You are on page 1of 3

Antibiotik pencegahan TB mengurangi risiko kematian untuk orang dengan HIV

Oleh: Richard Chaisson, 22 Agustus 2013 Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Lancet Infectious Diseases edisi 14 Agustus 2013, peningkatan skrining untuk tuberkulosis (TB) dan pengobatan profilaksis degan isoniazid mengurangi insidensi penyakit TB aktif dan juga mengurangi kematian di antara pasien yang dirawat di klinik HIV di Brasil. Studi ini menghasilkan bukti pertama bahwa upaya masyarakat luas dapat mencegah orang dengan koinfeksi HIV dan TB untuk mengembangkan penyakit TB aktif. Betina Durovni dari Sekretariat Kesehatan Kota di Rio de Janeiro dan sebuah tim internasional dari rekan yang melakukan uji coba secara acak yang melibatkan hampir 13,000 pasien di 29 klinik HIV di Rio de Janeiro. Secara bertahap, pada tanggal yang diacak (dimulai pada September 2005), klinik memulai program skrining TB dan terapi pencegahan dengan menggunakan isoniazid. Tindak lanjut terus dilakukan sampai Agustus 2009. Studi yang didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation dari Institut Kesehatan Nasional AS menemukan bahwa intervensi ini meningkatkan tingkat tes kulit tuberkulin dari 19 menjadi 59 per 100 orang-tahun. Kasus yang baru didiagnosis dari TB aktif menurun dari 13% ketika membandingkan periode dengan dan tanpa intervensi, sementara tingkat yang dikombinasikan untuk TB aktif dan kematian menunjukkan penurunan sebesar 24%. Pelatihan operasional bertujuan untuk meningkatkan skrining TB, menyediakan tes kulit tuberkulin, dan penggunaan terapi pencegahan isoniazid di klinik HIV di Brasil mengurangi insiden TB dan kematian secara signifikan, para peneliti menyimpulkan. Oleh karenanya peningkatan skala terapi pencegahan untuk pasien yang terinfeksi HIV di pengaturan dimana insidensi TB moderat dapat dicapai dan harus diterapkan secara luas di Brasil dan di tempat lain. Studi menunjukkan terapi isoniazid harus dipertimbangkan untuk jutaan orang yang terinfeksi HIV di seluruh dunia Sebagai bagian dari upaya penelitian internasional terbesar yang pernah dibuat untuk memerangi tuberkulosis, tim Johns Hopkins dan para ahli dari Brasil telah menemukan bahwa terapi antibiotik pencegahan untuk orang dengan HIV menurunkan kemungkinan bagi kelompok ini untuk mengembangkan TB atau meninggal karena TB. Secara khusus, mereka menemukan bahwa penggunaan isoniazid pada pria dan perempuan yang sudah terinfeksi dengan HIV dapat mengurangi kematian dan kasus penyakit TB aktif baru sebesar 3%, sedangkan kasus TB baru menurun sebesar 13%. Temuan para tim peneliti yang akan diterbitkan dalam jurnal Lancet Infectious Diseases edisi 16 Agustus 2013 berasal dari sebuah studi yang terbesar dari sebuah program kesehatan masyarakat berbasis klinik yang dirancang untuk mencegah penyebaran TB. Studi ini juga merupakan bukti pertama bahwa usaha yang sangat luas dari masyarakat sangat efektif untuk mencegah orang yang juga terinfeksi dengan HIV untuk mengembangkan penyakit TB aktif. Menurut peneliti senior dan juga merupakan seorang spesialis penyakit menular di Johns Hopkins, Richard Chaisson, MD, temuan studi timnya secara tegas mendukung penggunaan terapi pencegahan TB dengan menggunakan isoniazid bagi jutaan orang yang terinfeksi HIV Amerika Latin, negara-negara Asia, dan Eropa Timur yang sangat terbebani oleh TB. Chaisson mengatakan penyakit TB tetap menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia di antara mereka yang hidup dengan HIV/AIDS dan epidemi di negara-negara berkembang dengan tingkat infeksi HIV tertinggi. Pengobatan isoniazid, yang biayanya kurang dari $1 untuk keseluruhan terapi, sudah direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia untuk mencegah TB pada orang dengan penyakit HIV. Namun, kebijakan ini belum diadopsi secara luas dan dampaknya yang luas pada masyarakat yang terinfeksi HIV tidak pernah ditampilkan sampai Johns Hopkins dan tim Brasil menunjukkan dalam hasil studi mereka. Secara keseluruhan ada 12.816 peserta penelitian yang memenuhi syarat untuk skrining untuk infeksi TB atau penyakit TB aktif. 1.186 diantaranya dinyatakan positif terinfeksi TB, tetapi tidak memiliki gejala Dokumen ini diunduh dari situs web Yayasan Spiritia http://spiritia.or.id/

