You are on page 1of 35

Tanggung Jawab Sosial Muslim

Posted by admin on Senin, April 20, 2009, 15:08 This news item was posted in Ibrah category and has 1 Komentar so far .

Setiap muslim atau muslimah, memiliki kewajiban memperhatikan, membimbing, mendidik, memberi-kan nafkah lahir dan bathin kepada keluarganya. Hal ini difirmankan Allah dalam Al-Quran surat At-Tahrim ayat 6, Hai orangorang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim : 6). Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. (QS. Maryam : 55). Rasulullah menyampaikan hal yang sama dalam sebuah hadits, Dari Jabir, Rasulullah SAW bersabda: Hak isteri yang merupakan kewajiban suami, memberikan rizki dan pakaian dengan cara yang baik. (HR. Ibnu Majah). Selain itu setiap muslim dituntut untuk memikirkan, peduli dan memberikan bantuan kepada kerabat, tetangga, lingkungan dan masyarakat secara menyeluruh. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. Al-Baqarah : 83). Perintah ini ditegaskan kembali oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda: Engkau akan melihat orang-orang yang beriman dalam kasih sayang mereka, dalam kecintaan mereka dan dalam keakraban mereka antar sesamanya adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasakan sakit, maka sakitnya itu akan merembet ke seluruh tubuhnya, sehingga (semua anggota tubuhnya) merasa sakit, dan merasakan demam (karenanya). (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah dikatakan beriman orang yang dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya tertidur dalam keadaan lapar. (HR. Bukhari). Bentuk tanggung jawab sosial Salah satu bentuk tanggung jawab sosial muslim terhadap sesamanya, adalah dalam bentuk mengeluarkan zakat, infaq atau shodaqoh (ZIS). Adapun hikmah dan urgensi ZIS antara lain sebagai berikut: Sebagai wujud keimanan kepada Allah SWT dan keyaki-nan akan kebenaran ajaran-Nya (Q.S. 9 : 5, 9 : 11). Perwujudan dari Syukur nimat, terutama nimat harta benda (Q.S. 93 : 11, 14 : 7). Meminimalisir sifat kikir, materialistik, egoistik dan hanya mementingkan diri sendiri. Sifat bakhil adalah sifat yang tercela yang akan menjauhkan manusia dari rahmat Allah SWT (Q.S. 4 : 37). Membersihkan, mensucikan dan membuat ketenangan jiwa Muzakki (orang yang berzakat). Lihat Q.S. 70 : 19-25. Harta yang dikeluarkan untuk ZIS akan berkembang dan memberikan keberkahan kepada pemiliknya. Pintu rizki akan selalu dibuka oleh Allah SWT. (Q.S. 2 : 261, 30 : 39, 35 : 29-30). ZIS merupakan perwujudan kecintaan dan kasih sayang kepada sesama umat manusia. Kecintaan Muzakki akan menghilangkan rasa dengki dan iri hati dari kalangan Mustahik. ZIS merupakan salah satu sumber dana pembangunan sarana dan prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana pendidikan, kesehatan, institusi ekonomi, dan sebagainya (Q.S. 9 : 71). Untuk memasyarakatkan etika bisnis yang benar, sebab zakat bukanlah membersihkan harta kotor, melainkan membersihkan harta yang didapat dengan cara yang bersih dan benar, dari harta orang lain (Q.S. 51 : 19). Dari sisi pembangunan kesejahteraan umat, zakat me-rupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan, dengan zakat yang dikelola dengan baik, dimungkinkan membangun pertumbuhan ekonomi sekaligus peme-rataan pendapatan, economic with equity (Q.S. 59 : 7). Ajaran ZIS sesungguhnya mendorong kaum muslimin untuk memiliki etos kerja dan usaha yang tinggi, sehingga memiliki harta kekayaan yang disamping dapat memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya juga bisa memberi kepada orang yang berhak menerimanya. Sehingga mengeluarkan harta untuk bershodaqoh atau infaq, bukan semata-mata perintah dari Allah, melainkan bentuk tanggung jawab sosial sebagai sesama manusia. Ka-renanya bagi siapapun yang tidak melaksanakan kewajiban sosial ini (padahal Allah memberi kelebihan rezeki) maka Allah akan memberikan imbalan yang setimpal atas per-buatannya. Seperti yang disebutkan dalam Al Quran. Tanggungan sosial ini bukan bertujuan untuk memberikan beban kepada manusia, tapi melatih kepekaan sesama terhadap sesama yang lain. Sebab Allah dengan sengaja menciptakan makhluknya dengan nasib yang berbeda-beda. Ancaman Bagi Penolak Zakat

Allah dengan sengaja memberikan tanggung jawab moral ini kepada setiap umat muslim. Agar rasa kasih sayang bisa menjadi ikatan yang akan mempersatukan setiap muslim. Misalnya, ada bencana kemanusiaan di Papua, maka umat muslim di daerah lain akan tergerak untuk membantu dengan dilandasi rasa kasih sayang. Perintah Allah untuk mengeluarkan zakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial menjadi satu kewajiban yang harus kita laksanakan. Sebagaimana yang dinashkan Allah dalam Al Quran sebagai berikut: Harta bendanya akan berubah menjadi azab di akhirat kelak (Q.S. 9 : 34-35). Enggan berzakat dianggap mengambil harta para mustahik (Q.S. 9 : 60). Enggan berzakat sama dengan mengundang azab Allah dalam kehidupan dunia ini, misalnya kemarau yang panjang (H.R. Thabrani dari Ibn Abbas). Keberkahan harta dan kemaslahatan hidup akan hilang atau berkurang dengan sebab enggan berzakat. Abu Bakar Shiddiq pernah memerangi orang yang enggan berzakat. Rasulullah SAW pernah akan melakukan isolasi sosial bagi orang yang enggan untuk berzakat. Di sisi lain, tanggung jawab sosial yang diwajibkan pada setiap muslim dan muslimah berlaku untuk semua harta benda yaang dimiliknya. Diantara harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah hasil pertanian (QS. 6 : 141), emas dan perak (QS. 9 : 34-35), peternakan (al-Hadits), perdagangan (al-Hadits), barang tambang dan temuan (al-Hadits), dan segala macam penghasilan yang baik (QS. 2 : 267). Semoga kita dapat melaksanakan tanggung jawab sosial ini dengan penuh keikhlasan sebagai bentuk ibadah kita kepada Allah. Amin.

Menumbuhkan Kekuatan Ekonomi Umat


Posted by admin on Selasa, Juni 2, 2009, 9:17 This news item was posted in Ibrah, Islam category and has 0 Komentar so far .

Dengan mengoptimalkan potensi ummat, maka akan tumbuh kekuatan ekonomi syariah yang tangguh Salah satu bidang garapan dawah ummat yang harus terus menerus dilakukan adalah bidang ekonomi (disamping bidang-bidang lainnya), karena ekonomi mempunyai implikasi yang luas terhadap kehidupan umat.

Allah SWT memuji orang-orang yang sibuk di dalam melakukan kegi-atan perniagaan (ekonomi), tetapi tetap konsisten dalam melaksanakan shalat, zakat, dzikir dan kegiatan ibadah lainnya. I. Nilai-Nilai Sistem Ekonomi Islam (a) Nilai Tauhid, yakni Keyakinan kepada Allah SWT sebagai pemberi rizki (QS. 11 : 6), pemberi dan pembuat aturan untuk kemaslahatan hidup umat manusia (QS. 30 : 30, QS. 1 : 157), sekaligus yang mewajibkan manusia untuk mencari rizki dan karunia-Nya (QS. 67 : 15) untuk kemudian dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya. Seseorang di hari kiamat nanti pasti tidak terlepas dari empat pertanyaan: usia (umur) dihabiskan untuk apa, masa muda dipergunakan untuk apa, harta benda bagaimana cara mendapatkan dan memanfaatkannya, dan ilmu pengetahuan diamalkan untuk apa. (HR. Tirmidzi). (b) Keadilan dan Kesejahteraan bersama, dimana tidak boleh harta dikuasai kelompok tertentu saja (QS. 59 : 7). Misalnya menghapuskan monopoli, kecuali oleh pemerintah, untuk bidang-bidang tertentu. Menjamin hak dan kesempatan semua pihak untuk aktif dalam proses ekonomi, baik produksi, distribusi, sirkulasi maupun konsumsi. Menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhuan dasar hidup setiap anggota masyarakat. Melaksanakan amanah at-Takaaful al-Ijtimai dimana yang mampu menanggung dan membantu yang tidak mampu. Prof. Abd. Mannan: Jangan mengatakan sistem ekonomi syariah bila outputnya tidak bermanfaat bagi masyarakat atau umat. Pengenaan kewajiban zakat (QS. 9: 60, QS. 30 : 39). (c) Kebebasan dan Tanggungjawab, dalam ekonomi Islam dikenal dengan prinsip Tsawabit (tetap dan pasti) dan Mutaghayyirat (variabel) untuk melaksanakan prinsip yang bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang memerlukan inovasi dan kreatifitas. Beberapa contoh prinsip: Tidak boleh menipu dan berlaku curang (QS. 83 : 1-6; Al-Hadits), tidak boleh saling mendzalimi (QS. 2: 279), tidak boleh melakukan kegiatan usaha yang haram dan bathil (QS. 2 : 187, QS. 5: 90-91), tidak boleh melakukan kegiatan riba, sebagaimana tercantum dalam QS. 2: 275-279). II. Penguatan Ekonomi Ummat Ini bisa di lakukan melalui (a) lembaga Keuangan Syariah dimana dana dari ummat untuk ummat. (b) Pembiayaan untuk sektor ril yang dikelola ummat.Melakukan sinergi (taawun) dengan lembaga keuangan mikro , seperti BPRS, BMT, dan Lembaga Zakat (BAZ dan LAZ). Meskipun BAZ dan LAZ secara umum ditujukan untuk kepentingan mustahik zakat. III. Peluang dan Tantangan Melihat perjalanan dan implementasi ekonomi syariah di Indonesia, tentu masih banyak tantangan sekaligus peluang misalnya antara lain, (a) survey BNI Syariah (2005) menunjukkan bahwa penetrasi aset perbankan syariah pada tahun 2004 baru sebesar 1,15%, sementara itu sekitar 51% masyarakat Indonesia menyatakan tidak setuju dengan bunga. Dengan demikian secara optimis disimpulkan potensi pasar perbankan syariah masih sangat besar. Karena itu sosialisasi kepada masyarakat dengan para alim ulama, lembaga pendidikan, dan perbankan syariah merupakan suatu keniscayaan. Peran masyarakat kampus sangat strategis dalam menggalakkan sosialisasi ini, disamping praktisi Lembaga Keuangan Syariah. (b) Perlu dilakukan pengembangan tiga hal yang sangat penting bagi ekonomi syariah (Adiwarman

Karim, 2005), antara lain: 1. Mengembangkan Ilmu Ekonomi Syariah Mengembangkan ilmu ekonomi syariah dapat dikembangkan melalui dunia pendidikan dan pengetahuan, baik itu di kampus-kampus, penelitian-penelitian ilmiah, kelompok-kelompok kajian, media masa, dan lainnya. Alhamdulillah, saat ini ilmu ekonomi syariah telah berkembang tidak hanya di dunia pendidikan Islam, namun telah memasuki dunia pendidikan secara umum. Kampus-kampus besar di Indonesia telah melakukan kajian-kajian akademis terhadap fenomena dan perkembangan keilmuan ekonomi syariah. Diharapkan semua mahasiswa muslim dapat berperan dengan baik dalam kegiatan ini. 2. Mengembangkan Sistem Ekonomi Syariah Sistem Ekonomi Syariah di Indonesia dapat dikembangkan melalui regulasi-regulasi yang mendukung terhadap perkembangan ekonomi syariah itu sendiri. Misalnya, di bidang keuangan, saat ini Bank Indonesia telah banyak mengeluarkan regulasi yang turut mendukung pertumbuhan bank syariah. UU zakat, penerapan good corporate govermance sehingga mendorong terjadinya kegiatan ekonomi yang berkeadilan dan jauh dari kecurangan, merupakan bagian dari pengembangan sistem ekonomi syariah di tengah-tengah masyarakat. 3. Mengembangkan Perekonomian Umat. Ketika ilmu ekonomi syariah dikembangkan dan didukung oleh sebuah sistem yang baik, maka yang paling penting adalah mengembangkan perekonomian umat. Hal ini didorong dengan pengembangan ekonomi yang berbasis pada sektor riil dengan ditopang lembaga keuangan yang berbasis syariah. Sehingga pada akhirnya meningkatkan produktivitas masyarakat guna mendorong pertumbuhan ekonomi secara riil. http://muzakki.site40.net/wordpress/?p=634

Menumbuhkan Kemandirian Ekonomi


Published on May 20, 2009 by Hayadi Mustain Pemerhati Ekonomi, Tinggal di Yogyakarta Hingga kini, pertumbuhan ekonomi kita masih jauh dari harapan. Itu terlihat dari rantai kemiskinan yang tidak pernah putus di negara ini. Sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah di negara ini -yang seharusnya digunakan bagi kemakmuran rakyat kita- lamat-lamat dikikis habis oleh bangsa asing yang kaya akan kapital. Kini bangsa ini harus terus meminta belas kasih dari bangsa luar untuk memberikan lapangan kerja. Mengingat, sumber perekonomian secara makro telah banyak mereka kuasai. Lantas, pada akhirnya, bangsa ini akan banyak kehilangan generasi produktif mengingat hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, dan itu berarti perbaikan ekonomi bagi mereka, telah dihapus oleh para penguasa. Bahkan, para pedagang kaki lima (PKL) yang menjualkan produk milik perusahaan bangsa asing -yang berarti suatu pendapatan lebih bagi perusahaan besar dalam memperbesar pendapatannya- malah harus selalu tersingkir oleh menjamurnya supermarket dan hypermarket di tengah-tengah kota (terutama yang Abdullah Am*

bergerak di bisnis ritel). Padahal, PKL merupakan salah satu penggerak roda perekonomian bangsa yang amat dirasakan manfaatnya oleh sebuah keluarga. Itu juga berarti perbaikan kehidupan bagi mereka. Di tengah arus liberalisme ekonomi di negara ini, menciptakan regulasi yang sehat bagi berkembangnya usaha menengah kecil seperti PKL seharusnya merupakan suatu keniscayaan yang harus dilakukan pemerintah. Bukan sebaliknya: menggusur tanpa memberikan solusi relokasi tempat yang strategis bagi mereka. Jika distribusi kesejahteraan dan keadilan hanya milik segelintir orang, bisa dipastikan bahwa klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,4 persen pada tahun 2008, yakni lebih cepat daripada tahun 2007 yang hanya 6,3 persen, hanyalah milik segelintir orang. Sebab, angka pengangguran saja, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2008 masih 8,39 persen. Itu belum termasuk kemiskinan di negara ini yang masih mencapai 15, 42 persen. Di antara mereka, banyak yang berada di pedesaan (63,47 persen). Lemahnya pemberdayaan pemerintah terhadap masyarakat desa itu kerap menjadikan mereka sasaran bulan-bulanan para pengusaha besar. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi pedesaan selalu saja stagnan. Bahkan, cenderung menurun dari tahun ke tahun. Padahal, jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin, pedesaan menjadi kekuatan ekonomi bangsa di masa mendatang. Dasarnya, seluruh bahan produksi kebutuhan masyarakat di negara ini masih banyak bergantung pada petani. Namun, karena daya tawar lemah (kondisi keuangan terbatas sehingga daya tawar atas produk yang dihasilkan kecil), mereka selalu saja kalah dalam memengaruhi harga pasar. Berpijak dari fenomena di atas, mengubah paradigma kebijakan ekonomi liberal dengan prorakyat merupakan jalan keluar yang harus ditempuh pemerintah mendatang. Itu bisa dilakukan dengan kembali menjadikan negara tidak sebatas sebagai alat kaum kapital dalam menancapkan akumulasi modalnya melalui perusahaan raksasa yang dibuatnya. Pemerintah dapat mendorong tumbuhnya sistem ekonomi yang sehat tanpa menjerat rakyat. Menguatkan Kemandirian Ketergantungan pemerintah terhadap utang luar negeri kini telah nyata menjadi bumerang bagi sistem perekonomian kita. Dampak yang paling buruk dari itu semua adalah proses kemandirian ekonomi bangsa tersendat-sendat. Di mana-mana regulasi ekonomi kita kemudian lebih mengutamakan pengusaha besar daripada rakyat kecil. Pada akhirnya, sistem perekonomian kita menjadi milik segelintir orang. Di tengah arus persaingan ekonomi yang ketat di dunia, kini Indonesia hanya menjadi tameng bangsa maju untuk bersaing dengan negara kompetitornya. Bagi negara maju yang menggantungkan bahan produksinya pada negara dunia ketiga, memperalat negara dunia ketiga seperti Indonesia adalah pilihan yang harus dilakukan. Jika tidak, besar kemungkinan akan terjadi perlambatan ekonomi terhadap nilai kapital mereka.

