You are on page 1of 16

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI FITOKIMIA

PERCOBAAN III PENAPISAN (SKRINING) FITOKIMIA

DISUSUN OLEH:

LUSIA JOIS MARIANA

(128114138)

VENNY CLAUDIA HERMANTO (128114139) OKTARIANI AURELIA JAMIL DIAN AYU MAHARANI PENINA KURNIA ULY KELOMPOK PJ LAPORAN (128114140) (128114141) (128114142) : C1 :

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI FITOKIMIA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

UNIT III PENAPISAN (SKRINING) FITOKIMIA

I.

URAIAN TANAMAN Sebelum melakukan identifikasi, langkah awal yang dilakukan pada tanaman ialah determinasi menggunkan buku Flora untuk Sekolah di Indonesia karangan C.G.G.J. van Steenis dkk.,1992. Klasifikasi tanaman meniran, antara lain: Kingdom Divisio : Plantae : Spermathophyta

Sub division : Angiospermae Class Ordo Family Genus Species : Dicotyledonae : Euphobiales : Euphorbiaceae : Phyllanthus : Phyllanthus urinaria Linn

Manfaat tanaman meniran secara empiris dan farmakologi adalah herba meniran berfungsi sebagai antibakteri atau antibiotik, antihepatotoksik (melindungi hati dari racun), antiradang, antivirus, diuretik (peluruh air seni dan mencegah pembentukan kristal kalsium oksalat), ekspektoran (peluruh dahak), hipoglikemik (menurunkan kadar glukosa darah), serta sebagai immunostimulan ) merangsang sel imun bekerja lebih aktif). Meniran juga efektif untuk mengobati beragam penyakit di antaranya batu ginjal atau empedu, infeksi saluran pernapasan atas, diabetes, infeksi kandung kemih, diare, malaria atau demam, gonorhoe, radang ginjal, hepatitis, epilepsi atau ayan, influenza dan tuberkulosis (TBC), sakit kuning, sakit gigi, antiradang, menyembuhkan penyakit kelamin sipilis dan bermanfaat sebagai pembersih darah dan berbagai penyakit kulit. Pada tanaman ini memiliki kandungan flavonoid,yang mempunyai aktivitas penigkatan sistem imunnya ternyata lebih baik daripada tanaman lain.

II. ALAT DAN BAHAN Alat : tabung reaksi erlenmeyer pengaduk penjepit pipet tetes corong kertas saring gelas ukur silika gel GF254 pipa kapiler gelas beker Bahan : herba meniran (Phylanthi Herba) aquadest larutan KOH LP larutan HCl 1% pereaksi Dragendorf peraksi Mayer kloroform asam cuka 5% KOH 0,5N Larutan hidrogen peroksida Asam asetat glasial Toluena Etanol 80% Pereaksi besi(III) klorida Natrium korida 2% Larutan gelatin 1% Asam 3,5 dinitrobenzoat Kalium hidroksida 1N

Eter Diklorometana Toluena-etil asetat (93:7)

III. CARA KERJA 1. Pembuatan serbuk simpleks pengumpulan bahan simpleks dilakukan dari daerah tertentu, pada bulan tertentu berasal dari tumbuhan tertentu yang berasal dari masa tertentu

dilakukan sortilasi basah, selanjutnya dicuci dengan air mengalir, dikeringkan dengan cepat (diangin-anginkan, dipanaskan dalam lemari pemanas yang dilengkapi dengan kipas angin, dijemur dibawah sinar matahari dengan ditutupi dengan kain hitam) Setelah simpleks cukup kering (mudah dihancurkan) kemudian digiling/dihaluskan dengan cara tertentu

Diayak sehingga diperleh serbuk simpleks yang kering dan siap diteliti 2. Uji pendahuluan Serbuk simpleks sebanyak 1 gram ditambah air 10 ml

Dipanaskan selama 30 menit diatas air mendidih dan disaring melalui kapas

Suatu larutan berwrna kuning sampai merah yang menunjukkan adanya senyawa yang mengandung kromofor dan gugus hidrofilik

Larutan KOH LP ditambahkan beberapa tetes akan mambuat warna larutan menjadi lebih intensif 3. Uji alkaloid Serbuk simpleks sebanyak 1 gram dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambakan asam klorida 1% sebanyak 10 ml

