You are on page 1of 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena dengan kekuatan dariNya kami dapat menyelesaikan Makalah Asuhan keperawatan pada KPD.Semoga dengan adanya makalah yang kami buat ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan bisa di jadikan sebagai sarana dalam melakukan proses pembelajaran. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Dosen Pembimbing atas segala

bimbingannya.Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada sesuatu yang tak sempurna, begitu pula dengan hasil kerja kami, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kelancaran tugas berikutnya.

Mataram,22 maret 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN TUJUAN BAB II PEMBAHASAN A. DEFINISI B. ETIOLOGI C. PATOFISIOLOGI D. TANDA DAN GEJALA E. PROGNOSA KPD F. KOMPLIKASI G. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN B. DIAGNOSA KEPERAWATAN C. INTERVENSI BAB IV PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Indikator kesehatan suatu Negara ditentukan oleh angka kematian ibu karena kehamilan, persalinan, dan nifas, serta kematian bayi dan balita .AKI di Indonesia hingga kini masih tergolong tinggi (Biro Stastistik, 2003) Penyebab kematian ibu adalah trias klasik, yaitu a) perdarahan 40-60%, b) infeksi 2030%, c) eklamsia 20-30% (Saefudin, 2000). Angka morbiditas dan mortalitas dapat disebabkan oleh komplikasi yang menyertai dalam persalinan, diantaranya ketuban pecah dini. Ketuban Pecah Dini (KPD) terjadi bila ketuban pecah dalam inpartu, pada primipara pembukaan <3 cm dan pada multipara pembukaan < 5 cm (Mochtar, 1998). Ketuban Pecah Dini merupakan salah satu penyebab infeksi. Pada sebagian besar kasus ketuban pecah dini berhubungan dengan infeksi intra partum (http//www.kuliah obsetri.com). Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10% dari semua persalinan , pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu, kejadian sekitar 4%. Sebagian dari kejadian ketuban pecah dini mempunyai periode laten melebihi satu minggu. Early Ruptura of Membrane (PROM) adalah ketuban pecah pada periode laten persalinan (Manuaba, 1998) TUJUAN: Tujuan umum: Untuk mendapatkan gambaran mengenai asuhan keperawatan pada ibu bersalin dengan ketuban pecah dini (KPD). Tujuan khusus: Untuk menambah pengetahuan lebih jauh dan lebih luas mengenai KPD (ketuban pecah dini), serta lebih memahami penanganan dini KPD.

BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN Ketuban Pecah Dini atau spontaneous atau early atau premature of membrane (PROM) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pada primipara kurang dari 3 cm dan multipara kurang dari 5 cm (Moctar, 1998) Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut ketuban pecah dini periode laten (Manuaba, 1998). Ketuban pecah dini adalah ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan (Oxorn, 2000). Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan servik (Saifuddin, 2002). Bila ketuban pecah dini sedangkan servik belum matang akan menyebabkan persalinan lama yang mengakibatkan trauma kepala dan asfiksia (Oxorn, 2000). Etilogi ketuban pecah dini Penyebab ketuban pecah dini masih belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan kecuali dalam usaha penekanan infeksi. Penyebab ketuban pecah dini mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan sebagai berikut : Menurut Manuaba (1998) penyebab ketuban pecah dini adalah : a) Servik inkompeten b) Ketegangan rahim berlebihan : kehamilan ganda, hidramion c) Kelainan letak janin dalam rahim : sungsang, letak lintang

d) Kelainan bawaan dari selaput ketuban (ketuban tipis) e) Infeksi vagina Menurut Taylor dkk, etilogi ketuban pecah dini adalah: a) Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah, penyakit penyakit seperti piolenefritis, sititis, servisitis dan vaginitis terdapat bersama sama hipermortilitas rahim ini b) Selaput ketuban terlalu tipis (kelainan ketuban) c) Infeksi : amnionitis, karioamnitis d) Ketuban pecah dini artificial (AMNIOTOMI), dimana ketuban pecah terlalu dini Menurut Varney, 2002 etiologi penyebab ketuban pecah dini adalah : a) Inkompetensia servikdan uterus b) Polihidramion c) Mal presentasi janin d) Infeksi vagina Patofisiologi ketuban pecah dini Menurut Moctar, 1998 mekanisme terjadinya ketuban pecah dapat sebagai berikut : 1) Ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi sehingga dapat menyebabkan ketegangan rahim. 2) Bila terjadi servik inkompeten maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dan mengeluarkan air ketuban berlangsung

