You are on page 1of 19

MANAJEMEN KEUANGAN Dosen : Dr. Noer Sasongko

Analisis dan Pengaruh Penggunaan Hutang

MANAJEMEN KEUANGAN Dosen : Dr. Noer Sasongko Analisis dan Pengaruh Penggunaan Hutang OLEH : IVAN ARDO

OLEH :

IVAN ARDO FATAS NIM. P100130022

MAGISTER MANA JEMEN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

Analisis dan Pengaruh Penggunaan Hutang

Risiko Bisnis dan Risiko Finansial

Dalam mempelajari teknik penggunaan modal, kita mendefinisikan Risiko sebagai

variabilitas dari keuntungan atau pendapatan yg diharapkan terjadi. Karena perhatian kita saat ini difokuskan pada keputusan pendanaan investasi. Variasi arus pendapatan yang disebabkan oleh :

  • 1. keterbukaan perusahaan terhadap risiko bisnis

  • 2. keputusan perusahaan yg menimbulkan risiko finansial

Risiko Bisnis

Risiko Bisnis adalah ketidakpastian pada perkiraan pendapatan operasi perusahaan dimasa mendatang. Risiko Bisnis mewakili tingkat risiko dari operasi-operasi perusahaan yg tidak

menggunakan hutang. Risiko bisnis ini diukur dengan deviasi standar dari ROE (Return On Equity).

E A T R O E = -------------------- Modal Sendiri

Risiko bisnis dipengaruhi oleh faktor-faktor :

  • a. Variabilitas permintaan. Semakin pasti permintaan untuk produk perusahaan, cateris paribus, semakin rendah risiko bisnis.

  • b. Variabilitas Harga. Semakin mudah harga berubah, semakin besar risiko bisnis.

  • c. Variabilitas biaya input. Semakin tidak menentukan biaya input, semakin besar risiko bisnis

  • d. Kemampuan menyesuaikan harga jika ada perubahan biaya. Semakin besar kemampuan ini, semakin kecil risiko bisnis

  • e. Tingkat penggunaan biaya tetap (Operating Leverage). Semakin tinggi operating leverage, semakin besar risiko bisnis. Pada umumnya, semakin besar biaya tetap, biaya variabel cenderung mengecil (misal : investasi pada mesin

mahal akan mengruangi jam kerja karyawan). Sebaliknya biaya tetap yg kecil pada umumnya membawa konsekuensi biaya variabel yang besar.

Perusahaan A : memiliki biaya tetap besar, biaya variabel relatif kecil Perusahaan B : memiliki biaya tetap kecil dan biaya variabel relatif besar.

Gambar Perusahaan A :

Keuntungan / Biaya Pendapata n total Biaya Total Keuntungan (EBIT) BEP Biaya tetap Penjualan
Keuntungan /
Biaya
Pendapata
n total
Biaya Total
Keuntungan
(EBIT)
BEP
Biaya tetap
Penjualan

Gambar Perusahaan B

Keuntungan / Biaya Pendapata n total Biaya Total Keuntungan (EBIT) BEP Biaya tetap Penjualan
Keuntungan /
Biaya
Pendapata
n total
Biaya Total
Keuntungan
(EBIT)
BEP
Biaya tetap
Penjualan

Risiko Financial

Risiko Finansial adalah risiko tambahan pada perusahaan akibat keputusan menggunakan hutang atau risiko yg ditimbulkan dari penggunaan hutang (Financial Leverage)

Risiko Financial =

ROE ( L )

ROE (U )

Dimana :

ROE ( L )

ROE (U )

= Risiko perusahaan yg menggunakan hutang (Leverage Firm) = Risiko perusahaan yg tdk menggunakan hutang (Unliverage Firm) atau

risiko bisnis

ROE ( L )

adalah lebih besar dari

ROE (U ) . Perhatikan ilustrasi berikut :

Contoh Modal perusahaan Rp. 1.000.000,00. Perusahaan tidak menggunakan hutang. EBIT = Rp. 400.000,00 dan pajak 20 %.

 

EBIT

Rp

400.000

Bunga

Rp

0

 

--------------------

 

EBT

Rp.

400.000

Pajak (20%)

Rp

80.000

 

---------------------

 

EAT

Rp

320.000

EAT

320.000

ROE = ------ = ---------------= 32 %

MS

1.000.000

Jika perusahaan menggunakan hutang sehingga struktur modal menjadi 50% modal sendiri dan 50% hutang. Biaya hutang (Kd) = 24 %, maka

EBIT

Rp.

