You are on page 1of 21

- Penaklukan atau occupatie Yaitu suatu daerah yang tidak dipertuan kemudian diambil alih dan didirikan nega

ra diwilayah itu. Misalnya: Liberia adalah daerah kosong yang dijadikan negara oleh para budak Neg ro yang dimerdekakan oleh Amerika. Liberia dimerdekakan pada tahun 1847. - Peleburan atau fusi Yaitu suatu penggabungan dari dua atau lebih negara menjadi satu negara baru. Misalnya: Jerman Barat dan Jerman Timur yang bergabun menjadi negara Jerman. - Cessie: penyerahan suatu daerah kepada negara lain. Contoh: Sleeswijk diserahk an oleh Austria kepada Prusia (Jerman). - Accessie: bertambahnya tanah dari lumpur yang mengeras di kuala sungai (atau d aratan yang timbul dari dasar laut) dan menjadi wilayah yang dapat dihuni manusi a sehingga suatu ketika telah memenuhi unsur-unsur terbentuknya negara. Contoh : negara Mesir yg terbentuk dari delta sungai Nil. - Anexatie: penaklukan suatu wilayah yang memungkinkan pendirian suatu negara di wilayah itu setelah 30 tahun tanpa reaksi yang memadai dari penduduk setempat.C ontoh : negara Israel terbentuk dengan mencaplok daerah palestina, Suriah, Yorda nia, dan Mesir. - Proklamasi: pernyataan kemerdekaan yang dilakukan setelah keberhasilan merebut kembali wilayah yang dijajah bangsa/ negara asing. Contoh: Indonesia pada tangg al 17 Agustus 1945. - Innovation : innovation terjadi karena munculnya suatu negara baru diatas wila yah negara yg pecah dan lenyap karena suatu hal. Contoh : pecahnya negara Uni So viet, di wilayah tersebut kenudian muncul negara baru, seperti rusia, Checnya, d an Uzbekistan - Separatisme : suatu negara lahir dengan jalan memisahkan diri dari negara yg s emua menguasainya. Contoh : Belgia lepas dari Belanda tahun 1939 Occupatie (pendudukan) Terjadi ketika suatu wilayah yang tidak bertuan dan belum dikuasai, kemudian did uduki dan dikuasai oleh suku atau kelompok tertentu. Contohnya Liberia. b. Fusi (peleburan) Terjadi ketika negara-negara kecil mendiami suatu wilayah, mengadakan perjanjian untuk saling melebur menjadi negara baru atau dapat dikatakan suatu penggabunga n dua atau lebih Negara menjadi Negara baru. Misalnya Jerman Barat dan Jerman Ti mur bergabung menjadi Negara Jerman. c. Cessie (penyerahan) Terjadi ketika suatu wilayah diserahkan kepada negara lain berdasarkan perjanjia n tertentu. Penyerahan ini juga dapat diikatakan pemberian kemerdekakaan kepada suatu koloni oleh Negara lain yang umumnya adalah bekas jajahannya. Contohnya Ko ngo dimerdekakan oleh Francis. d. Acessie (penarikan) Awalnya suatu wilayah terbentuk akibat naiknya lumpur sungai/ timbul dari dasar laut (delta). Wilayah tersebut kemudian dihuni oleh sekelompok orang sehingga ak hirnya membentuk negara. Contohnya Mesir yang terbentuk dari delta Sungai Nil. e. Anexatie (pencaplokan/ penguasaan) Suatu negara berdiri di suatu wilayah yang dikuasai bangsa lain tanpa reaksi ber arti. Contohnya Israel mencaplok Palestina. f. Proklamasi Terjadi ketika penduduk pribumi dari suatu wilayah yang diduduki oleh bangsa lai n mengadakan perjuangan (perlawanan) sehingga berhasil merebut kembali wilayahny a dan menyatakan kemerdekaan. Contohnya Indonesia merdeka dari Jepang dan Beland

a pada tanggal 17 Agustus 1945. g. Innovation (pembentukan baru) Suatu negara baru muncul di atas suatu negara yang pecah karena suatu hal dan ke mudian lenyap. Contohnya Columbia lenyap, kemudian menjadi Venezuela dan Columbi a yang baru. h. Separatis (pemisahan) Suatu wilayah negara yang memisahkan diri dari negara yang semula menguasainya k emudian menyatakan kemerdekaan. Contohnya Belgia memisahkan diri dari Belanda pa da tahun 1939 dan menyatakan kemerdekaan.

unsur negara unsur unsur negara adalah bagian-bagian yang menjadikan negara itu ada. Pada umu mnya, unsur unsur terbentuknya negara harus memenuhi unsur berikut ini : A. Wilayah Pasal 25A UUD 1945, negara kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepu lauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya dite tapkan dengan Undang-Undang. Wilayah negara Indonesia berdasarkan Konferensi Mej a Bundar (KMB) pada tanggal 27 Desember 1949 yang ditandatangani oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda, meliputi seluruh daerah bekas jajahan Hindia Belanda. Sedang batas-batasnya ditentukan dengan perjanjian antarnegara tetangga , baik yang diadakan sebelum maupun sesudah merdeka. Daerah yang merupakan tempat tinggal rakyat dan tempat pemerintah melakukan kegi atan merupakan wilayah negara dengan batas-batas tertentu. Batas-batas wilayah y ang ditempati rakyat Indonesia sebagai berikut ini : Wilayah Daratan Negara satu dengan yang lain sering terjadi perang dikarenakan masalah batas wil ayah. Untuk menetapkan wilayah batas daratan pada umumnya ditentukan berdasarkan perjanjian antarnegara tetangga. Perbatasan antara 2 negara dapat berupa : 1. Perbatasan alam, seperti sungai, danau, pegunungan atau lembah. 2. Perbatasan buatan, seperti pagar tembok, pagar kawat berduri, tiang-tiang tem bok. 3. Perbatasan menurut ilmu pasti, yakni dengan menggunakan garis lintang atau bu jur pada peta bumi. Memasuki wilayah negara bangsa lain tanpa ijin negara yang bersangkutan merupaka n pelanggaran wilayah. Untuk menghindari terjadinya pelanggaran, suatu negara me miliki suatu lembaga keimigrasian. Wilayah Lautan Laut yang merupakan wilayah suatu negara disebut teritorial negara itu. Laut di luar teritorial disebut laut terbuka atau bebas. Tidak semua negara mempunyai wi layah laut seperti Swiss dan Mongolia. Pada umumnya batas wilayah laut teritoria l 3 mil laut yang diukur dari garis pantai wilayah daratan suatu negara pada saa t pantai surut. Untuk negara Indonesia batas wilayah laut teritorial mulai 21 Ma ret 1980 dengan batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) adalah selebar 200 mil dihitu ng dari garis dasar laut wilayah Indonesia. Wilayah Udara Wilayah udara suatu negara ada diatas wilayah daratan dan lautan negara yang ber sangkutan. Kekuasaan atas wilayah udara suatu negara diatur dalam perjanjian Par is tahun 1919. Daerah Ekstrateritorial

Berdasarkan hukum internasional, kapal-kapal laut yang berlayar di laut terbuka berbendera suatu negara tertentu juga merupakan wilayah negara yang bersangkutan . Tempat perwakilan yang disebut ekstrateritorial berarti tempat itu meskipun be rada di wilayah negara lain tetapi dianggap wilayah negara yang diwakili, misaln ya kantor kedutaan besar. Kedutaan adalah wakil suatu negara di negara lain yang mengurusi masalah politik , orangnya disebut duta. Konsulat adalah wakil suatu negara di negara lain yang mengurusi masalah ekonomi perdagangan, orangnya disebut konsuler. B. Rakyat Rakyat merupakan unsur terpenting dari negara. Rakyatlah yang pertama-tama berke pentingan supaya organisasi negara berjalan dengan lancar dan baik serta mampu m ewujudkan tujuannya. Penduduk ialah orang-orang yang bertempat tinggal dan menetap di wilayah suatu n egara. Orang-orang yang berstatus penduduk dan warganegara Indonesia berhak dan berkewajiban untuk ikut serta dalam pembelaan negara sesuai dengan bidangnya. Bukan penduduk ialah orang-orang yang berada dalam suatu wilayah negara untuk se mentara waktu, misalnya wisatawan asing yang sedang berlibur di suatu negara lai n atau para jemaah haji yang sedang melaksanakan rukun Islam ke-5 di Mekah. C. Pemerintah yang Berdaulat Unsur konstitutif yang ketiga dari negara ialah pemerintah yang berdaulat. Pemer intah adalah pemegang dan penentu kebijakan yang berkaitan dengan pembelaan nega ra. Pemerintah yang berdaulat mempunyai kekuasaan ke dalam dan ke luar. Kekuasaa n ke dalam berarti bahwa kekuasaan pemerintah itu dihormati dan ditaati oleh sel uruh rakyat dalam negara itu. Kekuasaan ke luar berarti bahwa kekuasaan pemerint ahan itu dihormati dan diakui oleh negara-negara lain. Masalah kedaulatan merupakan masalah yang sangat penting dalam suatu negara, kar ena kedaulatan merupakan sesuatu yang membedakan antara negara yang satu dengan yang lain. Kedaulatan artinya kekuasaan tertinggi. Di negara diktaktor, kedaulat an didasarkan atas kekuatan. Di negara-negara demokrasi kedaulatan didasarkan at as persetujuan. D. Pengakuan Negara Lain Selain rakyat, wilayah, dan pemerintah yang berdaulat, masih ada satu unsur lagi bagi negara, yaitu pengakuan dari negara-negara lain. Pengakuan dari negara-neg ara lain bukanlah merupakan unsur pembentuk negara, tetapi sifatnya hanya menera ngkan saja tentang adanya negara. Dengan kata lain pengakuan dari negara lain ha nya bersifat deklaratif saja. Pengakuan negara lain ada dua macam, yaitu : a. Pengakuan de facto adalah pengakuan secara kenyataan, berdasar fakta bahwa ne gara itu ada. b. Pengakuan de jure adalah pengakuan secara resmi sesuai dangan hukum internasi onal. Adanya pengakuan dari negara-negara lain merupakan tanda bahwa negara baru itu t elah diterima sebagai anggota baru dalam pergaulan antarnegara. Walaupun tanpa p engakuan negara lain, suatu negara tetap berdiri asalkan memenuhi tiga unsur pok ok, yaitu: 1. Rakyat yang mendiami wilayah negara. 2. Wilayah negara dengan batas-batas tertentu. 3. Pemerintah yang berdaulat. Ketiga unsur tersebut diatas disebut juga unsur konstitutif sedang unsur pengaku an negara lain disebut unsur deklaratif maksudnya agar negara itu dapat mengadak an hubungan internasional harus mendapat pengakuan dari negara lain.

