You are on page 1of 13

ASURANSI dalam ISLAM

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester MataKuliah : Fiqih Mu`amalah Dosen Pengampu : Sholikhul Hadi, M.Ag

Disusun oleh: Laila Fitriyana ( 212235 )

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN SYARI`AH/EI - REGULER TAHUN AKADEMIK 2013

ASURANSI dalam ISLAM


I. PENDAHULUAN Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam macam resiko dan bahaya. Dan manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari dan dimana dia akan meninggal dunia. Resiko yang mengancam manusia sangatlah beragam, mulai dari kecelakaan transportasi udara, kapal, hingga angkutan darat. Manusia juga menghadapi kecelakaan kerja, kebakaran, perampokan, pencurian, terkena penyakit, bahkan kematian itu sendiri. Untuk menanggulangi itu semua, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi yang bisa menjamin diri dan hartanya, yang kemudian dikenal dengan istilah asuransi. Asuransi ini termasuk muamalat kontemporer yang belum ada pada zaman nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, perlu ada penjelasan tentang hukumnya di dalam Islam.

II. RUMUSAN MASALAH a. Apa pengertian asuransi ? b. Apa saja bentuk bentuk asuransi ? c. Apa perbedaan asuransi syari`ah dan asuransi konvensional? d. Bagaimanakah hukum asuransi menurut Islam ?

III. PEMBAHASAN a. Pengertian Asuransi Asuransi berasal dari kata assurantie dalam bahasa Belanda,

atau assurance dalam bahasa perancis, atau assurance/insurance dalam bahasa Inggris. Assurance berarti menanggung sesuatu yang pasti terjadi, sedang Insurance berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi. Menurut sebagian ahli asuransi berasal dari bahasa Yunani,

yaitu assecurare yang berarti menyakinkan orang. Di dalam bahasa Arab asuransi dikenal dengan istilah : at Takaful, atau at Tadhamun yang berarti : saling menanggung. Asuransi ini disebut juga dengan istilah at-Tamin, berasal dari kata amina, yang berarti aman, tentram, dan tenang. Lawannya adalah al-khouf, yang berarti takut dan khawatir. ( al Fayumi, al Misbah al Munir, hlm : 21 ) Dinamakan at Tamin, karena orang yang melakukan transaksi ini (khususnya para peserta ) telah merasa aman dan

tidak terlalu takut terhadap bahaya yang akan menimpanya dengan adanya transaksi ini. Adapun asuransi menurut terminologi sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1992: Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri pada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan 1 b. Bentuk - Bentuk Asuransi Para ahli berbeda pendapat di dalam menyebutkan jenis-jenis asuransi, karena masing-masing melihat dari aspek tertentu. Oleh karenanya, dalam tulisan ini akan disebutkan jenis-jenis asuransi ditinjau dari berbagai aspek, baik dari aspek peserta, pertanggungan, maupun dari aspek sistem yang digunakan : I. Asuransi ditinjau dari aspek peserta, maka dibagi menjadi : 1. Asuransi Pribadi ( Tamin Fardi ) : yaitu asuransi yang dilakukan oleh

seseorang untuk menjamin dari bahaya tertentu. Asuransi ini mencakup hampir seluruh bentuk asuransi, selain asuransi sosial 2. Asuransi Sosial ( Tamin Ijtimai ) , yaitu asuransi ( jaminan ) yang

diberikan kepada komunitas tertentu, seperti pegawai negri sipil ( PNS ), anggota ABRI, orang-orang yang sudah pensiun, orang-orang yang tidak mampu dan lain-lainnya. Asuransi ini biasanya diselenggarakan oleh pemerintah dan bersifat mengikat, seperti Asuransi Kesehatan ( Askes ), Asuransi Pensiunan dan Hari Tua ( PT Taspen ), Astek ( Asuransi Sosial Tenaga Kerja ) yang kemudian berubah menjadi Jamsostek ( Jaminan Sosial Tenaga Kerja), Asabri ( Asuransi Sosial khusus ABRI ), asuransi kendaraan, asuransi pendidikan dan lain-lain.2 II. Asuransi ditinjau dari bentuknya. Asuransi ditinjau dari bentuknya dibagi menjadi dua : 1. Asuransi Takaful atau Taawun. ( at Tamin at Taawuni )
1
2

Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2004, hlm.72 DR, Syekh Husain bin Muhammad al Malah, Al fatwa Nasyatuha wa Tathuwuruha, Hal. 909

2. Asuransi Niaga ( at Tamin at Tijari ) ini mencakup : asuransi kerugian dan asuransi jiwa. III. Asuransi ditinjau dari aspek pertanggungan atau obyek yang dipertanggungkan Jenis-jenis asuran ditinjau dari aspek pertanggungan adalah sebagai berikut : Pertama : Asuransi Umum atau Asuransi Kerugian ( Tamin al Adhrar ) Asuransi Kerugian adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang menderita kerugian barang atau benda miliknya, kerugian mana terjadi karena bencana atau bahaya terhadap mana pertanggungan ini diadakan, baik kerugian itu berupa:

Kehilangan nilai pakai atau kekurangan nilainya atau kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung. Penanggung tidak harus membayar ganti rugi kepada tertanggung kalau selama jangka waktu perjanjian obyek pertanggungan tidak mengalami bencana atau bahaya yang dipertanggungkan. Kedua : Asuransi Jiwa. ( Tamin al Askhas ) Asuransi jiwa adalah sebuah janji dari perusahaan asuransi kepada nasabahnya bahwa apabila si nasabah mengalami risiko kematian dalam hidupnya, maka perusahaan asuransi akan memberikan santunan dengan jumlah tertentu kepada ahli waris dari nasabah tersebut.3 Asuransi jiwa biasanya mempunyai tiga bentuk 1. Term Assurance (Asuransi Berjangka) Term assurance adalah bentuk dasar dari asuransi jiwa, yaitu polis yang menyediakan jaminan terhadap risiko meninggal dunia dalam periode waktu tertentu. Contoh Asuransi Berjangka (Term Insurance) :
Usia

Tertanggung 30 tahun 1 tahun

Masa Kontrak Rate

Premi (misal) : 5 permill/tahun dari Uang Pertanggungan : Rp. 100 Juta

Uang Pertanggungan Premi

Tahunan yang harus dibayar : 5/1000 x 100.000.000 = Rp.

500.000
3

Suhrawardi K. Lubis, Op. Cit, hlm.77 - 78

Yang

ditunjuk sebagai penerima UP : Istri (50%) dan anak pertama

(50%) Bila tertanggung meninggal dunia dalam masa kontrak, maka perusahaan Asuransi sebagai penanggung akan membayar uang Pertanggungan sebesar 100 juta kepada yang ditunjuk. 2. Whole Life Assurance (Asuransi Jiwa Seumur Hidup) Merupakan tipe lain dari asuransi jiwa yang akan membayar sejumlah uang pertanggungan ketika tertanggung meninggal dunia kapan pun. Merupakan polis permanen yang tidak dibatasi tanggal berakhirnya polis seperti pada term assurance. Karena klaim pasti akan terjadi maka premium akan lebih mahal dibanding premi term assurance dimana klaim hanya mungkin terjadi. Polis whole life merupakan polis substantif dan sering digunakan sebagai proteksi dalam pinjaman. 3. Endowment Assurance (Asuransi Dwiguna) Pada tipe ini, jumlah uang pertanggungan akan dibayarkan pada tanggal akhir kontrak yang telah ditetapkan. Contoh Asuransi Dwiguna Berjangka (Kombinasi Term &

Endowment)
Usia Tertanggung 30 Masa Kontrak Rate

tahun

10 tahun

Premi (misal) : 85 permill/tahun dari Uang Pertanggungan : Rp. 100 Juta

Uang Pertanggungan Premi Yang

yang harus dibayar : 85/1000 x 100.000.000 = Rp. 8.500.000,ditunjuk sebagai penerima UP : Istri (50%) dan anak pertama

