You are on page 1of 14

Martiana Helena 102009173 Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Email ale!dismh"!

ahoo#co#id

$E%&'HU(U'% Saat ini diseluruh dunia tengah terjadi epidemi asma, yaitu peningkatan prevalensi dan derajat asma terutama pada anak-anak, baik dinegara maju maupun dinegara berkembang. Dilain pihak, walaupun banyak hal yang berkaitan dengan asma telah terungkap namun ternyata hingga saat ini secara keseluruhan asma masih merupakan misteri. Pengetahuan tentang patologi, fisiologi dan imunologi asma berkembang sangat pesat, khususnya untuk asma pada orang dewasa dan anak besar. Pada anak kecil dan bayi mekanisme dasar perkembangan penyakit ini masih belum diketahui pasti. Lagipula bayi dan balita yang mengalami mengi saat terkena infeksi saluran nafas akut, banyak yang tidak berkembang menjadi asma saat dewasanya. Selama sepuluh tahun terakhir banyak penelitian epidemiologi tentang asma bronkial dan penyakit alergi berdasarkan kuisioner telah dilaksanakan di berbagai belahan dunia. Semua penelitian ini walaupun memakai berbagai metode dan kuisioner namun mendapatkan hasil yang konsisten untuk prevalensi asma bronkial sebesar -! " pada populasi umum dengan prevalensi lebih banyak pada wanita dibandingkan laki-laki. Di #ndonesia belum ada data epidemiologi yang pasti namun diperkirakan berkisar $-%".! !

)') ** $EM)'H'+'% '+M' ),-%K*'(

2#1

&EF*%*+* &#'( )&lobal #nitiative for (sthma* mendefinisikan asma sebagai

gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan antara lain sel mast, eosinofil, dan limfosit + yang menyebabkan episode mengi berulang, sesak napas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya malam dan dini hari. ,erhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang luas dan bervariasi, sebagian besar bersifat reversibel, juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan nafas terhadap berbagai rangsangan. ,atasan ini sangat lengkap, tetapi dalam penerapan klinis untuk anak tidak praktis. -leh karena itu .onsensus 'asional (sma (nak ).'((* memberi batasan sebagai berikut / (sma adalah mengi berulang dan0atau batuk persisten dengan karakteristik timbul secara episodik, cenderung pada malam dan dini hari )nocturnal*, musiman, setelah aktivitas fisik, serta mempunyai riwayat asma atau atopi lain dalam keluarga, atau penderita sendiri.

2#2

E$*&EM*-(-.* .ira-kira 1-12" populasi anak dilaporkan pernah menderita asma. ,elum

ada penyelidikan menyeluruh mengenai angka kejadian asma pada anak #ndonesia, namun diperkirakan berkisar antara -!2". (sma dapat timbul pada

segala umur3 $2" penderita bergejala pada umur ! tahun, sedang %2-42" anak asma mempunyai gejala pertama sebelum umur 5- tahun!,1 Selama sepuluh tahun terakhir banyak penelitian epidemiologi tentang asma bronkial dan penyakit alergi berdasarkan kuisioner telah dilaksanakan di berbagai belahan dunia. Semua penelitian ini walaupun memakai berbagai metode dan kuisioner namun mendapatkan hasil yang konsisten untuk prevalensi asma bronkial sebesar -! " pada populasi umum dengan prevalensi lebih banyak pada wanita dibandingkan laki-laki. Di #ndonesia belum ada data epidemiologi yang pasti namun diperkirakan berkisar $-%".! Dua pertiga penderita asma bronkial merupakan asma bronkial alergi )atopi* dan 2" pasien asma bronkial berat merupakan asma bronkial atopi. (sma

bronkial atopi ditandai dengan timbulnya antibodi terhadap satu atau lebih alergen seperti debu, tungau rumah, bulu binatang dan jamur. (topi ditandai oleh peningkatan produksi #g6 sebagai respon terhadap alergen. Prevalensi asma bronkial non atopi tidak melebihi angka !2". (sma bronkial merupakan interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.!

2#3

E/*-(-.* Penyebab asma masih belum jelas. Diduga yang memegang peranan penting

ialah reaksi berlebihan dari trakea dan bronkus )hiperreaktivitas bronkus*. (sma merupakan gangguan kompleks yang melibatkan faktor autonom, imunologis, infeksi, endokrin dan psikologis.