Sebagai negara yang berdaulat, sudah semestinya pemerintah tidak lagi hanya membiarkan SDA yang dimiliki bangsa ini dinikmat segelintir orang dengan membiarkan bangsa asing yang menentukan pengelolaan SDA-nya. Jika hal semcam ini terus dilakukan pemerintah, maka cepat atau lambat, hancurnya sendi-sendi kehidupan berbangsa (terutama dalam hal ekonomi) akan semakin parah kita rasakan. Dalam sejarah Indonesia, krisis moneter 1998 yang meluluh lantakkan perekonomian bangsa di bawah kepemimpinan Soeharto, seharusnya menjadi pelajaran kepada kita, betapa sekedar menjadi pialang bagi beroperasinya kaum kapitalis, hanya akan memberikan dampak kesengsaraan yang lebih panjang bagi rakyat kecil di negara ini. Untuk itu, diperlukan kesadaran secara kolektif dari seluruh pemimpin bangsa dengan tidak lagi membiarkan rakyat kecil menjadi pion yang tidak berharga. Namun sebaliknya, membuatnya lebih berharga dengan menjadikan mereka sebagai pelaku utama bagi bangunan dasar ekonomi nasional. Dan ini diperlukan pengorbanan bagi pemerintah dengan memberikan pengajaran yang berkualitas, serta proteksi dari bahaya ancaman kaum kapital atas jatuhnya harga bahan yang mereka hasilkan. Artinya, kembali menguatkan prinsip kemandirian bangsa dalam segala bidang merupakan jalan alternatif mengembalikan bangsa ini keluar dari seluruh krisis yang menimpa. Dengan begitu, pada akhirnya, perekonomian bangsa ini akan selalu berjalan dengan baik. Kemudian, terciptalah generasi penerus bangsa yang produktif yang mampu mewarnai perjalanan panjang bangsa ini. Bukan sebaliknya, menambah generasi pengangguran karena lemahnya keberpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil. Sumber: JawaPosCoId

Krisis moneter 1998 diselamatkan ekonomi informal, dan krisis keuangan yang bakal dirasakan awal tahun ini bisa pula diselamatkan dengan ekonomi kreatif. Atas keyakinan inilah maka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 22 Desember 2008 lalu mencanangkan tahun ini sebagai Tahun Indonesia Kreatif. Ekonomi kreatif ini bersandarkan kepada tiga hal, yakni ide, kreativitas dan ketrampilan individu. Di sini bisa kita lihat peran individu yang akan menggerakkan ekonomi kreatif ini. Individu yang kaya ide bisa muncul sebagai kekuatan ekonomi kreatif, tinggal bagaimana mengeksekusi ide dimaksud. Tentang ide ini pernah dikemukakan oleh Helmy Yahya, pemilik production house terkemuka, bahwa sesungguhnya ide menyumbang 20 persen saja dari proses produksi, selebihnya ada para eksekutor. Ideide itu akan sia-sia jika para eksekutornya tak mampu menerjemahkannya. Kreativitas lebih kepada kemauan seseorang untuk terus belajar. Ia belajar dari kegagalan, memperbaikinya, dan lahir kreativitas. Begitu seterusnya, sehingga tampak di sini ekonomi kreatif tak mengenal kata putus asa. Sekali putus asa, ia akan meninggalkan pondasi yang telah dibangun. Artinya, pondasi itu dibiarkan merana tanpa bisa tumbuh dengan struktur lainnya. Tentu saja kedua hal itu pada akhirnya tergantung kepada ketrampilan individu. Dia ini yang akan menjadi penggeraknya. Ia yang berperan untuk membentuk tim kreatif demi menumbuhkan aktivitas perekonomiannya. Memang, seolah akan muncul tokoh-sentris, tetapi bukan berarti one man show. Production house yang digeluti Helmy Yahya merupakan salah satu bidang usaha yang diidentifikasikan sebagai industri kreatif. Departemen Perdagangan menyampaikan identifikasi itu yakni terdiri dari jenis

industri: fashion, kerajinan, desain, periklanan, penerbitan dan percetakan, arsitektur, musik, radio dan televisi, penelitian dan pengembangan, perangkat lunak dan konsultan TI, produk antik dan seni, film dan fotografi, permainan interaktif, serta seni pertunjukkan. Sejauh ini, menurut data Deperindag, fashion dan kerajinan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB industri kreatif. Namun kepiawaian individu, yang kemudian digabung menjadi kekuatan tim, tetap akan tak berdaya di pasar bebas jika tidak didukung regulasi memadai. Acapkali kreativitas menjadi tak bermakna manakala tidak didukung regulasi. Sebagai contoh, industri penerbitan merupakan salah satu jenis industri kreatif yang diandalkan, tetapi kenyataannya sering terganjal. Kebijakan yang ditelurkan pemerintah sering kontraproduktif terhadap jenis industri ini. Ketika industri penerbitan sedang antusias terhadap proyek pengadaan buku pelajaran, tiba-tiba pemerintah memutuskan untuk menggenjot buku elektronik. Akibatnya buku-buku yang terlanjur memperoleh akreditasi menumpuk di gudang. Meski industri kreatif lebih kepada kemandirian individu, bukan berarti dukungan pemerintah tidak diperlukan. Banyak hal yang bisa membantu pertumbuhan ekonomi kreatif ini, di antaranya kemudahan memperoleh kucuran modal hingga soal hak kekayaan intelektual. Soal HAKI, misalnya, menjadi sangat penting jika melihat kecenderungan di industri kreatif tersebut. Sebab, soal bajak membajak seolah menjadi kebiasaan yang dihalalkan. Pemusik papan atas harus siap dibajak . Begitupun desain orisinal bakal dikejutkan barang palsunya di pasar bebas. Kreativitas mahal, dan jalan pintasnya menembak karya orang lain. Segala persoalan yang mungkin dihadapi oleh industri kreatif ini bisa diatasi secara terpadu jika ada semacam cetak biru pengembangan industri kreatif. Konsekuensi dari pencanangan Tahun Indonesia Kreatif adalah bagaimana mewujudkan secara ideal. Jangan sampai pencanangan itu sekadar seremonial, sementara di lapangan para pelaku industri kreatif rontok satu persatu. Senyampang diyakini bisa menjadi katup pengaman krisis ekonomi global, maka saatnya pemerintah fokus mendukungnya. Inilah yang diharapkan dari sekadar seremonial tadi.

Pemerintahan Imam Mahdi as; Ciri-ciri Pemerintahan Teladan Tanpa diragukan lagi bahwa pemerintahan Imam Mahdi as adalah pemerintahan dunia dan global karena dia adalah sosok yang dijanjikan untuk seluruh manusia dan pewujud harapan-harapan mereka.

Pemerintahan Imam Mahdi as; Ciri-ciri Pemerintahan Teladan

Dalam bagian-bagian sebelumnya telah dibahas tujuan-tujuan, program dan raihan dari pemerintahan Imam Mahdi as. Dan pada akhirnya kita akan membahas sebagian ciri-ciri pemerintahan tersebut seperti; jangkauan pemerintahan, pusat pemerintahan, masa dan waktu pemerintahan, metode para praktisi pemerintah dan biodata mereka.

Jangkauan pemerintahan Imam Mahdi as dan pusatnya Tanpa diragukan lagi bahwa pemerintahan Imam Mahdi as adalah pemerintahan dunia dan global karena dia adalah sosok yang dijanjikan untuk seluruh manusia dan pewujud harapan-harapan mereka. Oleh karena itu setiap keindahan dan kebaikan yang berada di bawah naungan pemerintahannya itu akan menyebar luas ke seluruh penjuru dunia ini merupakan fakta dan kenyataan yang telah ditegaskan oleh riwayat yang tidak sedikit berikut ini kelompok-kelompok riwayat tersebut: <!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->riwayat yang sangat banyak yang memuat bahwa Imam Mahdi as akan memenuhi dunia dengan keadilan dan kemakmuran sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]--> Kata al-ard yang berarti bumi dalam kelompok riwayat-riwayat tersebut mencakup seluruh permukaan bumi dan tidak ada satu alasan apapun yang membatasi bumi tidak ada dalil apapun yang membatasi. <!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->kelompok riwayat yang menegaskan penguasaan Imam Mahdi terhadap kawasan-kawasan di penjuru dunia di mana luasnya dan pentingnya kawasan-kawasan tersebut menggambarkan bahwa kekuasaan Imam Mahdi meliputi seluruh alam. Dan seakan-akan penjelasan sebagian kota dan negara di dalam riwayat-riwayat itu hanya sebagai contoh saja dan disesuaikan dengan kapasitas pengetahuan mukhatab di zaman tersebut. Di dalam berbagai riwayat, Roma, Cina, Dailam, Turki, India, Kostantiniyah, Abul Syah, Khazar adalah kawasan-kawasan yang akan ditaklukkan oleh Imam Mahdi as.<!--[if !supportFootnotes]->[2]<!--[endif]-->

Perlu disampaikan, kawasan-kawasan yang telah disebutkan tadi, di zaman para Imam jauh lebih luas dari pada yang ada saat ini. Seperti contohnya Roma saat itu Roma mencakup seluruh daratan Eropa bahkan benua Amerika dan maksud dari Cina adalah semua negaranegara di kawasan timur asi yang mencakup Jepang dan negara-negara lain, begitu juga India mencakup Pakistan dan negara-negara yang lain. Kota Kostantikiyah adalah kota Istambul sekarang, di mana pada zaman itu disebut sebagai kota terkuat mengingat pendudukan kota tersebut adalah kunci untuk dapat menjamah benua Eropa. Ringkasnya, pendudukan Imam Mahdi as atas kawasan-kawasan yang strategis dan penting merupakan gambaran jelas akan kekuasaan global dan universal beliau . <!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->selain riwayat pada kelompok pertama dan kedua ada satu kelompok riwayat yang lain yang dengan jelas menceritakan globalnya pemerintahan Imam Mahdi as. Dalam sebuah sabdanya Rasulullah Saw bersabda, di mana Allah SWT berfirman: Aku

akan memenangkan agama-Ku (melalui 12 pemimpin) atas agama-agama yang lain. Dan di

tangan merekalah segala perintah Kami akan terdengar di mana-mana, dan dengan bangkitnya sosok terakhir dari mereka Imam Mahdi as- Aku akan melenyapkan dunia dari musuh-musuhKu serta Aku akan menjadikannya pemimpin dunia baik di barat maupun di timur...<!--[if
!supportFootnotes]-->[3]<!--[endif]-->

Imam Muhammad Bagir as juga bersabda:Qaim as dari kami... kekuasaannya akan

mencapai timur dan barat dan Allah SWT akan memenangkan agamanya atas seluruh agamaagama yang lain walaupun kaum musyrikin tidak menyukainya...<!--[if !supportFootnotes]-->[4]<!--[endif]-->
Sedang pusat pemerintahan dunia beliau as berada di kota bersejarah yaitu Kufah. Yang pada saat itu kota ini akan meluas dari bentuk aslinya. Sehingga sebagian kawasan kota Najaf termasuk darinya. Oleh karena itu, tidak heran kalau dalam sebagian riwayat disebutkan, bahwa pusat pemerintahan beliau adalah Kufah terkadang pula disebut dengan Najaf. Imam Jakfar Shadiq as dalam sebuah riwayat yang sangat panjang bersabda:pusat

pemerintahan Imam Mahdi as adalah di kota Kufah sedang pusat pengadilan beliau berada di masjid agungnya.<!--[if !supportFootnotes]-->[5]<!--[endif]-->
Perlu disampaikan pula, kota Kufah sejak zaman dahulu telah menjadi perhatian keluarga Rasulullah Saw dan pusat pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib as. Sedang masjid masyhur yang berada di sana merupakan satu dari empat masjid tersohor dalam Islam, di mana Imam Ali as salat berjamaah di sana dan berkhotbah. Sebagaimana di sana pula beliau menghakimi dan mengadili dan pada akhirnya beliau meneguk cawan syahadah di dalam mihrabnya.