Bentuk Negara dan Bentuk Kenegaraan Posted on 9 November 2008 by Ruhcitra

Bentuk Negara a. Negara Kesatuan (Unitaris)

Negara Kesatuan adalah negara bersusunan tunggal, yakni kekuasaan untuk mengatur seluruh daerahnya ada di tangan pemerintah pusat. Pemerintah pusat memegang ked aulatan sepenuhnya, baik ke dalam maupun ke luar. Hubungan antara pemerintah pus at dengan rakyat dan daerahnya dapat dijalankan secara langsung. Dalam negara ke satuan hanya ada satu konstitusi, satu kepala negara, satu dewan menteri (kabine t), dan satu parlemen. Demikian pula dengan pemerintahan, yaitu pemerintah pusat lah yang memegang wewenang tertinggi dalam segala aspek pemerintahan. Ciri utama negara kesatuan adalah supremasi parlemen pusat dan tiadanya badan-badan lain y ang berdaulat. Negara kesatuan dapat dibedakan menjadi dua macam sistem, yaitu: Sentralisasi, dan Desentralisasi. Dalam negara kesatuan bersistem sentralisasi, semua hal diatur dan diurus oleh p emerintah pusat, sedangkan daerah hanya menjalankan perintah-perintah dan peratu ran-peraturan dari pemerintah pusat. Daerah tidak berwewenang membuat peraturanperaturan sendiri dan atau mengurus rumah tangganya sendiri. Keuntungan sistem sentralisasi: adanya keseragaman (uniformitas) peraturan di seluruh wilayah negara; adanya kesederhanaan hukum, karena hanya ada satu lembaga yang berwenang mem buatnya; penghasilan daerah dapat digunakan untuk kepentingan seluruh wilayah negara. Kerugian sistem sentralisasi: bertumpuknya pekerjaan pemerintah pusat, sehingga sering menghambat kelancar an jalannya pemerintahan; peraturan/ kebijakan dari pusat sering tidak sesuai dengan keadaan/ kebutuha n daerah; daerah-daerah lebih bersifat pasif, menunggu perintah dari pusat sehingga me lemahkan sendi-sendi pemerintahan demokratis karena kurangnya inisiatif dari rak yat; rakyat di daerah kurang mendapatkan kesempatan untuk memikirkan dan bertangg ung jawab tentang daerahnya; keputusan-keputusan pemerintah pusat sering terlambat. Dalam negara kesatuan bersistem desentralisasi, daerah diberi kekuasaan untuk me ngatur rumah tangganya sendiri (otonomi, swatantra). Untuk menampung aspirasi ra kyat di daerah, terdapat parlemen daerah. Meskipun demikian, pemerintah pusat te tap memegang kekuasaan tertinggi. Keuntungan sistem desentralisasi: pembangunan daerah akan berkembang sesuai dengan ciri khas daerah itu sendir i; peraturan dan kebijakan di daerah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah itu sendiri; tidak bertumpuknya pekerjaan pemerintah pusat, sehingga pemerintahan dapat b erjalan lancar; partisipasi dan tanggung jawab masyarakat terhadap daerahnya akan meningkat; penghematan biaya, karena sebagian ditanggung sendiri oleh daerah.

Sedangkan kerugian sistem desentralisasi adalah ketidakseragaman peraturan dan k ebijakan serta kemajuan pembangunan. b. Negara Serikat (Federasi)

Negara Serikat adalah negara bersusunan jamak, terdiri atas beberapa negara bagi an yang masing-masing tidak berdaulat. Kendati negara-negara bagian boleh memili ki konstitusi sendiri, kepala negara sendiri, parlemen sendiri, dan kabinet send iri, yang berdaulat dalam negara serikat adalah gabungan negara-negara bagian ya ng disebut negara federal. Setiap negara bagian bebas melakukan tindakan ke dalam, asal tak bertentangan de ngan konstitusi federal. Tindakan ke luar (hubungan dengan negara lain) hanya da pat dilakukan oleh pemerintah federal. Ciri-ciri negara serikat/ federal: tiap negara bagian memiliki kepala negara, parlemen, dewan menteri (kabinet) demi kepentingan negara bagian; tiap negara bagian boleh membuat konstitusi sendiri, tetapi tidak boleh bert entangan dengan konstitusi negara serikat; hubungan antara pemerintah federal (pusat) dengan rakyat diatur melalui nega ra bagian, kecuali dalam hal tertentu yang kewenangannya telah diserahkan secara langsung kepada pemerintah federal. Dalam praktik kenegaraan, jarang dijumpai sebutan jabatan kepala negara bagian ( lazimnya disebut gubernur negara bagian). Pembagian kekuasaan antara pemerintah federal dengan negara bagian ditentukan oleh negara bagian, sehingga kegiatan pe merintah federal adalah hal ikhwal kenegaraan selebihnya (residuary power). Pada umumnya kekuasaan yang dilimpahkan negara-negara bagian kepada pemerintah f ederal meliputi: hal-hal yang menyangkut kedudukan negara sebagai subyek hukum internasional, misalnya: masalah daerah, kewarganegaraan dan perwakilan diplomatik; hal-hal yang mutlak mengenai keselamatan negara, pertahanan dan keamanan nas ional, perang dan damai; hal-hal tentang konstitusi dan organisasi pemerintah federal serta azas-azas pokok hukum maupun organisasi peradilan selama dipandang perlu oleh pemerintah pusat, misalnya: mengenai masalah uji material konstitusi negara bagian; hal-hal tentang uang dan keuangan, beaya penyelenggaraan pemerintahan federa l, misalnya: hal pajak, bea cukai, monopoli, matauang (moneter); hal-hal tentang kepentingan bersama antarnegara bagian, misalnya: masalah po s, telekomunikasi, statistik. Menurut C.F. Strong, yang membedakan negara serikat yang satu dengan yang lain a dalah: cara pembagian kekuasaan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bag ian; badan yang berwenang untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul antara pem erintah federal dengan pemerintah negara bagian. Berdasarkan kedua hal tersebut, lahirlah bermacam-macam negara serikat, antara l ain: negara serikat yang konstitusinya merinci satu persatu kekuasaan pemerintah federal, dan kekuaasaan yang tidak terinci diserahkan kepada pemerintah negara b agian. Contoh negara serikat semacam itu antara lain: Amerika Serikat, Australia , RIS (1949);

