You are on page 1of 20

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Banyak dijumpai senyawa yang tersusun atas satu atom pusat, biasanya logam atau kelompok atom seperti VO, VO 2 dan TiO serta sejumlah anion atau molekul netral yang mengelilingi atom atau kelompok atom pusat. Senyawa semacam ini dikenal sebagai senyawa koordinasi atau senyawa kompleks. Anion atau molekul yang mengelilingi atom pusat atau kelompok atom ini disebut ligan. ika ditinjau dari system asam!basa "ewis, atom pusat atau kelompok atom dalam senyawa koordinasi berperan sebagai asam "ewis, sedangkan ligannya ber#ungsi sebagai basa "ewis. $abang %lmu &imia yang mempelajari tentang senyawa koordinasi disebut kimia &oordinasi. Si#at!si#at senyawa koordinasi dapat diprediksi dari si#at ion pusatnya, 'n(, dan ligannya, "), "2, **dst. umlah muatan kompleks ditentukan dari penjumlahan muatan ion pusat dan ligan yang membentuk kompleks. +al yang sangat spesi#ik dari senyawa ini adalah adanya spesies bagian dari senyawa itu yang tidak berubah baik dalam padatan maupun dalam larutan walaupun ada sedikit disosiasi. Spesies tersebut dapat berupa non ionik, kation atau anion tergantung pada muatan penyusunnya. ika bermuatan maka spesies itu disebut ion kompleks atau lebih sederhana kompleks. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah, yaitu , ). Apa yang dimaksud dengan senyawa koordinasi2. Bagaimana teori!teori yang berkaitan dengan senyawa koordinasi.. Bagaimana tata nama senyawa dari senyawa kimia/. Bagaimana si#at kemagnetan dari senyawa koordinasi0. Bagaimana isomer!isomer dari senyawa koordinasidisebut spesies

C. TUJUAN PENULISAN Berdasarkan umusan masalah diatas, maka dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah, yaitu, ). 'engetahui apa yang dimaksud dengan senyawa koordinasi 2. 'engetahui teori!teori yang berkaitan dengan senyawa koordinasi .. 'engetahui tata nama senyawa dari senyawa kimia /. 'engetahui si#at kemagnetan dari senyawa koordinasi 0. 'engetahui isomer!isomer dari senyawa koordinasi

BAB II PEMBAHASAN A. SENYAWA KOORDINASI Senyawa &oordinasi atau umumnya disebut senyawa kompleks adalah senyawa yang mengandung logam pusat dan ligan dimana keduanya terikat secara ko1alen koordinasi. Senyawa komplek dapat berupa senyawa ionik maupun netral. "ogam pusat umumnya merupakan logam transisi sedangkan ligan dapat berupa kation 23+/(4, anion 2$l!, $2O/2!, molekul kecil 2+2O, 3+.4 atau makro molekul 2protein4. "igan adalah molekul atau ion yang terikat pada kation logam transisi. %nteraksi antara kation logam tran ! ! dengan ligan merupakan reaksi asam!basa "ewis. Beberapa contoh molekul yang dapat berperan sebagai ligan adalah +2O, 3+., $O, dan ion $l!. Bilangan "oor#!na ! adalah jumlah ligan yang terikat pada kation logam transisi. Sebagai contoh, bilangan "oor#!na ! Ag( pada ion 5Ag23+.426( adalah dua, bilangan koordinasi $u2( pada ion 5$u23+.4/62( adalah empat, dan bilangan koordinasi 7e.( pada ion 57e2$3486.! adalah enam. Bilangan koordinasi yang sering dijumpai adalah / dan 8. Berdasarkan jumlah atom donor yang memiliki pasangan elektron bebas 29:B4 pada ligan, ligan dapat dibedakan menjadi monodentat, bidentat, dan polidentat. +2O dan 3+. merupakan ligan monodentat 2mendonorkan satu pasang elektron4. Sedangkan :tilendiamin 2+23!$+2!$+2!3+2, sering disebut dengan istilah en4 merupakan contohligan bidentat 2mendonorkan dua pasang elektron4. "igan bidentat dan polidentat sering penjumlahan dari disebut sebagai agen
logam

