You are on page 1of 20

DI BPS SERANG TAHUN 2013

LATAR BELAKANG
Angka pertumbuhan lanjut usia yang berumur 70

tahun ke atas akan naik 5,6% dalam kurun waktu 1985-1995. Menurut laporan data demografi penduduk internasional yang dikeluarkan oleh Bureau of the Census USA (1993), dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1990-2025 akanmempunyai kenaikan jumlah usia lanjut sebesar 414%, suatu angka paling tinggi di seluruh dunia.

lanjutan
Sedangkan di Indonesia, seiring dengan meningkatnya

kualitas kesehatan dan usia harapan hidup maka jumlah lanjut usia dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Indonesia sendiri menempati peringkat keempat dunia dengan penduduk berusia lanjut terbanyak di Dunia dibawah Cina, India, dan Amerika Serikat. Jika pada tahun 1980 usia harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 52,2 tahun, maka pada tahun 1990 menjadi 59,8 tahun, dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 64,5 tahun.

Tujuan
Tujuan Umum

Mahasiswa mampu menerapkan konsep, teori, dan prinsip asuhan keperawatan serta intervensi keperawatan gerontik. Tujuan Khusus Melakukan pengkajian keperawatan gerontik. Melakukan analisis masalah keperawatan gerontik. Melakukan pendiagnosaan keperawatan gerontik. Melakukan intervensi keperawatan gerontik. Melakukan evaluasi keperawatan gerontik.

Manfaat
Bagi Institusi Pendidikan

Peningkatan kualitas proses belajar secara nyata serta mampu mengembangkan teknik asuhan keperawatan gerontik di Balai Perlindungan Sosial (Panti Werda). Bagi Mahasiswa Diharapkan dapat memperluas wawasan dan menambah pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu keperawatan gerontik.

Tinjauan pustaka
Proses menua adalah proses fisiologis yang dialami

oleh semua manusia seiring dengan bertambahnya usia. Meskipun proses ini berusaha dihindari, tetapi tetap harus dijalani. Kemunduran fungsi merupakan salah satu akibat proses menua.

Rematik pada lansia


Rematik merupakan penyakit yang dapat berujung pada bahaya karena

ketika telah mencapai tingkat kronisnya rematik dapat menjadi salah satu penyebab kelumpuhan pada anggota gerak pada tubuh penderita

Pengkajian
Identitias Klien Nama Umur Jenis kelamin Pendidikan Suku Agama Status perkawinan Tanggal Pengkajian Tanggal masuk Alamat
: Ny.S : 89 tahun : Perempuan : Tidak sekolah : Sunda : Islam : Janda : 25 juni 2013 : 20 Mei 2013 : Maja, Labuan

Status kesehatan saat ini


Pada saat di kaji klien mengatakan ekstremitas bagian kaki

sebelah kiri tidak bisa di gerakan akibat terjatuh, oleh karena itu klien tidak bisa berjalan. P: Kelumpuhan pada ekstermitas bawah Q: Ekstermitas bagian bawah tidak bisa digerakan R: Kelumpuhan terdapat di bagian pantat sampai kebawah S: Skala tidak bisa digerakan dari 0-10 adalah 4 T: Pada saat melakukan aktivitas kekamar mandi atau pun memakai baju dengan cara menggeser badannya secara pelan- pelan.

Hasil pengkajian
KATZ index

Pada saat dikaji melakukannya dengan cara sendiri Misalnya dalam makan akan tetapi untuk mengambil makan sendiri didapur tidak bisa, kontinensia BAB dan BAK klien menggunakan pempres dan untuk mandi klien bisa kekamar mandi sendiri.pergi ketoilet klien bisa dan berpindah tempat bisa sendiri

Lanjutan
BATHEL index

Jumlah 65 : keteregantungan sebagian akan tetapi semua tindakan ayang dilakukan harus dengan pantauan. Pengkajian status mental skor total 7 kerusakan intelektual berat

Lanjutan
Identifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan MMSE ( mini mental status exam) Catatan : total nilai 11 yaitu

terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat.

Pengakajian keseimbangan
Perubahan posisi atau keseimbangan

Bangun dari kursi 0 Duduk di kursi 0 Menahan dorongan pada sternum (pemeriksa mendorong sternum perlahan-lahan sebanyak 3 kali) 1 Mata tertutup 1 Perputaran leher 1 Gerakan menggapai sesuatu 1 Membungkuk

Komponen gaya berjalan atau gerakan

Meminta klien untuk berjalan ke tempat yang di tentukan 0 Ketinggian langkah kaki (mengangkat kaki saat melangkag) 0 Kontiuitas langkah kaki 0 Kesemetrisan langkah 0 Penyimpangan jalur pada saat berjalan 0 Berbalik 0 Catatan : resiko jatuh rendah

Prioritas diagnosa
Resiko tinggi injuri berulang (cidera) berhubungan

dengan penurunan fungsi organ Muskuloskeletal Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan fungsi otot dan penurunan sendi akibat mempunyai riwayat jatuh Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan aktivitas yang menurun

IMPLEMENTASI
Hari/ tanggal Dx Rabu 10 juli 2013 I,II, III

Implementasi

Mengepel lantai yang licin


Membina hubungan BHSP (bina

hubungan saling percaya) Mengkaji keluhan klien ( mengkaji penyebab klien marah marah. Melakukan ROM dan pemijatan

dengan

minyak

urut

Non

Farmakologi) Membersihkan dan memotong kuku

EVALUASI
Hari/ tanggal Rabu 10 juli 2013 dx I, II,III evaluasi S: -klien mengatakan senang diajak ngobrol dan bercanda -Klien mengatakan bahwa kakinya sering sakit dan susah untuk berjalan O: -Klien tampak tenang -Klien tampak kooperatif A : masalah sebagian teratasi P : intervensi dilanjutkan

Kesimpulan dan saran


Kesimpulan

Pada proses menua terjadi degenerasi, penipisan mukosa, hiposalivasi, penurunan aktivitas dan massa otot. Sendi temporomandibula mengalami artritis dan osteoporosis akibat beban berlebihan, usia pemakaian sendi dan pencabutan gigi dalam jumlah banyak tanpa penggantian. Hal ini pasti terjadi pada setiap manusia, satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah menjaga kondisi tetap sehat dan bugar dengan makanmakanan sehat teratur serta laatihan fisik secara rutin.

lanjutkan
Saran

- Bagi mahasiswa Dalam Melakukan Asuhan keperawatan gerontik diharapkan mahasiswa mampu melakukan asuhan yang lebih komprehensif terhadap masalah biofsikososial kepada lansia.