400.000 (tdk berubah)

Bunga (24%)

Rp.

120.000

--------------------

EBT

Rp.

280.000

Pajak (20%)

Rp.

56.000

--------------------

EAT

Rp.

224.000

EAT

224.000

ROE = ------ = ---------------= 44,8 %

MS

500.000

Penggunaan hutang meningkatkan ROE perusahaan sebesar 12,8 %. Namun demikian penggunaan hutang juga meningkatkan risiko pada pemegang saham (equity investor).

Seandainya EBIT tidak Rp. 400.000 tapi hanya Rp. 200.000 (ini mungkin saja terjadi karena ketidakpastian dalam bisnis), maka pengaruh pada perusahaan jika menggunakan hutang dan tidak adalah :

 

Tanpa Hutang

Hutang Rp. 500.000

EBIT

200.000

200.000

Bunga (24%)

0

120.000

-----------

------------

EBT

200.000

80.000

Pajak (20%)

40.000

16.000

-----------

------------

EAT

160.000

64.000

ROE

16 % ( 160 rb/ 1 juta)

12,8 % (64 rb/ 500 rb)

Nampak jika realisasi EBIT hanya 50% dari yg diharapkan, ROE tanpa hutang hanya turun 16% (32%-16%), sedangkan ROE dengan hutang turun 32% (44,8% - 12,8%). Satu hal penting yg perlu diperhatikan dalam penggunaan hutang adalah : penggunaan hutang akan meningkatkan ROE hanya jika tingkat keuntungan pada aktiva (diukur dg EBIT / Total aktiva) lebih besar dari biaya modal (biaya hutang).

Analisis Break Even

Analisis BEP adalah suatu analisis yang bertujuan untuk menemukan satu titik, dalam satuan unit atau rupiah, yang menunjukkan biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan sama dengan pendapatan perusahaan.Titik itu disebut sebagai titik break even ( BEP,break-even point).

Kegunaan analisis BEP adalah dapat diketahui pada volume penjualan berapa perusahaan mencapai titik impasnya, tidak rugi tetapi juga tidak untung, sehingga apabila penjualan melebihi titik tersebut maka perusahaan mulai mendapatkan untung.

Estimasi biaya yang diperlukan dalam analisis BEP :

  • 1. Biaya tetap ( fixed cost ) : biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan besar yang tetap ,tidak tergantung pada volume penjualan, sekalipun perusahaan tidak melakukan penjualan , contoh : depresiasi pajak bumi dan bangunan , bunga kredit, gaji karyawan tetap.

  • 2. Biaya variable ( variable cost ) : biaya yang besarnya bervariasi sesuai dengan jumlah unit yang dijual, contoh : biaya kerja tenaga langsung, biaya material, biaya gas,listrik , air.

Gambar dibawah menunjukkan model dasar analisi break-even , dimana garis pendapatan berpotongan dengan garis biaya pada titik break-even ( BEP ) . Sebelah kiri BEP menunjukkan daerah kerugian,sedangkan daerah sebelah kanan BEP menunjukkan daerah keuntungan. Model ini memiliki asumsi dasar bahwa biaya per unit ataupun harga jual per unit dianggap tetap/konstan., tidak tergantung dari jumlah unit yang terjual. Meskipun pada kenyataannya,biaya tetap dan biaya variable per unit tidak selamanya konstan. Misalnya, dengan semakin bertambahnya volume produksi maka perusahaan harus menambah mesin dan ruangan , sehingga jumlah biaya tetap bertambah. Atau dengan semakin banyaknya jumlah karyawan terampil yang direkrut dibandingkan dengan karyawan yang kurang terampil akan mengakibatkan rata-rata upah menjadi lebih besar, sehingga biaya variable per unit berubah.

Rupiah

garis total pendapatan laba garis total biaya biaya variable rugi biaya tetap Volume ( unit per
garis total pendapatan
laba
garis total biaya
biaya variable
rugi
biaya tetap
Volume ( unit per periode )

Gambar 4.1 Model dasar analissi break-even

Rumus BEP :

F BEP dalam unit =------- P – V

Dimana :

F = total Fixed cost (biaya tetap) P = harga jual per unit V = variable cost (biaya variable) per unit

Rumus ini diperoleh dari perhitungan berikut ini :

EBIT = Penjualan – (Total biaya variable + Total biaya tetap) = 0 = (P.Q) – (V.Q + F) = 0 = (P.Q) – (V.Q) – F = 0

Q (P.V) =

F

Q BEP

F

=

P

V

BEPdalamRupiah =

F

1

V

P

Dimana :

