You are on page 1of 5

2.6. PENATALAKSANAAN HEPATITIS Saat ini telah banyak jenis pengobatan yang diberikan pada pasien penyakit hepatitis.

Pengobatan yang diberikan dapat berupa tindakan medis (kedokteran) maupun non medis. Tindakan non medis antara lain adalah akupunktur, akupresure, reflesiologi, pengobatan herbal, dan lain-lain. Tindakan non medis ini dapat diberikan sebagai tindakan komplementer dari tindakan medis ataupun alternatif. Terapi secara medis dapat berupa terapi suportif, simtomatis dan kausatif. Terapi suportif adalah terapi yang membantu agar fungsi-fungsi penting tubuh tetap bekerja dengan baik. Terapi simtomatis diberikan pada pasien untuk meringankan gejala penyakit. Sedangkan terapi kausatif berguna untuk menghilangkan penyebab dari penyakit hepatitis itu sendiri, biasanya berupa antivirus pada kasus penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus. Terapi medis yang biasa diberikan pada penderita penyakit hepatitis, baik karena virus (hepatitis A,B,C,D,E) maupun toksik diantaranya adalah: 1. Istirahat di tempat tidur Penderita penyakit hepatitis tipe apapun harus menjalani istirahat di tempat tidur saat mengalami fase akut. Jika gejala klinis cukup parah, penderita sebaiknya perlu dirawat di rumah sakit. Penderita harus mengurangi aktivitas hariannya. Tujuan dari istirahat ini adalah memberi kesempatan pada tubuh untuk memulihkan sel-sel yang rusak. 2. Pola makan sehat (nutrisi yang adekuat) Penderita hepatitis tipe apapun dianjurkan untuk melakukan diet dengan gizi seimbang. Tidak ada larangan spesifik terhadap makanan tertentu bagi penderita penyakit hepatitis. Tapi sebaiknya semua makanan yang dikonsumsi pasien mengandung cukup kalori dan protein. Satu-satunya yang dilarang adalah makanan maupun minuman beralkohol. Biasanya penderita penyakit hepatitis akut merasa mual di malam hari. Oleh karena itu sebaiknya asupan kalori diberikan secara maksimal di pagi hari. Jika penderita mengalami rasa mual yang hebat atau bahkan muntah terus menerus maka biasanya makanan diberikan dalam bentuk cair melalui infus.

3. Mencegah terjadinya stres lebih lanjut pada hepar dengan menghindari bahanbahan dan obat-obat hepatoksik. Hepatitis penyebabnya, toksik dapat ditangani terutama dengan menghindari alkohol, misalnya menghentikan penggunaan

narkoba atau obat-obatan yang mengganggu hati. Jika hepatitis disebabkan oleh infeksi oportunistik (OI) yang terkait AIDS maka OI itu harus ditangani agar hati bisa sembuh. 4. Pemberian obat dan antivirus Penderita penyakit hepatitis diberi obat untuk mengatasi peradangan yang terjadi di hati. Selain itu pada kasus penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus, penderita diberi antivirus dengan dosis yang tepat. Tujuan pemberian antivirus ini adalah untuk menekan replikasi virus. Virus membutuhkan sel inang untuk melakukan replikasi (menggandakan diri). Sel inang dalam kasus hepatitis adalah sel-sel hati. Proses replikasi virus melalui beberapa tahapan. Tahap pertama virus melakukan penetrasi (masuk) ke dalam sel inang (sel hati). Tahap kedua virus melakukan pengelupasan selubung virus. Tahap ketiga adalah sintesis DNA virus. Tahap keempat adalah tahap replikasi. Tahap terakhir adalah tahap pelepasan virus keluar dari sel inang dalam bentuk virus-virus baru. Virus-virus baru inilah yang siap menginfeksi sel-sel hati lainnya. Antivirus bekerja menghambat salah satu tahapan tersebut, tergantung jenis antivirusnya. Beberapa macam antivirus diantaranya adalah interferon, lamivudin, ribavirin, adepovir dipivoksil, entecavir, dan telbivudin. Antivirus diberikan berdasarkan hasil tes darah dan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Hasil penelitian menunjukan bahwa terapi antivirus akan lebih efektif pada kasus hepatitis aktif. Fungsi hati dan ginjal harus terus di monitor selama terapi antivirus, sehingga efek samping dapat dicegah sedini mungkin. Terapi anti virus pada pasien hepatitis C, kombinasi terapi interferon dan ribavirin adalah yang dianjurkan. Sedangkan pada kasus hepatitis D kronis membutuhkan pasien uji eksperimental.