negara serikat yang konstitusinya merinci satu persatu kekuasaan pemerintah negara bagian, sedangkan sisanya diserahkan kepada pemerintah federal. Contoh: K anada dan India; negara serikat yang memberikan wewenang kepada mahkamah agung federal dalam menyelesaikan perselisihan di antara pemerintah federal dengan pemerintah negar a bagian. Contoh: Amerika Serikat dan Australia; negara serikat yang memberikan kewenangan kepada parlemen federal dalam meny elesaikan perselisihan antara pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian . Contoh: Swiss. Persamaan antara negara serikat dan negara kesatuan bersistem desentralisasi: 1) Pemerintah pusat sebagai pemegang kedaulatan ke luar; 2) Sama-sama memiliki hak mengatur daerah sendiri (otonomi). Sedangkan perbedaannya adalah: mengenai asal-asul hak mengurus rumah tangga send iri itu. Pada negara bagian, hak otonomi itu merupakan hak aslinya, sedangkan pa da daerah otonom, hak itu diperoleh dari pemerintah pusat. Bentuk Kenegaraan Selain negara serikat, ada pula yang disebut serikat negara (konfederasi). Tiap negara yang menjadi anggota perserikatan itu ada yang berdaulat penuh, ada pula yang tidak. Perserikatan pada umumnya timbul karena adanya perjanjian berdasarka n kesamaan politik, hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan atau kepenting an bersama lainnya. 1. Perserikatan Negara Perserikatan Negara pada hakikatnya bukanlah negara, melainkan suatu perserikata n yang beranggotakan negara-negara yang masing-masing berdaulat. Dalam menjalank an kerjasama di antara para anggotanya, dibentuklah alat perlengkapan atau badan yang di dalamnya duduk para wakil dari negara anggota. Contoh Perserikatan Negara yang pernah ada: Perserikatan Amerika Utara (1776-1787) Negara Belanda (1579-1798), Jerman (1815-1866) Perbedaan antara negara serikat dan perserikatan negara: Dalam negara serikat, keputusan yang diambil oleh pemerintah negara serikat dapat langsung mengikat warga negara bagian; sedangkan dalam serikat negara kepu tusan yang diambil oleh serikat itu tidak dapat langsung mengikat warga negara d ari negara anggota. Dalam negara serikat, negara-negara bagian tidak boleh memisahkan diri dari negara serikat itu; sedangkan dalam serikat negara, negara-negara anggota boleh memisahkan diri dari gabungan itu. Dalam negara serikat, negara bagian hanya berdaulat ke dalam; sedangkan dala m serikat negara, negara-negara anggota tetap berdaulat ke dalam maupun ke luar. 2. Koloni atau Jajahan Negara koloni atau jajahan adalah suatu daerah yang dijajah oleh bangsa lain. Ko loni biasanya merupakan bagian dari wilayah negara penjajah. Hampir semua soal p enting negara koloni diatur oleh pemerintah negara penjajah. Karena terjajah, da erah/ negara jajahan tidak berhak menentukan nasibnya sendiri. Dewasa ini tidak ada lagi koloni dalam arti sesungguhnya. 3. Trustee (Perwalian) Negara Perwalian adalah suatu negara yang sesudah Perang Dunia II diurus oleh be

berapa negara di bawah Dewan Perwalian dari PBB. Konsep perwalian ditekankan kep ada negara-negara pelaksana administrasi. Menurut Piagam PBB, pembentukan sistem perwalian internasional dimaksudkan untuk mengawasi wilayah-wilayah perwalian yang ditempatkan di bawah PBB melalui perja njian-perjanjian tersendiri dengan negara-negara yang melaksanakan perwalian ter sebut. Perwalian berlaku terhadap: wilayah-wilayah yang sebelumnya ditempatkan di bawah mandat oleh Liga Bangsa -Bangsa setelah Perang Dunia I; wilayah-wilayah yang dipisahkan dari negara-negara yang dikalahkan dalam Per ang Dunia II; wilayah-wilayah yang ditempatkan secara sukarela di bawah negara-negara yang bertanggung jawab tentang urusan pemerintahannya. Tujuan pokok sistem perwalian adalah untuk meningkatkan kemajuan wilayah perwali an menuju pemerintahan sendiri. Mikronesia merupakan negara trustee terakhir yan g dilepas Dewan Perwalian PBB pada tahun 1994. 4. Dominion Bentuk kenegaraan ini hanya terdapat di dalam lingkungan Kerajaan Inggris. Negar a dominion semula adalah negara jajahan Inggris yang setelah merdeka dan berdaul at tetap mengakui Raja/ Ratu Inggris sebagai lambang persatuan mereka. Negara-ne gara itu tergabung dalam suatu perserikatan bernama The British Commonwealth of N ations (Negara-negara Persemakmuran). Tidak semua bekas jajahan Inggris tergabung dalam Commonwealth karena keanggotaa nnya bersifat sukarela. Ikatan Commonwealth didasarkan pada perkembangan sejarah dan azas kerja sama antaranggota dalam bidang ekonomi, perdagangan (dan pada ne gara-negara tertentu juga dalam bidang keuangan). India dan Kanada adalah negara bekas jajahan Inggris yang semula berstatus dominion, namun karena mengubah ben tuk pemerintahannya menjadi republik/ kerajaan dengan kepala negara sendiri, mak a negara-negara itu kehilangan bentuk dominionnya. Oleh karena itu persemakmuran itu kini dikenal dengan nama Commonwealth of Nations . Anggota-anggota persemakmur an itu antara lain: Inggris, Afrika Selatan, Kanada, Australia, Selandia Baru, I ndia, Malaysia, etc. Di sebagian dari negara-negara itu Raja/ Ratu Inggris diwak ili oleh seorang Gubernur Jenderal, sedangkan di ibukota Inggris, sejak tahun 19 65 negara-negara itu diwakili oleh High Commissioner. 5. Uni Bentuk kenegaraan Uni adalah gabungan dari dua negara atau lebih yang merdeka da n berdaulat penuh, memiliki seorang kepala negara yang sama. Pada umumnya Uni dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1) Uni Riil (Uni Nyata)

yaitu suatu uni yang terjadi apabila negara-negara anggotanya memiliki alat perl engkapan negara bersama yang telah ditentukan terlebih dulu. Perlengkapan negara itu dibentuk untuk mengurus kepentingan bersama. Uni sengaja dibentuk guna mewu judkan persatuan yang nyata di antara negara-negara anggotanya. Contoh: Uni Austria Hungaria (1867-1918), Uni Swedia esia Belanda (1949). 2) Uni Personil Norwegia (1815-1905), Indon

yaitu suatu uni yang memiliki seorang kepala negara, sedangkan segala urusan dal am negeri maupun luar negeri diurus sendiri oleh negara-negara anggota. Contoh: Uni Belanda Luxemburg (1839-1890), Swedia Skotlandia (1603-1707; Norwegia (1814-1905), Inggris

Selain itu ada yang dikenal dengan nama Uni Ius Generalis, yaitu bentuk gabungan negara-negara yang tidak memiliki alat perlengkapan bersama. Tujuannya adalah u ntuk bekerja sama dalam bidang hubungan luar negeri. Contoh: Uni Indonesia Belan da setelah KMB. 6. Protektorat Sesuai namanya, negara protektorat adalah suatu negara yang ada di bawah perlind ungan negara lain yang lebih kuat. Negara protektorat tidak dianggap sebagai neg ara merdeka karena tidak memiliki hak penuh untuk menggunakan hukum nasionalnya. Contoh: Monaco sebagai protektorat Prancis. Negara protektorat dibedakan menjadi dua (2) macam, yaitu: Protektorat Kolonial, jika urusan hubungan luar negeri, pertahanan dan sebag ian besar urusan dalam negeri yang penting diserahkan kepada negara pelindung. N egara protektorat semacam ini tidak menjadi subyek hukum internasional. Contoh: Brunei Darussalam sebelum merdeka adalah negara protektorat Inggris. Protektorat Internasional, jika negara itu merupakan subyek hukum internasi onal. Contoh: Mesir sebagai negara protektorat Turki (1917), Zanzibar sebagai ne gara protektorat Inggris (1890) dan Albania sebagai negara protektorat Italia (1 936). 7. Mandat Negara Mandat adalah suatu negara yang semula merupakan jajahan dari negara yang kalah dalam Perang Dunia I dan diletakkan di bawah perlindungan suatu negara ya ng menang perang dengan pengawasan dari Dewan Mandat LBB. Ketentuan-ketentuan te ntang pemerintahan perwalian ini ditetapkan dalam suatu perjanjian di Versailles . Contoh: Syria, Lebanon, Palestina (Daerah Mandat A); Togo dan Kamerun (Daerah Mandat B); Afrika Barat Daya (Daerah Mandat C).