Dipanaskan selama 30 menit dalam penangas air mendidih kemudian disaring dengan kapas ke dalam tabung reaksi A dan tabung reaksi B sama banyak

Larutan A dibagi 2 sama banyak lalu ke dalam larutan A1 ditambah pereaksi Dragendorf sebanyak 3 tetes dan larutan A2 ditambah pereaksi tetes sebanyak 3 tetes

Terbentuk endapan dengan kedua pereaksi tersebut yang menunjukkan adanya alkaloid

Keberadaan alkaloid dari basa tersier atau kuartener dapat ditunjukkan dengan penambahan serbuk natrium karbonat sampai pH 8 9

Dicampur dengan kloroform sebanyak 4 ml dan diaduk perlahan

Setelah kloroform memisah diambil dengan pipet pasteur dan ditambahkan asam cuka 5% sampai pH 5

Diaduk lalu dipisahkan dengan lapisan atas dengan pipet

Pereaksi dragendorfditambahkan sebanyak 5 tetes untuk lapisan atas

Terbentuk endapan yang menunjukkan adanya alkaloida dari basa kuartener

Lapisan bawah ditambah asam klorida 1% sebanyak 10 tetes dan diaduk sehingga terbentuk 2 lapisan

Lapisan atas diambil dan ditambah pereaksi Dragendorf 2 tetes akan terbentuk endapan yang menunjukkan alkaloid dari basa tersier

4.

Uji Antrakinon Serbuk simpleks (300mg) ditambahkan kalium hidroksida 0,5N (10mL) dan larutan hydrogen peroksida(1mL)

dididihkan selama 2 menit, setelah dingin suspensi disaring melalui kapas Filtrat (5 mL) ditambah asam asetat glasial (10 tetes) sampai pH 5 Ditambahkan toluene (10 mL), lapisan atas (5 mL) dipisahkan dengan dipipet dan dimasukkan dalam tabung reaksi Ditambahkan 0,5mL 1mL kalium hidroksida 0,5 N Warna merah terjadi pada lapisan air (basa) menunjukkan adanya senyawa antrakinon 5. Uji kardenolida Filtrat sebanyak 2 ml dari hasil pemanasan serbuk tumbuhan (2 gram) dengan air (10 ml) selama 30 menit diatas penangas air (pada point 6)

Ditambah asama 3,5 dinitrobenzoat sebanyak 0,4 ml dan 0,6 kaliumhidroksida 6N dalam metanol

Terjadi warna biru ungu yang menunjukkan adanya kardenolida (glikosida jantung)

Untuk penegasan lebih lanjut, filtrat yang lain (2ml) dicampur dengan kloroform (2ml)

Lapisan atas diambil dengan pipet dan lapisan bawah ditambah asam 3,5 dinitrobenzoat (0,5 ml)

Terjadi warna biru ungu menunjukkan adanya kardenolida 6. Uji Polifenol Serbuk simpleks (1 gram) ditambahkan 10mL air Dipanaskan selama 10 menit dalam penangas air mendidih Dilakukan juga terhadap 1 gram serbuk bahan lagi dengan penyari etanol 80% sebanyak 10mL

Keduanya disaring panas-panas, setelah dingin masing-masing ditambha 3 tetes pereaksi besi(III) klorida Terrjadinya warna hijau-biru menunjukkan adanya polifenolat 7. Uji Tanin (Zat Samak) Serbuk simpleks (1 gram) ditambh 10mL air Dipanaskan selama 30 menit dalam penangas air mendidih Disaring filtrate (5mL) ditambah larutan larutan natrium klorida 2% (1 mL) Bila terjadi suspensi atau endapan disaring melalui kertas saring, filtart ditambah larutan gelain 1% (5mL) Terrbentuknya endapan menunjukkan adanya tannin 8. Uji Saponin Dimasukkan 300 mg serbuk simpleks ke dalam tabung reaksi Tambahkan 10mL air, tutup kuat-kuat selama 30 detik Dibiarkan tabung dalam posisi tegak selama 30 menit

