You are on page 1of 11

ANALISIS STRUKTUR

Gaya Internal
Hukum ketiga Newton. Persoalan yang dibahas pada modul sebelumnya adalah
mengenai kesetimbangan suatu benda tegar, dan semua gaya yang terlibat merupakan gaya
eksternal terhadap benda tegar tersebut.
Analisa struktur menyangkut pada kesetimbangan struktur yang terdiri dari beberapa
bagian batang yang bersambungan. Pada analisa seperti hal ini memerlukan penentuan
gaya eksternal yang beraksi pada struktur tetapi juga penentuan gaya yang mengikat
bersama berbagai bagian struktur. Dari sudut pandang struktur sebagai keseluruhan , gaya
ini merupakan internal.
Pondasi dibuat yang baik dan arah melawan gaya yang ditimbulkan muatan pada
konstruksi. Gaya yang ditimbulkan ini disebut REA!".
Reaksi ada yang berupa momen, gaya atau kombinasi antara momen dan gaya. #uatan
yang terjadi pada konstruksi bersi$at non konkuren ko$lanar dan gaya yang mengimbangi
gaya non konkuren ko$lanar.
Menghitung Reaksi
!alah satu konstruksi yang la%im dibahas di dalam perhitungan perletakan biasanya
berupa balok sederhana yang dipikul oleh &
' !ebelah kiri & !END"
' !ebelah kanan & R()
Pada umumnya konstruksi tersebut muatannya diketahui dan yang harus dihitung adalah
reaksi perletakannya.
Syarat Konstruksi Setimbang :
*. +, - ., jumlah aljabar semua gaya sejajar sumbu ,
/. +0 - ., jumlah aljabar semua gaya sejajar sumbu 0.
1. +# - ., jumlah aljabar semua gaya dikali dengan lengan masing'masing terhadap
titik yang ditinjau - ..
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) *
#aka gambar gaya yang bekerja pada balok A2
P/3 - P/ 4os 5.
.
- /. N . .,6 - *. N
P/y - P/ sin 5.
.
- /. N . .,755 - *8,1 N
Perhitungan Per+etakan :
*. +, - .
A3 9 P/3 - . maka A3 - P/3 - *. N
/. +0 - .
Ay : 2y 9 P* 9 P/y - .
Ay : 2y - P* : P/y - *. N : *8,1 N - /8,1 N
1. +#A - .
P* . *. m : P/y . *6 m 9 2y . /. m - . *.. : /6;,6 9 /. 2y - .
2y - 16;,6 < /. - *8,;7 N
2y - *8,;7 N, maka Ay : 2y - /8,1 N
Ay - /8,1 9 *8,;7 - ;,1/ N
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) ,
*. m 6 m 6 m
P* - *. N
P/ - /. N
A 2
Ay
A3
2y
P/y
P/3
P*
5.
.
!a&i Reaksi Per+etakannya a&a+ah
A3 - *. N
Ay - ;,1/ N
2y - *8,;7 N
STABILITAS SUATU K-NSTRUKSI
!yarat onstruksi !tabil adalah &
*. !uatu konstruksi akan stabil bila segala ma4am gejala gerak mengakibatkan
perlawanan terhadap gerak tersebut.
Hal ini memerlukan sekurang'kurangnya adanya 1 reaksi non konkuren dan tidak
sejajar.
/. !uatu onstruksi statis, apabila reaksi'reaksinya dapat dihitung dengan persamaan
statis tertentu.
1. !uatu konstruksi akan statis tertentu bila reaksi'reaksinya tidak dapat dihitung
dengan persamaan stati4 tertentu saja, tetapi perlu juga diperhitungkan perubahan
bentuknya.
Peraturan mengenai muatan diatur pada peraturan muatan tahun *;8. N"'*7,
peraturan ini menetapkan besarnya muatan buat berbagai perhitungan konstruksi di negeri
kita. #uatan disini digambarkan sebagai gaya khayal yang disebut #uatan !tatika. #uatan
tersebut yang bekerja atau merambat pada konstruksi dan arah dirambatkan oleh konstruksi
melalui pondasi kedalam tanah terhadap gaya rambat ini ada perlawanan tanah yang
disebut reaksi.
Ana+isis Truss &engan Meto&e Sambungan
=russ dapat dipandang sebagai kelompok pin dan bagian dua gaya, kemudian diagram
benda bebasnya diuraikan menjadi bagian'bagian. #asing'masing bagian mengalami dua
gaya, satu gaya pada masing'masing ujung> gaya ini mempunyai besar yang sama, garis
aksi yang sama dan berlawanan arah. Disamping itu hukum ketiga Newton menunjukkan
bahwa gaya aksi dan reaksi antara suatu bagian dengan pin besarnya sama dan arahnya
berlawanan. 2esarnya gaya yang sama dari gaya yang ditimbulkan oleh bagian pada dua
pin yang dihubungkannya sering disebut gaya pada bagian yang ditinjau, walaupun
besaran ini sebetulnya s4alar. Garis aksi semua gaya internal dalam truss diketahui,
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) .
analisis truss tereduksi menjadi perhitungan gaya pada berbagai bagian dan
penentuan apakah bagian itu dalam keadaan tekan atau tegang.
arena keseluruhan truss dalam kesetimbangan, setiap pin harus dalam kesetimbangan.
enyataan bahwa pin dalam kesetimbangan dapat dinyatakan dengan menggambarkan
diagram benda bebasnya dan menuliskan dua persamaan kesetimbangan. 2ila truss itu
berisi n pin, kita akan mempunyai persamaan yang dapat dipe4ahkan untuk men4ari /n
besaran tak diketahui.
Dalam kasus truss sederhana, didapat bahwa m - /n 9 1m atau /n - m : 1, dan
banyaknya besaran yang tak diketahui yang dapat ditentukan dari diagram benda bebas dari
pin adalah m : 1.
