You are on page 1of 10

MORALITAS DAN MEROKOK Tibor R.

Machan
PEMBUKAAN Banyak perdebatan di masyarakat apakah merokok dapat diterima secara moral atau tidak. Beberapa orang menganggap itu dapat diterima moral tapi ada juga yang harus menahan diri untuk tidak merokok. Selain itu, ada juga yang memperdebatkan apakah merokok harus dilarang oleh hukum karena beberapa orang menganggap itu adalah hak asasi manusia. Pendapat apakah merokok dapat diterima secara moral sangat bervariasi dari beberapa orang. Ayn Rand pada bukunya yang menjadi best selling Atlas Shrugged, memuji simbolisme dari rokok. Hal ini menunjukkan kuasa dari manusia atas alam. Beliau berpendapat bahwa saya suka berfikir bahwa api ada di tangan saya, sebuah hal yang berbahaya yaitu api dapat saya jinakkan di ujung jari saya, saya ingin tahu hal-hal besar yang dapat saya lakukan. Ketika manusia merokok, dia dapat mengekspresikan hidup mereka. Di lain sisi, ada kelompok yang menganggap merokok itu salah secara moral dan pemerintah harus melarangnya. Seperti dilansir pada web anti rook bahwa rokok sudah menyebar begitu luas, tetapi bahaya rokok hanya sedikit yang memperhatikannya. Di beberapa Negara, remaja yang merokok di area umum dikenakan sanksi oleh pemerintah, dan juga beberapa tempat komersial melarang untuk merokok dan menyediakan tempat khusus perokok. Tapi yang lebih penting, mereka yang percaya merokok merupakan hal yang salah secara moral dan mengucilkan perokok bukan karena mereka melakukan hal yang menjijikkan dengan efek samping yang berbahaya, tetapi itu merupakan hak asasi manusia. Sebagian besar dari apa yang saya bela adalah sebagai berikut orang dewasa tidak terikat oleh paksaan untuk tidak merokok, meskipun mereka mengetahui secara jelas risiko dari bahaya merokok itu yang vital adalah kesehatan tetapi ada yang lebih penting dari hal tersebut yaitu kehidupan individu yang berjalan baik. MORALISME, OBJEKTIVISME, DAN PLURALISME Banyak dari kita membuat tuntutan etika, politik dan estetika, walaupun banyak keraguan apakah itu benar. Sebaliknya, tuntutan seperti dikatakan - oleh beberapa tokoh paling menonjol dalam ilmu-ilmu sosial dan filsafat - menjadi "subyektif" atau "relatif" atau bahkan di luar batas-batas akal. Politik ekonom Milton Friedman, misalnya, menyatakan 1

