You are on page 1of 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Aneurisma adalah pelebaran atau menggelembungnya dinding pembuluh darah, yang didasarkan atas hilangnya dua lapisan dinding pembuluh darah, yaitu tunika media dan tunika intima, sehingga menyerupai tonjolan/ balon. Dinding pembuluh darah pada aneurisma ini biasanya menjadi lebih tipis dan mudah pecah. Sebenarnya aneurisma dapat terjadi di pembuluh darah mana saja di tubuh kita. Apabila aneurisma terjadi pada pembuluh darah di dada, beberapa gejalanya adalah rasa sakit di dada, batuk yang menetap, dan kesulitan untuk menelan. Pada perokok sering terjadi aneurisma pada pembuluh darah di lutut, yang menimbulkan gejala seperti tertusuk-tusuk di belakang lutut. Apabila aneurisma ini terjadi pada pembuluh darah otak, gejalanya dapat berupa sakit kepala yang hebat, bersifat berdenyut, dapat disertai atau tidak disertai dengan muntah. Komplikasi dari aneurisma dapat menyebabkan terjadinya pecahnya pembuluh darah di otak, yang juga dikenal dengan stroke. Sayangnya, kasus ini belum banyak diketahui di Indonesia dan data tentang penyakit ini masih sangat sedikit. Pelebaran ini dapat pula menekan dan mengikis jaringan di dekatnya. Bila aneurisma itu berada dekat tulang, tulang tersebut akan menipis. Bila berdekatan dengan tenggorokan, maka bagian akan tertekan dan saluran napas tersumbat. Di dalam rongga aneurisma, mudah terbentuk gumpalan darah yang disebut trombus. Trombus ini sangat rapuh dan mudah menyerpih. Serpihan ini menimbulkan sumbatan pembuluh darah di berbagai tempat. Normalnya, pembuluh darah mempunyai tiga lapisan utama yaitu: 1. Lapisan pertama disebut lapisan intima yang terdiri dari satu lapis endotel. 2. Lapisan kedua adalah lapisan media yang terdiri dari lapisan otot yang elastis. 3. Lapisan ketiga adalah lapisan adventisia yang terdiri dari jaringan ikat longgar dan lemak. Delapan puluh lima sampai sembilan puluh persen aneurisma berasal dari bagian depan atau pembuluh darah karotis, dan sisanya berasal dari bagian belakang atau pembuluh vertebralis. Aneurisma dikatakan hampir tidak pemah menimbulkan gejala kecuali terjadi pembesaran dan menekan salah satu saraf otak sehingga memberikan gejala sebagai kelainan saraf otak yang tertekan seperti pada trigeminal neuralgia. Aneurisma intrakranial sering ditemukan ketika terjadi ruptur yang dapat menyebabkan perdarahan dalam otak atau pada ruang subarahnoid, sehingga
1

menyebabkan perdarahan subarahnoid. Perdarahan subarahnoid dari suatu ruptur atau aneurisma otak dapat menyebabkan terjadinya stroke hemoragik, kerusakan dan kematian otak. Orang yang menderita aneurisma di otak, tidak diperbolehkan berolahraga berat seperti angkat besi. Bahaya perdarahan otak mudah terjadi dan bisa berakibat fatal. Aneurisma sering baru diketahui setelah dilakukan foto rontgen angiografi untuk keperluan lain. Penyebab aneurisma ini bisa karena infeksi, aterosklerosis, rudapaksa, atau kelemahan bawaan pada dinding pembuluh darah. Di banyak negara, prevalensi penyakit ini tergolong tinggi. Di Amerika Serikat, misalnya, aneurisma mencapai rata-rata lima per 100.000 kasus, tergolong paling tinggi dibandingkan dengan gangguan atau kelainan otak lainnya. Kasus ini di banyak negara ditemui pada pasien berusia 3 - 50 tahun. 1.2 RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah pada makalah ini meliputi : 1. Apakah pengertian dari aneurisma intrakranial ? 2. Apa saja ethiologi dari aneurisma intrakranial ? 3. Bagaimana insiden terjadinya aneurisma intrakranial ? 4. Apa klasifikasi dari aneurisma intrakranial ? 5. Bagaimana WOC dari aneurisma intrakranial ? 6. Bagaimana manifestasi klinis dari aneurisma intrakranial ? 7. Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dilakukan untuk penyakit aneurisma intrakranial ? 8. Bagaimana penatalaksanaan untuk penyakit aneurisma intrakranial ? 9. Bagaimana asuhan keperawatan teori dari aneurisma intrakranial ? 1.3 TUJUAN 1. Untuk mengetahui pengertian dari aneurisma intrakranial. 2. Untuk mengetahui ethiologi dari aneurisma intrakranial. 3. Untuk mengetahui insiden dari aneurisma intrakranial. 4. Untuk mengetahui klasifikasi dari aneurisma intrakranial. 5. Untuk mengetahui WOC dari aneurisma intrakranial. 6. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari aneurisma intrakranial. 7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic yang dilakukan untuk penyakit aneurisma intrakranial
2

