You are on page 1of 11

Cabe-cabean Sebagai Fenomena Sosial Ditinjau dari Perspektif Sosiologis

Oleh:
Aul (4825134662)
Dini Rahmawati (4825137140)
Ghiyats Satrio (4825137145)


Puti Hafsah Sati (4825137129)
Shafiya Ningtiar (4825137144)
Syafiq Zilalil Haq (4825137143)


Abstrak
Tujuan dari paper kelompok kami ini adalah untuk memaparkan fenomena cabe-cabean di
Jakarta dengan menggunakan pisau analisis teori-teori sosiologis. Dalam penulisan, penulis
menggunakan metode primer dengan wawancara dengan narasumber serta studi literatur baik
dari buku, jurnal ilmiah serta karya tulis lainnya. Penulis merasa cabe-cabean adalah topik yang
menarik untuk dikarena merupakan fenomena sosial yang hangat-hangatnya dibicarakan.
Dengan karya tulis ini penulis berharap kita semua sebagai bagian dari masyarakat dapat lebih
memahami fenomena cabe-cabean dari perspektif soiologis serta mengetahui lebih dalam
penyebab menngapa fenomena ini dapat terjadi
1. Latar Belakang
Pergaulan remaja adalah hal yang banyak dibicarakan seiring dengan berkembangnya
jaman. Jaman sekarang, sulit sekali menemukan remaja yang bergaul sesuai porsinya. Pergaulan
bebas dan hubungan seks pra nikah sangat santer terdengar di masa sekarang dan sudah bukan
merupakan hal yang tabu lagi. Sudah sejak lama, terjadi perubahan perilaku seksual pada remaja.
Seks tidak lagi dianggap sakral, tetapi semua orang bahkan anak dibawah umur bisa
melakukannya. Hal ini dipicu oleh perubahan sosial-budaya yang terjadi dalam masyarakat.
Semakin berkembangnya jaman, maka semakin mudah para remaja-remaja untuk mengakses
situs-situs yang tidak sesuai dengan porsinya. Apalagi masa remaja adalah masa seseorang
sedang ingin tau dan mencoba segala hal. Hal ini mengakibatkan remaja cenderung terjerumus
kedalam hal-hal negative yang berhubungan dengan konteks seksual. Kehormatan seorang
wanita sudah diabaikan. Keperawanan bukan lagi hal yang bernilai. Di masa yang kaya akan
teknologi ini bahkan muncul ungkapan di masyarakat bahwa, Anak jaman sekarang lebih takut
kehilangan gadget daripada kehilangan keperawanan.
Akibat dari perubahan mindset remaja ini, muncullah beberapa fenomena pergaulan
remaja yang bersifat negative; seks pra nikah, MBA atau Married By Accidentyang berarti
remaja yang menikah karena sudah hamil duluan, dan salah satunya yang sedang menjadi topic
hangat pembicaraan semua kalangan adalah fenomena cabe-cabean. Cabe-cabean
merupakan julukan yang digunakan untuk perempuan-perempuan yang tergabung dalam
komunitas balapan liar. Perempuan-perempuan ini biasanya masih berusia sangat belia. Mereka
menjajakan dirinya di kalangan pembalap liar. Biasanya perempuan-perempuan ini juga bisa
dijadikan bahan taruhan untuk berhubungan seksual. Tetapi pada umumnya cabe-cabean
bukan mencari keuntungan materi. Mereka cenderung melakukan hubungan seks dengan
pembalap karena mereka mengagumi pembalap-pembalap tersebut. Mereka cenderung akan
mengikuti apa saja kemauan sang pembalap idola mereka. Para cabe-cabean ini tidak hanya
melakukan hubungan seksual dengan pembalap liar, tapi terkadang sang pembalap tega menjual