1. Teori Kedaulatan Tuhan Bahwa berdirinya suatu Negara / pemerintah memperoleh kekuasaan tertinggi dari T uhan, karena alam seisinya termasuk Negara hasil ciptaan Tuhan, sehingga dengan kedaulatan / pemerintahan baik itu presiden / raja dianggap sebagai wakil Tuhan yang bersifat mutlak dan suci, dan rakyat wajib mentaatinya. Tokoh-tokoh yang mempelajari pendapat tentang teori kedaulatan : - Agustino - Thomas Aquino - Hegel 2. Teori Kedaulatan Raja Bahwa kekuasaan dalam suatu Negara terletak di tangan raja dan keturunannya kare na raja di anggap sebagai keturunan dewa atau wakil tuhan sehingga kekuasaan raj a mutlak tak terbatas yang sifatnya turun-menurun Negara-Negara yang menganut teori kedaulatan raja : - Perancis - Inggris - Belanda - Malasyia

Thailand Jepang Mesir Brunai Darussalam

3. Teori Kedaulatan Raja Bahwa Negara memperoleh kekuasaan dari rakyat dan kekuasaan tertinggi ada di tan gan rakyat. Ajaran ini besumber pada ajaran DEMOKRASI (Dari rakyat Oleh rakyat U ntuk rakyat) - Demokrasi adalah rakyatlah yang bertanggung jawab atas pengelolaan negera dan mewujudkan kesejahteraan rakyatnya Ciri-Ciri Negara Demokrasi : a. Memiliki Dewan Perwakilan Rakyat / Majelis (MPR, DPR, DPD) yang mencerminkan kehendak rakyat b. Dalam menentukan Dewan Perwakilan Rakyat / Majelis (MPR, DPR, DPD) melakukan pemilihan umum 5 tahun sekali untuk anggota majelis c. Kekuasaan / Kedaulatan rakyat di laksanakan oleh majelis yang bertugas mengaw asi jalannya pemerintahan d. Kekuasaan anggota mejalis di tetapkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Tokoh-tokoh yang mempelajari Kedaulatan Rakyat : 1. John Montesquin TRIAS POLITIKA : 1. Kekuasaan Legeslatif : kekuasaan membuat atau menysun UU. Dipegang oleh presi den bersama DPR 2. Kekuasaan Eksekutif : suatu lembaga yang menjalankan UU. Di pegang oleh presi den bersama menterinya (cabinet) 3. Kekuasaan Yudikatif : suatu lembaga yang tugasnya menghakimi siapa saja yang bersalah. Di pegang oleh Mahkaman Agung 2. J.J. Rosseau Manusia diciptakan Tuhan mempunyai derajat yang sama (HAM) 3. Volltaire Mengkritik raja dan para bangsawan untuk penghapusan budak belian 4. Teori Kedaulatan Hukum Pemerintah memperoleh kekuasaannya bukan dari Tuhan, Rakyat, atau Negara tetapi berdasarkan atas hokum, sehingga hukumlah yang berdaulat / berkuasa, baik raja, rakyat, siapapun harus tunduk dan patuh kepada hokum. Hukum yang dimaksud adalah : 1. Hukum Tertulis (UUD) 2. Hukum Tidak Tertulis (Adat Istiadat/Budaya) Tokoh-tokoh yang mempelajari kedaulatan hukum : - H.Krabbe - Imanuel Kant - Hugo De Groot 5. Teori Kedaulatan Negara Kekuasaan tertinggi dalam suatu Negara di pegang oleh Negara tersebut. Tokoh-tokoh yang mempelajari kedaulatan Negara : - Jean Bodin - Hegel - George Jelleneck

Hakikat Negara dan Bentuk Kenegaraan 2 Untuk mengenal suatu Negara atau bentuk suatu Negara, tidak bias lepas dari seja rahnya, baik dalam hal bentuk negaranya maupun bentuk kenegaraannya itu sendiri. 1. Serikat Negara Serikat Negara sering kita sebut konfederasi, yaitu perserikatan beberapa Negara yang merdeka dan berdaulat penuh, baik ke dalam maupun ke luar. Serikat Negara biasanya dibentuk untuk suatu kerjasama, misalnya pertahanan bersama. Negara-neg ara yang tergabung dalam suatu konfederasi tersebut tetap merdeka dan berdaulat penuh. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa konfederasi bukanlah suatu be ntuk Negara, melainkan sebuah kerjasama saja. 2. Koloni Suatu Negara yang dikuasai sepenuhnya secara fisik oleh Negara lain, biasanya di sebut Negara jajahan. Jadi, Negara jajahan (koloni) ialah Negara yang pemerintah annya dikuasai oleh pemerintahan Negara lain. Koloni atau Negara jajahan sebenarnya merupakan suatu bentuk kenegaraan ya ng dalam hubungannya dengan Negara lain hanya berupa suatu daerah yang memberika n keuntungan kepada Negara penjajah. Koloni tidak mempunyai hak-hak dan nasibnya bergantung kepada Negara penjajah. Contohkoloni, misalnya Tunisia, Maroko (jaja han Prancis), Malaysia dan Hongkong (jajahan Inggris). Sekarang Negara-negara te rsebut sudah merdeka penuh. 3. Perwalian (Trustee) Daerah perwalian adalah daerah-daerah yang sesudah Perang Dunia II diurus oleh b eberapa Negara di bawah pengawasan Trusteeship Council (Dewan Perwalian) PBB. Be ntuk kenegaraan seperti ini merupakan hasil dari Konferensi San Fransisco pada O ktober 1945. Contoh daerah perwalian adalah Papua Nugini, bekas jajahan Inggris yang berada di bawah perwalian PBB sampai 1975. 4. Dominion Bentuk kenegaraan dominion hanya terdapat dalam sejarah ketatanegaraan Inggris. Mula-mula dominion merupakan daerah jajahn Inggris yang telah merdeka dan tergab ung dalam The British Commonwealth of Nation. Negara-negara dominion berhak dan bebas mengurus masalah politk dalam dan luar n egerinya sendiri. Ketentuan tentang Negara dominion ini terdapat dalam pernyataa n Inferial Conference pada 1926 dan dalam Statue of Westminster pada 1931. Hasil pernyataan pada 1931 inilah yang dijadikan dasar Negara-negara gabungan. Dari h asil keputusan tadi, setiap Negara (dominion) boleh menyimpang dari undang-undan g yang dibuat oleh Inggris. Contoh-contoh Negara dominion, antara lain Afrika Se latan, Australia, Kanada, Pakistan, dan Selandia Baru. 5. Uni Uni adalah gabungan dari beberapa Negara yang dikepalai oleh seorang raja. Dalam ketatanegaraan dikenal dua macam uni, yaitu sebagai berikut. a. Uni Riil Suatu Negara disebut uni riil apabila Negara yang tergabung di dalamnya mengurus hubungan dengan Negara luar melalui badan milik bersama. Uni riil ada apabila N egara yang tergabung mengakui seseorang sebagai kepala Negara yang akan mengepal ai Negara uni tersebut. b. Uni Personil Uni personil terjadi apabila dua Negara mempunyai seorang raja yang merangkap se bagai kepala Negara, tetapi semua urusan dalam negeri maupun luar negeri diatur oleh setiap Negara peserta. Negara-negara yang menjadi anggota uni personil teta p merdeka dan mempunyai ketatanegaraan sendiri. Negara uni personil berakhir kar ena Negara-negara tersebut mengubah ketentuan tentang penggantian raja. Contoh N egara uni personil adalah Inggris-Spanyol (1603-1707), Inggris-Hannover (1714-18 37), dan Nederland-Luxemburg (1839-1890). 6. Protektorat Protektorat ialah suatu Negara yang ada di bawah perlindungan Negara lain yang d ianggap lebih kuat. Biasanya, hubungan luar negeri dan pertahanannya diserahkan kepada Negara pelindung. Hubungan antara protektorat dan Negara pelindungnya dia tur dalam suatu perjanjian. Pada hakikatnya Negara protektorat tidak dianggap se

bagai Negara yang merdeka. Negara protektorat disebut juga Negara Vazal. Wilayah -wilayah protektorat tidak memiliki keseragaman. Hal ini bergantung pada syaratsyarat khusus dari traktat/perjanjian tentang perlindungan tersebut dan kondisikondisi yang siperlukan untuk diakuinya protektorat tersebut oleh Negara ketiga yang menjadikannya sebagai dasar adanya perjanjian perlindungan. Contoh Negara p rotektorat yaitu Kerajaan Monaco (protektorat Prancis), Tibet (Protektorat Tiong kok), dan Kesultanan Zanzibar (protektorat Inggris). 7. Mandat Sistem mandate lahir dari hasil Perjanjian Versailles pada Juni 1918. Daerah man date merupakan daerah bekas jajahan dari Negara yang kalah perang pada Perand Du nia I, dan yang menjadi wali adalah Negara yang menang perang. Daerah mandate be rada di bawah suatu Negara yang menang perang dengan pengawasan komisi mandate d ari League of Nation (Liga Bangsa-Bangsa). Mandataris mempunyai tugas menyelengg arakan kepentingan-kepentingan rakyat daerah mandate. Selain itu, mandataris har us melaporkan keadaan daerah mandatnya kepada LBB. Kedudukan daerah mandate dapat lenyap apabila daerah tersebut sudah mampu menyel enggarakan kewajiban-kewajibannya sebagai Negara dan diakui sebagai Negara. Cont oh daerah bekas mandate yang sudah menjadi Negara adalah Irak dan Palestina (bek as mandate Prancis).

