You are on page 1of 39

Perawat Muslim

Semoga bisa bermanfaat bagi anda yang membaca blog ini

Beranda

Selasa, 29 November 2011

Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Hipotiroidisme


1. Definisi Berdasarkan kasus diatas, pasien mengalami Hipotiroidisme. Bila dilihat dari lokasi timbulnya masalah, pasien mengalamiHipotiroidisme jenis sekunder. Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroid yang sangat berat disebut miksedema.Hipotiroidisme (tiroid kurang aktif) adalah suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak cukup untuk memproduksi hormon tiroksin. Hipotiroidisme adalah penyakit pada manusia dan vertebrata akibat kurangnya produksi hormon tiroid yang dihasilkan kelenjar tiroid. Pada tahap awal hipotiroidisme tidak menimbulkan gejala, tetapi dengan seiring waktu hipotiroidisme menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, seperti obesitas, nyeri sendi, infertilitas dan penyakit jantung. Umumnya hipotiroidisme cenderung terjadi pada wanita di atas 50 tahun. 2. Etiologi Hipotiroidisme mungkin disebabkan sejumlah faktor yang berbeda, termasuk : Penyakit autoimun. Salah satu penyakit autoimun yang menyebabkan hipotiroidisme adalah tiroiditis Hashimoto. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri. Para ilmuwan berpendapat virus dan bakteri menjadi pemicu respon autoimun, sementara yang lain percaya cacat genetik menjadi penyebab proses autoimun.

Pengobatan untuk hipertiroidisme. Dalam beberapa kasus orang yang sedang menjalani pengobatan hipertiroid untuk mengurangi dan menormalkan fungsi tiroid dapat mengakibatkan hipotiroidisme permanen.

Terapi radiasi. Radiasi yang digunakan untuk mengobati kanker kepala dan leher dapat mempengaruhi kelenjar tiroid yang dapat mengakibatkan hipotiroidisme. Operasi tiroid. pengangkatan semua atau sebagian kelenjar tiroid dapat mengurangi atau menghentikan produksi hormon tiroksin. Obat tertentu. Sejumlah obat dapat berkontribusi terjadinya hipotiroidisme. Salah satu obat tersebut adalah lithium, yang digunakan untuk mengobati gangguan jiwa tertentu. Selain faktor di atas, hipotiroidisme dapat terjadi karena salah satu dari faktor berikut yang sangat jarang terjadi : Penyakit bawaan. Sekitar 1 dari 3.000 bayi di Amerika Serikat akan lahir dengan kelenjar tiroid rusak atau tidak ada kelenjar tiroid sama sekali. Hal itu disebabkan karena kelenjar tiroid tidak berkembang secara normal.

Gangguan hipofisis. Kegagalan kelenjar hipofisis untuk menghasilkan TSH yang cukup dapat menyebabkan hipotiroidisme yang biasanya disebabkan karena tumor jinak dari kelenjar hipofisis.

Kehamilan . Beberapa wanita mengalami hipotiroidisme selama atau setelah kehamilan (hipotiroidismeisme pasca-melahirkan), disebabkan karena mereka sering

menghasilkan antibodi ke kelenjar tiroid mereka sendiri. Jika hipotiroidisme tidak diobati dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur dan preeclampsia.

Defisiensi yodium. Yodium sangat penting untuk produksi hormon tiroid. Di beberapa bagian dunia, defisiensi yodium adalah umum, tetapi penambahan yodium ke garam meja telah hampir menghilangkan. 3. Patofisiologi Hipotiroidisme dapat terjadi akibat produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai respons terhadap rangsangan hormon TSH. Penurunan hormon sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme basal yang akan memepengaruhi semua sistem tubuh. Proses metabolik yang dipengaruhi antara lain: 1).Penurunan produksi asam lambung (Aclorhidria) 2).Penurunan motilitas usus 3).Penurunan detak jantung 4).Gangguan fungsi neurologik 5).Penurunan produksi panas, Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak dimana akan terjadi peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien berpotensi mengalami atherosklerosis. Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial seperti rongga pleura, cardiak dan abdominal sebagai tanda miksedema. Pembentukan eritrosit yang tidak optimal sebagai dampak dari menurunnya hormon tiroid memungkinkan klien mengalami anemi. 4. Patoflow Terlampir 5. Klasifikasi Bergantung pada lokasi timbulnya masalah: Primer, bila timbul akibat proses patologis yang merusak kelenjar tirod Sekunder, akibat defisiensi sekresi TSH hipofisis Bergantung pada usia awitan hipotiroidisme: Hipotiroidisme dewasa atau misedema Hipotiroidisme juvenilis (timbulnya sesudah usia 1 sampai 2 tahun) Hipotiroidisme congenital, atau kreatinin disebabkan oleh kekurangan tiroid sebelum atau segera sesudah lahir

hormone

Add caption

6. Tanda dan Gejala


1. 2. 3. 4. Nafsu makan berkurang Sembelit Pertumbuhan tulang dan gigi yang lambat Suara serak dan berbicara lambat

5. Kelopak mata turun dan alis mata rontok 6. Wajah bengkak 7. Rambut tipis, kering, dan kasar 8. Kulit kering, kasar, bersisik, dan menebal 9. Denyut nadi lambat 10. Gerakan tubuh lamban 11. Lemah, pusing, capek dan pucat 12. Sakit pada sendi atau otot 13. Tidak tahan terhadap dingin 14. Depresi 15. Penurunan fungsi indera pengecapan dan penciuman 16. Keringat berkurang

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

3.7 Gambaran Klinis Kelambanan, perlambatan daya pikir, dan gerakan yang canggung lambat Penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema),dan penurunan curah jantung Pembengkakkan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki Penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu makan dan penyerapan zat gizi dari saluran pencernaan Konstipasi Perubahan-perubahan dalam fungsi reproduksi Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan tubuh yang tipis dan rapuh

3.8 Komplikasi
Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang ditandai oleh eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermi tanpa menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga koma. Kematian dapat terjadi apabila tidak diberikan HT dan stabilisasi semua gejala. Dalam keadaan darurat (misalnya koma miksedem), hormon tiroid bisa diberikan secara intravena. Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang banyak disukai adalah hormon tiroid buatan T4. Bentuk yanglain adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid hewan).

Pengobatan pada penderita usia lanjut dimulai dengan hormon tiroid dosis rendah, karena dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan efek samping yang serius. Dosisnya diturunkan secara bertahap sampai kadar TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus diminum sepanjang hidup penderita. Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai pengganti hormon tiroid. Apabila penyebab hipotiroidism berkaitan dengan tumor susunan saraf pusat, maka dapat diberikan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan.