kegadisan perempuan-perempuan cabe ini untuk keuntungan materi, karena cabe-cabean
cenderung akan menngikuti apapun kemauan pembalap idolanya.
Fenomena ini tentu saja fenomena yang meresahkan bagi banyak pihak terutama
orangtua. Orangtua yang cenderung tidak mengetahui aktifitas anak-anak mereka diluar rumah
akan merasa khawatir dengan munculnya fenomena ini. Mereka yang merupakan cabe-cabean
cenderung akan sangat jarag berada dirumah. Walaupun mereka tetap melaksanakan
kewajibannya sebagai pelajar yaitu bersekolah, tetapi itu hanya akan memakan 30% dari seluruh
waktunya dalam satu hari yang sisanya akan dihabiskan dengan sekedar nongkrong bersama
komunitas pembalap liar tersebut. Mereka baru akan pulang setelah dini hari karena kegiatan
balapan liar dilakukan saat sekitar pukul 3 atau 4 pagi saat jalanan sedang sepi.
Apakah sebenarnya yang berada di balik fenomena cabe-cabean itu? Bagaimana
sebenarnya kehidupan perempuan-perempuan yang dijuluki sebagai cabe-cabean? Apakah
cabe-cabean merupakan julukan yang mereka buat sendiri atau julukan yang diberikan
masyarakat? Apa yang sebenarnya membuat seorang gadis menjajakan keperawanannya demi
pembalap idolanya? Dalam makalah ini kami akan membahas masalah cabe-cabean lebih
mendalam dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena fenomena ini merupakan
fenomena yang sudah meresahkan masyarakat banyak, kami akan membahas penyebab
timbulnya dan bagaimana menghadapi cabe-cabean dengan narasumber salah satu dari pelaku
cabe-cabean tersebut.
3. Pembahasan
a. Tentang Cabe-cabean
Jika mendengar persoalan seputar cabe-cabean, pasti identik dengan kehidupan remaja
dan pergaulannya. Remaja menurut WHO merupakan individu yang sedang berkembang dari
saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai
kematangan seksual.
1
Kematangan seksual dalam diri remaja dapat ditandai dengan terjadinya
peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih
mandiri.
2
Usia relatif seseorang yang tergolong sebagai remaja berkisar antara 10-20 tahun.
Pada usia itu keadaan psikologis remaja umumnya labil, karena masa peralihan disebut juga
sebagai masa mencari jati diri. Maka tidak heran banyak terjadi penyimpangan yang dilakukan
pada usia tersebut baik dalam pergaulan maupun kehidupan pribadinya.
Seiring perkembangan zaman, dimana arus globalisasi tidak dapat terbendung. Tidak
heran bila pola-pola kehidupan manusia semakin meluas. Salah satunya adalah pola-pola dalam
pergaulan remaja. Jika dahulu pergaulan remaja selalu terjaga hanya dalam lingkup hal-hal
positif, tidak seperti sekarang, pergaulan remaja telah terpengaruh oleh pergaulan ala dunia barat,
yang membiarkan pergaulan bebas antar kaum remaja. Contoh yang dapat terlihat sekarang ini
adalah munculnya fenomena cabe-cabean yang melibatkan wanita sebagai pelakunya. Cabe-
cabean merupakan suatu bentuk pergaulan yang dapat menjurus kearah seks bebas. Karena
dalam pengertian masyarakat cabe-cabean adalah remaja wanita yang biasanya berusia sekitar
15-20 tahun, mudah diajak bergaul dan mau untuk menjadi mainan lelaki. Wanita remaja yang
tergolong dalam istilah ini biasanya berbentuk kelompok-kelompok yang mempunyai kegemaran