chelat 2mampu mencengkram kation logam transisi dengan kuat). 'uatan ion kompleks adalah muatan kation tran ! ! dengan ligan yang mengelilinginya. Sebagai contoh, pada ion 59t$l862!, bilangan oksidasi masing!masing ligan 2ion $l$% adalah !). ;engan demikian, bilangan oksidasi 9t 2kation logam transisi4 adalah (/. $ontoh lain, pada ion 5$u23+.4/62(, bilangan oksidasi masing!masing ligan 2molekul 3+&% adalah < 2nol4. ;engan demikian, bilangan oksidasi $u 2kation logam transisi4 adalah (2.

B. I"atan #alam 'n(a)a "oor#!na ! Teori mengenai ikatan dalam senyawa kompleks mulai berkembang hingga sampai saat ini ada . teori yang cukup menonjol. yaitu, ). Teori %katan Valensi 2Valence Bond Theory4 %katan antara ion pusat dengan ligan merupakan ikatan ko1elen koordinasi 9asangan elektron bebas yang disumbangkan oleh ligan. "ogam pusat menyediakan orbital!orbital kosong yang telah mengalami hibridisasi untuk ditempati oleh 9:B dari ligan. bentuk geometris senyawa kompleks yang terbentuk ditentukan oleh hibridisasi yang terjadi pada ion pusatnya. +ibridisasi =eometris $ontoh 2 sp Trigonal planar 5+g%.6! . sp Tetrahedral 5>n23+.4/62( ad2sp. Oktahedral 57e2$3486.! 2 dsp Bujur sangkar? segi empat planar 53i2$34/62! dsp. Bipiramida trigonal 57e2$O4062( . 2 sp d Oktahedral 57e786.! 9embentukan ikatan dari senyawa koordinasi melibatkan beberapa tahapan, antara lain, promosi elektron@ pembentukan orbital hibrida@ dan pembentukan ikatan antara logam dengan ligan melalui o1erlap antara orbital hibrida logam yang kosong dengan orbital ligan yang berisi pasangan elektron bebas. $ontoh, 57e2$3486.! , memiliki bentuk geometris oktahedral 7e28 7e.( , 5Ar6 .d8 /s2 , 5Ar6 .d0 /s< , 5 Ar6 .d0 /s) /p<

;ua buah elektron pada orbital d yang semula tidak berpasangan dipasangkan dengan elektron lain yang ada pada orbital d tersebut, sehingga 2 orbital d yang

semula ditempati oleh kedua elektron tersebut kosong dan dapat digunakan untuk membentuk orbital hibridal d2sp. 7e.( , 5Ar6
hibridisasi d2sp3

&arena orbital d yang digunakan dalam hibridisasi ini berasal dari orbital d yang berada disebelah dalam orbital s dan p, maka kompleks dengan orbital hibrida semacam ini disebut sebagai kompleks orbital dalam 2inner orbital compleA4 57e2$3486.! , 5Ar6 .d8 d2sp.

Orbital hibrida d2sp. yang terbentuk diisi oleh pasangan elektron bebas dari ligan $3!. ;alam kompleks terdapat satu elektron yang tidak berpasangan, sehingga kompleks bersi#at paramagnetik. 2. Teori 'edan &ristal ;alam Teori 'edan &ristal 2T'&4, interaksi yang terjadi antara logam dengan ligan adalah murni interaksi elektrostatik. "ogam yang menjadi pusat dari kompleks dianggap sebagai suatu ion positi# yang muatannya sama dengan tingkat oksidasi dari logam tersebut. "ogam pusat ini dikelilingi oleh ligan!ligan bermuatan negati# atau ligan netral yang memiliki pasangan elektron bebas 29:B4. ika ligan merupakan suatau spesi netral?tidak bermuatan, maka sisi dipol negati# dari ligan terarah pada logam pusat. 'edan listrik pada logam akan saling mempengaruhi dengan medan listrik ligan. ;alam Teori 'edan &ristal, berlaku beberapa anggapan berikut , a. ligan dianggap sebagai suatu titik muatan b. tidak ada interaksi antara orbital logam dengan orbital ligan c. orbital d dari logam kesemuanya terdegenerasi dan memiliki energi yang sama, akan tetapi, jika terbentuk kompleks, maka akan terjadi pemecahan tingkat energi orbital d tersebut akibat adanya tolakan dari elektron pada