8. Untuk mengetahui penatalaksanaan untuk penyakit aneurisma intrakranial 9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan teori dari aneurisma intrakranial

BAB II KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 2.1 PENGERTIAN Aneurisma intrakranial/serebral adalah pelebaran atau menggelembungnya dinding pembuluh darah, yang didasarkan atas rusaknya dua lapisan dinding pembuluh darah, yaitu tunika media dan tunika intima, yang menjadi elastis mengakibatkan kelemahan pada pembuluh darah di daerah tersebut sehingga membentuk tonjolan akibat tekanan pembuluh darah. Aneurisma intracranial (serebral) adalah dilatasi dinding arteri serebral yang berkembang sebagai hasil dari kelemahan dinding arteri (Brunner & Suddarth, 2001). Aneurisma serebral (aneurisma otak) adalah kelainan di mana terjadi kelemahan pada dinding pembuluh darah otak, baik pembuluh darah nadi maupun pembuluh darah balik (tunika media dan tunika intima dari arteri maupun vena) yang menyebabkan penggelembungan pembuluh darah otak tersebut secara terlokalisir. Pelebaran ini dapat pula menekan dan mengikis jaringan di dekatnya. Di dalam rongga aneurisma, mudah terbentuk gumpalan darah yang disebut trombus. Trombus ini sangat rapuh dan mudah menyerpih. Serpihan ini menimbulkan sumbatan pembuluh darah di berbagai tempat. 2.2 ETHIOLOGI Aneurisma dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu : Melemahnya struktur dinding pembuluh darah arteri. Merupakan kasus yang paling sering terjadi. Kelemahan pada dinding pembuluh darah ini menyebabkan bagian pembuluh yang tipis tidak mampu menahan tekanan darah yang relatif tinggi sehingga akan menggelembung. Hipertensi (tekanan darah tinggi) Aterosklerosis (penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah arteri) dapat juga menyebabkan pertumbuhan dan pecahnya aneurisma. Beberapa infeksi dalam darah
Bersifat genetic

Tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Gelembung semula kecil, dengan bertambahnya usia dan penurunan kekuatan pembuluh, dapat menjadi semakin besar hingga akhirnya pecah.