(50%) 1. Bila tertanggung meninggal dunia dalam masa kontrak, maka perusahaan Asuransi sebagai penanggung akan membayar uang Pertanggungan sebesar 100 juta kepada yang ditunjuk. 2. Bila tertanggung hidup sampai akhir kontrak, maka tertanggung akan menerima uang pertanggungan sebesar 100 juta IV. Asuransi ditinjau dari sistem yang digunakan. Asuransi ditinjau dari sistem yang digunakan, maka menjadi : 1. Asuransi Konvensional

2. Asuransi Syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan risiko yang memenuhi ketentuan Syariah, tolong menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan operator.4 Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional. Adapun perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut : 1. Dari Sisi Prinsip Dasar Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah kedua- duanya bertugas untuk mengelola dan menanggulangi risiko, hanya saja di dalam Asuransi Syariah konsep pengelolaannya dilakukan dengan menggunakan pola saling menanggung risiko antara pengelola dan peserta( risk sharing ) atau disebut dengan at takaful dan at tadhamun. Sedang dalam Asuransi Konvensional pola kerjanya adalah memindahkan risiko dari nasabah ( peserta ) kepada perusahaan ( pengelola ), yang disebut dengan risk transfer. Sehingga resiko yang mengenai peserta akan ditanggung secara penuh oleh pengelola. 2. Dari Sisi Akad Pada bagian tertentu ausransi syariah akadnya adalah tabarru ( sumbangan kemanusiaan ) dan taawun ( tolong menolong ), serta akad wakalah dan mudharabah ( bagi hasil ). Sedangkan pada asuransi konvensional, akadnya adalah jual beli yang bersifat al gharar ( spekulatif ) 3. Dari Sisi Kepimilikan Dana Di dalam Asuransi Konvensional dana yang dibayarkan nasabah kepada perusahaan ( premi ) menjadi menjadi milik perusahaan secara penuh, khususnya jika peserta tidak melakukan klaim apapun selama masa asuransi. Sedangkan di dalam Asuransi Syariah dana tersebut masih menjadi milik peserta, setelah dikurangi pembiayaan dan fee ( ujrah ) perusahaan. Karena di dalam Asuransi Syariah, perusahaan hanya sebagai pemegang amanah ( wakil ) yang digaji oleh peserta, atau yang sering disebut dengan istilah al Wakalah bi al Ajri. Bisa juga perusahaan sebgai pengelola dana ( mudharib ) dalam akad mudharabah ( bagi hasil ). Bahkan ada perusahaan yang mengembalikan underwriting surplus pengelolaan dana tabarrunya kepada peserta selama tidak ada klaim pada masa asuransi. Ataupun perusahaan sebagai pengelola dana. 4. Dari sisi obyek
4

Muhaimin Iqbal, Asuransi Umum Syariah dalam Praktik, hal : 2

Asuransi Syariah hanya membatasi pengelolaannya pada obyek-obyek asuransi yang halal dan tidak mengandung syubhat. Oleh karenanya tidak boleh menjadikan obyeknya pada hal-hal yang haram atau syubhat, seperti gedung-gedung yang digunakan untuk maksiat, atau pabrik-pabrik minuman keras dan rokok, bahkan juga hotel-hotel yang tidak syariah. Adapun Asuransi Konvensional tidak membedakan obyek yang haram atau halal, yang penting mendatangkan keuntungan. 5. Dari Sisi Investasi Dana. Dana dari kumpulan premi dari peserta selama belum dipakai, oleh perusahaan asuransi syariah diinvestasikan pada lembaga keuangaaan yang berbasis syariah atau pada proyek-proyek yang halal yang didasarkan pada sistem upah atau bagi hasil. Adapun asuransi konvensional pengelolaan investasinya pada sistem bunga yang banyak mengandung riba dan spekulatif ( gharar ). 6. Dari Sisi Pembayaran Klaim. Pada asuransi syariah pembayaran klaim diambilkan dari rekening tabarru ( dana sosial ) dari seluruh peserta, yang sejak awal diniatkan untuk diinfakkan untuk kepentingan saling tolong menolong bila terjadi musibah pada sebagian atau seluruh peserta. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambil dari dana perusahaan karena sejak awal perjanjian bahwa seluruh premi menjadi milik perusahaan dan jika terjadi klaim, maka secara otomatis menjadi pengeluaraan perusahaan. 7. Dari Sisi Pengawasan. Dalam asuransi syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah ( DPS ), sesuatu yang tidak di dapatkan pada asuransi konvensional. 8. Dari sisi dana zakat, infaq dan sadaqah. Dalam asuransi syariah ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat sebagaimana ketentuan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional tidak dikenal istilah zakat.5 c. Hukum Asuransi Menurut Islam Hukum Asuransi menurut Islam berbeda antara satu jenis dengan lainnya, adapun rinciannya sebagai berikut : Pertama : Ansuransi Taawun