3.9 Pemeriksaan Laboraturium Dari hasil tes darah, didapatkan kadar hormon tiroksin yang rendah, kadar TSH yang tinggi yang menunjukkan kelenjar tiroid yang kurang aktif. v Tes T4 Serum Tes yang paling sering dilakukan adalah penentuan T4 serum dengan teknik radioimmunoassay atau pengikatan kompetitif. Kisaran T4 dalam serum yang normal beraada di antara 4,5 dan 11,5 g/dl (58,5 hingga 150 nmol/L). T4 terikat terutama dengan TBG dan prealbumin; T3 terikat lebih longgar. T4 normalnya terikat dengan protein. Setiap faktor yang mengubah kadar T4. Penyakit sistemik yang serius, obat-obatan (yaitu; kontrasepsi oral, steroid, fenitoin, salisilat) dan penipisan protein sebagai akibat dari nefrosis serta penggunaan hormone androgen dapat mempengaruhi ketepatan hasil test. v Tes T3 serum T3 serum mengukur kandungan T3 bebas dan terikat, atau T3 total, dalam serum. Sekresinya terjadi sebagai respons terhadap sekresi TSH dan T4. Meskipun kadar T3 dan T4 serum umumnya meningkat atau menurun secara bersama-sama, namun kadar T4 tampaknya merupakan tanda yang akurat untuk menunjukkan adanya hipertiroidisme, yang menyebabkan kenaikan kadar T3. Batas-batas normal untuk T3 serum adalah 70 hingga 20mg/dl (1,15 hingga 3,10 nmol/L). v Tes T3 Ambilan Resin Tes T3 Ambilan Resin merupakan pemeriksaan untuk mengukur secaara tidak langsung kadar TBG tidak jenuh. Tujuannya adalah untuk menentukan jumlah hormon tiroid yang terikat dengan TBG dan jumlah tempat pengikatan yang ada. Pemeriksaan ini menghasilkan indeks jumlah hormone tiroid yang sudah ada dalam sirkulasi darah pasien. Normalnya, TBG tidak sepenuhnya jenuh dengan hormone tiroid, dan masih terdapat tempat-tempat kosong untuk mengikat T3 berlabel-radioiodium, yang ditambahkan ke dalam specimen darah pasien. Nilai ambilan T3 yang normal adalah 25% hingga 35% (fraksi ambilan relatife: 0,25 hingga 0,35) yang menunjukkan bahwa kurang lebih dari sepertiga dari tempat yang ada pada TBG sudah ditempati oleh hormon tiroid. Jika jumlah tempat yang kosong rendah, seperti pada hipertiroidisme, maka ambilan T3 lebih besar dari 35% (0,35). v Tes TSH (Thyroid-Stimulating Hormone) TSH (Thyroid-Stimulating hormone) sekresi T3 dan T4 oleh kelenjar tiroid dikendalikan hormon stimulasi-tiroid (TSH atau tirotropin) dari kelenjar hipofisis anterior. Pengukuran konsentrasi TSH serum sangat penting artinya dalam menegakkan diagnosis serta penatalaksanaan kelainan tiroid dan untuk membedakan kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada kelenjar tiroid sendiri dengan kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada hipofisis atau hipotalamus. v Tes Radioimmunoassay TSH

Kadar TSH dalam serum dapat diukur dengan pemeriksaan radioimmunoassay. Peningkatan kadar TSH terjadi pada penderita hipotiroidisme primer. Uji-kadar imunoradiometrik untuk TSH menggunakan antibody monoclonal berlabel merupakanpemeriksaan dengan spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi. Tes Thyrotropin-Releasing Hormone Tes stimulasi TRH merupakan cara langsung untuk memeriksa cadangan TSH di hipofisis dan akan sangat berguna apabila hasil tes T3 serta T4 tidak dapat dianalisa. Tes Tiroglobulin Tiroglobulin yang merupakan prekusor untuk T3 dan T4 dapat diukur kadarnya dalam serum dengan hasil yang bisa diandalkan melalui radioimmunoassay. Faktor-faktor yang meningkatkan atau menurunkan aktivitas kelenjar tiroid dan sekresi T3 serta T4 memiliki efek yang serupa terhadap sintesis dan sekresi tiroglobulin. Kadar tiroglobulin meningkat pada karrsinoma tiroid, hipertiroidisme dan tiroiditis subakut. Kadar tiroglobulin juga dapat meningkat pada keadaan fisiologik yang normal seperti kehamilan. Peningkatan dan penurunan kadarnya dapat disebabkan oleh obat-obatan atau oleh tindakan diagnostic dan terapeutik yang meningkatkan kadar tiroglobulin serum untuk sementara waktu. Ambilan Iodium Radioaktif Tes ambilan iodium radioaktif dilakukan untuk mengukur kecepatan pengambilan iodium oleh kelenjar tiroid. Kepada pasien disuntikkan I131 atau radiounuklida lainnya dengan dosis tracer, dan pengukuran pada tiroid dilakukan dengan alat pencacah skintilasi yang akan mendeteksi serta menghitung sinar gamma yang dilepaskan dari hasil penguraina I131 dalam kelenjar tiroid. Tes ini mengukur proporsi dosis iodium radioaktif yang diberikan yang terdapat dalam kelenjar tiroid pada waktu tertentu sesudah pemberiannya. Penderita hipertiroidisme akan mengalami penumpukkan I131 dalam proporsi yang tinggi (mencapai 90% pada sebagian pasien) sedangkan pada penderita hipotiroidisme memperlihatkan ambilan yang sangat rendah. Pemindaian-Radio atau Pemindai-Skintilasi tiroid Serupa dengan tes ambilan iodium radioaktif, dalam pemindaian tiroid digunakan alat detector skintilasi dengan focus kuat yang digerakkan maju mundurdalam suatu rangkaian jalur parallel dan secara progresif kemudian digerakkan kebawah. Teknik ini akan menghasilkan gambar visual yang menentukkan lokasi radioaktivitas di daerah yang dipindai. Tes Fungsi Tiroid yang lain Pemeriksaan diagnostic lain dan prosedur pengkajian yang berguna untuk mendeteksi dan menegakkan diagnosis kelainan tiroid atau efek penyakit tiroid mencakup waktu reflex tendon Achilles (mengukur periode kontraksi dan relaksasi reflex tendon Achilles), kadar kolesterol serum, pemeriksaan enzim otot (alanin transminase [ALT] atau serum glutamicpyruvic transaminase [SGPT], lactic acid dehydrogenase [LDH], dan creatine kinase [CK].

3.10

Pemeriksaan Fisik Masalah fisik yang mungkin akan ditemukan pada penderita hipotiroidisme antara lain adalah lelah atau lesu, memiliki kulit kering, sembelit dan suara serak, atau memiliki masalah tiroidsebelumnya atau gondok. Kelenjar tiroid diinspeksi dan dipalpasi secara rutin pada semua pasien. Pemeriksaan Fisik yang dilakukan meliputi :

Kelenjar tiroid diinspeksi dan dipalpasi secara rutin pada semua pasien. Daerah leher bagian bawah antara otot-otot sternokleidomastoideus diinspeksi untuk melihat apakah terdapat benjolan di sebelah anterior atau tampak asimetris. Pasien diminta untuk sedikit mengekstensikan lehernya dan menelan. Normalnya jaringan tiroid akan bergerak naik jika pasien menelan. Kemudian dilakukan palpasi tiroid untuk menentukan ukuran, bentuk, konsistensi, kesimetrisan dan adanya nyeri tekan. 3.11 Pemeriksaan Diagnostik: EKG Menunjukkan denyut jantung yang lambat dan voltase rendah dengan gelombang T mendatar atau terbalik Pemeriksaan radiologi, rangka menunjukkan tulang yang mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan, disegenesis epifisis, dan keterlambatan perkembangan gigi. 3.12 Penatalaksanaan Medis v Farmakologi: Pengobatan standar untuk hipotiroidisme adalah levothyroxine, yang merupakan hormon tiroid sintetis (Levothroid, Synthroid). Pengobatan oral ini akan mengembalikan kadar hormon tiroksin yang cukup di dalam tubuh. Satu sampai dua minggu setelah pengobatan dimulai, maka akan terlihat penderita tersebut akan merasa sedikit lelah. Pengobatan dengan levothyroxine biasanya seumur hidup, tetapi karena dosis yang dibutuhkan dapat berubah, maka dokter akan memeriksa tingkat TSH setiap tahun. Selain penggunaan levothyroxine dapat pula pemberian tiroksin(LT 4) dan triiodothyronine (LT 3), biasanya dimulai dalam dosis rendah (50 g/hari), khususnya pada pasien yang lebih tua atau pada pasien dengan miksedema berat, dan setelah beberapa hari atau minggu sedikit demi sedikit ditingkatkan sampai akhirnya mencapai dosis pemeliharaan maksimal 150 g/hari. v Peran Perawat: Membantu perawatan dan kebersihan pasien sambil dorong partipasi pasien untuk melakukan aktivitas yang masih berada dalam batas-batas toleransi yang ditetapkan untuk mencegah komplikasi mobilisasi. Pemantauan tanda-tanda vital dan tingkat kognitif pasien selama penegakkan diagnosis dari awal terapi untuk mendeteksi : kemunduran status fisik serta mental, tanda-tanda serta gejala yang menunjukkan peningkatan laju metabolic akibat terapi yang melampaui kemampuan reaksi system kardiovaskular dan pernapasan, keterbatasan atau komplikasi miksedema yang berkelanjutan . Ekstra pakaian dan selimut dapat diberikan, dan pasien harus dilindungi terhadap hembusan angin. Dukung emosional 3.13 Rencana Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian : DS : - Kelelahan, - Sulit berkontraksi,

