You are on page 1of 11

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persoalan kosakata telah menarik perhatian para sarjana akhir-akhir ini.
Banyak hal yang dapat diperdebatkan mengenai kosakata dalam
bekomunikasi. Bagaimana kosakata itu tersusun dalam otak manusia,
bagaimana mekanisme pengeluaran dan pertentangan kosakata itu.
Kosakata yang terjelma dalam komunikasi, bentuk, relasi dan pertentangan
maknanya bermacam-macam. Kosakata yang terhimpun dalam bentuk
komunikasi seringkali kita pertentangkan maknanya. Pada waktu kita menulis
atau berbicara, kata-kata seperti itu sering muncul. Hal itu bukan karena kita
memperlihatkan kekayaan kata yang kita miliki, tetapi juga karena ingin
memvariasikan dengan kata yang berlawanan makna.
Seperti yang dikatakan di atas, maka telaah tentang antonim pun
merupakan suatu cara yang efektif untuk menambah dan meningkatkan
pembendaharaan serta keterampilan kosakata seseorang.
Kata-kata yang berantonim akhir-akhir ini menjadi sangat asyik
diperdebatkan karena perlawanan kata tertentu yang membuat seseorang
bingung dengannya. Tetapi agar lebih jelas dan dimengerti tentang hal
tersebut, maka disini akan dibahas hal yang berhubungan dengan antonim
agar kita dapat mengetahui, memahami, serta menguasai bahwa antonim
adalah kata-kata yang mengandung makna yang berlawanan atau
berkebalikan.

B. Rumusan Masalah
Persoalan antonim telah lama dipersoalkan dalam tata makna. Istilah
antonim kadang-kadang membingungkan karena secara umum dianggap
sebagai komplemen sinonim dan selain itu para pakar semantik lebih
2

memusatkan perhatian pada ketaksamaan makna. Dalam bahasa Indonesia
terdapat istilah lawan kata, kata yang tidak sesuai, kata yang tidak cocok, kata
sebaliknya, kata berlawanan makna, bukan ... (mis. merah), tidak (mis.
panjang), dan juga kebalikan.
Hal tersebut diatas yang sampai saat ini juga masih membuat bingung
seseorang yang mempelajarinya. Tetapi jangan anggap sesuatu yang
membingungkan tentang antonim itu, karena disini akan dijelaskan
bagaimana antonim itu dan sesuatu yang berkaitan dengan antonim .
C. Pengertian
Istilah antonim yang dalam bahasa inggris ditulis antonym, Sinonim
berkontras dengan antonim. Kata antonim berasal dari bahasa Yunani Kuno
onoma yang berarti nama dan anti yang artinya melawan. Maka, secara
harafiah antonim artinya nama lain untuk benda lain pula. Secara semantik
Verhaar (1978) mendefinisikan Antonim sebagai ungkapan(berupa kata,
frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan
lain. Misalnya, kata bagus adalah berantonim dengan kata buruk; kata besar
adalah berantonim dengan kata kecil; kata membeli berantonim dengan kata
menjual. Hubungan makna antara dua buah kata yang berantonim bersifat dua
arah. Kalau kata bagus berantonim dengan kata buruk, maka kata buruk juga
berantonim dengan kata bagus.
Ingin di ingat disini bahwa istilah antonim jangan dikacaukan dengan
istilah antinomy yang berasal dari kata Yunani Kuno nomos (hukum), dan
anti (melawan), yang berarti pertentangan antara dua hukum.
Dalam bahasa Indonesia banyak kata yang memiliki kesamaan arti. Ada
yang sama, ada pula yang berbeda. Karena itulah ada pula kata-kata yang
artinya berlawanan. Kata-kata ini termasuk kata sifat atau adjektiva. Lawan
kata atau biasa dikenal dengan sebutan antonim sudah dipelajari sejak sekolah
dasar. Karena terlihat mudah, antonim tidak begitu sering dipelajari, padahal
kajian bahasa ini cukup menarik. Ketertarikan terhadap kajian ini dapat
3