ligan, pemecahan tingkat energi orbital d ini tergantung orientasi arah orbital logam dengan arah datangnya ligan Orbital d dapat dibedakan menjadi 2 , orbital yang terdapat pada sumbu atom, yaitu dA2!y2 dan dB2 disebut orbital eg @ dan orbital yang berada di antara sumbu atom, yaitu dAy, dAB dan dyB disebut orbital t2g. ;alam struktur oktahedral, 8 ligan menempati titik!titik sudut bangun oktahedral yang terdapat pada sumbu atom. Secara keseluruhan 0 orbital pada subkulit d mengalami tolakan oleh ligan! ligan sehingga tingkat energinya naik. Orbital eg karena jaraknya lebih dekat mengalami tolakan yang lebih kuat 2oleh ligan4 dibanding orbital t 2g, sehingga terjadi splitting yaitu pembelahan orbital d menjadi 2 bagian yang berbeda tingkat energinya 2eg memiliki tingkat energi yang lebih tinggi dibanding t2g4. 9erbedaan tingkat energi antara eg dengan t2g disebut Co 2)< ;D4, yang besar kecilnya dipengaruhi oleh kekuatan medan ligan. ika medan ligan kuat maka Co besar, sedang jika medan ligan lemah Co kecil. ika Co besar, maka orbital eg tidak terisi elektron sebelum orbital t2g terisi penuh, keadaan ini disebut spin rendah. ika Co kecil, maka tingkat energi eg dan t2g dianggap sama elektron tidak berpasangan sebelum masing!masing orbital terisi satu elektron, keadaan ini disebut spin tinggi. .. Teori Orbital 'olekul 2'olecular Orbital Theory4 Teori Orbital 'olekul 2'olecular Orbital Theory4 melibatkan pembentukan ikatan ko1alen. ;alam Teori Orbital 'olekul 2TO'4, ikatan dalam kompleks terjadi melalui pembentukan orbital molekul. Orbital molekul merupakan orbital yang terbentuk sebagai kombinasi antara orbital atom yang dimiliki logam dengan orbital atom yang dimiliki oleh ligan. Setiap penggabungan orbital atom menjadi orbital molekul akan menghasilkan orbital bonding 2orbital ikatan4 dan orbital antibonding 2orbital anti ikatan4. ;alam Teori Orbital 'olekul terdapat beberapa hal penting, yaitu, %katan kimia terbentuk melalui kombinasi linier yaitu penembahan dan pengurangan orbital!orbital atom 2"inear $ombination o# Atomic Orbital, "$AO4.

2 orbital atom yang berkombinasi linier akan menghasilkan orbital molekul, yaitu ) orbital ikatan yang tingkat energinya lebih rendah dan ) orbital anti ikatan yang tingkat energinya lebih tinggi. Awan elektron pada orbital ikatan terdapat pada ruang antara dua inti atom yang berikatan sehingga ditarik oleh kedua inti atoom tersebut, sedang untuk orbital anti ikatan, awan elektron terdapat di sebelah kanan dan kiri molekul yang terbentuk sehingga hanya ditarik oleh salah satu atom. Orbital ikatan menghasilkan pembentukan ikatan, sedang orbital anti ikatan menentang terjadinya ikatan. ika orbital yang berkombinasi linier sejajar dengan sumbu antar inti dihasilkan ikatan E, sedang jika tegak lurus dihasilkan ikatan F. umlah pasangan elektron pada orbital ikatan dikurangi jumlah pasangan elektron pada orbital anti ikatan disebut orde ikatan. Syarat terbentuknya ikatan adalah , orde ikatan G <. Hnsur!unsur gas mulia tidak stabil sebagai molekul diatomik karena orde ikatannya <. C. TATA NAMA SENYAWA KOORDINASI ). Tatanama "igan a. Tatanama "igan netral Tatanama ligan netral adalah seperti nama senyawanya kecuali untuk beberapa ligan seperti yang tertera pada Tabel. "igan 'e$3 :n 9y As9h. +2O 3+. 3ama senyawa Asetonitril :tilenadiamina atau 3ama ligan Asetonitril ),2!:tilenadiamina 9iridina tri#enillarsina ADua Amina atau aBana