Antibiotik pencegahan TB mengurangi risiko kematian untuk orang dengan HIV

penyakit TB dan bisa mulai menggunakan 300 miligram isoniazid setiap hari selama enam bulan. Semuanya menerima perawatan tindak lanjut setidaknya empat minggu sampai empat tahun setelah mencari pengobatan di 29 klinik HIV di seluruh Brasil, sebuah negara yang memiliki beban HIV dan TB yang sangat tinggi. 838 kematian terjadi selama studi yang dilakukan selama empat tahun, dan 475 mengembangkan TB. Gejala dari TB aktif, mengindikasikan penyakit telah berkembang dari infeksi laten, termasuk batuk yang berkepanjangan, nyeri pada dada, demam, menggigil, kelemahan otot dan kelelahan. Hasil studi kami menunjukkan bahwa tes rutin untuk TB dan terapi pencegahan isoniazid bekerja dengan baik pada tingkat masyarakat pada orang dengan penyakit HIV dalam mengendalikan penyebaran TB dan menurunkan jumlah yang meninggal, kata Chaisson, seorang profesor di Johns Hopkins University School of Medicine dan direktur pendiri Pusat Penelitian TB. Orang dengan penyakit HIV yang hidup di semua negara dengan TB yang merajalela harus menanyakan pada dokter mereka jika mereka adalah kandidat yang baik untuk terapi pencegahan isoniazid, kata Chaisson, yang memimpin upaya penelitian global secara keseluruhan, untuk mendukung penelitian yang disebut dengan Consortium to Respond Effectively to the AIDS/TB Epidemic (CREATE). CREATE didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation. Ketika para peneliti membatasi analisis mereka pada 12,196 peserta studi yang menghadiri kunjungan setidaknya satu tahun sekali, tingkat kematian keseluruhan dan jumlah kasus TB baru bahkan lebih rendah, pada 55%. Jumlah kasus TB aktif menurun sebesar 58%. Di antara peserta studi yang menerima isoniazid yang umumnya dipasarkan dengan merek Niazid, Laniazid dan Nydrazid 85% menggunakan terapi selama enam bulan, seperti yang ditentukan. Para peneliti mengatakan bahwa temuan penting lainnya adalah skrining TB awal bagi mereka yang mencari perawatan HIV menghasilkan diagnosis lebih dari sepertiga (34%, atau 250) dari total 725 pasien klinik baru yang ditemukan memiliki TB aktif. Semuanya ditawarkan pengobatan untuk penyakit mereka namun dikeluarkan dari analisis studi. Pemimpin penelitian studi dan Johns Hopkins epidemiologi Jonathan Golub, PhD, MPH, mengatakan bahwa studi itu sendiri merupakan alat skrining yang efektif, dan menegaskan bagaimana kasus TB yang tidak diketahui dapat ditemukan ketika para pejabat kesehatan masyarakat berfokus pada program-program kesehatan masyarakat di klinik lokal yang melayani orang yang lebih mungkin terinfeksi. Di Brasil, sekitar 10% dari orang yang didiagnosis dengan TB juga memiliki koinfeksi dengan HIV. Golub mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan berapa lama efek perlindungan isoniazid akan bertahan dan apakah satu rangkaian pengobatan cukup, atau apakah terapi ulangan atau terapi seumur hidup dibutuhkan untuk menekan TB. Upaya kami menyoroti pentingnya pelatihan yang berkesinambungan untuk diagnosis TB, dan prioritas utama kami adalah untuk melatih dokter dan perawat di klinik HIV untuk membuat tes TB bagian dari perawatan HIV rutin, kata Golub, seorang profesor di Johns Hopkins. Golub menunjukkan bahwa di Brasil kebijakan skrining TB telah ada sejak tahun 1995, tetapi kebijakan ini tidak diikuti. Golub mengatakan bahwa sekali klinik terlibat dalam studi, jumlah tes TB kulit meningkat tiga kali lipat, dan jumlah pasien yang menggunakan isoniazid meningkat empat kali lipat. Untuk kepentingan penelitian ini, staf di klinik dilatih secara ketat mengenai prosedur yang benar untuk menskrining semua pasien dengan HIV terhadap kemungkinan infeksi TB dan tanda-tanda penyakit TB aktif. Pasien yang dinyatakan positif aktif terhadap TB ditawarkan pengobatan, tetapi tidak dimasukkan dalam pemantauan studi. Mereka yang memenuhi kriteria studi ditawarkan terapi pencegahan TB dengan menggunakan isoniazid. Untuk mendeteksi TB, tes kulit yang sederhana dilakukan pada awal, yang tes tersebut positif, dilakukan konfirmasi dengan rontgen. Pelatihan intensif di 29 klinik dilakukan secara acak setiap dua bulan, yang memungkinkan staf di semua klinik untuk mendapatkan keuntungan dari upaya peningkatan penelitian. Jangka waktu penelitian yang lama juga memberikan para peneliti waktu yang lama untuk menilai dampak isoniazid sebelum dan sesudah pelatihan. Peserta studi adalah 61% laki-laki dan rata-rata 37 tahun. 60% menerima terapi antiretroviral untuk HIV.

