You are on page 1of 2

Buletin the WAHID Institute

Agama dan Keyakinan dalam R–KUHP


Alamat Redaksi: Jl. Taman Amir Hamzah No 8 Jakarta 10320 Indonesia. Telp: +62 21–3928233, 3145671 Faks: +62 21–3928250
E–mail: info@wahidinstitute.org. Web: www.wahidinstitute.org ; www.gusdur.net

Bebas dari Tuduhan Penodaan agama (2)


Pengantar Redaksi Pembebasan Teguh Santosa

K
Edisi kali ini masih membicatakan asus ini bermula ketika media www.rakyatmerdeka.co.id pada
tentang kasus dimana seorang bisa lepas tanggal 2 Pebruari 2006 menayangkan gambar karikatur atau
dari tuduhan penodaan agama. ilustrasi Nabi Muhammad dengan ciri-ciri berewokan,
Pembebasan dari tuduhan penodaan berjenggot dan berkumis awut-awutan, serta memakai sebuah sorban
agama ini menarik untuk dikaji, karena yang di dalamnya ada sebuah bom dengan sumbu tersulur. Di tengah
hal ini merupakan fenomena baru yang sorban tersebut bertuliskan lâ ilâha illallâh muhammadurrasûlullâh,
nyaris tidak ada preseden sebelumnya. dengan kedua matanya diblok merah. Gambar itu sendiri merupakan
Jika sebelumnya sudah dikaji tentang karikatur yang dilansir sebuah media di Denmar
pembebasan Muhammad Abdul Teguh Santosa yang menjabat sebagai redaktur eksekutif media
Rahman, edisi kali ini akan mengulas tersebut dianggap paling bertanggung jawab. Apalagi, sebagaimana
pembebasan Teguh Santosa, pemimpin disebutkan dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU),
redaksi media www.rakyatmerdeka.co.id. penayangan gambar tersebut tidak melalui prosedur normal, yaitu
Teguh Santosa dianggap bertanggung melalui reporter, baru kemudian diteruskan ke redaktur pelaksana.
jawab atas pemuatan karikatur yang
Penayangan gambar ini, menurut JPU murni merupakan inisiatif Teguh
dianggap menghina Nabi Muhammad
Santosa yang tidak melibatkan stafnya.
dalam media tersebut.
Kartun Nabi Muhammad yang ditayangkan dalam Rakyat Merdeka
Dalam proses penyidikan, Teguh Online sendiri dilansir dari harian Denmark Jyllands Posten pada edisi
Santosa tidak ditahan oleh penyidik Polri. 30 September 2005. JPU Firmansyah mendakwa penanggung jawab
Tapi oleh Jaksa penuntut umum ia
media milik grup Jawa Pos itu melanggar Pasal 156a Kitab Undang-
ditahan pada 19 Juli 2006, sebelum
undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penodaan agama. Pelanggar
akhirnya ditangguhkan pada 20 Juli 2006
esok harinya. Dalam Proses persidangan,
pasal ini bisa dihukum lima tahun penjara. Karikatur Jyllands Posten itu
Teguh Santosa didampingi setidaknya 5
sendiri menjadi kontroversi di dunia Islam, bukan saja karena dalam
(lima) orang penasehat hukum, antara
Islam ada doktrin tidak boleh menvisualisasi Nabi Muhammad tapi
lain: Sabroni, SH., M. Khairuddawam, karena penghinaan atas orang yang disucikan dalam Islam dengan
SH., Hendrayana, SH., Misbahuddin, menampilkan karakter yang bengis, meski hanya lewat gambar.
SH., dan Nawawi Baharudin, SH. Demonstrasi terjadi dimana-mana, bahkan di beberapa negara
Kedutaan Besar Swedia –asal media Jyllands Posten—dilempari dan
dibakar. Hubungan Islam dan Barat tiba-tiba kembali menegang.
Di Rakyat Merdeka Online kartun itu tidak muncul persis seperti
versi aslinya. Media ini memberi blok merah pada kedua mata pria
Dew an R
Dewan edaksi: Yenny Zannuba
Redaksi: bersorban tersebut. Pemuatan tersebut, kata Teguh, untuk memberi
Wahid, Ahmad Suaedy, gambaran kepada pembaca tentang kartun yang dihebohkan. ”Tak
Rumadi, Moqsith Ghazali ada niat sama sekali untuk menodai agama,” kata Teguh. Efeknya
Redaktur: Gamal Ferdhi, Subhi di luar dugaan. Protes bermunculan. Ada yang menelepon ke redaksi.
Azhari, Nurul Maarif, Nurun Nisa Ada yang mengirim SMS dan menelepon ke telepon genggam Teguh.
Desain: Widhi Cahya Melihat gelagat ini, sore harinya kartun ”dicabut”. Rakyat Merdeka