bahwa 'buruk' dan 'baik' orang mungkin orang yang sama, tergantung pada siapa yang menghakimi mereka. Filsuf Richard Rorty mengatakan bahwa dalam hal prinsip-prinsip politik, "Kita tidak bisa mengatakan bahwa lembaga-lembaga demokrasi mencerminkan suatu realitas moral yang benar dan rezim tirani mencerminkan suatu realitas moral yang salah. Sebuah pendapat merupakan hal yang subjektif, dimana dapat diambil kesepakatan bersama menjadi sebuah hal yang disepakati. Orang-orang memiliki budaya yang berbeda dari tempat yang berbeda dan berasal dari waktu yang berbeda percaya terhadap suatu pendapat yang sudah diakui kebenarannya. Sebagai contoh hal yang sudah diakui secara universal bahwa orang tua akan benar-benar mendidik anaknya untuk kemudian kelak menjadi seseorang dewasa yang siap mental menjalani hidup, melakukan semuanya dengan akal sehat berada di luar cara-cara yang salah. Dapat dikatakan banyak orang takut untuk mengemukakan kebenaran mereka karena takut untuk maju mempertahankan kebenaran tersebut berada bertolak belakang dengan filosofi yang ada. Intinya seseorang akan memposisikan sesuatu dengan benar pada keadaan tertentu dan melibatkan orang tertentu. Meskipun tidak akan membela pandangan berikut secara rinci, tapi bahwa etika yang dinilai objektif dapat terlihat menjadi sebuah hal subjektif karena etika berhubungan dengan bagaimana manusia harus bertindak dan bergantung pada individu masing-masing serta kondisi saat itu. Pada hal tertentu dapat dipertimbangkan bahwa hal yang objektif akan diterima secara universal. Seperti yang diungkapkan secara universal "Orang harus berpikir, lebih berhati-hati, menggunakan pikiran Anda secara menyeluruh. Wittgenstein, dan filsuf lain, Socrates, Aristoteles, Spinoza, Kant dan Rand berpendapat berfikir secara waspada membuat manusia menjadi manusia yang baik. Dia mengatakan dalam sebuah surat kepada Paulus Engelmann, "bekerja dengan ketekunan yang memadai tetapi ingin untuk menjadi lebih baik dan lebih cerdas. KEWAJIBAN MORAL UNTUK MERAWAT KESEHATAN DIRI Dalam konteks etika moralitas, sangat penting untuk perawatan kesehatan dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Apakah ada beberapa nilai yang berhubungan dengan kehidupan duniawi seseorang. Kecuali sekarang kasus merepotkan jika hidup setelah mati atau kehidupan dapat menunjukkan nilai spiritual murni yang mungkin memerlukan atau setidaknya mengizinkan mengabaikan kesehatan. Kita dapat mempertimbangkan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa saran ini tidak masuk akal. Atletik, olahraga, seni, 2

politik dan petualangan yang menganggap kesehatan bukan hal yang paling utama. Bukan hal yang tabu lagi bahwa untuk mendapatkan hal yang diinginkan untuk tujuan hidup, berani mengambil risiko bagi kesehatan mereka, bahkan kehidupan banyak orang. Seorang pendaki gunung yang berdedikasi, pembalap mobil, tentara dan orang-orang film akrobat sering mengambil risiko dan kadang-kadang dikagumi untuk itu. Hal ini mungkin dalam hal membandingkan merokok dan risiko kesehatan untuk beberapa tujuan yang lebih tinggi. Namun, tidak jarang bagi orang untuk mengambil resiko kesehatan yang cukup serius dalam rangka merayakan ulang tahun, menghadiri olahraga atau bahkan pergi ke toko tukang cukur. Sebagian besar melibatkan aktivitas seperti mengemudi, dan kecelakaan yang selalu mungkin. Individu dengan masalah kesehatan secara rutin mengambil risiko untuk mengambil bagian dalam perayaan keluarga dan persaudaraan. Manusia hidup selalu salah secara moral jika kita memperhitungkan semua risiko secara moral. Tapi kami menyadari bahwa kami tidak bertanggung jawab hanya untuk hidup tapi hidup dengan baik, untuk berkembang. Perkembangan ke arah lebih baik mengisyaratkan orang memiliki gaya hidup yang berbeda satu sama lain. Inilah yang dimaksudkan Isaiah Berlin ketika ia mengatakan bahwa nilai-nilai kehidupan manusia adalah objektif dan tidak disamakan satu sama lain. Berlin tampaknya tidak menghargai adanya perbedaan nilai-nilai yang bertentangan. Saya ingin berpendapat bahwa berbagai penilaian konteks yang diciptakan oleh keadaan individu sering akan menghasilkan penilaian moral yang tidak berarti universal. INTEGRITAS DAN MODERASI Walaupun teori-teori moral tertentu tidak menganggap kebaikan sebagai faktor utama sebagai panduan untuk moral tertinggi, masih beranggapan bahwa kehidupan moral yang baik adalah hidup yang berbudi luhur. Ini berarti bahwa hidup terbaik tidak dengan mengikuti aturan-aturan kaku, tetapi dengan kebiasaan diri kita sendiri untuk mempraktekkan kebaikan seperti kejujuran, keberanian, kehati-hatian, kemurahan hati, dan moderasi (sikap tidak berlebih). Apa yang membuat pendekatan moralitas berbeda dan sistem lebih realistis dari peraturan hanya sebatas penyederhanaan belaka. Meskipun manusia adalah insan rasional yang melandaskan tindakan berdasarkan dengan teori-teori, tetapi kita tidak ibarat kalkulator abadi yang menggambarkan sebuah aturan yang sudah termemori di dalamnya.