Cedera kepala merupakan penyebab yang paling sering ditemukan pada penderita perdarahan intrakranial yang berusia dibawah 50 tahun. Penyebab lainnya adalah malformasi arteriovenosa, yaitu kelainan anatomis di dalam arteri atau vena di dalam atau di sekitar otak. Malformasi arteriovenosa merupakan kelainan bawaan, tetapi baru diketahui keberadaannya jika telah menimbulkan gejala. Perdarahan dari malformasi arteriovenosa bisa secara tiba-tiba menyebabkan pingsan dan kematian, dan cenderung menyerang remaja dan dewasa muda. Kadang dinding pembuluh darah menjadi lemah dan menonjol, yang disebut dengan aneurisma. Dinding aneurisma yang tipis bisa pecah dan menyebabkan perdarahan. 2.3 INSIDEN Di banyak negara, prevalensi penyakit ini tergolong tinggi. Di Amerika Serikat, misalnya, aneurisma mencapai rata-rata lima per 100.000 kasus, tergolong paling tinggi dibandingkan dengan gangguan atau kelainan otak lainnya. Kasus ini di banyak negara ditemui pada pasien berusia lebih dari 50 tahun. Insiden dari aneurisma baik yang pecah maupun yang utuh pada otopsi ditemukan sebesar 5 % dari populasi umum. Insiden pada wanita ditemukan lebih banyak dibandingkan pria, yaitu: 2 - 3, dan aneurisma multiple atau lebih dari satu didapatkan antara 15 - 31% (Vale dan Hadley).
2.4 KLASIFIKASI

Berdasarkan bentuknya, aneurisma dapat dibedakan: Aneurisma tipe fusiform (59%) Penderita aneurisma ini mengalami kelemahan dinding melingkari pembuluh darah setempat sehingga menyerupai badan botol.
Aneurisma tipe sakuler atau aneurisma kantong (9095%)

Pada aneurisma ini, kelemahan hanya pada satu permukaan pembuluh darah sehingga dapat berbentuk seperti kantong dan mempunyai tangkai atau leher. Dari seluruh aneurisma dasar tengkorak, kurang lebih 90% merupakan aneurisma sakuler. Berdasarkan diametemya aneurisma sakuler dapat dibedakan atas:

Aneurisma sakuler kecil dengan diameter < 1 cm.

Aneurisma sakuler besar dengan diameter antara 1- 2.5 cm


Aneurisma sakuler raksasa dengan diameter > 2.5 cm Aneurisma tipe disekting ( < 1% ).
5

2.5 WOC Ethiologi : Genetik, Ateroskelrosis, Infeksi dlm darah, Hipertensi, Idiopatik Faktor Resiko : Usia > 50 thn, Wanita, Perokok, Alkoholik, Kokain

Kelainan lapisan pembuluh darah Pembuluh darah mnjd elastic & lemah Tonjolan Aneurisma Tipis dan mudah pecah Trjd Ruptur Pelebaran pembuluh darah IK Penekanan jaringan sekitar Perubahan syaraf kranial Nervus vagus Respon mual-muntah Resti cidera G3. Nyaman Nyeri Anorexia Pemenuhan nutrisi kurang dr kebutuhan Perdarahan Cerebral Perubahan perfusi cerebral Kebutuhan O2 Meningkat Sesak nafas G3. Pola Nafas Nervus Optikus G3. Persepsi sensori pengelihatan Defisit Pengetahuan Ansietas

KOMPLIKASI : Stroke Hemoragic Perdarahan intra serebral Perdarahan subarachnoid

Perdarahan IK T TIK Cefalgia

2.6 MANIFESTASI KLINIS Gejala yang timbul tergantung dari lokasi dan ukuran aneurisma tersebut. Beberapa gejala yang dapat timbul adalah sakit kepala, penglihatan kabur/ganda, mual, kaku leher dan kesulitan berjalan. Tetapi beberapa gejala dapat menjadi peringatan (warning sign) adanya aneurisma, yaitu: kelumpuhan sebelah anggota gerak kaki dan tangan, gangguan penglihatan, kelopak mata tidak bisa membuka secara tiba-tiba, nyeri pada daerah wajah, nyeri kepala sebelah ataupun gejala menyerupai gejala stroke. Denyut jantung dan laju pernafasan sering naik turun, kadang disertai dengan kejang, koma, sampai kematian. Pertanda awal bisa terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa minggu sebelum aneurisma pecah. Gambaran klinik pecahnya aneurisma dibagi dalam 5 tingkat ialah: Tingkat I : Sefalgia ringan dan sedikit tanda perangsangan selaput otak atau tanpa gejala. Tingkat II : Sefalgia agak hebat atau ditambah kelumpuhan saraf otak. Tingkat III : Kesadaran somnolent, bingung atau adanya kelainan neurologik fokal sedikit. Tingkat IV : Stupor, hemiparese sampai berat, mungkin adanya permulaan deserebrasi dan gangguan sistim saraf otonom. Tingkat V : Koma dalam, tanda rigiditas desebrasi dan stadium paralisis cerebral vasomotor. 2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. CT scan