Tujuan dan Fungsi Negara Tujuan Negara Negara didirikan tentu ada maksud dan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan negara sangat penting artinya untuk mengarahkan segala kegiatan dan sekaligus menjadi p edoman dalam penyusunan dan perlengkapan negara serta kehidupan rakyatnya. Tujua n setiap negara sangat dipengaruhi oleh sistem sosial budaya, kondisi geografis, dan pengaruh politik dari negara yang bersangkutan. Sebagai sebuah organisasi k ekuasaan yang terdiri dari kumpulan orang-orang yang mendiaminya, negara harus m emiliki tujuan yang disepakati bersama. Tujuan sebuah negara dapat bermacam-maca m, tetapi secara umum tujuan negara dapat dikelompokkan dalam tiga hal sebagai b erikut. a) Untuk memperluas kekuasaan semata. b) Menyelenggarakan ketertiban umum. c) Mencapai kesejahteraan umum. Tujuan negara dalam konsep dan ajaran Plato, yaitu untuk memajukan kesusilaan ma nusia, baik sebagai perseorangan (individu) maupun sebagai makhluk sosial. Adapu n menurut Roger H. Soltau, tujuan negara adalah memungkinkan rakyatnya berkemban g serta menyelenggarakan daya ciptanya sebebas mungkin. Dalam ajaran dan konsep teokratis, yang dikemukakan oleh Thomas Aquinas dan St. Agustinus, tujuan negara adalah untuk menciptakan penghidupan dan kehidupan aman dan tenteram dengan taa t kepada Tuhan serta di bawah pimpinan Tuhan. Pemimpin negara menjalankan kekuas aannya hanya berdasarkan pada kekuasaan Tuhan yang diberikan kepadanya. Adapun m enurut Ibnu Arabi, tujuan negara adalah agar manusia dapat menjalankan kehidupan nya dengan baik, jauh dari sengketa dan menjaga intervensi pihak-pihak asing. Da lam konsep dan ajaran negara hukum, tujuan negara adalah menyelenggarakan ketert iban hukum dengan berdasarkan dan berpedoman pada hukum. Charles E. Merriam meng emukakan tujuan-tujuan negara, yaitu sebagai berikut: a) Keamanan ekstern (external security), artinya negara bertugas melindungi warg a negaranya terhadap ancaman dari luar. b) Pemeliharaan ketertiban intern (maintenance of internal order), artinya dalam masyarakat yang tertib terhadap pembagian kerja dan tanggung jawab pelaksanaan peraturan-peraturan pada segenap fungsionaris negara; terdapat pula badan-badan, prosedur, dan usaha-usaha yang dimengerti oleh segenap warga negara dan yang di anggap dilaksanakan untuk memajukan kebahagiaan bersama.

c) Keadilan (justice), terwujud dalam sistem di mana terdapat saling pengertian dan prosedur-prosedur yang memberikan kepada setiap orang apa yang telah disetuj ui dan telah dianggap patut. d) Kesejahteraan (welfare), artinya kesejahteraan meliputi keamanan, ketertiban, keadilan, dan kebebasan. Kesejahteraan umum meliputi usaha-usaha, seperti penam bahan tenaga produksi yang dapat memperbesar pendapatan nasional, menyelenggarak an usaha-usaha dalam bidang teknologi, pendidikan, dan bidang-bidang yang lain. e) Kebebasan (freedom) adalah kesempatan mengembangkan dengan bebas hasrat-hasra t individu akan ekspresi kepribadiannya yang harus disesuaikan dengan gagasan ke makmuran umum. Tujuan negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah melindung i segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejah teraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dun ia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Fungsi Negara Secara umum fungsi negara, yakni sebagai pengatur kehidupan dalam wilayah negara demi tercapainya tujuan negara tersebut. Untuk itu, hal yang harus dilakukan ol eh negara adalah sebagai berikut: a) Melaksanakan ketertiban (law and order) untuk mencapai tujuan bersama dan men cegah bentrokan-bentrokan dalam masyarakat. Dalam hal ini, negara bertindak seba gai stabilisator. b) Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Pada masa sekarang, fung si ini dianggap sangat penting, terutama bagi negara-negara baru atau yang sedan g berkembang. c) Mengusahakan pertahanan untuk menjaga kemungkinan serangan dari luar. Negara harus dilengkapi dengan alat-alat pertahanan yang kuat dan canggih. d) Menegakkan keadilan yang dilaksanakan melalui badan-badan peradilan. Sementara itu, di negara Republik Indonesia untuk mewujudkan tujuan negara sebag aimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, negara memiliki fungsi sebagai beriku t: a) Pertahanan dan keamanan untuk menjaga kemungkinan adanya serangan dari pihak luar maupun dari kelompok tertentu dari dalam yang ingin memaksakan kehendaknya dengan cara-cara radikal atau yang ingin memecah-belah persatuan bangsa. b) Menjaga ketertiban untuk mewujudkan keamanan, kelancaran, ketenteraman dalam masyarakat, dan mencegah terjadinya tindakan kriminal yang meresahkan masyarakat , serta mencegah terjadinya bentrokan-bentrokan antarkelompok atau antar individ u. c) Mengupayakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya untuk mencegah terja dinya kesenjangan sosial yang dapat mengakibatkan gejolak sosial. d) Menegakkan keadilan, artinya memperlakukan setiap orang secara adil, baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, maupun hukum.

Asal Mula terjadinya negara Asal mula terjadinya negara dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Secara Primer 2. Secara Sekunder I. Secara Primer Asal mula terjadinya Negara secara primer biasa disebut juga pendekatan teoritis yang bersifat dugaan yang dianggap benar. Negara terjadi melalui beberapa tahapan dan tidak ada hubungan dengan Negara yan g telah ada sebelumnya. Tahapan terjadinya Negara: 1. Genoot Schaft (Suku) Terdapat istilah Primus Interpares yang artinya Yang utama di antara sesama. 2. Rijk/Reich (Kerajaan Di sini muncul kesadaran hak milik dan hak atas tanah. 3. Staat Kesadaran akan perlunya demokrasi dan kedaulatan rakyat. 4. Diktatur Natie II. Secara Sekunder Asal mula terjadinya Negara secara sekunder lebih pada pendekatan fakta atau ken yataan. Terjadinya Negara/lahirnya Negara ada hubungan dengan Negara yang telah ada sebelumnya. Terdapat beberapa macam dari asal mula terjadinya Negara secara sekunder, yaitu: 1. Proklamasi Pernyataan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain. 2. Fusi Peleburan 2 negara atau lebih dan membentuk 1 negara. 3. Aneksasi Pencaplokan. Suatu daerah dikuasai Negara lain tanpa perlawanan. 4. Cessie Penyerahan. Sebuah daerah diserahkan kepada Negara lain berdasarkan perjanjian. 5. Acessie Penarikan. Bertambahnya suatu wilayah karena proses pelumpuran laut dalam kurun

waktu yang lama dan dihuni oleh kelompok. 6. Okupasi Pendudukan. Suatu wilayah yang kosong kemudian diduduki sekelompok bangsa sehing ga berdiri Negara. 7. Inovasi Suatu Negara pecah, kemudian lenyap dan memunculkan Negara baru di atasnya. 8. Separasi. Asal Mula Terjadinya Negara Berdasarkan fakta sejarah Pendudukan (Occupatie) Hal ini terjadi ketika suatu wilayah yang tidak bertuan dan belum dikuasai, kemu dian diduduki dan dikuasai.Misalnya,Liberia yang diduduki budak-budak Negro yang dimerdekakan tahun 1847. Peleburan (Fusi) Hal ini terjadi ketika negara-negara kecil yang mendiami suatu wilayah mengadaka n perjanjian untuk saling melebur atau bersatu menjadi Negara yang baru.Misalnya terbentuknya Federasi Jerman tahun 1871. Penyerahan (Cessie) Hal ini terjadi Ketika suatu Wilayah diserahkan kepada negara lain berdasarkan s uatu perjanjian tertentu.Misalnya,Wilayah Sleeswijk pada Perang Dunia I diserahk an oleh Austria kepada Prusia,(Jerman). Penaikan (Accesie) Hal ini terjadi ketika suatu wilayah terbentuk akibat penaikan Lumpur Sungai ata u dari dasar Laut (Delta).Kemudian di wilayah tersebut dihuni oleh sekelompok or ang sehingga terbentuklah Negara.Misalnya,wilayah negara Mesir yang terbentuk da ri Delta Sungai Nil. Pengumuman (Proklamasi) Hal ini terjadi karena suatu daerah yang pernah menjadi daerah jajahan ditinggal kan begitu saja. Sehingga penduduk daerah tersebut bisa mengumumkan kemerdekaann ya. Contahnya, Indonesia yang pernah di tinggalkan Jepang karena pada saat itu j epang dibom oleh Amerika di daerah Hiroshima dan Nagasaki.

