You are on page 1of 7

a. i. Disadari bahwa sampah dan segala permasalahan yang ditimbulkan memerlukan penanganan yang serius dan terintegrasi.

Pesatnya pertumbuhan penduduk dunia dan pembangunan menjadikan sampah sebagai masalah yang komplek dan dihadapi oleh hampir seluruh bangsa (Su et al., 2008). Permasalahan sampah secara menyeluruh adalah menyangkut bagaimana memproyeksikan dan mengelola jumlah timbulan sampah yang dihasilkan setiap hari, bagaimana melakukan reduksi volume timbulan sampah dan memanfaatkan setiap potensi yang dapat dihasilkan baik berupa pemanfaatan material sampah yang masih bernilai ekonomis, transformasi sampah menjadi material bernilai seperti pupuk maupun potensi bangkitan energi yang bisa dihasilkan, bagaimana memilih metode, teknik, dan teknologi yang tepat untuk pengelolaan sampah mulai dari sumber sampah, pewadahan, pengumpulan, transfer dan pengangkutan, sampai ke pembuangan akhir. Permasalahan sampah ini, apabila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan dampak bagi lingkungan, kesehatan dan kualitas hidup (Chang et al., 1997; Cheng et al., 2003; Erkut et al., 2008; Su et al., 2008 ). (diunduh di http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-17043-Chapter1-219615.pdf pada tanggal 10/1/2014)

Sepanjang tahun 2008 berdasarkan data Kementrian Lingkungan Hidup (Meneg LH) produksi sampah di Indonesia mencapai 167 ribu ton perhari. Jumlah yang luar biasa itu dihasilkan dari 220 juta jiwa jumlah penduduk dengan rata-rata produksi sampah 800 gram perhari perorang. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat Indonesia. Sebagaimana menurut Amrullah (2010), pada tahun 2010 ini Indonesia bisa menghasilkan sampah sebanyak 200 ribu ton perhari. Jumlah yang sangat besar ini berpotensi menimbulkan dampak negatif jika tidak ditangani dengan baik atau bahkan tidak ditangani, akan tetapi juga bisa memberikan manfaat yang besar jika penanganan yang dilakukan tepat. (diunduh Pendahuluan.pdf?sequence=5 pada tanggal 10/1/2014) di http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/47326/F11awi_BAB%20I%20

Sedangkan menurut Sudrajat (2006) dalam NUDS (National Urban Development Strategy) dinyatakan jumlah produksi sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Tangerang dengan 1.466.596 penduduk mencapai 733 ton/hari. Jumlah tersebut adalah jumlah produksi terbesar kelima di Indonesia. Kota Tangerang dalam hal ini hanya kalah oleh Provinsi Jakarta (4.892 ton/hari), Surabaya (1.457 ton/hari), Bandung (1.301 ton/hari), dan Bekasi (789 ton/hari). (diunduh di http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=statistik%20sampah%20makro%20tanger ang%20selatan&source=web&cd=15&cad=rja&ved=0CEYQFjAEOAo&url=http%3 A%2F%2Fjimfeb.ub.ac.id%2Findex.php%2Fjimfeb%2Farticle%2Fdownload%2F797 %2F732&ei=QT_PUqGFAc2lrQfQyIGwBw&usg=AFQjCNFW82DbCDyyYc8HMF _d40SBnLR5HA&bvm=bv.59026428,d.bmk pada tanggal 10/1/2014) ii. Di dunia, data menunjukkan bahwa salah satu penghasil limbah terbanyak adalah plastic (Panda dkk, 2010). Dalam satu tahun penduduk di seluruh dunia dapat menggunakan tas plastic sebanyak 500 hingga 1 miliyar kantong, dimana setiap orang menggunakan 150 tas plastic tiap tahun (Sangha, 2005). (diunduh di http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16335-2506100099chapter1pdf.pdf pada tanggal 10/1/2014) Menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, jenis sampah plastik menduduki peringkat ke-2, sebesar 5,4 juta ton/tahun (14%). Jumlah sampah plastik ini mengalami peningkatan dan mampu menggeser posisi sampah kertas yang sebelumnya berada di peringkat ke-2 menjadi peringkat ke-3, dengan jumlah 3,6 juta ton/tahun (9%) (Kementrian Lingkungan Hidup 2008). (diunduh 2.pdf?sequence=7 pada tanggal 10/1/2014) Tangerang Selatan belum di http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/5001/Pendahuluan_2009muc-