Secara etiologis, asma bronchial terbagi dalam $ tipe/ !. (sma bronchial tipe non atopi (intrinsic) (sma intrinsik adalah asma yang tidak responsif terhadap pemicu yang berasal dari allergen. (sma ini disebabkan oleh stres, infeksi saluran nafas dan kodisi lingkungan yang buruk seperti kelembaban, suhu, polusi udara, 7at-7at iritan kimia atau obat-obatan serta aktivitas olahraga yang berlebihan. Pada golongan ini keluhan ini tidak ada hubungannya dengan paparan )e8posure* terhadap allergen dengan sifat-sifat/ Serangan timbul setelah dewasa Pada keluarga tidak ada yang menderita asma Penyakit infeksi sering menimbulkan serangan (da hubungan dengan pekerjaan atau beban fisik 9angsangan0stimuli psikis mempunyai peran untuk menimbulkan serangan reaksi asma Perubahan-perubahan cuaca atau lingkungan yang non-spesifik merupakan keadaan yang peka bagi penderita. 1. (sma bronchial tipe atopi )ekstrinsic* (sma ekstrinsik adalah bentuk asma paling umum yang disebabkan karena reaksi alergi penderita terhadap allergen dan tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap orang yang sehat. Pada golongan ini, keluhan ada hubungannya dengan paparan )e8posure* terhadap allergen lingkungan yang spesifik. .epekaan ini 5

biasanya dapat ditimbulkan dengan uji kulit atau uji provokasi bronchial. Pada tipe mempunyai sifat-sifat/ +imbul sejak kanak-kanak .eluarga ada yang menderita asma (danya eksim saat bayi Sering menderita rhinitis Di #nggris jelas penyebabnya :ouse Dust ;ite, di <S( tepung sari bunga rumput. $. (sma bronchial tipe campuran )mixed* Pada golongan ini, keluhan diperberat baik oleh faktor-faktor intrinsic maupun ekstrinsik.

2#0

$'/-.E%E+*+ ;anifestasi penyumbatan jalan nafas pada asma disebabkan oleh

bronkokonstriksi, hipersekresi mukus, edema mukosa, infiltrasi seluler, dan des=uamasi sel epitel serta sel radang. Salah satu sel yang memegang peranan penting pada patogenesis asma ialah sel mast. Sel mast dapat terangsang oleh berbagai pencetus misalnya allergen, infeksi, e8ercise dan lain-lain. Sel ini akan mengalami degranulasi dan mengeluarkan bermacam-macam mediator. Selain sel mast, sel basofil dan beberapa sel lain dapat juga mengeluarkan mediator. ,ila alergen sebagai pencetus, maka alergen yang masuk kedalam tubuh merangsang sel plasma atau sel pembentuk antibodi lainnya untuk menghasilkan

antibodi reagenik, yang disebut juga #munoglobulin 6 )#g 6*. Selanjutnya #g.6 akan beredar dan menempel pada reseptor yang sesuai pada dinding sel mast. Sel mast yang demikian disebut sel mast yang tersensitisasi. (pabila alergen yang serupa masuk kedalam tubuh, alergen tersebut akan menempel pada sel mast yang tersensitisasi dan kemudian akan terjadi degradasi dinding dan degranulasi sel mast. ;ediator dapat bereaksi langsung dengan reseptor di mukosa bronchus sehingga menurunkan siklik (;P kemudian terjadi bronkokonstriksi. ;ediator dapat juga menyebabkan bronkokonstriksi dengan mengiritasi reseptor iritan.

.am1ar 1 bronkiolus normal dan bronkiolus pada asma bronkial Permeabilitas epitel juga meningkat karena infeksi, asap rokok dengan peningkatan aktivitas reseptor iritan. ;ediator dapat pula meninggikan permeabilitas dinding kapiler sehingga #g6 dan Leukosit masuk kedalam jaringan ikat bronkus. Dapat juga terjadi reaksi komplek antigen-antibody kemudian terjadi kerusakan leukosit, lisosom keluar, kerusakan jaringan setempat dan pengeluaran prostaglandin serta mediator lainnya. Prostaglandin >1 )P&# >1* menurunkan siklik (;P dan terjadi bronkokonstriksi.!,1

2#2

K('+*F*K'+* '+M' $,5 +edan5 ,erbicara )erat #stirahat .ata-kata Duduk bertopang lengan ,iasanya iritable kebingungan (da Sangat terdengar stetoskop ,erat #ya Dalam, ditambah &erakan nafas cuping hidung paradok torakoabdominal ;eningkat ;enurun +akikardi ,radikardi D52" D?2", D1jam respon nyata nyaring, Sulit0tidak tanpa terdengar 'ncaman henti na4as

$arameter klinis3 4un5si 6aru3 ,in5an la1oratorium Sesak timbul pada ,erjalan saat ,icara .alimat Posisi .esadaran Sianosis ;engi

Sesak nafas -tot bantu nafas 9etraksi

Penggal kalimat ,isa berbaring Lebih suka duduk ;ungkin ,iasanya iritable iritable +idak ada +idak ada Sedang, sering 'yaring, hanya pada sepanjang akhir ekspirasi ekspirasi@ inspirasi ;inimal Sedang ,iasanya tidak ,iasanya iya Dangkal, retraksi intercostal ;eningkat 'ormal B?2" B%2" Sedang, ditambah retraksi suprasternal ;eningkat +akikardi 52 C ?2" ?2 C %2"