F = fixed cost per unit

V

= variable cost per unit

P = harga jual per unit

Rumus ini diperoleh dari perhitungan sebagai berikut :

EBIT = penjualan dalam Rupiah – Total biaya variabel – total biaya tetap

EBIT = S – TVC – F = 0

TVC

S . S S TVC S . 1 F S TVC S . 1 F S
S
.
S
S
TVC
S . 1
F
S
TVC
S . 1
F
S
F
=
S BEP
TVC
1
S
Karena :
TVC
S
V
--
P
Maka :

F = 0

= 0

(Variable Cost/unit) x unit penjualan

------ = ---------------------------------------------

(Harga jual/unit) x unit penjualan

 

F

S BEP

=

 

1

V P

 

Contoh :

 

Variable cost

 

= Rp. 6 / unit

Total Fixed Cost

= Rp. 100.000

Harga jual

= Rp. 10 / unit

F

BEP dalam unit =-------

P – V

100.000

=-----------

10 – 6

= 25.000 unit

BEPdalamRupiah =

F

 
  • 1

V

 

P

 

100.000

=

 
  • 1

6

 

10

 

Pembuktian :

= Rp. 250.000

EBIT = Penjualan – Total biaya variable – total biaya tetap

= (25.000 x 10) – (25.000 x 6) – 100.000

= 0

Beberapa penerapan analisis breakeven :

  • a. Analisis penggunaan modal Analisis Breakeven digunakan dalam analisis penggunaan atau penggunaan modal sebagai metode pelengkap untuk metoda-metoda lain yang menggunakan pendekatan “discounted cashflows” seperti NPV atau IRR .

  • b. Kebijakan harga

Harga jual dari suatu produk baru dapat ditentukan guna mencapai tingkat EBIT yang

diinginkan. Selain itu analisis breakeven memberikan gambaran sejauh mana harga jual

dapat diturunkan tanpa menyebabkan kerugian (EBIT yang negative).

  • c. Negosiasi kontrak karyawan Efek dari kenaikan biaya variable akibat kenaikan upah karyawan terhadap jumlah breakeven (BEP) dapat dianalisis.

  • d. Struktur biaya Alternatif mengurangi biaya variable dengan konsekuensi kenaikan biaya tetap dapat dievaluasi. Misal suatu perusahaan yang ingin memilih padat karya (biaya variable tinggi, biaya tetap rendah) atau padat modal (biaya variable rendah, biaya tetap tinggi) dapat menggunakan analisis breakeven untuk melihat efek dari ke-2 alternatif tersebut terhadap EBIT Dan BEP.

  • e. Keputusan pendanaan Analisis terhadap struktur biaya perusahaan memberikan informasi tentang proporsi biaya operasi tetap yang ditanggungkan pada penjualan. Jika proporsi ini terlalu tinggi, perusahaan dapat memutuskan untuk tidak menambah biaya tetap.

Operating Leverage

  • 1. Operating Leverage adalah kepekaan EBIT terhadap perubahan penjualan perusahaan. Operating leverage timbul karena perusahaan menggunakan biaya operasi tetap. Contoh : Suatu perusahaan meramalkan penjualan sebesar Rp. 300.000 (30.000 unit). VC/unit = Rp. 6, FC = Rp. 100.000. Apa yg terjadi dengan EBIT jika ternyata penjualan yang terjadi adalah 20% dari yg diperkirakan ?

 

Prediksi

Realisasi

Penjualan

Rp. 300.000,00

Rp. 360.000,00

Total Variabel Cost

Rp. 180.000,00

Rp. 216.000,00

Fixed Cost

Rp. 100.000,00

Rp. 100.000,00

EBIT

Rp.

20.000,00

Rp.

44.000,00

EBIT naik sebesar Rp. 24.000,00 yg berasl dari kenaikan penjualan sebesar Rp.

360.000,00, dikurangi kenaikan biaya variable total sebesar Rp. 36.000,00

44.000 – 20.000

Persentase perubahan EBIT = ---------------------

20.000

= 120 %

Pada penjualan Rp. 300.000 persentase perubahan EBIT adalah 6x persentase perubahan

penjualan.

2.