diaminoetana 9iridina Tri#enillarsina 9erkecualian Air Amonia

+2S $O 3O

+idrogen sul#ida &arbon monooksida 3itrogen monooksida

Sul#an &arbonil 3itrosil

b. Tatanama "igan bermuatan negati# "igan negati# dapat berupa, - %on sisa asam. %on sisa asam namanya dapat berakhiran Ida, !it atau Iat, misalnya klorida 2$lJ4, nitrit 23O2J4 dan nitrat 23O.J4. - %on bukan sisa asam. %on bukan sisa asam namanya biasanya berakhiran I da, misalnya nitrida 23.J4 dan oBonida. ika berlaku sebagai ligan baik ion sisa asam maupun ion bukan sisa asam yang berakhiran Ida, diganti dengan akhiran Ido, kecuali untuk beberapa ligan yang tertera pada Tabel. Kumus kimia 3+2 3+2J 3.J S2J Amida %mida ABida Sul#ida 9erkecualian 7J 7luorida 7luoro $lJ &lorida &loro %J %odida %odo 2 OJ Oksida Okso atau oksido Sedangkan untuk ion sisa asam yang berakhiran !it atau !at jika sebagai ligan akhirannya ditambah dengan akhiran Io, seperti yang tertera pada Tabel. Kumus kimia O3OJ 3O2J OSO22J OSO.2J S$3J $O.2J 3ama ion 3itrit 3itrit Sul#it Sul#at Tiosianat &abonat 3ama ligan 3itrito 3itro Sul#ito Sul#ato Tiosianato &arbonato 3ama ion Amido %mido ABido Sul#ido 3ama ligan

"igan bermuatan positi# sangat jarang dijumpai pada senyawa kompleks oleh sebab itu tidak dibahas pada bagian ini. Salah satu ligan yang bermuatan positi# adalah +23!$+2!3+.(. ;alam menulis ligan pada senyawa koordinasi biasanya atom donor selalu ditulis didepan, kecuali +2O, +2S dan +2Te. 'isalnya untuk ion nitrit 23O2J4, jika 3 sebagai atom donor maka penulisan ligannya adalah 3O2J sedangkan apabila O yang bertindak sebagai atom donor maka penulisan ligannya adalah O3OJ. c. Hrutan 9enyebutan "igan ). Apabila di dalam senyawa kompleks terdapat lebih dari satu ligan maka urutan penyebutan ligan adalah secara al#abetis tanpa memperhatikan jumlah dan muatan ligan yang ada. 9ada aturan lama ligan yang disebut terlebih dahulu adalah ligan yang bermuatan negati# secara al#abet kemudian diikuti dengan ligan netral yang disebut secara al#abet pula. 2. Hrutan penyebutan ligan adalah urutan berdasarkan al#abet pada nama ligan yang telah di %ndonesiakan. 'isalnya al#abet awal untuk $lJ adalah kmeskipun dalam bahasa inggris nama chloro dengan al#abet awal c. Sebagai contoh nama untuk senyawa kompleks 5$o2en42$l26( adalah %on bis 2etilenadiamina4diklorokobalt2%%%4 2benar4 ;iklorobis 2etilenadiamina4kobalt2%%%4 2salah4 .. umlah ligan yang ada dapat dinayatakan dengan awalan di, tri. Tetra dan seterusnya. tetapi apabila awalan!awalan tersebut telah digunakan untuk menyebut jumlah substituen yang ada pada ligan maka jumlah ligan yang ligan ada dinyatakan dengan awalan bis, maka tris, tetrakis dan seterusnya. misalnya di dalam suatu senyawa kompleks terdapat dua 99h. disebu dengan bis2tri#enil#os#ina4 bukan di2tri#enil#os#ina4. /. "igan!ligan yang terdiri dari dua atom atau lebih ditulis dalam tanda kurung.

