You are on page 1of 5

Anak Pendiam adalah salah satu permasalahan yang cukup menjadi perhatian bagi para pendidik anak usia

dini. Anak yang pendiam dalam kesehariannya belum tentu dapat diartikan bahwa anak tersebut bermasalah. Karena selama pengamatan, anak pendiam dibedakan menjadi dua macam, yaitu anak pendiam karena sifatnya memang pendiam, dan anak pendiam yang disebabkan karena berbagai masalah. Tujuan dari studi kasus ini adalah menemukan penyebab anak menjadi pendiam,merumuskan alternatif pemecahan masalahnya,dan melaksanakan solusi penanganannya.Cara menangani anak yang bermasalah,yaitu anak diberikan kegiatan baru yang sekiranya menarik perhatian anak, memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup, mendorong anak agar berpartisipasi dalam kelompok, mengajari cara memulai pertemanan,dan melakukan diskusi dengan orangtua tentang permasalahan anak tersebut. Sebagai hasil dari cara penanganan di atas, telah didapatkan hasil yang cukup bagus pada perkembangan anak, yaitu anak mulai mencoba membuka diri untuk bermain dengan teman, mulai mau merespon kegiatan, mau berpartisipasi dalam kegiatan belajar di sekolah,dan lebih tenang dalam menyikapi setiap keadaan selayaknya anak lain. Dari permasalahan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak pendiam hams mendapatkan penanganan tidak hanya dari guru saja,melainkaii juga membutuhkan dukungan dari orangtua sehingga mampu mengurangi bahkan menghilangkan trauma ketakutan yang menjadikannya pendiam. Disarankan kepada guru,agar terus melakukan pengamatan perkembangan anak yang bermasalah tanpa meninggalkan tanggungjawab kepada anak yang lain,dan harus mampu menggali potensi untuk memberikan media pembelajaran agar anak terus tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar.Kepada orangtua, disarankan agar mengurangi bahkan merubah pola asuh yang mungkin dapat menyebabkan anak menjadi terganggu perkembangan mentalnya, misalnya tidak mudah membentak, tidak mudah melarang hal yang dilakukan anak selagi aman dan terkendali, sering mengajak berbincang tentang dunia anak.dan sering memberikan pujian agar anak merasa bahwa dirinya disayang oleh keluarganya.

Introversion adalah kecenderungan untuk berpusat pada dunia di dalam diri. Orang-orang introvert cenderung tidak banyak bicara, dan tidak tertarik terhadap interaksi sosial. Mereka menyukai kegiatan yang dapat dilakukan sendiri atau dengan beberapa teman dekat saja. Bagi mereka, keramaian dan kegiatan yang melibatkan banyak orang merupakan hal yang melelahkan.

Berikut merupakan beberapa ciri-ciri yang membedakan antara orang-orang extravert dan introvert: Extraversion Senang bergaul Senang berbicara Lebih suka bertindak dibanding berpikir Menyukai pesta dan keramaian Membuka diri terhadap semua orang Ekspresif dan bersemangat Mudah teralihkan perhatiannya Mempunyai banyak teman Mudah didekati Cepat dalam bertindak Senang bekerja dalam kelompok Introversion Senang menyendiri Senang mendengar Lebih suka berpikir dibanding bertindak Menyukai ketenangan Membuka diri hanya kepada orang-orang dekat Tenang Mudah berkonsentrasi Mempunyai sedikit teman dekat Lebih sulit didekati Berpikir sebelum bertindak Senang bekerja sendiri

Menurut Jung, setiap orang mempunyai sisi introvert dan extravert. Bila diibaratkan dalam sebuah garis lurus, introversion dan extraversion berada di dua ujung garis yang berlawanan, bila seseorang memiliki nilai tinggi di salah satu sisi, misalnya introversion maka ia akan mendapatkan nilai rendah di sisi lainnya, yaitu extraversion. Tinggi rendahnya nilai mereka akan menentukan kecenderungan meerka yang dominan. Orang-orang introvert adalah mereka yang mendapatkan nilai tinggi pada introversion, sedangkan orang-orang extravert adalah mereka yang mendapatkan nilai tinggi pada extraversion. Menentukan apakah seseorang introvert atau extravert tidak selalu dapat dilakukan hanya dengan melihat ciri-ciri yang disebutkan di atas, karena orang-orang yang introvert dapat saja terlihat seperti orang extravert pada saat-saat tertentu, dan begitu juga sebaliknya. Pandangan Umum Mengenai Introversion