Masa Pemerintahan Setelah dunia mengalami pemerintahan zalim selama berabad-abad lamanya. Dunia dengan arahan hujjah terakhir Allah SWT akan menuju kepada pemerintahan segala nilai-nilai kebaikan. Pemerintah akan sampai ke tangan para pemimpin yang bijak dan baik hati. Ini merupakan janji yang pasti dari tuhan. Pemerintahan orang-orang baik yang akan dipimpin oleh Imam Mahdi as hingga ujung dari usia dunia dan masa zalim tidak akan terulang lagi. Dalam sabda yang sebelum dinukil dari Rasulullah Saw, disebutkan, bahwa Allah SWT telah memberikan kabar gembira kepada Rasulullah Saw akan datangnya pemerintahan akhir Imam Maksum, dan pada akhir sabda tersebut dikatakan: setelah Mahdi as memegang

pemerintahan, pemerintahannya akan kekal hingga hari kiamat kelak, dan Aku akan menjadikan pemerintahan tersebut berpindah dari tangan wali ke tangan yang lain.<!--[if
!supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]-->

Oleh karena itu, sistem keadilan Imam Mahdi as akan tercipta. Pemerintahan yang tidak akan ada gantinya lagi, dan pada hakikatnya ini adalah sejarah baru dari kehidupan manusia di mana seluruhnya berada di bawah payung pemerintahan ilahiah. Imam Muhammad Bagir as bersabda: pemerintahan kami adalah akhir dari

pemerintahan, tiada kelompok pemilik kekuasaan yang tersisa kecuali mereka telah memimpin sebelumnya, sehingga saat mereka melihat metode pemerintahan beliau mereka tidak dapat lagi mengatakan jika kami jadi pemimpin juga niscaya kami juga akan melakukan hal yang sama.<!--[if !supportFootnotes]-->[7]<!--[endif]-->
Dengan demikian masa waktu keberlangsungan sistem pemerintahan Imam Mahdi as setelah masa kebangkitan, selain masa pemerintahan beliau sendiri sisa umur beliau akan dihabiskan untuk pemerintahan ini setelah itu beliau akan meninggal dunia. Tanpa diragukan lagi, masa pemerintahan Imam Mahdi as hendaknya dapat mendukung terciptanya sebuah perubahan dan tegaknya keadilan di seluruh penjuru dunia. Akan tetapi jika dalam beberapa tahun hal ini dapat dianalisa itu butuh riset dan kajian mendalam. Hendaknya merujuk kepada arahan para Imam Maksum as. Hanya saja, dengan memperhatikan potensi pemimpin ilahi dan bantuan gaib untuk beliau dan para pengikutnya, kesiapan dunia untuk menerima pemerintahan nilai-nilai keindahan pada zaman bangkitnya Imam bisa jadi hanya terjadi dalam masa yang relatif singkat. Dan manusia yang sepanjang sejarah tidak mampu mewujudkan hal yang sulit tapi ternyata hal-hal itu dapat diselesaikan dalam kurun waktu 10 hari. Riwayat-riwayat yang menjelaskan masa pemerintahan Imam Mahdi as sangat beragam. Sebagian mengatakan bahwa pemerintahan beliau hanya selama lima tahun, sebagian lagi tujuh tahun dan yang lain mengatakan delapan, sembilan atau sepuluh tahun. Riwayat yang lain mengatakan bahwa masa pemerintahan tersebut sembilan belas tahun dan beberapa bulan, dan akhirnya 40 tahun dan 309 tahun.<!--[if !supportFootnotes]-->[8]<!--[endif]--> Selain sebab semua perbedaan ini dalam riwayat masih belum jelas, memilih masa waktu pemerintahan yang pasti itu sangat sulit sekali. Akan tetapi, sebagian dari ulama Syiah memilih tujuh tahun, dengan mengacu kepada riwayat-riwayat yang ada.<!--[if !supportFootnotes]-->[9]<!-[endif]-->

Sebagian lain juga mengatakan, lama pemerintahan Imam Mahdi as adalah tujuh tahun, hanya saja, satu tahun pemerintahan di masa itu sama dengan sepuluh tahun di masa kita sekarang. Berikut ini riwayat yang menunjukkan hal tersebut: Seorang rawi bertanya kepada Imam Jakfar Shadiq as tentang masa pemerintahan Imam Mahdi as, beliau menjawab: Imam Mahdi as akan memerintah selama tujuh tahun yang berarti sama dengan tujuh puluh tahun masa kalian.<!--[if !supportFootnotes]-->[10]<!--[endif]--> Marhum Najisi mengatakan:riwayat-riwayat yang mengatakan masa pemerintahan

Imam Mahdi as harus ditafsirkan berikut: sebagian riwayat menjelaskan masa waktu

keseluruhan pemerintahan beliau as, sebagian lagi menjelaskan keberlangsungannya saja, sebagian lagi sesuai dengan masa yang sedang kita alami, sebagian lagi berkaitan dengan masa waktu beliau saat itu yang lebih lama dan Allah SWT Maha tahu akan hal tersebut.<!--[if
!supportFootnotes]-->[11]<!--[endif]-->

Sirah Pemerintahan Imam Mahdi as


Setiap pemimpin dalam sebuah pemerintahan dan dalam bagian-bagian mudiriyat memiliki cara dan metode khusus yang menjadi ciri khas dari pemerintahan tersebut. Imam yang dijanjikan dan Mahdi yang dinanti juga memiliki metode dan cara tersendiri. Kendati kita telah menyinggung cara dan metode pemerintahan beliau pada pembahasan sebelumnya, namun mengingat topik ini sangat penting maka kita layak untuk membahasnya secara independen dengan mengacu kepada sabda-sabda suci Rasulullah Saw dan para Imam Maksum as. Sehingga kita dapat mengetahui lebih baik dan lebih banyak lagi. Hal utama yang harus ditegaskan di sini adalah riwayat-riwayat telah menggambarkan secara umum sirah dan metode pemerintahan Imam Mahdi as, yang tak lain sirah Rasulullah Saw sendiri. Sebagaimana Rasulullah Saw pada zaman jahiliah muncul dan bangkit melawan kebodohan dan mengajak manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, Imam Mahdi as juga bangkit dan melawan kebodohan baru yang lebih berbahaya dari kebodohan sebelumnya. Beliau akan membangun nilai-nilai ilahiah dan akan menumbangkan jahiliah modernitas yang ada. Imam saat ditanya tentang hal ini bersabda: beliau as akan melakukan hal yang telah

diperbuat oleh Rasulullah Saw, dia akan menghancurkan segalanya sebagaimana Rasulullah Saw telah menghancurkan jahiliah dan beliau akan membangun Islam dari awal.<!--[if
!supportFootnotes]-->[12]<!--[endif]-->

Ini merupakan politik umum Imam Mahdi as dalam pemerintahannya. Hanya saja, berhubung kondisi zaman yang berbeda maka metode pelaksanaan pemerintahan juga demikian yang insya Allah akan kami bahas pula dalam kajian tersendiri.

Sirah Perjuangan Imam Mahdi as


Imam Mahdi as dengan revolusi dunianya akan melipat hamparan kekafiran dan syirik yang terbentang di atas muka bumi. Dan semuanya akan diajak dan di seru kepada agama Islam. Rasulullah Saw bersabda:metode Imam Mahdi as sama dengan metode yang aku terapkan di mana dia akan mengajak seluruh umat manusia menuju agama dan syariatku.<!--[if
!supportFootnotes]-->[13]<!--[endif]-->

Hanya saja, beliau akan bangkit pada masa waktu di mana kebenaran sudah tampak jelas dikenalkan dan hujjah atas manusia telah sempurna. Kendati demikian, menurut sebagian riwayat, Imam Mahdi as akan mengeluarkan kitab Taurat dan Injil yang belum ditahrif (diubah) dari gua Anthakiyah, dan dengan kitab tersebut beliau akan berdebat dengan kaum Yahudi dan kaum Kristiani, yang menyebabkan masuk islamnya sebagian besar dari mereka.<!--[if !supportFootnotes]-->[14]<!--[endif]--> Dari sini, hal yang membuat kecenderungan umat manusia terhadap agama Islam adalah penyaksian mereka bahwa Mahdi as dibantu oleh tangan gaib dan tanda-tanda (mukjizat) para Nabi seperti tongkat Nabi Musa as cincin Nabi Sulaiman as, baju besi, pedang dan panji Rasulullah Saw berada di tangan beliau,<!--[if !supportFootnotes]-->[15]<!--[endif]--> di mana dia bangkit untuk mewujudkan tujuan diutusnya para Nabi yang belum rampung serta tegaknya keadilan. Jelas, dalam kondisi semacam ini hak dan kebenaran akan tampak jelas di depan semua orang, hanya orang-orang yang telah kehilangan identitas kemanusiaan dan ilahiahnya yang tetap berada di pentas kebatilan, maka lazim bagi pemerintahan Imam Mahdi as untuk membuang polusi ini dari tengah masyarakat. Di sinilah pedang tajam keadilan Imam Mahdi as akan dihunus dan akan membelah badan-badan para penzalim dan tidak akan meninggalkan mereka satu pun. Ini adalah metode Rasulullah Saw dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.<!--[if !supportFootnotes]->[16]<!--[endif]-->

Sirah Pengadilan Imam Mahdi as Mengingat penantian Imam Mahdi as untuk tegaknya sebuah keadilan yang universal di seluruh dunia, maka untuk melaksanakan tujuan agung ini beliau membutuhkan sebuah sistem peradilan yang kokoh dan mapan. Oleh karena itu, beliau akan mengikuti jejak kakek beliau Amirul Mukminin as dan dengan kegigihan beliau akan menagih hak-hak yang telah diinjakinjak dan di manapun hak itu berada beliau akan mengembalikannya kepada pemiliknya. Begitu adilnya beliau sehingga orang-orang yang hidup saat itu berangan-angan kalau orang yang sudah mati hidup kembali dan merasakan manisnya keadilan saat itu.<!--[if
!supportFootnotes]-->[17]<!--[endif]-->

Perlu ditegaskan juga, sebagian dari riwayat menjelaskan bahwa Imam Mahdi as saat mengadili seperti Nabi Sulaiman as dan Nabi Daud as dan sama seperti keduanya bersaksi dengan ilmu tuhan yang dimiliki bukan kepada saksi yang ada. Imam Jakfar Shadiq as bersabda:saat Qaim keluarga Muhammad bangkit, dia akan

menghakimi dengan cara Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as, dan tidak meminta saksi dari siapa pun.<!--[if !supportFootnotes]-->[18]<!--[endif]-->
Bisa jadi misteri dari pengadilan semacam ini adalah keyakinan terhadap ilmu ilahi akan menelorkan keadilan yang hakiki. Di mana jika berdasarkan saksi keadilan lahiriah terwujud, karena saksi berasal dari manusia dan manusia terkadang melakukan kesalahan.

Memang, memahami cara pengadilan yang akan diterapkan oleh Imam Mahdi as dengan metode yang telah dijelaskan tadi adalah hal yang sangat sulit. Akan tetapi, dapat dipahami bahwa pengadilan semacam ini pasti sesuai dengan masa dan kondisi saat itu.

Sirah Mudiriyat Imam Mahdi as Salah satu pilar penting sebuah pemerintahan adalah pelaksana pemerintahan itu sendiri. Saat para petugas pemerintahan orang-orang yang baik maka pemerintahan akan baik pula dan tujuan pemerintahan akan segera terwujud. Imam Mahdi as sebagai pucuk pimpinan pemerintahan telah melantik para petugas dari pengikut beliau yang terbaik, pribadi-pribadi yang memiliki ciri-ciri seorang pemimpin Islam seperti ilmu mudiriyat, loyalitas suci dalam niat dan amal serta keberanian dalam mengambil sebuah Keputusan. Kendati demikian, Imam sebagai pemimpin utama secara terus menerus menganalisa hasil kerja para pemimpin di bawah beliau dengan ketelitian dan tanpa toleransi. Ini merupakan ciri penting yang telah dilupakan oleh pemerintahan-pemerintahan sebelum pemerintahan Imam Mahdi as. Tindakan ini dalam berbagai riwayat disebut sebagai salah satu dari tanda-tanda Imam Mahdi as. Rasulullah Saw bersabda: tanda Imam Mahdi as adalah ia sangat teliti dan keras terhadap para petugasnya, dermawan dengan hartanya dan kasih terhadap sesama(orang miskin).<!--[if !supportFootnotes]-->[19]<!--[endif]-->

Sirah Ekonomi Imam Mahdi as Metode Imam Mahdi as dalam masalah keuangan dalam pemerintahan diterapkan berdasarkan persamaan. Ini adalah metode yang baik yang pernah ada di zaman Rasulullah Saw dan setelah beliau, metode dan cara ini diubah dan diganti dengan tolak ukur gombal untuk memberikan bantuan kepada orang lain, dan menjadi penyebab timbulnya jarak di antara lapisan masyarakat Islam saat itu. Walaupun Imam Ali dan Imam Hasan pada masa pemerintahan beliau menerapkan sistem persamaan dalam memberikan keuangan kepada kaum muslimin, akan tetapi, dinasti Umayah telah menggunakan harta benda kaum muslimin seperti miliknya pribadi dan menggunakannya untuk kemaslahatan kelompoknya sendiri, dan dengan ini pula mereka mengokohkan pemerintahannya ilegal mereka. Mereka memberikan tanah-tanah pertanian, harta benda milik umum kepada para kroni mereka. Tindakan ini populer sejak khalifah ketiga dan di masa kepemimpinan dinasti Umayah. Imam Mahdi as yang menjadi perwujudan keadilan, akan memberikan baitul mal kepada manusia dan menganggapnya sebagai kekayaan milik bersama di mana semua orang memiliki saham dan bagian sehingga tidak ada diskriminasi dan prioritas serta pemberian kekayaan dan bumi dilarang secara menyeluruh. Rasulullah Saw bersabda: ...jika Qaim kami telah bangkit qathaik (tanah-tanah yang secara zalim dirampas atau diberikan oleh pemimpin-pemimpin lalim) itu akan hilang.<!--[if !supportFootnotes]-->[20]<!--[endif]-->

Ciri lain metode kepingan Imam Mahdi as adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan materi dan kesejahteraan logis untuk kehidupan seluruh person Imam Mahdi as akan memberikan harta yang berlimpah kepada manusia, dan di dalam pemerintahan beliau setiap orang yang meminta dari beliau maka orang tersebut akan mendapatkan harta yang sangat banyak . Rasulullah Saw bersabda: ...maka dia Mahdi as akan memberikan harta yang sangat banyak.<!--[if !supportFootnotes]-->[21]<!--[endif]--> Metode ini sangat cocok untuk menciptakan reformasi personal maupun sosial yang menjadi tujuan agung memimpin segala kebaikan. Beliau dengan memenuhi kebutuhan material manusia berupaya untuk mengajak manusia kepada ketaatan dan penghambaan kepada tuhan yang telah kita jelaskan secara terperinci dalam pembahasan tujuan pemerintahan Imam Mahdi as.