Antibiotik pencegahan TB mengurangi risiko kematian untuk orang dengan HIV

Chaisson mengatakan rencana tim berikutnya adalah untuk mengevaluasi tes diagnostik cepat untuk TB, selain tes kulit awal, yang memakan waktu hanya beberapa menit untuk dilakukan, tetapi membutuhkan masa tunggu 48 jam untuk menunjukkan reaksi. Dia mengatakan tes yang ideal akan menjadi tes darah yang dapat dilakukan pada waktu yang sama dengan tes rutin untuk memantau CD4. Selain Bill dan Melinda Gates Foundation, dukungan dana untuk penelitian ini berasal dari National Institutes of Health Fogarty International Center dan National Institutes of Health. Nomor hibah adalah U2RTW006885, AI066994 dan AI001637. Setiap tahun, di seluruh dunia diperkirakan ada 8,7 juta kasus TB baru yang didiagnosis, dan lebih dari 1 juta orang meninggal dari penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini. Di China saja, lebih dari 1 juta kasus TB aktif baru muncul setiap tahun. TB menular ketika seorang yang tidak terinfeksi menghirup sejumlah kecil bakteri TB yang ada di udara. Antibiotik dapat menyembuhkan penyakit tapi membutuhkan kepatuhan terhadap pengobatan. Secara global, 34 juta orang diperkirakan hidup dengan HIV pada akhir 2011, sebagian besar di Afrika Sub Sahara. Ringkasan: Preventive Antibiotics for Tuberculosis Lower Risk of Death for People with HIV
Sumber: B Durovni, V Saraceni, LH Moulton, RE Chaisson, JE Golub, et al. Effect of improved tuberculosis screening and isoniazid preventive therapy on incidence of tuberculosis and death in patients with HIV in clinics in Rio de Janeiro, Brasil: a stepped wedge, cluster-randomised trial. Lancet Infectious Diseases S1473-3099(13)70187-7. August 14, 2013 (Epub ahead of print). MX Rangaka and RJ Wilkinson. Isoniazid prevention of HIV-associated tuberculosis (Commentary). Lancet Infectious Diseases S1473-3099(13)70218-4. August 14, 2013 (Epub ahead of print). Johns Hopkins Medicine. Preventive Antibiotics for Tuberculosis Reduce Deaths Among People With HIV Disease. Press release. August 16, 2013.