- Memorinya beberapa bulan yang lalu mulai berkurang, - Penurunan frekuensi peristaltik usus, - Peningkatan berat badan, - Menggigil ketika tidak menggunakan sweater, walaupun berada dicuaca yang hangat, - Riwayat kesehatan keluarga, ibu dan kakak perempuannya menderita hipotiroidisme. DO : - TB : 5,5 inchi = 159,25 cm - BB : 125 pons = 56, 7 kg - TD : 138/88 - N : 58x/menit - Wajah bengkak - Alisnya jarang tipis - Kelenjar tiroid teraba - Ketika di palpasi kelenjar tiroid terasa keras dengan perkiraan berat 25gr ( normal 15-20gr) - Refleks tendon berkontraksi normal, tapi relaksasi lama. Analisa Data : Data Masalah Etiologi DS : Intoleransi aktivitas Kelelahan dan penurunan proses kognitif - Kelelahan, - Sulit berkontraksi, - Memorinya beberapa bulan yang lalu mulai berkurang, DO : - N : 58x/menit - Refleks tendon berkontraksi normal, tapi relaksasi lama. DS : Perubahan suhu berhubungan - Menggigil ketika tidak menggunakan sweater, walaupun berada dicuaca yang hangat, - Riwayat kesehatan keluarga, ibu dan kakak perempuannya menderita hipotiroidisme. DO : BB : 125 pons = 56, 7 kg TD : 138/88 N : 58x/menit Ketika di palpasi kelenjar tiroid terasa keras dengan perkiraan berat 25gr ( normal 15-20gr) Menggigil walaupun di cuaca yang hangat

Konstipasi DS : - Penurunan frekuensi peristaltik usus, - Peningkatan berat badan, - Riwayat kesehatan keluarga, ibu dan kakak perempuannya menderita hipotiroidisme. DO : - BB : 125 pons = 56, 7 kg - Ketika di palpasi kelenjar tiroid terasa keras dengan perkiraan berat 25gr ( normal 15-20gr)

Penurunan gastrointestinal

2. Diagnosa keperawatan : a) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif b) Perubahan suhu berhubungan dengan menggigil walaupun di cuaca yang hangat c) Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal d) Resiko Harga diri rendah berhubungan dengan Biofisik dan presepsi kognitif 3. Asuhan Keperawatan : 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif. Tujuan : Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian. Kriteria Hasil : Memperlihatkan perhatian dan kesadaran pada lingkungan Berpartisipasi dalam aktivitas dan berbagai kejadian dalam lingkungan Berpartisipasi dalam peristiwa dan aktifitas keluarga Melaporkan tidak adanya rasa nyeri dada, peningkatan kelelahan atau gejala sesak nafas yang menyertai peningkatan aktivitas. Intervensi Keperawatan Rasional Mandiri : Atur interval waktu antar aktivitas untuk Mendorong aktivitas sambil meningkatkan istirahat dan latihan yang memberikan kesempatan untuk dapat di tolerir. mendapatkan istirahat yang adekuat. Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika Memberi kesempatan pada pasien pasien berada dalam keadaan lelah. untuk berpartisipasi dalam aktivitas

Edukasi : Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktivitas yang tidak menimbulkan stres. Observasi : Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktivitas.

perawatan mandiri. Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stres pada pasien. Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang

2. Perubahan suhu berhubungan dengan menggigil walaupun di cuaca yang hangat Tujuan : Pemeliharaan suhu tubuh yang normal Kriteria Hasil : Mengalami berkurangnya gangguan rasa nyaman dan intoleransi terhadap hawa dingin Mempertahankan suhu tubuh dasar Melaporkan rasa hangat yang adekuat dan berkurangnya gejala menggigil Intervensi Keperawatan Mandiri : Berikan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut, Hindari dan cegah penggunaan sumber panas dari luar ( misalnya, bantal pemanas, selimut listrik atau penghangat), Lindungi terhadap pajanan hawa dingin dan hembusan angin, Rasional Meminimalkan kehilangan panas Menguranlatasi resiko vasodilatasi perifer dan kolaps vasculer

Observasi : Pantau suhu tubuh pasien dan melaporkan Mendeteksi penurunan suhu tubuh dan penurunannya dari nilai dasar suhu normal dimulainya koma miksedema. pasien. 3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal Tujuan : Pemulihan fungsi usus yang normal Kriteria Hsil : Mencapai pemulihan kepada fungsi usus yang normal Melaporkan fungsi usus yang normal Mengenali dan mengkonsumsi makanan yang kaya serat Minum cairan sesuai dengan yang dianjurkan setiap hari Menggunakan pencahar seperti yang diresepkan menghindari ketergantungan yang berlebihan pada pencahar serta enema. Intervensi Keperawatan Rasional Mandiri : Dorong peningkatan asupan cairan dalam Meminimalkan kehilangan panas batas batas restriksi cairan. Berikan makanan yang kaya akan serat Meningkatkan masa feses dan

Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien dan menurunkan lebih lanjut kehilangan panas.

frekuensi buang air besar Dorong pasien untuk meningkatkan Meningkatkan evakuasi usus mobilitas dalam batas batas toleransi latihan. Menimalkan ketergantungan pasien Dorong pasien untuk menggunakan pencahar dan enema hanya bila diperlukan pada pencahar serta enema, dan mendorong evcakuasi usus normal saja. Observasi : Memungkinkan deteksi konstipasi dan Pantau fungsi usus pemulihan kepada pola defekasi yang normal. Edukasi : Memberikan rasional peningkatan Ajarkan kepada pasien tentang jenis jenis asupan cairan kepada pasien makanan yang banyak mengandung air.

Diposkan oleh Nurningsih di 05.29 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Tidak ada komentar: Poskan Komentar


Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Cari Blog Ini


Cari

Foto

Puncak Gunung Gede

About Me

Nurningsih

a adalah seorang mahasiswi muslim yang menekuni dalam bidang ilmu keperawatan di salah satu universitas ternama di Jakarta... a suka bergaul dan saya suka mengikuti kegiatan kemanusiaan... saya bergabung dalam sebuah lembaga kemanusiaan UPZ ESQ !!! Sengatan.... Lihat profil lengkapku

Share it Calender

Free Blog Content

Yahoo Messenger

Clock Blog Archive

er (5) ar Pendapat (RDP) Komisi IX dengan PPNI

a Keperawatan Dalam Sejarah Islam erawatan Pasien Dengan Hipotiroidisme Datang Semalam SASI PADA ANAK

Follow Me My Guest Music

Free Music at divine-music.info

Followers
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Title Cursor Hai,,,

Template Watermark. Gambar template oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.