"ni berarti bahwa gaya pada semua bagian, demikian juga kedua komponen reaksi R*, dan
reaksi R/ dapat diperoleh dengan meninjau diagram benda bebas pin yang bersangkutan.
GA/A )ALAM
*# GA/A N-RMAL 0 N
Gaya Normal akan bertanda positi$ ?:@ apabila gaya menunjukkan =AR", dan bernilai
negatiAe ?'@ bila menunjukkan gaya =EAN.
,# GA/A LINTANG 0 L
2ertanda positi$ ?:@ bila menimbulkan patahan arah jarum jam, akan bertanda negatiAe
?'@ apabila menimbulkan patahan berlawanan arah jarum jam.
.# M-MEN LENTUR
#omen lentur positi$ apabila menimbulkan batang bengkok kebawah, dan akan bernilai
negatiAe bila batang bengkok ke atas.
Apabila ditinjau keseimbangan gaya luar, yaitu keseimbangan muatan dan reaksi
pada konstruksi, dan konstruksi tersebut harus stabil. Dalam meren4anakan suatu konstruksi
yang stabil haruslah diperhitungkan syarat keseimbangan luar tersebut.
2ila suatu konstruksi bebas muatan, maka konstruksi tersebut akan bebas pula dari reaksi
perletakan. 2ila kemudian suatu konstruksi dibebani muatan, maka perletakan akan
memberi reaksi sedemikian sehingga keseimbangan ter4apai. onstruksi tersebut dikatakan
akan merambatkan gaya dari muatan sampai ke perletakan. Gaya rambat inilah yang
dikatakan sebagai GA/A )ALAM.
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) 1
A
2
P
N
,
2
P
!umbu batang
Dalam ilmu mekanika teknik, disini kita mempelajari karakteristik tingkah laku
konstruksi yang menahan muatan'muatan yang diren4anakan sehingga gaya dalam
haruslah menjamin stabilitas muatan tersebut, oleh karena itu haruslah juga menjamin
keseimbangan gaya luar.
Perhitungan untuk gaya dalam diuraikan menjadi beberapa tahapan, dimana
tahapan'tahapan tersebut adalah sebagai berikut &
*. #enetapkan dan menyederhanakan menjadi suatu system yang memenuhi syarat
keseimbangan.
/. #enetapkan muatan yang bekerja pada konstruksi.
1. #enghitung keseimbangan gaya luar.
B. #enghitung keseimbangan gaya dalam.
6. #emeriksa kembali semua hitungan.
Pembahasan berikut akan dibatasi oleh suatu konstruksi sederhana > tertentu dan ko$lanar
yaitu konstruksi yang memenuhi &
*. !umbunya berimpit dengan titik berat permukaannya dan merupakan garis lengkung
atau lurus.
/. !umbu konstruksi dan muatan terletak dalam * bidang.
1. Cntuk perhitungan, konstruksi diasumsikan konstruksi sangat kaku.
2alok A2 terjepit pada A dan dibebani gaya P pada titik 2, yang bekerja pada garis pusat
sumbu, maka pada konstruksi tersebut terjadilah atau timbul adanya gaya dalam.
Apabila konstruksi dalam keadaan seimbang maka pada suatu titik , atau potongan ,
sejauh , dari 2 akan timbul gaya dalam yang mengimbangi P. Gaya dalam tersebut akan
bekerja pada sumbu , yang mengimbangi gaya P yang disebut Gaya Normal ?N@.
2ila arah gaya atau aksi terbalik arahnya maka terbalik pula gaya normalnya, gaya dalam
searah dengan sumbu.
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) 2
A
2
P
,
#*
#D
PD
2atang A2 terjepit pada titik A, pada 2 bekerja gaya P arah ke kanan tegak lurus dengan
sumbu konstruksi.
Pada batang , sejauh , dari 2, ditinjau gaya dalam yang timbul mengimbangi gaya aksi P.
Gaya P merambat sampai titik , sebesar PD dan #D.
Apabila konstruksi dalam keadaan seimbang, maka tiap bagian dari konstruksi tersebut
harus juga dalam keadaan seimbang.
Gaya PE dan #E harus pula diimbangi dengan gaya dalam yang sama besar dan berlawanan
arah yaitu gaya dalam )3 dan #3. Gaya tersebut merupakan sumbangan dari bagian ,A
yang mengimbangi gaya #* , PE.
Gaya dalam tegak lurus disebut gaya )intang ?)3@ dan momen yang menahan lentur dari
gaya ini disebut #omen )entur ?#3@.
Gaya'gaya dalam adalah &
*. Gaya yang bekerja searah sumbu balok disebut GA0A N(R#A) ?N@.
/. Gaya yang bekerja tegak lurus sumbu balok disebut GA0A )"N=ANG ?)@.
1. Gaya yang menahan lentur sumbu balok disebut #(#EN )EN=CR.
Apabila balok dalam keadaan seimbang maka tiap bagian dari balok tersebut harus pula
seimbang dengan gaya dalam pada tiap'tiap bagian dari konstruksi yang stabil menjamin
pula keseimbangan gaya'gaya luar. Dengan keseimbangan tersebut maka dapat dihitung
besarnya gaya dalam.
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) 3
Beban Eksentrik 4Eccentric Load5
#erupakan bentuk beban tarik atau tekan yang bekerjanya tidak pada sumbu benda.
Akibatnya, benda < elemen mesin yang dikenainya, akan menerima beban tersebut dalam
dua bentuk gaya, yakni gaya tarik<tekan dan gaya lentur. !ebagai 4ontoh pembebanan
eksentrik pada pemesinan adalah beban tekan pada tiang mesin pres, alat klem dan lain
lain.
F F
L
= F F
te
= F F
L
F
te
F
te
e e e

