami, dia sebagai pencari nafkah sekaligus pemimpin dalam keluarga.

Ibu Rani

; ibu dan istri, bertindak sebagai ibu rumah tangga yang melakukan aktivitas sehari dalam rumah tangga seperti memasak,

menyuci, membersihkan rumah, berbelanja. Mira ; anak dan kakak. Anak pertama dan kakak, sudah sering dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam keluarga. Di sela-

sela waktu luang kuliah, dia menyempatkan diri untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Aditya 1. ; anak dan adik. Anak yang patuh dan berprestasi di sekolah. :sangat dipengaruhi oleh agama dan norma di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Nilai-nilai keluarga Lingkungan Karakteristik rumah

: sebuah rumah permanen dengan 3 kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang makan dan

kamar mandi yang terlihat bersih dan dilengkapi sejumlah perabotan yang tertata rapi. Ventilasi ; pada setiap kamar tidur terdapat 2 jendela dengan ukuran 70 X 110 cm. Pada ruang tamu terdapat 4 jendela dengan ukuran 60 X 110 cm. Dapur juga memiliki 3 jendela dengan ukuran 60 X 110 cm Di ruang keluarga terdapat 4 jendela dengan ukuran 60 X 110 cm Penerangan ; setiap ruangan terdapat lampu. o Denah rumah Lingkungan di sekitar rumah : pekarangan ditanami sejumlah bunga dan pohon mangga, jambu dan kelapa. Pekarangan tampak

bersih dan terawat. o Jaringan dukungan sosial : Bapak Ardiansyah dan Ibu Rani mempunyai tetangga yang sering mereka ajak berbicara. Bapak

Ardiansyah sering mengutarakan dan meminta kepada tetangga untuk lebih pengertian dengan sikap istrinya.

o 1. 1.

Mobilitas geografi keluarga : anggota keluarga tinggal dalam lingkungan di sekitar rumah yang sama selama kehidupan mereka. Koping Keluarga Sumber stessor berasal Kekambuhan penyakit Ibu Rani yang tidak dapat diperkirakan oleh keluarga. Kekhawatiran keluarga pada penyakit Ibu Rani yang tidak kunjung sembuh. Muncuknya perubahan sikap dan sifat Ibu Rani sat penyakitnya kambuh. Kekuatan yang mengimbangi stressor Ekonomi : Bapak Ardiansyah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Pengertian dari suami dan anak-anak terhadap Ibu Rani Keikutsertaan dalam pengajian sangat membantu. Keluarga harmonis. Suasana rumah yang nyaman. Adaptasi keluarga Keluarga menyerahkan apa yang sudah terjadi kepada Tuhan YME. Menjalankan praktik-praktik keagamaan untuk menenangkan pikiran. Harapan Keluarga

Keluarga berharap penyakit tekanan darah tinggi Ibu Rani bisa sembuh. 1. Pemeriksaan Fisik TD : 150/100 mmHg

Bunyi jantung III RR DN Nafas Kulit BB TB : 24x/menit : 100x/menit : cepat dan pendek, tidak teratur : sianosis : 70 kg : 150 cm

B. ANALISA DATA, PENEGAKAN DAN MEMBUAT PRIORITAS MASALAH

No Data Diagnosa Keperawatan Kriteria Skore 1. Keluarga mengatakan bahwa penyakitKurang pengetahuanSifat masalah 3/3 x 1 darah tinggi Ibu Rani merupakanmengenai hubungan antara penyakit yang di turunkan olehaturan penanganan danKemungkinan 2/2 x 2 keluarganya (ayah Ibu Rani). Keluargacontrol proses penyakit membiarkan Ibu Rani memakan ikanpada keluarga Bapakmasalah diubah 3/3 x 1 asin dan daging dan tidak memisahkanArdiansyah terutama Ibu makanan untuk anggota keluarga denganRani b.d KMK merawatPotensi untuk2/2 x 1 makanan Ibu Rani. anggota keluarga yangdicegah

Pembenaran Keluarga mengatakan Ibu Rani menderita tekanan darah tinggi dari orang tuanya. Adanya perawat keluarga yang akan memberikan penkes dengan lengkap.

menderita hipertensi. Menonjolnya masalah Total skore Harus ditangani segera supaya keluarga dapat memutuskan tindakan perawatan yang tepat pada anggota keluarga yang sakit. Jika tidak diobati maka akan terjadi penurunan curah jantung. Hipertensi sudah terjadi sejak 2 tahun yang lalu. Dengan dukungan pengobatan dari semua anggota keluarga. Untuk mencegah jangan sampai terjadi menurunnya curah jantung. 5 Pada keluarga yang berlatarbelakang pendidikan tinggi.