Pribadi Imam Mahdi as Sirah Imam Mahdi as dalam tindakan personal juga dalam berinteraksi dengan manusia menggambarkan bahwa beliau seorang pemimpin Islam ideal di mana pemerintahan di hadapannya tak lebih dari sebuah sarana untuk berkhidmat kepada manusia dan menyampaikan mereka kepada puncak kesempurnaan. Pemerintahan di mata beliau bukanlah kesempatan untuk menimbun harta kekayaan dan perbuatan aniaya serta eksploitasi hambahamba Allah SWT. Sesungguhnya pemimpin orang-orang saleh itu di atas kursi kepemimpinan mengingatkan kita kepada pemerintahan Rasulullah Saw dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Walaupun seluruh harta dan kekayaan berada di bawah kekuasaannya tapi dalam kehidupan pribadi beliau hidup layaknya orang yang berada di bawah lapisan masyarakat terbawah. Imam Ali as saat menjelaskan beliau bersabda: Imam Mahdi as telah mengikat janji pada dirinya (kendati beliau pemimpin umat manusia) akan berjalan seperti rakyat biasa mengenakan baju seperti mereka dan mengendarai kendaraan seperti yang dinaiki mereka... dan beliau meresa cukup dengan hal yang sedikit.<!--[if !supportFootnotes]-->[22]<!--[endif]--> Imam Ali as sendiri juga demikian dan dalam kehidupan duniawi, makanan dan pakaian berlaku zuhud seperti Rasulullah Saw dan Imam Mahdi as mengikuti jejak beliau. Imam Jakfar as bersabda: sesungguhnya jika Qoim kami telah bangkit dia akan mengenakan baju Imam Ali as dan akan berjalan dengan sirah beliau as.<!--[if !supportFootnotes]->[23]<!--[endif]-->

Dia yang sangat keras dan teliti terhadap dirinya akan tetapi laksana seorang yang kasih dengan umatnya yang selalu menginginkan ketenangan dan kebahagiaan mereka di mana dalam sebuah riwayat dari Imam Ali Ridha as disebutkan: dia adalah seorang Imam yang kasih

yang selalu menyertai, seorang bapak yang kasih, seorang saudara yang lembut, seorang ibu yang sayang kepada anak kecilnya dan tempat berlindung bagi para hamba dalam peristiwa yang menakutkan.<!--[if !supportFootnotes]-->[24]<!--[endif]--> Memang dia begitu akrab dan dekat dengan umat sehingga semua orang menganggapnya sebagai tempat berlindung mereka. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda: umatnya berlindung kepadanya sebagaimana lebah berlindung kepada ratunya.<!--[if
!supportFootnotes]-->[25]<!--[endif]-->

Dia adalah misdaq kamil dari seorang pemimpin yang dipilih dari masyarakat dan hidup di tengah-tengah mereka dan seperti mereka. Oleh karena itu dengan baik dia mengetahui penyakit-penyakit dan keperluan mereka serta jalan keluar dan obatnya. Seluruh tenaga dan pikirannya digunakan untuk perbaikan kondisi mereka dan dalam jalan ini hanya kerelaan Allah SWT yang dipikirkan. Dalam kondisi semacam ini bagaimana umat manusia di sisinya tidak akan mendapatkan ketenangan dan keamanan?!

Penerimaan Dari Umum Salah satu dari pikiran yang menyibukkan sebuah pemerintahan adalah menarik simpati dan kerelaan masyarakat. Akan tetapi karena kelemahan di dalam berbagai bidang kerelaan ini tidak dapat diraih. Salah satu dari ciri-ciri mendasar dari pemerintahan Imam Mahdi as adalah pemerintahan ini diterima oleh semua kalangan dan umat manusia bahkan bukan penduduk bumi saja tapi para penghuni langit pun sangat rela akan pemerintahan ilahi dan penegak keadilan ini. Rasulullah Saw bersabda: aku akan mengkhabarkan khabar gembira dengan Mahdi... di mana penghuni langit dan bumi merasa puas atas pemerintahannya. Bagaimana mungkin seseorang tidak rela atas pemerintahannya di mana akan tampak jelas bagi penduduk dunia di mana kebahagiaan dirinya baik dari sisi materi maupun spiritual hanya dapat diwujudkan di bawah pemerintahan ilahi beliau as.<!--[if !supportFootnotes]-->[26]<!--[endif]--> Sangat layak di akhir pembahasan ini kita akhiri dengan ungkapan Imam Ali as: Allah SWT akan membantu Imam Mahdi as melalui para malaikat, Dia akan menjaga para pengikutnya dan dengan perantara tanda-tandanya dia akan ditolong dan akan dimenangkan atas seluruh penduduk bumi, sehingga semua kalangan baik dengan suka rela maupun terpaksa menyukai dirinya dan akhirnya memenuhi bumi dengan keadilan dan dari cahaya. Kota-kota percaya kepadanya sehingga tidak ada seorang kafir yang tersisa kecuali dia akan beriman dan tidak ada perbuatan jelek yang tersisa kecuali akan membaik di dalam pemerintahannya binatang-binatang buas akan berdamai bumi akan mengeluarkan berkahnya dan langit akan menurunkan kebaikannya (hujan) dan harta karun bumi akan tampak di hadapannya... oleh karena itu alangkah bahagianya orang yang melihatnya dan mendengar suaranya.<!--[if !supportFootnotes]-->[27]<!--[endif]-->

<!--[if !supportFootnotes]-->

<!--[endif]-->
<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]-->

ketujuh.

Kaml ad-Dn, bab 25, hadis ke empat dan bab 24, hadis pertama dan

<!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]--> <!--[if !supportFootnotes]-->[3]<!--[endif]-->

Lihat Ghaibah nukmani dan Ihtijaj, karya Thabarsi. Kaml ad-Dn, juz pertama, bab 23, hadis keempat, halaman 477. <!--[if !supportFootnotes]-->[4]<!--[endif]--> Kaml ad-Dn, juz pertama, bab 32, hadis ke-16, halaman 603. <!--[if !supportFootnotes]-->[5]<!--[endif]--> Bihr al-Anwr, juz 53, halaman 11. <!--[if !supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]--> Kaml ad-Dn, juz 1, bab 23, hadis keempat, halaman 477. <!--[if !supportFootnotes]-->[7]<!--[endif]--> Gaibah thusi, pasal 8, hadis 493, halaman 472. <!--[if !supportFootnotes]-->[8]<!--[endif]--> Untuk lebih mengenal lebih jauh, dapat dirujuk di buku Chesym Andozi beh Hukumate Mahdi as, Najmuddin Thabasi, halaman 173-175. <!--[if !supportFootnotes]-->[9]<!--[endif]--> Lihat, al-Mahdi, Sayid Shadr, halaman 239 dan Tarikh ma Bada Dhuhur, Sayid Shadr. <!--[if !supportFootnotes]-->[10]<!--[endif]--> Gaibah Thusi, pasal 8, hadis 497, halaman 474. <!--[if !supportFootnotes]-->[11]<!--[endif]--> Bihr al-Anwr, juz 52, halaman 280. <!--[if !supportFootnotes]-->[12]<!--[endif]--> Gaibah Nukmani, bab 13, hadis 13, halaman 236. <!--[if !supportFootnotes]-->[13]<!--[endif]--> Kaml ad-Dn, juz 2, bab 39, hadis 6, halaman 122. <!--[if !supportFootnotes]-->[14]<!--[endif]--> Lihat, al-Fitan, halaman 249-251. <!--[if !supportFootnotes]-->[15]<!--[endif]--> Lihat Itsbat al-Hudat, juz 3, halaman 439-494. <!--[if !supportFootnotes]-->[16]<!--[endif]--> Ibid, halaman 450. <!--[if !supportFootnotes]-->[17]<!--[endif]--> Al-Fitan,halaman 99. <!--[if !supportFootnotes]-->[18]<!--[endif]--> Itsbatul Hudat, juz 3, halaman 447. <!--[if !supportFootnotes]-->[19]<!--[endif]--> Mujam Ahadis Imam Mahdi as, juz pertama, hadis 152, hal 246. <!--[if !supportFootnotes]-->[20]<!--[endif]--> Bihr al-Anwr, juz 52, hal 309. <!--[if !supportFootnotes]-->[21]<!--[endif]--> Mujam Ahadis Imam Mahdi as, juz 1, hadis 143, hal 232. <!--[if !supportFootnotes]-->[22]<!--[endif]--> Muntakhabu Atsar, pasal 6, bab 11, hadis ke 4, hal 581.l <!--[if !supportFootnotes]-->[23]<!--[endif]--> Wasail as-Syiah, juz 3, hal 348. <!--[if !supportFootnotes]-->[24]<!--[endif]--> Ushul-kafi, juz 1, hadis pertama, hal 225. <!--[if !supportFootnotes]-->[25]<!--[endif]--> Muntahabul Astar, pasal ke 7, bab ke 7, hadis ke 2, hal, 598. <!--[if !supportFootnotes]-->[26]<!--[endif]--> Bihr al-Anwr, juz 51, hal 81. <!--[if !supportFootnotes]-->[27]<!--[endif]--> Itsbatul Hudat, juz 3, hal 524.

Imam yang Adil, Mutiara yang Hilang


http://www.geocities.com/lathiefah2000/imam_yang_adil.htm

Imam "Dari Ummi Mukminin 'Aisyah ra. Nabi saw

bersabda: "Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku, lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulit pulalah dia, dan barang siapa yang menjabat jabatan dalam pemerintahan umatku, lalu dia berusaha menolong mereka maka tolong pulalah dia." (HR Muslim, Shahih Muslim vol 4 hal 212)
Kepemimpinan dalam Islam merupakan sebuah amanah dan tanggung jawab yang sangat besar sekali. Dia tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia, baik secara tertulis maupun lisan dalam sebuah lembaga maupun tanggung jawab moral, dan dia juga akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Rabbnya, pada hari kiamat. Hadits di atas merupakan do'a Rasulullah saw. Untuk seorang pemimpin, baik yang melaksanakan amanah atau tidak, beliau mendoakan pemimpin yang amanah dengan kebaikan. Suatu bukti bahwa dia melaksanakan amanah dia akan mempermudah urusan umatnya, karena keberadaannya sebagai pemimpin pada hakikatnya adalah untuk berkhidmat (melayani) rakyatnya (sayyidul qaumi khadimuhum), begitu juga sebaliknya. Allah Subhaanahu wa ta'ala mengancam seorang hamba (manusia) yang tidak melaksanakan amanah ini, dengan tidak dijamin masuk surga sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Apabila seorang hamba(manusia) yang diberikan kekuasaan memimpin rakyat mati, sedangkan di hari matinya dia telah mengkhianati rakyatnya maka Allah mengharamkan surga kepadanya." (HR. Imam Muslim syarah an-Nawawi vol 4 hal 214) Abu Dzar suatu kali bertanya kepada Rasulullah Saw: "Wahai Rasulullah maukah engkau mengangkatku memegang satu jabatan?" Rasulullah lalu menepuk bahunya dengan tangannya sambil bersabda: "Wahai Abu Dzar, Sesungguhnya ini (jabatan) adalah amanah. Dan sesunggunhnya ia pada hari kiamat menjadi kesengsaraan dan penyesalan, kecuali yang mengambilnya dengan haknya dan menyempurnakan apa yang wajib ke atasnya dan yang diatas jabatan itu" (Hadits riwayat Imam Muslim). Sosok pemimpin yang amanah dan tanggung jawab pada Islam saat ini bagaikan sebuah mutiara yang mahal harganya, layaknya sebuah mutiara ia berada di dasar laut sehingga sukar untuk didapatkan, sinarnya tetap berkilauan walupun berada di dalam lumpur, kendatipun demikian tetap saja ada orang yang mendapatkan barang langka itu, artinya walaupun susah untuk dicari tetapi barang langka itu ada. Ummat Islam saat ini membutuhkan mutiara tersebut, mereka ingin mendapatkannya kembali dan mengulang kejayaannya seperti pada masa-masa sebelum mereka. Pada masa Rasulullah dan masa Khulafaurrasyidin khususnya. Pada masa itu manusia hidup dalam keadaan damai, tenteram dan aman di bawah naungan Islam. Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab telah menjadi seorang Qadhi. Pada masa itu, tidak pernah terjadi persengketaan antara para elit politik maupun rakyat dengan para pemimpinnya. Umar bin Khattab, dikenal sebagai sosok pribadi yang keras. Namun walaupun Beliau seorang yang keras, akan tetapi dalam memimpin umatnya Beliau dapat bersikap menyayangi sampai kepada sesekor binatang Ia pernah berkata: "Kalaulah seekor bighal (binatang hasil perkawinan antara kuda dan keledai) jatuh tergelincir di dataran Irak, niscaya engkau akan mendapati aku sebagai orang yang paling bertanggung jawab atasnya, dikarenakan aku tidak memberinya jalan

yang terbaik " (At-Tamkin Lil Umat Islamiyah Fi Dhau' Al-Qur'anul Karim, hal 189, dinukil dari Ahmad Muhamad Jamal, Muhimmah Haikim Muslim, hal 15). Begitu juga dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau termasuk seorang khalifah yang sukses dalam mengentaskan kemiskinan. Ustadz Muhammad Sayid Muhammad Yusuf menyebutkan dalam bukunya At-Tamkin Lil Umat Islamiyah Fi Dhau' Al-Qur'anul Karim, bahwa Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab telah berkata, "Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz memerintah selama 30 tahun, ketahuilah demi Allah ia tidak meninggal kecuali seseorang mendatanginya dengan harta yang sangat banyak dan ia berkata pada orang tersebut: berikan saja harta ini kepada orang-orang fakir. Lalu orang tersebut mencari orang-orang fakir namun tidak mendapatkannya. Kemudian orang itu teringat dengan orang yang paling lemah diantara mereka, namun ia sudah tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Umar telah membuat orang-orang menjadi kaya." (AtTamkin Lil Umat Islamiyah Fi Dhau' Al-Qur'anul Karim, hal 188 ) Itulah Umar bin Abdul Azis, seorang sosok pemimpin yang bagaikan mutiara berkilauan, banyak sudah yang telah ia perbuat untuk rakyatnya tetapi beliau masih merasa dirinya belum berbuat apa-apa untuk rakyatnya, berbeda dengan pemimpin sekarang mereka banyak yang mengatasnamakan rakyat tetapi tidak ada yang diperbuat untuk rakyat bahkan mereka mengkhianati rakyatnya. Saat ini memang dibutuhkan seorang manusia seperti Umar bin Abdul Aziz, dapat melaksanakan amanah dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugastugasnya, tawadhu walaupun telah banyak hasil panen yang dituai olehnya. Suatu saat sang Khalifah merasa dirinya perlu mendapat nasihat dari seorang ulama, tanpa sungkan-sungkan dan merasa malu ia menulis surat kepada seorang ulama yang bernama Imam Al Hasan Al Basri, didalam surat ia meminta kepada beliau agar di jelaskan sifat atau ciri-ciri pemimpin yang adil. Imam Hasan al-Basri menjawab surat beliau dengan mengatakan: "Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Swt. Menjadikan seorang pemimpin yang adil itu sebagai penolong bagi setiap yang dianiaya, reformis bagi setiap kerusakkan, kekuatan bagi si Lemah, pembela bagi setiap yang dizhalimi, penghibur bagi yang berduka." "Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin seperti seorang penggembala unta yang penuh belas kasihan pada para gembalaannya Dia memilihkan padang rumput yang terbaik untuk gembalaannya. Dia melindunginya dari segala mara bahaya yang dapat membinasakannya. Dia menjaganya dari binatang buas dan dari segala penyakit diwaktu dingin dan panas." "Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin seperti seorang ayah yang menyayangi anaknya. Dia memeliharanya di waktu kecil dan mengajarinya ketika dewasa. Dia memberikan nafkah mereka semasa hidupnya dan memberikan warisan harta ketika dia meninggal dunia." "Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin seperti seorang ibu yang penuh belas kasihan terhadap anaknya dengan mengandungnya dan dibawa kemana saja ia pergi dengan susah payah Ia menyayangi anaknya ketika kecil, bangun/terjaga ketika anaknya bangun, dan diam/tenang ketika anaknya berada disisinya Menyusuinya sampai batas menyapih. Gembira ketika anaknya sehat. Sedih, ketika anaknya sakit." "Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin, kedudukannya seperti hati diantara anggota tubuh lainnya, jika hatinya bersih maka perbuatannya akan baik begitu juga jika hatinya kotor maka amal perbuatannya jelek dan buruk." "Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin, yang berdiri tegak antara Allah dan hamba-hambaNya. Dia mendengar kalam Allah dan mendengarkan ucapan mereka. Dia memandang Allah dan memperhatikan mereka. Dia patuh dan taat kepada Allah dan ditaati kepemimpinannya oleh

