You are on page 1of 7

I.

DIAGNOSIS 3,12 Diagnosis trauma okuli ditegakkan berdasarkan anamnesis,

pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang jika tersedia. A. Pada anamnesis diperhatikan hal-hal berikut ini: a. Sifat Cedera 1. Disertai trauma yang mengancam jiwa 2. Durasi dan jenis trauma 3. Komposisi objek asing intraokuler 4. Penggunaan proteksi mata 5. Penangganan sebelumnya b. Riwayat Penyakit Mata 1. Riwayat penyakit refraksi 2. Penggunaan obat mata semasa 3. Operasi yang terakhir c. Riwayat Penyakit Lain 1. Diagnosa 2. Penggunaan obat tertentu 3. Alergi obat 4. Faktor risiko untuk HIV/Hepatitis 5. Tetanus profilaksis Anamnesis juga harus mencakup perkiraan ketajaman penglihatan sebelum dan segera setelah trauma terjadi. Harus dicatat apakah gangguan penglihatan perlangsungannya cepat atau lambat. Harus

dicurigai pula kemungkinan adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat memaku, mengasah, atau ledakan. B. Pemeriksaan Fisis Pemeriksaan fisis dilakukan secara hati-hati dan manipulasi dilakukan seminimal mungkin. Evaluasi pada pasien trauma okuli perforans harus diikuti oleh pemeriksaan secara umum dan juga pemeriksaan oftalmologi. Pemeriksaan dilakukan dengan minimal manipulasi pada mata untuk mengurangi risiko prolaps dari isi intraokuler.8 Slit Lamp akan memungkinkan pemeriksaan yang lebih detail, yang dapat menunjukkan: 13 a. Bilik mata anterior yang lebih dangkal dibandingkan dengan mata kontralateral dapat mengimplikasikan trauma tembus anterior. b. Hifema mikroskopik dimana terdapat sel darah merah di dalam bilik mata anterior namun tidak cukup untuk membentuk hifema.

C. Pemeriksaan Penunjang9,13 1. USG B-scan Dengan menggunakan alat ini, dapat mendeteksi sekiranya terdapat objek asing yang masih tersisa pada bola mata. Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat menilai kondisi posterior bola mata apa ada terjadi ablasi retina atau tidak. 2. CT-Scan

Dengan menggunakan CT-Scan kontur dari bola mata dapat dievaluasi dengan teliti apa ada kedangkalan pada bilik mata depan, dislokasi lensa, ablasi koroid, perdarahan vitrous, dan juga objek asing. II. PENATALAKSANAAN 8 Pre-Operatif 1. Bagian mata diperban dengan kasa yang steril 2. Hindari menggunakan obat topikal ataupun intervensi-intervensi lain yang perlu membuka tutup mata 3. Berikan obat yang sesuai untuk sedatif, dan juga control kesakitan 4. Intravena antibiotik 5. Berikan suntikan anti tetanus Non-Operatif Sebagian dari trauma perforans sangat minimal sehingga ia sembuh dengan sendirinya tanpa ada kerusakan intraokuler, mahupan prolaps. Kasus-kasus sebegini hanya memerlukan terapi antibiotik sistemik ataupun topikal dengan observasi yang ketat. 1. Tirah baring sempurna (bed rest total) Penderita ditidurkan dalam keadaan telentang dengan posisi kepala diangkat(beri alas bantal). Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta memudahkan kita mengevaluasi perdarahannya 2. Bebat mata

Hal ini mengurangi pergerakan bola mata yang sakit, serta menghindari bola mata dari paparan benda asing yang dapat memperparah serta menyebabkan infeksi luka/perforasi bola mata 3. Pemakaian obat-obatan Koagulansia, golongan obat ini dapat diberi peroral maupun parenteral, berguna untuk menghentikan atau menekan perdarahan Okular hipotensif drug. Acetazolamide secara oral sebanyak 3x sehari bilamana ditemukan kenaikan TIO Kortikosteroid dan antibiotika Obat-obatan lain. Sedativa dapat diberikan bilamana penderita gelisah. Diberikan analgerik bilamana timbul nyeri.(2) Penanganan Operatif Laserasi korneoskleral dengan uvea prolaps biasanya memerlukan penanganan operasi di bawah anaestesi general. Tujuan pertama dari prosedur ini adalah untuk mempertahankan keutuhan dari bola mata. Keduanya adalah untuk mengembalikan penglihatan pasien semaksimal mungkin. Langkah atau tekhnik operasi tersebut : a. Anestesi umum b. Insisi

Gambar 8. Laserasi corneoscleral. Mengembalikan hubungan anatomi pada laserasi korneoskleral Dikutip dari kepustakaan no.8 III. KOMPLIKASI Komplikasi setelah trauma okuli perforans:2,13 a. Infeksi : endoftalmitis, panoftalmitis b. Katarak traumatik Katarak akibat cedera pada mata dapat akibat trauma perforasi ataupun tumpul terlihat sesudah beberapa hari ataupun tahun. Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkabsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius. Trauma tembus dapat menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan menutup dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga terbentuk kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus besar pada lensa akan

mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan terdapatnya lensa di dalam bilik mata depan. c. Glaukoma sekunder Trauma dapat mengakibatkan kelainan jaringan dan susunan jaringan di dalam mata yang dapat mengganggu pengaliran cairan mata sehingga menimbulkan glaukoma sekunder d. Ablasi retina Trauma diduga merupakan pencetus untuk terlepasnya retina dari koroid pada penderita ablasi retina. Biasanya pasien telah mempunyai bakat untuk terjadinya ablasi retina ini seperti retina tipis akibat retinitis semata, myopia, dan proses degenerasi retina lainnya. Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang dari koroid atau sel pigmen epitel akan mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung lama akan mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap.

IV. PROGNOSIS Prognosis trauma okuli perforans bergantung pada banyak faktor, seperti:2 1. Besarnya luka tembus, makin kecil makin baik 2. Tempat luka pada bola mata 3. Bentuk trauma apakah dengan atau tanpa benda asing 4. Benda asing megnetik atau non megnetik

5. Dalamnya luka tembus, apakah tumpul atau luka ganda 6. Sudah terdapat penyulit akibat luka tembus Prognosis bervariasi, tanda-tanda prognosis yang buruk termasuk daya penglihatan yang menurun, adanya defek pupil aferen, laserasi sklera posterior, ablasio retina atau perdarahan vitreus.13