Prof. Dr. Drs. M. Amin Summa, SH, MA, MM, Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional, Hal 60-65

Untuk asuransi taawun dibolehkan di dalam Islam, alasan-alasannya sebagai berikut : 1. Asuransi Taawun termasuk akad tabarru (sumbangan suka rela) yang bertujuan untuk saling bekersama di dalam mengadapi marabahaya, dan ikut andil di dalam memikul tanggung jawab ketika terjadi bencana. Caranya adalah bahwa beberapa orang menyumbang sejumlah uang yang

dialokasikan untuk kompensasi untuk orang yang terkena kerugian. Kelompok asuransi taawun ini tidak bertujuan komersil maupun mencari keuntungan dari harta orang lain, tetapi hanya bertujuan untuk meringankan ancaman bahaya yang akan menimpa mereka, dan berkersama di dalam menghadapinya. 2. Asuransi Taawun ini bebas dari riba, baik riba fadhal, maupun riba nasiah, karena memang akadnya tidak ada unsure riba dan premi yang dikumpulkan anggota tidak diinvestasikan pada lembaga yang berbau riba. 3. Ketidaktahuaan para peserta asuransi mengenai kepastian jumlah santunan yang akan diterima bukanlah sesuatu yang berpengaruh, karena pada hakekatnya mereka adalah para donatur, sehingga di sini tidak mengandung unsur spekulasi, ketidakjelasan dan perjudian. 4. Adanya beberapa peserta asuransi atau perwakilannya yang

menginvestasikan dana yang dikumpulkan para peserta untuk mewujudkan tujuan dari dibentuknya asuransi ini, baik secara sukarela, maupun dengan gaji tertentu.6 Kedua : Asuransi Sosial Begitu juga asuransi sosial hukumnya adalah diperbolehkan dengan alasan sebagai berikut : 1. Asuransi sosial ini tidak termasuk akad muawadlah ( jual beli ), tetapi merupakan kerjasama untuk saling membantu. 2. Asuransi sosial ini biasanya diselenggarakan oleh Pemerintah. Adapun uang yang dibayarkan anggota dianggap sebagai pajak atau iuran, yang kemudian akan diinvestasikan Pemerintah untuk menanggulangi

bencana, musibah, ketika menderita sakit ataupun bantuan di masa pensiun dan hari tua dan sejenisnya, yang sebenarnya itu adalah tugas