mereka. Oleh karena itu wahai Amirul Mukminin janganlah engkau celakakan dirimu sendiri dengan mengkhianati amanah ini seperti seorang hamba sahaya yang diberikan amanah untuk menjaga dan melindungi harta dan keluarganya, tetapi dia berkhianat dan membuat semuanya berantakan sehingga dia akhirnya membuat sengsara diri dan keluarganya sendiri." "Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah menurunkan hukum-hukumnya agar dapat mencegah manusia dari semua perbuatan keji, maka janganlah perbuatan itu datang darimu! Dan Allah menurunkan hukum qishash agar dapat menjaga kelanggengan kehidupan manusia di muka bumi, janganlah engkau membunuh orang yang tidak berdosa dan lemah!" (AtTamkin Lil Umat Islamiyah Fi Dhau' Al-Qur'anul Karim hal.189, di nukil dari Ahmad Muhamad Jamal, muhimmah haikim muslim, hal 40) Fatimah istri dari khalifah Umar bin Abdul Aziz suatu ketika ia masuk ke dalam kamarnya, tibatiba ia dikejutkan oleh suaminya yang sedang menangis, sehingga rasa penasaran yang menggebu-gebu itulah yang membuatnya bertanya kepada sang suami akan sebabnya dia menangis, Khalifahpun menjawab: "Celakalah aku wahai Fatimah! sesungguhnya aku diberikan tanggung jawab untuk memimpin umat, lalu aku memikirkan nasib orang fakir yang lapar, orang sakit yang kehabisan obat, orang yang tidak mempunyai pakaian, anak yatim, orang yang dizhalimi, orang asing, tawanan, para tua renta, janda yang kesepian, keluarga besar dengan penghasilan minim dan banyak lagi yang lainnya di seluruh penjuru dunia. Aku tahu bahwa Tuhanku akan bertanya tentang hal mereka semua pada hari kiamat. Dan ketika itu nabi Muhammad meminta pertanggung jawabanku tentang hal itu, maka aku takut kalau aku tidak mempunyai dalil atau alasan untuk menjawab pertanyaannya." (Jalaludin As Syuyuthi, Tarikh Al Khulafa hal 270 ) Pada saat sekarang ini mutiara seperti itu (sosok kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz) sangat sulit untuk ditemukan, para pemimpin sekarang banyak menggunakan kekuasaannya bukan untuk kepentingan rakyat namun memakai nama rakyat, yang jadi pertanyaan rakyat yang manakah yang sedang diperjuangankannya? Kebanyakan mereka setelah menjadi penguasa lupa dengan siapa yang pernah mendukung mereka, bagaikan kacang lupa akan kulitnya. Bukan hanya itu, bahkan ada yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya dengan menggunakan aji mumpung (kesempatan mengambil kekayaan sebanyakbanyaknya dari negara untuk kepentingan pribadi maupun kelompok). Yang lebih tragis lagi justru keadaan seperti ini terjadi di banyak negara-negara yang berpenduduk mayoritas umat Islam. Apabila pemimpin di suatu masyarakat itu non-Muslim mungkin hal itu tidak begitu menyedihkan, karena mereka tentu tidak menjadikan umar bin Abdul Aziz sebagai prototipe dalam kepemimpinannya, sehinga tidak aneh jika banyak kekejaman dan ketidak adilan disana sini. Satu bukti kota Konstantinopel sebelum ditaklukkan oleh Sultan Muhammad al Fatih (si Pembuka) pada tahun 1453 M, diperintah oleh seorang kaisar yang kejam. Ia mengambil pajak dari rakyatnya tanpa pilih kasih, bagi mereka yang tidak sanggup membayar harus rela untuk menjadi budaknya sebagai ganti pajak yang telah ditetapkan. Dan hukum rimba berlaku. Siapa yang kuat maka dia yang menang. Akankah kita dapatkan kembali mutiara itu? (Mohamad Suharsono, sarjana Ilmu Hadits Universitas al-Azhar, Kairo, pengajar di Pusat Studi Islam AlManar, Jakarta)

Pemerintahan yang Kuat


Oleh Bimo Ario Tejo 14th Nov, 2008 Kategori: Bimo Ario Tejo, Kolom Dilihat:518 views Kirim: Email This Post

Tugas sebuah pemerintahan sebenarnya hanya satu: to get things done. Membereskan masalah. Dalam membereskan masalah, pemerintah tentu bisa mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Tetapi pada akhirnya pemerintah harus punya pendirian sendiri dalam membereskan masalah tersebut. Pemerintahan yang lemah dan tak efektif biasanya akan berlama-lama mendengar masukan dari sana-sini, termasuk dari orang-orang yang tak berkompeten. Akhirnya masalah tidak beres karena sibuk mendengarkan tetapi lupa bertindak. Hanya pemerintahan yang kuat yang bisa membereskan masalah. Dan rakyat memilih pemerintahnya untuk membereskan masalah. Rakyat ingin pemerintahan yang kuat. Pemerintah yang kuat tidak sama dengan diktator. Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang mampu mengambil keputusan dengan cepat dan berdiri kukuh (stand firm) mempertahankan keputusannya itu. Di tahun 1957, Presiden Eisenhower mengerahkan pasukan Divisi 101st Airborne yang termasyhur untuk mengawal para pelajar kulit hitam yang menjadi korban diskriminasi rasial. Tentangan dari warga kulit putih sangat kuat. Tapi Presiden Eisenhower bersikap stand firm dengan keputusannya walaupun beresiko dibenci oleh warga kulit putih Amerika. Tentu saja sikap Presiden Eisenhower yang keras itu tidak bisa disamakan dengan diktator. Presiden Republik Indonesia saat ini mempunyai latar belakang militer. Seorang pensiunan jenderal. Sama seperti Eisenhower. Tetapi kemampuannya untuk bersikap stand firm sangat memprihatinkan. Apakah terbayang oleh kita Presiden Yudhoyono berani mengerahkan Kopassus dan Kostrad untuk memberangus kelompok simpatisan Amrozi cs yang semakin berani muncul ke permukaan? Apakah terbayang oleh kita Presiden Yudhoyono berani mengeluarkan perintah hukuman mati kepada koruptor? Apakah terbayang oleh kita Presiden Yudhoyono berani memerintahkan tentara di semua Kodam untuk mengejar para penimbun beras dan kebutuhan pokok rakyat? Apakah terbayang oleh kita Presiden Yudhoyono berani memerintahkan para retail besar seperti Giant dan Carrefour untuk menurunkan harga barang?

Pangkat jenderal bukan jaminan keberanian. Apalagi jenderal yang memang tak pernah berperang. Untuk membereskan masalah, to get things done, keberanian dan sikap stand firm adalah syarat utama. Saya kira rakyat ingin pemerintahan yang bisa membereskan masalah, bukan asyik mendengar kiri-kanan tetapi lamban bertindak
http://kolumnis.com/2008/11/14/pemerintahan-yang-kuat/

Ia kepala negara (khalifah). Dalam menjalankan pemerintahan yang adil, jujur dan bijaksana, ia menulis Risalatul Qada atau Dustur Umar. Berisi petunjuk bagi pejabat-pejabat bawahannya dalam menerapkan keadilan dan kejujuran dalam pemerintahan. Umar membagi tipe pemimpin dalam empat jenis. Pertama, yang berwibawa. Tegas terhadap penyeleweng, koruptor dan penjahat negara, tanpa pandang bulu. Sekalipun dirinya sendiri atau keluarganya, tetap akan ditindak menurut hukum yang berlaku. Pemimpin semacam ini dikategorikan mujahid fi sabilillahi. Negara yang dipimpinnya, rakyat yang diayominya, akan mengalami keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan lahir batin, di bawah naungan ampunan Allah SWT (Baldatun thayyibatun wa Rabbun Gafur). Kedua, pemimpin yang tegas terhadap dirinya sendiri saja. Tapi ia tak berani terhadap bawahannya. Lemah dan tidak berwibawa di mata rakyat. Ia selalu dalam intaian bahaya, jika tidak mendapat pertolongan Allah SWT. Ketiga, pemimpin egois. Mementingkan diri sendiri. Menempatkan bawahan dalam posisi ketakutan, sehingga terpecah-belah dalam kotak-kotak dekat dan jauh, kering dan basah. Menempatkan rakyat sebagai sumber pemerasan politik dan ekonomi. Pemimpin model begini akan mudah menjadi incaran kudeta, tidak mau ada yang membela. Bahkan dikutuk dan dihujat segenap lapisan. Nabi Muhammad saw. menggambarkannya sebagai pemimpin terjahat yang merusak segala tatanan kehidupan (Syarrur riail huthamah). Keempat, pemimpin yang berkomplot bersama rezimnya, memperkosa keadilan, merampas hak rakyat. Berbagai undang-undang dan peraturan dikeluarkan, agar perilaku komplotan rezim tersebut seolaholah konstitusional dan demokratis. Padahal di balik itu tersembunyi teror, penghancuran dan persekongkolan untuk memenuhi kepentingan pemimpin, rezim dan golongan pendukungnya. Pemimpin seperti ini memang akan menikmati hasil gilang-gemilang, mengeruk keuntungan, mengokohkan kekuasaan. Namun hukuman Allah SWT akan menimpa tiba-tiba (baghtatan). Sehingga kesenangan yang mereka jalani, lenyap mendadak (Q.S. Al-Anam:44).

BERCERMIN PADA UMAR BIN ABDUL AZIZ


Posted by Jumhurul Umami

Ditengah isu akan melonjaknya harga minyak mentah dunia dan kebijakan pemerintah Indonesia untuk menaikkan harga BBM membuat kalangan menengah kebawah menjadi resah dan semakin tersudut, bagaimana tidak,dengan melambungnya harga minyak maka harga kebutuhan pokokpun juga ikut merangkak naik, nasib warga miskinpun semakin terbebani dengan itu semua. SPBU dibatasi pasokan minyaknya,para spekulan mencoba bermain dengan menimbun minyak sebanyak-banyaknya dan dijual kembali saat harga minyak mulai meninggi,dan lainya sebagainya. Warga kecil panik dan tidak tahu harus berbuat apa,mereka hanya menjadi penonton yang baik dan duduk dibangku pesakitan layaknya terdakwa yang menunggu keputusan hukuman dari majlis hakim. Sebenarnya warga selama inipun tidak banyak menuntut ke pemerintah, mereka cuma berharap orang-orang yang diatas memperhatikan nasib mereka, asal mereka dapat makan dan minum tiap harinya saja sudah cukup tanpa mengharapkan subsidi berupa apapun dari pemerintah. Kita masih ingat keluhan salah satu warga surabaya disebuah SPBU,ketika ELPIJI begitu langka di kota tersebut, dia harus antri selama 3 hari berharap mendapatkan kebutuhan yang ia inginkan tapi selama itu dia tidak mendapatkannya (ELPIJI) sehingga ia membanting tabung gas elpijinya seraya berkata Saya ini sudah ngantri 3 hari disini (SPBU) untuk mendapatkan ELPIJI tapi selalu habis, Pemerintah iki matane picek (pemerintah ini matanya buta), kupinge dublek (telinganya tuli) kita rakyat kecil ini mau dibawa kemana?.... Itulah potret kecil masyarakat kita yang selalu diombang-ambingkan oleh kebijakan-kebijakan yang cenderung menyusahkan dan menyudutkan rakyat kecil. Konversi minyak tanah ke gas yang selama ini didengungkan bukannya memudahkan warga malah sering menyusahkan, bagaimana tidak susah kalau minyak telah dikonversi ke gas tapi malah gas begitu langka untuk dicari. Sekarang akan muncul lagi kebijakan pemerintah untuk menaikkan BBM hingga 20-30% dari harga semula,sekali lagi pemerintah menuntut lagi kepada masyarakat untuk menerima itu dan lagi-lagi warga kecil yang akan menanggung beban dari dampak kenaikan BBM tersebut, bijakkah rencana pemerintah tersebut? Siapa yang diuntungkan dan dirugikan dengan naiknya BBM? BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang akan diberikan kepada masyarakat kecil apakah menjadi solusi yang tepat? Apakah pendistribusiannya sesuai target yang diharapkan? Karena selama ini BLT tidak mengenai sasaran yang tepat tapi justru malah disunat atau dimakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, lagi-lagi masyarakat kecil yang dirugikan. Rakyat merindukan sosok seorang pemimpin yang sangat memperhatikan mereka,jatah makan sehari-hari mereka terpenuhi walau tidak pernah diberi subsidi. Mereka menantikan seorang pemimpin yang selalu mendengar rintihan mereka dikala susah. Rakyat kecil telah lelah dijadikan kelinci percobaan kebijakan yang justru menekan mereka,rakyat telah banyak berkorban buat pemerintah hingga mereka berani mengirimkan wakil-wakil mereka di kursi DPR,berharap dapat menyalurkan suara-suara para kawula alit (rakyat kecil). Terkadang itupun belum memenuhi harapan mereka karena wakil rakyat yang seharusnya menyuarakan suara rakyat justru bermain mata dengan orang lain untuk mengeruk keuntungan pribadi dari jabatan yang dimiliki. Belum lagi munculnya konflik baru di Negara kita ini antara Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi

Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Bekeyakinan (AKKBB) yang sama-sama memegang prinsip teguh dan seolah tidak ada yang mau kalah diantara keduanya, tindakan-tindakan anarkis,adu otot, seolah ingin unjuk gigi dengan cara baku hamtam untuk menunjukkan bahwa kelompuknyalah yang paling digdaya (kuat). Dan efek dari baku hantam di Silang Monas tersebut mengakibatkan permusuhan sesama muslim dari 2 kelompok yang berbeda,apakah yang sebenarnya mereka cari? Bendera Islam manakah yang dikibarkan mereka? Seseorang yang mengatakan dirinya Muslim/ beragama Islampun tidak akan menerima melihat ummatnya terpecah belah dan diadu domba. Innama Al-muminuna Ikhwah fa Ashlihu baina Akhawaikum, sesunguhnya setiap muslim itu adalah saudara maka saling mengingatkanlah diantara saudara-saudara kalian. Marilah kita bercermin kembali dengan sosok seorang pemimpin (khalifah) yang sangat sederhara dan sangat memperhatikan warganya,bersahaja,jujur dan lebih memperhatikan kepentingan ummat daripada kepentingan pribadi yang sifatnya sesaat. Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah Umayyah yang masyhur. Kerajaannya membentang dari tepi laut Atlantik sampai ke daratan tinggi di Pamir. Suatu hari, ia duduk di kamar kerjanya mempelajari setumpuk dokumen negara. Cahaya lampu yang suram di kamarnya menambah ketenangan kamar dan khalifah hampir tidak mengetahui kehadiran isterinya, Fatimah, sampai ia menyapanya. "Yang mulia! Maukah anda memberikan waktu untukku sejenak? Saya ingin merundingkan masalah Pribadi Dengan anda." "Tentu saja," jawab khalifah sambil berpaling dari kertas-kertas di atas mejanya. "Tapi, tolong matikan lampu itu, yang milik negara, dan nyalakan lampu anda sendiri. Aku tidak mau memakai minyak negara untuk pembicaraan pribadi." Isteri yang patuh itu mengerjakan apa yang dikatakan khalifah. Fatimah adalah putri Abdul Malik, khalifah Umayyah yang perkasa, dan saudara perempuan dari dua khalifah Umayyah berturut-turut, Walid dan Sulaiman. Pemerintah Umar bin Abdul Aziz, kendati tidak berlangsung lama, seperti oasis di gurun pasir yang luas. Pemerintahannya adalah yang paling baik selama 91 tahun kekhalifahan Umayyah. Berjalan singkat namun telah mengubah pandangan terhadap negara. Pemerintahannya menumbuhkan kembali kekuatan demokratis, walau setelah ia wafat timbul lagi usaha mengembalikan otokrasi di bawah Hisyam. Usaha ini mengalami kegagalan yang akhirnya memuncak pada peruntuhan kekhalifahan Umayyah di tangan kaum Abassiyah. Umar bin Abdul Aziz bergelar al-Khalifatush Shaalih (khalifah yang saleh). Ia putra Abdul Aziz, gubernur Mesir. Ibunya, Ummu 'Aasim, adalah cucu Khalifah Umar ibn al-Khattab. Dilahirkan pada tahun 63 H (682 M) di Halwan, sebuah kampung di Mesir, Umar mendapat pendidikan di Madinah dari paman ibunya, Abdullah ibn Umar yang termasyur. Madinah yang pada waktu itu menjadi pusat ilmu di dunia Islam, sangat membantu membentuk gaya hidupnya yang sangat lain dari para khalifah Umayyah lainnya. Ia menetap di Madinah sampai ayahnya meninggal pada tahun 704 Masehi. Pada tahun itu pula ia dipanggil menghadap pamannya Khalifah Abdul Malik, dan dikawinkan dengan puterinya, Fatimah. Umar diangkat menjadi gubernur Madinah pada tahun 706 M oleh Khalifah Walid. Tidak seperti gubernur-gubernur otokratis lainnya, ia segera tiba di Madinah membentuk sebuah dewan penasehat, terdiri dari sepuluh ahli hukum kenamaan dan tokoh-tokoh terkemuka di kota suci itu. Dalam menjalankan pemerintahannya, Umar berkonsultasi dengan dewan tersebut. Ia memberi kuasa kepada dewan untuk mengawasi tindak-tanduk bawahannya. Tindakan ini mendapat sambutan dan dukungan besar dari penduduk Madinah. Ia berhasil memupus tanda-tanda kehancuran Islam di kota suci itu yang dilakukan Yazid dan Abdul Malik. Selama dua tahun sebagai gubernur Madinah, ia memperbaiki dan memperbesar masjid Nabi, serta memperindah kota suci dengan

bangunan-bangunan umum. Ia membangun ratusan terowongan air baru, dan memperbaiki jalan-jalan luar kota yang menuju Madinah. Ia "lunak tetapi tegas," kata Ameer Ali, "Sangat berhasrat memajukan kesejahteraan rakyatnya. Pemerintahan Umar terbukti sangat menguntungkan lapisan masyarakat." Pemerintahannya yang patriotis dan adil menarik banyak kaum pengungsi dari Iran, yang mengeluh ditindas oleh Hajjaj bin Yusuf. Menurut Tabaru, migrasi itu membuat Hajjaj yang lalim marah besar. Ia mendesak Walid mengeluarkan para pengungsi, dan Madinah terpaksa mereka tinggalkan dalam suasana "berkabung umum." Terangkatnya dia ke puncak kekuasaan didahului oleh penghargaan khalifah Umayyah terdahulu, Sulaiman ibn Abdul Malik, yang sangat menghormati Umar bin Abdul Aziz. Sulaiman kemudian mengangkat Umar menjadi penggantinya. Ini terjadi menjelang wafatnya Sulaiman, dengan penyerahan jubah kekhalifahannya kepada calon penggantinya itu yang sebenarnya agak segan menerimanya. Dengan menjauhkan segala yang berbau kemewahan, khalifah yang baru menolak pasukan pengawal berkuda dan menyimpan seluruh peralatan keupacaraan di Baitul Mal, bagaikan rakyat biasa, ia lebih suka tinggal di sebuah tenda kecil dan menyerahkan istana raja untuk didiami keluarga Sulaiman. Ia memerintahkan agar kuda-kuda di istana dilelang dan uangnya di simpan di Baitul Mal. Salah seorang anggota keluarga Umar bertanya mengapa ia tampak murung. Khalifah menjawab: "Apakah memang tidak ada yang harus aku cemaskan? Aku telah dipercayakan mengupayakan kesejahteraan bagi kerajaan yang begitu luasnya. Aku gagal menjalankan tugas itu jika aku tidak segera membantu kaumku yang miskin." Ia kemudian naik ke mimbar dan berpidato: "Saudara-saudara! Aku telah dibebani tanggung jawab kekhalifahan, tugas yang sebenarnya di luar kemauanku. Anda bebas memilih siapa saja yang anda inginkan." Tapi seluruh hadirin sama berteriak bahwa Umarlah tokoh paling sesuai untuk jabatan tinggi itu. Ia lalu menasehati rakyatnya agar selalu dalam kesalehan dan kebajikan. Ia mengijinkan mereka mencabut pernyataan sumpah setianya bila ia dinilai menyeleweng dari jalan Allah. Pemerintahannya yang singkat itu dikenal demokratis dan sehat. Ia melakukan perang mempertahankan diri terhadap orang Turki, yang telah membinasakan Azerbaijan dan membunuh ribuan orang Islam tak berdosa. Di bawah pimpinan Ibn Hatik ibn Ali Naan al-Balili, pasukan khalifah memukul mundur tentara penyerang dengan banyak korban di pihak musuh. Khalifah mengijinkan tentaranya berperang melawan orang Khariji, dengan syarat kaum wanita, anak-anak dan tawanan perang harus diselamatkan. Musuh yang kalah tidak boleh dikejar, dan semua barang rampasan dikembalikan kepada keluarganya. Ia mengganti para administrator Umayyah yang korup dan bertindak sewenang-wenang dengan orang-orang yang terampil dan mampu bersikap adil. Tindakan pertamanya begitu memangku jabatan adalah mengembalikan harta yang pernah disita kaum Umayyah kepada para pemiliknya yang berhak. Yang pertama-tama dilakukannya adalah mengembalikan semua barang bergerak dan tidak bergerak kepada Baitul Mal. Ia bahkan menyerahkan sebentuk cincin yang dihadiahkan kepadanya oleh Walid. Budaknya yang setia, Mahazim, terpesona oleh tindakan langka seorang penguasa itu dan bertanya: ya Tuanku, apa yang telah anda tinggalkan untuk anak-anak anda?Jawabnya hanya sepatah kata: Allah. Kembali kepada pemerintahan Umar, pengembalian tidak menimbulkan reaksi rakyat yang beraneka ragam. Orang Khariji yang fanatik, yang pernah memusuhi kekhalifahan, segera berlaku lembut kepada Umar Umar bin Abdul Aziz. Keluarga Umayyah yang terbiasa hidup mewah atas biaya rakyat, memberontak terhadap tindakan tegas tapi adil yang dijalankan oleh khalifah. Mereka memprotes keras pengembalian harta yang telah lama mereka kuasai kepada negara. Pada suatu hari, Khalifah mengundang beberapa tokoh keluarga Umayyah untuk makan malam, tetapi sebelumnya ia telah memerintahkan juru masak agar menunda dulu penyiapan makanan. Ketika akhirnya para tamu mulai merintih kelaparan, baru khalifah berteriak agar juru masak segera menyediakan santapan. Tetapi bersamaan dengan itu pula, ia memerintahkan agar sambil menunggu

dihidangkan dulu roti panggang. Santapan sederhana ini langsung disantap Umar, yang diikuti para tamunya yang kelaparan. Beberapa waktu kemudian, juru masak muncul menghidangkan santapan yang sudah siap dimakan, tetapi ditolak oleh tamu-tamu itu. Alasannya, mereka sudah kenyang. Pernyataan itu segera ditanggapi Khalifah, "Saudara-saudara! Jika Anda bisa memuaskan nafsu makan dengan makanan sederhana, lalu mengapa Anda suka sewenang-wenang dan merampas milik orang lain?" Ucapan ini ternyata sangat menggugah, sampai para bangsawan Umayyah itu meneteskan air mata. Pemerintahannya yang adil dan tidak memihak memang bertentangan dengan keinginan kaum bangsawan Umayyah. Sebab mereka telah terbiasa dengan berbagai bentuk kebebasan yang tidak bertanggung jawab, dan acap tidak dapat mentolerir setiap hambatan bagi kebebasan mereka yang tak terbatas. Mereka bahkan siap membunuh anggota sesuku yang mereka anggap menyetujui kebijaksanaan Umar. Seorang budak Khalifah mereka sogok agar meracuni Khalifah. Ketika Khalifah merasakan pengaruh racun, ia memanggil budak itu dan menanyainya. Si budak menjawab, ia disogok seribu dinar untuk jasa meracuni Khalifah. Uang itu diambil Umar dan disimpan di Baitul Mal. Ketika akhirnya ia membebaskan budak itu, Khalifah memintanya segera menyingkir, jika tidak ada saja orang yang akan membunuhnya. Umar wafat pada tahun 719 M, pada usia muda, 36 tahun, di tempat yang disebut Dair Siman (Pesantren Siman), dekat Herms. Mati syahidnya negarawan berjiwa mulia ini membuat seluruh dunia Islam berbelasungkawa. Hari wafatnya menjadi hari berkabung nasional, ditandai berbondongbondongnya penduduk kota kecil itu menyampaikan duka citanya yang dalam. Ia dimakamkan di Dair Siman, di sebidang tanah yang ia beli dari seorang Kristen. Muhammad ibn Mobat, yang waktu itu kebetulan hadir di pertemuan Istana Kerajaan Romawi, melaporkan bahwa dia melihat Raja Romawi sangat murung menerima kabar wafatnya Umar. Ketika ditanyakan, sang raja berkata, "Seorang yang saleh telah wafat, Umar bin Abdul Aziz. Setelah Nabi Isa, jika ada orang lain yang mampu menghidupkan kembali orang mati, dialah itu. Aku tidak terlalu heran melihat pertapa yang meninggalkan kesenangan duniawi agar hanya dapat menyembah Tuhan. Tapi aku sungguh kagum menyaksikan seorang pemilik kesenangan duniawi yang tinggal meraih dari bawah telapak kakinya, tapi malahan ia menutup matanya rapat-rapat lalu hidup di dalam kesalehan." Diceritakan, Umar hanya meninggalkan uang 17 dinar, dengan wasiat agar sebagiannya untuk sewa rumah tempatnya meninggal, sedang sebagian lagi ia minta dibayarkan untuk harga tanah tempatnya dimakamkan. Ameer Ali mengatakan, "Kesalehannya tidak dibuat-buat, ia memiliki rasa keadilan dan kejujuran yang tinggi, sikap dan cara hidup sederhana yang mendekati bersahaja, yang menjadi ciri-ciri utama wataknya. Tanggung jawab pemerintahan yang dipercayakannya membuatnya selalu gelisah dan banyak menimbang sebelum mengambil suatu keputusan. Diceritakan, suatu hari isterinya mendapatkan ia sedang menangis di tikar sembahyang, yang mendorong wanita itu menanyakan sebab-sebabnya. Umar menjawab: "O, Fatimah! Aku telah diangkat menjadi raja kaum Muslimin dan orang asing. Yang sedang aku pikirkan sekarang adalah nasib orang-orang miskin yang kelaparan, orang melarat yang sakit, yang tidak berpakaian dan menderita, yang tertindas, orang asing yang dipenjara, para sesepuh yang patut dimuliakan, dan mereka yang berkeluarga besar hanya mempunyai sedikit uang, serta mereka yang berada di tempat-tempat yang jauh. Aku merasakan tentu Allah akan menanyakan keadaan mereka, yang berada di bawah kekuasaanku, pada hari kiamat. Aku takut tak ada sesuatu pembelaan yang dapat membantuku, karena itu aku menangis." Kejujuran dan integritasnya tidak banyak yang menyamainya, dalam sejarah umat manusia yang manapun. Telah diungkapkan juga bahwasannya, Umar tidak pernah mengerjakan urusan pribadi dengan lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara. Setiap hari Jum'at, Farat ibn Muslama membawa dokumen negara untuk ia teliti, dan baru kemudian ia mengeluarkan perintah-perintah. Pada suatu hari Jum'at, Umar membawa secarik kecil dokumen negara untuk digunakan secara pribadi. Muslama yang tahu akan kejujurannya mengira ia melakukan hal itu karena lupa. Pada hari Jum'at berikutnya, ketika membawa pulang dokumen-dokumen negara, Muslama menemukan di