Laju nafas Laju nadi P6>9 atau >6A! pra bronkodilator pas ca bronkodilator Sa-1 Pa-1 PaE-1 2#7

B4 " 'ormal D5 mm:g

4! - 4 " B?2 mm:g D5 mm:g

D42" D?2 mm:g B5 mm:g

$EME,*K+''% $E%U%8'%. 1# U9i 4aal 6aru <ji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti

perjalanan penyakit. Pemeriksaan faal paru yang penting pada asma adalah P6>9, >6A !, PAE, >6A !0>AE. 2# Foto ront5en thoraks Pada foto thoraks akan tampak corakan paru yang meningkat. 3# $emeriksaan darah3 eosino4il dan u9i tu1erkulin 6osinofil dapat ditemukan pada darah tepi, sekret hidung dan sputum. ,ila ada infeksi didapatkan pula leukositosis P;'. <ji tuberkulin diindikasikan karena jika terdapat tuberkulosis dan tidak diobati, maka asmanya pun akan sulit dikontrol. 0# /est 6rovokasi Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. (lergen yang digunakan adalah alergen yang banyak didapat

didaerahnya.1

2#7

&*'.%-+*+ Sesak nafas lama dan berulang merupakan gejala utama untuk diagnosa

asma, biasanya diantara serangan pasien dapat merasa sembuh seperti anak-anak normal lainnya. Suara tambahan whee7ing0mengi )jenis ronkhi kering yang terdengar lebih musikal atau sonor dibanding dengan ronkhi kering lainnya* berulang yang lebih nyata bila ada beban fisik. Serangan batuk malam yang menetap dan tidak berhasil diobati dengan obat batuk dan kemudian cepat menghilang setelah mendapat bronkodilator, sangat mungkin merupakan asma.

9iwayat asma pada keluarga juga merupakan petunjuk penting untuk penemuan kasus-kasus asma, riwayat asma keluarga ini kadang digambarkan dalam bentuk atopi.

2#9

K-M$(*K'+* ,ila serangan asma sering terjadi dan telah berlangsung lama, maka akan

terjadi

emfisema

dan

mengakibatkan

perubahan

bentuk

thoraks

yaitu

membungkuk kedepan dan memanjang. Pada asma kronik dan berat dapat terjadi bentuk dada burung dara. ,ila sekret banyak dan kental, salah satu bronkus dapat tersumbat sehingga dapat terjadi atelektasis pada lobus segmen yang sesuai. ,ila atelektasis berlangsung lama dapat berubah menjadi bronkiektasis dan bila ada infeksi akan terjadi bronkopneumonia. Serangan asma yang terus menerus dan berlangsung beberapa hari serta berat dan tidak dapat diatasi dengan obat-obat biasa disebut status asmatikus.1

2#10 $E%.-)'/'% +ujuan tata laksana !. 1. $. 5. . ?. Pasien dapat menjalani aktivitas normal sedikit mungkin angka absensi sekolah &ejala tidak timbul siang atau malam hari <ji fungsi paru senormal mungkin .ebutuhan obat seminimal mungkin 6fek samping obat dapat dicegah

Penatalaksanan asma bronkial terdiri dari pengobatan non medikamentosa dan pengobatan medikamentosa / !. Pengobatan non medikamentosa Pengobatan non medikamentosa terdiri dari / - Penyuluhan - ;enghindari faktor pencetus - Pengendalian emosi - Pemakaian oksigen 1. Pengobatan medikamentosa$ Pada prinsipnya pengobatan asma dibagi menjadi dua golongan yaitu antiinflamasi merupakan pengobatan rutin yang bertujuan mengontrol penyakit serta mencegah serangan dikenal dengan pengontrol, dan bronkodilator yang merupakan pengobatan saat serangan untuk mencegah eksaserbasi0serangan dikenal dengan pelega. !. (ntiinflamasi )pengontrol* - .ortikosteroid .ortikosteroid adalah agen anti inflamasi yang paling potensial dan merupakan anti inflamasi yang secara konsisten efektif sampai saat ini. 6feknya secara umum adalah untuk mengurangi inflamasi akut maupun kronik, menurunkan gejala asma, memperbaiki aliran udara, mengurangi

hiperresponsivitas saluran napas, mencegah eksaserbasi asma, dan mengurangi remodelling saluran napas. .ortikosteroid terdiri dari kortikosteroid inhalasi dan sistemik. !2

- .romolin ;ekanisme yang pasti kromolin belum sepenuhnya dipahami, tetapi diketahui merupakan antiinflamasi non steroid, menghambat penglepasan mediator dari sel mast. - ;etilsantin +eofilin adalah bronkodilator yang juga mempunyai efek ekstrapulmoner seperti antiinflamasi. - (gonis beta-1 kerja lama +ermasuk di dalam agonis beta-1 kerja lama inhalasi adalah salmeterol dan formoterol yang mempunyai waktu kerja lama )B!1 jam*. Pada pemberian jangka lama mempunyai efek anti inflamasi walau pun kecil. - Leukotriene modifiers -bat ini merupakan antiasma yang relatif baru dan pemberiannya melalui oral. Selain bersifat bronkodilator juga mempunyai efek anti inflamasi.