Apabila terbentuk buih setinggi 3cm dari permukaan cairan menunjukkan adanya saponin Uji lain dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler (diameter 1mm,panjang 12,5 cm) Larutan hasil pemanasan serbuk tumbuhan sebanyak 2 gram dengan air 10 ml selama 30 menit di atas penangas air (pada point 6) setelah disaring, filtrate dimasukkan ke dalam pipa kapiler penuh-penuh kapiler diletakkan dalam posisi tegak (vertikal) dan cairan dibiarkan mengalir bebas sebagai pembanding, dikerjakan hal serupa untuk air suling

tinggi cairan tertinggal dibandingkan dengan tinggi air suling (pembanding) bila tinggi cairan yang diuji setengah atau kurang dari tinggi air suling menunjukkan adanya saponin 9. Uji minyak atsiri Serbuk simpleks sebanyak 2-3 gram ditambah dengan 20 ml eter dikocok dan disaring

Filtrat dikering uapkan

Bila sedikit berbau aromatik dilarutkan residu dengan sedikit etanol dan diuapkan lagi sampai kering

Bila terjadi bau aromatis spesifik yang menunjukkan adanya minyak atsiri

10. Uji kualitatif KLT minyak atsiri Serbuk simplisia 1 gram Disari dengan diklorometana 100 ml, shaking 15 menit Terjadi suspensi, disaring

Filtrat diuapkan

Residu dilarutkan dengan 1 ml toluen, 5 l digunakan untuk KLT Fase diam Fase gerak Pembanding Deteksi : Silika gel GF254 : toluen-etil asetat (93:7) : eugenol : vanilin asam sulfat, anisaldehid asam sulfat, asam fosmolibdat

IV. HASIL PENGAMATAN A. Uji Kualitatif Secara Kimiawi a. Pembuatan serbuk simplisia Simplisia yang digunakan adalah herba meniran (Phylanthi Herba). b. Uji Pendahuluan Hasil : positif Menghasilkan warna merah kuning menunjukkan adanya senyawa yang mengandung kromofor dan gugus fenolik)

c. Uji Alkaloid i. Tabung A1

Hasil : negative Tidak terbentuk endapan yang menunjukkan tidak adanya alkaloid.

ii. Tabung A2

Hasil : negative Tidak terbentuk endapan yang menunjukkan tidak adanya alkaloid.

Uji tabung B tidak dilakukan. d. Uji Antrakinon

Hasil : negative Tidak terbentuk warna merah pada lapisan air (basa) yang menunjukkan tidak adanya senyawa antrakinon.

V. PEMBAHASAN Tujuan praktikum kali ini adalah mampu mengidentifikasi senyawa golongan flavonoida, antrakinon, saponin (steroid dan triterpenoid), alkaloida, fenolik dan polifenolik. Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Ada 3 macam simplisia yaitu simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelikan. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia pelikan adalah simplisia yang berupa bahan-bahan pelikan (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni (Depkes RI, 1989). Simplisia yang digunakan pada praktikum kali ini adalah simplisia nabati yaitu herba meniran (Phylanthi Herba) yang diambil dari tanaman meniran (Phyllanthus urinaria Linn.) Dua pendekatan yang biasa dilakukan dalam mencari tumbuhan atau senyawa kandungannya adalah pendekatan fitofarmakologi dan pendekatan penapisan (skrining) fitokimia. Pendekatan skrining fitokimia meliputi analisis kualitatif kandungan kimia dalam tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah, biji) terutama kandungan metabolit sekunder yang bioaktif yaitu alkaloid, antrakinon, flavonoida, glikosida jantung, kumarin, saponin, tanin, minyak atsiri, dan iridoid. Tujuan utama skrining adalah mensurvei tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan (Nugroho, 2005).

Syarat simplisia nabati adalah harus bebas dari serangga , fragmen, hewan atau kotoran hewan tidak boleh menyimpang bau dan warnanya: tidak boleh terdiri dari cendawan lain atau menunjukkan tanda-tanda pengotor lain, tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya (Depkes RI, 1995). Dalam percobaan dapat dilakukan uji kualitatif dan uji kuantitatif ,tetapi dalam praktikum kali ini hanya dilakukan uji kualitatif. Uji kualitatif bertujuan untu mengetahui golongan senyawa yang bioaktif yang dapat dilakukan dengan uji tabung dan atau uji kualitatif secara KLT, sedangkan uji kuantitatif bertujuan untuk mununjukan kadar suatu senyawa. 1. Pembuatan serbuk simpleks Tujuan: Cara: Knp diayak:ukurannya seragam, berdifusi ke setiap partikelnya akan lebih mudah dan menghomogenkan simplisia. Dapus:buku pak gi

2. Uji pendahuluan Bertujuan untuk menunjukkan adanya (flavonoida, antrakinon) dengan gugus hidofilik. Pertama-tama, serbuk simpleks ditambahkan air, kemudian dipanaskan selama 30 menit di waterbath, tujuan dipanaskan adalah agar sari-sari yang terkandung dalam simplisia keluar yang nantinya dapat bereaksi dengan pereaksi sehingga dapat diidentifikasi senyawa yang terkandung dalam simplisia. Setelah itu larutan disaring dengan kertas saring agar diperolah sari yang benar-benar murni. Pada percobaan didapatkan warna merah kuning dan menandakan hasilnya positif, sehingga dapat disimpulkan simplisia tersebut mengsndung gugus kromofor(ikatan rangkap

terkonjugasi) dan hidrofilik. Hasil ini telah sesuai dengan literatur yang didapat, bahwa pada daun meniran terdapat kandungan kimia flavonoid. Penambahan KOH adalah untuk mengintensifkan warna pada larutan.

3.

Uji Alkaloida Bertujuan untuk menunjukkan adanya alkaloida dari basa kuartener dari sampel. Uji ini termasuk uji pengendapan Alkaloida merupakan golongan zat tumbuhan sekunder

yang tersebar. Pada umumnya alkaloid mencakup senyawa bersifat yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen. Penambahan basa berfungsi untuk menunjukkan adanya alkaloid basa tersier atau kuartener.dalam percobaan ini penambahan basa menggunakan serbuk natrium karbonat sampai ph 8-9. Selain itu natrium karbonat berfungsi untuk mengikat senyawa fenolik.kemudian ditambah dengan kloroform untuk mendapatkan senyawa alkaloid karena sifat alkaloid yang larut di dalam kloroform. Filtrate kloroform diambil dan ditambahkan asam cuka hingga ph 5. Asam cuka disini berfungsi untk suasana asam, sehingga dapat menurunkan ph. Uji alkaloida menggunakan 2 tabung reaksi yaitu tabung reaksi A dan B. Tabung reaksi A dan B dibagi lagi menjadi 2 yakni A1, A2, dan B1, B2. Pada larutan A1 ditambahkan pereaksi Dragendorf yang menunjukkan hasil negatif (-) berwarna coklat tua dan tidak terdapat endapan berwarna merah tua. Pada tabung A2 ditambah dengan pereaksi Mayer dan menunjukkan hasil negatif (-) berwarna merah dan tidak terdapat endapan. Pada percobaan tabung B tidak dilakukan karena pada perobaan tabung A sudah dihasilkan hasil yang negatif. Pereaksi Dragendorf mengandung bismuth nitratdan merkuri klorida dalam nitrit berair bereaksi dengan alkaloid akan membentuk senyawa adisi yang tidak larut, yang akan memberi noda berwarna jingga. Pereaksi Mayer mengandung kalium iodida dan merkuri klorida, spesifik terhadap alkaloid kartener berfungsi mengendapkan alkaloid. HCL berfungsi membentuk garam alkaloid dari alkaloid yang bersifat basa maka perlu ditambahkan asam agar terbentuk garam. Garam ini yang nantinya akan bereaksi dengan reagen membentuk endapan. Hasil yang didapat tidak sesuai dengan literature karena pada percobaan kami meniran tidak mengandung alkaloid dimana sebenarnya mengandung alkaloid. 4. Uji Antrakinon Bertujuan untuk menunjukkan adanya senyawa antrakinon. Antrakinon merupakan senyawa organik aromatik dan merupakan turunan dari antrasena. Serbuk simpleks ditambah KOH 0.5 N dan hidrogen peroksida yang masing-masing memiliki tujuan untuk memberikan suasana basa dan untuk menghidrolisis glikosida dan mengoksidasi antron menjadi antrakinon sedangkan hydrogen peroksida berfungsi sebagai pemberi suasana asam. Filtrat yang didapat kemudian ditambah asam asetat glasial yang bertujuan untuk menunjukkan sampai ph 5. Selanjutnya ditambahkan toluena untuk menghilangkan senyawa-senyawa pengotor yang mungkin bias mempengaruhi hasil reaksi yang akan dilakukan. Lapisan atas yang dipakai kemudian ditambahkan lagi dengan KOH 0.5 N. pada uji inisesuai literatur hasil positifnya berwarna merah , namun hasil yang didapat

berwarna hijau muda dan terdapat endapan putih sehingga hasilnya negatif. Hasil yang didapat tidak sesuai dengan literatur dimana seharusnya meniran mengandung antrakinon. 5. Uji Polifenol Bertujuan untuk menunjukkan adanya polifenolat. Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu tumbuhan seperti warna daun saat musim gugur. Pada uji ini dilakukan 2 percobaan. Percobaan 2 serbuk simpleks ditambahkan dengn etanol 80%, hasil saringan kemudian ditambah dengan pereaksi besi (III) klorida.dimana hasil yang diperoleh negatif (-). Hasil positifnya ditandai dengan warna hijau-biru yang menunjukkan adanya polifenolat. Hasil yang didapat berwarna hitam, sehingga negatif. Fungsi dari penambahan etanol 80 % dan air adalah sebagai pelarut senyawa polifenol dan pereaksi besi (III) klorida adalah indicator yang menunjukkan adanya polifenol bila menunjukkan warna biru. Penambahan dilakukan saat filtrate dingin karena besi (III) klorida dapat treoksidasi dan menjadi zat yang bersifat toksik. Percobaan . hasil posijau biru yang jtifnya ditunjukkan dengan adanya warna hijau biru yang juga menunjukkan adanya polifenolat. Hasil yang didapat berwarna hitam sehingga hasilnya negatif (-), hal ini sesuai dalam literatur dimana meniran tidak mengandung polifenol. 6. Uji tanin (zat samak) Tanin meruapakan senyawa polivenol yang termasuk dalam senyawa fenolik. Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer yang tidak larut dalam air. Kopolimer adalah suatu polimer yang dibuat dari dua atau lebih monomer yang berlainan. Tanin secara kimia merupakan ester yang dapat dihidrolisis oleh pemanasan dengan larutan asam sampai menghasilkan senyawa fenol, biasanya merupakan derivat atau turunan dari asam garlik dan gula. Tanin merupakan suatu substansi yang banyak dan tersebar, sehingga sering ditemukan dalam tanaman. Tanin terdistribusi atau tersebar hampir pada seluruh bagian tumbuhan, seperti pada daun, batang, kulit kayu, dan buah. Distribusi tanin ini hampir di seluruh spesies tanaman dan biasanya ditemukan pada gymnospermae dan angiospermae (Tyler, et all, 1988). Uji tanin bertujuan untuk menunjukkan adanya tanin dalam sampel yaitu meniran herba. Hasil positif dari uji ini yaitu dengan terbentuknya endapan.

Prinsip uji tanin yaitu terbentuknya endapan antara protein atau gelatin dan tanin, dimana reaksi menjadi lebih sensitive dengan penambahan NaCl untuk meningkatkan salting out dari kompleks protein-tanin. Fungsi NaCl 2% untuk meningkatkan penggaraman dari tanin-gelatin sehingga reaksi ini lebih sensitif. Fungsi penambahan gelatin yaitu untuk memberikan endapan putih. Pemanasan selama 30 menit dalam penangas air mendidih untuk memisahkan tanin dari simpleks yang akan diuji. Adanya tanin akan mengendapkan protein pada gelatin, tannin akan bereaksi dengan gelatin membentuk kopolimer yang tidak larut dalam air (Harborne, 1996). Hasil pengamatan yang diperoleh praktikan menunjukkan hasil negative (-) dimana tidak terbentuk endapan. Hal ini menunjukkan tidak terdapat kandungan tanin dalam serbuk simpleks meniran. Hasil pengamatan yang praktikan peroleh tidak sesuai dengan teori dimana seharusnya meniran mengandung tanin karena meniran termasuk ke dalam golongan angiospermae. Fungsi tanin yaitu sebagai adstringent dan memiliki kemampuan untuk menyamak kulit dan memberikan rasa kelat.