Menurut Dinas Kebersihan DKI Jakarta (2003), komposisi sampah plastic rata-rata di DKI Jakarta adalah 2.842,02 m3 atau setara dengan 11,08 % dari seluruh sampah yang dihasilkan. Plastik menempati urutan kedua terbanyak setelah sampah organic yang dihasilkan masyarakat di DKI Jakarta (65,05%). Masih banyak juga sampahsampah yang belum diolah secara maksimal dan serius. (diunduh di http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=penelitian%20statistik%20sampah%20pla stik%20kota%20besar%20indonesia&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCgQFjA A&url=http%3A%2F%2Fcore.kmi.open.ac.uk%2Fdownload%2Fpdf%2F12353595.p df&ei=9EbPUunEKIWHrAfz_oCIDg&usg=AFQjCNGsvH70zPZt5ZlKN6VoLbhl6ro fCw&bvm=bv.59026428,d.bmk pada 10/1/2014)

b. i. Kota Tangerang Selatan adalah wilayah otonom di Provinsi Banten. Wilayah ini merupakan hasil dari pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Kota Tangerang Selatan terletak di bagian timur Provinsi Banten dan secara administratif terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan, 49 (empat puluh sembilan) kelurahan dan 5 (lima) desa dengan luas wilayah 147,19 Km2 sesuai dengan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Propinsi Banten. Kota Tangerang Selatan juga berbatasan langsung dengan Kota DKI Jakarta khususnya wilayah Jakarta Selatan. (Garniwa, 2012, dinduh di http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20312872-S43619Pola%20spasial.pdf pada 10/1/2014)

ii. Permasalahan sampah di perkotaan merupakan permasalahan yang kerap terjadi karena ketersediaan tempat pembuangan sampah selalu bertautan dengan ketersediaan lahan, penggunaan tanah, dan biaya operasional-non operasional yang harus dikeluarkan. Kota Tangerang Selatan merupakan kota yang baru memisahkan diri dari

kota pusat, yaitu Kota Tangerang. Sebagai kota yang baru, Tangerang Selatan belum siap menghadapi masalah pengelolaan sampah. Ada 3 sumber penghasil sampah utama di Tangerang Selatan, yaitu permukiman, kawasan komersial, dan industri. Industri merupakan sumber penghasil sampah yang memiliki jenis sampah yang lebih bervariasi dibanding kedua sumber yang lain. (Garniwa, 2012, dinduh di http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20312872-S43619Pola%20spasial.pdf pada 10/1/2014) c. Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal , diantaranya tipe zat sampah , tanah yg digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area. Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan sampah yang berbeda dalam penggunaannya, antara negara-negara atau daerah. Beberapa yang paling umum, banyak-konsep yang digunakan adalah:

Hirarki Sampah - hirarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang, yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah. Hirarki limbah yang tetap menjadi dasar dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah. Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari produk-produk praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah.

Perpanjangan tanggungjawab penghasil sampah / Extended Producer Responsibility (EPR). (EPR) adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi semua biaya yang berkaitan dengan produk-produk mereka di seluruh siklus hidup (termasuk akhir-of-pembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produser diperpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh Lifecycle produk dan kemasan diperkenalkan ke pasar. Ini berarti perusahaan yang manufaktur, impor dan / atau menjual produk diminta untuk bertanggung jawab atas produk mereka berguna setelah kehidupan serta selama manufaktur.

Prinsip pengotor membayar - prinsip pengotor membayar adalah prinsip di mana pihak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan. Sehubungan dengan pengelolaan limbah, ini umumnya merujuk kepada penghasil sampah untuk membayar sesuai dari pembuangan.