Askep Pada Klien Dengan Gangguan Kelenjar Tiroid


HIPERTIROIDISME A. Definisi Hipertiroid adalah respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan.Bentuk yang umum dari masalah ini adalah penyakit graves,sedangkan bentuk yang lain adalah toksik adenoma , tumor kelenjar hipofisis yang menimbulkan sekresi TSH meningkat,tiroditis subkutan dan berbagai bentuk kenker tiroid. B. Etiologi Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves,suatu penyakit tiroid autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan hormone yang

berlebihan. Penyebab hipertiroid lainnya yang jarang selain penyakit graves adalah: Toksisitas pada strauma multinudular Adenoma folikular fungsional ,atau karsinoma(jarang) Adema hipofisis penyekresi-torotropin (hipertiroid hipofisis) Tomor sel benih,missal karsinoma (yang kadang dapat menghasilkanbahan mirip-TSH) atau teratoma (yang mengandung jarian tiroid fungsional) Tiroiditis (baik tipe subkutan maupun hashimato)yang keduanya dapat berhubungan dengan hipertiroid sementara pada fase awal C. Manisfestasi klinis Pada stadium yang ringan sering tanpa keluhan. Demikian pula pada orang usia lanjut, lebih dari 70 tahun, gejala yang khas juga sering tidak tampak. Tergantung pada beratnya hipertiroid, maka keluhan bisa ringan sampai berat. Keluhan yang sering timbul antara lain adalah : Kecemasan,ansietas,insomnia,dan tremor halus Penurunan berat badan walaupun nafsu makan baik Intoleransi panas dan banyak keringat Papitasi,takikardi,aritmia jantung,dan gagal jantung,yang dapat terjadi akibat efek tiroksin pada sel-sel miokardium Amenorea dan infertilitas Kelemahan otot,terutama pada lingkar anggota gerak ( miopati proksimal) Osteoporosis disertai nyeri tulang Konsumsi Yodium Berlebihan Kelenjar tiroid memakai yodium untuk membuat hormon tiroid, bila konsumsi yodium berlebihan bisa menimbulkan hipertiroid. Kelainan ini biasanya timbul apabila sebelumnya si pasien memang sudah ada kelainan kelenjar tiroidiodarone (cordarone), suatu obat yang digunakan untuk gangguan irama jantung, juga mengandung banyak yodium dan bisa menimbulkan gangguan tiroid. D. ASUHAN KEPERAWATAN 1.PENGKAJIAN a. Aktifitas gejala: Insomnia,sensitivitas meningkat b. Makanan/cairan gejala: kehilangan berat badan yang mendadak tanda: pembesaran tiroid,gointer,edema non-pittingterutama daerah pretibial c. Pernafasan gajala: frekuensi pernafasan meningkat,dipneu,dipsneu,dan edema paru 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung. 2. Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh 3. PERENCANAAN Dx. 1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung. Tujuan asuhan keperawatan : mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang ditandai dengan tanda vital stabil, denyut nadi perifer normal, pengisisan kapiler normal, status mental baik, tidak ada disritmia

Intervensi : Pantau tekanan darah pada posisi baring,duduk,&berdiri jika memungkinkan Pantau CVP jika klien menggunakannya Periksa adanya nyeri dada a/ angina yang dikeluhka klien Auskultasi suara jantung ,perhatikan adanya bunyi jantung tambahan adanya irama gollap & murmur sistolik Auskultasi suara nafas Berikan cairan melalui IV sesuai dengan indikasi Berikan obat sesuai dng idikasi Memberikan ukuran volume sirkulasi yg langsung & lebih akurat dan mengukur fungsi jantung secara langsung pula Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung Dx. 2. Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh. Tujuan asuhan keperawatan : Megungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi, menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktifitas. Data penunjang : mengungkapkan sangat kekurangan energi untuk mempertahankan rutinitas umum, penurunan penampilan, labilitas/peka rangsang emosional, gugup, tegang, perilaku gelisah, kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi. Intervensi Rasional Pantau tanda vital & catat tanda vital baik saat istirahat maupun saat melakukan aktivitas Catat berkembangnya Takipnue,dipneu,pucat,dan sianosis Berikan/ciptakan lingkungan yg tenang;ruangan dingin,turunkan stimulasi sensori,warna2 yg sejuk,musik santai Sarankan klien u/ mengurangi aktivitas & meningkatkan istirahat di tempat tidur sebanyak2 nya jk memungkinkan Berikan tindakan yg membuat klien nyaman, separti; sentuhan bedak yg sujuk Barikan obat sesuai dengan indikasi Ex :sedatif : fenobarbital(luminal) Nadi secara luas meningkat dan bahkan saat istirahat,takikar(diatas 160x/menit) mungkin akan ditamukan Kebutuhan dan konsumsi oksigen akan di tingkatkan pada keadaan hipermetabolik,yg mrpakan potensial akan terjadi hipoksia saat melakukan aktivitas Menurunkan stimulasi yangkemungkinan besar dpt menimbulkan agitasi,hiperaktif,dan insomnia Membantu malawan pengaruh dan meningkatkan metabolism 4. EVALUASI Curah dengan TTV jantung adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang ditandai stabil, denyut nadi perifer normal, pengisian kapiler normal, status mental baik, tidak ada disritmia. Kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktivitas DAFTAR PUSTAKA Doenges,ME and moorhouse,MF: Rencana asuhan keperawatan,ed 3,jakarta:EGC,1999 Price,SA and wilson,LM; Patofisiologi: konsp klinis prose-proses penyakit,vol 2,jakarta:EGC,2005 HIPOTIROIDISME

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kelenjar tiroid mempertahankan tingkat metabolisme di berbagai jaringan agar optimal sehingga mereka berfungsi normal. Hormon tiroid merangsang konsumsi oksigen pada sebagaian besar sel di tubuh, membantu mengatur metabolisme lemak dan karbohidrat, dan penting untuk pertumbuhan dan pematangan normal. Kelenjar tiroid tidak essensial bagi kehidupan, tetapi ketiadaannya menyebabkan perlambatan perkembangan mental dan fisik, berkurangnya daya tahan terhadap dingin, serta pada anak-anak timbul retardasi mental dan kecebolan. Sebaliknya, sekresi tiroid yang berlebihan menyebabkan badan menjadi kurus, gelisah, takikardi, tremor, dan kelebihan pembentukan panas. Fungsi tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (Thyroid stimulating hormon = TSH) dari hipofisis anterior. Sebaliknya, sekresi hormon tropik ini sebagian diatur oleh umpan balik inhibitorik langsung kadar hormon tiroid yang tinggi pada hipofisis serta hipotalamus dan sebagian lagi melalui mekanisme neural yang bekerja melalui hipotalamus. Dengan cara ini, perubahan-perubahan pada lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyesuaian kecepatan sekresi tiroid. B. TUJUAN PENULISAN 1. Mengerti tentang hipotiroidisme 2. Memahami pemyebab dari hipotiroidisme dan cara pencegahannya 3. Mengerti tentang asuhan keperawatan hipotiroidisme BAB II. ISI A. DEFINISI Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroid yang sangat berat disebut miksedema. B. PENYEBAB Penyebab yang paling sering ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto. Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang masih berfungsi. Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap hipertiroidisme. Baik yodium radioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan hipotiroidisme. Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme goitrosa). Kekurangan yodium jangka panjang merupakan penyebab tersering dari hipotiroidisme di negara terbelakang. C. GEJALA Kekurangan hormon tiroid menyebabkan melambatnya fungsi tubuh. Gejalanya ringan dan timbul secara bertahap, bisa disalahartikan sebagai depresi. Ekspresi wajah menjadi tumpul, suara menjadi serak dan berbicara menjadi lambat, kelopak mata menutup dan mata serta wajah menjadi bengkak. Banyak penderita yang mengalami penambahan berat badan, sembelit dan tidak tahan terhadap cuaca dingin. Rambut menjadi tipis, kasar dan kering; kulit menjadi kasar, kering, bersisik dan menebal. Banyak penderita yang mengalami sindroma terowongan karpal. Denyut nadi bisa melambat, telapak tangan dan telapak kaki tampak agak oranye (karotenemia) dan alis mata bagian samping mulai rontok. Beberapa penderita, terutama yang berusia lanjut, menjadi pelupa, bingung dan pikun. Jika tidak diobati, pada akhirnya akan terjadi anemia dan gagal jantung. Keadaan ini bisa berkembang menjadi stupor atau koma (koma miksedema). Keadaan ini bisa