Kerjasama The Wahid Institute—Yayasan TIFA No.9/Januari 2007


Pembebasan Teguh Santosa seharusnya diproses melalui Undang-Undang
Pers.
Online juga mengeluarkan permintaan maaf. Setelah melalui proses pengadilan di Pengadilan
Namun langkah ini tak memadamkan api Negari Jakarta Selatan dengan memperhatikan
amarah. Esok harinya, sekitar 200 anggota Front dakwaan JPU, eksepsi terdakwa, eksepsi tim
Pembela Islam (FPI) mendatangi kantor Rakyat penasehat hukum, majlis hakim yang dipimpin H.
Merdeka Online di Kebayoran Baru, Jakarta Wahjono, SH, M.Hum pada sidang terakhir pada
Selatan. Dipimpin Machsuni Kaloko, mereka Rabu 20 September 2006, berpendapat bahwa
mempertanyakan alasan pemuatan tersebut. dakwaan JPU tidak sesuai dengan tindak pidana
Teguh menjelaskan, hal itu dilakukan semata- yang dilakukannya, maka dakwaan JPU tidak
mata demi kelengkapan berita. ”Mereka bisa dapat diterima dan berita acara penyidikan
mengerti penjelasan kami,” kata Teguh. Namun, dikembalikan kepada JPU.
urusan masih berbuntut panjang. Dua bulan Pembebasan Teguh Santosa dari tuduhan
kemudian, Teguh dipanggil penyidik dari Unit melakukan tindak pidana penodaan agama
Cyber Crime Polda Metro Jaya. Selain memeriksa, merupakan pembebasan kali pertama kasus
aparat juga menyita satu komputer milik Rakyat penodaan agama yang terjadi ditahun 2006 yang
Merdeka Online. Teguh didakwa melakukan beberapa bulan berikutkan diikuti kasus
penistaan agama. Pada 19 Juli 2006, polisi pembebasan Abdul Rahman dari komunitas Eden.
melimpahkan berkas perkaranya ke Kejaksaan Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apa
Tinggi Jakarta Selatan. Kejaksaan Ting gi yang bisa kita maknai dari kasus pembebasan ini?
bertindak cepat. Petang hari setelah menerima Pertama, kasus Teguh Santosa ini bisa dikatakan
kasus itu, mereka menjebloskan Teguh ke penjara sebagai satu-satunya kasus penodaan agama yang
Cipinang. Hanya semalam Teguh meringkuk di inisiatif penuntutannya langsung dari polisi dari
hotel prodeo itu. Penahanan dia kemudian JPU. Dalam kasus-kasus penodaan agama yang
ditangguhkan atas permintaan istrinya yang baru terjadi sebelumnya, biasanya melalui proses aduan
tiga hari melahirkan. dari masyarakat yang merasa dirugikan. Bukan
Teguh mengaku heran dengan diprosesnya kasus hanya aduan, bahkan biasanya diikuti dengan
ini. Ia sudah bertemu dengan Abu Bakar Ba’asyir, proses pengerahan massa untuk mendesak aparat
Fauzan al-Anshari dari Majelis Mujahidin Indo- agar melakukan tindakan hukum terhadap pelaku.
nesia, serta Habib Rizieq dari FPI. Menurut Dalam kasus ini, kelompok-kelompok Islam
Teguh, pemimpin-pemimpin ormas Islam itu radikal yang punya hobi melaporkan orang ke
sudah tak mempermasalahkan lagi kasus tersebut. kepolisian justru tidak melakukan hal itu dan
Kepada Tempo, Fauzan membenarkan Teguh penjelasan Teguh Santosa kepada mereka bisa
pernah menemui dirinya. ”Tak ada niat untuk diterima. Karena itu, tidak heran kalau ada orang
menodai agama. Itu yang disampaikan dia kepada yang memberi komentar, dalam kasus Teguh
kami,” kata Fauzan. Fauzan menyatakan bisa Santosa ternyata Jaksa lebih fundamentalis dari
menerima alasan Teguh yang menyatakan Islam fundamentalis sendiri.
pemuatan kartun itu untuk kelengkapan berita. Kedua, terkait dengan komentar di atas, ada
Panglima Laskar FPI, Machsuni, juga kesan bahwa aparat penegak hukum ingin
menyebutkan bahwa pihaknya mengerti alasan dikatakan responsif atas sebuah kasus. Sikap
Teguh memunculkan kartun itu. ”Kami responsif tentu tidak salah kalau perbuatan yang
menyatakan masalah ini selesai setelah Rakyat dituduhkan itu memang tindak pidana yang
Merdeka Online mencabut kartun itu dan minta menjadi ancaman serius bagi banyak orang,
maaf,” kata dia. Machsuni mengaku heran kasus namun dalam kasus Tegus Santosa tampak bahwa
ini akhirnya dihadirkan ke meja hijau. ”Kami tak aparat telah overacting dengan mengumbar pasal
pernah melaporkan kasus ini ke polisi,” katanya. penodaan agama. Namun, tuduhan tersebut tidak
(Majalah Tempo, Edisi. 28/XXXV/04 - 10 disertai dengan bukti-bukti yang kuat, sehingga
September 2006). argumen JPU mudah dipatahkan.
Namun, menurut JPU, permintaan maaf atau Ketiga, kasus pembebasan ini Teguh Santosa ini
pencabutan kartun dengan serta-merta juga bisa menjadi bukti, ketiadaan tekanan massa
menghilangkan tindak pidana. Tindak pidana yang akan menjadikan hakim “lebih berani”. Andaikan
dilakukan Teguh Santosa termasuk delik biasa. tekanan massa begitu kuat, belum tentu Teguh
Jadi, tanpa ada pelapor pun aparat penegak Santosa dibebaskan dari tuntutan ini. Meski
hukum tetap bisa memprosesnya. Teguh akhirnya begitu, pembebasan dari tuduhan penodaan agama
memang diproses dengan KUHP meski beberapa ini tetap merupakan hal baik yang harus dicatat
kalangan melakukan protes karena Teguh sedang dalam dunia peradilan. Tanpa tekanan ternyata
menjalankan profesinya sebagai wartawan yang hakim bisa berfikir lebih independen.[] (RMD)