Unsur-Unsur Negara Menurut Oppenheim-Lauterpacht, unsur-unsur negara adalah: Unsur pembentuk negara (konstitutif): wilayah/ daerah, rakyat, pemerintah ya ng berdaulat Unsur deklaratif: pengakuan oleh negara lain 1. Wilayah/ Daerah 1) Daratan

Wilayah daratan ada di permukaan bumi dalam batas-batas tertentu dan di dalam ta nah di bawah permukaan bumi. Artinya, semua kekayaan alam yang terkandung di dal am bumi dalam batas-batas negara adalah hak sepenuhnya negara pemilik wilayah. Batas-batas wilayah daratan suatu negara dapat berupa: Batas alam, misalnya: sungai, danau, pegunungan, lembah Batas buatan, misalnya: pagar tembok, pagar kawat berduri, parit Batas menurut ilmu alam: berupa garis lintang dan garis bujur peta bumi 2) Lautan Lautan yang merupakan wilayah suatu negara disebut laut teritorial negara itu, s edangkan laut di luarnya disebut laut terbuka (laut bebas, mare liberum). Ada dua konsepsi pokok tentang laut, yaitu: 1) Res Nullius, yang menyatakan bahw a laut tidak ada pemiliknya, sehingga dapat diambil/ dimiliki oleh setiap negara ; 2) Res Communis, yang menyatakan bahwa laut adalah milik bersama masyarakat du nia dan karenanya tidak dapat diambil/ dimiliki oleh setiap negara. Tidak ada ketentuan dalam hukum internasional yang menyeragamkan lebar laut teri torial setiap negara. Kebanyakan negara secara sepihak menentukan sendiri wilaya h lautnya. Pada umumnya dianut tiga (3) mil laut ( 5,5 km) seperti Kanada dan Aus tralia. Tetapi ada pula yang menentukan batas 12 mil laut (Chili dan Indonesia), bahkan 200 mil laut (El Salvador). Batas laut Indonesia sejauh 12 mil laut dium umkan kepada masyarakat internasional melalui Deklarasi Juanda pada tanggal 13 D esember 1957. Pada tanggal 10 Desember 1982 di Montego Bay (Jamaica), ditandatangani traktat m ultilateral yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan lautan, misalny a: permukaan dan dasar laut, aspek ekonomi, perdagangan, hukum, militer dan ling kungan hidup. Traktat tersebut ditandatangani 119 delegasi peserta yang terdiri dari 117 negara dan dua organisasi kebangsaan. Tentang batas lautan ditetapkan sebagai berikut: 1. Batas laut teritorial Setiap negara berdaulat atas lautan teritorial yang jaraknya sampai 12 mil laut, diukur dari garis lurus yang ditarik dari pantai. 2. Batas zona bersebelahan Di luar batas laut teritorial sejauh 12 mil laut atau 24 mil dari pantai adalah batas zona bersebelahan. Di dalam wilayah ini negara pantai dapat mengambil tind akan dan menghukum pihak-pihak yang melanggar undang-undang bea cukai, fiskal, i migrasi, dan ketertiban negara. 3. Batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) ZEE adalah wilayah laut suatu engara pantai yang batasnya 200 mil laut diukur da ri pantai. Di dalam wilayah ini, negara pantai yang bersangkutan berhak menggali kekayaan laut dan menangkap nelayan asing yang kedapatan menangkap ikan di wila yah ini serta melakukan kegiatan ekonomi lainnya. Negara lain bebas berlayar ata u terbang di atas wilayah itu serta bebas pula memasang kabel dan pipa di bawah laut. 4. Batas landas benua Landas benua adalah wilayah lautan suatu engara yang batasnya lebih dari 200 mil laut. Dalam wilayah ini negara pantai boleh melakukan eksplorasi dan eksploitas i dengan kewajiban membagi keuntungan dengan masyarakat internasional. 3) Udara Wilayah udara suatu negara ada di atas wilayah daratan dan lautan negara itu. Ke kuasaan atas wilayah udara suatu negara itu pertama kali diatur dalam Perjanjian Paris pada tahun 1919 (dimuat dalam Lembaran Negara Hindia Belanda No.536/1928 dan No.339/1933). Perjanjian Havana pada tahun 1928 yang dihadiri 27 negara mene gaskan bahwa setiap negara berkuasa penuh atas udara di wilayahnya. Hanya seizin dan atau menurut perjanjian tertentu, pesawat terbang suatu negara boleh melaku kan penerbangan di atas negara lain. Demikian pula Persetujuan Chicago 1944 mene ntukan bahwa penerbangan internasional melintasi negara tanpa mendarat atau mend arat untuk tujuan transit dapat dilakukan hanya seizin negara yang bersangkutan. Sedangkan Persetujuan Internasional 1967 mengatur tentang angkasa yang tidak bi sa dimiliki oleh negara di bawahnya dengan alasan segi kemanfaatan untuk semua n

egara dan tujuan perdamaian. 4) Wilayah Ekstrateritorial Wilayah ekstrateritorial adalah tempat-tempat yang menurut hukum internasional d iakui sebagai wilayah kekuasaan suatu negara meskipun tempat itu berada di wilay ah negara lain. Termasuk di dalamnya adalah tempat bekerja perwakilan suatu nega ra, kapal-kapal laut yang berlayar di laut terbuka di bawah suatu bendera negara tertentu. Di wilayah itu pengibaran bendera negara yang bersangkutan diperboleh kan. Demikian pula pemungutan suara warga negara yang sedang berada di negara la in untuk pemilu di negara asalnya. Contoh: di atas kapal (floating island) berbe ndera Indonesia berlaku kekuasaan negara dan undang-undang NKRI. 2. Rakyat Rakyat (Inggris: people; Belanda: volk) adalah kumpulan manusia yang hidup bersa ma dalam suatu masyarakat penghuni suatu negara, meskipun mereka ini mungkin ber asal dari keturunan dan memiliki kepercayaan yang berbeda. Selain rakyat, penghu ni negara juga disebut bangsa. Para ahli menggunakan istilah rakyat dalam penger tian sosiologis dan bangsa dalam pengertian politis. Rakyat adalah sekelompok ma nusia yang memiliki suatu kebudayaan yang sama, misalnya memiliki kesamaan bahas a dan adat istiadat. Sedangkan bangsa menurut Ernest Renan adalah sekelompok man usia yang dipersatukan oleh kesamaan sejarah dan cita-cita. Hasrat bersatu yang didorong oleh kesamaan sejarah dan cita-cita meningkatkan rakyat menjadi bangsa. Dengan perkataan lain, bangsa adalah rakyat yang berkesadaran membentuk negara. Suatu bangsa tidak selalu terbentuk dari rakyat seketurunan, sebahasa, seagama atau adat istiadat tertentu kendati kesamaan itu besar pengaruhnya dalam proses pembentukan bangsa. Sekadar contoh, bangsa Amerika Serikat sangat heterogen, ban yak ras, bahasa dan agama; bangsa Swiss menggunakan tiga bahasa yang sama kuatny a; bangsa Indonesia memiliki ratusan suku, agama, bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Secara geopolitis, selain harus memiliki sejarah dan cita-cita yang sam a, suatu bangsa juga harus terikat oleh tanah air yang sama. Beberapa pandangan tentang pengertian bangsa: Otto Bauer berpendapat bahwa bangsa adalah suatu kesatuan yagn terjadi karen a persatuan yang telah dijalani rakyat. Kranenburg dalam bukunya Allgemeine Staatslehre mengaitkan konsepsi bangsa den gan budi pekerti rakyat. Jacobsen dan Lipman dalam buku Political Science menyatakan bahwa bangsa adala h suatu kesatuan budaya (cultural unity). Ernest Renan dalam pidatonya di Universitas Sorbone (Paris) pada tanggal 11 Maret 1882 menyatakan bahwa bangsa adalah satu jiwa atau satu azas kerohanian ya ng ditimbulkan oleh adanya kemuliaan bersama di masa lampau. Bangsa tumbuh karen a adanya solidaritas kesatuan. G.S. Dipondo mengatakan bahwa rakyat hanyalah sebagian kecil dari bangsa, ya itu mereka yang tidak duduk dalam pucuk pimpinan. Sedangkan pengertian bangsa me ncakup baik pimpinan maupun rakyat itu sendiri. Padmo Wahyono menggunakan istilah bangsa sebagai unsur negara: bangsa dari s uatu negara jika dilihat secara perorangan berarti warga negara. Beberapa istilah yang erat pengertiannya dengan rakyat: Rumpun (ras), diartikan sebagai sekumpulan manusia yang merupakan suatu kesa tuan karena berciri jasmaniah yang sama, misalnya: warna kulit, warna rambut, be ntuk badan, wajah, etc. Bangsa (volks), diartikan sebagai sekumpulan manusia yang merupakan suatu ke satuan karena kesamaan kebudayaan, misalnya: bahasa, adat/ kebiasaan, agama dan sebagainya. Nation (natie), diartikan sebagai sekumpulan manusia yang merupakan suatu ke satuan karena memiliki kesatuan politik yang sama. Rakyat merupakan unsur terpenting dalam negara karena manusialah yang berkepenti ngan agar organisasi negara dapat berjalan dengan baik. Rakyat suatu negara dibe dakan antara: a) penduduk dan bukan penduduk; b) warga negara dan bukan warga ne