Sebaliknya akan lebih masuk akal untuk melihat moralitas pada analogi keterampilan, seperti mengemudi atau pertukangan atau eksekutif bisnis. Dalam semua usaha manusia di tempat pertama beradaptasi, harus mendapatkan beberapa ukuran cara konsentrasi dan fokus, hanya untuk memiliki kemampuan untuk berubah menjadi apa yang kita pikirkan. Dan saat melakukan itu kita harus selalu dipantau dan dikendalikan oleh akal, melakukan perhitungan sendiri baik untung maupun rugi. Sebaliknya, kita harus memiliki keyakinan dalam prinsipprinsip kebaikan, meskipun memiliki tanggung jawab lebih untuk memastikan bahwa menggunakan perhitungan yang tepat dan kita tidak menjadi fanatik seperti yang kita gunakan untuk membimbing dalam kehidupan. KESENANGAN DAN MODERASI Melihat kemungkinan bahwa adanya penyangkalan moralitas dalam diri seperti diungkapkan Peter Singer dan Peter Unger bahwa tidak satupun dari kita secara moral berhak menikmati hidup jika ada orang lain yang membutuhkan. Beberapa agama (dengan alasan yang lebih umum yang mengumbar kehidupan duniawi mengalihkan perhatian dari potensi spiritual kita), adalah ciri dari kehidupan moral bagi manusia untuk mengembangkan diri di semua sektor. Menurut sebuah etika aktualisasi diri, kebahagiaan mengharuskan kita memupuk kemampuan kita untuk kemajuan. Berfikir untuk maju mengharuskan kita memiliki tujuan yang serius dalam hidup - bahwa kita menjadi seniman, pedagang, orang tua, teman, atlet, warga, pendidik, dan sebagainya. Tapi ada juga dimensi pengembangan kepribadian, sebagaimana pendapat Aristoteles, harus ada yang dibayar untuk mendapatkan kesenangan. Berbicara tentang hal itu, untuk beberapa orang berpendapat ada kesenangan yang berasal dari merokok seperti minum, makan gourmet, perjalanan eksotis, hiburan dan sebagainya. Semua ini dapat dihargai baik atau buruk dan cukup. Tidak ada yang menyalahkan untuk menikmati hidup dengan wajar dan berkecukupan, dan tidak ada ada alasan untuk membenarkan pendapat tersebut. Pertanyaannya adalah apakah moralitas memberikan ruang untuk merokok atau kesenangan lainnya dalam hidup yang mungkin baik untuk beberapa tapi buruk untuk orang lain. Apa yang menarik perhatian pada kenyataan bahwa ada perbedaan persyaratan, misalnya, merokok karena mereka seorang penyanyi opera atau dosen dan seseorang penulis novel, menyutradarai film, mempelajari struktur atom atau apakah akuntansi untuk karier. Tentu saja ketika kita mengacu pada dimensi sosial merokok, variabel lain, seolaholah Anda memiliki orang-orang di rumah yang sensitif terhadap asap dapat menyebabkan 4

