You are on page 1of 2

Buletin the WAHID Institute

Agama dan Keyakinan dalam R–KUHP


Alamat Redaksi: Jl. Taman Amir Hamzah No 8 Jakarta 10320 Indonesia. Telp: +62 21–3928233, 3145671 Faks: +62 21–3928250
E–mail: info@wahidinstitute.org. Web: www.wahidinstitute.org ; www.gusdur.net

Pengantar Redaksi Pasal Penodaan Agama


Dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) pasal
dalam KUHP
tentang penodaan agama masuk
dalam Bab V tentang Kejahatan
terhadap Ketertiban Umum.

P
Bab tersebut tidak secara ASAL 156a KUHP selengkapnya berbunyi: “Dipidana dengan
spesifik berbicara tentang pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja
agama, tapi berbagai macam hal
di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a.
yang dianggap terkait dengan
kepentingan umum seperti yang pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan
menyatakan perasaan kebencian terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b. dengan maksud agar
dan permusuhan terhadap supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan Ketuhanan
pemerintah Indonesia (pasal 154 Yang maha Esa.”
dan 155), menodai bendera dan
lambang negara (pasal 154a), Perlu dijelaskan bahwa pasal tersebut tidak berasal dari Wetboek van
menghina golongan rakyat Strafrecht (WvS) Belanda, melainkan dari UU No. 1/PNPS/1965 tentang
Indonesia (pasal 156) dan Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama. Pasal 4 undang-
sebagainya. undang tersebut langsung memerintahkan agar ketentuan di atas dimasukkan
Pasal yang paling sering ke dalam KUHP.
digunakan terkait dengan
Pasal 1 Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tegas menyebutkan
penodaan agama adalah pasal
156a. Pasal ini telah banyak larangan mengusahakan dukungan umum dan untuk melakukan penafsiran
memakan korban (akan dibahas tentang sesuatu agama. Ketentuan pasal ini selengkapnya berbunyi: “Setiap
edisi berikutnya), meskipun orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau
orang yang dituduh melakukan mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama
penodaan agama tidak yang utama di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang
selamanya bermaksud menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang
melakukan penodaan agama. dari pokok-pokok ajaran dari agama itu”.
Pasal ini bukan asli dari KUHP
Belanda, tapi dimasukkan Pasal 156a ini dimasukkan ke dalam KUHP Bab V tentang Kejatahan
belakangan. Darimana dia terhadap Ketertiban Umum yang mengatur perbuatan menyatakan perasaan
berasal? permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap orang atau golongan
lain di depan umum. Juga terhadap orang atau golongan yang berlainan
suku, agama, keturunan dan sebagainya. Pasal-pasal tersebut tampaknya
merupakan penjabaran dari prinsip anti-diskriminasi dan untuk melindungi
minoritas dari kewenang-wenangan kelompok mayoritas.
Dew an R
Dewan edaksi: Yenny Zannuba
Redaksi: Mengapa aturan tentang penodaan agama perlu dimasukkan dalam
Wahid, Ahmad Suaedy, KUHP? Pertanyaan ini barangkali bisa dijawab dengan memperhatikan
Rumadi, Moqsith Ghazali konsideran dalam UU No. 1/PNPS/1965 tersebut. Di sana disebutkan
Redaktur: Gamal Ferdhi, Subhi beberapa hal, antara lain: pertama, undang-undang ini dibuat untuk
Azhari, Nurul Maarif, Nurun Nisa mengamankan Negara dan masyarakat, cita-cita revolusi dan pembangunan
Desain: Widhi Cahya nasional dimana penyalahgunaan atau penodaan agama dipandang sebagai

