You are on page 1of 4

ABUTMENT & PIER HEAD

Pelaksanaan Pembuatan Dilakukan Bertahap


Dimensi Pile Cap




Dimensi Atas: Dimensi bawah



Panjang : 32 Panjang : 30 m



Lebar : 2 m Lebar : 4 m



Tinggi : 1.05 m Tinggi : 1.5 m

Pelaksanaan pembuatan pier head/ pile cap dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pembuatan
bekisting, pembesian, dan pengecoran. Pengecoran dilakukan dalam dua tahap, yaitu
bagian bawah pier dan bagian atas pier.
Setelah bekisting selesai dikerjakan, dilakukan pekerjaan pembesian yang meliputi
pemasangan/ pengelasan besi WF pengikat tiang pancang, pembesian tulangan pilar bagian
bawah, pilar samping, dan pilar bagian atas. Setelah semua tulangan terpasang, tahap
berikutnya adalah pekerjaan pengecoran.

Beton dengan K-350 dibuat berdasarkan hasil test
pencampuran/ trial mix. Untuk setiap truk mixer
beton yang berasal dari batching plant, dilakukan
uji slump beton. Slump yang dipersyaratkan
adalah t 8-12 cm.

Truk mixer kemudian membawa beton ke lokasi
proyek untuk dituangkan ke concrete pump.
Sebelum dituang, dilakukan pengambilan benda uji
sebanyak 48 buah untuk tiap pile cap serta
pengujian slump ulang. Dengan bantuan concrete
pump, beton tersebut dituangkan ke dalam pile
cap lapis demi lapis sambil dipadatkan. Tebal tiap
lapisan 30 cm. Setelah itu dilaksanakan
pekerjaan finishing pada permukaan beton

Hal penting yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan pengecoran beton dengan massa
besar (mass concrete)adalah perbedaan suhu. Agar didapat suhu beton merata tanpa terjadi
perbedaan yang besar dilakukan perawatan atau curing beton dengan karung basah selama
14 hari.

TIANG PANCANG

Tahap Awal Dan Pemancangan Selanjutnya

Pondasi yang digunakan untuk causeway adalah tiang pancang baja dengan diameter 600
mm dengan spesifkasi sesuai dengan ASTM A252 Grade 2. Panjang masing-masing pipa
12 m, dengan kedalaman pemancangan rata-rata untuk Sisi Surabaya sekitar 25 m dan sisi
Madura 33 m.
Pelaksanaan pekerjaan tiang pancang ini meliputi pekerjaan pemancangan, pengisian pasir,
pengisian beton tanpa tulangan dan pengisian beton dengan tulangan. Kedalaman dari
masing-masing pengisian ini didasarkan atas kondisi daya dukung tanah dan penggerusan
tanah (scouring).
Saat pelaksanaan 2003-2004, pemancangan di tahap awal dilakukan dengan
memanfaatkan jalan kerja yang dibuat dengan menimbun, yaitu di Abutment (A0), Pilar 1-5
untuk sisi Surabaya. Sementara di sisi Madura di Abutment (A102), dan Pilar 101 sampai
dengan pilar 96. Untuk pilar selanjutnya pekerjaan pemancangan dilaksanakan dengan
menggunakan ponton pancang.

Persiapan

Hal penting yang harus diperhatikan adalah monitoring stok tiang
pancang pipa baja yang sudah di-coating, sesuai kebutuhan
untuk menjaga kontinuitas pekerjaan pemancangan. Selanjutnya
adalah pemindahan stok pipa ke tepi pantai sesuai dengan
kebutuhan. Peralatan yang digunakan untuk pemindahan ini
adalah crane service 25 ton dan truk trailer.

harus sudah dipersiapkan di posisi yang telah ditentukan.
Kemudian crane ditempatkan di titik yang ditentukan dan
dikontrol dengan teropong teodolit.

Metode Pelaksanaan Pemancangan

Ponton service ditarik boat mendekati stok tiang pancang yang
telah diposisikan di dekat pantai. Dengan bantuan crane, tiang
pancang diletakkan di atas ponton service untuk dibawa menuju
ponton pancang.
Tahapan selanjutnya adalah pengukuran posisi dengan
mengunakan teodolit (lihat penjelasan metoda pengukuran). Lalu
mengarahkan leader crane pancang yang memegang tiang pancang di atas kapal ponton ke
sasaran bidik teropong yang telah disetting dengan komando
dari surveyor. Apabila sudah sesuai dengan posisi yang diinginkan, maka tiang pancang
sudah siap untuk dipancang.
Untuk tiang pancang dengan kondisi miring (sudut 1:10) maka dibuat perbandingan dengan
menggunakan mal yang dilengkapi dengan waterpass. Apabila sudah tepat maka tiang
pancang di turunkan sesuai dengan kemiringannya dan siap untuk dipancang.
Pelaksanaan pemancangan disesuaikan dengan nomor urut dengan pengondisian ponton,
alat ukur, dan crane pancang. Dan setelah dilakukan kalendering (10 pukulan terakhir
maksimal sebesar 2,5 cm) maka pemancangan dihentikan.
Selanjutnya tiang pancang yang elevasinya tidak
sama dipotong dengan menggunakan alat las,
setelah terlebih dahulu diukur dengan
menggunakan teodolit.