2. Tatanama Senyawa &ompleks a. Tatanama Senyawa &ompleks 3etral )4 3ama senyawa kompleks netral ditulis dalam satu kata. 24 'enulis atau menyebut nama dan jumlah ligan .4 'enulis atau menyebut nama atom pusat serta bilangan oksidasi dari atom pusatyang ditulis dengan angka Komawi. ;an bilangan oksidasi atom pusat yang harganya nol tidak perlu dituliskan. $ontoh 57e2$O4223O426 5$o2$O4.23O46 , dikarbonildinitrosilbesi , trikarbonilnitrosilkobalt

b. Senyawa &ompleks %onik Senyawa kompleks ionik kation sebagai ion kopleks )4 ;iawali dengan menulis atau menyebut kata ion 24 'enulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki .4 'enulis atau menyebut nama atom pusat diikuti bilangan oksidasi yang ditulis dalam anggka Komawi.

$ontoh &ompleks 5$o23+.4/$l26( 59t23+.4/6


2(

Spesi yang ada $o.(, /3+., dan 2$lJ 9t2 , dan /3+.
(

3ama ion tetraaminadiklorokobalt2%%4 atau ion tetraaminadiklorokobalt2)(4 %on tetraaminaplatina2%%4 iontetraaminaplatina22(4 atau

c. Senyawa kompleks ionik anion sebagai ion kompleks )4 ;iawali dengan menulis atau menyebut kata ion 24 'enulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki

.4 'enulis atau menyebut nama atom pusat dalam bahasa latin dengan akhiran Ium atau ium diganti Iat kemudian diikuti bilangan oksidasi atom pusat yang ditulis dalam anggka Komawi. $ontoh &ompleks 5$o2$3486.J 5'gBr/6 J
2

Spesi yang ada $o.( dan 8$3J 'g2 dan /BrJ


(

3ama %on

heksasianokobaltat2%%%4

atau atau

ion %on

heksasianokobaltat2.!4 %on tetrabromomagnesat2%%4 tetrabromomagnesat22!4

d. Senyawa kompleks ionik kation dan anion sebagai ion kompleks 9enamaannya adalah menulis atau menyebut nama dan jumlah kation terlebih dahulu kemudian nama anion diikuti bilangan oksidasi atom pusat yang ditulis dalam anggka Komawi atau menulis atau menyebut nama dan jumlah kation terlebih dahulu kemudian nama anion diikuti muatan ion kompleks yang ditulis dengan angka Arab.

$ontoh &/57e2$3486 5$o3.23+.406SO/ &alium heksasiano#erat2%%4 atau sul#at kalium atau heksasiano#erat2/!4 9entaaminaaBidokobalt2%%%4

9entaaminaaBidokobalt22(4 sul#at D. SI*AT KEMAGNETAN SENYAWA KOORDINASI Senyawa koordinasi memiliki si#at kemagnetan, yaitu, ). ;iamagnetik 2jika semua elektron berpasangan4 , ditolak 2amat lemah4 oleh medan magnet