Menunjukkan lokasi aneurisma, menunjukkan pecahnya aneurisma, bila aneurisma belum pecah, bila cukup besar, dapat dilihat sebagai nodul bulat dalam ruang subarachnoid basal, kadang-kadang dengan dinding berkapur. 2. Angiography Bertujuan mengenali aneurisma, lokasi yang tepat, dan ukuran aneurisma. Untuk mencapai tujuan ini prosedur yang ideal adalah angiografi rotasi dengan rekonstruksi tiga dimensi. Hal ini berguna jika prosedur occlusive endovascular direncanakan.
3. MRI

Berguna hanya dalam aneurisma besar dan raksasa untuk lebih mengevaluasi komponen thrombosis dan hubungan dengan struktur saraf yang berdekatan.
7

2.8 PENATALAKSANAAN Untuk aneurisma yang belum pecah, terapi ditujukan untuk mencegah agar aneurisma tidak pecah, dan juga agar tidak terjadi penggelembungan lebih lanjut dari aneurisma tersebut.

Untuk aneurisma yang sudah pecah, tujuan terapi adalah untuk mencegah perdarahan lebih lanjut dan untuk mencegah atau membatasi terjadinya vasospasme. Penderita harus segera dirawat dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Obat pereda nyeri diberikan untuk mengatasi sakit kepala hebat. Kadang dipasang selang drainase di dalam otak untuk mengurangi tekanan.

Terapi pembedahan Aneurisma biasanya diatasi dengan operasi kraniotomi terbuka, yang dilakukan dengan membedah otak, memasang klip logam kecil di dasar aneurisma, sehingga bagian dari pembuluh darah yang menggelembung itu tertutup dan tidak bisa dilalui oleh darah. Terapi lain adalah dengan operasi endovaskuler, yaitu memasukkan kateter dari pembuluh darah arteri di kaki, dimasukkan terus sampai ke pembuluh darah di otak yang terkena aneurisma, dan dengan bantuan sinar X, dipasang koil logam di tempat aneurisma pembuluh darah otak tersebut. Setelah itu dialirkan arus listrik ke koil logam tersebut, dan diharapkan darah di tempat aneurisma itu akan membeku dan menutupi seluruh aneurisma tersebut.

2.9 KOMPLIKASI

Aneurisma yang pecah dapat mengakibatkan : 1. Stroke hemoragik 2. Perdarahan subarachnoid saja. 3. Perdarahan subarachnoid dan perdarahan intra serebral (60%). 4. Infark serebri (50%). 5. Perdarahan subarachnoid dan subdural. 6. Perdarahan subarachnoid dan hidrosephalus yang sebagian kecil menjadi hidrosephalus normotensif (30%).
7. Aneurisma arteri carotis interna dapat menjadi fistula caroticocavernosum.