Kerjasama The Wahid Institute—Yayasan TIFA No. 2/Juni 2006


Pasal Penodaan Agama dalam KUHP
ancaman revolusi. Kedua, timbulnya dianggap menodai agama. Pasal ini Tindak Pidana terhadap
berbagai aliran-aliran atau bisa digunakan untuk menjerat Kehidupan Beragama dan Sarana
organisasi-organisasi kebatinan/ penulis komik, wartawan, pelaku Ibadah. Bagian ini mengatur dua
kepercayaan masyarakat yang ritual yang berbeda dengan main- hal, yaitu Gangguan terhadap
dianggap bertentangan dengan stream, aliran sempalan, dan Penyelenggaraan Ibadah dan
ajaran dan hukum agama. Aliran- sebagainya. Karena kelenturannya Kegiatan Keagamaan (pasal 346-
aliran tersebut dipandang telah itu, “pasal karet” bisa direntangkan 347); dan Perusakan Tempat
melanggar hukum, memecah hampir tanpa batas. Ibadah (pasal 348). (Masalah ini
persatuan nasional dan menodai akan dibahas di nomor
agama, sehingga perlu Pada dasarnya, pasal ini tidak selanjutnya)
kewaspadaan nasional dengan hanya bisa dipakai untuk menjerat
mengeluarkan undang-undang ini. aliran-aliran seperti Lia Eden dan Dari gambaran tersebut dapat
Ahmadiyah, misalnya, melainkan dilihat dengan jelas adanya upaya
Ketiga, karena itu, aturan ini juga bisa dikenakan kepada aliran- untuk merentangkan lebih luas
dimaksudkan untuk mencegah aliran atau organisasi agama yang aspek penodaan agama ini. Di sini
agar jangan sampai terjadi suka membuat kekerasan dan onar perlu ketelitian dan antisipasi untuk
penyelewengan ajaran-ajaran di dalam masyarakat yang menyusun dan memunculkan
agama yang dianggap sebagai mengatasnamakan agama tertentu. pasal-pasal tentang agama dalam
ajaran-ajaran pokok oleh para Sayangnya, dalam praktiknya, pasal R-KUHP yang lebih berorientasi
ulama dari agama yang 156a ini tidak pernah diterapkan pada perlindungan korban. Pasal-
bersangkutan; dan aturan ini baik oleh Polisi maupun Hakim pasal dalam R-KUHP tentang
melindungi ketenteraman untuk melindungi korban. Dalam agama ini semestinya
beragama tersebut dari penodaan/ kasus Lia “Eden” Aminudin, diorientasikan disamping untuk
penghinaan serta dari ajaran-ajaran misalnya, yang justru ditangkap dan melindungi kepentingan umum,
untuk tidak memeluk agama yang diadili ketika ada tekanan massa. Lia juga untuk melindungi kebebasan
bersendikan Ketuhanan Yang sebagai korban justru dikorbankan beragama baik mayoritas maupun
Maha Esa. Keempat, seraya dan dijerat dengan pasal ini karena minoritas dan juga melindungi
menyebut enam agama yang diakui ada tekanan dari FPI yang dipicu minoritas dari ancaman
pemerintah (Islam, Kristen, oleh Fatwa MUI yang diskriminasi dan kewewenang-
Katolik, Hindu, Budha dan Khong menganggapnya sesat. wenangan mayoritas. Pasal ini juga
Hu Cu [Confusius]), undang- harus bisa menjamin bahwa
undang ini berupaya sedemikian Jika dalam KUHP yang selama perbedaan penafsiran dan cara
rupa agar aliran-aliran keagamaan ini berlaku penodaan agama hanya pandang atas berbagai masalah
di luar enam agama tersebut ada dalam satu pasal (156a), dalam keagamaan tidak kemudian
dibatasi kehadirannya. Rancangan KUHP yang merevisi dituduh melakukan penodaan
KUHP lama, pasal penodaan agama. Karena, menuduh orang
Pasal 156a dalam praktiknya agama diletakkan dalam bab melakukan penodaan agama tidak
memang menjadi semacam peluru tersendiri, yaitu Bab VII tentang bisa hanya berangkat dari asumsi
yang mengancam, daripada Tindak Pidana terhadap Agama dan prasangka, namun harus bias
melindungi warga Negara. dan Kehidupan Keagamaan yang dibuktikan bahwa orang tersebut
Ancaman itu terutama bila di dalamnya ada 8 (delapan) pasal. memang bermaksud melakukan
digunakan oleh kekuatan yang anti Dari delapan pasal itu dibagi dalam permusuhan, merendahkan, dan
demokrasi dan anti pluralisme, dua bagian: Bagian I mengatur melecehkan agama. Revisi KUHP
sehingga orang dengan mudah tentang tindak pidana terhadap tidak boleh disandera kelompok
menuduh orang lain telah Agama. Bagian ini mengatur tertentu dengan meminjam
melakukan penodaan agama. tentang Penghinaan terhadap “tangan Negara” guna
Dalam pratiknya pasal ini seperti Agama (pasal 341-344) dan memuluskan agenda-agenda
“pasal karet” (hatzaai articelen) yang Penghasutan untuk Meniadakan politiknya.
bisa ditarik-ulur, mulur-mungkret Keyakinan terhadap Agama (pasal
untuk menjerat siapa saja yang 345). Bagian II mengatur tentang Ahmad Suaedy dan Rumadi