2. 9aramagnetik 2jika ada elektron yang tak berpasangan4 , ditarik oleh medan magnet .. 7eromagnetik 2pada 7e, $o, 3i4, ditarik 2sangat kuat4 oleh medan magnet. :lektron!elektron yang ada pada orbital d ion pusat dapat berpasangkan dan dapat pula tidak berpasangan. ;alam hal ini berpasangan atau tidaknya elektron! elektron tersebut tergantung pada #akta eksperimen yang ada. Apabila dari eksperimen diperoleh bahwa suatu senyawa atau ion kompleks bersi#at diamagnetik maka atom atau ion pusat yang ada, ). 'emiliki orbital d atau orbital lain telah terisi penuh atau 2. 'emiliki orbital d atau orbital lain yang belum terisi penuh tetapi semua elektron yang ada dalam keadaan berpasangan. 9ada kasus nomor 2 dalam menjelaskan pembentukan ikatan ko1alen koordinasi antara ligan dengan atom atau ion pusat dilibatkan tahap eksitasi. :ksitasi ini cenderung terjadi apabila ligan yang ada merupakan ligan kuat seperti $3!, akan tetapi #aktor yang mempengaruhi eksitasi tidak hanya jenis ligan. Banyak #aktor lain yang berpengaruh diantaranya adalah jumlah ligan, jenis ion atau atom pusat dan geometri kompleks yang ada. Terjadinya peristiwa eksitasi tidak selalu menghasilkan kompleks yang bersi#at diamagnetik. Apabila jumlah elektron pada orbital d atom atau ion pusat yang ada adalah ., /, 0 atau L, maka meskipun terjadi eksitasi kompleks yang terbentuk tetap bersi#at paramagnetik seperti. $ontoh , a. 5$o786.! M
2L 2L

eksperimen , oktahedral, paramagnetik

$o , 5)NAr6 .dL /s2 /p< $o.( , 5)NAr6 .d8 /s< /p< /d<

&arena 5$o786.! paramagnetik, maka harus ada elektron tak berpasangan dalam hal ini pada sub kulit .d. :nam orbital kosong yaitu /s, /p A, /py, /pB, /dA2!y2, dan /dB2 mengalami hibridisasi sp.d2 menghasilkan struktur oktahedral, kemudian masing!masing menerima pasangan elektron bebas dari 7!. &arena orbital d yang terhibridisasi berasal dari luar 2/d4, maka disebut komplek orbital luar. hibridisasi sp.d2

b. 5$o23+.486.( M
2L 2L

:ksperimen , oktahedral, diamagnetik

$o , 5)NAr6 .dL /s2 /p< $o.( , 5)NAr6 .d8 /s< /p< /d<

&arena 5$o23+.486.( diamagnetik, maka semua elektron 2pada sub kulit .d4 berpasangan, sehingga terdapat orbital koson pada sub kulit .d yaitu orbital .dA2!
y2

dan .dB2. :nam orbital kosong yaitu .dA2!y2, .dB2, /s, /pA, /py, /pB, mengalami

hibridisasi d2sp. menghasilkan struktur oktahedral, kemudian masing!masing menerima pasangan elektron bebas dari 3+.. &arena orbital d yang terhibridisasi berasal dari dalam 2.d4, maka disebut komplek orbital dalam. hibridisasi d2sp.. E. St'r'o"!m!a 'n(a)a Kom+l'" Senyawa koordinasi dapat mengalami dua macam stereoisomer, yaitu isomer geometri dan isomer optik. %somer geometri terjadi antara dua isomer yang memiliki rumus kompleks sama tetapi penyusunan ruang dari beberapa ligan berbeda.%somer geometri dapat dipisahkan dan harus dibedakan dengan isomer kon#ormasi, yang terjadi dalam kesetimbangan dinamik antara yang satu dengan yang lain, dan ini disebabkan oleh perbedaan tenaga akti1asi. %somer optik terjadi apabila dua senyawa memutar bidang sinar polarisasi yang berbeda. Banyak molekul tidak memiliki titik atau bidang simetri. Oerner mengemukakan bahwa jika kompleks logam koordinat empat tipe 5'A2B26 memiliki isomer geometri, misalnya isomer cis dan trans, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks itu bujursangkar. &ompleks ini tidak mungkin berbentuk tetrahedral karena bentuk tetrahedral tidak memiliki isomer geometri 2gambar 2.a4. kompleks 5'2AB4 26 bersi#at optik akti# jika ' memiliki 1alensi sekunder dengan susunan tetrahedral atau dengan kata lain kompleks itu berbentuk tetrahedral. &ompleks bujursangkar tidak akan memberikan isomer optik 2gambar 2.b4