3)

Infeksi yang menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudah ketuban pecah

4) Kelainan bawaan selaput ketuban dimana selaput ketuban terlalu tipis sehingga mudah pecah Tanda dan gejala ketuban pecah dini Kadang kadang agak sulit atau meragukan kita apakah ketuban benar sudah pecah atau belum, apabila pembukaan kanalis servikalis belum ada atau kecil . Menurut Moctar, 1998 cara menentukannya adalah sebagai berikut : 1) Adanya cairan berisi mekonium, vornik kaseosa, rambut lanugo atau bila terinfeksi berbau 2) Adanya cairan ketuban dari vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakkan sedikit bagian terendah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan, cairan dapat keluar sedikit lebih banyak. 3) Cairan dapat keluar saat tidur, duduk atau saat aktifitas seperti berjalan atau berdiri 4) Kadang kadang cairan berwarna putih, jernih atau hijau 5) Apabila ketuban telah lama pecah dan terjadi infeksi pasien demam Prognosa Ketuban pecah dini Pronogsa ketuban pecah dini ditentukan oleh cara penatalaksanaan dan komplikasi komplikasi dari kehamilan (Moctar, 1998). Menurut OXORN, 1996, prognosa untuk janin tergantung pada : 1) Maturitas janin: bayi yang beratnya di bawah 2500 gram mempunyai prognosis yang lebih jelek dibanding bayi lebih besar.

2)

Presentasi: presentasi bokong menunjukkan prognosis yang jelek , khususnya kalau bayinya premature.

3) Infeksi intra uterin meningkat mortalitas janin. 4) Semakin lama kehamilan berlangsung dengan ketuban pecah , semakin tinggi insiden infeksi. Komplikasi ketuban pecah dini a. Bagi Janin

1) Prematuritas 2) Infeksi 3) Semakin lama periode laten, semakin lama kala satu persalinan, maka semakin besar insiden infeksi 4) Mal presentasi Sering dijumpai pada presentasi bokong 5) Prolaps tali pusat Sering dijumpai, khususnya pada bayi premature 6) Mortalitas perinatal Semakin lama periode laten semakin tinggi mortalitasnya b. Bagi Ibu 1. Partus Lama

Adanya inkoordinasi kontraksi otot rahim akibat dari induksi persalinan dengan oksitosin sehingga menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk meningkatkan pembukaan atau pengusiran janin dari dalam rahim.

2. Perdarahan post partum Adanya penggunaan narkosa pada penanganan ketuban pecah dini dengan tindakan induksi 3. Atonia Uteri Bila pada saat ketuban pecah servik belum matang atau belum membuka sehingga akan memperlama proses persalinan dan menyebabkan kelelahan pada ibu yang berakibat pada lemahnya kontraksi uterus. 4. Infeksi Nifas Adanya infeksi intra partum akibat ketuban pecah lebih dari 6 jam 8. Pemeriksaan Diagnosis Diagnosis ketuban pecah dini tidak sulit ditegakkan dengan keterangan terjadi pengeluaran cairan mendadak disertai bau khas selain keterangan yang disampaikan dapat dilakukan beberapa pemeriksaan yang menetapkan bahwa cairan yang keluar adalah air ketuban yaitu dengan cara : a. Tes dengan lakmus (litmus)

1) Bila terjadi Biru (basa) adalah air ketuban. 2) Bila terjadi merah (asam) adalah air kemih b. Pemeriksaan mikroskopik terhadap tetesan cairan yang kering, akan memperlihatkan suatu corak seperti daun pakis (fernig pattern) bila cairan itu ketuban (Hoken, dan Mooree, 2001)

c.