8. Masuk ke sinus sphenoid bisa timbul epistaksis. 9. Perdarahan subdural saja.


8

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS 3.1 PENGKAJIAN a. Identitas Pasien yaitu: mencakup nama, umur, agama, alamat, jenis kelamin, pendidikan, perkerjaan, suku, tanggal masuk, no. MR, identitas keluarga, dll. b. Keluhan Utama Biasanya klien mengalami sakit kepala yang mendadak c. Riwayat Penyakit Sekarang Biasanya klien mengeluh sakit kepala berdenyut yang mendadak dan berat, mual dan muntah, gangguan penglihatan (pandangan kabur/ganda, kelopak mata tidak membuka), kaku leher, nyeri daerah wajah, kelumpuhan sebelah anggota gerak kaki dan tangan, denyut jantung dan laju pernapasan naik turun, hilang kesadaran (kejang, koma, kematian). d. Riwayat Penyakit Dahulu Kemungkinan klien sering mengkonsumsi makanan yangberlemak tinggi, kolesterol tinggi, klien mempunyai riwayat hipertensi, penyakit DM, klien suka mengkonsumsi garam meja berlebihan, klien mempunyai kebiasaan merokok, pengguna kokain, klien pernah mengalami trauma kepala. e. Riwayat Penyakit Keluarga Biasanya keluarga memiliki penyakit keturunan seperti DM, hipertensi, stroke, atau penyakit lainnya. f. Riwayat Psiko-Sosial Pada klien dengan aneurisma intracranial biasanya klien akan camas dengan prognosis penyakitnya, klien akan tidak bisa atau sulit untuk beraktifitas, maka klien akan merasa tidak berharga, Produktifitas klien akan menurun. g. Pemeriksaan Fisik B1 ( Breathing ) Biasanya klien mengalami sesak napas, bentuk dada simetris, ekspansi dada meningkat B2 ( Blood ) Biasanya klien mengalami peningkatan pada tekanan darah
9

B3(Brain) Biasanya klien mengalami kejang, nyeri kepala, kesadaran menurun


B4 (Bladder)

Biasanya klien pada penyakit ini tidak mengalami gangguan pada sistem perkemihan B5(Bowel) Biasanya mengalami mual muntah, penurunan nutrisi, anoreksia, penurunan BB B6 (Bone) Biasanya terjadi kelemahan otot, gangguan mobilitas fisik, melemahnya otot-otot bicara 3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan perfusi serebral berhubungan dengan pendarahan serebral

2. Gangguan pola napas berhubungan dengan sesak napas 3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK 4. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
5. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan syaraf optikus

6. Resti cidera berhubungan dengan gangguan penglihatan 7. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit dan pengobatan. 3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Diagnosa 1 Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan perfusi serebral kembali normal Kriteria hasil : pasien mampu mempertahankan tingkat kesadaran/tingkat kesadaran membaik, TTV dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK. Intervensi : 1. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan penurunan perfusi jaringan serebral R/ : untuk menentukan intervensi selanjutnya 2. Observasi status neurologi secara teratur R/ : mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK 3. Observasi TTV (tekanan darah, nadi, RR)
10

R/ : peningkatan tekanan darah sistemik yang diikuti penurunan tekanan darah diastolic merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK, napas yang tidak teratur menentukan lokasi adanya gangguan serebral, demam menentukan letak kerusakan pada hipotalamus. 4. 5. Observasi perubahan pada penglihatan, misalnya penglihatan kabur atau ganda R/: untuk menentukan intervensi Catat adanya refleks-refleks tertentu seperti reflex menelan, batuk,dsb R/: penurunan refleks menandakan adanya kerusakan pada otak tengah atau betang otak 6. Pertahankan kepala pada posisi tengah atau pada posisi netral R/ : kepala yang miring akan meningkatkan TIK 2. Diagnosa 2 Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pola napas menjadi efektif Kriteria Hasil : pola napas normal, sesak berkurang atau hilang. Intervensi : 1. 2. 3. 4. Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan R/ : perubahan pola napas dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal Angkat kepala tempat tidur sesuai indikasi R/ : untuk memudahkan ekspansi paru Anjurkan pasien untuk napas dalam yang efektif R/ : mencegah atelektasis Kolaborasi pemberian oksigen R/ : membantu dalam mencegah hipoksia 3. Diagnosa 3 Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang Kriteria hasil : nyeri berkurang/hilang, pasien tampak rileks Intervensi : 1. 2. 3. 4. Observasi karateristik nyeri R/: untuk menetukan intervensi selanjutnya Berikan lingkungan yang tenang R/ : meningkatkan relaksasi Tingkatkan tirah baring, bantu dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri R/ : menurunkan gerakan yang dpat meningkatkan nyeri Posisikan yang nyaman sesuai indikasi
11

R/ : untuk mengurangi nyeri 5. 6. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi R/ : agar nyeri dapat berkurang Kolaborasi pemberian analgetik R/: untuk menghilangkan rasa nyeri.