2. Data subjektif : keluarga mengatakan IbuResiko penurunan curahSifat masalah 2/3 x 1 Rani sering mengeluh jantung berdebar-jantung pada keluarga debar dan pusing. Bapak Ardiansyah terutamaKemungkinan x2 pada Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluargamasalah diubah 2/3 x 1 Data objektif : TD = 150/110 mmHg yang menderita hipertensi. DN= 100x/menit Potensi untuk2/2 x 1 dicegah Frek. Nafas = 24x/menit 2 4/3 Menonjolnya Nafas pendek dan cepat masalah Terdengar bunyi jantung S3, kulit Total skore sianosis. 3. Keluarga mengatakan bahwa Ibu RaniGangguan intregitas egoSifat masalah 3/3 x 1 mudah tersinggung dan cepat marah. pada keluarga Bapak Ardiansyah terutama padaKemungkinan x2 Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluarga yangmasalah diubah 2/3 x 1 menderita hipertensi. Potensi untuk x 1 dicegah 3 1/6

Keluhan nyeri sudah terjadi. Tergantung keberhasilan terapi penurunan tekanan darah. Ada dukungan keluarga ; pengertian dari setiap anggota keluarga. Tidak mengakibatkan akibat fatal terhadap fungsi fisiologis pasien.

Menonjolnya masalah Total skore 4. Keluarga mengatakan bahwa Ibu RaniAktual nyeri pada keluargaSifat masalah sering mengeluh sakit di kuduk bagianBapak Ardiansyah terutama belakang, kepala berdenyut-denyut. pada Ibu Rani b.d KMKKemungkinan merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi. masalah diubah Potensi dicegah Menonjolnya masalah Total skore 5. Keluarga mengatakan bahwa Ibu RaniResiko intoleran aktivitasSifat masalah 2/3 x 1 mudah lelah saat melakukan aktivitas. pada keluarga Bapak Ardiansyah terutama padaKemungkinan x1 Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluarga yangmasalah diubah 2/3 x 1 menderita hiperetensi. Potensi untuk2/2 x 1 dicegah 4 Menonjolnya masalah Total skore 6. Keluarga mengatakan Ibu Rani sukaNutrisi; lebih dariSifat masalah 3/3 x 1

3/3 x 1 2/2 x 2 2/3 x 1

Keluhan yang sering diutarakan pada keluarga. Tergantung keberhasilan terapi penurunan tekanan darah. Perawat bisa mengajarkan tehniktehnik tertentu pada keluarga. Mengganggu kenyamanan pasien.

untuk2/2 x 1 3 2/3

Ibu Rani masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari yang ringan. Kebiasaan Ibu Rani menyelesaikan aktivitas rumah tangga sendiri Ada anggota keluarga Karena akan berdampak pada kekhawatiran Ibu Rani jika tidak melakukan aktivitas sehari-hari, tanggung jawab rumah tangga terbengkalai. Ibu Rani suka makan makanan

makan ikan asin dan daging. BB : 70 kg , TB : 150 cm.

kebutuhan tubuh pada keluarga Bapak ArdiansyahKemungkinan x2 terutama Ibu Rani b.d KMK merawat anggotamasalah diubah 2/3 x 1 keluarga yang menderit hipertensi. Potensi untuk2/2 x 1 dicegah 3 2/3 Menonjolnya masalah Total skor

sesuka hatinya karena

Prioritas diagnosa adalah : 1. Kurang pengetahuan mengenai hubungan antara aturan penanganan dan kontrol proses penyakit pada keluarga Bapak Ardiansyah b.d

KMK merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi. 2. Resiko intoleran aktivitas pada keluarga Bapak Ardiansyah terutama pada Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluarga yang menderita

hipertensi. 3. 4. Aktual nyeri pada keluarga Bapak Ardiansyah terutama pada Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi. Nutrisi; lebih dari kebutuhan tubuh pada keluarga Bapak Ardiansyah terutama pada Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluarga yang

menderita hipertensi. 5. Gangguan intregitas ego pada keluarga Bapak Ardiansyah terutama pada Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluarga yang menderita

hipertensi. 6. Risiko penurunan curah jantung pada keluarga Bapak Ardiansyah terutama Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluarga yang menderita

hipertensi. C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN DAN EVALUASI

No Diagnosa 1.

2.