Catatan: a. Interferon Interferon adalah protein alami yang disintesis oleh sel-sel sistem imun tubuh sebagai respon terhadap adanya virus, bakteri, parasit, atau sel kanker. Ada tiga jenis interferon yang memiliki efek antivirus. Ketiganya adalah interferon alfa, beta, dan gamma. Efek antivirus yang paling baik diberikan oleh interferon alfa. Interferon alfa bekerja hampir pada setiap tahapan replikasi virus dalam sel inang. Interferon alfa digunakan untuk melawan virus hepatitis B dan virus hepatitis C. Interferon biasanya diberikan melalui suntikan. Efek samping interferon timbul beberapa jam setelah injeksi diberikan. Efek samping dari pemberian interferon diantaranya adalah rasa seperti gejala flu, demam, mengigil, nyeri kepala, nyeri otot, dan sendi. Setelah beberapa jam, gejala dari efek samping tersebut mereda dan hilang. Efek samping jangka panjang yang dapat timbul adalah gangguan pembentukan sel darah yaitu menurunnya jumlah sel granulosit (granulositopenia) dan menurunnya jumlah trombosit (trombositopenia), mengantuk bahkan rasa bingung. b. Lamivudin Lamivudin adalah antivirus jenis nukleotida yang menghambat enzim reverse transcriptase yang dibutuhkan dalam pembentukan DNA. Lamivudin diberikan pada penderita hepatitis B kronis dengan replikasi virus aktif dan peradangan hati. Pemberian lamivudin dapat meredakan peradangan hati, menormalkan kadar enzim ALT dan mengurangi jumlah virus hepatitis B pada penderita. Terapi lamivudin untuk jangka panjang menunjukkan menurunnya resiko fibrosis, sirosis, dan kanker hati. Namun lamivudin memiliki kelemahan yang cukup vital yaitu dapat menimbulkan resistensi virus. Efek samping yang mungkin muncul dari pemberian lamivudin antara lain rasa lemah, mudah lelah, gangguan saluran pencernaan, mual, muntah, nyeri otot, nyeri sendi, sakit kepala, demam, serta kemerahan. Efek samping yang berbahaya lainnya adalah radang pankreas, meningkatnya kadar asam laktat, dan pembesaran hati. Namun umumnya efek samping tersebut dapat ditolerir oleh pasien. Terapi lamivudin ini tidak boleh diberikan pada ibu hamil.

c. Ribavirin Ribavirin dapat menghambat replikasi RND dan DNA virus. Ribavirin tersedia dalam bentuk tablet, spray (semprot), dan suntikan. Pada penderita hepatitis C, ribavirin biasanya ditujukan sebagai terapi kombinasi bersamaan dengan terapi interferon alfa. Efek samping pada penggunaan ribavirin spray adalah iritasi ringan pada mata, bersin-bersin, dan kemerahan pada kulit. Sementara terapi ribavirin tablet dan injeksi dapat menimbulkan efek samping berupa nyeri kepala, gangguan saluran pencernaan, kaku badan, dan mengantuk. Pemakaian jangka lama ribavirin dapat menyebabkan anemia, limfopenia, serta berkurangnya pembentukan sel darah. Ribavirin ini tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan pasien hepatitis C dengan kerusakan ginjal. d. Adepovir dipivoksil Adepovir dipivoksil berfungsi sebagai penghenti proses penggandaan untai DNA (DNA chain terminator), meningkatkan jumlah sel yang berperan dalam sistem imun (sel NK) dan merangsang produksi interferon dalam tubuh. Kelebihan adepovir dipivoksil dibandingkan dengan lamivudin adalah jarang menimbulkan resistensi virus. Efek samping yang ditimbulkan adepovir dipivoksil antara lain adalah nyeri pada otot, punggung, persendian, dan kepala. Selain itu terdapat juga gangguan pada saluran pencernaan seperti mual atau diare, gejala flu, radang tenggorokan, batuk dan peningkatan kadar alanin aminotransfrase. Gangguan fungsi ginjal juga dapat terjadi pada dosis berlebih. e. Entecavir Entecavir berfungsi untuk menghambat enzim polymerase yang dibutuhkan dalam sintesis DNA virus. Kelebihan entecavir adalah jarang menimbulkan resistensi virus setelah terapi jangka panjang. Sedangkan efek samping yang dapat ditimbulkannya adalah nyeri kepala, pusing, mengantuk, diare, mual, muntah, nyeri pada ulu hati dan insomnia. f. Telbivudin Telbivudin adalah jenis antivirus yang relatif baru. Terapi telbivudin diberikan pada pasien hepatitis B dengan replikasi virus dan peradangan hati

yang aktif. Telbivudin berfungsi menghambat enzim DNA polymerase yang membantu proses pencetakan material genetic (DNA) virus saat bereplikasi. Meski belum didukung data yang cukup bahwa telbivudin aman bagi ibu hamil, sebaiknya terapi telbivudin tidak diberikan pada ibu hamil maupun menyusui. Efek samping dari terapi telbivudin antara lain adalah mudah lelah, sakit kepala, pusing, batuk, diare,mual, nyeri otot, dan rasa malas. 5. Setelah terpajan virus hepatitis A, imunisasi pasif dapat dilakukan melalui penggunaan serum globulin imun yang mengandung anti HAV dengan jumlah yang adekuat. 6. Hepatitis E merupakan hepatitis yang tergolong hepatitis ringan dan dapat disembuhkan secara total. Jenis terapi yang bisa dilakukan adalah istirahat yang cukup, berobar secara teratur, dan diet dengan seimbang.

DAPUSsssssssssssss:
Anonim. 2008. Pengobatan penyakit hepatitis. Diakses http://www.penyakithepatitis.com/Pengobatan%20Hepatitis.htm. tanggal 04 April 2009, jam 11.45 WIB. Anonim. 2007. Askep Hepatitis.

http://www.4shared.com/file/73191389/a764cbb5/Askep_Hepatitis.pdf. Diakses tanggal 04 April 2009, jam 11.45 WIB.