1. ,ronkodilator )pelega* - (gonis beta 1 kerja singkat +ermasuk golongan ini adalah salbutamol, terbutalin, fenoterol, dan prokaterol yang telah beredar di #ndonesia. Pemberian dapat secara inhalasi atau oral, pemberian secara inhalasi mempunyai onset yang lebih cepat dan efek samping yang minimal. - ;etil8antin +ermasuk dalam bronkodilator walau efek bronkodilatasinya lebih lemah dibanding agonis beta 1. !!

- (ntikolinergik Pemberian secara inhalasi. ;ekanisme kerjanya memblok efek

penglepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan nafas. ;enimbulkan bronkodilatasi dengan menurunkan tonus vagal intrinsik, selain itu juga menghambat reflek bronkokonstriksi yang disebabkan iritan. '# 'sma &era9at ,in5an Eukup diobati dengan obat pereda berupa bronkodilator G agonis hirupan kerja pendek bila perlu saja.bila obat hirupan tidak ada atau tidak dapat digunakan maka G agonis diberikan peroral. )# 'sma &era9at +edan5 Hika penggunaan G agonis hirupan sudah lebih dari $ kali perminggu,atau serangan sedang0berat terjadi lebih dari sekali dalam sebulan , maka penggunaan anti inflamasi sudah terindikasi. :# 'sma )erat 1# 'sma 1erat# Steroid hirupan biasanya efektif dengan dosis rendah. Sebelum menaikkan dosis steroid hirupan, dapat dipertimbangkan penambahan salah satu obat seperti G agonis kerja panjang atau G agonis lepas terkendali,atau teofilin lepas lambat atau anti leukotrien. 1. 'sma san5at 1erat. Pertimbangkan penambahan salah satu obat / G agonis kerja panjang. G agonis lepas terkendali +eofilin lepas lambat

!1

2#11

(ntileukotrien

$,-.%-+*+ ;ortalitas akibat asma sedikit nilainya. &ambaran yang paling akhir

menunjukkan kurang dari 222 kematian setiap tahun dari populasi beresiko yang berjumlah kira-kira !2 juta. Sebelum dipakai kortikosteroid, secara umum angka kematian penderita asma wanita dua kali lipat penderita asma pria. Huga suatu kenyataan bahwa angka kematian pada serangan asma dengan usia lebih tua lebih banyak, kalau serangan asma diketahui dan di mulai sejak kanak-kanak dan mendapat pengawasan yang cukup kira-kira setelah 12 tahun, hanya !" yang tidak sembuh dan di dalam pengawasan tersebut kalau sering mengalami serangan commond cold 14" akan mengalami serangan ulangan.! Pada penderita yang mengalami serangan intermiten )kumat-kumatan* angka kematiannya 1", sedangkan angka kematian pada penderita yang dengan serangan terus menerus angka kematiannya 4". !

!$

&'F/', $U+/'K'

!.

'elson I6. (sma. Dalam/ #lmu .esehatan (nak 'elson. 6disi ! Aol. !. (lih ,ahasa/ Iahab S.(. Penerbit ,uku .edokteran 6&E. Hakarta. !44F3 FF C 42.

1.

Santosa :, (kib (, ;unasir J, .urniati ', ;atondang E, :arsono (, et al. dalam ,uku (jar (lergi-#munologi (nak, 6disi 1, #katan Dokter (nak #ndonesia, Hakarta, 122F3 1 $-? .

$.

Pengurus Pusat #katan Dokter (nak #ndonesia. (sma Dalam/ +emu #lmiah 9espirologi (nak #A. ,agian >. C <S< 0 9S. :(; ;edan. 122$3 ! C !1.

5.

:asan 9., (latas :. (sma. Dalam/ ,uku .uliah #lmu .esehatan (nak $. Penerbit >akultas .edokteran <niversitas #ndonesia. Hakarta. !4% 3 !12$ C 1%.

;atondang ES., Iahidiyat #., Sastroasmoro S. Paru. Dalam/ Diagnosis >isik Pada (nak. 6disi 1 Penerbit EA. Sagung Seto. Hakarta. 122$3 F2 C 5.

!5