gara. Penduduk ialah mereka yang bertempat tinggal atau berdomisili tetap di dalam wil ayah negara. Sedangkan bukan penduduk ialah mereka yang ada di dalam wilayah neg ara, tetapi tidak bermaksud bertempat tinggal di negara itu. Warga negara ialah mereka yang berdasarkan hukum merupakan anggota dari suatu negara. Sedangkan buk an warga negara disebut orang asing atau warga negara asing (WNA). Georg Jellinek mengemukakan empat status bangsa, yaitu: Status positif, yaitu status yang memberikan hak kepada warga negara untuk m enuntut tindakan positif negara mengenai perlindungan atas jiwa raga, hak milik, kemerdekaan, dan sebagainya; Status negatif, yaitu status yang menjamin warga negara bahwa negara tidak i kut campur terhadap hak-hak azasi (hak-hak privat) warga negaranya. Status aktif, yaitu status yang memberikan hak kepada setiap warga negara un tuk ikut serta dalam pemerintahan, misalnya melalui hak pilih (aktif: memilih, p asif: dipilih). Status pasif, yaitu status yang memberikan kewajiban kepada setiap warga neg ara untuk taat dan tunduk kepada negara. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politikon, artinya makhluk yang pada d asarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesamanya atau makhluk yang su ka bermasyarakat. Manusia adalah makhluk individu (perseorangan) sekaligus makhl uk sosial. Secara singkat yang disebut masyarakat adalah persatuan manusia yang timbul dari kodrat yang sama itu. Penyebab manusia selalu hidup bermasyarakat antara lain adalah dorongan kesatuan biologis dalam naluri manusia, yaitu: hasrat untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum; hasrat untuk membela diri; hasrat untuk melanjutkan keturunan. Golongan masyarakat antara lain terbentuk karena: rasa tertarik kepada (sekelompok) orang lain tertentu; memiliki kegemaran yang sama dengan orang lain; memerlukan bantuan/ kekuatan orang lain; berhubungan darah dengan orang lain; dan memiliki hubungan kerja dengan orang lain. Dengan perkataan lain, aspek-aspek yang mendorong manusia ke arah kerja sama den gan sesamanya adalah: biologis: manusia ingin tetap hidup dan memertahankan kelangsungan hidupnya yang hanya bisa dicapai dengan bekerja sama dengan sesamanya; psikologis: kesediaan kerja sama untuk menghilangkan kejemuan dan mempertaha nkan harga diri sebagai anggota pergaulan hidup bersama manusia; ekonomis: kesediaan manusia untuk bekerja sama adalah agar dapat memenuhi da n memuaskan segala macam kebutuhan hidupnya; kultural: manusia sadar bahwa segala usahanya untuk menciptakan sesuatu hany a bisa berhasil dalam kerja sama dengan sesamanya. Sifat-sifat golongan masyarakat itu pada umumnya dapat dibagi menjadi tiga macam golongan besar, yaitu: Golongan yang berdasarkan hubungan kekeluargaan: perkumpulan keluarga; Golongan yang berdasarkan hubungan kepentingan/ pekerjaan: perkumpulan ekono mi, koperasi, serikat sekerja, perkumpulan sosial , kesenian, olahraga, etc. Golongan yang berdasarkan hubungan tujuan/ pandangan hidup atau ideologi: pa rtai politik, perkumpulan keagamaan.

Bentuk pergaulan hidup masyarakat: a) berdasarkan hubungan yang diciptakan para anggotanya: Masyarakat paguyuban (gemeinschaft), apabila hubungan itu bersifat kepri badian dan menimbulkan ikatan batin, misalnya rumah tangga, perkumpulan kematian , etc. Masyarakat patembayan (gesellschaft), apabila hubungan itu bersifat buka n-kepribadian dan bertujuan untuk mencapai keuntungan kebendaan, misalnya firma, perseroan komanditer, perseroan terbatas, etc. b) berdasarkan sifat pembentukannya: Masyarakat yang teratur oleh karena sengaja diatur untuk tujuan-tujuan t ertentu, misalnya perkumpulan olahraga. Masyarakat yang teratur dan terjadi dengan sendirinya karena adanya kesa maan kepentingan, misalnya para penonton pertandingan sepakbola. Masyarakat yang tidak teratur, misalnya para pembaca harian Kompas. c) berdasarkan hubungan kekeluargaan: rumah tangga, sanak saudara, suku, bangsa, etc. d) berdasarkan perikehidupan/ kebudayaan: Masyarakat primitif dan masyarakat modern. Masyarakat desa dan masyarakat kota. Masyarakat teritorial, yang anggota-anggotanya bertempat tinggal di suatu da erah. Masyarakat genealogis, yang anggota-anggotanya seketurunan (memiliki hubunga n pertalian darah). Masyarakat teritorial-genealogis, yang anggota-anggotanya bertempat tinggal di suatu daerah dan mereka seketurunan. 3. Pemerintah yang berdaulat Istilah Pemerintah merupakan terjemahan dari kata asing Gorvernment (Inggris), G ouvernement (Prancis) yang berasal dari kata Yunani ???e?a? yang berarti mengemudi kan kapal (nahkoda). Dalam arti luas, Pemerintah adalah gabungan dari semua bada n kenegaraan (eksekutif, legislatif, yudikatif) yang berkuasa memerintah di wila yah suatu negara. Dalam arti sempit, Pemerintah mencakup lembaga eksekutif saja. Menurut Utrecht, istilah Pemerintah meliputi pengertian yang tidak sama sebagai berikut: Pemerintah sebagai gabungan semua badan kenegaraan atau seluruh alat perleng kapan negara adalam arti luas yang meliputi badan legislatif, eksekutif dan yudi katif. Pemerintah sebagai badan kenegaraan tertinggi yang berkuasa memerintah di wi layah suatu negara (dhi. Kepala Negara). Pemerintah sebagai badan eksekutif (Presiden bersama menteri-menteri: kabine t). Istilah kedaulatan merupakan terjemahan dari sovereignty (Inggris), souveranete (Prancis), sovranus (Italia) yang semuanya diturunkan dari kata supremus (Latin) yang berarti tertinggi. Kedaulatan berarti kekuasan yang tertinggi, tidak di ba wah kekuasaan lain. Pemerintah yang berdaulat berarti pemerintah yang memegang kekuasaan tertinggi d i dalam negaranya dan tidak berada di bawah kekuasaan pemerintah negara lain. Ma ka, dikatakan bahwa pemerintah yang berdaulat itu berkuasa ke dalam dan ke luar: Kekuasaan ke dalam, berarti bahwa kekuasaan pemerintah itu dihormati dan dit aati oleh seluruh rakyat dalam negara itu;

Kekuasaan ke luar, berarti bahwa kekuasaan pemerintah itu dihormati dan diak ui oleh negara-negara lain. Jean Bodin (1530-1596), seorang ahli ilmu negara asal Prancis, berpendapat bahwa negara tanpa kekuasaan bukanlah negara. Dialah yang pertama kali menggunakan ka ta kedaulatan dalam kaitannya dengan negara (aspek internal: kedaulatan ke dalam ). Kedaulatan ke dalam adalah kekuasaan tertinggi di dalam negara untuk mengatur fungsinya. Kedaulatan ke luar adalah kekuasaan tertinggi untuk mengatur pemerin tahan serta memelihara keutuhan wilayah dan kesatuan bangsa (yang selayaknya dih ormati oleh bangsa dan negara lain pula), hak atau wewenang mengatur diri sendir i tanpa pengaruh dan campur tangan asing. Grotius (Hugo de Groot) yang dianggap sebagai bapak hukum internasional memandan g kedaulatan dari aspek eksternalnya, kedaulatan ke luar, yaitu kekuasaan memper tahankan kemerdekaan negara terhadap serangan dari negara lain. Sifat-sifat kedaulatan menurut Jean Bodin: Permanen/ abadi, yang berarti kedaulatan tetap ada selama negara masih berdi ri. Asli, yang berarti bahwa kedaulatan itu tidak berasal adari kekuasaan lain y ang lebih tinggi. Tidak terbagi, yang berarti bahwa kedaulatan itu merupakan satu-satunya yang tertinggi di dalam negara. Tidak terbatas, yang berarti bahwa kedaulatan itu tidak dibatasi oleh siapa pun, karena pembatasan berarti menghilangkan ciri kedaulatan sebagai kekuasaan y ang tertinggi. Para ahli hukum sesudahnya menambahkan satu sifat lagi, yaitu tunggal, yang bera rti bahwa hanya negaralah pemegang kekuasaan tertinggi. Macam-macam teori kedaulatan 1. Teori Kedaulatan Tuhan Teori ini merupakan teori kedaulatan yang pertama dalam sejarah, mengajarkan bah wa negara dan pemerintah mendapatkan kekuasaan tertinggi dari Tuhan sebagai asal segala sesuatu (Causa Prima). Menurut teori ini, kekuasaan yang berasal dari Tu han itu diberikan kepada tokoh-tokoh negara terpilih, yang secara kodrati diteta pkan-Nya menjadi pemimpin negara dan berperan selaku wakil Tuhan di dunia. Teori ini umumnya dianut oleh raja-raja yang mengaku sebagai keturunan dewa, misalnya para raja Mesir Kuno, Kaisar Jepang, Kaisar China, Raja Belanda (Bidde Gratec G ods, kehendak Tuhan), Raja Ethiopia (Haile Selasi, Singa penakluk dari suku Yuda pilihan Tuhan). Demikian pula dianut oleh para raja Jawa zaman Hindu yang menga nggap diri mereka sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Ken Arok bahkan menganggap diri nya sebagai titisan Brahmana, Wisnu, dan Syiwa sekaligus. Pelopor teori kedaulatan Tuhan antara lain: Augustinus (354-430), Thomas Aquino (1215-1274), juga F. Hegel (1770-1831) dan F.J. Stahl (1802-1861). Karena berasal dari Tuhan, maka kedaulatan negara bersifat mutlak dan suci. Selu ruh rakyat harus setia dan patuh kepada raja yang melaksanakan kekuasaan atas na ma dan untuk kemuliaan Tuhan. Menurut Hegel, raja adalah manifestasi keberadaan Tuhan. Maka, raja/ pemerintah selalu benar, tidak mungkin salah. 2. Teori Kedaulatan Raja Dalam Abad Pertengahan Teori Kedaulatan Tuhan berkembang menjadi Teori Kedaulata n Raja, yang menganggap bahwa raja bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Kek uasaan raja berada di atas konstitusi. Ia bahkan tak perlu menaati hukum moral a gama, justru karena status -nya sebagai representasi/ wakil Tuhan di dunia. Maka, p ada masa itu kekuasaan raja berupa tirani bagi rakyatnya. Peletak dasar utama teori ini adalah Niccolo Machiavelli (1467-1527) melalui kar yanya, Il Principe. Ia mengajarkan bahwa negara harus dipimpin oleh seorang raja yang berkekuasaan mutlak. Sedangkan Jean Bodin menyatakan bahwa kedaulatan nega ra memang dipersonifikasikan dalam pribadi raja, namun raja tetap harus menghorm ati hukum kodrat, hukum antarbangsa, dan konstitusi kerajaan (leges imperii). Di Inggris, teori ini dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679) yang mengajarkan bahwa kekuasaan mutlak seorang raja justru diperlukan untuk mengatur negara dan