7. Uji kardenolida Tujuan dari uji ini adalah untuk menunjukkan adanya kardenolida dalam serbuk simpleks meniran. Kardenolida berupa steroida dengan atom karbon 23 yang

mempunyai rantai samping cincin lakton pentasiklik dengan satu ikatan rangkap dan satu buah gugus hidroksil pada C-14 (butirolakton,gamma-lakton). Pemanasan selama 30 menit di atas penangas air bertujuan untuk memisahkan senyawa kardenolida dengan simpleks. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya warna biru-ungu yang menunjukkan adanya kardenolida (glikosida jantung). Dalam percobaan ini tidak dilakukan penegasan karena filtrat yang didapat kurang dari 2 ml, dikarenakan sudah menguap pada saat pemanasan dan tidak tersaring sempurna filtratnya. Tujuan penambahan asam 3,5-dinitrobenzoat pada uji penegasan agar terjadi reaksi antara lakton tidak jenuh pada kardenolin dengan pereaksi Kedde (3,5dinitrobenzoat). Hasil yang praktikan peroleh diperoleh hasilnya negatif (-) dan terbentuk warna coklat tua. Hal ini sudah sesuai dengan teori dimana meniran herba tidak memiliki kandungan kardenolida.

Fungsi kardenolida dalam bidang kesehatan yaitu sebagai antioksidan. 8. Uji Saponin Bertujuan untuk menunjukkan adanya saponin dalam serbuk simpleks. Saponin merupakan golongan senyawa glikosida yang mempunyai struktur steroid dan mempunyai sifat sifat khas dapat membentuk larutan koloidal dalam air dan membuih bila dikocok. Tiap saponin terdiri dari sapogenin yang merupakan molekul aglikon dan glikon dan dihubungkan oleh jembatan oksigen,jembatan nitrogen, jembatan sulphur, maupun jembatan karbon. Pada uji ini dilakukan 2 percobaan yaitu tabung reaksi yang terdapat sampel ditambah dengan air dan dikocok lalu didiamkan selama 30 menit untuk melihat ada tidaknya buih bukan karena kocokkan yang kuat dan dibiarkan dalam posisi tegak supaya mudah untuk diamati apabila terdapat buih. Setelah 30 menit tidak terdapat banyak buih. Hasil yang didapatkan tidak adanya kandungan saponin dalam sampel atau mendapatkan hasil yang negative (-). Filtrat uji dimasukkan ke dalam pipa kapiler dan dilakukan yang sama sebagai pembanding dengan air. Bila tinggi cairan yang diuji setengah atau kurang dari tinggi air suling, maka adanya saponin diperhitungkan. Hasil yang didapatkan pada uji kedua ini adalah negative (-). Secara teori, meniran memiliki kandungan saponin. Fungsi saponin dalam bidang kesehatan sebagai antiseptic dan dapat bekerja sebagai antimikroba. (Robbinson, 1995).

9. Minyak atsiri Tujuan percobaan ini adalah untuk melihat ada tidaknya minyak atsiri pada herba meniran. Minyak atsiri merupakan senyawa minyak yang berasal dari bahan tumbuhan.Serbuk simpleks ditambahkan eter, dikocok dan disaring. Penambahan eter bertujuan untuk melarutkan minyak atsiri dan minyak atsiri yang terkandung dalam simpleks ikut menguap bersama eter sehingga baunya tercium aromatic. Kemudian ditambahkan etanol dimana sifat etanol mudah menguap sehingga apabila ada kandungan minyak atsiri akan tercium baunya. Dan hal tersebut sesuai dengan prinsip like dissolve like, minyak atsiri merupakan suatu senyawa yang non polar yang dapat melarutkan pelarut organik non polar, begitu juga yang polar sehingga dapat disimpulkan sejenis melarutkan yang sejenis. Berdasarkan hasil percobaan menunjukkan hasil positif yang tercium dari bau aromatik. Ini menunjukkan meniran memiliki minyak atsiri sehingga sesuai dengan teori yang ada.

Berdasarkan uji-uji kualitatif secara kimiawi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa meniran mengandung minyak atsiri. Hasil percobaan ini tidak sesuai teori, karena berdasarkan teori, tanaman meniran mengandung