berakibat fatal; pernafasan menjadi lambat, penderita mengalami kejang dan aliran darah ke otak berkurang. Koma miksedema bisa dipicu oleh: - cuaca dingin - infeksi - trauma - obat-obatan (misalnya obat penenang yang menekan fungsi otak). D. Komplikasi dan Penatalaksanaan Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang ditandai oleh eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermi tanpa menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga koma. Kematian dapat terjadi apabila tidak diberikan HT dan stabilisasi semua gejala. Dalam keadaan darurat (misalnya koma miksedem), hormon tiroid bisa diberikan secara intravena. Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang banyak disukai adalah hormone tiroid buatan T4. Bentuk yanglain adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid hewan). Pengobatan pada penderita usia lanjut dimulai dengan hormon tiroid dosis rendah, karena dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan efek samping yang serius. Dosisnya diturunkan secara bertahap sampai kadar TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus diminum sepanjang hidup penderita. Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai pengganti hormone tiroid. Apabila penyebab hipotiroidism berkaitan dengan tumor susunan saraf pusat, maka dapat diberikan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan. F. Pengkajian Keperawatan Dampak penurunan kadar hormon dalam tubuh sangat bervariasi, oleh karena itu lakukanlah pengkajian terhadap ha1-ha1 penting yang dapat menggali sebanyak mungkin informasi antara lain 1. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama. 2. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti a. Pola makan b. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur). c. Pola aktivitas. 3. Tempt tinggal klien sekarang dan pada waktu balita. 4. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh; a. Sistem pulmonari b. Sistem pencernaan c. Sistem kardiovaslkuler d. Sistem muskuloskeletal e. Sistem neurologik dan Emosi/psikologis f. Sistem reproduksi g. Metabolik

5. Pemeriksaart fisik mencakup a. Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema sekitar mata, wajah bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah kasar. Lidah tampak menebal dan gerakgerik klien sangat lamban. Postur tubuh keen dan pendek. Kulit kasar, tebal dan berisik, dingin dan pucat.

b. Nadi lambat dan suhu tubuh menurun: c. Perbesaran jantung d. Disritmia dan hipotensi e. Parastesia dan reflek tendon menurun G. Diagnosa dan Intervensi 1. Intoleran aktivitas berhubungan dengan. kelelahan dan penurunan proses kognitif. Tujuan : Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian Intervensi a. Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang dapat ditelerir. Rasional : Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk mendapatkan istirahat yang adekuat. b. Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah. Rasional : Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri. c. Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktititas Rasional : Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang. 2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal Tujuan : Pemulihan fungsi usus yang normal. Intervensi a. Dorong peningkatan asupan cairan Rasional : Meminimalkan kehilangan panas b. Berikan makanan yang kaya akan serat Rasional : Meningkatkan massa feses dan frekuensi buang air besar c. Ajarkan kepada klien, tentang jenis -jenis makanan yang banyak mengandung air Rasional : Untuk peningkatan asupan cairan kepada pasien agar . feses tidak keras d. Pantau fungsi usus Rasional : Memungkinkan deteksi konstipasi dan pemulihan kepada pola defekasi yang normal. e. Dorong klien untuk meningkatkan mobilisasi dalam batas-batas toleransi latihan. Rasional : Meningkatkan evakuasi feses f. Kolaborasi : untuk pemberian obat pecahar dan enema bila diperlukan. Rasional : Untuk mengencerkan fees.

3. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi Tujuan: Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas yang normal. Intervensi a. Pantau frekuensi; kedalaman, pola pernapasan; oksimetri denyut nadi dan gas darah arterial Rasional : Mengidentifikasi hasil pemeriksaan dasar untuk memantau perubahan selanjutnya dan mengevaluasi efektifitas intervensi. b. Dorong pasien untuk napas dalam dan batuk Rasional : Mencegah aktifitas dan meningkatkan pernapasan yang adekuat. c. Berikan obat (hipnotik dan sedatip) dengan hati-hati Rasional : Pasien hipotiroidisme sangat rentan terhadap gangguan pernapasan akibat a. gangguan obat golongan hipnotik-sedatif. Rasional : Penggunaan saluran napas artifisial dan dukungan ventilasi mungkin diperlukan jika terjadi depresi pernapasan

4. Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan perubahan status kardiovaskuler serta pernapasan. Tujuan: Perbaikan proses berpikir. Intervensi a. Orientasikan pasien terhadap waktu, tempat, tanggal dan kejadian disekitar dirinya. b. Berikan stimulasi lewat percakapan dan aktifitas yang, tidak bersifat mengancam. Rasional : Memudahkan stimulasi dalam batas-batas toleransi pasien terhadap stres. c. Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa perubahan pada fungsi kognitif dan mental merupakan akibat dan proses penyakit . . Rasional : Meyakinkan pasien dan keluarga tentang penyebab perubahan kognitif dan bahwa hasil akhir yang positif dimungkinkan jika dilakukan terapi yang tepat HIPERTROFI KELENJAR TIROID BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Tujuan dalam pengembangan kesehatan yang tercantum dalam fungsi kesehatan nasional (SKN) adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan nasional (Sumarmo,1998). Struma koloid , difus, nontoksik dan nodular koloid merupakan gangguan yang sangat sering dijumpai dan menyerang 16 % perempuan dan 4 % laki-laki yang berusia antara 20 sampai 60 tahun seperti yang telah dibuktikan oleh suatu penyelidikan di Tecumseh, suatu komunitas di Michigan. Biasanya tidak ada gejala-gejala lain kecuali gangguan kosmetik, tetapi kadangkadang timbul komplikasi-komplikasi. Struma mungkin membesar secara difus dan atau bernodula. Struma endemic merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebab utamanya adalah efisiensi yodium, disamping factor-faktor lain misalnya bertambahnya kebutuhan yodium pada masa pertumbuhan, kehamilan dan laktasi atau pengaruh-pengaruh zat-zat goitrogenik.