antara dokumen-dokumen itu selembar kertas yang sama besar ukurannya dengan yang digunakan Khalifah. Dengan dana dari Baitul Mal, ia mendirikan wisma orang miskin. Pada suatu hari seorang budaknya menggunakan kayu bakar wisma untuk memasak air buat wudhu Umar. Tapi tak lama kemudian, si budak itu mendapatkan kayu bakar baru sejumlah yang telah dipakainya ditumpuk di tumpukan kayu bakar. Umar menolak menggunakan air yang dipanaskan dengan batu bara milik negara. Banyak gedung besar yang bagaikan istana dulu dibangun di Khanasta dengan dana Baitul Mal. Para khalifah lainnya sekali-kali tinggal di gedung-gedung itu bila mereka sedang mengunjungi kota. Tapi Umar bin Abdul Aziz tidak pernah menggunakannya. Ia lebih menyukai berkemah di lapangan terbuka. Kepada anak-anaknya tidak pernah memberikan barang-barang mewah atau kesenangan yang berlebihan. Suatu waktu ia memanggil Aminah, putri kesayangannya. Tapi anak itu tidak bisa datang, karena menganggap pakaiannya tidak pantas untuk menghadap raja. Ketika seorang kerabat mengetahui hal itu, ia membelikannya Aminah dan saudara-saudaranya. Namun Umar tidak pernah mau menerima hadiah dari siapapun. Pada waktu yang lain seseorang menghadiahkan sekeranjang buah apel kepadanya. Khalifah menghargai pemberian itu, tapi tetap menolak menerimanya. Orang itu lalu memberikan contoh Nabi yang mau menerima hadiah. Segeralah khalifah menjawab : "Tidak disangsikan lagi, hadiah itu memang untuk Nabi, tapi kalau diberikan untukku itu adalah penyuapan." Dalam masa kekhalifahannya, Umar mengadakan sejumlah pembaruan bidang administrasi, keuangan dan pendidikan. Kehadirannya tepat waktu. Seorang pembaru biasanya muncul bila mesin administrasi, politik dan etika sudah berkarat dan membutuhkan perbaikan besar-besaran. Pembaru rezim Umayyah yang tak ada bandingannya ini dilahirkan di lingkungan yang sangat suram dan karenanya memerlukan perubahan. Anaknya, Abdul Malik, pemuda berumur 17 tahun yang bermasa depan baik menasehati ayahandanya agar mengadakan pembaruan penting secara lebih tegas. Ayahandanya yang bijaksana itu menjawab, "Anakku, yang kau katakan hanya bisa berhasil bila aku menggunakan pedang. Tapi pembaruan tidak bermanfaat baik bila dicapai melalui mata pedang." Lembaga Baitul Mal yang merupakan salah satu sistem pembaruan yang dibawa Islam telah terbukti membawa berkah bagi kaum miskin Islam selama pemerintahan para "Khalifah yang saleh." Tapi dalam masa Khalifah Umayyah, Baitul Mal telah digunakan untuk kepentingan pribadi. Umar bin Abdul Aziz yang menghentikan praktek tidak sehat ini, dan ia memberi teladan dengan tidak pernah mengambil uang sedikit pun dari Baitul Mal. Ia memisahkan rekening untuk Khams, Sadaqah dan Fai', dan masing-masingnya mempunyai bagian-bagian tersendiri. Seluruh praktek pemberian hadiah yang mahal-mahal, para pengarang pidato yang memuji-muji keluarga raja, ia hentikan. Tindakan penting lainnya yang diambil Umar ialah pembaruan di bidang perpajakan. Ia mengadakan pengaturan agar pajak dengan mudah dipungut dan dikelola dengan cara yang sehat. Ia menulis soal pemajakan yang mengesankan kepada Abdur Rahman, yang kemudian disalin oleh Qadhi Abu Yusuf : "Pelajarilah keadaan tanahnya dan tetapkan pajak bumi yang pantas. Jangan mengenakan pajak kepada tanah yang gersang, sebaliknya pajak atas tanah yang subur jangan sampai tidak dipungut." Pembaruannya yang tidak memberatkan kaum lemah membuat rakyat melunasi kewajiban membayar pajak dengan senang hati. Ini merupakan sikap yang berkebalikan terhadap pemajakan yang dikenakan Hajjaj bin Yusuf di Syiria. Walaupun Hajjaj memaksakan pajak melalui tekanan-tekanan, namun hasil yang dicapai hanya separuh dari jumlah yang dipungut pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz termasuk lima khalifah saleh versi Imam Sofyan Ats-Tsauri, disamping Abu Bakar, Umar al-Faruq, Utsman, dan Ali. Ciri paling menonjol pemerintahannya ialah penghidupan kembali semangat demokrasi Islam yang ditindas ketika Yazid naik tahta. Dalam sebuah surat dialamatkan kepada gubernur Kuffah, Umar mendesak para gubernur agar menghapuskan semua peraturan yang tidak adil. Ia menulis, "Anda harus mengetahui, agama dapat terpelihara baik bila terdapat keadilan dan kebajikan, jangan anggap remeh segala dosa, jangan coba mengurangi apa yang menjadi hak rakyat, jangan paksakan rakyat melakukan sesuatu di luar batas kemampuan mereka; ambilah dari mereka apa yang dapat mereka berikan, lakukanlah apa saja untuk

memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan rakyat, memerintahlah dengan lemah lembut tanpa kekerasan, tidak menerima hadiah pada hari-hari besar, jangan menerima biaya atas buku suci (yang disebarkan kepada penduduk), jangan mengutip pajak atas para pelancong atau perkawinan, atau atas susu sapi, dan jangan kenakan pajak terhadap mereka yang baru masuk agama Islam dengan tujuan mendapatkan hak pilih." Umar bin Abdul Aziz yang bersikap sangat baik dan adil terhadap orang non Muslim, malahan sangat memperhatikan mereka. Orang Kristen, Yahudi, dan penyembah api diijinkan mendirikan dan beribadah di gereja, sinagog dan kuilnya. Diceritakan, di Damaskus al-Walid menurunkan Basilika John Pembaptis dan menjadikannya bagian dari masjid Umayyah. Ketika Umar menjadi khalifah, orang Kristen mengadukan tentang penyitaan gerejanya, dan ia seketika itu juga memerintahkan gubernurnya mengembalikan kepada pemilik asalnya. Orang Kristen juga diusahakan agar tidak dibebani pajak yang mencekik leher. Di Aila dan Cyprus, jumlah upeti yang sudah dinaikkan melalui perjanjian dengannya, ia turunkan kembali ke dalam jumlah sebelum berlakunya perjanjian. Tindakan yang adil sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan al-Hadits membuat negara mencapai stabilitas, rakyat menjadi sejahtera, dan kehidupan berlangsung aman dan damai. Di masa itu hampir tidak dapat ditemukan orang yang mau menerima sedekah. Itu dicapai dalam masa pemerintahan yang sangat singkat, dua tahun rakyat telah menjadi begitu sejahtera dan puas. Umar bin Abdul Aziz tidak terlalu banyak menekankan pemerintahannya pada kemegahan dan kemenangan di bidang militer. Ia lebih memperhatikan administrasi, pembangunan ekonomi dalam negeri, dan konsolidasi negara. Para sejarawan menyaksikan dengan rasa puas karya dan aspirasi seorang penguasa yang menjadikan kesejahteraan rakyatnya sebagai satu-satunya tujuan ambisinya. Tak ada yang menandingi pemerintahan yang singkat tetapi gilang-gemilang itu. Seorang orientalis Eropa mengakui bahwa "Sebagai khalifah, Umar berdiri sendiri. Ia berbeda dari para pendahulunya maupun dari penggantinya. Diilhami oleh kesalehan yang sejati, walaupun tidak sepenuhnya bebas dari fanatisme, ia sangat sadar akan tanggung jawabnya terhadap Tuhan, dan ia selalu berusaha meneruskan apa yang dia percayai sebagai sesuatu yang benar dan dengan sabar menjalankan tugasnya sebagai raja. Dalam kehidupan pribadinya, ia terkenal dengan kesederhanaan dan sikap hidup yang suka berhemat." Siapakah sosok pemimpin yang akan muncul di negeri ini dengan mengikuti teladan dari seorang khalifah (pemimpin) yang sangat sederhana,jujur,dermawan, lunak tetapi tegas, sangat berhasrat memajukan kesejahteraan rakyatnya, pemerintahannya yang patriotis dan adil, menjauhkan segala yang berbau kemewahan,menjadikan Baitul Mal sebagai sarana untuk menyimpan kekayaan negara serta membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan, mengganti para administrator yang korup dan yang bertindak sewenang-wenang dengan orang-orang yang terampil dan mampu bersikap adil. Meskipun beliau termasuk sosok pemimpin singkat duduk dalam pemerintahannya dan tergolong masih muda akan tetapi dibenaknya terdapat kerangka besar bagi ummat Islam khususnya dalam membentuk sebuah pemerintahan yang bersih dan selalu menjunjung tinggi kejujuran,kesederhanaan,ketegasan dan selalu berpegang teguh pada sunnah-sunnah Rasul dan AlQuran.

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan dibesarkan dalam sekolah Islam dan terdidik dengan ilmu Al-Quran. Ayahnya adalah seorang khalifah. Abdul Malik bin Marwan dan suaminya juga seorang khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz. ---------Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan dibesarkan dalam sekolah Islam dan terdidik dengan ilmu Al-Quran. Ayahnya adalah seorang khalifah. Abdul Malik bin Marwan dan suaminya juga seorang khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz. Keempat

saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam. Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah. Sebagai putera dan saudari para khalifah, perkawinan Fatimah dirayakan dengan resmi dan besar-besaran, dan ditata dengan perhiasan emas mutu-manikam yang tiada ternilai indah dan harganya. Namun sesudah perkawinannya usai, sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta. Umar berkata kepadanya, Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua. Fatimah bertanya kepada suaminya, Memilih apa, kakanda? Umar bin Abdul Azz menerangkan, Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai atau Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu. Demi Allah, kata Fatimah, Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku. Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit. Pada suatu hari raya puteri-puterinya datang kepadanya, Ya Ayah, besok hari raya. Kami tidak punya baju baru Mendengar keluhan puteri-puterinya itu, khalifah Umar berkata kepada mereka. Wahai puteri-puteriku sayang, hari raya itu bukan bagi orang yang berbaju baru, akan tetapi bagi yang takut kepada ancaman Allah. Mengetahui hal tersebut, pengelola baitulmal berusaha menengahi, Ya Amirul Mukminin, kiranya tidak akan menimbulkan masalah kalau untuk baginda diberikan gaji di muka setiap bulan. Umar bin Abdul Aziz sangat marah mendengar perkataan pengurus Baitulmal. Ia berkata, Celaka engkau! Apakah kau tahu ilmu gaib bahwa aku akan hidup hingga esok hari!? Ketika ajalnya hampir tiba, beliau meninggalkan 15 orang anak lelaki dan perempuan. Banyak keluarganya yang datang menanyakan apa yang ditinggalkannya pada keluarganya. Jawaban Umar bin Abdul Azis ialah, Aku tinggalkan untuk mereka ketaqwaan pada Allah. Kalau mereka tergolong orang yang shaleh, maka Allah telah menjamin akan mengayomi mereka. Tetapi kalau mereka tergolong orang yang tidak sholeh, aku tidak akan meninggalkan apa pun yang bisa mereka gunakan untuk bermaksiat pada Allah. Kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkan karib kerabat dan isterinya, Fatimah agar meninggalkannya seorang diri. Ujarnya, Fatimah isteriku, keluarlah dan tinggalkan aku sendiri menyambut kedatangan makhluk asing yang sedang memasuki kamarku ini. Mereka bertubuh nurani, beraneka ragam sayapnya. Ada yang bersayap dua, tiga, dan empat. Tinggalkanlah aku sendirian wahai sayangku. Rohku sudah siap menyertai para pengawal itu menjadi tamu agung Allah Ar-Rahman. Menjelang rohnya menginggalkan jasadnya, beliau mengulang-ulang firman Allah swt : Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Qashash 83) Demikianlah Umar bin Abdul Aziz menginggalkan dunia yang fana ini. Dia digantikan oleh iparnya, Yazid bin Abdul Malik. Pada suatu hari Yazid memanggil saudarinya, Fatimah seraya berkata, Fatimah, aku tahu suamimu, Umar bin Abdul Aziz telah merampas semua perhiasanmu dan memasukkannya ke Baitulmal. Kalau engkau mau, maka akan kukembalikan lagi perhiasan itu kepadamu. Dengan tegas Fatimah menjawab, Ya Yazid, apakah kau hendak memaksaku mengambil apa yang oleh Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz telah diberikan kepada Baitulmal? Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, aku tidak akan menaatinya pada waktu hidup dan menggusarkannya sesudah beliau meninggal dunia walaupun hanya sedikit. Kekuasaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya berusia tiga puluh bulan, tetapi kekuasaannya yang singkat itu bagi Allah Taala bernilai lebih dari tiga puluh abad. Beliau meninggalkan dunia fana ini dalam usia muda, yakni pada usia empat puluh tahun. Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekuasaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya. [muslimmuda.com]

BANGKITLAH BIROKRASI INDONESIA

Eksplorasi skandal birokrasi sudah dianggap biasa seperti selalu muncul menghiasi berita-berita surat kabar. Namun, sebaliknya, memberikan award kepada jajaran birokrasi mungkin mengundang banyak perhatian. Bisa saja karena skeptisme masyarakat apakah masih ada anggapan yang baik kepada birokrasi, atau karena keingintahuan lebih jauh tentang birokrasi award dengan segala latar belakang dan implikasinya. Institut Reformasi Birokrasi Indo Pos-Jawa Pos (IRB-IPJP) akan menganugerahkan Birokrasi Award malam ini yang akan disampaikan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Penyerahan oleh Wapres cukup relevan. Mengingat, posisi Wapres pada masa lalu yang bertanggung jawab atas salah satu fungsi politik eksekutif, yaitu kepemimpinan birokrasi dan kegiatan pengawasan. Fungsi itu juga secara tersirat menjadi fungsi Wapres saat sekarang, antara lain, direfleksikan dengan peran Wapres dalam TPA (tim penilai akhir) dalam penetapan pejabat eselon I. Birokrasi Award juga berorientasi komplementer dengan Otonomi Award. Di satu sisi diyakini bahwa keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya dapat berhasil atas dukungan kerja jajaran birokrasi yang baik. Dan, sebaliknya, penyelenggaraan pemerintahan sampai ke tingkat pelayanan terdepan dapat berjalan baik dengan supervisi, fasilitasi, dan kerja jajaran birokrasi tingkat pusat secara baik pula. Jadi, harus ada ''titik temu'' antara usaha dari bawah (bottom up) melalui koridor otonomi daerah dan sekaligus harus ada usaha dari atas melalui koridor penguatan birokrasi (top-down). Dengan kata lain, reformasi birokrasi dan otonomi daerah berlangsung tidak hanya secara paralel, tetapi harus terintegrasi. Dengan pendekatan itu, sangatlah wajar mimpi seorang Dahlan Iskan yang kita percaya dapat menjadi representasi gambaran demanding terhadap birokrasi, untuk membuat semua jajaran birokrasi menjadi baik secara merata. Ibarat ''kendaraan dari atas ke bawah harus sekaliber Ferari'', bukannya ''Ferari di atas dan bemo di bawah''. Penghargaan dalam bentuk Birokrasi Award merupakan satu kesatuan dengan studi penelitian tipologi pejabat eselon I tingkat pusat, yaitu pada kementerian dan lembaga, lebih spesifik para Dirjen, deputi, dan kepala badan. Seperti telah disampaikan pada tulisan-tulisan teman-teman Steering Committee IRB-IPJP, studi ini telah memakan waktu lebih dari satu tahun, dilakukan secara metodis dan sistematis. Mulai perumusan konsep, sampling untuk uji konsep, verifikasi dan clustering (konfigurasi), diskusi kelompok terarah (focus group discussion), hingga deteksi tipologi pejabat eselon I tingkat pusat dianggap bisa mewakili; sampling yang diambil sebanyak 91 (= n) dari 586 populasi (=n) atau 16%. Hasil studi tersebut telah diterbitkan IRB-IPJP dan beberapa hal menarik bisa diangkat. Terlihat bahwa 67% pejabat eselon I mempunyai pengalaman kerja lebih dari 25 tahun. Bahkan, sekitar 7% dengan masa kerja kurang dari 20 tahun. Hal itu mengandung arti bahwa pada jajaran pejabat eselon I kita sudah ada pembaruan. Namun, masih sering dikatakan bahwa birokrasi belum berubah. Dengan fakta itu, terlihat