F
r
F
ta
F
r
= + => X Y
(a) (b) (c) (d) (e)

x
t
x
c

Farak e dari sumbu benda ke titik tumpuan beban dinamakan juga sebagai jarak eksentrik
atau eksentrisitas. Gambar ?a@ di atas menjelaskan bagaimana beban eksentrik ?G@ bekerja
pada suatu penampang benda sejarak e dari sumbu benda. 2enda menerimanya dalam
bentuk gaya tekan ?Gte@ dan gaya lentur ?G)@ yang masing'masing besarnya sama dengan
beban eksentrik ?G@, dimana & G - Gte - G) ?Gambar b, 4 dan d@. Alhasil &
Gaya tekan menimbulkan tegangan tekan sebesar &
te

=
A
F
Gaya lentur menyebabkan terjadinya tegangan lentur sebesar &
L
-
I
y e F . .
, dimana & y - jarak dari sisi terluar benda ke sumbunya.
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) 6
!ebagaimana konsep tetang pelenturan benda, maka gaya lentur ?G)@ yang bekerja
tentunya akan menyebabkan pengkerutan pada bagian sisi 0 yang tertekan lansung oleh
gaya lentur, dan sebaliknya akan menyebabkan peregangan pada sisi , yang
berseberangan terhadap sumbu benda, akibat adanya gaya reaksi dari benda. Pada gambar
?e@ jarak sisi 0, y - 34 dan jarak sisi , , y - 3t dari sumbu benda.
2erdasarkan prinsip superposisi, tegangan yang diakibatkan oleh bekerjanya dua
jenis gaya yang berbeda, dapat dijumlahkan sebagai resultan, asalkan e$eknya sama
terhadap struktur material benda.
arena &
a. Pengkerutan pada sisi 0 adalah e$ek dari gaya lentur yang bekerja sebagai gaya
tekan ?Gte@ di sisi terluarnya.
b. Peregangan pada sisi , adalah e$ek dari kerja gaya lentur yang berseberangan
dengan sisi , terhadap sumbu benda sebagai tumpuan. !ehingga pada sisi terluar
,, kerjanya berbalik menjadi gaya tarik ?Gta @. ?e$ek pengungkit@
Dengan demikian kedua bentuk tegangan yang terjadi dapat dijumlahkan sesuai dengan
arah kerja masing'masingnya.
*. Resultan tegangan pada sisi 0 &
y

-
te

:
L
, karena kerja keduanya menekan sisi 0 benda.
-
A
F
:
I
x e F
c
. .

