You are on page 1of 13

Kelompok II

Defenisi
Hiperbillirubin adalah meningkatnya kadar billirubin di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning (Ngastiah, 2005). Hiperlirubin adalah akumulasi berlebihan dari bilirubin didalam darah (Wong,)

Etiologi
1) 2)
3) 4) 5)

Faktor produksi yang berlebihan melampaui pengeluarannya. Gangguan dalam uptake dan konjungasi hepar disebabkan maturasi hepar, kurangnya substrat untuk konjungasi (mengubah) billiruin, gangguan fungsi hepar akibat esidosis, hipoksia dan enfeksi atau tidak terdapat enzim glukuronil transferasa (G6PADA). Gangguan transportasi billirubin dalam darah terikat oleh albumin kemudian diangkut ke hepar. Gangguan dalam ekskresi akibat sumbatan dalam hepar. Akibat kelainan bawaan atau infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain. Kurangnya asupan nutrisi karena malas menyusu pada hari pertama dan kedua hal ini bisa menyebabkan kurangnya asupan nutrisi, padahal nutrisi sangat penting bagi pertumbuhan bayi.

Klasifikasi
Ikterus fisiologik Ikterus patologik Ikterus hemolitik Ikterus obstruktif

Kern ikterus

Secara klinik pada awalnya tidak jelas dapat berubah 1) Bayi malas menyusu 2) Letargi (lemas) 3) Tidak mau menghisap 4) Mata cekung (tanda-tanda dehidrasi)

1. Terjadi kernicterus adalah suatu sindroma neurologik yang timbul sebagai akibat penimbunan bilirubin tak terkonjugasi dalam sel sel otak. Secara klinis pada awalnya tidak jelas, dapat berupa mata berputar, letargi, kejang, tak mau menghisap, malas minum, tonus otot meningkat, leher kaku, dan opistotonus. Bila berlanjut dapat terjadi spasme otot, opistotonus, kejang, atetosis yang disertai ketegangan otot. Dapat ditemukan ketulian pada nada tinggi, gangguan bicara dan retardasi mental. 2. Bilirubin Encephalopathy (komplikasi serius).

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Test Coom pada tali pusat bayi baru lahir Golongan darah bayi dan Ibu : mengidentifikasi inkompatibilitas ABO Biliribin total Hitung Darah Lengkap Glukosa Daya ikat karbon dioksida Smear darah Perifer.

Asuhan keperawatan
1. Pengkajian a. Pengumpulan data antara lain aktivitas, sirkulasi, eliminasi, makanan dan cairan, neurosensori, pernafasan, keamanan, 2. Diagnosa keperawatan a. Resiko tinggi injuri b/d peningkatan serum indireck b. Resiko gangguan integritas kulit b/d fototerapi c. Kecemasan orangtua b/d kondisi bayi d. kurang pengetahuan orangtua b/d kurangnya pengalaman orangtua

Dx :1
Intervensi
- Perhatikan kelompok dan gol.darah ibu /bayi

Rasional
- Inkompatibilitas ABD mempengaruhi 20% selama kehamilan dan paling umum terjadi pd ibu dgn gol.darah O yang AB anti A dan anti B melewati sirkulasi janin, menyebabkan aglutinasi dan hemolisis

- Tinjau ulang kondisi bayi pada kelahiran, - Asfiksia dan asidosis merupakan afinitas bilirubin terhadap albumin. contoh asfiksia atau asidosis.

-.Pertahankan bayi tetap hangat dan kering. Pantau kulit dan suhu inti dengan sering

- Stress dingin berpotensi melepaskan asam lemak, yang bersaing pada sisi ikatan pada albumin, sehingga meningkatkan kadar bilirubin yang bersirkulasi dengan bebas.
-Keberadaan flora usus yang sesuai untuk pengurangan bilirubin terhadap urobilinogen,

- Mulai pemberian makan oral awal dalam 4-6 jam kelahiran, khususnya bila bayi diberi ASI. Kaji bayi terhadap tanda-tanda hipoglikemia

Dx:2
intervensi -Perhatikan adanya atau perkembangan bilier atau obstruksi usus rasional -Fototerapi dikontraindikasikan pd kondisi ini karena foto isomer bilirubin yang diproduksi dalam kulit dan jaringan subkutan dengan pemajanan pd terapi sinar tdk dpt siap diekskresikan. -Intensitas sinar menembus permukaan kulit dari spektrum ungu menentukan seberapa dekat bayi di tempatkan terhadap sinar. -Mencegah kerusakan testis dari panas.

-Ukur kuantitas fotoenergi pola lampu fluo rosen dengan menggunakan fotometer -Tutup testis dan penis pada bayi pria

-Pantau kulit neonatus dan suhu inti -Fluktuasi pada suhu tubuh dapat terjadi setiap 2 jam atau lebih sering sampai stabil sebagai respon terhadap pemajanan dan ukur suhu inkubator dengan tepat. sinar,radiasi dan konveksi.

Dx:3
intervensi -Berikan informasi tipe-tipe ikterik dan faktor-faktor fisiologis dan implikasi datang dari hiperbilirubin.Anjurkan untuk memberikan pertanyaan; tegaskan atau perjelas informasi sesuai kebutuhan. -Diskusikan penatalaksanaan dirumah dari ikterik fisiologis ringan atau sedang termasuk peningkatan pemberian makan langsung pada sinar matahari dengan program tindak lanjut tes serum. -Berikan informasi tantang mempertahankan suplai ASI melalui penggunaan pompa payudara dan tentang kembali menyusui ASI bila ikterik memerlukan pemutusan menyusui rasional -Memungkinkan orang tua mengenali tanda-tanda peningkatan kadar bilirubin dan mencari evaluasi medis tepat waktu.

-Pemahaman orang tua membantu mengembangkan kerjasama mereka bila bayi dipulangkan.

-Membantu ibu untuk mempertahankan pemahaman pentingnya terapi.Mempertahankan supaya orang tetap mendapatkan informasi tentang keadaan bayi, meningkatkan keputusan berdasarkan informasi.

Dx:4
intervensi -Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya Rasional -mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya -dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas -diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan -mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

-Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang

-Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. -Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.