12

BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN Aneurisma adalah pelebaran atau menggelembungnya dinding pembuluh darah, yang didasarkan atas hilangnya dua lapisan dinding pembuluh darah, yaitu tunika media dan tunika intima, sehingga menyerupai tonjolan/ balon. Dinding pembuluh darah pada aneurisma ini biasanya menjadi lebih tipis dan mudah pecah. Sebenarnya aneurisma dapat terjadi di pembuluh darah mana saja di tubuh kita. Apabila aneurisma terjadi pada pembuluh darah di dada, beberapa gejalanya adalah rasa sakit di dada, batuk yang menetap, dan kesulitan untuk menelan. Pada perokok sering terjadi aneurisma pada pembuluh darah di lutut, yang menimbulkan gejala seperti tertusuk-tusuk di belakang lutut. Apabila aneurisma ini terjadi pada pembuluh darah otak, gejalanya dapat berupa sakit kepala yang hebat, bersifat berdenyut, dapat disertai atau tidak disertai dengan muntah. Komplikasi dari aneurisma dapat menyebabkan terjadinya pecahnya pembuluh darah di otak, yang juga dikenal dengan stroke. Sayangnya, kasus ini belum banyak diketahui di Indonesia dan data tentang penyakit ini masih sangat sedikit. Pelebaran ini dapat pula menekan dan mengikis jaringan di dekatnya. Bila aneurisma itu berada dekat tulang, tulang tersebut akan menipis. Bila berdekatan dengan tenggorokan, maka bagian akan tertekan dan saluran napas tersumbat. Di dalam rongga aneurisma, mudah terbentuk gumpalan darah yang disebut trombus. Trombus ini sangat rapuh dan mudah menyerpih. Serpihan ini menimbulkan sumbatan pembuluh darah di berbagai tempat. Prognosis pada aneurisma bergantung pada jenis aneurisma (rupture atau unruptur), bentuk aneurisma, lokasi, waktu penanganan dan kondisi pasien saat dilakukan pengobatan (usia, gejala klinis, kesadaran dan adanya penyakit lain). Prinsipnya semakin cepat ditemukan aneurisma mempunyai kemungkinan kesembuhan yang baik, oleh karena itu pemeriksaan medis rutin sangat dianjurkan. 4.2 SARAN Aneurisma Otak = Bom Waktu di Kepala, yang sewaktu-waktu pasti akan pecah. Dan apabila pecah akan menimbulkan berbagai macam tanda dan gejala yang sangat
13

mengancam jiwa. Anuerisma intra cranial sangat potensial untuk mendapatkan penyakit stroke. Maka dari itu jagalah kesehatan kita, Setiap kita pasti mempunyai risiko untuk mendapatkan aneurisma intracranial, siapa tau??? Marilah kita hindari terlalu banyak makanan yang berlemak, kolesterol tinggi, konsumsi berlebihan konsumsi garam meja/dapur, hindari emosi, olah raga teratur dan pastinya pola hidup sehat. Dan dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa keperawatan dapat memahami bagaimana tentang penyakit aneurisama intracranial ini, dapat membuat laporan kasus nantinya dan dapat menerapkan asuhan keperawatan yang efektif dan efisien bagi klien aneurisma intracranial.

14

DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah.

EGC: Jakarta Chang, Ester. 2009. Patofisiologi Aplikasi Pada Praktek Keperawatan. EGC: Jakarta R. Sjamsuhidajat. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta Soeparman & Sarwono waspadji. 1999 . Ilmu Penyakit dalam. Gaya Baru. Jakarta .

15