iritasi kepada beberapa orang atau emfisema, Dalam kasus ini, pertanyaannya adalah apakah masalah perilaku merokok dapat dibenarkan secara moral. MEROKOK, SALAH SIAPA? Mari kita beralih sebentar pada kasus merokok - orang yang tidak mau merokok atau yang merokok berlebihan. Masalahnya di sini adalah bukan hanya apa yang salah dan siapa yang bersalah tetapi juga apakah asal muasal kesalahan tersebut. Pertama, muncul pertanyaan siapa yang bertanggung jawab atas perilaku tersebut? Ada upaya oleh banyak pihak termasuk peradilan dan korban yang merokok yang mengidap penyakit. Mereka mengejar perusahaan-perusahaan tembakau untuk menyalahkan para pemimpin perusahaan tembakau karena efek efek samping dari merokok. Salah satu advokat terkenal yang menentang adanya iklan untuk produk atau pelayanan termasuk merokok yaitu John Kenneth Galbraith. Pada buku yang dikarangnya The Affluent Society, dia mengungkapkan bahwa iklan akan membuat suatu efek ketergantungan dengan menimbulkan hasrat konsumen untuk membeli barang tersebut. Hal ini semakin ditunjang oleh beberapa ahli yang mengungkapkan produk dan pelayanan tersebut bisa menjadi ketagihan. Terutama pada perokok, yang tidak bisa mengontrol diri akan mendapatkan banyak tekanan dari iklan-iklan rokok dari perusahaan tembakau tersebut. Apakah yang harus disalahkan, moral atau hukum, yang menyebabkan sakitnya mereka. Beralih dari pendapat Galbraith ke F. A. Hayek yang tidak menyangkal iklan membuat seseorang memiliki hasrat tapi sebenarnya itu juga membantu kita. Dia berpendapat bahwa seluruh aktivitas manusia bisa menimbulkan hasrat bagi orang lain tetapi kita bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Yang terpenting dari tesis Galbraith dimana konsumen potensial akan bergantung pada iklan produk atau pelayanan yang ditawarkan ke mereka secara implisit sama halnya sepeti pada perusahaan tembakau. Apakah kita, dengan kata lain, akan menyalahkan para pemimpin perusahaan yang mengarah pada kebiasaan merokok seseorang, hanya untuk para pemimpin membela diri dengan memohon bahwa mereka, tentu saja, tak berdaya dalam menghadapi mereka misalnya, ketika mereka pergi ke perguruan tinggi dan mengambil kelas dalam pemasaran, periklanan, dan penjualan. Jika pelanggan potensial menjadi korban manipulasi, tidak bisa dikatakan pemimpin perusahaan mencuci otak pedagang untuk menjajakan produk tembakau mereka. Jadi mereka tidak memiliki kontrol dari para pedagang tembakau dan produk-produk lainnya, sehingga mereka tidak bisa disalahkan. Dan guru mereka, juga, pergi ke berbagai 5

universitas dan belajar bagaimana untuk mengajar siswa secara efektif, sehingga mereka akan melakukannya dengan baik dalam profesi mereka. Dan seterusnya dan seterusnya - setiap orang adalah korban dari pengaruh orang lain, tak terbatas. Yang berarti, pada akhirnya, tidak satupun dari kita bertanggung jawab untuk apa pun dan semua kesalahan moral adalah siasia. IKLAN DAN PENJUALAN ROKOK Dalam perdebatan ini akan ada pihak yang proposisi yang tidak memuji moral atau menyalahkan, atau, yang lebih penting, tanggung jawab moral, termasuk apakah Anda merokok atau tidak, dan apakah akan mengumumkan dan menjual produk tembakau. Hal ini umumnya dipahami bahwa dalam rangka untuk mengiklankan dan menjual obat keras, orang-orang yang baik secara langsung sangat berbahaya bagi (atau menghasilkan keinginan untuk penggunaan terus-menerus pada akhirnya sangat berbahaya bagi) kesehatan siapa pun adalah salah secara moral. Hal ini setara dengan mendorong beberapa orang yang tidak bersalah dengan banyak kehidupan untuk bunuh diri. Hal ini terutama secara moral tercela ketika diarahkan ke orang-orang muda pada umumnya tidak dianggap mampu memutuskan untuk diri mereka sendiri. Bahkan orang dewasa seharusnya tidak melakukan karena itu adalah suatu bentuk dukungan untuk sesuatu yang mereka tidak boleh. Apakah iklan dan penjualan rokok sama dengan iklan dan penjualan obat keras atau obat-obatan dengan segera berbahaya atau kecanduan, dan akhirnya sangat berbahaya? Jika setiap orang rentan terhadap merokok berat atau kecanduan merokok berat, iklan dan penjualan produk tembakau akan (hampir pasti) secara moral diterima. Namun, jika hal ini tidak terjadi, maka iklan dan produk tembakau menjual tidak berbeda dari iklan sepeda motor, peralatan ski, dan peralatan mendaki gunung. Sebagai contoh, jika ada faktor-faktor yang berhubungan dengan merokok yang tidak umum diketahui, tapi itu akan dianggap oleh orang wajar berbahaya, promosi dan penjualan tembakau tersebut secara tegas akan dikatakan tercela secara moral. Hal ini mungkin akan menjadi kecurangan dan mungkin bahkan penipuan. Namun, jika bahaya produk sudah dikenal, sehingga wajar orang tidak akan disesatkan oleh iklan promosi, usaha dan penjualan tidak akan diterima. Secara moral tidak akan tercela untuk mengiklankan dan menjual produk tembakau jika risiko mereka orang akan dibuat jelas dalam prosesnya. Alasannya adalah bahwa individu bertanggung jawab untuk mencoba mencari nafkah melalui iklan dan penjualan produk yang dapat menjadi nilai nyata bagi beberapa orang, sementara yang lain