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS A. KONSEP MEDIS 1. Pengertian Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh penambahan jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan keluhan seperti berdebar - debar, keringat, gemetaran, bicara jadi gagap, mencret, berat badan menurun, mata membesar, penyakit ini dinamakan hipertiroid (graves disease). Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. Struma Diffusa toxica adalah salah satu jenis struma yang disebabkan oleh sekresi hormonhormon thyroid yang terlalu banyak. Histologik keadaan ini adalah sebagai suatu hipertrofi

dan hyperplasi dari parenkhym kelenjar. Struma endemik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang disebabkan oleh asupan mineral yodium yang kurang dalam waktu yang lama. Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu nodul ,tanpa disertai tanda tanda hipertiroidisme,berdasarkan jumlah nodul ,dibagi : Struma mononodosa non toksik Struma multinodosa nontoksik Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif,nodul dibedakan menjadi : nodul dingin ,nodul hangat,nodul panas, Sedangkan berdasarkan konsistensinya ,nodul dibedakan menjadi,nodul lunak ,nodul kistik, nodul keras,nodul sangat keras. Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. 2. Etiologi Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain : 1. Defisiensi iodium 2. Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan. 3. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid. 4. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai). 5. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).

3. Manifestasi Klinik 1. Berat badan menurun 2. Dispnea 3. Berkeringat 4. Diare 5. Kelelahan otot 6. Tremor (jari tangan dan kaki) 7. Oligomenore/amenore 8. Telapak tangan panas dan lembab 9. Takikardia, denyut nadi kadang tidak teratur karena fibrilasi atrium, pulses seler 10. Gugup, mudah terangsang, gelisah, emosi tidak stabil, insomnia. 11. Gondok (mungkin disertai bunyi denyut dan getaran). 4. Patofisiologi Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon

tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid.

5. Pemeriksaan Diagnostik Diagnosis dapat ditegakkan atas dasar adanya struma yang bernodul dan tidak toksik, melalui : 1. Pada palpasi teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal. 2. Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (troksin) dan T3 (triyodotironin) dalam batas normal. 3. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi) dapat dibedakan padat atau tidaknya nodul. 4. Kepastian histologi dapat ditegakkan melalui biopsi yang hanya dapat dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalaman.

6. Penatalaksanaan Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat antara lain yaitu : 1. Edukasi Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium. 2. Penyuntikan lipidol Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc 0,8 cc. 3. Tindakan operasi Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil, terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi keganasan yang pasti akan dicurigai.

B. KONSEP KEPERAWATAN

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan, penulis menggunakan pedoman asuhan keperawatan sebagai dasar pemecahan masalah pasien secara ilmiah dan sistematis yang meliputi tahap pengkajian, perencanaan keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. 1. Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik meliputi : 1. Aktivitas/istirahat ; insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot. 2. Eliminasi ; urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare. 3. Integritas ego ; mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi. 4. Makanan/cairan ; kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid, goiter. 5. Rasa nyeri/kenyamanan ; nyeri orbital, fotofobia. 6. Pernafasan ; frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis). 7. Keamanan ; tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah. 8. Seksualitas ; libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Langkah selanjutnya adalah penentuan diagnosa keperawatan yang merupakan suatu pernyataan dan masalah pasien secara nyata maupun potensial berdasarkan data yang terkumpul. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan struma nodosa nontoksis khususnya post operai dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laringeal. 2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan. 3. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat. 4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi.

3. INTERVENSI Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah pasien sesuai diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan pasien. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang diuraikan di atas, maka disusunlah rencana keperawatan/intervensi sebagai berikut : 1. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi

trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laryngeal. Tujuan yang ingin dicpai sesuai kriteria hasil : Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi. Rencana tindakan/intervensi: Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi. Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara. Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara. Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi. Rasional : Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema atau perdarahan. Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat. Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan intervensi segera. Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka karena pembedahan. Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai indikasi, catat warna dan karakteristik sputum.

2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan saraf laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami. Rencana tindakan/intervensi: Kaji fungsi bicara secara periodik. Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak. Memberikan metode komunikasi alternatif yang sesuai, seperti papan tulis, kertas tulis/papan gambar. Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungan pasien secara teratur. Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan jawablah bel panggilan dengan segera. Rasional : Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal yang berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada trakea. Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara. Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan. Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunias. Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan yang diketahui/memerlukan bantuan.

3. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Menunjukkan tidak ada cedera dengan komplikasi terpenuhi/terkontrol. Rencana tindakan/intervensi

Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardi (140 200/menit), disrtrimia, syanosis, sakit waktu bernafas (pembengkakan paru). Evaluasi reflesi secara periodik. Observasi adanya peka rangsang, misalnya gerakan tersentak, adanya kejang, prestesia. Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan, tmpat tidur pada posisi yang rendah. Memantau kadar kalsium dalam serum. Kolaborasi berikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat, laktat). Rasional : Manipulasi kelenjar selama pembedahan dapat mengakibatkan peningkatan pengeluaran hormon yang menyebabkan krisis tyroid. Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat terjadi 1 7 hari pasca operasi dan merupakan indikasi hypoparatiroid yang dapat terjadi sebagai akibat dari trauma yang tidak disengaja pada pengangkatan parsial atau total kelenjar paratiroid selama pembedahan. Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang. Kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti. Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya sementara tetapi mungkin juga menjadi permanen. 4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan paska operasi. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi. Rencana tindakan/intervensi : Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi, intensitas (skala 0 10) dan lamanya. Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil. Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama perubahan posisi. Instruksikan pasien menggunakan tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan untuk menghindari hiperekstensi leher. Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan yang mudah. Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan. Rasional : Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi, menentukan efektivitas terapi. Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas gari jahitan. Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot. Membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi. Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan. 4. IMPLEMENTASI Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien. Dalam melaksanakan keperawatan, haruslah dilibatkan tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit.

5. EVALUASI Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai tingkat keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. Dari rumusan seluruh rencana keperawatan serta impelementasinya, maka pada tahap evaluasi ini akan difokuskan pada : 1. Apakah jalan nafas pasien efektif? 2. Apakah komunikasi verbal dari pasien lancar? 3. Apakah tidak terjadi tanda-tanda infeksi? 4. Apakah gangguan rasa nyaman dari pasien dapat terpenuhi? 5. Apakah pasien telah mengerti tentang proses penyakitnya serta tindakan perawatan dan pengobatannya?
Posted by Fitri Niagantini_09132_2D at 11:30 PM Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook

No comments: Post a Comment

Older PostHome
Subscribe to: Post Comments (Atom) FOLLOWERS BLOG ARCHIVE
2011 (7) o July (1)

Konsep Dasar Peyakit 1. Pengertian Hipertiroidisme merupakan kelainan endokrin yang dapat dicegah, seperti kebanyakan kondisi tiroid, kelainan ini merupakan kelainan yang sangat menonjol pada wanita. Kelainan ini menyerang wanita empat kali lebih banyak daripada pada pria, terutama wanita muda yang berusia antara 20 dan 40 tahun. Disini dapat dikarenakan karena dari proses menstruasi, kehamilan dan menyusui itu sendiri menyebabkan hipermetabolisme sebagai akibat peningkatan kerja daripada hormone tiroid .(Hotma R, 2006). Jumlah penderita hipertiroid terus meningkat. Hipertiroid merupakan penyakit hormon yang menempati urutan kedua terbesar di Indonesia setelah diabetes. Posisi ini serupa dengan kasus di dunia. Lebih dari 90 % hipertiroidisme adalah akibat penyakit graves dan nodul tiroid toksik.