Degree of Operating Leverage (DOL) mengukur berapa persen EBIT berubah jika

penjualan berubah 1 %

Persentase perubahan pada EBIT

DOL Rp.= -----------------------------------------------

Persentase perubahan pada penjualan

Dimana DOL Rp = DOL pada pada rupiah penjualan tertentu

EBIT

DOL =

EBIT

Q

Q

Karena EBIT = Q (P-V) – F

Maka

Q (P – V) karena F tetap

DOL =

Q

(

P

V

)

Q

x

Q

(

P

V

)

F

Q

Dimana :

Q

P

= unit penjualan

= harga jual per unit

  • V = biaya variable per unit

F

= total biaya tetap

Contoh :

DOLRp =

Q

(

P

V

)

Q

(

P

V

)

F

Diketahui harga/unit (P) = Rp. 10, Biaya variable/unit = Rp. 6, Total biaya tetap (F) = Rp.

100.000. Berapa DOL pada penjualan sebesar Rp. 300.000 atau 30.000 unit ?

Jawab :

DOLRp .300.000 =

 

Q

(

P

V

)

Q

(

P

V

)

F

30.000 (10 – 6)

=-----------------------------

30.000(10-6) – 100.000

120.000

= -------------

20.000

= 6 x

Artinya : pada saat penjualan sebesar Rp. 300.000 atau 30.000 unit (jika harga jual Rp.

10/unit) jika penjualan naik 1%, EBIT akan naik 6x atau 6%, jika penjualan turun 1%,

EBIT akan turun 6x atau 6%.

Rumus

DOL =

Q

(

P

V

)

Q

(

P

V

)

F

dapat dirubah menjadi :

S - TVC

DOL Rp = -------------------

S – TVC – F

Dimana :

S

= Jumlah penjualan total dalam rupiah

TVC = Total variable cost atau biaya variable total

 

F

= Total Fixed Cost atau biaya tetap total

3.

Semakin tinggi tingkat penjualan perusahaanm semakin rendah DOL.

Contoh :

Diketahui harga jual per unit = P = Rp. 10,

biaya variable per unit = V = Rp. 6

biaya tetap total = F = Rp. 100.000

F

100.000

BEP = ------- = ----------- = 25.000 unit atau Rp. 250.000

P - V

10 – 6

Tabel : Hubungan antara unit atau rupiah penjualan dengan DOL

Unit Penjualan

Rupiah Penjualan

DOL Rp

  • 25.000 Rp.

 

250.000

Tidak terdefinisi

  • 30.000 Rp.

 

300.000

6

  • 35.000 Rp.

 

350.000

3,5

  • 40.000 Rp.

 

400.000

2,67

  • 45.000 Rp.

 

450.000

2,25

  • 50.000 Rp.

 

500.000

2

  • 75.000 Rp.

 

750.000

1,5

100.000

Rp.

 

1.000.000

1,33

DOL =

Q

(

P

V

)

 

Q

(

P

 

V

)

F

  • 4. Dari rumus

dapat disimpulkan bahwa selama perusahaan

masih menggunakan biaya tetap (F), Q(P-V) akan lebih besar dari Q(P-V)-F artinya DOL

lebih besar dari 1. Jika F = 0,

DOL =

Q

(

P

V

)

Q

(

P

V

)

F

=1

Semakin besar DOL perusahaan, semakin peka atau semakin besar variasi keuntungan

akibat perubahan pada penjualan perusahaan. Maka DOL jelas merupakan suatu atribut

dari risiko bisnis perusahaan. Semakin tinggi DOL, semakin besar pula risiko bisnis

perusahaan.

Financial Leverage

1. Suatu perusahaan dikatakn menggunakan “Financial Leverage” jika ia membelanjai

sebagian dari aktivanya dengan sekuritas yang membayar bunga yang tetap (misal :

hutang pada bank, menerbitkan obligasi atau saham preferen).

Jika perusahaan menggunakan “financial leverage” atau hutang, perubahan pada EBIT

perusahaanakan mengakibatkan perubahan yang lebih besar pada EPS ( Earning per

share) atau penghasilan per lembar saham perusahaan.

  • 2. Degree of Financial Leverage (DFL) mengukur kepekaan EPS terhadap perubahan EBIT perusahaan

DFL EBIT

PersentasePerubahanPadaEPS

=

PersentasePerubahanPadaEBIT

Dimana DFL adalah degree of financial leverage pada EBIT tertentu.

EBIT

Q (P – V) - F

DFL = ------------------------- atau DFL = ----------------------

EBIT – biaya bunga

Q (P – V) – F – C

Dimana :

Q = unit penjualan

P = harga jual per unit

V

= biaya variabel per unit

F = biaya tetap total

C

= biaya bunga

Contoh :

P = Rp. 100

V

= Rp. 50

F = Rp. 100.000

C

= Rp. 20.000

T = Pajak = 50 %

  • f. EBIT pada Q = 4000 unit adalah : Q (P – V) – F = 4000 (100 – 50) – 100.000 = Rp. 100.000

  • g. Perhitungan EPS

EBIT

Rp. 100.000

Biaya bunga

Rp.