1
Salit o Wi rawan Sarwono, Psikol ogi Remaj a, (Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, 2008). Hlm. 9
2
Ibi d
sama, seperti gemar menonton balapan liar. Istilah cabe-cabean sebenarnya lahir dari stereotip
masyarakat khususnya dikalangan kaum muda yang menilai wanita-wanita remaja yang masuk
dalam pergaulan negatif. Stereotip merupakan suatu konsep yang erat kaitannya dengan konsep
prasangka.
3
Orang yang menganut stereotip mengenai kelompok lain cenderung berprasangka
terhadap kelompok tersebut. Sikap prasangka ini lahir karena masyarakat menilai kelompok
wanita itu berada pada pergaulan yang kurang baik. Tentu prasangka dan stereotip masyarakat
tidak lahir tanpa penyebab. Nyatanya memang kelompok wanita ini bersikap kurang etis, seperti
gemar menggoda orang lain yang berjalan di depannya, merokok, sering keluar malam, bergaul
dengan lelaki yang tidak jelas identitasnya, dll. Oleh karena itu, masyarakat menjuluki kelompok
ini sebagai cabe-cabean yang bisa juga berarti penghangat suasana.
Fenomena cabe-cabean memang negatif. Karena bisa dikatakan bersinggungan dengan
prostitusi. Perempuan yang tergolong sebagai cabe biasanya loyal terhadap orang-orang asing
karena faktor uang, mereka rela mengikuti kemauan orang lain (lelaki khususnya) asal si lelaki
tersebut memiliki uang untuknya. Hal ini dapat dikatakan sebagai tindakan sosial karena
memberikan dampak pada masing-masing pelakunya. Persis seperti prostitusi, tetapi mungkin
perbedaannya adalah fenomena cabe-cabean hanya sebagai gaya hidup remaja saja, tidak sebagai
pekerjaan layaknya prostitusi.
Lingkungan dapat mempengaruhi kepribadian seseorang, sehingga lingkungan dapat
menjadi faktor utama untuk menjerumuskan remaja dalam pergaulan negatif. Apabila seorang
gadis yang terdidik dari keluarga baik, jika ia mempunyai lingkungan sekunder seperti kelompok
bermain buruk maka ia cenderung akan mengikuti perkembangan lingkungan sekundernya
tersebut. Jika telah bergabung dengan suatu kelompok bermain maka sulit untuk tidak
terjerumus terhadap segala hal negatif didalamnya, walaupun ia berusaha untuk menolak.
Seorang remaja pasti merasa malu jika tidak mengikuti pergaulan pada kelompoknya namun
disisi lain ia juga tahu bahwa pergaulan yang dijalaninya itu negatif. Sehingga, akan terjadi
pergolakan pada diri remaja tersebut tentang ke mana arah yang akan ia ikuti. Durkheim