menghindari homo homini lupus. 3. Teori Kedaulatan Negara Menurut teori ini, kekuasaan tertinggi terletak pada negara. Sumber kedaulatan a dalah negara, yang merupakan lembaga tertinggi kehidupan suatu bangsa. Kedaulata n timbul bersamaan dengan berdirinya suatu negara. Hukum dan konstitusi lahir me nurut kehendak negara, diperlukan negara, dan diabdikan kepada kepentingan negar a. Demikianlah F. Hegel mengajarkan bahwa terjadinya negara adalah kodrat alam, menurut hukum alam dan hukum Tuhan. Maka kebijakan dan tindakan negara tidak dap at dibatasi hukum. Ajaran Hegel ini dianggap yang paling absolut sepanjang sejar ah. Para penganut teori ini melaksanakan pemerintahan tiran, teristimewa melalui kepala negara yang bertindak sebagai diktator. Pengembangan teori Hegel menyeba r di negara-negara komunis. Peletak dasar teori ini antara lain: Jean Bodin (1530-1596), F. Hegel (1770-1831 ), G. Jellinek (1851-1911), Paul Laband (1879-1958). 4. Teori Kedaulatan Hukum Berdasarkan pemikiran teori ini, kekuasaan pemerintah berasal dari hukum yang be rlaku. Hukumlah (tertulis maupun tidak tertulis) yang membimbing kekuasaan pemer intahan. Etika normatif negara yang menjadikan hukum sebagai panglima mewajibkan p enegakan hukum dan penyelenggara negara dibatasi oleh hukum. Pelopor teori Kedau latan Hukum antara lain: Hugo de Groot, Krabbe, Immanuel Kant dan Leon Duguit. 5. Teori Kedaulatan Rakyat (Teori Demokrasi) Teori ini menyatakan bahwa kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Pemerintah harus menjalankan kehendak rakyat. Ciri-cirinya adalah: kedaulatan tertinggi be rada di tangan rakyat (teori ajaran demokrasi) dan konstitusi harus menjamin hak azasi manusia. Beberapa pandangan pelopor teori kedaulatan rakyat: J.J. Rousseau menyatakan bahwa kedaulatan itu perwujudan dari kehendak umum dari suatu bangsa merdeka yang mengadakan perjanjian masyarakat (social contract ). Johanes Althuisiss menyatakan bahwa setiap susunan pergaulan hidup manusia t erjadi dari perjanjian masyarakat yang tunduk kepada kekuasaan, dan pemegang kek uasaan itu dipilih oleh rakyat. John Locke menyatakan bahwa kekuasaan negara berasal dari rakyat, bukan dari raja. Menurut dia, perjanjian masyarakat menghasilkan penyerahan hak-hak rakyat kepada pemerintah dan pemerintah mengembalikan hak dan kewajiban azasi kepada r akyat melalui peraturan perundang-undangan. Montesquieu yang membagi kekuasaan negara menjadi: kekuasaan legislatif, eks ekutif dan yudikatif (Trias Politica). 4. Pengakuan oleh negara lain Pengakuan oleh negara lain didasarkan pada hukum internasional. Pengakuan itu be rsifat deklaratif/ evidenter, bukan konstitutif. Proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat dilaksanakan pada tanggal 4 Juli 1776, namun Inggris (yang pernah berkua sa di wilayah AS) baru mengakui kemerdekaan negara itu pada tahun 1783. Adanya pengakuan dari negara lain menjadi tanda bahwa suatu negara baru yang tel ah memenuhi persyaratan konstitutif diterima sebagai anggota baru dalam pergaula n antarnegara. Dipandang dari sudut hukum internasional, faktor pengakuan sangat penting, yaitu untuk: tidak mengasingkan suatu kumpulan manusia dari hubungan-hubungan internasion al; menjamin kelanjutan hubungan-hubungan intenasional dengan jalan mencegah kek osongan hukum yang merugikan, baik bagi kepentingan-kepentingan individu maupun hubungan antarnegara. Menurut Oppenheimer, pengakuan oleh negara lain terhadap berdirinya suatu negara semata-mata merupakan syarat konstitutif untuk menjadi an international person. Dalam kedudukan itu, keberadaan negara sebagai kenyataan fisik (pengakuan de fa cto) secara formal dapat ditingkatkan kedudukannya menjadi suatu judicial fact (

pengakuan de jure). Pengakuan de facto adalah pengakuan menurut kenyataan bahwa suatu negara telah b erdiri dan menjalankan kekuasaan sebagaimana negara berdaulat lainnya. Sedangkan pengakuan de jure adalah pengakuan secara hukum bahwa suatu negara telah berdir i dan diakui kedaulatannya berdasarkan hukum internasional. Perbedaan antara pengakuan de facto dan pengakuan de jure antara lain adalah: Hanya negara atau pemerintah yang diakui secara de jure yang dapat mengajuka n klaim atas harta benda yang berada dalam wilayah negara yang mengakui. Wakil-wakil dari negara yang diakui secara de facto secara hukum tidak berha k atas kekebalan-kekebalan dan hak-hak istimewah diplomatik secara penuh. Pengakuan de facto karena sifatnya sementara pada prinsipnya dapat ditarik k embali. Apabila suatu negara berdaulat yang diakui secara de jure memberikan kemerde kaan kepada suatu wilayah jajahan, maka negara yang baru merdeka itu harus diaku i secara de jure pula. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Unsur-unsur n egara terpenuhi pada tanggal 18 Agustus 1945. Pengakuan pertama diberikan oleh M esir, yaitu pada tanggal 10 Juni 1947. Berturut-turut kemerdekaan Indonesia itu kemudian diakui oleh Lebanon, Arab Saudi, Afghanistan, Syria dan Burma. Pengakua n de facto diberikan Belanda kepada Republik Indonesia atas wilayah Jawa, Madura dan Sumatra dalam Perundingan Linggarjati tahun 1947. Sedangkan pengakuan de ju re diberikan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949 dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Pengakuan terhadap negara baru dalam kenyataannya lebih merupakan masalah politi k daripada masalah hukum. Artinya, pertimbangan politik akan lebih berpengaruh d alam pemberian pengakuan oleh negara lain. Pengakuan itu merupakan tindakan beba s dari negara lain yang mengakui eksistensi suatu wilayah tertentu yang terorgan isasi secara politik, tidak terikat kepada negara lain, berkemampuan menaati kew ajiban-kewajiban hukum internasional dalam statusnya sebagai anggota masyarakat internasional. Menurut Starke, tindakan pemberian pengakuan dapat dilakukan secara tegas (expre sss), yaitu pengakuan yang dinyatakan secara resmi berupa nota diplomatik, pesan pribadi kepala negara atau menteri luar negeri, pernyataan parlemen, atau melal ui traktat. Pengakuan juga dapat dilakukan secara tidak tegas (implied), yaitu p engakuan yang ditampakkan oleh hubungan tertentu antara negara yang mengakui den gan negara atau pemerintahan baru. Ada dua teori pengakuan yang saling bertentangan: Teori Konstitutif, yaitu teori yang menyatakan bahwa hanya tindakan pengakua nlah yang menciptakan status kenegaraan atau yang melengkapi pemerintah baru den gan otoritasnya di lingkungan internasional Teori Deklaratoir atau Evidenter, yaitu teori yang menyatakan bahwa status k enegaraan atau otoritas pemerintah baru telah ada sebelum adanya pengakuan dan s tatus itu tidak bergantung pada pengakuan yang diberikan. Tindakan pengakuan han yalah pengumuman secara resmi terhadap fakta yang telah ada.