You are on page 1of 12

STRUKTUR BAJA 1

MODUL 6
S e s i 4
Alat Pengikat Struktural
(Structural Fastener)
Dosen Pengasuh :
Ir. Thamrin Nasution
Materi Pembelajaran :
10 SAMBUNGAN LAS.
1). Keuntungan dan Manfaat Sambungan Las.
2). Jenis-jenis Sambungan.
3). Jenis-jenis Las.
4). Las Tumpul (groove welds).
5). Las Sudut (fillet welds).
6). Las Baji dan Pasak (slot and plug welds).
7). Contoh Soal.
Tujuan Pembelajaran :
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami sambungan las, yakni mengenai
keuntungan dan manfaat sambungan dengan las, jeni-jenis sambungan, jenis-jenis
las, las tumpul, las sudut dan las baji/pasak.
Daftar Pustaka :
a) Agus Setiawan,Perencanaan Struktur Baja Dengan Metode LRFD (Berdasarkan SNI 03-
1729-2002), Penerbit AIRLANGGA, Jakarta, 2008.
b) AISC Presentation.
c) Boris B., T.Y.Lin, John B.Scalzi,Design of Steel Structures, 2nd Edition, John Wiley and
Sons, Inc., 1968.
d) Charles G. Salmon, Jhon E. Johnson,STRUKTUR BAJA, Design dan Perilaku, Jilid 1,
Penerbit AIRLANGGA, Jakarta, 1990.
e) PERATURAN PERENCANAAN BANGUNAN BAJA (PPBBI), Yayasan Lembaga
Penyelidikan Masalah Bangunan, 1984.
f) SNI 03 - 1729 2002. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung.
thamrinnst.wordpress.com
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
pemilik hak cipta photo-photo, buku-buku rujukan dan artikel, yang terlampir
dalam modul pembelajaran ini.
Semoga modul pembelajaran ini bermanfaat.
Wassalam
Penulis
Thamrin Nasution
thamrinnst.wordpress.com
thamrin_nst@hotmail.co.id
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
1
ALAT PENGIKAT STRUKTURAL
(STRUCTURAL FASTENER)
10. Sambungan Dengan Las.
Sambungan dengan menggunakan las, adalah suatu proses penyambungan bahan
logam berdasarkan peleburan bahan dengan memanasinya hingga suhu yang tepat, dengan
atau tanpa pemberian tekanan dan dengan atau tanpa pemakaian bahan pengisi.
1). Keuntungan dan manfaat sambungan las.
a) Lebih murah bila dibandingkan dengan sambungan yang menggunakan baut atau
paku keling.
b) Pada jenis elemen struktur tertentu, dimana tidak dapat digunakan sambungan
dengan baut/paku, maka digunakan sambungan las, misalnya pada elemen struktur
berbentuk bundar, lihat Gbr.36.
c) Dapat dikombinasikan dengan sambungan baut, lihat Gbr.37, dimana pelat
penyambung dilas lebih dulu pada elemen balok sebelum elemen balok
dihubungkan ke kolom dengan menggunakan sambungan baut.
d) Dapat digunakan untuk membuat profil built up, lihat Modul 5 Sesi 1.
e) Struktur yang disambung dengan las lebih kaku daripada baut/paku keling.
f) Komponen struktur dapat tersambung secara kontinyu.
g) Mudah untuk melakukan perobahan desain struktur.
h) Tingkat kebisingan rendah.
Gambar 36 : Penyambungan elemen struktur berbentuk bundar dengan las.
Sumber : AISC Presentation.
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
2
Gambar 37 : Baja siku penyambung di las pada elemen balok sebelum dilakukan erection.
Sumber : AISC Presentation.
2). Jenis-Jenis Sambungan.
Beberapa jenis sambungan yang sering ditemukan pada sambungan las, antara lain :
a) Sambungan sebidang (butt joint), sambungan ini umumnya dipakai untuk pelat-pelat
datar dengan ketebalan sama atau hampir sama. Keuntungan sambungan jenis ini
adalah tidak adanya gaya eksentrisitas, karena sumbu kedua batang yang disambung
berimpit, Gbr.38.(a).
b) Sambungan lewatan (lap joint), jenis sambungan ini paling banyak ditemukan karena
sambungan jenis ini mudah disesuaikan dengan keadaan di lapangan, dan
penyambungannya relatif lebih mudah. Cocok untuk ketebalan berbeda, Gbr.38.(b).
c) Sambungan tegak (tee joint), jenis sambungan ini banyak dipakai terutama untuk
membuat penampang bulit up gelagar berbentuk I, pengaku (stiffener) pada gelagar,
Grb.38.(c).
d) Sambungan sudut (corner joint), dipakai untuk penampang tersusun berbentuk kotak,
Gbr.38.(d).
e) Sambungan sisi (edge joint), sambungan bertujuan untuk menggabungkan dua pelat
atau lebih agar supaya pelat-pelat menyatu dan tidak bergeser satu dengan lainnya,
Gbr.38.(e).