Secara umum, masyarakat cenderung memandang sifat-sifat extraversion sebagai hal yang baik, dan introversion sebagai hal yang buruk dan perlu diobati. Orang-orang introvert pun kerap disalahpahami sebagai orang-orang yang pemalu, tegang, kurang pergaulan, rendah diri, dan antisosial. Hal ini semakin diperburuk dengan banyaknya berita-berita kriminal di berbagai media yang menghubungkan sifat seseorang yang pendiam dengan kemampuan mereka untuk melakukan sebuah tindakan kriminal yang tidak diduga-duga. Hal ini membuat orang berpikir bahwa orangorang pendiam adalah orang-orang dengan kelainan mental yang memiliki kecenderungan untuk meledak sewaktu-waktu dan dapat berbuat nekat, sehingga mereka perlu diwaspadai dan diobati. Selain itu, anak-anak introvert pun kerap mendapatkan tekanan dari lingkungan untuk menjadi lebih normal, yang berarti lebih extravert. Dengan maksud menyembuhkan anak-anak introvert, kita kerap mendengar ucapan-ucapan seperti: Jangan di kamar mulu dong, bergaul kek; Ayo dong maen sama yang lain, jangan sendirian terus. Banyak orangtua juga mencoba mengobati anak introvert mereka dengan mengajak mereka ke acara-acara keluarga yang dipadati banyak orang dan mendorong mereka bermain dengan anak-anak lain secara berkelompok. Selain oleh orangtua sendiri, tekanan juga dapat muncul dari orang-orang dekat seperti saudara, kerabat, teman, serta guru di sekolah. Hingga saat ini, metode pendidikan di institusi pendidikan pun lebih memihak kepada orang-orang extravert; dengan besarnya penekanan dan penilaian terhadap partisipasi aktif di kelas. Meskipun anak-anak introvert juga dapat memperoleh manfaat dengan berpartisipasi aktif di kelas, metode ini tidak memaksimalkan potensi alamiah mereka, yang cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir dan lebih cakap dalam komunikasi non-verbal. Hal ini membuat mereka terlibat dalam persaingan yang tidak seimbang dengan orang-orang extravert. Tuntutan dari lingkungan untuk mengubah orang-orang introvert menjadi lebih extravert memberikan banyak tekanan pada mereka. Selain harus melawan kecenderungan dan sifat alami mereka, mereka juga mendapatkan perlakuan tidak adil karena cara mereka yang berbeda dalam mengalami dan menghadapi dunia luar. Selain itu, mereka juga tidak dapat berkonsentrasi mengembangkan kelebihan dan potensi yang sudah mereka miliki. Akibatnya, banyak anak introvert yang tumbuh secara tidak optimal, yang senantiasa melawan kecenderungan alami mereka dan dipaksa untuk menjadi orang lain. Mitos Mengenai Introversion

Berikut adalah beberapa mitos mengenai orang-orang introvert: 1. Tidak suka bicara Orang-orang introvert kesulitan untuk berbasa-basi dan membicarakan hal-hal yang tidak mereka anggap penting. Keadaannya akan berbeda jika mereka diajak berbicara mengenai hal yang menarik buat mereka. 2. Pemalu Sifat pemalu tidak berhubungan langsung dengan introversion. Walaupun terdapat orang-orang introvert yang pemalu, tidak sedikit pula orang-orang extravert yang pemalu. Orang-orang introvert tidak takut terhadap orang lain, mereka hanya tidak membutuhkan interaksi sosial sebanyak orang lain dan membutuhkan alasan untuk berinteraksi dengan orang lain. 3. Sombong Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, orang-orang introvert cenderung kesulitan untuk berbasa-basi dengan orang lain. Mereka hanya ingin bersikap jujur dan apa adanya, dan mengharapkan hal yang sama dari orang lain. Sayangnya hal ini tidak diterima di masyarakat dimana basa-basi, baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan, sudah dianggap sebagai hal yang wajar dan diperlukan dalam keseharian . Hal ini membuat mereka seringkali dipandang sebagai orang-orang yang sombong. 4. Tidak menyukai orang lain Orang introvert memang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dan dekat dengan orang lain, namun tidak berarti bahwa mereka tidak menyukai orang lain. Sebaliknya, orang-orang introvert sangat menghargai teman-teman dekat mereka, walaupun jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari. Mereka memiliki lebih sedikit teman, namun kualitas hubungan mereka dengan teman yang lebih sedikit ini pun lebih dalam. 5. Tidak suka keramaian Berada di tengah keramaian merupakan hal yang melelahkan bagi orang-orang introvert, karena banyaknya rangsangan dari lingkungan yang harus mereka terima di saat yang bersamaan. Hal ini membuat orang-orang introvert tidak suka menghabiskan waktu terlalu lama di tempat yang ramai.

6. Selalu ingin sendiri Orang-orang introvert menikmati kesendirian mereka dimana mereka dapat melakukan kegiatan yang mereka sukai tanpa diganggu orang lain, namun mereka juga membutuhkan interaksi sosial dengan orang lain, hanya saja dengan frekuensi dan intensitas yang lebih sedikit dibandingkan dengan orang-orang extravert. 7. Aneh Karena orang-orang introvert banyak menghabiskan waktu sendirian, mereka seringkali mempunyai ide-ide dan cara pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Hal ini membuat banyak orang-orang introvert melahirkan ide-ide yang orisinil dan tidak terpikirkan orang lain. Namun, bagi kebanyakan orang, mereka cenderung dipandang sebagai orang yang berbeda dan aneh. 8. Tidak bisa bersantai dan bersenang-senang Orang-orang introvert lebih suka bersantai di rumah mereka sendiri, atau di tempat yang sepi, dibandingkan dengan tempat yang ramai. Bila dihadapkan pada terlalu banyak rangsangan dari luar, orang introvert akan merasa kewalahan. Hal ini berhubungan dengan perbedaan cara kerja otak dan sistem syaraf antara orang-orang introvert dan extravert (yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah). 9. Tidak percaya diri Orang-orang introvert seringkali disalahartikan sebagai orang-orang yang dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah dan canggung secara sosial. Hal ini tidak benar, karena kecenderungan mereka yang tidak ekspresif dan sering menghabiskan waktu sendiri bukan disebabkan oleh rasa percaya diri yang rendah, namun oleh sifat mereka yang memang demikian adanya. 10. Introvert dapat mengubah diri mereka menjadi extravert Dunia tanpa orang-orang introvert adalah dunia dengan sedikit ilmuwan, musisi, seniman, pembuat film, dokter, penulis, dan filsuf. Orang-orang introvert tidak bisa dan tidak perlu mengubah kecenderungan alami mereka. Hal ini karena baik orang-orang introvert maupun extravert memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang saling melengkapi; yang dibutuhkan adalah pemahaman atas perbedaan kedua kecenderungan tersebut dan bagaimana menjembatani perbedaan-perbedaan tersebut.