Pemeriksaan inspekulo yang steril : terlihat cairan keluar dari osteum uteri eksternum (Bary F.C,1996)

d. Riwayat : jumlah cairan yang hilang, warna cairan , bau, hubungan seksual pervaginam terakhir e. Pemeriksaan histopatologi air ketuban dan sitologi (kolaborasi ) Dalam melakukan pemeriksaan dalam dengan hati hati sehingga tidak banyak manipulasi daerah pelvis untuk mengurangi kemungkinan infeksi asceden dan persalinan prematuritas.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1. Identitas ibu 2. Riwayat penyakit a. Riwayat kesehatan sekarang Datang dengan pecahnya ketuban sebelum usia kehamilan mencapai minggu dengan atau tampa komplikasi b. Riwayat kesehatan terdahulu -Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion. -Sintesis pemeriksaan pelvix, dan hubungan sexsual -Kehamilan ganda -infeksi vagina /servixs oleh kuman streptococos -selaput amnion yang lemah/ tipis posisi fetus tidak norma, kelainan pada otot servix, atau genital seperti panjang servix yang pendek -multi paritas dan peningkatan ibu serta defisiensi nutrisi c. Riwayat kesehatan keluarga : ada tidaknya keluhan ibu yang lain dengan pernah hamil kembar / keturunan kembar DIAGNOSA Diagnose: G: berapa kali hamil P: berapa kali melahirkan Ab: barapa kali abortus UK: usia kehamilan minggu tunggal , hidup, intautera, letkep, inpartu kala satu fase laten dengan ketuban pecah dini. DS: ibu mengatakan mengeluarkan cairan sejak tanggal.. jam disertai kenceng-

kenceng tapi tidak terlalu sering.

DO: keadaan umum: baik TTV: - tensi

- nadi - respirasi - suhu HPHT TP Palpasi: - Leopold I - Leopold II - Leopold III - Leopold IV Antisipasi masalahpotensial 1. Pada ibu: insfeksi 2. Pada janin: fetal dan distress, asfiksia, IUFD Identefikasi kebutuhan segera 1. Observasi tanda-tanda insfeksi dan distress janin 2. Kolaborasi dengan dokter spog untuk kelanjutan tindakan. INTERVENSI Diagnose : G: berapa kali hamil. P:berapa kali melahirkan. Ab:berapa kali abortus. UK: usia kehamilan minggu inpartufase laten dengan ketuban pecah dini. Tujuan :- mengantisipasi agar tidak terjadi insfeksi dan tidak terjadi kegawatan Pada janin: ibu dapat menjalani proses persalinan dengan normal spontan. Criteria hasil: - KU : baik

BAB IV PENUTUP KESIMPULAN Ketuban pecah dini adalah ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan (Oxorn, 2000). Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan servik (Saifuddin, 2002). Bila ketuban pecah dini sedangkan servik belum matang akan menyebabkan persalinan lama yang mengakibatkan trauma kepala dan asfiksia (Oxorn, 2000).

DAFTAR PUSTAKA Asrining Surasmi, Siti Handayani, Heni Nur Kusuma, (2002), Perawatan Bayi Risiko Tinggi, Jakarta : EGC. Dr. Santosa NI, SKM (1990), Perawatan Kebidanan yang Berorientasi Pada Keluarga (Perawatan II) , Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Marilyn E. Doengoes, Mary Frances Mooorhouse (2001), Rencana Perawatan Maternal/Bayi , Jakarta : EGC. Prof. Dr. Abdul Bari Saifudin, SPOG, MPHD ( 2002 ), Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Material & Neonatal , : Jakarta : EGC. Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG (1998), Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC