You are on page 1of 55

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Meningkatnya usia harapan hidup (UHH) memberikan dampak yang kompleks terhadap kesejahteraan lansia. Di satu sisi peningkatan UHH mengindikasikan peningkatan taraf kesehatan warga negara. Namun di sisi lain menimbulkan masalah masalah karena dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut akan berakibat semakin besarnya beban yang ditanggung oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah, terutama dalam menyediakan pelayanan dan fasislitas lainnya bagi kesejahteraan lansia. Hal ini karena pada usia lanjut individu akan mengalami perubahan fisik, mental, sosial ekonomi dan spiritual yang mempengaruhi kemampuan fungsional dalam aktivitas kehidupan sehari-hari sehingga menjadikan lansia menjadi lebih rentan menderita gangguan kesehatan baik fisik maupun mental. Walaupun tidak semua perubahan struktur dan fisiologis, namun diperkirakan setengah dari populasi penduduk lansia mengalami keterbatasan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, dan 18% diantaranya sama sekali tidak mampu beraktivitas. Berkaitan dengan kategori fisik, diperkirakan 85% dari kelompok umur 65 tahun atau lebih mempunyai paling tidak satu masalah kesehatan(HealthyPeople). Dari berbagai masalah kesehatan itu ternyata gangguan muskuloskeletal menempati urutan kedua 14,5% setelah penyakit kardiovaskuler dalam pola penyakit masyarakat usia >55 tahun (Household Survey on Health, Dept. Of Health). Dan berdasarkan survey WHO di Jawa ditemukan bahwa artritis/reumatisme menempati urutan pertama (49%) dari pola penyakit lansia (Boedhi Darmojo). Seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup, jumlah populasi usia lanjut (lansia) juga meningkat. Tahun 1999, jumlah penduduk lansia di Indonesia lebih kurang 16 juta jiwa. Badan Kesehatan Dunia, WHO, memperkirakan tahun 2025 jumlah lansia di Indonesia 60 juta jiwa, mungkin salah satu terbesar di dunia. Dibandingkan dengan jantung dan kanker, rematik boleh jadi tidak terlampau menakutkan. Namun, jumlah penduduk lansia yang tinggi kemungkinan membuat rematik jadi keluhan favorit. Penyakit otot dan persendian ini sering menyerang lansia, melebihi hipertensi dan jantung, gangguan pendengaran dan penglihatan, serta diabetes (Health-News,2007).

Perubahan perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia. Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatik. Bagaimana timbulnya kejadian reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti. Reumatik bukan merupakan suatu penyakit, tapi merupakan suatu sindrom dan.golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sindroma reumatik cukup banyak, namun semuanya menunjukkan adanya persamaan ciri. Menurut kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatik dapat terungkap sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi., kelemahan otot, dan gangguan gerak. (Soenarto). Berdasarkan kasus diatas maka penulis tertarik untuk membahas tentang perawatan pasien dengan rheumatoid artritis sebagai bahan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Nn.F Dengan rheumatoid artritis Di Wisma Bougenville Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Daerah Istimewa Yogyakarta. 1.2 RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah dalam makalah Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Ny. F dengan reumatik adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan rheumatoid artritis pada lansia? 2. Apa Etiologi, Patofisiologi serta Manifestasi Klinis rheumatoid artritis yang

terjadi pada lansia?

3. Bagaimana Asuhan Keperawatan Gerontik pada lansia dengan rheumatoid

artritis? 1.3 TUJUAN 1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran umum tentang rheumatoid arthritis yang terjadi pada lansia. 2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, serta tanda dan gejala yang

terjadi pada lansia penderita rheumatoid artritis. b. Mengetahui penatalaksanaan asuhan keperawatan gerontik yang sesuai diberikan pada lansia dengan rheumatoid arthritis. 1.4 METODE PENULISAN 1. Studi kepustakaan Mencari buku-buku sumber, referensi-referensi, majalah, jurnal yang berhubungan dengan Asuhan Keperawatan Gerontik pada klien dengan masalah rheumatoid artritis. 2. Studi kasus Mengangkat satu kasus dengan menerapkan Asuhan keperawatan gerontik yang berpedoman pada proses keperawatan dengan langkah-langkahnya dari tahap pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan dan pembahasan dengan perbandingan jurnal yang sesuai dengan kasus. 3. Studi dokumentasi Membaca, melakukkan pengkajian, menganalisa data status klien untuk mendapatkan informasi penting dan lengkap tentang klien tersebut. 1.5 Manfaat penulisan 1. Manfaat bagi penulis Memperoleh pengalaman dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien secara nyata. Menerapkan teori yang sudah didapat dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya Asuhan Keperawatan Gerontik dengan masalah rheumatoid artritis, memperoleh pengalaman dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien secara nyata, dan menambah wawasan dalam menangani klien dengan masalah rheumatoid artritis.
3

2.

Manfaat bagi institusi PSTW Budi Luhur DIY

Asuhan keperawatan Gerontik ini kiranya dapat menjadi referensi bagi pembaca dan juga sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan asuhan keperawatan gerontik. 3. Manfaat bagi institusi pendidikan Sebagai kelengkapan tugas praktek Profesi Ners pada Stase Keperawatan Gerontik Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Daerah Istimewa Yogyakarta dan juga sebagai referensi untuk menambah wawasan bagi mahasiswa STIKes Alma Ata Yogyakarta tentang Asuhan Keperawatan Gerontik khususnya pada klien dengan masalah rheumatoid artritis.

BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Konsep Lansia A. Pengertian Dalam Undang-undang No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menyatakan bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia, ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN). Menurut prof koesmoto setyonegoro lanjut usia adalah orang yg berumur 65 tahun keatas. Sebenarnya lanjut usia adalah suatu proses alami yang tidakapat ditentukan oleh tuhan yang maha esa (Wahyudi, 2000) B. Batasan lansia Batasan seseorang dikatakan Lanjut usia masih diperdebatkan oleh para ahli karena banyak faktor fisik, psikis dan lingkungan yang saling mempengaruhi sebagai indikator dalam pengelompokan usia lanjut. Proses peneuan berdasarkan teori psikologis ditekankan pada perkembangan). World Health Organization (WHO) mengelompokkan usia lanjut sebagai berikut : 1. Middle Aggge (45-59 tahun) 2. Erderly (60-74 tahun) 3. Old (75-90 tahun) 4. Very old (> 91 tahun) C. Proses Menua Menua adalah proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadapa berbagai penyakit dan kematian (Setiati dkk, 2006). Terdapat dua jenis penuaan, antara lain penuaan primer, merupakan proses kemunduran tubuh gradual tak terhindarkan yang dimulai pada masa awal kehidupan dan terus berlangsung selama bertahun-tahun, terlepas dari apa yang orang-orang lakukan untuk menundanya. Sedangkan penuaan sekunder merupakan hasil penyakit, kesalahan dan penyalahgunaan faktor-faktor yang sebenarnya dapat dihindari dan berada dalam kontrol seseorang (Busse,1987; J.C Horn & Meer,1987 dalam Papalia, Olds & Feldman, 2005).
5

D. Perubahan- perubahan yang terjadi pada lansia

1. Perubahan Fisik Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen. a. Sistem pernafasan pada lansia. 1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal. 2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret. 3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan

normal 50m), menyebabkan terganggunya prose difusi. 5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan. 6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri. 7) kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi. b. Sistem persyarafan. 1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan. 2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir. 3) Mengecilnya syaraf panca indera. 4) Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. c. Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia. 1) Penglihatan a) Kornea lebih berbentuk skeris.
6

b) sinar. c) d) e) f) g)

Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa). Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi Hilangnya daya akomodasi. Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang. Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau

terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.

pada skala. 2) Pendengaran. a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) : Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun. b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis. c) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin. 3) Pengecap dan penghidu. a) b) 4) Peraba. a) b) d. Kemunduran dalam merasakan sakit. Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin. Menurunnya kemampuan pengecap. Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan

selera makan berkurang.

Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.

1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku. 2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. 3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan

tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ). 4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal 170/95 mmHg ). e. Sistem genito urinaria. 1) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. 2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin. 3) Pembesaran prostat 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun. 4) Atropi vulva. 5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna. 6) Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus. f. Sistem endokrin / metabolik pada lansia. 1) Produksi hampir semua hormon menurun. 2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah. 3) Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH. 4) Menurunnya aktivitas tiriod BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat. 5) Menurunnya produksi aldosteron. 6) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron.

7) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).

g. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut. 1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. 2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap ( 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit. 3) Esofagus melebar. 4) Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun. 5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi. 6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ). 7) Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah. h. Sistem muskuloskeletal. 1) Tulang kehilangan densikusnya rapuh. 2) resiko terjadi fraktur. 3) kyphosis. 4) persendian besar & menjadi kaku. 5) pada wanita lansia > resiko fraktur. 6) Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.
7) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek (tinggi badan

berkurang ). i. Perubahan sistem kulit & karingan ikat. 1) Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. 2) Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa 3) Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.

4) Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen. 5) Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik. 6) Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. 7) Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu. 8) Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun. 9) Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun. 10) Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot. 11) Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual. a) selaput lendir vagina menurun/kering. b) menciutnya ovarium dan uterus. c) atropi payudara. d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur. e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik. 2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah : a. b.
c.

Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa. kesehatan umum Tingkat pendidikan Keturunan (herediter) Lingkungan Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran

d. e. f. g. h. i.

dan famili diri dan perubahan konsep diri


10

Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit), kenangan buruk. Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu. 3. Perubahan Spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. 2.2 Depresi A. Pengertian Depresi Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun. Depresi adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan dpt digunakan untuk menunjukan berbagai fenomena, tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi penyakit/ klinik.(stuart dan sundeer,1998). Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan. B. Faktor predisposisi dan faktor pencetus 1. Faktor Predisposisi:
a.

Faktor genetik dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan afektif Teori agresi menyerang kedalam, menunjukan bahwa depresi terjadi

melalui riwayat keluarga atau keturunan


b.

karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri.

11

c.

Teori kehilangan obyek merujuk kepada perpisahan traumatik individu Teori organisasi keperbadian menguraikan bagaimana konsep diri yang

dengan benda atau yg sangat berarti.


d.

rendh mempengaruh sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap streror.


e.

Model kognitif menyebutkan bahwa depresi merupakan masalah

kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang, dunia seseorang dan masa depan seseorang.
f.

Model ketidakberdayaan yang dipelajari menunjukan bahwa bukan

semata-mata trauma menyebabkan depresi tapi keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang penting dalam kehidupanya oleh karena itu ia mengulang respon yang adptif.
g.

Model prilaku berkembang dari kerangka teori belajar sosial yang

mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif dalam berintraksi dengan lingkungan.
h.

Model biologi menguraikan perubahan kimia dalam tubuh terjadi

selama masa depresi. termasuk defisiensi ketokolamin, disfungsi endokrin, hipersekresi kortisol dan variasi periodik dalam irima biolgis. 2. Stresor Pencetus
a.

Kehilangan keterikatan,yang nyata atau yang di bayangkan, termasuk

kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan, atau harga diri, karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan maka persepsi pasien merupakan hal yang sangat penting
b.

Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu

episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
c.

Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau penyakit fisik

perkembangan depresi, terutama pada wanita.


d.

dan gangguan kesimbambngan metabolik, dapat mencetuskan gangguan alam perasaan. diantra obat-obataan tersebut terdapat obat antihipertensi dan penyalahgunaan zat yang menyebabkan kecanduan. kebanyakan penyakit kronik yg melemahkan tubuh juga sering disrtai dengan depresi. depresi yg terdapat pada usia lanjut biasnya bresfat kompleks karena untuk menegakan
12

diagnosis sering melibtkan evaluasi dari kerusakan otak orgnik dan depresi klinik. C. Tanda Dan Gejala Depresi Frank J.Bruno dalam Bukunya Mengatasi Depresi (1997) mengemukan bahwa ada beberapa tanda dan gejala depresi, yakni: 1. Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberikan kesenangan. 2. Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan 3. Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur 4. Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya. Ya,kan? saya tidak mengalami depresi?.dilain pihak, seseorang lainnya yang mengalami depresi mungkin akan gampang letih dan lemah. 5. Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan atau merasa,saya selalu merasah lelah atau saya capai. Ada anggapan bahwa gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor emosional, bukan faktor biologis. 6. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna, tidak efektif. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. Pemikiran seperti, saya menyia-nyiakan hidup saya, atau saya tidak bisa mencapai banyak kemajuan, seringkali terjadi. 7. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk memecahkan masalah secara efektif. Orang yang mengalami depresi merasa kesulitan untuk menfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah untuk jangka waktu tertentu. Keluhan umum yang sering terjadi adalah, saya tidak bisa berkonsentrasi.. 8. Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya: penyalahgunaan alkohol/narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya. makan berlebihan, terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya menjadi gemuk,

13

diabetes, hypoglycemia, atau diabetes, bisa juga diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung. 9. Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. (tentu saja, bunuh diri yang sebenarnya, merupakan perilaku merusak diri sendiri secara langsung. Frank menambahkan bahwa tidak ada aturan yang pasti untuk setiap orang. tetapi merupakan konvensi untuk menyatakan bahwa kalau lima atau lebih dari tandatanda atau gejala itu ada dan selalu terjadi, maka sangat mungkin seseorang mengalami depresi. Lain halnya jika seseorang mnegalami gejala pada nomor 9, yakni punya keinginan untuk bunuh diri, maka Frank menganjurkan seseorang untuk segera mencari bantuan profesional secepat mungkin. 2.2 Rematik A. Definisi Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos yang berarti mucus, suatu cairan yang dianggap jahat mengalir dari otak ke sendi dan struktur lain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri atau dengan kata lain, setiap kondisi yang disertai kondisi nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik termasuk penyakit jaringan ikat. Rematik adalah penyakit yang menyerang sendi dan struktur jaringan sekitarnya (tendon ligament, sinovia, otot sendi, dan tulang). Penyakit ini tidak terbatas menyerang sendi bisa juga mengenai organ lain. Reumatik dapat dikelompokkan atas beberapa golongan, yaitu : 1. Osteoartritis. Penyakit merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban ini. 2. Artritis Rematoid. Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah. 3. Polimialgia Reumatik.
14

Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun ke atas.

4. Artritis Gout (Pirai). Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa menopause. B. Reumathoid Arthritis
1. Definisi

Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh.(Hidayat, 2006) Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. 2. Etiologi Hingga kini penyebab Remotoid Artritis (RA) tidak diketahui, tetapi beberapa hipotesa menunjukan bahwa RA dipengaruhi oleh faktor-faktor : a. b. c. d. Mekanisme IMUN ( Antigen-Antibody) seperti interaksi antara IGC Gangguan Metabolisme Genetik Faktor lain : nutrisi dan faktor lingkungan (pekerjaan dan psikososial) dan faktor Rematoid

3. Patofisiologi Cidera mikro vascular dan jumlah sel yang membatasi dinding sinovium merupakan lesi paling dini pada sinovisis remotoid. Sifat trauma yang menimbulkan respon ini masih belum diketahui. Kemudian, tampak peningkatan jumlah sel yang membatasi dinding sinovium bersama sel mononukleus privaskular. Seiring dengan perkembangan proses sinovium edematosa dan menonjol kedalam rongga sendi sebagai tonjolan-tonjolon vilosa.
15

Pada penyakit Rematoid Artritis terdapat 3 stadium yaitu : a. Stadium Sinovisis Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat maupun saat bergerak, bengkak dan kekakuan. b. Stadium Destruksi

Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon. c. Stadium Deformitas Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan gangguan fungsi secara menetap. 4. Tanda dan Gejala Pasien-pasien dengan RA akan menunjukan tanda dan gejala seperti a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l.
a.

Nyeri persendian Bengkak (Rheumatoid nodule) Kekakuan pada sendi terutama setelah bangun tidur pada pagi hari Terbatasnya pergerakan Sendi-sendi terasa panas Demam (pireksia) Anemia Berat badan menurun Kekuatan berkurang Tampak warna kemerahan di sekitar sendi Perubahan ukuran pada sendi dari ukuran normal Pasien tampak anemik Gerakan menjadi terbatas Adanya nyeri tekan Deformitas bertambah pembengkakan Kelemahan Depresi

Pada tahap yang lanjut akan ditemukan tanda dan gejala seperti : b. c. d. e.

5. Pemeriksaan Diagnostik
16

Faktor Reumatoid : positif pada 80-95% kasus. a. b. c. d. e. f. g. h. Fiksasi lateks: Positif pada 75 % dari kasus-kasus khas. Reaksi-reaksi aglutinasi : Positif pada lebih dari 50% kasus-kasus khas. LED : Umumnya meningkat pesat ( 80-100 mm/h) mungkin kembali Protein C-reaktif: positif selama masa eksaserbasi. SDP: Meningkat pada waktu timbul prosaes inflamasi. JDL : umumnya menunjukkan anemia sedang. Ig ( Ig M dan Ig G); peningkatan besar menunjukkan proses autoimun Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada

normal sewaktu gejala-gejala meningkat

sebagai penyebab AR. jaringan lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan ( perubahan awal ) berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara bersamaan. i. j. k. Scan radionuklida : identifikasi peradangan sinovium Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih

irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi besar dari normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon inflamasi, produk-produk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas dan komplemen ( C3 dan C4 ). l. Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan panas. Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen. Kriteria Artritis rematoid menurut American Reumatism Association ( ARA ) adalah: a. b. Kekakuan sendi jari-jari tangan pada pagi hari ( Morning Stiffness ). Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya

pada satu sendi.

17

c.

Pembengkakan ( oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan )

pada salah satu sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu. d. e. f. g. h. i. j. k. a. b. c. Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain. Pembengkakan sendi yanmg bersifat simetris. Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor. Gambaran foto rontgen yang khas pada arthritis rheumatoid Uji aglutinnasi faktor rheumatoid Pengendapan cairan musin yang jelek Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia gambaran histologik yang khas pada nodul. Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya Kemungkinan rheumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung

Berdasarkan kriteria ini maka disebut : selama 6 minggu selama 6 minggu. sekurang-kurangnya selama 4 minggu. 6. Penatalaksanaan a. b. c. d. e. f. 7. Komplikasi a. b. c.
d.

Pendidikan : meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab, dan Istirahat : karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat Latihan : pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang, Termoterapi Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat Pemberian Obat-obatan : Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli Terjadi splenomegaly.

prognosis penyakit ini

ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi pasien

proses granulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule

18

2.3 Konsep Keperawatan A. Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal dalam proses keperawatan yang harus dilakukan secara sistematis agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk klien. Adapun beberapa hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut: 1. Identitas Umum Yang perlu diketahui disini meliputi; nama,alamat, umur, jenis kelamin, agama/suku, warga Negara, bahasa yang digunakan, penanggung jawab/orang yang bisa dihubungi (nama, alamat, hubungan dengan klien), cara masuk, alasan masuk, tanggal masuk, diagnosa medic, dan lain sebagainya. 2. Pengkajian Fungsional Gordon a. Persepsi dan Penanganan Kesehatan 1) Apakah pernah mengalami sakit pada sendi-sendi 2) Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya 3) Riwayat keluarga dengan RA 4) Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun 5) Riwayat infeksi virus, bakteri, parasit dll b. Nutrisi Metabolic
1) Jenis, frekuensi, jumlah makanan yang dikonsumsi (makanan yang banyak

mengandung pospor(zat kapur), vitamin dan protein) 2) Riwayat gangguan metabolic c. Eliminasi 1) Adakah gangguan pada saat BAB dan BAK? d. Aktivitas dan Latihan 1) Kebiasaan aktivitas sehari-hari sebelum dan sesudah sakit 2) Jenis aktivitas yang dilakukan 3) Rasa sakit/nyeri pada saat melakukan aktivitas 4) Tidak mampu melakukan aktifitas berat e. Tidur Istirahat 1) Apakah ada gangguan tidur? 2) Kebiasaan tidur sehari 3) Terjadi kekakuan selama 1/2-1 jam setelah bangun tidur 4) Adakah rasa nyeri pada saat istirahat dan tidur? f. Kognitif-persepsi
19

1) Adakah nyeri sendi saat digerakan atau istirahat? g. Persepsi diri Konsep diri 1) Adakah perubahan pada bentuk tubuh (deformitas/kaku sendi)? 2) Apakah pasien merasa malu dan minder dengan penyakitnya h. Peran Hubungan 1) Bagaimana hubungan dengan keluarga? 2) Apakah ada perubahan peran pada klien? i. Seksualitas dan Reproduksi 1) Adakah gangguan seksualitas? j. Koping - Toleransi Stress 1) Adakah perasaan takut, cemas akan penyakit yang diderita? k. Nilai Kepercayaan 1) 2) 3) Agama yang dianut? Adakah gangguan beribadah? Apakah klien menyerahkan sepenuhnya penyakitnya kepada Tuhan B. Diagnosa Keperawatan Kemungkinan masalah keperawatan yang akan muncul pada penyakit rematik yang dialami lansia adalah: 1. Nyeri berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi. 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kekakuan pada sendi dan penurunan integritas tulang 3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi. 4. Gangguan Citra Tubuh / Perubahan Penampilan Peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas. 5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama, terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas

20

21

C. Intervensi No. 1. Diagnosa Nyeri kronik berhubungan Setelah dengan ketunadayaan fisik keperawatan atau psikososial kronis pasien (misalnya, metastasis, NOC dilakukan selama diharapkan nyeri NIC tindakan Pain Management 224 jam hilang 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien 3. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri metode metode untuk analgetik gejala-gejala 4. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi 5. Ajarkan tentang teknik non farmakologi 6. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 7. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri 8. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Analgesic Administration 1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat 2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi 3. Cek riwayat alergi nyeri sudah 4. Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik
22

kanker dengan criteria : cedera Kontrol nyeri 1.Mengenali faktor penyebab 2.Mengenali onset (lamanya sakit) 3.Menggunakan pencegahan 4.Menggunakan nonanalgetik mengurangi nyeri 5.Menggunakan sesuai kebutuhan 6.Mengenali nyeri 7.Mencatat pengalaman nyeri sebelumnya 8.Melaporkan

neurologis dan artritis)

terkontrol Tingkatan nyeri 1. Melaporkan adanya nyeri 2. frekuensi nyeri dan panjangnya episode nyeri 3. ekspresi nyeri pada wajah 4. kurangnya istirahat 2. Gangguan berhubungan insomnia dalam pola 2. ketegangan otot tidur Setelah dilakukan dengan keperawatan waktu pasien selama diharapkan

ketika pemberian lebih dari satu 5. Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri 6. Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal 7. Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat 8. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

tindakan Peningkatan Tidur 224 jam dapat 1. Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien 2. Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya 3. Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik 4. Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya

lama, terbangun lebih awal memperbaiki pola tidurnya dengan atau terlambat bangun dan criteria : penurunan kemampuan 1. Mengatur tidurnya 2. Tidur secara rutin 3. Miningkatkan pola tidur 4. Meningkatkan kualitas tidur 5. Tidak ada gangguan tidur jumlah jam fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas

23

BAB III TINJAUAN KASUS 3.1


A. Identitas Klien

Pengkajian

Nama Umur Alamat Pendidikan

: Ny. F : 67 tahun : Suronatan : SMA

Jenis kelamin Suku Agama Statua perkawinan

: Perempuan : Jawa : Islam : Janda : 17 November 2012

Tgl masuk panti: 7 November 2012 Tanggal pengkajian B. Status Kesehatan

Saat ini klien merasa nyeri pada persendian pada lutut, nyeri dirasa saat klien duduk dian, namun rasa nyeri hilang saat klien beraktifitas, rasa nyeri seperti kaku pada daerah persenduan dengan skala nyeri sedang dan dirasa hilang timbul tidak pasti. C. Riwayat Kesehatan Dahulu 1. Riwayat alergi Klien mengatakan, ia tidak ada pantangan / alergi terhadap obat, makanan, binatang maupun lingkungan. 2. Riwayat penyakit Pada saat muda klien sering pingsan karena sakit perut, klien juga sering terjatuh. Pada tahun 2007 klien pernah melakukan operasi untuk menaikan ginjal klien, karena turunya ginjal klien dari posisi sesungguhnya 3. Kebiasaan Klien mengatakn klien tidak memiliki kebiasaan merokok, minum kopi, minum alcohol, dan makan obat tidur

24

D. Riwayat Kesehatan Keluarga Dalam keluarga klien tidak ada masalah kesehatan seperti kanker, DM, penyakit jantung, epilepsi, dll

Keterangan : : Anggota keluarga laki-laki yang meninggal : Anggota keluarga perempuan yang meninggal : Suami (meninggal)

25

: Pasien
E. Tinjauan Sistem

1. Keadaan umum Keadaan Ny. F tampak sehatdan bugar dan tampak memegangi kaki kanannya sesekali. Kesadaran Compos Mentis. 2. Intergumen a. Inspeksi Kebersihan baik, kulit klien terlihat keriput, turgor kulit lembab hangat berwarna kuning langsat, tidak ada kelainan dan masalah keperawatan b. Palpasi Turgor kulit elastic, tidak terdapat edema 3. Kepala Bentuk kepala tampak bulat, tidak ada lesi dan benjolan, rambut tampak beruban, rambut lurus. Penyebaran tidak merata. 4. Mata Klien menggunakan kaca mata, Sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pupil isokhor, mata klien tampak sering berair, pergerakan bola mata simetris. Klien dapat membaca hanya dalam jarak 30 cm. 5. Telinga Bentuk telinga simetris, pendengaran baik di periksa dengan detik jam, secret, serumen, benda asing tidak ada. 6. Mulut dan tenggorokan Keadaan bibir lembat, keadaan gigi dan gusi bersih, bau mulut, stomatitis tidak ada, gigi klien tidak lengkap.

26

7. Leher Tidak teraba ada pembesaran kelenjar getah bening. 8. Payudara Tidak ada masalah 9. Sistem pernafasan a. Inspeksi Bentuk thoraxs normal 2:1, pernafasan 20 x/I tidak ada kesulitan bernafas tidak ada usaha dengan menggunakan otot bantu pernafasan, tidak ada pernafasan cuping hidung. Tidak terdapat sianosis pada bibir dan keadaan kuku normal. b. Palpasi Tidak terdapat nyeri tekan, pengambangan dada simetris premitus taktil . c. Perkusi Tidak terdapat odema, bunyi resonan. d. Auskultasi Tidak terdapat suara tambahan, bunyi jantung normal (lub-dub), tidak ada masalah keperawatan 10. Sistem kardiovaskular a. Perkusi

Perkusi jantung terdengar pekak. b. Auskultasi

Irama jantung terdengar regular TD 110/70 mmHg 11. Sistem gastrointestinal c. Inspeksi Perut buncit umbilicus tidak menonjol tidak terlihat benjolan masa d. Auskultasi

Peristaltik usus 8x/menit normalnya 5-25x/m

27

e.

Palpasi

Nyeri tekan tidak ada, perabaan massa tidak ada, hepar tidak teraba, asites tidak ada 12. Sistem urinaria Ny. F BAK dengan frekuensi tidak tentu setiap 6-8jam sekali, pada wktu mlm klien sering terbangun untuk BAK 2-3 kali, klien mengatakn klien mampu menahan BAK selama klien inginkan tidak sakit saat BAK dan lancar. Klien mengatakan pernah mengalami kesulitan untuk defekasi karena sering menahan untuk untuk defekasi. 13. Sistem genetoreproduksi Klien mengatakan klien tidak memiliki anak, klien pernah mengandung namun pada usia kehamilan 2 bulan klien mengalami keguguran, klien juga mengatakan menurut pemeriksaan dokter suami klien difonis mandul 14. Sistem muskulosceletal Kedua kaki dan tangan Ny. F tampak sejajar dan sama besar dan panjang, tampak adanya scoliosis. Kemampuan mengubah posisi baik, pergerakan kedua tangan dan kaik baik, kekuatan otot baik, tetapi kaki kanan dan persendian klien sering merasa linu dan kesemutan. 15. Sistem syaraf pusat Tidak ada cedera kepala, tidak ada peningkatan TIK, tidak memiliki riwayat kejang 16. Sistem endokrin Ny. F mengatakan tidak mempunyai penyakit gula dan gondok. F. Pengkajian Psikososial & Spiritual 1. Psikososial Ny. F mengatakan dapat bersosialisasi dengan penghuni panti yang lainnya.
2. Emosional

Status emosi Ny. F stabil dan kooperatif saat diajak bicara, sikap klien terhadap penghuni panti lainnya baik. Klien mengatakan klien mrngalami sesulitan tidur, klien merasa gelisah dan memikirkan bayak masalah, klien mengatakan ini sudah

28

terjadi lebih dari satu kali dalam sebulan, bila tidak bisa tidur klien memilih untuk membaca doa-doa 3. Spiritual Ny. F beragama Islam, dan mengatakan selalu menjalankan ibadah sholat lima waktu. Selain itu juga mengikuti bimbangan rohani dan seluruh kegiatan yang diadakan di panti. Harapan klien meninggal dengan khusnul khotimah G. Pengkajian Depresi 1. Inventaris Depresi Beck a. Kesedihan : klien merasa sedih
b. Pesimisme : klien merasa tidak mempunyai apa-apa untuk memandang

kedepan, klien mengatakan bila sudah tinggal dipanti ya sudah tidak pnya masa depan c. Rasa kegagalan : klien merasa benar-benar gagal sebagai seorang perempuan karena klien tidak mempunyai keturunan
d. Ketidakpuasan : klien mengatakan tidak puas dengan segalanya, klien

mengatakan sudah melalukan yang terbaik tetapi balasan orang dan keluarga saya tidak sebanding e. Rasa bersalah : klien tidak merasa benar benar bersalah f. Tidak menyukai diri sendiri : klien tidak merasa kecewa dengan dirinya sendiri g. Membahayakan diri sendiri : klien tidak punya pikiran-pikiran yang membahagiakan diri sendiri
h. Menarik diri dari soaial : klien tidak kehilangan minat pada orang lain

i. Keragu-raguan : klien membuat keputusan dengan baik j. Perubahan gambaran diri : klien tidak merasa bahwa saya tampak lebih buruk dari sebelumnya k. Kesulitan diri : klien dapat bekerja sebaik sebelumnya l. Keletihan : klien lelah lebid dari biasanya m. Anoreksia : nafsu makan klien tidak buruk dari biasanya Jumlah : 10 Depresi sedang 2. Skala Depresi Geriatrik (YESAVAGE) a. Pada dasarnya klien tidak puas dengan kehidupanya b. Klien merasa telah meninggalkan banyak kegiatan dan minat atau kesenanganya
29

c. Klien merasa bahwa hidup klien kosong d. Klien sering merasa bosan e. Klien pnya semangat yang baik setiap saat f. Klien takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya g.
i.

Klien merasa bahagia disebagian besar hidup klien Klien tidak lebih senang tinggal dirumah daripada pergi keluar dan mengerjakan sesuatu yang baru

h. Klien tidak merasa tidak berdaya

j. Klien tidak merasa memiliki masalah dengan daya ingat dibanding kebanyakan orang
k. Klien berfikir bahwa hidup klien sekarang ini menyenangkan

l. Klien tidak merasa tidak berharga m. Klien merasa penuh semangat


n. Klien merasa bahwa keadaan klien tidak memiliki harapan

H. Pengkajian Fungsional Klien 1. Katz index No. 1. 2. 3. 4. Kegiatan Mandi Berpakaian Ke Kamar Kecil Berpindah Mandiri V V V V Bantuan Sebagian Bantuan Penuh

Tempat 5. BAK/BAB V 6. Makan/Minum V Ny. F dapat beraktivitas secara mandiri tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain. 2. Barthel index No. 1. 2. 3. 4 Kegiatan Makan/Minum Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur/sebaliknya Kebersihan diri (cuci muka, gosok gigi, menyisir rambut) Keluara masuk kamar mandi (menyeka Dengan Bantuan 0 0 0 0 Mandiri 10 15 5 10
30

tubuh, menyiram, mencuci baju) 5. Mandi 6. Jalan-jalan di permukaan datar 7. Naik turun tangga 8. Memakai baju 9. Kontrol BAK 10. Kontrol BAB Jumlah Kesimpulan: Jumlah skor 100 = mandiri I. Pengkajian Status Mental 1. Short Portable Mental Status Questioner (SPSMQ) Benar Salah No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

0 0 0 0 0 0 0

15 5 10 10 10 10 100

Pertanyaan Tanggal berapa hari ini? Hari apa sekarang? Apa nama tempat ini? Dimana alamat anda? Berapa umur anda? Kapan anda lahir? Siapa presiden Indonesia sekarang? Siapa presiden Indonesia sebelumnya? Siapa nama ibu anda? Kurangi 3 dari 20 & tetap pengurangan 3 dari

setiap angka baru, semua secara berurutan 10 Jumlah Total Skor: 10 Fungsi intelektual tubuh

J. Pengkajian Aspek Kognitif Dari Fungsi Mental No. 1. Aspek Kognitif Orientasi Nilai Maksimal 5 Nilai Klien 5 Kriteria Menyebutkan dengan benar a. Tahun b.Musim c. Tanggal d.Hari e. Bulan
31

Orientasi

Menyebutkan dengan benar a. Negara Indonesia b.Propinsi Jabar c. Kota Bogor d.Panti Pemeriksa mengatakan nama 3 objek selama 1 detik kemudian klien mengulang nama objek tersebut a. kursi b.meja c. buku Minta klien untuk memulai dari angka 100 kemudian dikurangi 7 sampai 5 tahap
a. 100

2.

Registrasi

3.

Perhatian & Kalkulasi

b.93 c. 86 d.79 4. Mengingat 3 3 e. 72 Minta klien untuk menyebutkan atau mengulang ketiga objek pada no.2 a. kursi b.meja 5. Bahasa 9 9 c. buku Tunjukkan benda a. b. (2 namanya! Objek sepatu Objek sandal untuk mengikuti pada klien suatu

objek)

tanyakan

Minta klien

perintah berikut: a. Ambil kertas di tangan anda b.Lipat dua


32

c. Taruh di lantai Perintahkan pada klien untuk hal berikut a. satu (bila aktifitas sesuai perintah nilai 1) Tutup mata anda dan menyalin Perintahkan pada klien menilai kalimat gambar: a. Tulis satu kalimat b. Menyalin gambar Total Nilai Interpretasi hasil : Nilai >23 K. Pengkajian Skala Resiko Dekubitus 1. Pengkajian skala resiko dekubitus menurut Braden a. b. c. d. e.
f.

30 = aspek kognitif dari fungsi mental baik

Persepsi sensori : tidak terbatas Kelembapan : jarang lembab Aktifitas : jalan keluar ruang Mobilisasi : tidak terbatas Nutrisi : sempurna Gesekan dan cubitan : tidak ada masalah. Total skor : 23 Kondisi fisik : baik Kesadaran : CM Aktifitas : mandiri Mobilitas bebas Inkontenensia : tidak ada

2. Pengkajian skala resiko dekubitus menurut Norton a. b. c. d. e.

Total skor : 20 L. Pengkajian Resiko jatuh 1. Postural Hipotensi Tidur : 110/70 mmHg Duduk : 110/70 mmHg Berdiri : 110/70 mmHg 2. Fungsional reach (FR) test
33

Klien mampu berdiri condong selama satu menit dengan jarak 5 inchi 3. The timed up and go (TUG) test Klien mampu berdiri dari kursi, berjalan 10 langkah, kembali ke kursi, mengangkat satu kaki setinggi langkah dan duduk kembali Ukuran waktu dalam detik : > 10 detik mobilisasi bebas 4. Factor resiko jatuh akibat mobilisasi Keterangan Usia Kriteria 60-70 tahun > 70 Status mental * Binggung terus menerus Kadang kadang binggung Penurunan tingkat kooperatif Riwayat jatuh 1-2 kali Berulang dalam 1 bulan Pakai kateter/ ostomi Kebutuhan eliminasi Incontinensia Gangguan penglihatan * Mobilisasi Tidur berbaring di tempat tidur/ duduk dikursi Gaya berjalan, melangkah lebar Kehilangan keseimbangan berdiri dan berjalan * Penurunan koordinasi otak Kesukaran berjalan, sempoyongan Menggunakan alat bantu : kruk, walker Menggunakan 1 obat 3 hari dirawat sejak masuk/ dirujuk 2 hari pembedahan atau melahirkan IV line Therapy anti embolitik Skore V

Obat beresiko Hospitalisasi Persiapan alat Total skore : 1 3.2 Analisa Data Data Ds : P : Saat ini klien merasa nyeri pada persendian Q : Nyeri dirasa saat klien

Masalah Nyeri kronik

Etiologi ketunadayaan fisik (artritis)

34

duduk diam, namun rasa nyeri hilang saat klien beraktifitas R : Rasa nyeri seperti kaku pada persendian S : Dengan skala nyeri sedang T : Dirasa hilang timbul tidak pasti. Do : Klien memegangi sesekali Ds : - Klien klien mengatakan Gangguan pola tidur mengalami insomnia dalam waktu lama, terbangun lebih awal dan penurunan kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas Bentuk tulang klien scoliosis Klien meringis terlihat terlihat kakinya daerah

sesulitan tidur - klien merasa gelisah dan memikirkan bayak masalan - klien mengatakan ini sudah terjadi lebih dari satu kali dalam sebulan - klien mengatakan bila tidak bisa tidur klien memilih membaca doa-doa Do : - klien terlihat tidur untuk

35

siang - klien tampak mengantuk di pagi hari.

36

3.3 Intervensi No. 1. Diagnosa Nyeri kronik berhubungan Setelah atau psikososial kronis pasien NOC dilakukan diharapkan nyeri NIC tindakan Pain Management 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien 3. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri metode metode untuk analgetik gejala-gejala 4. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi 5. Ajarkan tentang teknik non farmakologi 6. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 7. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri 8. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Analgesic Administration 1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat 2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi 3. Cek riwayat alergi 4. Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik
37

dengan ketunadayaan fisik keperawatan selama 3 24 jam hilang (misalnya, metastasis, kanker dengan criteria : cedera Kontrol nyeri 1. Mengenali faktor penyebab 2. Mengenali onset (lamanya sakit) 3. Menggunakan pencegahan 4. Menggunakan nonanalgetik mengurangi nyeri 5. Menggunakan sesuai kebutuhan 6. Mengenali nyeri 7. Mencatat pengalaman nyeri sebelumnya Melaporkan nyeri sudah terkontrol

neurologis dan artritis)

Tingkatan nyeri 1. Melaporkan adanya nyeri 2. frekuensi nyeri dan panjangnya episode nyeri 3. ekspresi nyeri pada wajah 4. kurangnya istirahat 2. Gangguan berhubungan insomnia dalam pola 3. ketegangan otot tidur Setelah dilakukan waktu pasien diharapkan

ketika pemberian lebih dari satu 5. Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri 6. Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal 7. Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat 8. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping) tindakan Peningkatan Tidur 1. Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien 2. Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya 3. Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik 4. Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jumlah jam jam tidurnya dapat

dengan keperawatan selama 3 24 jam

lama, terbangun lebih awal memperbaiki pola tidurnya dengan atau terlambat bangun dan criteria : penurunan kemampuan 1. Mengatur tidurnya 2. Tidur secara rutin 3. Miningkatkan pola tidur 4. Meningkatkan kualitas tidur 5. Tidak ada gangguan tidur fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas

3.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


38

No. 1.

Implementasi Keperawatan Waktu 19-11-2012 Pain Management 09.45 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 09.50 2. Mengobservasi ketidaknyamanan 09.53 09.55 11.20 13.45 reaksi Gunakan nonverbal teknik dari komunikasi

Tanggal/

Evaluasi Keperawatan Subjektif: Klien mengatakan masih merasakan nyeri di bagian lutut, munculnya nyeri biasanya setelah beraktifitas. Saat aktifitas nyeri tidak dirasakan, tetapi saat duduk baru nyeri dirasakan, bila dibawa istirahat (tidur) nyeri berkurang. Klien mengatajakan nyeri dirasakan skala 6 Klien mengatakan mengerti cara (sedang), munculnya nyeri tidak pasti. mengurangi nyeri dengan cara kompres air hangat. Objektif: Klien tampak memegang lututnya dan Klien tampak mengerti menajemen nyeri Klien tampak belum bisa mengontrol nyeri meringis nyeri. (kompres hangat) yang diajarkan oleh perawat. dan belum bisa melakukan manejemen nyeri

Paraf

terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien 3. Mengkaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
4. Mengajarkan tentang manjemen nyeri : kompres

hangat. 5. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri


6. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri

39

yang diajarkan perawat. Asasment: Masalah nyeri belum teratasi Planning: Lanjutkan itervensi: 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien 3. Mengajarkan tentang manjemen nyeri : Kompres hangat. 4. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri 2. 19-11-2012 Peningkatan Tiidur
1. Menetapkan pola kegiatan dan tidur pasien 2. Memonitor pola tidur pasien dan jumlah jam

5. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri Subjektif: Klien mengatakan biasanya tidur siang setelah shalat zuhur dan bangunnya kadangkadang sebelum shalat asyar.

tidurnya
3. Menjelaskan pentingnya tidur selama sakit dan

Klien mengatakan saat tidur malam hanya 3


40

stress fisik
4. Membantu pasien untuk menghilangkan situasi

- 4 jam, sering terbangun saat malam (biasanya BAK, sahalat tahajut, membaca AL_Quran) dan susah untuk tidur lagi. Klien mengatakan masalah sulit yang hal untuk tidak memikirkan harapan dialaminya tersebut

stress sebelum jam tidurnya (saat tidur siang)

(memikirkan keluarga yang tidak sesuai dengan klien). Sehingga membuatnya terbangun saat tidur dan sulit untuk tidur lagi. Klien mengatakan mengerti pentingnya tidur yang cukup untuk kesehatan tubuh. Objektif: Klien sudah memiliki jadwal harian. Klien tampak tidur saat jam 12.43 Klien tampak mengerti dengan penjelasan

perawat tentang pentingnya pola tidur yang cukup. Assesment: Masalah Gangguan pola tidur teratasi sebagian.

41

Planning: Lanjutkan Intervensi: tidurnya 2. Membantu siang) 3. 20-11-2012 Manajement Pain 08.00 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 08.05 2. Mengobservasi ketidaknyamanan 08.06 11.30 12.00 reaksi Gunakan nonverbal teknik dari komunikasi 3. Menetapkan pola kegiatan dan tidur pasien Subjektif:

1. Memonitor pola tidur pasien dan jumlah jam pasien untuk menghilangkan

situasi stress sebelum jam tidurnya (saat tidur

Klien mengatakan masih merasakan nyeri di lutut, munculnya nyeri setelah

bagian

beraktifitas (senam pagi). Saat aktifitas nyeri tidak dirasakan, tetapi saat duduk baru nyeri dirasakan, bila dibawa istirahat (tidur) nyeri berkurang. Klien mengatajakan nyeri dirasakan skala 6

terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien


3. Mengajarkan tentang manjemen nyeri : Kompres

hangat. (mempraktekkan secara langsung kepada pasien) 4. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri 5. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri

(sedang), munculnya nyeri tidak pasti. Klien mengatakan mengerti cara

mengurangi nyeri dengan cara kompres air

42

hangat. Klien mengatakan nyeri berkurang setelah

dilakukan kompres air hangat. Objektif: Klien tampak memegang lututnya dan meringis nyeri. Klien tampak mengerti menajemen nyeri

(kompres hangat) yang diajarkan oleh perawat.