9ada umumnya kompleks koordinat / dari sebagian besar ion 9d2(, Ag2(, $u2(, Kh2( dan %r( berbentuk planar, sedangkan dari ion >n2(, Be2(, B.(, $d2(, Al.(, +g2(, =a.(, 7e.( dan $o2(, berbentuk tetrahedral. &ompleks ion $u2( dapat berbentuk dalam 2 bentuk, baik dalam bentuk planar maupun tetrahedral. &emudian kompleks ion 3i2( hanya sebagian kecil berbentuk tetrahedral. Oksoanion dari tipe 'O/n!, 2' P V2(, $r8(, 'nL(, 7e8(4 dapat dipandang sebagai kompleks tetrahedral dari logam ' dan dengan ion oksigen sebagai ligannya. 'olekul planar 5'AB$;6 deapat berada dalam tiga bentuk isomer. adi dua isomer 59t23+.42$l26 dan tiga isomer dari 59t23+ .423+2O+423O242py46(2 py P $0+03 4 menunjukkan bahwa penataan tetrahedral untuk ikatan platina2%%4 tidak terjadi. Oalaupun demikian, hal ini belum membuktikan bahwa penataannya planar karena penataan piramidal bujursangkar juga masih mungkin 2gambar /4

%somer cis dan trans dapat dibedakan oleh, ). 'omen dipol. Senyawa trans dari 59t29et.42$l26 akan mempunyai momen dipol yang dapat diabaikan karena adanya penghilangan momen ikatan dari masing!masing ikatan, tetapi isomer cis akan mempunyai momen dipol yang berarti.

2. Spektroskopi %K. %somer trans memberikan spektrum lebih sederhana daripada isomer cis karena pengurangan #rekuensi stretching iktan '!A dan '!B dalam isomer trans. .. 'etode reakti1itas kimia. ;engan asumsi bahwa tidak ada perubahan struktur dari ligan, sederetan reaksi dapat dipakai untuk membedakan antara isomer trans dan cis. /. 9engukuran dengan metode Q!ray telah dapat membuktikan penataan struktur tersebut diatas. Akhir!akhir ini banyak dilakukan penentuan struktur senyawa melalui reaksi kimia. Selain stereoisomer, senyawa koordinasi dapat menunjukkan adanya tipe isomer lain, antara lain sebagai berikut, ). %somer ligan. %somer ini disebabkan karena ligan suatu kompleks mempunyai beberapa bentuk isomer, misalnya kompleks isomer ),2! diaminpropan 2pn4 dan ),.!diaminpropan 2tn4 atau o!toluen, m!toluen dan p!toluen dengan ion logam. 2. %somer ionisasi. %somer ini disebabkan adanya perbedaan ion yang dihasilkan dalam suatu proses ionisasi. Sebagai contoh kompleks 5$o23+.40SO/6Br dan 5$o23+.40Br6SO/ atau 59t23+.4%6$l 5$o23+.4 $l6%. .. %somer pelarut. %somer ini hal khusus dari isomer ionisasi yang melibatkan molekul pelarut. ika air sebagai pelarut, isomer hidrt akan dihasilkan. $ontoh terbaik yyang telah dikenal adalah kromium klorida hidrat@ 5$r2+2O486$l. 1iolet, 5$r2+2O40$l6$l2 hijau muda dan 5$r2+2O40 $l26$l yang memberikan masing!masing ., 2 dan ) mol ion klorida dalam larutan. /. %somer &oordinat. %somer ini terjadi pada garam yang baik kation maupun anionnya merupakan ion kompleks. Satu atau lebih ligan dari kation dapat diganti oleh satu atau lebih ligan dari anion atau sebaliknya. &ompleks 5$o23+.4865$r2$3486 dan 5$o2$34865$r23+.486 atau 5$o23+.4/659t$l/6 dan 59t23+.4/65$o$l/6 adalah isomer koordinat. ika kompleks mempunyai logam sama dengan bilangan oksidasi berbeda sebagai kation

dan anion, isomer yang dihasilkan disebut dengan isomer posisi koordinat. $ontoh isomer posisi koordinat adalah@