Pengisian Pasir

Pengisian pasir dilakukan dengan menggunakan
ponton 120 ft, yang mampu menampung pasir 200
m3 sesuai dengan kebutuhan satu pile cap serta
excavator PC 200 dengan kapasitas 67 m3/ jam.
Dump truck mengambil pasir pada stok area dengan bantuan excavator. Selanjutnya dump
truck yang telah berisi pasir menuju dermaga dan menuangkan pasir. Diatas pontoon
diposisikan sebuah excavator untuk memindahkan pasir dari dermaga ke ponton.
Untuk pengisian pasir dipasang tremi di ujung tiang pancang, dan excavator mengisi pasir
ke dalam tiang pancang dengan bantuan tremi.

Selanjutnya dilakukan pengukuran kedalaman tiang pancang dengan menggunakan tali
yang ujungnya diberi pemberat dan diukur dengan meteran, agar bisa mencapai kedalaman
rencana dari pasir pada tiang pancang.

Pengisian Beton

Besi isian pancang dipersiapkan di stockyard. Stok besi diangkut dengan truk menggunakan
bantuan crane menuju dermaga dan dinaikkan ke atas ponton. Besi isian dimasukan ke
tiang pancang dengan bantuan crane. Untuk mengantisipasi agar tulangan besi tersebut
tidak jatuh, maka pada ujung tulangan dimasuki besi melintang yang panjangnya lebih dari
diameter pipa pancang.

Selanjutnya truk mixer dari batching plan menuju ke
pompa pengecoran (concrete pump). Pengecoran
dilakukan dengan concrete pump yang dilengkapi
dengan belalai untuk memasukkan beton ke tiang
pancang.

Metode penentuan posisii (stake out) Tiang
Pancang di Laut

Secara prinsip Metoda Perpotongan Kemuka yang
digunakan untuk Sisi Surabaya dan Sisi Madura
diuraikan sebagai berikut:
Titik-titik tempat alat ukur digeser ke kiri atau ke kanan dari as BM sejauh setengah diameter
pipa pancang (300 mm), disesuaikan dengan posisi tepi tiang pancang yang akan dibidik.
Untuk memudahkan pelaksanaan, bagian tiang pancang yang di-stake-out atau dibidik
adalah tepi tiang pancang, bukan bagian tengahnya.

Tahapan pelaksanaan pengukuran di lapangan adalah sebagai berikut:




Alat ukur teodolit-1 dan teodolit-2 didirikan di titik-titik BM yang telah direncanakan
(menggeser ke kiri ke kanan dari as BM), dengan posisi kedudukan teropong mendatar
(90).



Bacaan sudut vertikal teodolit-1 dan teodolit-2 diset pada elevasi 2,50 meter dengan melalui
perhitungan pengesetan sudut vertikal.



Bacaan sudut horizontal teodolit-1 dengan acuan arah centerline jembatan diset sebesar b =
03 59' 42" mengarah ke garis singgung tepi tiang pancang.



Bacaan sudut horizontal teodolit-2 dengan acuan terhadap arah centerline jembatan diset
sebesar b = 273 59' 42", mengarah ke garis singgung tepi tiang pancang. Settingsinggung
tepi tiang pancang. Setting sudut a dan b untuk masing-masing titik pancang (1-36)
dibuatkan dalam bentuk tabel sesuai koordinat titik-titik rencana.



Mengarahkan ladder crane pancang yang memegang tiang pancang di atas kapal ponton ke
sasaran bidik teropong teodolit-1 dan teodolit-2. Kemudian singgungkan tepi tiang pancang
(seperti gambar ilustrasi) dengan komando dari surveyor. Apabila tepi kiri dan tepi kanan
sudah tepat bersinggungan, maka tiang pancang tersebut sudah berada di posisi yang tepat
dan siap pancang. Cara tersebut digunakan untuk tiang pancang tegak



Untuk tiang pancang miring dengan perbandingan sudut 1:10, ladder crane pancang diset
membentuk sudut 1:10 dengan menggunakan mal yang dilengkapi dengan waterpass. Tiang
pancang kemudian diarahkan ke arah bidikkan teropong teodolit-1 dan teodolit-2 dan
disinggungkan ke tepi kiri dan tepi kanannya hingga tepat. Apabila sudah tepat, maka tiang
pancang tersebut diturunkan sesuai kemiringan dan siap untuk dipancang. Secara prinsip
dari 2 (dua) setting sudut horizontal saja sudah cukup memadai untuk penentuan posisi
secara tepat, sedang setting sudut horizontal yang ketiga, keempat dan seterusnya hanya
berfungsi sebagai control/ checking, apakah 2 (dua) setting suduthorizontal yang kita
lakukan sudah benar atau tidak.



Dalam pelaksanaan penentuan titik-titik pancang tersebut, perlu adanya alat komunikasi,
guna koordinasi antara tim pengukur (surveyor) dengan tim pancang, serta operator crane.
Penentuan titik-titik BM yang dipakai untuk referensi posisi alat ukur berdiri disesuaikan
dengan kondisi lapangan dengan maksud memudahkan pengukuran dan sasaran tidak
terhalang. Metoda perpotongan kemuka yang dipilih untuk penentuan posisi titik-titik
pancang Jembatan Suramadu, secara teknis memenuhi persyaratan dan tidak terlalu sulit
dilaksanakan.