/. Resultan tegangan pada sisi , &
x

-
te

'
L
, karena di sisi ,, tegangan lentur ?G)@ menghasilkan e$ek
tarikan.
-
A
F
'
I
x e F
c
. .
Cntuk menentukan besarnya kekuatan bahan ? @, tinggal dipilih hasil resultan
tegangan yang paling besar ? y

atau
x

@. "ni tentunya dengan mempertimbangkan jenis


pembebanan yang akan diterima benda melalui $aktor keamanan ?!$@.
Dalam hal ini &
A - luas penampang benda yang menahan gaya tekan<tarik
" - inersia sumbu penampang.
y - jarak antara sumbu ke sisi terluar benda yang mengalami e$ek pembebanan.
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) 7
Pemi+ihan 8aktor Keamanan
Pemilihan Gaktor eamanan yang akan digunakan pada ran4angan elemen mesin, tentunya
tergantung dari sejumlah pertimbangan, seperti &
a. 2ahan yang akan digunakan.
b. Fenis pembebanan.
4. !i$at kondisi kerja.
d. 2entuk komponen.
=abel di bawah ini memperlihatkan besarnya $aktor kemanan untuk beberapa jenis bahan
serta tipe pembebanan yang mengenainya.
Bahan Beban teta9 Beban &inamis Beban ke:ut
2esi 4or 6 s<d 5 7 s<d */ *5 s<d /.
2esi 4or kelabu B 8 *. s<d *6
2aja B 7 */ s<d *5
2ahan paduan 5 ; *6
=imber 8 *. s<d *6 /.
Mo&u+us /oung atau Mo&u+us E+astisitas 4 E 5
Hukum HookEs menyatakan bahwa jika besarnya pembebanan yang diterima sebuah benda,
masih berada pada daerah batas elastis bahannya, maka & tegangan yang terjadi dalam
struktur materialnya masih berbanding lurus dengan regangannya. !e4ara matematika,
$ormulanya dinyatakan oleh &


dengan demikian &

= E .
E =

Dimana & E - odulus elastisitas atau modulus 0oung, yakni & konstanta yang
menyatakan si$at elastisitas bahan yang besarnya proporsional di
daerah elastis.
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) ;
Mo&u+us Geser atau Mo&u+us Kekakuan 4 G 5
#erupakan konstanta yang diperoleh se4ara eksperimental berdasarkan batas elastis,
dimana tegangan geser ? @ proporsional dengan regangan geser sudut ?@ yang terjadi.
!e4ara matematika &

- G #

- G
ubungan Antara Mo&u+us /oung &an Mo&u+us Kekakuan
edua modulus dihubungkan oleh persamaan &
G -
) 1 ( 2 +
E
Tabel harga E dan G :
Bahan E ( N/cm
2
) G ( N/cm
2
)
Baja 2 !d 2"2 . 1#
$
#"% !d 1"# . 1#
$
Be& t'ang (elab' 1") !d 2"# . 1#
$
#"% !d #") . 1#
$
Be& c*r 1"# !d 1"+ . 1#
$
#", !d #"- . 1#
$
T&.ah #") !d 1"1 . 1#
$
#"/ !d #"- . 1#
$
0'n&ngan #"% !d #") . 1#
$
#"/ !d #"- . 1#
$
0a1' #"1 . 1#
$
#"1 . 1#
$
Poisson<s Ratio 4 5
#erupakan konstanta yang diperoleh melalui pengujian tarik. !aat benda uji mengalami
tegangan pada batas elastis, maka perbandingan regangan lateral ?penampang@ dengan
regangan linier se4ara matematik dinyatakan oleh PoissonEs Ratio &
-
L L
d d
!
!

2erikut ini tabel PoissonEs Ratio untuk beberapa bahan logam &
Bahan Poisson<s Ratio
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) *=
2aja .,/6 ' .,11
2esi tuang .,/1 ' .,/8
=embaga .,1* ' .,1B
uningan .,1/ ' .,B/
Aluminium .,1/ ' .,15
PUSAT PENGEMBANGAN BAAN A!AR"UMB Ir# Arie$ Su%an&i
MENGGAMBAR TEKNIK ' A(A) **