20.000

----------------

EBIT

Rp. 80.000

Pajak (50%)

Rp. 40.000

----------------

EAT

Rp

40.000

Saham beredar

10.000

  • h. DFL pada EBIT Rp. 100.000 adalah :

Q (P – V) - F

DFL 100.000 =----------------------

Q (P – V) – F - C

=

4000 (100 – 50) – 100.000

--------------------------------------------

40000 (100 – 50) – 100.000 – 2.000

= 1,25 x

Artinya jika EBIT berubah 1 % EPS akan berubah 1,25 %. Ini berlaku pada saat

EBIT sebesar Rp. 100.000

  • i. Pembuktian :

Misal : EBIT naik 20 % menjadi Rp. 120.000, maka EPS menjadi :

EBIT

Rp. 120.000

Biaya bunga

Rp. 20.000

-----------------

EBIT

Rp. 100.000

Pajak 50%

Rp. 50.000

 

-----------------

EAT

Rp.

50.000

Saham Beredar

10.000

EPS

Rp.

5

EPS naik sebesar

5 -4 / 4 = 1,25 %

Hasil ini sesuai dengan DFL yg artinya jika EBIT naik 20 %, EPS naik (1,25 x 20

%) = 25 %

  • 3. Semakin besar DFL, semakin besar pula fluktuasi EPS akibat perubahan pada EBIT perusahaan. Besar kecilnya DFL tergantung pada besar kecilnya hutang yg digunakan perusahaan. Semakin besar hutang yg digunkan, semakin besar pula DFL sehingga semakin besar risiko financial perusahaan. Contoh : hubungan positif jumlah hutang dengan DFL perusahaan

Suatu perusahaan merencanakan 3 alternatif pendanaan untuk modal Rp. 200.000.

Alternatif A : tidak menggunakan hutang, alternative B : menggunakan 20 % hutang dan

alternative C : menggunakan 40 % hutang. Asumsikan bunga adalah 8% untuk jumlah

hutang berapapun dan EBIT perusahaan sebesar Rp. 20.000

Jawab :

Pada EBIT Rp. 20.000, DFL untuk masing-masing alternative pendanaan adalah :

DFL = EBIT / EBIT – C

Alternatif A :

DFL = 20.000 / 20.000 – 0 = 1 x

Alternatif B : DFL = 20.000 / 20.000 – 3200 = 1,19 x

(3200 (200.000 x 20%) x 8% )

Alternatif C : DFL = 20.000 / 20.000 – 6400 = 1,47 x

(6400 (200.000 x 40%) x 8 %)

Kombinasi Operating dan Financial Leverage

DOL mengukur kepekaan EBIT terhadap perubahan penjualan

DFL mengukur kepekaan EPS terhadap perubahan EBIT

Jika DOL dikalikan DFL, kita akan mendapatkan Degree of Combined Leverage (DCL) yang

menunjukkan kepekaan EPS terhadap perubahan penjualan.

Rumus DCL DCL = DOL x DFL

Maka :

DCL Rp

 

Q ( P – V)

Q (P – V) - F

 

= ---------------- x ----------------------

 

Q (P – V) – F

Q (P – V) – F – C

=

Q

(

P

V

)

 

Q

(

P

V

)

 

F

 

V

Dimana

  • DCL Rp

adalah Degree of Combined Leverage pada rupiah penjualan tertentu.

Contoh :

P

= Rp. 100

V

= Rp. 50

C

= biaya bunga = Rp. 20.000

Pajak

= 50 %

F

= Rp. 100.000

a.

DOL pada Q = 4000 unit

DOL = Q (P – V) / Q (P - V) – F

 

= 4000 (100 – 50) / 4000 (100 – 50) – 100.000

= 2 x

b.

DFL pada Q = 4000 unit

DFL = Q (P – V) - F / Q (P - V) – F - C

 

= 4000 (100 – 50) – 100.000 / 4000 (100 – 50) – 100.000 – 20.000

= 1,25 x

c.

  • DCL pada Q = 4000 unit

  • DCL = Q (P – V) / Q (P - V) – F - C = 4000 (100 – 50) / 4000 (100 – 50) – 100.000 – 20.000 = 2,5 x

Atau DCL = DOL x DFL

= 2 x 1,25 = 2,5 x

Referensi