You are on page 1of 13

Task Reading_Fugue State

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Dalam keadaan kesehatan mental, seseorang memiliki perasaan diri (sense of self) yang utuh sebagai manusia dengan kepribadian dasar yang tunggal. Disfungsi utama pada gangguan disosiatif adalah kehilangan keutuhan keadaan tersebut. Orang merasa tidak memiliki identitasnya sendiri atau memiliki identitas berganda. Menyatukan pengalaman diri sendiribiasanya terdiri dari suatu integrasi pikiran, perasaan, dan tindakan seseorang menjadi suatu kepribadian yang unik. Walaupun penyatuan pengalaman kepribadian tersebut adalah abnormal pada gangguan disosiatif, pasien dengan gangguan ini menunjukkan berbagai pengalaman disosiatif dari normal sampai patologis. Kita dapat memandang rentang normal fenomena disosiatif dari beberapa sudut pandang. Banyak peneliti dan klinisi berpikir bahwa hipnotibilitas (hipnotizability) adalah berhubungan dengan gangguan disosiatif. orang normal memiliki suatu rentang hipnotibilitas. Pasien dengan gangguan disosiatif tidak selalu lebih mudah dihipnotis dibandingkan orang yang sehat mentalnya, tetapi fenomena hipnotis adalah suatu contoh keadaan disosiatif pada orang normal. Peneliti telah mengembangkan beberapa skala untuk mengukur pengalaman disosiatif sebagai contoh, Dissociative Experience Scale. Skala tersebut menanyakan pertanyaan wawancara tentang fenomena disosiatif yang sering ditemukan dan ringan (sebagai contoh, perioda tidak adanya perhatian selama percakapan) dna phenomena disosiatif katalogis. Penelitian dengan menggunakan skala tersebut telah menyatakan bahwa kira-kira jumlah persen populasi umum memiliki nilai yang lebih besar dari pada tiga kali nilai rata-rata. Penelotian lain tentang fenomena disosiatif telah menemukan
1

Task Reading_Fugue State

bahwa gejala disosiatif menurun dengan bertambahnya usia dan gejala disosiatif tersebut adalah kira-kira sama seringnya pada laki-laki. Banyak jenis penelitian telah menyatakan suatu hubungan antara peristiwa traumatic khususnya penyiksaan fisik dan seksual pada masa anak-anak, dan perkembangan gejala dan gejala disosiatif. Disosiasi timbul sebagai suatu pertahanan terhadap pertahanan disosiatif memiliki fungsi ganda untuk menolong korban melepaskan dirinya sendiri dari trauma pada saat hal tersebut terjadi sambil juga menunda menyelesaikanya yang menempatkan trauma dalam pandangan dengan sisa kehidupan mereka. Pada kasus refresi suatu pembelahan horizontal diciptakan oleh penghalang refresi, dan material ditransfer kedalam alam bawah sabar yang dinamik. Disosiasi adalah berbeda dengan menciptkan pembelahna vertical sehingga isi mental ada pada kesadaran yang paralel. Pada sebagian besar keadaan disosiatif, perwakilan diri yang berlawanan adalah dipertahankan dalam ruang mental yang terpisah, karena mereka berada dalam konflik satu sama lainnya. Dalam bentuk gangguan identitas disosiatif yang ekstrim (kepribadian ganda). Perwakilan diri yang terpisah tersebut mengambil eksistensi metaforik kepribadian yang terpisah yang dikenal sebagai pengubah (alters). Disosiasi dan pembelahan keduanya memilih kemiripan dan perbedaan. Keduanya melibatkan pemetak-metakan aktif dan perpisahan isi mental. Keduanya digunakan sebagai pertahanan untuk mengatasi apek yang tidak disenangi yang berhubungan dengan integrasi bagian-bagian diri yang bertentangan. Tetapi, keduanya adalah berbeda dalam sifat fungsi ego yang dipengaruhi. Pada pembelahan, toleransi kecemasan dan pengendalian implus adalah yang terutama terganggu. Pada disosiasi, daya ingat dan kesadaran adalah yang terpengaruh. Namun demikian, keduanya melibatkan pembalahan mental yang menghasilkan perwakilan diri dalam hubungan dengan perwakilan objek internal.