Tujuan Intervensi Evaluasi Tujuan Umum Tujuan Khusus Kriteria Kurang pengetahuan mengenaiKeluarga Keluarga- Berikan sejumlah informasi- Vocal hubungan antara aturanmemiliki mengetahui bahwamengenai penyakit, gejala dan penanganan dan kontrol prosespengetahuan penyakit darah tinggipenyebabnya dan bahaya- Verbal penyakit pada keluarga Bapakmengenai merupakan penyakitkomplikasi yang ditimbulkan Ardiansyah b.d KMK merawathubungan yang disebabkan krn - Verbal anggota keluarga yangaturan gaya hidup yang salah.- Anjurkan keluarga untuk menderita hipertensi yangpenanganan membatasi intake makanan ditandai dengan : dan kontrolKeluarga tidakyang tinggi garam dan tinggi penyakit. membiarkan Ibu Ranilemak Keluarga mengatakan memakan ikan asin penyakit Ibu Rani berasal dari dan daging. - Anjurkan keluarga untuk orang tuanya memisahkan makanan Keluargaanggota keluarga dengan - Keluarga membiarkan Ibu memisahkan makananmakanan Ibu Rani. Rani memakan ikan asin dan anggota keluarga daging dengan makanan Ibu Rani. - Tidak memisahkan makanan anggota keluarga dengan makanan Ibu Rani Resiko intoleran aktivitas padaDapat - Ibu Rani bisaKaji respons pasien- Vocal keluarga Bapak Ardiansyahmelakukan melakukan aktivitasterhadap aktivitas ; nyeri terutama pada Ibu Rani b.daktivitas sehari-hari dengandada, peningkatan TD yang- Verbal KMK merawat anggota keluargasehari-hari rasa nyaman nyata saat beraktivitas yang menderita hipertensi yangdengan baik. - Verbal ditandai : Tidak mudah- Anjurkan pasien tentang merasa lelah saattehnik penghematan energy- Verbal keluarga mengatakan Ibu beraktivitas mis ;menggunakan kursi saat rani mudah lelah saat mandi, melakukan aktivitas beraktivitas Menunjukkansecara perlahan-lahan penurunan dalam

Standar Keluarga mampu menjelaskan ttg penyakit, gejala, bahaya komplikasi hipertensi. Keluarga mampu melakukan pengontrolan intake makanan tinggi lemak dan tinggi garam Keluarga sudah memisahkan makanan anggota keluarga dengan makanan Ibu Rani.

Merasa nyaman saat beraktivitas Ibu Rani melakukan tehnik penghematan energy saat beraktivitas Ibu Rani melakukan aktivitas bertahap

3.

Aktual nyeri pada keluargaNyeri hilang Bapak Ardiansyah terutama pada Ibu Rani b.d KMK merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi yang ditandai dengan keluarga mengatakan Ibu Rani sering mengeluh sakit di kuduk bagian belakang, kepala berdenyutdenyut.

tanda-tanda intoleransi- Berikan dorongan untuk fisiologis melakukan aktivitas bertahap jika dapat ditolerir - Keluarga membantu mengurangi beban- Anjurkan keluarga untuk aktivitas Ibu Rani. membantu aktivitas-aktivitas rumah tangga. - Keluhan sakit di- Anjurkan pasien untuk- Verbal belakang kepalamelakukan tirah baring saat hilang fase akut. - Verbal Keluhan kepala- Ajarkan keluarga untuk- Vocal berdenyut-denyut melakukan tindakan hilang. nonfarmakologis untuk- Verbal menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada- Verbal dahi, pijat punggung dan leher, tehnik relaksasi. - Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengontrol aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan sakit kepala missal batuk panjang, membungkuk. - Anjurkan keluarga untuk selalu melakukan ck tekanan darah setiap 3 minggu sekali - Anjurkan keluarga untuk memantau kebutuhan pasien dalam menjalankan terapi

yang dapat ditolerir Keluarga membantu aktivitas rumah tangga yg biasa dilakukan oleh Ibu Rani Pasien segera melakukan tirah baring saat nyeri kambuh. Keluarga melakukan tehnik-tehnik kompres dingin, pijatan punggung dan leher saat nyeri muncul. Keluarga selalu mengingatkan supaya Ibu Rani tidak membungkuk Keluarga membawakan Ibu Rani ke puskesmas 1x/minggu untuk cek TD Keluarga selalu memantau kepatuhan Ibu Rani dalam

farmakologis 4. Nutrisi; lebih dari kebutuhanNutrisi tidakBB turun 1 kg/minggu- Anjurkan keluarga dan- Verbal tubuh pada keluarga Bapakberlebih sesuai. menunjukkanpasien untuk menimbang BB Ardiansyah terutama pada Ibukebutuhan perubahan pola makansetiap minggu - Verbal Rani b.d KMK merawat anggotatubuh ( mis pilihan makanan, keluarga yang menderita kuantitas) - Menjelaskan pada keluarga- Verbal hipertensi yang ditandai dengan dan pasien tentang pengaruh BB:70 kg; TB : 150 cm, pola makan terhadap penyakit keluarga mengatakan Ibu rani hipertensi. suka makan daging - Anjurkan keluarga untuk memotivasi Ibu Rani melakukan olahraga yang tepat secara individual - Anjurkan keluarga untuk membatasi dan mengontrol intake makanan tinggi lemak.

menjalankan terapi farmakologis Ibu Rani selalu menimbang BB setiap minggu dan BB turun 1 kg/minggu Keluarga mengetahui pengaruh pola makan yang salah terhadap hipertensi Ibu Rani rajin melakukan olahraga rutin. Ibu Rani tidak lagi makan makanan tinggi lemak dan garam.

