You are on page 1of 3

PROSES KEPERAWATAN PRAOPERATIF BEDAH APENDEKTOMI Pengkajian Prabedah Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang

didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum local. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri visceral di daerah epigastrium disekitar umbilicus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam, nyeri akan berpindah kea rah kanan bawah ke titik McBurney. Di sini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatic setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. (Syamsuhidayat,2005) Bila terdapat perangsangan peritoneum, biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, maka tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada rangsangan peritoneal karena letaknya terlindung oleh sekum. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal. Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rectum sehingga peristaltic meningkat. Pengosongan rectum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, maka dapat terkadi peningkatan rekuensi kencing, karena rangsangan dindingnya. (Lewis, 2000) Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah, menjadi lemah dan letargik. Karena gejala dan tanda yang tidak khas tadi, sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi. Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada orang yang berusia lanjut yang gejalanya sering samarsamar saja, sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi. Pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah, tapi lebih ke region lumbal kanan. Pengakajian fisik. Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5 38,5 C. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksila dan rektal sampai 1C. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses periapendikuler. Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada region iliaka kanan, bisa disertai nyeri lepas. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda Rousting. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri (Syamsuhidayat, 2005)

Pemeriksaan diagnostic. Pengkajian diagnostic yang diperlukan adalah pemeriksaan darah rutin, kimia darah, dan hasil pemeriksaan biopsi. Pemeriksaan USG abdomen dan CT Scan diperlukan untuk menilai adanya tumor ganas. Diagnosis Keperawatan Prebedah 1. Nyeri b/d respons peradangan pada apendiks 2. Kecemasan b/d prognosis penyakit, rencana pembedahan 3. Kurang pengetahuan b/d prosedur pembedahan, ketegangan akibat krisis situasional Rencana Intervensi Keperawatan Prabedah Difokuskan pada kelancaran persiapan pembedahan, penurunan respons nyeri, dukungan prebedah, dan pemenuhan informasi. Persiapan pembedahan dilakukan secara umum. Pasien perlu dianjurkan puasa 6 jam sebelum pembedahan, bilas usus pada pagi hari, serta mencukur area pubis dan abdomen. Kelengkapan informed consent perlu diperhatikan. Penurunan respon nyeri dengan menejemen nyeri keperawatan, meliputi: pengaturan posisi fisiologis, mengistirahatkan pasien, pengaturan lingkungan, relaksasi nafas dalam, metode distraksi, dan menejemen sentuhan. Kolaborasi penberian analgesic secara intravena dilakukan untuk nyeri sedang dan berat. Rencana intervensi penurunan respon kecemasan praoperatif secara umum hampir sama dengan rencana praoperatif lainnya. Pengetahuan pasien saat ini tentang diagnosis, prognosis, prosedur bedahdan tingkat fungsi yang diinginkan pada pascaoperatif harus dikaji. Informasi yang diperlukan, bagaimana hal ini ditunjukkan, kapan pasien paling dapat menerimanya, dan siapa yang harus menemani selama instruksi, juga harus ditentukan. Informasi yang diperlukan pasien tentang persiapan fisik untuk pembedahan, penampilan dan perawatan yang diharapkan dari luka pascaoperatif, teknik perawatan ostomi, pembatasan diet, control nyeri, dan penatalaksanaan obat dimasukkan dalam materi rencana penyuluhan. Cairan tubuh positif. Pasien didorong untuk mengungkapkan perasaan dan masalah yang dialami serta mendiskusikan tentang pembedahan dan stoma (bila telah dibuat). Perawatan kolostomi harus dipelajari dan pasien harus mulai merencanakan untuk memasukkan perawatan stoma dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan pendukung dan sikap dari pihak perawat penting dalam meningkatkan adaptasi pasien terhadap perubahan yang terjadi akibat pembedahan. EVALUASI PRAOPERATIF Kriteria evaluasi yang diharapkan pada pembedahan kolostomi, meliputi: kelancaran pembedahan optimal dilaksanakan, terdapat penurunan tingkat nyeri, terpenuhinya dukungan prabedah, dan pemenuhan informasi serta koping pasien adaptif. Di ruang prabedah Perawat melakukan pengkajian ringkas mengenai kondisi fisik pasien dan kelengkapan yang berhubungan dengan pembedahan. Diagnosis keperawatan individu bergantung pada pengkajian keperawatan. tinjau rekam medic untuk merencanakan kebutuhan pasien yang spesifik dalam hubungan

nya denga pendekatan bedah yang direncanakan, posisi pasien, kebutuhan peralatan dan pelengkapan khusus, tindakan pendahuluan (jalur kateter IV, cukur, dll) Pengkajian ringkas tersebut adalah sebagai berikut: Validasi : perawat melakukan konfirmasi kebenaran identitas pasien sebagai data dasar untuk mencocokkan prosedur jenis pembedahan yang akan dilakukan. Kelengkapan adaministrasi :CT Scan, serta nomor serial tengkorak harus tersedia dan kelengkapan informed consent. Kelengkapan alat dan sarana : sarana pembedahan seperti benang, cairan intravena, dan obat antibiotic profilaksis sesuai dengan kebijakan institusi. Pemeriksaan fisisk : terutama TTV dan neurovascular (paresthesia, kesemutan, paralisis), serta pencukuran rambut pada bagian kepala. Tingakat kecemasan dan pengetahuan pembedahan.

Diagnosis keperawatan di ruang sementara yang lazim digunakan adalah kecemasan dan pemenuhan informasi. Rencana intervensi yang lazim dilakukan adalah sbb : Observasi TTV dan kolaborasi dengan tim medis apabila ditemukan perubahan dan ketidaknormalan dari hasil pemeriksaan TTV. Observasi TTV merupakan data dasar yang penting sebagai bahan evaluasi pascabedah di ruang pemulihan. Pengaturan posisi fisiologis untuk menurunkan respons nyeri. Komunikasi terapeutik dan dukungan psikologis untuk menurunkan tingkat kecemasan. Penjelasan singkat prosedur yang akan dilakukan perawat dan dokter selama pasie masih sadar. Pemasangan kateter IV dengan jarum berdiameter besar.

Evaluasi yang diharapkan pada pasien di ruang seentara adalah sbb : TTV dalam batas normal Respon nyeri tidak meningkat dan perdarahan dapat terkontrol Tingkat kecemasan pasien menurun Pasien mendapat dukungan psikologis dan secara singkat dapat menjelaskan perihal prosedur pembedahan Pasien sudah terpasang kateter IV