diperoleh dengan membuat kamus antonim. Dalam kajian ilmu linguistik
bahasa Indonesia, kamus antonim tidak banyak jumlahnya.
Selain kamus antonim bahasa Indonesia, ada pula kamus antonim bahasa
Inggris, bahasa Arab Melayu, dan kamus antonim khusus bidang tertentu.
Kamus antonim ada juga yang digabung dengan kamus sinonim. Dalam
kamus tersebut tidak hanya ditemui kumpulan kosakata yang berlawanan arti,
melainkan juga sama arti.
Seperti yang disebutkan di atas, kamus antonim ada juga yang digabung
dengan sinonim. Untuk kamus berbahasa Indonesia, kamus yang ada biasanya
adalah kamus sinonim-antonim. Karena itu, jarang ada kamus antonim yang
berdiri sendiri.
Salah satu kamus yang isinya kumpulan kosakata antonim dan sinonim
adalah Kamus Sinonim-Antonim karya Slamet Mulyono. Kamus ini
diterbitkan oleh Pustaka Widyatama dan dicetak pada 1997.
Dalam membuat kamus sendiri, yang pertama kali dilakukan adalah
mengumpulkan kosakata. Untuk kamus antonim, kosakata yang dikumpulkan
biasa terdiri atas kata sifat atau adjektiva. Misalnya, kata sedih, pendek,
jauh, besar, dan lain-lain.
Apabila dalam mengumpulkan kata-kata tersebut terdapat pasangan lawan
katanya, seperti senang >< sedih, pendek >< panjang, pisahkan kedua
kata tersebut. Atau dengan kata lain, pisahkan kata yang sudah ada lawannya.
Setelah mengurutkan kata yang dipilih sebagai kata utama, masukkan
kata-kata yang artinya berlawanan dengan kata utama. Misalnya, kata muda
dimasukkan dalam kategori M, kata tua dimasukkan sebagai lawan dari kata
tersebut. Pembuatan kamus memerlukan waktu yang tidak singkat. Namun,
untuk membuat kamus sendiri yang fungsinya untuk membantu daya ingat,
Anda tidak perlu mengumpulkan banyak kata. Akan tetapi, kumpulan kata
tersebut setidaknya berjumlah kurang lebih 100 kosakata.
Dengan adanya kamus antonim, tidak hanya akan menambah
perbendaharaan kosakata saja, melainkan juga mendokumentasikan kata-kata
yang artinya berlawanan. Selain melihatnya dalam kamus antonim yang
4

sudah ada, Anda dapat membuat kamus sendiri. Hal ini tidak begitu mudah
tapi juga tidak begitu sulit. Dalam membuat kamus, yang harus diperhatikan
adalah kosakata yang dikumpulkan. Banyak kata yang sering kita dengar tapi
tiba-tiba tidak kita ingat saat membutuhkannya.
Apa manfaatnya membuat kamus sendiri? Melalui kamus yang dibuat
sendiri, kita dapat mendokumentasikan kata-kata yang diinginkan sehingga
lebih mudah mencarinya.















5

BAB II
PEMBAHASAN

A. Antonim dan Pengembangan Kosakata
Telaah antonim merupakan suatu cara yang efektif untuk meningkatkan
pembendaharaan keterampilan kosakata seseorang, seperti yang telah
dijelaskan di atas. Menelaah antonim dapat pula merupakan satu bagian dari
analisis kata. Sebagai contoh sang guru dapat menyajikan pasangan-pasangan
kata untuk menjelaskan serta memgilustrasikan bagaimana caranya antonim-
antonimnya berkembang dari penambahan awalan atau akhiran tertentu pada
akar kata atau kata dasar.
1. Antonim yang berbentuk dari Prefiks :
Progresif - regresif
Pretes - postes
Prolog - epiliog
Moral - amoral
Ekspresi - Impresi
2. Sufiks yang menyatakan perbedaan atau pertentangan jenis kelamin :
a) wartawan - wartawati
satrawan - satrawati
seniman - seniwati
olahragawan - olahragawati
peragawan - peragawati
b) pemuda - pemudi
putra - putri
siswa - siswi
mahasiswa - mahasisiwi
muda - mudi
c) syarif - syarifah
aziz - azizah
6

komar - komariah
Mempergunakan antonim-antonim sebagai bagian dari analisis kata, jelas
melibatkan penggunaan pergantian dan peninjauan(transfer dan revieuw)
secara kontinyu, menghubungkan satu konsep dengan konsep lain,
mengadakan asosiasi-asosiasi membangun serta membentuk pengetahuan
baru berdasarkan pengetahuan lama. Dalam menggunakan konsep
perlawanan ini, para guru dapat memberi penekanan pada gagasan
perbandingan sampai pertentangan, gagasan komparasi sampai kontras.
Untuk mencapai tujuan ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan,
salah satu diantaranya adalah mendaftarkan kata-kata yang perlu diketahui
oleh para sisiwa dalam bidang studi bahasa, pendidkan moral pancasila,
kesehatan, sejarah, dan lain-lain.
Dalam satu latihan dalam bidang sastra misalnya para mahasiswa dapat
mencatat perbedaan antara :
Fiksi dengan fakta
Denotasi Konotasi
Prosa Puisi
Tragedi Komedi
Ekspresi Impresi
Subyektif Obyektif
Prolog Epilog

Antonim dapat pula ditelaah sebagai ajektif atau kata keadaan :
Kuat - lemah
Pandai - bodoh
Jauh - dekat
Tebal - tipis
Gemuk - kurus
Cantik - jelek
Manis - asam

7

Dari pembicaraan diatas dapatlah ditambahkan yaitu untuk meningkatkan
kuantitas dan kualitas kosakata para mahasiswa, maka sepantasnyalah sang
guru membuat latihan-latihan secara teratur dan terpimpin mengenai konsep-
konsep yang sama dan yang tidak sama. Para guru dapat memanfaatkan
penggunaan antonym sebagai suatu metode telaah kosakata dengan
menyajikan kepada para mahasiswa contoh-contoh yang cukup banyak dan
beraneka ragam. Dengan metode tersebut dapatlah diharapkan kosakata
mahasiswa bertambah kaya baik secara kuantitaf maupun kualitasnya. Tetapi
sebelum kepada maksud tersebut, yaitu agar mahasiswa dapat mengenal
antonim dalam konteks, maka ada baiknya terlebih dahulu kita
perbincangkan secara khusus ragam antonim.

B. Ragam antonim
Dalam pembicaraan terdahulu telah kita libatkan sejumlah pasangan
antonim sebagai contoh. Sebenarnya antonim-antonim yang beraneka ragam
itu dapat kita klasifikasikan atas beberapa pasangan, antara lain :
1) Pasangan komplementer
2) Pasangan perbandingan(gradable)
3) Pasangan relasional
4) Pasangan resiprokal
5) Pasangan hiponim
1. Pasangan komplementer
Telah berulangkali kita katakana bahwa dua kata yang berlawanan
maknanya disenut antonim. Diantara antonim-antonim itu kita dapati
pasangan yang komplementer, yaitu pasangan yang saling melengkapi.
Yang satu tidaklah lengkap atau tidak sempurna jika tidak dibarengi
dengan yang satu lagi.
Sebgai contoh, kata hidup berantonim dengan kata mati. Pasangan
antonim hidup-mati terasa saling melengkapi satu sama lain. Maka kata
hidup terasa lebih mantap bila dipertentangkan dengan kata mati. Agak
aneh juga bahwa dalam pertentangan atau perlawanan antara kedua kata
8

tersebut justru terjelma kelengkapan satu sama lain. Dalam kata-kata
sehari-hari kita mengungkapkan betapa tidak terbayangkan mati itu
tanpa hidup dan sebaliknya.
Kalau kata A dapat digantikan dengan kata bukan/tidak A sebagai
lawannya, maka kedua kata itu disebut berantonim.
Contoh :
Hidup = tidak mati
Mati = tidak hidup
2. Antonim gradable
Suatu antonim kita sebut pasangan gradabel (atau gradable pairs)
apabila penegatifan suatu kata tidak bersinonim dengan kata yang lain.
Sebagai contoh, seorang yang tidak senang tidak perlu atau tidak tentu
sedih. Atau dengan singkat dapat kita rumuskan :
Tidak senang sedih
Begitu pula :
Tidak sedih senang
3. Antonim relasional
Ada pula sejenis antonim yang memperlihatkan kesimetrian dalam
makna anggota pasangannya. Antonim yang seperti ini disebut antonim
relasional, karena antara anggota pasangan antonim itu terdapat
hubungan yang erat.
Sebagai contoh, kalau si A guru si B, maka si B adalah guru si A.
demikianlah pasangan :
Guru - murid
Atau
Pengajar - pelajar
disebut antonim relasional
4. Antonim resiprokal
Ada pula sejenis antonim yang mengandung pasangan yang
berlawanan atau bertentangan dalam makna tetapi juga secara
fungsional berhubunga erat. Hubungan itu justru hubungan timbal-
9

balik. Antonim seperti itu disebut antonim resiprokal. Contoh yang jelas
adalah pasangan kata : membeli-menjual. Kedua kata ini berlawanan
maknanya tetapi secara fungsional berhubungan erat secara timbal-
balik. Contoh :
Saya menjual dari kamu,
dan
Kamu membeli dari saya.
5. Pasangan hiponim
Ada sejenins antonim yang istimewa, yang sering dipakai dan
memang penting dalam nomenklatur (tatanama) ilmiah, dan dalam
analisis semantik, yang disebut hiponim.
Daalm hiponim ini, sebenarnya salah satu dari pasangan kata itu
tidaklah berlawanan atau bertentangan sepenuhnya dengan yang satu
lagi, tetapi justru yang satu mencakup yang lain.
Contoh :
Vertabrata mencakup ikan, reptile (binatang melata),
dan mamalia
Gedung mencakup pencakar langit,rumah besar,
rumah, dll.
Unibersitas mencakup fakultas, departeman, jurusanm,
dll.
Linguistic mencakup fonetik, fonologo, morfologi,
sintaksis, semantic
Fonem mencakup vocal, konsonan, diftong
Sastra mencakup puisi, prosa, drama
Keluarga mencakup ayah, ibu, anak (yang belum
kawin)


10

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Demikianlah telah kita bicarakan antonim dan pengembangan kosakata
serta ragam-ragam antonim secara terperinci berikut contohnya masing-
masing. Sepertinya perlu kita sadari benar-benar bahwa pembagian ragam
antonim atas pasangan-pasangan komplementer, gradabel, relasional,
resiprokal, dan hiponim itu tidaklah bersifat mutlak, artinya lebih bersifat
relatif. Suatu pasangan antonim tidak harus hanya termasuk pada suatu jenis
antonym tertentu saja, tetapi mungkin saja dapat dimasukkan kedalam dua
atau lebih ragam antonym.
Tujuan utama mempelajari antonim bukan ditekankan pada ragam-
ragamnya tapi justru sebagai suatu teknik untuk memperkaya kosakata para
mahasiswa agar mereka terampil berbahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup pembicaraan kita mengenai antonim ini, agar kita lebih
menguasainya ada baiknya kita lakukan sejumlah latihan-latihan sendiri demi
memperkaya kosakata. Kalau perlu pakailah kata-kata itu dalam konteks
kalimat agar bertambah jelas artinya.

B. Saran
Saran yang diberikan penyusun dalam karya ilmiah ini yaitu supaya
mahasiswa lebih bisa memahami tentang pengertian antonim dan ragam-
ragam antonim, serta Antonim dan Pengembangan Kosakata, karena hal
demikian sangat penting dalam kehidupan sosial terutama untuk berinteraksi
dan berkomunikasi antar sesama masyarakat.


11

DAFTAR PUSTAKA

Pateda, Mansoer. 1995. Kosakata dan Pengajarannya. Ende: Nusa Indah.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran semantik. Bandung : Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. 1983. Peranan Kosakata Dalam Buku Pelajaran
Bahasa Sekolah Dasar. Yogyakarta : Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
(makalah).
http://www.find-docs.com/karya-ilmiah-antonim-bahasa-indonesia.html

http://www.elfaputri.blogspot.com/2010/07/makalah-bahasa-indonesia-
makna-semantik.html