Task Reading_Fugue State

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV) memiliki criteria diagnostic spesifik untuk empat gangguan disosiatif: amnesia disosiatif (sebut amnesia psikogenik dalam DSM edisi ketiga yang direvisi [DSM-III-R]), fuga disosiatif (disebut fuga psikogenik dalam DSM-III-R), gangguan identitas disosiatif (disebut juga gangguan kepribadian ganda dalama DSM-III-R), dan gangguan depersonalisasi. Sebelum DSM-III-R, gangguan-gangguan tersebut dikenal sebagai neurosis histerikal dengan tipe disosiatif. Amnesia disosiatif ditandai oleh ketidakmampuan untuk mengingat informasi, biasanya berhubungan dengan peristiwa yang menegangkan atau traumatic, yang tidak dapat dijelaskan oleh kelupaan yang biasanya, ingesti zat, atau kondisi medis umum. Fuga disosiatif ditandai oleh bepergian dari rumah atau pekerjaan yang tiba-tiba dan tidak diperkirakan, disertai dengan ketidakmampuan untuk mengingat masa lalu seseorang dan kebingungan tentang identitas pribadi seseorang atau mengambil identitas baru. Gangguan identitas disosiatif ditandai oleh adanya dua atau lebih kepribadian yang terpisah pada satu orang tunggal, gangguan identitas disosiatif biasanya dianggap merupakan gangguan disosiatif yang paling parah dan kronis. Gangguan depersonalisasi ditandai oleh perasaan terlepas (detachment) dari tubuh atau pikiran seseorang yang rekuren dan persisten. DSM-IV juga memiliki kategori diagnosis gangguan disosiatif yang tidak ditentukan (NOS; not otherwise specified)untuk gangguan disosiatif yang tidak memenuhi criteria diagnostic untuk gangguan disosiatif lainnya. DSM-IV juga memasukkan pedoman diagnostic dalam

apendiksnya untuk gngguan trance disosiatif (dissociative trance disorder), yang sekarang digolongkan sebagai suatu gangguan disosiatif yang tidak ditentukan.

Task Reading_Fugue State

Fugue jarang terjadi dan diyakini hanya mempengaruhi 2 dari 1000 orang dalam populasi umum (APA, 2000). Gangguan ini paling banyak muncul dalam masa perang (Loewenstein, 1991) atau terbangkitkan karena adanya bencana maupun peristiwa lain yang sangat menekan. Hal ini yang utama disini adalah disosiasi dalam tahap fugue melindungi seseorang dari ingatan traumatis atau sumber pengalaman maupun konflik lain yang menyakitkan secara emosi (Maldonado dkk, 1998). 1.2. Tujuan 1.2.1. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fugue state. 1.2.2. Untuk mengidentifikasi gejala klinis pada kasus fugue state 1.2.3. Untuk tujuan terapi pada kasus fugue state 1.3. Manfaat 1.3.1. Memberikan informasi tentang fugue state 1.3.2. Sebagai salah satu refrensi bagi pembaca untuk mengetahui perbedaan denga penyakit lain 1.3.3. Memberikan informasi tentang terapi.