Gambar 38.(a) :
Beberapa bentuk sambungan
sebidang (butt joints) dengan
gambar kode/simbol las.
Sumber :
http://deltaschooloftrades.com/
basic_joints.htm
Baja siku penyambung di las
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
3
Gambar 38.(b) : Sambungan lewatan (lap joints).
Gambar 38.(c) : Sambungan tegak (tee joints).
Gambar 38.(d) : Sambungan sudut (corner joints).
Gambar 38.(e) : Sambungan sisi (edge joints).
3). Jenis-Jenis Las.
Jenis-jenis las yang sering dijumpai antara lain :
a) Las tumpul (groove welds), las ini dipakai untuk menyambung batang-batang sebidang,
karena las ini harus menyalurkan secara penuh beban yang bekerja, maka las ini harus
memiliki yang sama dengan batang yang disambungnya. Las tumpul dimana terdapat
penyatuan antara las dan bahan induk sepanjang tebal penuh sambungan dinamakan las
tumpul penetrasi penuh (full pentration weld). Sedangkan bila tebal penetrasi lebih kecil
daripada tebal bahan yang disambung dinamakan las tumpul penetrasi sebagian (partial
penetration weld).
b) Las sudut (fillet welds), tipe ini paling banyak dijumpai dibandingkan tipe las lain, 80%
sambungan las menggunakan las sudut. Tidak memerlukan presisi tinggi dalam
pengerjaannya.
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
4
c) Las baji dan pasak (slot and plug welds), jenis ini biasanya digunakan bersama-sama las
sudut. Manfaat utamanya adalah menambah kekuatan geser pada sambungan lewatan
(slap joint) yang memakai las sudut.
Gambar 39 : Jenis-jenis las.
4). Las Tumpul (groove welds), (SNI 03-1729-2002, pasal 13.5.2.)
a) Ukuran Las.
Ukuran las adalah jarak antara permukaan luar las (tidak termasuk perkuatannya)
terhadap kedalaman penetrasinya yang terkecil. Khusus sambungan antara dua bagian
yang membentuk T atau siku, ukuran las penetrasi penuh adalah tebal bagian yang
menumpu.
b) Tebal rencana las.
Tebal rencana las ditetapkan sebagai berikut :
Las tumpul penetrasi penuh, tebal rencana las untuk las tumpul penetrasi penuh
adalah ukuran las, Gbr.40.(a), (b).
Las tumpul penetrasi sebagian, Gbr.40.(c),(d), tebal rencana las untuk las tumpul
penetrasi sebagian ditetapkan sesuai dengan ketentuan dibawah ini:
- Sudut antara bagian yang disambung 60
Satu sisi: t
t
= (d - 3) mm
Dua sisi: t
t
= (d3 + d4 - 6) mm
- Sudut antara bagian yang disambung > 60
Satu sisi: t
t
= d mm
Dua sisi: t
t
= (d3 + d4) mm
dengan d adalah kedalaman yang dipersiapkan untuk las (d3 dan d4 adalah
nilai untuk tiap sisi las).
Fillet Full penetration
single bevel
groove weld
Partial penetration
single bevel groove
weld
Plug
Full penetration double vee
groove weld
Partial penetration single J
groove weld
Slot
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
5
Gambar 40 : Tebal effektif las tumpul, penetrasi penuh (a),(b), dan sebagian (c),(d).
c) Luas Effektif.
Luas efektif las tumpul adalah perkalian panjang efektif dengan tebal rencana las.
d) Kekuatan nominal terfaktor las tumpul penetrasi penuh.