5.

6.

Gangguan intregitas ego padaIntregitas egoIbu Rani tidak mudahkeluarga Bapak Ardiansyahtidak terganggu tersinggung dan tidak terutama pada Ibu Rani b.d cepat marah KMK merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi yang ditandai dengan keluarga mengatakan Ibu Rani mudah tersinggung dan cepat marah. Risiko penurunan curah jantungTidak terjadiJantung tidak- Anjurkan keluarga untuk- Verbal pada keluarga Bapakpenurunan berdebar-debar danmemantau kepatuhan pasien Ardiansyah terutama Ibu Ranicurah jantung tidak pusing dalam menjalankan terapi -

Keluarga selalu memantau kepatuhan terapi dalam

b.d KMK merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi yang ditandai dengan keluarga mengatakan Ibu Rani sering mengeluh jantungnya berdebar-debar dan pusing, TD: 150/100 mmHg, DJ : 100x/menit, RR: 24x/menit, nafas pendek dan cepat, kulit sianosis, terdengar bunyi jantung S3.

menjalankan terapi - TD : 120/90 mmHg - Pantau TD, ukur di keduaPengukuran tangan Ibu Rani TD : 120/90 mmHg - DJ : 60-100 x/menit - Auskultasi tonus jantungAuskultasi Tidak terdengar dan bunyi jantung tonus jantung dan - RR : 20x/menit bunyi jantung III. - verbal - Nafas pernafasan- Rujuk ke puskesmas dan anjurkan untuk selalu Keluarga rutin teratur melakukan pemeriksaan melakukan kontrol tekanan darahIbu - Kulit merah muda tekanan darah. Rani. - Tidak terdengar bunyi jantung S3

cre : 06 PSIK USK

Tulisan ini dikirim pada pada Jumat, Januari 22nd, 2010 1:20 am dan di isikan dibawah makalah keperawatan keluarga. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapatmerespon, or trackback dari website anda.

Suka Be the first to like this post.

Tinggalkan Balasan
Your email address will not be published. Required fields are marked * Nama * Email *

Situs web

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite>

<code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel.

ABOUT THIS BLOG

Saya mahasiswi 06 S1 keperawatan Unsyiah. blog ini hanya kumpulan makalah saya semasa kuliah. maaf jika saya tidak lengkap dan tidak mencantumkan referensi yang jelas. ini saya buat hanya memindahkan dokumentasi di laptopsaya agar tidak hilang lol. Thank you very kamsa atas perhatiannya, saya tidak mengharapkan anda membuat makalah saya menjadi referensi anda haha. selamat berjuang!! _PASTAKYU_ CHAP I _

Januari 2010
S S R K J S M

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
o
_PASTAKYU_ CHAP II_ makalah etika keperawatan(1)

o o o o o o o o o o o o o o o o

makalah KDM (1) makalah keperawatan anak(2) makalah keperawatan gerontik (1) makalah keperawatan Jiwa (2) makalah keperawatan keluarga (2) makalah keperawatan maternitas (1) makalah KMB B (4) makalah komunikasi keperawatan (2) Uncategorized (1) _PASTAKYU_ CHAP III_ 74.125.153.132/search?q=c keperawatan-gun.blogspot. medicastore.com/images/ba id.wordpress.com/tag/maka id.wordpress.com/tag/maka id.wordpress.com/tag/maka anneahira.com/pencegahan- _PASTAKYU_ CHAP IV_

anemia sel sabit atresia esofagus batu ginjal ETIKhemoragi postpartumhipertensi loss grieving and dying mandi di tempat tidurpasien anak pasien tak sadarprasekolah pylonephritisrhematoid arthritis sindroma nefrotik TAK Jiwa tetanus

_PASTAKYU_ CHAP V_

alam on KDM TEKNIK MEMANDIKAN fitriani on ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DE shinta on ALL ABOUT THIS BLOG AND P magdalena barus onKDM TEKNIK MEMANDIKAN

gerry saluutt onKOMUNIKASI DENGAN PASIEN TAK


o o o o o o
Proud to be^^ Theme: Contempt by Vault9. Blog pada WordPress.com. _PASTAKYU_ CHAP VI_ BATAS LEGAL DALAM KEPERAWATAN KDM TEKNIK MEMANDIKAN PASIEN DI TEMPAT TIDUR KOMUNIKASI DENGAN PASIEN ANAK KOMUNIKASI DENGAN PASIEN TAK SADAR

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DENGAN RHEMATOID ARTHITIS PASTAKYU+ER 24,494 kamsa^^