(Prof

Dr

Ir

Soemanrno

MS,

2011,

diunduh

di

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=penelitian%20hirarki%20pengelolaan%20 sampah&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCgQFjAA&url=http%3A%2F%2Fma rno.lecture.ub.ac.id%2Ffiles%2F2012%2F01%2FPENGELOLAANSAMPAH.docx&ei=V0nPUtvGE47xrQfq24G4Cg&usg=AFQjCNEM5gMd9sb3llK3 9lZoJi_EcekEsQ&bvm=bv.59026428,d.bmk pada 10/1/2014) d. i. Tingginya volume sampah yang dihasilkan baik oleh industri maupun masyarakat merupakan permasalahan umum yang dijumpai di hampir semua kota, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Disamping dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, permasalahan tingginya volume sampah juga dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan penduduk. Permasalahan ini semakin dipersulit dengan terbatasnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tersedia. Hal tersebut menjadi alasan utama sulitnya pencegahan penggunaan barang yang menjadi sampah di lingkungan. (Supriatna, 10/1/2014) ii-v. Indonesia masih memegang teguh filosofis pengelolaan sampah dikumpulkan, ditampung di tempat pembuangan sementara (TPS) dan akhirnya dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Adanya keterbatasan lahan yang dapat dipergunakan sebagaiTPA karena semakin sulitnya memperoleh ruang yang pantas dan jaraknya semakin jauh dari pusat kota, serta diperlukannya dana yang besar untuk pembebasan lahan TPA, merupakan factor eksternal yang turut mempengaruhi [ermasalahan persampahan. Padahal, dalam mencegah timbulan sampah secara maksimal serta menekan dampak negative sekecil-kecilnya, pengelolaan sampah harus berdasarkan tahapan : a. Reduce Mereduksi b. Reuse timbulan sampah semaksimal mungkin dengan cara mengurangi aktifitas yang menghasilkan sampah Hidayanto, dan Isti, 2009, diunduh di pada http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ind/article/viewFile/17683/17594

Barang atau bahan yang digunakan dan masih bisa digunak tidak dibuang melainkan digunakan kembali c. Recycle Daur ulang merupakan kegiatan pemanfaatan kembali suatu barang/produk namun masih perlu proses/kegiatan tambahan. d. (Rizal, Recovery Pengubahan sampah menjadi energy terbarukan melalui beberapa proses. Kurniaty, 2011, diunduh di http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=penelitian%20gambaran%20hirarki%20pe ngelolaan%20sampah%203r%20di%20indonesia&source=web&cd=9&cad=rja&ved =0CGQQFjAI&url=http%3A%2F%2Fjurnal.untad.ac.id%2Fjurnal%2Findex.php%2F SMARTEK%2Farticle%2Fdownload%2F619%2F537&ei=kkzPUs7cLMGkrQeIuoC AAg&usg=AFQjCNHV8pQfAcJ4_4ej7C3UDuDJvd0aTg&bvm=bv.59026428,d.bmk pada 10/1/2014)

vi. Sebagian besar sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih bergantung pada satu metode penanganan, yaitu kumpul-angkut-buang atau end-of-pipe, suatu cara penanganan sampah yang mengandalkan pembuangan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA). Data statistik persampahan Indonesia (KNLH, 2008) menunjukkan bahwa dari 14,1 juta ton sampah yang dihasilkan 26 kota besar di Indonesia, sebanyak 13,6 juta ton di antaranya dibuang ke TPA (KNLH, 2008). Hanya sebagian kecil sampah yang diolah untuk didaur ulang, yaitu sebesar 2,26% di sumber asalnya, 2,01% di tempat penampungan sementara (TPS), dan 1,6% di TPA. Timbunan sampah di TPA tersebut memiliki potensi untuk menurunkan kualitas lingkungan secara global. (Purwanto, Hadi, Sunarto, 2013, diunduh di http://eprints.undip.ac.id/40649/1/017Sunarto.pdf pada 10/1/2014)