Task Reading_Fugue State

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Fugue state 2.1.1. Definisi Fugu State Fugue state atau dissociative fugue atau psychogenic fugue adalah merupakan jenis dari amnesia yang dimana mengalami lupa ingatan terhadap identitas diri,yang meliputi ingatan tentang diri nya dan jati diri serta susah mengenali orang yang pernah ada didalam hidup nya. Kasus Fugue State tergolong cukup langka. Perilaku pasien dengan fugue disosiatif bersifat janggal dan dramatik, istilah fugue digunakan untuk mencerminkan kenyataan bahwa pasien secara fisik pergi jauh dari situasi rumah atau pekerjaan biasa mereka dan tidak dapat mengingat aspek penting identitas sebelumnya(nama, keluarga, pekerjaan). Pasien seperti ini sering, tetapi tidak selalu,mengambil identitas dan pekerjaan yang sama sekali baru walaupun identitas paru baru biasanya kurang lengkap dibandingkan kepribadian pengganti pada gangguan identitas disosiatif, serta identitas lama dan identitas baru tidak muncul bergantian, seperti pada gangguan identitas disosiatif. Ciri utama fugue state adalah pasien nampak sadar sepenuh nya namun tidak memiliki satu pun ingatan tentang apapun, dan ketika pasien di nyatakan sembuh biasanya ingatan tersebut kembali dengan sendiri nya. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh stress mental yang meluas dan berat dan dapat bertahan dalam beberapa bulan maupun tahun.

Task Reading_Fugue State

2.1.2. Etiologi Penyebab dasar dari penyakit ini adalah stress berat yang dialami oleh penderita yang biasa disebabkan oleh suatu kejadian buruk yang dialami penderita sehingga tak ingin mengingatnya kembali. Biasanya jenis stress yang bisa menjadi trigger dari penyakit ini seperti; sexual abuse, korban perang, kecelakaan, kehilangan orang yang dicintai, dan lain-lain. Terkadang juga fugue ini dikaitkan dengan pelaku kriminal, alkoholisme, schizophrenia dan riwayat penyalahgunaan zat dan obat terlarang. ciri predisposisi terkait lainnya mencakup depresi, upaya bunuh diri, gangguan organik (terutama epilepsi), serta riwayat penyalahgunaan zat. Riwayat trauma kepala juga merupakan predisposisi bagi seseorang untuk mengalami fugue disosiatif. 2.1.3. Gejala Klinis 1. Secara tiba-tiba keluar dari rumah untuk suatu yang tak direncanakan dan tidak mengingat alasan mengapa keluar rumah serta tidak dapat mengingat apa saja yang sudah terjadi selama 1 hari. 2. Bingung atau bahkan tidak mengerti dengan identitas diri nya. Dalam beberapa kasus pasien biasa nya membuat identitas baru sebagai kompensasi atas ingatannya yang hilang. 3. Stress yang extreme dan biasa nya disertai dengan gangguan fungsional sehari-hari sebagai akibat dari episode fugue ini. Misalnya seorang wanita 28 tahun dilaporkan menghilang dari rumah selama 20 hari, tanpa kabar yang jelas. Kemudian setelah 20 hari, wanita itu ditemukan sedang berada di suatu kamar hotel oleh kepolisian tanpa satu ingatanpun tentang siapa dirinya, darimana dia berasal, apa pekerjaanya dan di mana dia tinggal.
6

Task Reading_Fugue State

Ketika di introgasi oleh polisi wanita ini menyebutkan identitas yang berbeda dari dirinya, nama asli orang itu Agatha, namun dia mengaku bernama rose. Dari keterangan yang didapatkan, wanita ini tidak dapat menjelaskan mengapa dia bisa di kamar hotel itu. Bahkan ketika dia dipertemukan dengan keluarganya, dia tidak mengenalinya sama sekali. Kemudian seorang psikiatris melakukan anamnesa terhadap pasien dan keluarga. Menurut keterangan dari pasien dia bernama rose berusia 23 tahun belum memiliki pekerjaan, sementara menurut keterangan keluarga, pasien bernama Agatha berusiaa 28 tahun, memiliki pekerjaan sebagai penulis novel. Keluarga pasien juga menuturkan sebelumnya dia mengalami trauma psikologis yang berat akibat mengalami penyiksaan fisik dan mental oleh suaminya. Dari kasus ini dapat kita simpulkan bahwa pasien mengalami fugue state (Dissociative Fugue) dengan penyebab adalah trauma fisik dan mental yang berat. 2.1.4. Diagnosis Menurut DSM-IV memaparkan 4 kriteria dasar untuk menegakkan diagnose terhadap penyakit ini. 1. Berpergian secara mendadak dan tanpa tujuan dari 1 tempat ke tempat lain. 2. Tidak bisa menjelaskan atau bingung dengan identitas diri nya sendiri. Dalam beberapa kasus,pasien biasanya membuat identitas baru. 3. Tidak ditemukan penyakit sistemik atau penyalahgunaan obat terlarang dalam anamnesa. 4. Merupakan episode sebagai hasil dari stress dan penurunan drastis fungsi social,kinerja dalam bekerja dan mengurus diri sendiri.
7