adalah bertanggung jawab untuk menentukan apa yang harus mereka konsumsi atau menggunakan yang sudah tersedia untuk dijual di pasar. KESEHATAN DAN KEBAIKAN UNTUK MANUSIA Kembali ke masalah sebelumnya, bahwa kesehatan tidak benar-benar semua ada untuk kehidupan manusia. Sebuah artikel di The New Republic mnengungkapkan merokok telah bersama kami jauh sebelum iklan pemasaran begitu terlihat. Jutaan memilih untuk merokok tapi tidak tanpa kesadaran bahwa itu berbahaya untuk kesehatan mereka (yang berarti bahwa untuk mengurangi hidup rata-rata sebesar 2,2 tahun). Hal ini murni perokok yang merokok mungkin sekali sehari dengan secangkir espresso, jadi jelas kecanduan, dengan asumsi itu merupakan fenomena yang nyata. Orang berhenti merokok sepanjang waktu, sehingga tembakau jenis komoditas khusus bukan untuk semua orang, di mana orangorang yang mencobanya akan membahayakan kesehatan mereka. TANGGUNG JAWAB ORANG TUA DAN MEROKOK Bisa menjadi salah satu isu-isu publik yang paling eksplosif dengan dimensi moral yang terpisah adalah bahwa orang tua bertanggung jawab atas perilaku anak-anak mereka, termasuk yang merusak kesehatan seperti merokok, alkohol dan lainnya. Meskipun di beberapa negara adalah ilegal untuk mereka yang di bawah 18 tahun merokok di depan umum, tidak peduli apa pandangan orang tua terhadap masalah ini, kita bisa mempertimbangkan pertanyaan keluar dari ini karena Undang-Undang. Sekali lagi, masalah ini adalah konteks, bukan dari prinsip moral kategoris. Orang tua sering mengekspos anak-anak mereka terhadap bahaya yang begitu besar, jika tidak lebih besar dari mengekspos mereka untuk berbagai risiko kesehatan. Mereka mengambil liburan akhir pekan panjang mereka ketika risiko kecelakaan mobil adalah yang terbesar. Mereka membuat mereka berenang di laut, arung jeram sungai-sungai liar di Colorado dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam olahraga yang dapat menyebabkan cedera serius atau kematian. Tentu saja, banyak dari contoh dapat dipahami sebagai sepenuhnya dapat dibenarkan, dengan mempertimbangkan pentingnya tujuan yang mereka capai. Mengunjungi kakek atau sanak keluarga lainnya ketika berlibur, pembangunan karakter melalui olahraga, dan lainlain, semua bisa dianggap sebagai aspek sangat berharga untuk membesarkan anak-anak.