Kekuatan nominal terfaktor sambungan las tumpul penetrasi penuh haruslah mengikuti
persamaan berikut,
| Rnw > Ru
Kuat nominal las tumpul penetrasi penuh per-satuan panjang ditetapkan sebagai berikut:
i) Bila sambungan dibebani dengan gaya tarik atau gaya tekan aksial terhadap luas
efektif maka,
Rnw = t
t
. fy (N/mm) (bahan dasar)
Rnw = t
t
. fyw (N/mm) (bahan las)
Dimana,
| = faktor reduksi kekuatan = 0,90
fy = kuat leleh bahan dasar (MPa).
fyw = kuat leleh bahan las (MPa).
t
t
= tebal rencana las (mm).
ii) Bila sambungan dibebani dengan gaya geser terhadap luas efektif maka,
Rnw = t
t
. (0,6 . fy) (N/mm) (bahan dasar)
Rnw = t
t
. (0,6 . fuw) (N/mm) (bahan las)
Dimana,
| = 0,90 (untuk bahan dasar)
| = 0,80 (untuk bahan las)
fy = kuat leleh bahan dasar (MPa).
fuw = kuat fraktur bahan las (MPa).
t
t
= tebal rencana las (mm).
t
1
t
2
t
1
< t
2
maka t
t
= t
1
(a)
t
1
t
2
t
1
= t
2
maka t
t
= t
1
= t
2
o s 60
o
(b)
Tidak ada celah
(c)
t
t
= d 3 mm
t
1 t
2
t
t
d
o > 60
o
(d)
t
t
= d
t
1 t
2
t
t d
......(30)
......(31.a)
......(31.b)
......(32.a)
......(32.b)
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
6
5). Las Sudut (fillet welds) (SNI 03-1729-2002, pasal 13.5.3.)
c) Ukuran Las.
Ukuran las sudut ditentukan oleh panjang kaki, lihat Gbr.41 berikut,
Gambar 41 : Tebal effektif las sudut.
Bila kakinya sama panjang, Gbr.41.(a),(b), maka tebal las,
t
t
= 1/2 t
w
\2 = 0,707 t
w
Bila kakinya tidak sama panjang, Grb.41.(c), maka tebal dihitung sebagai berikut,
2
w2
2
w1
w2 w1
t
) ( ) (
.
t t
t t
t
+
=
Panjang kaki tidak melebihi tebal pelat yang disambung.
d) Ukuran Minimum Las Sudut.
Menurut SNI 03-1729-2002 pasal 13.5.3.2., ukuran minimum las sudut ditetapkan
sesuai dengan Tabel 11, berikut,
Tabel 11 : Ukuran minimum las sudut.
Tebal pelat t
w
(mm), bagian paling tebal Tebal minimum las sudut, t
t
(mm)
t s 7 3
7 s t s 10 4
10 s t s 15 5
15 s t 6
e) Ukuran maksimum las sudut sepanjang tepi (t
w
) komponen yang disambung adalah:
1) Untuk komponen dengan tebal kurang dari 6,4 mm, diambil setebal komponen.
t
1
t
2
t
w
t
w
t
t
Las sudut konkaf
t
1
t
2
t
w
t
w
t
t
Las sudut konveks
Las sudut sela akar
t
1
t
2
t
w
t
w
t
t
sela akar
(a)
(b)
(d)
t
1
t
2
t
w1
t
w2
t
t
(c)
......(33.a)
......(33.b)
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
7
2) Untuk komponen dengan tebal 6,4 mm atau lebih, diambil 1,6 mm kurang dari tebal
komponen, atau (t
w
1,6 mm), kecuali jika dirancang agar memperoleh tebal rencana
las tertentu, SNI pasal 13.5.3.3.
f) Panjang Effektif (L
w
) .
Panjang efektif las sudut adalah seluruh panjang las sudut berukuran penuh, Gbr.42.
Panjang efektif las sudut paling tidak harus 4 kali ukuran las (4 t
t
) , jika kurang, maka
ukuran las untuk perencanaan harus dianggap sebesar 0,25 dikali panjang efektif.
Persyaratan panjang minimum berlaku juga pada sambungan pelat yang bertumpuk (lap).
Tiap segmen las sudut yang tidak menerus (selang-seling) harus mempunyai panjang
efektif tidak kurang dari 40 mm dan 4 kali ukuran nominal las, SNI pasal 13.5.3.5.
Gambar 42 : Panjang effektif las sudut.
Gambar 43 : Las sudut berselang-seling.
Sumber : AISC Presentation.
L
w
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
8
g) Luas Effektif Las.
Luas efektif las sudut adalah perkalian panjang efektif dan tebal rencana las, atau
(L
w
. t
t
).
h) Kekuatan nominal terfaktor las sudut.
Kekuatan nominal terfaktor sambungan las haruslah mengikuti persamaan berikut,
| Rnw > Ru
Kuat nominal las sudut per-satuan panjang ditetapkan sebagai berikut:
Rnw = t
t
. (0,60 fu) (N/mm) (bahan dasar)
Rnw = t
t
. (0,60 fuw) (N/mm) (bahan las)
Dimana,
| = faktor reduksi kekuatan = 0,75
fu = kuat fraktur/putus bahan dasar (MPa)
fuw = kuat fraktur bahan las (MPa).
t
t
= tebal rencana las (mm).