2. Penyebab hipertiroidisme Biasa Tidak biasa Nodul tiroid toksik : multinodular dan mononodular toksik. Tiroiditis. hipertiroidisme neonatal, hipertiroidisme faktisius, sekresi TSH yang tidak tepat oleh hipofisis, tumor, nontumor (syndrome resistensi hormone tiroid), yodium eksogen metastasis kanker tiroid, koriokarsinoma dan mola hidatidosa, struma ovarii, karsinoma testicular embrional

Jarang

3. Gejala kinis Hipertiroidisme pada penyakit Graves adalah akibat antibody reseptor thyroid stimulating hormone (TSH ) yang merangsang aktivitas tiroid, sedang pada Goiter multinodular toksik berhubungan dengan autonomi tiroid itu sendiri. Perjalanan penyakit hipertiroidisme biasanya perlahan- lahan dalam beberapa bulan sampai beberapa tahun. Manifestasi klinis yang paling sering adalah penurunan berat badan, kelelahan, tremor, gugup, berkeringat banyak, tidak tahan panas, palpitasi dan pembesaran tiroid Gambaran klinis hipertroidisme Umum BB turun, keletihan, apatis, berkeringat, tidak tahan panas. Emosi : gelisah, iritabilitas, gugup, emosi labil, perilaku mania dan perhatian menyempit. palpitasi, sesak nafas, angina, gagal jantung, sinus takikardi, disritmia, fibrilasi atrium, nadi kolaps. gugup, agitasi, tremor, korea atetosis, psikosis, kelemahan otot, miopati proksimal, paralisis periodik, miastenia gravis. BB turun, nafsu makan meningkat, diare, steatore, muntah oligomenore, amenore, libido meningkat, infertilitas pruritus, eritema Palmaris, miksedemia pretibial, rambut tipis difus dengan atau tanpa bising, nodosa periorbital puffiness, lakrimasi meningkat dan grittiness of eyes, kemosis ( odema konjungtiva), proptosis, ulserasi

Kardiovaskuler Neuromuskuler

Gastrointestinal Reproduksi Kulit Struma Mata

kornea, oftalmoplegia, diplopia, edema papil, penglihatan kabur.

4. Pathofisiologi Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyaknya hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel di dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat berapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat. Perubahan pada kelenjar tiroid ini mirip dengan perubahan akibat kelebihan TSH. Pada beberapa penderita ditemukan adaya beberapa bahan yang mempunyai kerja mirip dengan TSH yang ada di dalam darah. Biasanya bahanbahan ini adalah antibodi imunoglobulin yang berikatan dengan reseptor membran yang sama degan reseptor membran yang mengikat TSH. Bahanbahan tersebut merangsang aktivasi terus-menerus dari sistem cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah hipertiroidisme. Dimana ada peningkatan produksi T3 dan T4 mengakibatkan peningkatan pembentukan limfosit oleh karena efek dari auto imun yang akan mengilfiltrasi kejaringan orbita dan otot mata sehingga terjadi edema jaringan retro orbita mengakibatkan eksoftalmus. Pada beberapa keadaan dapat menjadi sangat parah sehingga protusi bola mata dapat menarik saraf optik sehingga mengganggu penglihatan penderita. Yang lebih sering yaitu kerusakan pada kelopak mata yang menjadi sulit menutup sempurna pada waktu penderita berkedip atau tidur akibatnya permukaan epitel mata menjadi kering dan mudah mengalami iritasi dan seringkali terinfeksi sehingga timbul luka pada kornea penderita. Peningkatan produksi T3 dan T4 juga mengakibatkan aktivitas simpatis berlebih, adanya peningkatan aktivitas medula spinalis yang akan menyebabkan gangguan pengeluaran tonus otot sehingga menimbulkan tremor halus. Peningkatan kecepatan serebrasi mengakibatkan gelisah, apatis, paranoid, dan ansietas Selain itu dapat mengakibatkan hipermetabolisme yang berpengaruh pada peningkatan sekresi getah pencernaan dan peningkatan peristaltik saluran

cerna dimana salah satunya akan ada peningkatan nafsu makan dan juga timbulnya diare. Bila terjadi peningkatan metabolisme KH dan lemak mengakibatkan proses oksidasi dalam tubuh meningkat yang akan meningkatkan produksi panas ditandai dengan berkeringat dan tidak tahan panas dan penurunan cadangan energi mengakibatkan kelelahan dan penurunan berat badan. Karena hipermetabolisme sehingga penggunaan O2 lebih cepat dari normal dan adanya peningkatan CO2 menyebabkan peningkatan kecepatan nafas sehingga terjadi sesak nafas. 5. Pemeriksaaan Fisik Eksoftalmus : bulbus okuli menonjol keluar Tanda stellwags : mata jarang berkedip Tanda Von Graefes : jika klien melihat kebawah maka palpebra superior sukar atau sama sekali tidak dapat mengikuti bola mata. Tanda Mobieve : sukar mengadakan atau menahan konvergensi Tanda Joffroy : tadak dapat mengerutkan dahi jika melihat keatas Tanda Rosenbagh : tremor palpebra jika mata menutup 6. Pemeriksaan Penunjang Tes ambilan RAI : meningkat T4 dan T3 serum : meningkat TSH : tertekan dan tidak berespon pada TRH (tiroid releasing hormon) Tiroglobulin : meningkat Stimulasi TRH : dikatakan hipertiroid jika TRH dari tidak ada sampai meningkat setelah pemberian TRH Ambilan tiroid131: meningkat Ikatan proein iodium : meningkat Fosfat alkali dan kalsium serum : meningkat. Pemeriksaan fungsi hepar : abnormal

Elektrolit : hiponatremi mungkin sebagai akibat dari respon adrenal atau efek dilusi dalam terapi cairan pengganti, hipokalsemia terjadi dengan sendirinya pada kehilangan melalui gastrointestinal dan diuresis.

Katekolamin serum : menurun. Kreatinin urine : meningkat

Skanning tyroid USG thyroid Pemeriksaan elektrokardiografi ( EKG) : fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek, kardiomegali.

7. Diagnosis Sebagian besar pasien memberikan gejala klinis yang jelas, tetapi pemeriksaan laboratorium tetap perlu untuk menguatkan diagnosis. Pada kasus kasus subklinis dan pasien usia lanjut perlu pemeriksaan laboratorium yang cermat untuk membantu menetapkan diagnosis hipertiroidisme. Diagnosis pada wanita hamil agak sulit karena perubahan fisiologis pada kehamilan seperti pembesaran tiroid serta manifestasi hipermetabolik, sama seperti tirotoksikosis. Menurut Bayer MF, pada pasien hipertiroidisme akan didapatkan TSHs ( Thyroid Stimulating Hormone Sensitive ) tak terukur atau jelas subnormal dan Free T4 ( FT4) meningkat. Terapy / Penanganan 1. Obat antitiroid Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormone tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi ( obat antitiroid ) atau merusak jaringan tiroid ( yodium radioaktif, tiroidektomi sub total) Digunakan dengan indikasi :

Obat diberikan dalam dosis besar pada permulaan sampai eutiroidisme lalu diberikan dosis rendah untuk mempertahankan eutiroidisme. Tabel obat antitiroid yang sering digunakan : Obat Dosis awal ( mg/ hari) Karbimazol Metimazol Propiltiourasil 30-60 30-60 300-600