Dapatkah kita mengatakan hal yang sama tentang membiarkan anak-anak mereka untuk merokok, minum, dan beberapa penggunaan narkoba. Kita bisa mulai untuk membicarakan masalah ini dengan mencatat bahwa beberapa orang dalam budaya yang berbeda di seluruh dunia membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang berbeda pula, termasuk yang memungkinkan mereka untuk merokok, minum dan terlibat dalam hal lainnya. Anak Hungaria rutin minum anggur di meja makan ketika berumur 8 tahun. Dan ini adalah contoh yang lebih ringan dari keanekaragaman pada pendidikan anakanak di seluruh dunia. Akan sangat sulit untuk mengatakan bahwa telah terjadi kasus kekerasan pada anak dalam setiap kasus.Bahkan pekerja anak-anak di Amerika Serikat, secara resmi dilarang atau diatur, secara substansial tidak dapat dihukum. Hal ini bisa diperdebatkan, tentu saja, bahwa konteks budaya Amerika adalah seperti yang diberikan informasi yang kebanyakan orangtua, bisa mendapatkan risiko kesehatan dari berbagai praktik dan memberikan risiko kesehatan tertentu, seperti yang timbul dari merokok. Orang tua di Amerika dan budaya setempat tidak bertanggung jawab secara moral jika mereka membiarkan anak-anak mereka untuk merokok dan untuk terlibat dalam praktekpraktek berisiko lainnya. Meskipun, Amerika dan banyak masyarakat maju lainnya dengan budaya multikultural, fakta bahwa informasi mengenai resiko kesehatan yang hampir secara universal sudah tersedia. Oleh karena itu, beberapa orang berpendapat bahwa pengambilan keputusan secara independen pada anak-anak usia remaja, yang kemudian memutuskan untuk merokok, bisa dianggap tidak jauh beda bermoralnya dibandingkan mendorong atau mengizinkan anak-anak untuk menunggang kuda, bermain hoki es, snowboarding, ski, atau bahkan bermain sedikit untuk bersenang-senang. Demikian pula, meninggalkan anak-anak merokok atau minum, khususnya sampai berlebihan, tidak akan dikatakan sebagai penelantaran pada anak. MORALITAS DAN MEROKOK Moralitas dan perokok dewasa dan bahkan anak-anak mungkin memilih untuk terlibat dalam praktek perokok moderat, minuman dan sejenisnya, bahkan dengan asumsi bahaya kesehatan dari kegiatan ini. Kesehatan tidak jauh lebih tinggi dan itu bukan hak orang untuk melarangnya. Kita dapat menilai seseorang tanpa mengetahui konteks gambar cukup rinci dari kehidupan seseorang jika orang tersebut harus atau tidak boleh merokok. Dalam beberapa hal, merokok secara moral dikatakan tercela, merusak, menghambat pertumbuhan

pribadi dan pertumbuhan, dilain sisi untuk orang lain hal ini tidak terjadi. Pada kebanyakan, kasus perokok tidak bisa disalahkan secara moral. Ketika membahas masalah efek samping dari merokok pada orang lain, juga tidak bisa pasti dihukum. Jika seorang pemilik sebuah lorong restoran atau bowling, klien atau tamu, memberikan ijin bahwa dia sudah tahu efek samping dari merokok tersebut tidak menyebabkan masalah serius atau cedera bagi mereka. Untuk mengetahui apakah ada yang serius dipertimbangkan secara moral, kita perlu mendapatkan cukup informasi rinci tentang merokok dan perusahaan tembakau untuk melihat apa yang menjadi tujuan hidup mereka serta kesenangan dalam hidup mereka.

Journal Reading

MORALITAS DAN MEROKOK

Oleh: I PUTU AGUS SURYANTARA PUTRA 0702005060

Pembimbing: dr. Nyoman Hanati, Sp.KJ (K)

DALAM RANGKA MENJALANI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN/SMF PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD/ RSUP SANGLAH DENPASAR 2011

10