You are on page 1of 3

Abses peritonsil Pada abses peritonsil didapatkan gejala demam, nyeri tenggorok, nyeri menelan dan

hipersalifasi. Nyeri telinga dan sengau juga dapat terjadi pada abses ini. Pada pemeriksaan fisik terdapat trismus, uvula terdorong ke sisi yang sehat. Tonsil edema, hiperemis dan kadang-kadang terdapat detritus. Palatum edema dan hiperemis.Untuk memastikan diagnosis dilakukan pungsi dan aspirasi pus dari tempat yang paling menonjol atau berfluktuasi. 2-4

Abses retrofaring Abses retrofaring biasanya ditemukan pada anak yang berusia tiga bulan sampai lima

tahun. Pada bayi dan anak-anak ruang retrofaring mengandung kelenjar getah bening masingmasing 2-5 buah terletak di kanan dan kiri setinggi vertebra servikal dua tiga, yang terdapat aliran dari hidung, sinus paranasal, faring, tuba Eustachius dan telinga tengah.2-4 Penyebab abses retrofaring, sebagian besar kasus adalah penjalaran infeksi dari rongga mulut dan tenggorok. Gejala klinis berupa demam, pembengkakan di daerah leher,pergerakan leher yang terbatas, nyeri tenggorok, odinofagi dan disfagi. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan pembengkakan dinding posterior faring, pembesaran getah bening leher dan posisi kepala hiperekstensi serta miring sisi yang sehat. Pada kasus yang berat dapat disertai dengan sumbatan jalan nafas.2-4 Penelitian Wholey yang dikutip dari Scoot2, Shumrick3, Facruddin4 menyimpulkan bahwa foto jaringan lunak leher juga didapatkan penebalan jaringan lunak leher ukuran lebih dari 7 mm pada vertebra servikal ke dua (retrofaring) baik pada anak maupun dewasa. Tebal jaringan lunak setinggi vertebra servikal ke enam (ruang retrotrakea) lebih 14 mm pada anak dan 22 mm pada dewasa, menunjukan adanya proses patologik di retrofaring. Pemeriksaan CT-Scan membantu menentukan batas-batas dan perluasan abses.

Abses Parafaring

Gejala klinik abses parafaring berupa demam, nyeri tenggorok, odinofagi dan disfagia. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan pembengkakan daerah perimandibula, trismus, pendorongan dinding lateral faring ke medial, edema uvula, palatum mole dan pilar tonsil. Tanda-tanda abses parafaring anterior dan posterior dapat dibedakan sebagai berikut : 1.Abses parafaring anterior a.trismus, karena iritasi pada muskulus pterigoid medialis/internus, b. Pembengkakan dan indurasi di belakang angulus mandibula atau di ujung bawah glandula parotis, c. Prolaps tonsil dan fossa tonsilaris karena terdesak ke arah medial.

2. Abses parafaring posterior Terutama ditandai dengan pembengkakan di posterior plika palatoglossus, pembengkakan pada lateral faring bagian posterior dan pembengkakan daerah parotis, tanpa trismus dan prolaps tonsil.10 Apabila terjadi komplikasi, di samping tanda-tanda tersebut di atas dapat dijumpai juga gejala-gejala meningitis, perdarahan dari a. Karotis interna, trombosis v. Jugular interna, sesak nafas atau asfiksi bila abses meluas ke laring atau terjadi mediastinitis.2-4 Pada pemeriksaan foto polos leher bisa didapatkan pergeseran trakea ke anterior an pembengkakan jaringan lunak leher. Penggunaan CT-Scan sangat membantu mendiagnosis abses leher dalam, karena dapat membedakan abses dengan massa tumor atau selulitis serta keterlibatan pembuluh darah. CT-Scan pada abses parafaring dapat berupa gambaran kistik tunggal atau multiokulasi, densitas rendah ,udara atau cairan pada abses dan pemeriksaan dengan kontras terdapat penyengatan pada dinding abses.2,3,9,10,12 Abses submandibula Pada abses submandibula terdapat gejala demam, nyeri tenggorok, sukar menelan dan trismus. Daerah submandibula edema,hiperemis dan nyeri tekan. Jika lidah terangkat dan terdorong ke posterior dapat terjadi sumbatan jalan nafas. Pemeriksaan foto polos leher terdapat gambaran penebalan jaringan lunak leher. Untuk memastikan diagnosis dilakukan pungsi dan aspirasi pus dari tempat yang paling berfluktuasi. 2-4

Abses parotis Infeksi ini sering terjadi pada pasien-pasien dehidrasi dan kebersihan mulut yang buruk.

Terdapat nyeri di daerah nggulus mandibula tetapi tidak terdapat trismus.2-4 Abses mastikor Infeksi di ruang ini kebanyakan berasal dari infeksi gigi. Terdapat trismus akibat iritasi muskular maseter dan pembengkakan di daerah mandibula. Infeksi dapat menyebar ke ruang temporal, parotis dan parafaring.Selain gejala infeksi umum juga terdapat nyeri di daerah muskulus temporalis dan trismus. 2-4