Pemeliharaan (mg /hari) 5-20 5- 20 50- 200

Ketiga obat ini mempunyai kerja imunosupresif dan dapat menurunkan konsentrasi thyroid stimulating antibody ( TSAb) yang bekerja pada sel tiroid. Obat- obat ini umumnya diberikan sekitar 18- 24 bulan. Pemakaian obat- obat ini dapat menimbulkan efek samping berupa hipersensitifitas dan agranulositosis. Apabila timbul hipersensitivitas maka obat diganti, tetapi bila timbul agranulositosis maka obat dihentikan. Pada pasien hamil biasanya diberikan propiltiourasil dengan dosis serendah mungkin yaitu 200 mg/ hari atau lebih lagi. Hipertiroidisme kerap kali sembuh spontan pada kehamilan tua sehingga propiltiourasil dihentikan. Obat- obat tambahan sebaiknya tidak diberikan karena T4 yang dapat melewati plasenta hanya sedikit sekali dan tidak dapat mencegah hipertiroidisme pada bayi yang baru lahir. Pada masa laktasi juga diberikan propiltiourasil karena hanya sedikit sekali yang keluar dari air susu ibu. Dosis yang dipakai 100-150 mg tiap 8 jam. Setelah pasien eutiroid, secara klinis dan laboratorium, dosis diturunkan dan dipertahankan menjadi 2 x 50 mg/hari. Kadar T4dipertahankan pada batas atas normal dengan dosis propiltiourasil < 100 mg/hari. Apabila tirotoksikosis timbul lagi, biasanya pascapersalinan, propiltiourasil dinaikkan sampai 300 mg/hari. 2. Pengobatan dengan yodium radioaktif Digunakan Y131 dengan dosis 5-12 mCi peroral. Dosis ini dapat mengendalikan tirodotoksikosis dalam 3 bulan, namun pasien menjadi

hipotiroid pada tahun pertama. Efek samping pengobatan dengan yodium radioaktif adalah hipotiroidisme, eksaserbasi hipotiroidisme dan tiroiditis. 3. Tindakan operatif Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme. Indikasi operasi adalah : Sebelum operasi, biasanya pasien diberi obat antitiroid sampai eutiroid kemudian diberi cairan kalium yodida 100-200 mg/hari atau cairan lugol 10-15 tetes/hari selama 10 hari sebelum dioperasi untuk mengurangi vaskularisasi pada kalenjar tiroid.

Obat ini diberikan untuk mengurangi gejala dan tanda hipertiroidisme. Dosis diberikan 40-200 mg/hari yang dibagi atas 4 dosis. Pada orang lanjut usia diberi 10 mg/6jam. Yodium terutama digunakan untuk persiapan operasi, sesudah pengobatan dengan yodium radioaktif dan pada krisis tiroid. Biasanya diberikan dalam dosis 100-300 mg/hari. Ipodat kerjanya lebih cepat dibanding propiltiourasil dan sangat baik digunakan pada keadaan akut seperti krisis tiroid. Kerja ipodat adalah menurunkan konversi T4 diperifer, mengurangi sintesis hormone tiroid serta mengurangi pengeluaran hormone dari tiroid. Litium mempunyai daya kerja seperti yodium, namun tidak jelas keuntungannya dibandingkan dengan yodium. Litium dapat digunakan pada pasien dengan krisis tiroid yang alergi terhadap yodium. B. Konsep Dasar Perawatan 1. Pengkajian DS : insomnia, keletihan / kelelahan

DO : takikardia DS : nyeri dada DO : takikardia, disritmia (fibrilasi atrium), palpitasi. DS : adanya riwayat factor stress yang baru dialami, termasuk sakit fisik / pembedahan, ketidakmampuan mengatasi stress. DO : tanda ansietas misalnya gelisah, pucat, berkeringat, tremor / gemetar, suara gemetar, emosi labil , depresi. DS : diare DO : konsistensi feses cair, DS : anoreksia, mual, BB menurun, nafsu makan meningkat, makan banyak, kehausan DO : muntah, pembesaran tiroid, goiter, edema nonpitting terutama daerah pretibial DS : tidak tahan panas DO : bicara cepat dan parau Gangguan status mental dan prilaku seperti: bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang, delirium, psikosis, stupor. Koma. Tremor halus pada tangan DS : nyeri orbital, fotofobia DO : kelopak mata sulit menutup DS : mengeluh nafas terasa sesak DO : frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea

DS : nafsu seks menurun DO : penurunan libido, hilangnya tanda tanda seks sekunder misalnya : berkurangnya rambut rambut pada tubuh terutama pada wanita Hipomenore,amenore dan impoten

2.Diagnosa Keperawatan yang Muncul 1. Penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung. 2.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan); mual muntah, diare 3.Resti terhadap kerusakan integritas jaringan kornea b/d perubahan mekanisme perlindungan dari mata : kerusakan penutupan kelopak mata / eksoftalmus 4.Resti terhadap perubahan proses pikir b/d pola tidur 5.Cemas b.d faktor fisiologis, status hipermetabolik (stimulasi SSP), efek pseudokatekolamin dari hormon tiroid 6.Perubahan Body image b.d perubahan fisik dan persepsi negative terhadap penyakitnya 7.Intoleransi aktivitas b.d penurunan cadangan energy akibat hipermetabolik, kelelahan. 8.Resiko cedera b.d penurunan tonus otot, tremor 9.Resiko hipertermia b.d peningkatan produksi panas akibat hipermetabolik

10.Resiko kerusakan integritas kulit b.d peningkatan pengeluaran keringat, eritema, pruritus 11.Perubahan sensori-persepsi : Visual b.d exoptalmus, optalmopati 12.Diare b.d hiperperistaltik sekunder akibat hipermetabolisme 13.Gangguan Pola Tidur b.d hiperaktivitas saraf simpatis 3. Rencana Perawatan Dari beberapa diagnose Perawatan yang mungkin muncul pada pasien hipertiroid, kelompok menyusun Perencanaan terhadap 4 diagnosa perawatan yaitu ;Penurunan curah jantung, Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan, Resti kerusakan integritas jaringan kornea, dan resti terhadap perubahan proses pikir. Terlampir. 4. Implementasi Dilaksanakan sesuai dengan rencana Tindakan. 5. Evaluasi Pasien dapat mempertahankan curah jantung yang adekut sesuai dengan kebutuhan tubuh yang ditandai dengan tanda vital stabil, denyut nadi perifer normal, pengisian kapiler normal, status mental baik, tidak ada disritmia. Nutrisi pasien adekuat, menunjukkan BB yang stabil disertai dengan nilai laboratorium yang normal dan terbebas dari tanda-tanda malnutrisi. Pasien mampu memperthankan kelembaban membrane mukosa mata, terbebas dari ulkus, mampu mengidentifikasikan tindakan untuk memberikan perlindungan pada mata dan pencegahan komplikasi. Pasien mampu mempertahankan orientasi realita umumnya, mengenali perubahan dalam berpikir /perilaku dan factor penyebab.

About these ads

Share this:

Twitter1 Facebook

Like this:

Posts navigation
Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Appendiksitis. Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Tuberkulosis Paru

Leave a Reply

Search for:

Categories

Blog Stats

30,010 hits

Recent Posts
226 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA IKTERUS ASUHAN KEPERAWATAN BAYI PREMATUR ASUHAN KEPERAWATAN ASPIRASI MEKONIUM

Archives

Tag

Anemia appendiksitis

articleAskep aspirasi aterosklerosisChusing sindrom endokrin GO hipertiroidhomecare jalan

kaki Kanker heparkardiovaskuler kekebalan seksual beracun Paru

keperawatan

kepuasan

kesehatan kesepian kolesterolKuliah laki laki leininger lintas budaya makhluk News orgasme oxalatPencernaan PJB Prematur psikologi red cells Sains sayur seksio serosis hepatissperma sehat TB

transkulturalwanita

RSS - Posts RSS - Comments

May 2011 M T W T F S S Jun 1 2 9 16 3 10 17 4 11 18 5 12 19 6 13 20 7 14 21 8 15 22

May 2011 M 23 30 T 24 31 W 25 T 26 F 27 S 28 S 29

Admin
Register Log in Entries RSS Comments RSS WordPress.com

Top Clicks
wayanpuja.files.wordpress

Pages
About Me Artikel Kumpulan Askep

Freeware

Flickr Photos

More Photos

Follow Blog
Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

Follow