bahwa perubahan pada jajaran birokrasi harus secara taktis dan harmonis dilakukan dengan sistem yang ada sekarang karena kita bukan melaksanakan reformasi pada ruang yang kosong. Fakta juga menunjukkan bahwa ciri birokrasi yang baik tidak selalu identik dengan pembaruan pada konteks kehadiran personel yang baru. Sebab, sifat dan ciri birokrasi reformis dan yang baik juga tampak pada personel pejabat yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun. Jelas bahwa pengalaman dan perjalanan panjang menjadi birokrasi memberikan kontribusi yang baik terhadap kekuatan ciri atau identitas seorang pejabat eselon I. Penelitian juga menunjukkan bahwa pejabat eselon I yang ada sekarang 18% berasal dari nonstruktural dan 45 persen adalah pejabat promosi dari eselon II. Dengan kata lain, hanya 37% pejabat eselon I yang ada merupakan hasil mutasi horizontal dari pejabat eselon I sebelumnya. Fakta tersebut menunjukkan bahwa konfigurasi birokrasi kita di jajaran eselon I sudah merupakan hasil pembaruan, dari promosi eselon II dan dari nonstruktural seperti dari perguruan tinggi. Fakta lain yang memperkuat pembaruan di jajaran eselon I juga ditunjukkan dengan 90% pejabat eselon I kita sudah bekerja kurang dari 40 bulan atau berarti yang diangkat pada masa Kabinet Indonesia Bersatu, dan hanya 10% sisanya yang merupakan pejabat eselon I dengan masa kerja dalam jabatan lebih dari 40 bulan. Relevan dengan fakta tersebut juga terlihat bahwa 76% pejabat eselon I merasakan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dalam penugasan dan 34% menyatakan tidak ada masalah dengan penempatan pada jabatan eselon I. Fakta penting yang juga muncul bahwa dalam menyiapkan advis kebijakan atau artikulasi kepentingan, 41% pejabat berpijak pada referensi keilmuan dan hal-hal yang berkembang di masyarakat (praktis dan tradisi, misalnya); dan 59% lebih berpijak pada aspek regulasi. Implikasi penting dari fakta itu ialah terjadi kombinasi yang baik secara keseluruhan bahwa artikulasi kepentingan, misalnya kebutuhan inovasi, penyesuaian, dan temuan baru, dapat dipersepsikan berbeda. Atau, dapat pula berarti bahwa terjadi peluang inovasi yang bisa mendorong reformasi birokrasi dengan baik berdasarkan ciri sikap tersebut. Ciri itu sangat perlu kita rekognisi dengan baik, mengingat banyak persolaan yang berkembang di masyarakat membutuhkan penyesuaian regulasi dan inovasi dari birokrat. Memang, masih ada masalah lain yang perlu didalami lebih lanjut, yaitu ada anggapan bahwa pejabat eselon I kita masih bergantung kepada pejabat eselon II dan pejabat eselon II bergantung kepada pejabat eselon III, dan seterusnya. Tentang pandangan itu masih harus kita uji lebih lanjut. Tetapi, yang jelas, kita punya modal yang baik, yaitu birokrasi pejabat eselon I dengan gambaran ciri yang cukup potensial dan promising untuk reformasi birokrasi. Terhadap hal-hal yang positif itu, IRB-IPJP terus mengembangkan konsep sambil menggali terus informasi dan observasi mendalam terhadap ciri-ciri birokrasi yang baik kepada jajaran eselon I. Dengan begitu, diperoleh gambaran bahwa jajaran eselon I dengan ciri-ciri dasar yang menjadi modal identitas birokrasi. Ciri yang muncul itu ialah ciri kenegarawanan atau states-manship yang dimiliki dengan baik 82% pejabat. Sisanya masih belum sensitif dengan mengaitkan tugastugasnya dengan hal-hal yang menjadi hak-hak rakyat yang dilindungi konstitusi.

Ciri yang lain, berpegang teguh pada prinsip dalam tugas (integrity) yang sangat kuat dimiliki 36% pejabat, 60% cukup kuat, dan sebagian kecil saja yang punya persoalan dalam mengatasi konflik kepentingan pribadi terhadap pekerjaan. Hal lain yang penting juga adalah ciri visionary; terlihat 27% pejabat memiliki visi yang sangat baik, 61% cukup baik, dan sisanya relatif biasabiasa saja. Leadership menjadi ciri utama yang sangat penting bagi pejabat eselon I sesuai dengan stratanya dalam jenjang jabatan pegawai negeri sipil (PNS). Sebanyak 34% pejabat memiliki leadership yang sangat kuat dan 63% cukup kuat. Itu sangat penting untuk menggerakkan seluruh jajaran di bawahnya. Dan, yang sering terlupakan, tetapi sangat penting juga, ialah ciri followership, yaitu sikap loyal dan dukungan kepada atasan/lembaga, seperti kepada menteri. Tercatat bahwa 49% pejabat memiliki loyalitas yang kuat dan 47% cukup kuat. Temuan-temuan yang cukup positif itu perlu dikondensasikan sebagai konfigurasi dan tipologi serta menjadi sebuah peluang dalam diri jajaran birokrasi sendiri untuk bangkit melakukan reformasi. Konfigurasi itu dapat menjadi jawaban atas skeptisme dan pesimisme yang muncul terhadap jajaran birokrasi bahwa tidak semua jajaran birokrasi adalah buruk dan tidak sematamata birokrasi itu buruk adanya. Identifikasi tipologi dan konfigurasi itu dilakukan terhadap populasi pejabat, maka terus dilakukan observasi dan secara intensif dikembangkan dengan diskusi kelompok terarah (focus group discussion). Juga menjadi relevan untuk dapat diangkat prototipe birokrasi dari masingmasing ciri tersebut. Dalam jajaran steering committee, mengangkat prototipe itu merupakan bagian paling sulit dan memerlukan diskusi yang sangat dalam dengan dibantu instrumen uji statistik, sensory evaluation (membandingkan satu objek dengan objek yang lain). Pada akhirnya, yang paling penting dari identifikasi konfigurasi dan identifikasi profil hingga pada prototipe unggulan mengandung implikasi bahwa melakukan reformasi dari dalam diri sendiri pada jajaran birokrasi adalah sangat penting. Sekaligus dapat menjawab perubahan mind-set sebagaimana sering mengemuka. Hal lain ialah pentingnya kebangkitan birokrasi Indonesia dari setitik harapan setelah selama ini menjadi objek eksplorasi. Perlu terus-menerus juga kita lakukan penguatan identitas birokrasi dengan ciri integritas (jujur pada diri sendiri) dan ciri berkompeten (jujur melayani rakyat, jujur kepada orang lain). Selamat atas penganugerahan Birokrasi Award, Bangkitlah Birokrasi Indonesia.

Siti Nurbaya , ketua Steering Committee Institut Reformasi Birokrasi Indo Pos-Jawa Pos Pancasila adalah Preambule dari Konsitusi UUD45
Tahukah kita bahwa Pancasila adalah Preambule dari Konstitusi UUD45?

Preambule sendiri adalah dasar dari Konsitusi. Konstitusi bisa dirubah (diamandemen) tanpa harus membubarkan negara itu terlebih dahulu. Tapi bila Preambule dirubah, maka negara itu pasti bubar. Kemudian kenapa menempatkan Pancasila, GBHN, P4, UUD45 dan Tap MPR dalam satu tataran? Padahal kalo dalam sistem ketatanegaraan. Pancasila jelas teratas kemudian disusul UUD45, ., GBHN, Tap MPR, dstnya sedangkan P4 adalah suatu produk pelaksanaan yang tidak termasuk dalam sistem ketatanegaraan tapi hanya merupakan suatu syarat dalam menduduki suatu birokrasi pada jaman Orde Baru. Jadi logikanya, kalo bernegara perlu suatu platform bersama, yaitu Pancasila. Karena Platform ini adalah Landasan filosofis maka perlu penjabarannya secara garis besar, yaitu Konstitusi UUD45. Berdasarkan (berpedoman) Pancasila dan UUD45, maka dibentuk GBHN sebagai guidance. Realisasi dari GBHN adalah Tap MPR dan policy-nya dalam bentuk UU dstnya PP, Keppres, Kepmen, Perdadstnya. Ini kan urutan ketatanegaraan dan di tiap negara pun pasti birokrasinya seperti itu. Masalah di Indonesia adalah ketika banyak peraturan di level birokrasi bawah tidak sinkron dengan peraturan di level di atasnya atau bahkan bertentangan dengan Landasan Filosofi Pancasila atau UUD45. Kenapa ini bisa terjadi? Karena tidak mengertinya (atau ada pihak lain yang berkepentingan menghancurkan negara) para pembuat policy tsb akan Pancasila. Inilah kenapa pengertian Pancasila itu sangat penting untuk kelangsungan hidup NKRI. Kemudian apakah kemajuan suatu Bangsa hanya dihitung dari indeks GDP-nya? Bagaimana dengan Kebebasan Beragama (Religiositasnya-Sila ke-1)? Bagaimana dengan keadaan Humanitas (sila ke-2) di sana? Bagaimana dengan Persatuan dalam kesetaraan (sila ke-3)? Bagaimana dengan kedaulatan (sila ke-4)? Dan bagaimana dengan Keadilan Sosialnya (sila ke-5)? Apakah sebuah negara makmur tapi kecil seperti Singapore bisa independen (berdaulat, sila ke-4) bila negara besar seperti Amerika thinks otherwise? Apakah Singapore dalam masa puluhan tahun merdeka bisa me-manage belasan ribu pulau, ratusan suku dan bahasa dan memperlakukannya secara equal (sila ke-3) ? Kalo mau basis GDP, lihat Arab Saudi saja. Makmur, tapi tidak merata (Tidak ada sila ke-5). Makmur tapi HAM-nya parah (Sila ke-2). Makmur, tapi cuma 1 Ras-Arab (Sila ke-3). Makmur tapi apa ada Kebebasan beragama (sila ke-1). Paling banter mereka punya Kedaulatan. Sayang sekali, Indonesia memang dari awal sudah menerapkan standard tinggi. (Garuda membumbung tinggi). Mau Makmur tapi ada Kebebasan Beragama, ada Human Rights, ada Kesetaraan dalam Persatuan, ada Kedaulatan dan ada pemerataan. Tapi apakah ke-5 nilai-nilai itu cocok dengan Kekristenan saya yang

kebetulan lahir di Indonesia? Menurut saya, cocok dan amanah. Maka saya dukung negara Indonesia dengan Weltanchauung Pancasilangapain dirubah kalo tidak bisa menemukan yang lebih baik. Kalo ngak setuju dengan ke-5 nilai-nilai itu, ya mbok, cari dong negara lain yang cuma mengadopsi Kemakmuran sebagai landasan filosofis-nya misalnya. Istilahnya, Mau jadi Kristen, ya harus bertobat dan dibaptis, masa cuma mau punya koneksi dengan orang-orang kaya atau cari jodoh di Gereja. Ya jangan dong! Apa bisa seperti itu? Ok, lets compare what happen in Indonesia with what happen in AS. Weltanchauung suatu negara biasanya ada di Preambule of The Constitution. Untuk Amerika, in this case, ternyata Preambulenya adalah Declaration of Independence yang isinya antara lain adalah : We hold these Truths to be self-evident, that all Men are created equal, that they are endowed, by their Creator, with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty, and the Pursuit of Happiness. Intinya, Amerika mengizinkan setiap warganya untuk bertahan hidup secara merdeka dan mencari kebahagiaan as long as warganya menganggap semua orang adalah Setara atau Equal. AS merdeka 1776, tapi tahun 1960-an masih saja terdapat segregration white and black atau White Supremacy di hampir semua negara bagian (bukan negara federal) yang berada di selatan AS. Dan banyak UU/PP/Perda yang membenarkan Segregation itu. Jadi selama hampir 200 tahun merdeka, ternyata "All Men are created equal" hanyalah mitos bagi sebagian besar WargaNegara Amerika berkulit hitam yang tinggal di negara2 bagian yang terdapat di selatan AS. Tapi tentu saja, setelah Martin Luther King, Jr. memprotes hal in di jalan-jalan utama Amerika, maka ternyata integrasi yang sebenarnya dan sinkronisasi terhadap "All Men are created equal" baru terjadi tahun 1960-an, hampir 200 tahun setelah Amerika menyatakan kemerdekaannya. Di Indonesia, kita baru merdeka 60 tahun dan kita tidak harus menunggu sampai hampir 200 tahun (seperti AS) untuk mensinkronkan keinginan kita dengan Pancasila. Kita harus lakukan sekarang! Gantilah nama Pancasila dengan apapun namanya, bila sudah terlalu muak dengan AKSARA Pancasila, asalkan ke-5 nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak diganti secara substansial. Soekarno sendiri merekomendasikan hal itu Pembatasan jabatan presiden maks. 2 kali di Amerika baru menjadi hukum pada jaman kepemimpinan presiden Truman (1945-an). Sebelumnya, tidak pernah ada

hukum ttg. hal itu kecuali meneladani apa yang dilakukan Presiden pertama AS George Washington. Tapi memang ada seorang president AS yang menjabat 3 kali masa jabatan, yaitu Presiden FDR (Roosevelt). Tapi ini terjadi sebelum pembatasan jabatan presiden maks. 2 kali di Amerika diberlakukan sebagai hukum yang baku. GDP tidak selalu objektif dan tidak bisa dijadikan indikator untuk mengukur keberhasilan suatu negara. GDP mungkin saja bisa mengukur tingkat kemakmuran suatu negara, tapi tidak mampu mengukur pemerataan kemakmuran. Itu pun tidak bisa selalu objektif karena data-data tersebut diperoleh dari birokrasi-birokrasi dari negara masingmasing. Tapi GDP jelas tidak bisa mengukur keberhasilan suatu negara. GDP Indonesia jelas lebih tinggi ketika di jaman rezim Orde Baru, tapi angka tsb bisa tercapai pada era itu dengan pengorbanan Sila ke-5, dan Sila ke-2 karena tidak ada equality distribution of income (sila ke-5), dan tidak ada humanitas (sila ke-2).