Klien sudah bisa mengontrol nyeri Masalah nyeri belum teratasi

Asasment: Planning: Lanjutkan itervensi: 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
43

pasien
3. Mengajarkan tentang manjemen nyeri :

Tehnik distraksi. 4. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri 4. 20-11-2012 Peningkatan Tidur 1. Memonitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya 2. Membantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya (saat tidur siang) 3. Menetapkan pola kegiatan dan tidur pasien. 5. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri. Subjektif: Klien mengatakan biasanya tidur siang setelah shalat zuhur dan bangunnya kadangkadang sebelum shalat asyar.

Klien mengatakan tadi malam tidurnya 4

5 Jam, karena sering terbangun saat malam (biasanya BAK, sahalat tahajut, membaca AL_Quran) dan susah untuk tidur lagi. Klien mengatakan masalah sulit yang hal untuk tidak memikirkan harapan dialaminya tersebut

(memikirkan keluarga yang tidak sesuai dengan klien). Sehingga membuatnya terbangun saat tidur dan sulit untuk tidur lagi. Objektif: Klien tampak mengantuk saat pagi hari
44

Klien sudah memiliki jadwal harian. Klien tampak tidur saat jam 13.00 Masalah Gangguan pola tidur teratasi

Assesment: sebagian. Planning: Lanjutkan Intervensi: jam tidurnya 2. Membantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya (saat tidur siang) 5. 21-11-2012 Pain Management 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 2. Mengobservasi ketidaknyamanan reaksi Gunakan nonverbal teknik dari komunikasi 3. Menetapkan pola kegiatan dan tidur pasien Subjektif: Klien mengatakan masih merasakan nyeri di lutut, munculnya nyeri setelah bagian 1. Memonitor pola tidur pasien dan jumlah

beraktifitas (senam pagi). Saat aktifitas nyeri tidak dirasakan, tetapi saat duduk baru nyeri dirasakan, bila dibawa istirahat (tidur) nyeri berkurang. Klien mengatajakan nyeri dirasakan skala 6
45

terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien 3. Mengajarkan tentang manjemen nyeri : Kompres hangat. (mempraktekkan secara langsung kepada pasien)

4. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri 5. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri.

(sedang), munculnya nyeri tidak pasti. Klien mengatakan mengerti cara

mengurangi nyeri dengan cara kompres air hangat. Klien mengatakan nyeri berkurang setelah

dilakukan kompres air hangat. Objektif: Klien tampak memegang lututnya dan meringis nyeri. Klien tampak mengerti menajemen nyeri

(kompres hangat) yang diajarkan oleh perawat. Klien sudah bisa mengontrol nyeri Masalah nyeri belum teratasi

Asasment: Planning: Lanjutkan itervensi: 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
46

2. Mengobservasi

reaksi

nonverbal

dari

ketidaknyamanan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien 3. Mengajarkan tentang manjemen nyeri : Kompres hangat. (mempraktekkan secara langsung kepada pasien) 4. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri 5. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri. 6. 21-11-2012 Peningkatan Tidur 1. Memonitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya 2. Membantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya (saat tidur siang) 3. Menetapkan pola kegiatan dan tidur pasien Subjektif: Klien mengatakan biasanya tidur siang setelah shalat zuhur dan bangunnya kadangkadang sebelum shalat asyar. Klien mengatakan tadi malam tidurnya 4 5 Jam, karena sering terbangun saat malam (biasanya BAK, sahalat tahajut, membaca AL_Quran) dan susah untuk tidur lagi. Klien mengatakan masalah sulit yang untuk tidak memikirkan dialaminya

(memikirkan keluarga yang tidak sesuai dengan


47

harapan

klien).

Sehingga

hal

tersebut

membuatnya terbangun saat tidur dan sulit untuk tidur lagi. Objektif: Klien tampak mengantuk saat pagi hari Klien sudah memiliki jadwal harian. Klien tampak tidur saat jam 13.00 Masalah Gangguan pola tidur teratasi

Assesment: sebagian. Planning: Lanjutkan Intervensi: 1. 2. Memonitor pola tidur pasien dan Membantu pasien untuk jumlah jam tidurnya menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya (saat tidur siang) 3. pasien Menetapkan pola kegiatan dan tidur

48

BAB IV PEMBAHASAN Dalam bab ini penulis membahas masalah yang dijumpai selama melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. F Dengan Diagnosa Medis rematoid arthritis di wisma bougenfil PSTW Budi luhur Penulis memberikan Asuhan Keperawatan pada klien selama 3 hari sejak 19 November 2012 sampai 21 November 2012 dimana penulis menggunakan metode pendekatan proses keperawatan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah keperawatan. 4.1 Pengkajian 1. Identitas Klien. Pada tinjauan teori dan kasus yang perlu dikaji dari identitas klien adalah nama, jenis kelamin, pendidikan, umur, suku status, pekerjaan, alamat, agama, tanggal masuk rumah sakit, ruangan, kamar klien, nomor register, dan penanggung jawab dalam perawatan. Hal ini berguna agar Asuhan Keperawatan yang tepat dapat dilakukan sesuai dengan individu yang bersangkutan. Semua data diatas merupakan indikator penting bagi klien yang mengalami masalah sistem neorologi, yang merupakan penyebab kematian utama Pada kasus usia, jenis kelamin dan suku juga sangat mempengaruhi karena semakin tua usia seseorang resiko mengidap suatu penyakit semakin tinggi pula, jenis kelamin dan suku juga sangat mempengaruhi gaya hidup seseorang. Sehingga dapat kita ketahui seberapa besar klien beresiko mengidap suatu penyakit 2. Keluhan Utama. Keluhan utama yang muncul pada klien dengang rematik kami temukan pada hari adalah nyeri dan gangguan tidur
3.

Pemeriksaan Fisik. Pada pemeriksaan fisik dilakukan secara head to toe. Hal ini perlu dikaji untuk

mengetahui status kesehatan klien dan dapat membuat rencana tindakan keperawatan serta melaksanakannya dengan tepat. Pada pemeriksaan fisik di tinjauan kasus adanya, nyeri klien mengeluh nyeri pada persendian kedua lututnya

49

4.

Pengkajian Depresi Pada tinjuan kasus ditemukan klien mengalami depresi sedang, klien sering

merasa kosong dn bosan, tidak memiliki harapan untuk hidupnya kesepan, klien hanya berharap dapat meninggal dalam khusnul khotimah 4.2 Diagnosa Keperawatan. Pada tinjauan teoritis diagnose yg mungkin muncul adalah 1. Nyeri berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi. 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kekakuan pada sendi dan penurunan integritas tulang 3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi. 4. Gangguan Citra Tubuh / Perubahan Penampilan Peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas. 5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama, terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas Pada tinjauan kasus penulis menemukan tiga diagnosa keperawatan yang muncul yaitu : 1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik (artritis) 2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama, terbangun lebih awal dan cemas Dari perbandingan pada klien dengan stroke ada 5 masalah, akan tetapi pada kasus hanya terdapat 2 sesuai dengan data yang mendukung untuk di tegakkannya diagnosa keperawatan. 4.3 Perencanaan Keperawatan Dalam tinjauan teoritis perencanaan keperawatan ditujukan pada setiap masalah yang muncul, sedangkan pada kasus penulis menambahkan jangka waktu pencapaian tujuan. Hal ini juga penting untuk mengevaluasi tindakan yang diberikan pada klien untuk
50