0. %somer polimerisasi. Sebetulnya jenis ini tidak termasuk isomer tetapi dikatakan isomer oleh Oerner. &ompleks yang memiliki rumus molekul berbeda tetapi rumus empirisnya sama disebut isomer polimerisasi. $ontoh@ 5$o23+.4/23O24265$o23+.4223O24/6, 5$o23+.4865$o23O2486, 5$o23+.4023O2465$o23+.423O2406, 5$o23+.4865$o23+.4223O24/6., 5$o23+.4/23O24262 5$o23O2486, adalah isomer polimerisasi dari 5$o23+.4.23O24.6 yang mempunyai berat molekul 2, 2, 2, /, / dan 0 kali berat molekul empiris. 8. %somer linkage. ika ligan memiliki dua atau lebih atom berbeda yang dapat digunakan untuk berikatan dengan ion logam 2ligan ambident4, misalnya ligan $3S!, 3O2!, S2S.2! atau $O23+242, maka kompleks yang dihasilkan akan memiliki isomer linkage. %somer ini dapat diidenti#ikasi secara mudah dengan menggunakan spektroskopi %K.

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN

1. Senyawa &oordinasi atau umumnya disebut senyawa kompleks adalah

senyawa yang mengandung logam pusat dan ligan dimana keduanya terikat secara ko1alen koordinasi. 2. Teori!teori yang berkaitan dengan senyawa koordinasi adalah teori ikatan 1alensi, teori medan kristal, dan teori orbital molekul .. Tata nama senyawa kompleks telah diatur oleh %H9A$ dengan memperhatikan ligan, penamaan logam, awalan yang menunjukkan bilangan, urutan penulisan, isomer dan ligan jembatannya /. Senyawa koordinasi memiliki si#at kemagnetan, yaitu, a. ;iamagnetik 2jika semua elektron berpasangan4 , ditolak 2amat lemah4 oleh medan magnet b. 9aramagnetik 2jika ada elektron yang tak berpasangan4 , ditarik oleh medan magnet c. 7eromagnetik 2pada 7e, $o, 3i4, ditarik 2sangat kuat4 oleh medan magnet. 0. senyawa koordinasi dapat menunjukkan adanya tipe isomer lain, yaitu %somer ligan, isomer ionisasi, isomer pelarut, isomer koordinat, isomer polimerisasi, isomer lingkage. B. SARAN ). ;iharapkan agar pembaca lebih mencari sumber in#ormasi lain yang berhubungan dengan materi kimia koordinasi.

DA*TAR PUSTAKA Kamlawati. 2<<0. Buku Ajar Kimia Anorganik Fisik. 'akassar, urusan &imia 7'%9A H3' Sukardjo. )RN0. Kimia Koordinasi. akarta, 9T. Bina Aksara.

PERTANYAAN ). Apa kelemahan dari ketiga teori ikatan 1alensi, teori medan kristal, dan teori orbital molekul2. 7aktor apa yang mempengaruhi kekuatan ligan.. Bagaimana cara penamaan senyawa kompleks pada isomer cis dan trans/. Bagaimana cara menganalisis isomer lingkage dengan menggunakan %K0. Apakah yang dimaksud dengan ligan jembatan-

Tugas %ndi1idu 'ata &uliah , &imia Anorganik "anjut

KIMIA KOORDINASI

D! , ,n ol'- . Sang"ala /&B/01/2

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA PROGRAM PASCA SARJANA UNM 31/4