You are on page 1of 2

ACS ALO Aritmia EKG Buat pertemuan rutin, masing-masing mencari dari internet.

Sindroma Koroner Akut Semakin tahun semakin banyak, insidens semakin meningkat, tidak hanya di kota besar, tapi juga di kota seperti tanjung. Penyebabnya antara lain perubahan gaya hidup, baik makanan, stress dsb. Yang berhubungan dengan penyakit jantung. Sindroma coroner akut memiliki spectrum luas, mulai dari angina pectoris stabil sampai yang paling berat sudden cardiac death. Bila kita bertugas di IGD, kita harus mengetahui penegakan diagnosis dan penatalaksanaan emergensi serta tatalaksana lanjut. Bila pasien dating dengan keluhan chest pain, maka dilakukan stabilisasi serta penegakan diagnosis pada saat bersamaan. Seringkali chest pain tidak spesifik, biasanya pada wanita, usia lanjut, atau DM. keluhan chest pain yang spesifik yaitu retrosternal, tidak bisa didistribusikan dengan jelas, dicetuskan oleh aktivitas fisik/emosi/udara dingin, bertambah berat dengan aktivitas fisik, berkurang bila istirahat atau dengan diberikan nitrogliserin. Bila tiga karakteristik tersebut ditemui, disebut chest pain spesifik, bila hanya dua disebut nonspesifik, bila hanya satu keluhan tersebut mungkin bisa disebabkan oleh kelainan lainnya. Syndroma coroner akut dibagi menjadi tiga, yaitu STEMI, NSTEMI, UAP. Secara umum dari keluhan dan pemeriksaan fisik tidak dapat dibedakan. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengeliminasi keluhan lain yang dapat menimbulkan chest pain misalnya pleuritis, pericarditis, diseksi aorta akut, pneumotoraks, dyspepsia/gastritis. Pada diseksi aorta dapat ditemukan nadi yang berbeda antara kiri-kanan dengan atas bawah. Pada kondisi demikian justru tidak boleh diberikan penanganan SKA. Tujuan kedua PF yaitu untuk melihat adanya komplikasi yang timbul akibat SKA misalnya ALO, shock cardiogenic, CHF. EKG diharapkan dapat menunjukkan adanya kelainan segmen ST. Pada STEMI didapatkan kenaikan segmen ST, bila tidak ditemukan berarti jatuh pada kategori UAP/NSTEMI. Pada ST depresi dapat ditemukan jenis downsloping atau horizontal yang khas untuk NSTEMI. Selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan foto thorax untuk meliht komplikasi ke arah paru dan menyingkirkan kelainan paru. Pada pemeriksaan lab diperiksa DPL, SGOT/PT, CK-MB, troponin T dan I. Untuk membedakan di antara UAP & NSTEMI dipakai pemeriksaan enzim. Pemeriksaan yang menghasilkan nilai normal belum menyingkirkan NSTEMI, bisa saja marker belum meningkat, makanya harus diperiksa serial. Enzim yang pertama meningkat adalah myoglobin, satu jam kemudian 12 jam menurun. Myoglobin tidak spesifik untuk miokard, bisa juga untuk ototo rangka. CK-MB meningkat mulai 3-4 jam, menghilang 48-72 jam kemudian menetap selama 21 hari. Troponin I meningkat 3-4 jam, menurun 24 jam, kemudian menetap selama 14 hari. Pada STEMI bila tidak meningkat tidak perlu diperiksa ulang.

Penatalaksanaan STEMI Morfin, nitrat, oksigen, monitor. Pertama-tama berikan antinyeri, bila cukup dengan ISDN, maka tidak perlu diberikan morfin. Keuntungan morfin adalah bersifat venodilator sehingga preload jantung menurun. Aspirin STEMI bisa diberikan 300-320 mg, bisa diberikan dengan dikunyah. Clopidogrel diberikan 300 mg, karena tidak mungkin dilakukan PCI, sekali sehari. Trombolitik dan PCI memiliki efikasi sama, pada onset STEMI kurang dari 3 jam. Tapi trombolitik masih dapat dilakukan pada onset kurang dari 12 jam. Bila dilihat dari jenis STEMI, maka yang paling mendapatkan keuntungan dari trombolitik yaitu infark anterior. Revaskularisasi paling sulit terjadi pada infark inferior. Streptokinase dimasukkan 1,5 juta unit dimasukkan dalam 100 cc NS/D5 diberikan selama 30 menit-1 jam. Bila diberikan terlalu cepat maka dapat menimbulkan shock/hipotensi. Bila tidak dekompensasi dapat diberikan cairan atau diberikan inotropic. Syarat pemberian trombolitik yaitu adanya defibrillator, karena bila terjadi reperfusi dapat terjadi irama aritmia, yang dapat menimbulkan VF dan harus dishock. Pemberian heparin (UFH) bolus 60 unit/kgBB/jam dengan maintenance 12 unit/kgBB/jam. Pemberiannya tidak boleh lebih dari 3 hari, karena dapat menimbulkan perdarahan dan trombositopenia. Targetnya aPTT 1,5-2x normal. Pemberian heparin/LMWH tersebut supaya melisiskan yang kecil-kecil dan mencegah plak rupture kembali. Pada NSTEMI/ACS tidak perlu diberikan trombolitik. Pemberian terapi harus melihat tensi, bila tensi di bawah 100 harus diberikan inotropic (dopamine) bila di atas 100 mmHg dobutamine. Captopril tidak harus diberikan pada fase akut, karena kerja anti-remodelling jangka panjang, sehingga bisa diberikan setelah pasien stabil. IMA harus dengan Killip score: 1: tanpa komplikasi 2: dengan dekompensasi 3: dengan edema paru akut 4: dengan shock cardiogenic