Task Reading_Fugue State

Selain itu pemeriksaan X-Ray Cranial, dan EEG digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit sistemik seperti Demensia, epilepsy, cedera otak, penyakit lain nya pada otak. Kemudian pemeriksaan darah lebih di khususkan untuk menyingkirkan dugaan penggunaan zat atau obat-obatan terlarang atau alcohol intoxication. 2.1.5. Penatalaksanaan Dasar terapi yang diberikan kepada pasien lebih kearah terapi kognitif dengan bantuan dokter ahli jiwa dan psychiatric. Karena dasar terapi ini adalah pasien dapat melupakan dan menerima apa yang menjadi penyebab dari trauma yang di alami pasien. Hypnotherapy dapat berguna dalam kasus fugue state karena fungsi terapi ini adalah membantu pasien agar dapat mengingat kembali memori yang hilang akibat trauma mental yang dialami pasien. Therapy creative juga dapat digunakan seperti Art Therapy dan music Therapy. Karena terapi ini bertujuan agar pasien dapat mengendalikan emosi pasien lebih stabil lagi sehingga pasien dapat menemukan jati diri nya dan memiliki pengendalian diri yang baik. Namun hal yang paling penting dari terapi ini adalah peranan keluarga atau orang terdekat dalam terapi. Maka dari itu biasanya psychiatric menghadirkan keluarga atau orang terdekat untuk mendampingi pasien dalam terapi yang dijalaninya. Karena hal ini dapat mengembalikan kepercayaan diri pasien dan mengembalikan fungsi social dari pasien. Kemudian untuk medicamentosa yang dapat diberikan pada pasien ini hanya berupa anti-anxiety dan antidepressant digunakan untuk mengurangi depresi dan rasa cemas pada pasien. Obat yang digunakan dapat berupa

Task Reading_Fugue State

thiopental sodium 1-2gram/50cc secara intravena, 30-50gram intravena 2 sampai 3 kali sehari. 2.1.6. Diagnosis banding Diagnosis banding untuk fuga disosiatif adalah serupa dengan amnesia disosiatif. Pada disosiatif, hilangnya daya ingat terjadi akibat stress psikologis tetapi tidak terdapat episode berpergian bertujuan atau episode identitas baru. Berkelanan yang di temukan pada demensia atau delirium biasanya dibedakan dengan bepergian pada pasien dengan fugue disosiatif yaitu bepergian pada demensia atau delirium tidak bertujuan dan tidak ada perilaku yang adatif secara sosialserta kompleks. Epilepsy parsial kompleks dapat menyebabkan episode bepergian tetapi biasanya pasien tidak mengambil suatu identitas baru dan episode umumnya tidak dicetuskan stress psikologis. Keadaan fugue organic dapat disebabkan berbagai obat, termasuk halusinogenik, barbiturate, phenothiazine, triazolam (Halcion), dan

L-asparaginase. Diagnosis hilang kesadaran karena alcohol sering tertukar dengan fugue disosiatif tetapi dapat dibedakan melalui anamnesis klinis yang baik serta mengetahui konsentrasi alcohol, jika hal ini terjadi saat intoksikasi akut. Meskipun demikian, klinisi harus ingat bahwa fugue disosiatif dan kehilangan kesadaran karena alcohol dapat terjadi bersamaan pada orang yang sama. Terdapat laporan bahwa triazolam dan alcohol bersamaan menimbulkan episode amnesia anterograd. 2.1.7. Prognosis Menurut DSM-IV TR durasi dari fugue state dapat berlangsung beberapa jam hingga berbulan-bulan dan penyembuhan biasanya cepat.