Suhrawardi K. Lubis, Op. Cit, hlm.82 - 85

dan kewajiban Pemerintah. Maka dalam akad seperti ini tidak ada unsur riba dan perjudian.7 Ketiga : Asuransi Bisnis atau Niaga Adapun untuk Asuransi Niaga maka hukumnya haram. Adapun dalil-dalil diharamkannya Asuransi Niaga ( Bisnis ), antara lain sebagai berikut : Pertama: Perjanjian Asuransi Bisnis ini termasuk dalam akad perjanjian kompensasi keuangan yang bersifat spekulatif, dan karenanya mengandung unsur gharar yang kentara. Karena pihak peserta pada saat akad tidak mengetahui secara pasti jumlah uang yang akan dia berikan dan yang akan dia terima. Karena bisa jadi, setelah sekali atau dua kali membayar iuran, terjadi kecelakaan sehingga ia berhak mendapatkan jatah yang dijanjikan oleh pihak perusahaan asuransi. Namun terkadang tidak pernah terjadi kecelakaan, sehingga ia membayar seluruh jumlah iuran, namun tidak mendapatkan apaapa. Demikian juga pihak perusahaan asuransi tidak bisa menetapkan jumlah yang akan diberikan dan yang akan diterima dari setiap akad secara terpisah. Dalam hal ini, terdapat hadits Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata : Rasulullah saw melarang jual beli dengan cara hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur penipuan. ( HR Muslim, no : 2787 ) Kedua: Perjanjian Asuransi Bisnis ini termasuk bentuk perjudian ( gambling ), karena mengandung unsur mukhatarah ( spekulasi pengambilan resiko ) dalam kompensasi uang, juga mengandung ( al ghurm ) merugikan satu pihak tanpa ada kesalahan dan tanpa sebab, dan mengandung unsur pengambilan keuntungan tanpa imbalan atau dengan imbalan yang tidak seimbang. Karena pihak peserta ( penerima asuransi ) terkadang baru membayar sekali iuran asuransi, kemudian terjadi kecelakaan, maka pihak perusahaan terpaksa menanggung kerugian karena harus membayar jumlah total asuransi tanpa imbalan. Sebaliknya pula, bisa jadi tidak ada kecelakaan sama sekali, sehingga pihak perusahaan mengambil keuntungan dari seluruh premi yang dibayarkan seluruh peserta secara gratis. Jika terjadi ketidakjelasan seperti ini, maka akad seperti ini termasuk bentuk perjudian yang dilarang oleh Allah swt, sebagaimana di dalam firman-Nya :

Ibid, hlm.78 - 79

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib de-ngan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatanperbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. ( QS. Al-Maidah: 90). Ketiga: Perjanjian Asuransi Bisnis itu mengandung unsur riba fadhal dan riba nasiah sekaligus. Karena kalau perusahaan asuransi membayar konpensasi kepada pihak peserta (penerima jasa asuransi) , atau kepada ahli warisnya melebihi dari jumlah uang yang telah mereka setorkan, berarti itu riba fadhal. Jika pihak perusahaan membayarkan uang asuransi itu setelah beberapa waktu, maka hal itu termasuk riba nasiah. Jika pihak perusahaan asuransi hanya membayarkan kepada pihak nasabah sebesar yang dia setorkan saja, berarti itu hanya riba nasiah. Dan kedua jenis riba tersebut telah diharamkan berdasarkan nash dan ijma para ulama. Keempat: Akad Asuransi Bisnis juga mengandung unsur rihan ( taruhan ) yang diharamkan. Karena mengandung unsur ketidakpastian, penipuan, serta perjudian. Syariat tidak membolehkan taruhan kecuali apabila

menguntungkan Islam, dan mengangkat syiarnya dengan hujjah dan senjata. Nabi saw telah memberikan keringanan pada taruhan ini secara terbatas pada tiga hal saja, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah ra, bahwasnya Rasulullah saw bersabda : Tidak ada perlombaan kecuali dalam hewan yang bertapak kaki ( unta ), atau yang berkuku ( kuda ), serta memanah. ( Hadits Shahih Riwayat Abu Daud, no : 2210 ) Asuransi tidak termasuk dalam kategori tersebut, bahkan tidak mirip sama sekali, sehingga diharamkan. Kelima: Perjanjian Asuransi Bisnis ini termasuk mengambil harta orang tanpa imbalan. Mengambil harta tanpa imbalan dalam semua bentuk perniagaan itu diharamkan, karena termasuk yang dilarang dalam firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS.An-Nisa: 29). Keenam: Perjanjian Asuransi Bisnis itu mengandung unsur mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh syara. Karena pihak perusahaan asuransi tidak pernah menciptakan bahaya dan tidak pernah menjadi penyebab terjadinya bahaya. Yang ada hanya sekedar bentuk perjanjian kepada pihak peserta penerima asuransi, bahwa perusahaan akan bertanggungjawab

terhadap bahaya yang kemungkinan akan terjadi, sebagai imbalan dari sejumlah uang yang dibayarkan oleh pihak peserta penerima jasa asuransi. Padahal di sini pihak perusahaan asuransi tidak melakukan satu pekerjaan apapun untuk pihak penerima jasa, maka perbuatan itu jelas haram.8