6). Las Baji dan Pasak (slot and plug welds) (SNI 03-1729-2002, pasal 13.5.4.).
a) Ukuran Las.
Las baji dan pasak (SNI, las pengisi), harus dianggap sebagai las sudut. Ukuran
minimumnya sama dengan yang berlaku untuk las sudut.
b) Luas Geser Effektif.
Luas geser efektif, A
w
las dalam lubang terisi dengan logam las harus dianggap sama
dengan luas penampang melintang nominal lubang bulat atau selot dalam bidang
permukaan komponen tersambung.
c) Kekuatan geser nominal terfaktor.
Kekuatan nominal terfaktor sambungan las haruslah mengikuti persamaan berikut,
| Rnw > Ru
Kuat nominal las ditetapkan sebagai berikut:
Rnw = A
w
. (0,60 fuw) (N) (bahan las)
Dimana,
| = faktor reduksi kekuatan = 0,75
fuw = kuat fraktur bahan las (MPa).
A
w
= Luas effektif las (mm
2
).
Gambar 44 : Luas effektif lobang plug dan slot.
L
w
d b
a
Luas effektif plug,
A
w
= t d
2
Luas effektif slot,
A
w
= a . b
......(34)
......(35.a)
......(35.b)
......(36)
......(37)
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
9
7). Contoh Soal.
Tentukan ukuran dan tebal las sudut pada sambungan lewatan (slap joint), yang
memikul beban tarik terfaktor Ru = 70 ton = 650 kN, bila mutu bahan dasar (pelat), fu = 400
MPa dan mutu bahan las fuw = 490 MPa. Dimana ukuran pelat yang disambung, pelat
pertama 17 x 200 dan pelat kedua 25 x 300, seperti tertera dalam gambar berikut.
Gambar 45 : Sambungan lewatan dengan las sudut.
PERENCANAAN
a). Data-data.
Ru = 70 ton = 700 kN = 700000 N.
fu = 400 MPa. (bahan dasar/pelat).
fuw = 490 MPa. (bahan las).
t
1
= 17 mm, t
2
= 25 mm.
b). Ukuran las.
Maksimum, t
w
= 17 mm 1,6 mm = 15,4 mm
t
t min
= 6 mm (tabel 11).
t
t
s 0,707 . (15,4 mm) = 10,88 mm
Ambil tebal rencana las, t
t
= 10 mm.
c). Kekuatan nominal terfaktor per-satuan panjang las.
- Bahan dasar (pelat),
| Rnw = | . t
t
. (0,60 fu) = (0,75).(10 mm).(0,60x400 MPa)
= 1800 N/mm (menentukan).
- Bahan las,
| Rnw = | . t
t
. (0,60 fuw) = (0,75).(10 mm).(0,60x490 MPa)
= 2205 N/mm.
d). Panjang effektif las yang diperlukan.
N/mm 1800
N 700000
w = =
Rnw
Ru
L
|
= 388,9 mm
Rencanakan panjang las effektif Lw = 400 mm, pelaksanaan las dapat dilakukan seperti
gambar berikut,
17x200
25x300
10 200
17x200
25x300
10 120
10
170
Cara pertama Cara kedua
70 ton 70 ton
17x200
25x300
Gambar 46 :
Pilihan pelaksanaan
las, dapat dilakukan
cara pertama atau
cara kedua.
Modul kuliah STRUKTUR BAJA 1 , Modul 6 Sesi 4, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.
10
e). Kombinasi sambungan dengan pasak (plug).
Gambar 47 : Kombinasi las sudut dengan pasak.
Diameter pasak, d = 20 mm
Luas bidang geser pasak,
A
w
= t d
2
= 0,25 . (3,14). (20 mm)
2
= 314 mm
2
.
Kekuatan nominal terfaktor pasak,
| Rnw = | . A
w
. (0,60 fuw) = 0,75.(314 mm
2
).(0,60).(490 MPa)
= 69237,0 N = 69,237 kN.
Sisa gaya terfaktor yang dipikul las sudut,
Ru = 700 kN 69,237 kN = 630,763 kN.
Panjang effektif las yang diperlukan.
N/mm 1800
N 630763 '
w = =
Rnw
Ru
L
|
= 350,4 mm ~ 360 mm.
17x200
25x300
10 180
Cara ketiga
| 20