Task Reading_Fugue State

Meski untuk beberapa kasus pasien sulit teratasi. Biasanya pasien datang dengan keluhan memiliki satu episode.

10

Task Reading_Fugue State

BAB III KESIMPULAN

Fugue state merupakan jenis dari amnesia yang dimana mengalami lupa ingatan terhadap identitas diri,yang meliputi ingatan tentang diri nya dan jati diri serta susah mengenali orang yang pernah ada didalam hidup nya. Perilaku pasien dengan fugue disosiatif bersifat janggal dan dramatik, istilah fugue digunakan untuk mencerminkan kenyataan bahwa pasien secara fisik pergi jauh dari situasi rumah atau pekerjaan biasa mereka dan tidak dapat mengingat aspek penting identitas sebelumnya(nama, keluarga, pekerjaan). Pasien seperti ini sering, tetapi tidak selalu,mengambil identitas dan pekerjaan yang sama sekali baru walaupun identitas paru baru biasanya kurang lengkap dibandingkan kepribadian pengganti pada gangguan identitas disosiatif, serta identitas lama dan identitas baru tidak muncul bergantian, seperti pada gangguan identitas disosiatif Ciri utama fugue state adalah pasien nampak sadar sepenuhnya namun tidak memiliki satu pun ingatan tentang apapun, dan ketika pasien di nyatakan sembuh biasanya ingatan tersebut kembali dengan sendirinya. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh stress mental yang meluas dan berat dan dapat bertahan dalam beberapa bulan maupun tahun. Gejala klinis yang khas adalah secara tiba-tiba keluar dari rumah untuk suatu yang tak direncanakan dan tidak mengingat alasan mengapa keluar rumah serta tidak dapat mengingat apa saja yang sudah terjadi selama 1 hari Penatalaksanaan yang dapat dilakukan lebih bersifat suportif dengan mengedepankan family therapy atau terapi bersama keluarga. Hypnotherapy dapat dilakukan mengingat lebih membuat pasien relax dan mampu melupakan memory berat
11

Task Reading_Fugue State

penyebab trauma yang di alami pasien. Medikamentosa yang dapat diberikan lebih berfungsi untuk menormalkan kondisi psikis pasien. Maka dari itu pasien diberikan Anti anxietas dan anti-depresan sebagai langkah terapi suportif dibidang medikamentosa.

12

Task Reading_Fugue State

Daftar pustaka

Kaplan, M.D., Harold I, Benjamin J. Sadock, M.D.,Jack A. Grebb,M.D. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Jilid dua. Binarupa Aksara Publisher. Jakarta, 2010

Maramis, W.F., Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga Universitas Press. Surabaya, 1995

Dissociative Fugue (formerly Psychogenic Fugue) ( DSM-IV 300.13, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition

National Alliance on Mental Illness. Dissociative Disorders nami.org Accessed 9/17/2013

American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical manual of mental disorders, 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Press, Inc., 1994.

Allen, Thomas E., Mayer C. Liebman, Lee Crandall Park, and William C. Wimmer. A Primer on Mental Disorders: A Guide for Educators, Families, and Students. Lantham, MD: Scarecrow Press, 2001.

American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 4th edition, text revised. Washington, DC: American Psychiatric Association, 2000.

Beers, Mark H., and Robert Berkow, eds. "Dissociative Fugue." In The Merck Manual of Diagnosis and Therapy. 17th edition. Whitehouse Station, NJ: Merck Research Laboratories, 1999.

13