IV. KESIMPULAN Assurance berarti menanggung sesuatu yang pasti terjadi, sedang Insurance berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi. Dinamakan at Tamin, karena orang yang melakukan transaksi ini (khususnya para peserta ) telah merasa aman dan tidak terlalu takut terhadap bahaya yang akan menimpanya dengan adanya transaksi ini. Bentuk - Bentuk Asuransi I. Asuransi ditinjau dari aspek peserta, maka dibagi menjadi : 1. 2. Asuransi Pribadi ( Tamin Fardi ) Asuransi Sosial ( Tamin Ijtimai )

II. Asuransi ditinjau dari bentuknya. Asuransi ditinjau dari bentuknya dibagi menjadi dua : 1. Asuransi Takaful atau Taawun. ( at Tamin at Taawuni ) 2. Asuransi Niaga ( at Tamin at Tijari ) III. Asuransi ditinjau dari aspek pertanggungan atau obyek yang dipertanggungkan Jenis-jenis asuran ditinjau dari aspek pertanggungan adalah sebagai berikut : Pertama : Asuransi Umum atau Asuransi Kerugian ( Tamin al Adhrar )
8

Mohammad Muslehuddin, Asuransi dalam Islam, hlm. 123

10

Kedua : Asuransi Jiwa. ( Tamin al Askhas ) IV. Asuransi ditinjau dari sistem yang digunakan. Asuransi ditinjau dari sistem yang digunakan, maka menjadi : 1. Asuransi Konvensional 2. Asuransi Syariah Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional. Adapun perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut : 1. Dari Sisi Prinsip Dasar 2. Dari Sisi Akad 3. Dari Sisi Kepimilikan Dana 4. Dari sisi obyek 5. Dari Sisi Investasi Dana. 6. Dari Sisi Pembayaran Klaim. 7. Dari Sisi Pengawasan. 8. Dari sisi dana zakat, infaq dan sadaqah. Hukum Asuransi Menurut Islam Pertama : Ansuransi Taawun Untuk asuransi taawun dibolehkan di dalam Islam, alasan-alasannya sebagai berikut : 1. Asuransi Taawun termasuk akad tabarru (sumbangan suka rela) yang bertujuan untuk saling bekersama di dalam mengadapi marabahaya 2. Asuransi Taawun ini bebas dari riba, baik riba fadhal, maupun riba nasiah. 3. Ketidaktahuaan para peserta asuransi mengenai kepastian jumlah santunan yang akan diterima . 4. Adanya beberapa peserta asuransi atau perwakilannya yang menginvestasikan dana yang dikumpulkan para peserta. Kedua : Asuransi Sosial Begitu juga asuransi sosial hukumnya adalah diperbolehkan dengan alasan sebagai berikut : 1. Asuransi sosial ini tidak termasuk akad muawadlah ( jual beli ), tetapi merupakan kerjasama untuk saling membantu. 2. Asuransi sosial ini biasanya diselenggarakan oleh Pemerintah. Ketiga : Asuransi Bisnis atau Niaga Adapun untuk Asuransi Niaga maka hukumnya haram. Adapun dalil-dalil diharamkannya Asuransi Niaga ( Bisnis ), antara lain sebagai berikut :

11

Pertama: Perjanjian Asuransi Bisnis ini termasuk dalam akad perjanjian kompensasi keuangan yang bersifat spekulatif, dan karenanya mengandung unsur gharar yang kentara. Kedua: Perjanjian Asuransi Bisnis ini termasuk bentuk perjudian (gambling), karena mengandung unsur mukhatarah (spekulasi pengambilan resiko) Ketiga: Perjanjian Asuransi Bisnis itu mengandung unsur riba fadhal dan riba nasiah sekaligus. Keempat: Akad Asuransi Bisnis juga mengandung unsur rihan (taruhan) yang diharamkan. Kelima: Perjanjian Asuransi Bisnis ini termasuk mengambil harta orang tanpa imbalan. Keenam: Perjanjian Asuransi Bisnis itu mengandung unsur mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh syara.

DAFTAR PUSTAKA

Mohammad Muslehuddin, Asuransi dalam Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2005 Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2004

12

You might also like