mengetahui perkembangan status kesehatan klien. Perencanan dari tidakan yang di fokuskan adalah pada masalah nyeri agar nyeri tidak mengakibatkan gangguan mobilisasi pada klien dan gangguan pola tidur klien agar klien memperoleh waktu istirahat yang berkualitas. 4.4 Pelaksanaan Keperawatan Pada tahap ini sangat diperlukan pendekatan dengan klien, kerja sama sangat diperlukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang terjadi. Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan yang ditujukan untuk mengatasi masalah yang dirasakan saat ini berdasarkan prioritas masalah dan diagnose yang ditegakkan yaitu nyeri berhubungan dengan ketunadayaan fisik dan gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia. Penatalaksaanan dapat berjalan lancar karena klien mau diajak bekerja sama klien mampu melakukan manajemen nyeri dan mengerti pentingnya istirahat tidur dan berusaha untuk menghilangkan situasi stress. Namun kelompok mengalami kesulitan dalam penanganan depresi klien 4.5 Evaluasi Evaluasi merupakan pencapaian tujuan dari proses keperawatan dimana penulis melakukan evaluasi sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan pada tujuan dan hanya dilakukan pada masalah yang terdapat pada kasus. Penulis melakukan evaluasi setiap hari pada catatan perkembangan agar lebih efektif dalam mengevaluasi perkembangan yang terjadi pada klien. Pada hari pertama hingga hari ketiga intervensi, klien masih merasakan adanya nyeri namun rasa nyeri masih dapat terkontrol rasa nyeri tersebut juga timbul sewaktuwaktu tidak secara terus menerus. Gangguan pola tidur klien berangsur-angsur hilang namun belum sepenuhnya klien masih sulit tertidur namun dalam rentang waktu yang lebih sedikit 4.6 Jurnal Berdasarkan penelitian yang dilakukan Armi Kurnia Tarbiyati Dan Soewadi, Sumarni di kecamatan mergangsan yogyakarta pada tahun 2004 dengan judul hubungan antara insomnia dan depresi pada lanjut usia di kecamatan mergangsan Yogyakarta, terdapat pengaruh antara terjadinya depresi pada lansia terhadap insomnia, begitu juga yang terjadi pada klien kami Ny. F menurut hasil pengajian skala depresi klien mengalami depresi sedang,dan kesulitan untuk tidur (insomnia) klien merasa, tidak memiliki harapan hidup
51

kedepan, klien juga merasa kosong, klian sering memikirkan masalah dalam keluarganya sebelum klien tidur, klien juga sering terbangun dimalah hari namun sulit untuk tidur lagi. Depresi pada lansia kadang-kadang tidak terdiagnosis dan tidak mendapatkan penanggungan yang semestinya karena gejala-gejala yang muncul seringkali dianggap sebagai proses penuaan yang normal. Dalam masyarakat perempuan lebih besar mengalami depresi dibandingkan dengan laki-laki, ini disebabkan karena ada perempuan yang bekerja dan mengurus rumah tangga, maka peluang muncul masalah yang dihadapi lebih banyak sehingga dapat mengganggu pikiran dan dapat mencetuskan terjadinya depresi dan insomnia. Proses menjadi lansia akan membawa perubahan pola tidur. Gangguan yang sering dijumpai pada lansia adalah insomnia. Sepertiga dari populasi yang lebih tua dari 65 tahun mengalami insomnia. Penelitian oleh Suryo 2003 menyatakan bahwa dibandingkan dengan cemas dan nyeri maka kejadian depresi pada lansia dengan insomnia adalah yang terbanyak. Marchia menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat depresi semakin besar kemungkinan mengalami insomnia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh I Nengah Sumirta tahun 2008 tentang hubungan antara aktifitas fisik dengan depresi pada lansia dipanti pelayanan lanjut usia wana seraya denpasar hal ini bertolak belakang dengan klien kami Ny F. Ny F masih dapat melakukan aktifitas secara mandiri dan dapat beraktifitas secara normal bebas tanta adanya masalah pada mobilisasi klien, hasil studi yang dilakukan oleh I Nengah Sumarti tahun 2008 dan Bondan tahun 2005 yang menyatakan keterbatasan melakukan aktifitas dapat menyebabkan depresi, depresi juga dapat menyebabkan disabilitas fisik. Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ariawan tahun 2000 faktor factor yang dapat menimbulkan depresi pada lansia adalah stress psikologi, keterbatasan melakukan ADL dan aktifitas kegiatan instrument setiap hari Dan klien kami Ny F mengalami gangguan depresi dikarenakan masalah psikologi

52

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Setelah diberikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan rematoid astritis maka dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kesenjangan antara teori dan kasus pada pengakajian tidak ditemukan semua tanda dan gejala hanya beberapa yaitu nyeri kronis berhubungan dengan krtunadayaan fisik (artritis) dan gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia Pada penatalaksanaan yang terjadi dilapangan klien Ny. F kooperatif dan mau diajak bekerja sama sehingga memudahkan proses keperawatan 5.2 Saran. Berdasarkan hasil penerapan kasus yang telah dilakukan pada klien, maka penulis memberikan beberapa saran yang kiranya berguna bagi kita semua untuk perbaikan dimasa yang akan datang. a. Untuk pelaksana praktek
1.

Dalam melakukan pengkajian pada klien hendaknya dilakukan dengan

secara teliti sehingga diperoleh data yang akurat untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan. 2. Dalam menetapkan perencanaan hendaknya perawat memperhatikan seluruh aspek perawatan yaitu bio, psiko, sosio dan spiritual, sehingga Asuhan Keperawatan dapat diberikan secara komprehensif. 3. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan diperlukan kerjasama dengan tim kesehatan lainnya untuk penunjang pelaksanaan keperawatan yang menyeluruh terhadap klien dan dilakukan berdasarkan prioritas masalah. 4. Dalam melakukan evaluasi hendaknya perawat dapat melakukan perbandingan antara tujuan dan kriteri hasil yang telah ditetapkan dengan hasil yang ditemui pada klien, apakah masalah dapat teratasi seluruhnya atau sebagaian saja atau mungkin tidak teratasi sama sekali.
53

b. Untuk klien 1. Klien hendaknya tidak memikirkan permasalahan- permasalahan yang dapat mengganggu kesehatanya 2. Klien hendaknya lebih memiliki harapan dan menghilangkan rasa kosong yang ada didalam diri klien.
3. Klien hendaknya terus

melatih kekuatan seluruh otot ekstrimitasnya dan

beraktifitas secara normal dan istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan klien

54

DAFTAR PUSTAKA Gloria, M.B. (2004). Nursing Intervention Classification. America: Mosby Elsevier. Herdman, T.H. (2009). NANDA International Nursing Diagnoses: Defenitions and Classification edition 2009-2011. United Kingdom: Willey Blackwell. http://ajunkdoank.wordpress.com/2008/12/25/definisi-dan-patologi-osteoarthritis-oa/, diakses 17 Oktober 2011 http://www.slideshare.net/sibermedik/osteoartritis-2809824, diakses 17 Oktober 2011 http://mukipartono.com/osteoartritis/ diakses 17 Oktober 2011 Lueckenotte, A.G. (1996). Gerontologic Nursing. America: Mosby. Masjoer, A, dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran (edisi ketiga). Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Media Aesculapius. Moorhead. (2004). Nursing Outcomes Classification (fourth edition). America: Mosby Elsevier Purwoastuti, E. (2009). Waspadai Gangguan Rematik. Yogyakarta: Kanisius. Wiyayakusuma, H. (2007). Atasi Rematik dan Asam Urat Ala Hembing. Jakarta: Puspa Swara.

55