3
Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiol ogi , (Jakart a : LPFE UI, 2004) Hlm. 152
mengatakan bahwa fenomena seperti ini disebut fakta sosial, karena bersifat memaksa dan
mengendalikan individu yang berasal dari luar individu itu sendiri.
Selain lingkungan sekunder, faktor lain yang menyebabkan seorang gadis muda
tergolong sebagai cabe-cabean adalah faktor ekonomi pribadinya. Pada umumnya seorang
gadis mempunyai keinginan untuk menunjukkan dirinya untuk bisa mandiri, termasuk dalam hal
ekonomi. Apabila ada suatu barang yang diinginkan seperti perhiasan dan fashion, tetapi gadis
tersebut tidak memiliki uang untuk memperolehnya walaupun sudah meminta kepada orangtua.
Maka akan timbul keinginan untuk mencari uang sendiri, tetapi harus dengan cepat. Jalan keluar
yang terbaik untuk mereka adalah salah satunya menjadi cabe-cabean. Hal ini dapat merubah
mental gadis tersebut dan bisa menjadi penyebab awal mula dari prostitusi.
b. Cabe-cabean sebagai Tindakan Sosial
Pendekatan Teori
Istilah cabe-cabean adalah suatu fenomena baru yang muncul di masyarakat, dimana mayoritas
ada pada remaja hingga dewasa. Cabe-cabean merupakan penyimpangan yang terjadi di
masyarakat yang semuanya adalah wanita. Ciri-ciri umum cabe-cabean biasanya identik dengan
hal-hal yang berbau balap (liar dan balapan lainnya) dan berada pada satu lingkungan tertentu,
maksudnya cabe-cabean ini tidak sendiri melainkan dalam suatu perkumpulan balap ada
beberapa wanita cabe-cabean di lingkungan itu. Selain itu ia biasanya mengenakan tang-top dan
hot-pants sebagai ciri khas lainnya. Menurut Emile durkheim, hal seperti ini adalah suatusub
kebudayaan menyimpang masyarakat, pengelompokannya lebih kepada Fakta Sosial non-
material, adalah sesuatu yang dianggap nyata (eksternal) dan merupakan fenomena yang bersifat
intersubjektif yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Karena manusia tidak
berbatas untuk mencari jati diri, maka setiap orang pasti ada pemikiran untuk hal itu. Karena
pada kenyataannya kita adalah makhluk ambiguitas (otonom, tetapi tidak mempunyai sisi
otonomnya). Dan pada hal ini ambiguitas adalah sesuatu yang mempengaruhi pola perilaku cabe-
cabean ini pada umumnya. Mereka kurang tanggap pada peraturan tetapi tidak ingin mengatur
diri sendiri, dan biasanya cabe-cabean ini diperebutkan seperti piala bergilir oleh Joki atau
pembalap untuk dibawa-bawa. Ada juga cabe-cabean yang mempunyai germo-nya sendiri,
seperti wanita panggilan tetapi tetap dalam ruang lingkupnya. Cabe-cabean ini biasanya hanya
mendapat panggilan melalui media, dan mau melakukan hal itu jikalau sedang tidak mempunyai
uang. Perilaku seperti ini bukan semata-mata hanya terjadi begitu saja sebagai perilaku otomatis
tetapi tetap membawa proses pemikiran di dalamnya. Hal itu dikatakan terjadi ketika individu
melekatkan makna Subektif pada tindakan mereka. Menurut weber, hal ini yang disebut sebagai
tindakan sosial. Ada beberapa tipe tindakan sosial dalam rasionalitasnya, baik tindakan rasional
maupun non rasional, yaitu:
a. Rasionalitas instrumental (Zweckrationalitat)
Yaitu tindakan yang diarahkan rasional yang diarahkan ke suatu sistem dari tujuan-tujuan
individu yang memiliki sifat-sifatnya sendiri dan dipertimbangkan. Seperti pola perilaku
cabe-cabean yang kedua, hal ini penuh pemikiran dan bukan semata-mata dilakukan
karena keterpaksaan dari luar individu.
b. Rasionalitas yang berorientasi nilai (Wertrasionalitat)
Rasionalitas ini lebih kepada hal-hal nilai atau suatu hal yang religius. Dalam hal ini
cabe-cabean ini nampaknya kurang paham atau tidak diberikan pelajaran seperti hal-hal
yang religius sehingga perilaku menyimpang itu timbul karena kurangnya nilai religius
tersebut.
c. Tindakan afektif
Tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau
perencanaan sadar. Tindakan seperti ini terjadi bisa saja karena hal hal intern seperti
permasalahan keluarga. Kurangnya pertimbangan dalam melakukan tindakan itulah yang
memlbuatnya terjerumus dan terpengaruh sehingga menjadi cabe-cabean.
4

c. Cabe-cabean sebagai Kenakalan Remaja

4
Doyl e Paul Johnson, 1986 Teori Sosi ologi Kl asi k dan Modern, Gramedia hal.
220
Fenomena cabe-cabeanbukanlah sebuah tindakan kriminal melainkan merupakan salah satu jenis
kenakalan remaja.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kenakalan remaja adalah
perilaku remaja yang menjalahi aturan sosial di lingkungan masyarakat tertentu.
5

Masa remaja adalah masa krisis identitas bagi kebanyakan anak remaja. Remaja sedang
mencari-cari figur panutan, namun figur itu tidak ada didekatnya. Secara umum dan dalam
kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit untuk ditempuh, baik secara
individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur
bermasalah (the trouble teens). Hal inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa masa remaja
dinilai lebih rawan daripada tahap-tahap perkembangan manusia yang lain.
Lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan remaja, karena remaja
tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga dirumah atau dengan teman-teman disekolah tetapi
juga mulai menjalin hubungan dengan orang-orang dewasa di luar lingkungan rumah dan
sekolah, yaitu lingkungan masyarakat. Dalam hasil wawancara kelompok yang telah dilakuakan
penulis, narasumber mengaku dia memulai gaya hidup cabe-cabean karena pengaruh lingkungan
sekitar.
Kondisi lingkungan selalu berubah setiap saat, oleh karenanya remaja dituntut untuk dapat
membina dan menyesuaikan diri dengan bentuk-bentuk hubungan yang baru dalam berbagai
situasi, sesuai dengan peran yang dibawanya pada saat itu dengan lebih matang.
6

Dalam hal menyesuaikan diri, dikenal istilah conformity atau penyesuaian diri dengan
masyarakat. Sebaliknya, deviation adalah penyimpangan terhadap kaidah-kaidah dan nilai-nilai
dalam masyarakat.
7


5
Dedy Sugono, dkk, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Pusat Bahasa, Depdiknas.
Hal. 964

6
Hurlock, E. B. 1997. Perkembangan Anak Jilid 2 (Terj emahan ol eh Meitasari
Tjandra). Jakart a: Erlangga hal 78
Kemampuan remaja dalam melakukan penyesuaian atau konformitas dengan lingkungan
sosialnya tidak timbul dengan sendirinya. Kemampuan ini diperoleh remaja dari bekal
kemampuan yang telah dipelajari dari lingkungan keluarga, dan proses belajar dari pengalaman-
pengalaman baru yang dialami dalam interaksinya dengan lingkungan sosialnya. Saat individu
berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, individu tersebut harus memperhatikan tuntutan dan
harapan sosial yang ada terhadap perilakunya. Maksudnya bahwa individu tersebut harus
membuat suatu kesepakatan antara kebutuhan atau keinginannya sendiri dengan tuntutan dan
harapan sosial yang ada, sehingga pada akhirnya individu akan merasakan kepuasan pada
hidupnya.
8

Pada masa remaja mereka dituntut untuk dapat menentukan sikap pilihannya dan kemampuannya
dalam menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungannya agar partisipasinya selalu relevan
dalam kegiatan masyarakat. Berdasarkan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, kenyataan
memperlihatkan bahwa tidak semua remaja berhasil atau mampu melakukan penyesuaian sosial
dalam lingkungannya.
Fenomena cabe-cabean terjadi di tengah masyarakat perkotaan di mana anggota-anggotanya
selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di kotanya. Penduduk
kota terdiri dari masyarakat yang latar belakang budayanya berbeda. Dengan demikian, kaidah-
kaidah dalam kota selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Maka conformity di kota
besar seperti Jakarta di mana fenomena cabe-cabean terjadi sangatlah kecil. Karena cabe-cabean
menganggap proses tersebut sebagai hambatan perkembangan gaya hidup mereka.
b. Cabe-cabean Sebagai Degradasi Moral
Dalam gaya hidup cabe-cabean praktik seks bebas, konsumsi miras, menggunakan pakaian yang
minim merupakan hal yang dianggap wajar. Hal ini tentulah menjadi masalah moral.

7
Soekanto, Soerjoono 1986. Sosiol ogi Suatu Pengantar. Jakarta CV Raj awali
hal 193
8
Uyun, Susatyo Yuwono 2006 Correlation Between Social Adjustment And Problem Solving
With The Behavioral Delinquency at Adolescent. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3
No. 1 hal 4
Moralitas bagi Durkheim tidak hanya menyangkut suatu ajaran normatif tentang baik dan buruk,
melainkan suatu sistem fakta yang diwujudkan, (yang terkait dalam keseluruhan sistem dunia).
Moralitas bukan saja menyangkut sistem prilaku yang sewajarnya melainkan juga suatu sistem
yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan, dan ketentuan-ketentuan ini adalah sesuatu yang
berada di luar diri si pelaku.
Dalam berbagai tulisannya, Durkheim menjelaskan bahwa moralitas itu bertumpu pada tiga sikap
dasar. Pertama, moralitas haruslah dilihat sebagai suatu fakta sosial yang kehadirannya terlepas
dari keinginan subyektif. Fakta sosial harus dianggap sebagai fenomena sosial, yang terdiri atas
aturan-aturan atau kaidah-kaidahdalam masyarakat. Karena perbuat moralistis berarti berbuat
menurut kepentingan kolektif.
9

Cabe-cabean dianggap melanggar kaidah-kaidah moral karena mereka melakukn tindakan-
tindakan yang melanggar moral (seperti yang telah dijabarkan di atas).
4. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa, cabe-cabean merupakan pandangan masyarakat ataupun anggapan
dari remaja mengenai seorang perempuan yang dianggap bergaul di dalam lingkungan yang
kurang baik. Sedangkan orang yang di anggap cabe-cabean tersebut tidak menganggap bahwa
dirinya adalah seorang cabe-cabean. Bahkan beberapa diantara mereka yang dianggap cabe-
cabean tersebut tidak mengetahui apa itu cabe-cabean.
Banyak faktor yang menyebabkan seseorang dianggap cabe-cabean atau menjadi cabe-cabean.
Seperti misalnya faktor ekonomi, faktor lingkungan tempat bermain, faktor pertemanan, faktor
kemajuan zaman, dan bahkan faktor gaya hidup. Cabe-cabean biasanya menyerang remaja
perempuan yang berusia terbilang masih muda, yang masih belum mempunyai pendirian yang
cukup kuat dalam bergaul. Akibatnya mereka gampang terpengaruh oleh keadaan di lingkungan
mereka, walaupun keadaan dilingkungan tersebut tidak baik.

9
Eriyanti, Fitri 2006. Aplikasi Teori Emile Durkheim tentang Moralitas dan Pendidikan Moral.
Jurnal Demokrasi Vol. V No5. 1 hal 3
Banyak sekali kriteria seseorang yang bisa dikatakan cabe-cabean. Ada yang dianggap cabe-
cabean karena sering berkumpul atau bermain dengan laki-laki padahal disaat berkumpul itu dia
hanya menjadi perempuan sendiri yang berada disana. Ada pula yang dianggap cabe-cabean
karena sering berpakaian minim dan ketat, lalu menggoda laki-laki yang ada disekitarnya. Ada
pula yang dianggap cabe-cabean karena sering menonton balapan liar atau memang terlibat
dalam acara balapan liar tersebut. Selain itu banyak juga perempuan yang menjadi cabe-cabean
karena mengikuti temannya, karena menganggap jiga dia seperti temannya akan menjadi
perempuan yang dianggap gaul oleh teman-temannya yang lain. Bahkan ada juga cabe-cabean
memang karena mau, dan dibayar oleh laki-laki.
Hal ini sangat disayangkan. Disaat seorang remaja seharusnya menuntut ilmu, mempersiapkan
diri menuju masa depan malah terjerumus kedalam pergaulan yang tidak benar. Seharusnya
orang tua lebih memperhatikan anak-anaknya dalam bergaul di era globalisasi seperti ini. Selalu
mengingatkan hal-hal yang memang seharusnya tidak dilakukan oleh anak-anaknya agar tidak
dilakukan. Selain itu pendidikan berbasis agama juga seharusnya ditekankakn kepada anak-anak
mereka. Lembaga seperti sekolah juga mengajarkan nilai-nilai moral kepada murid-muridnya.
Agar mereka bisa memilah-milah dalam bergaul. Dan kembali lagi kepada kesadaran remaja itu
sendiri. memang sekarang zamannya telah berbeda menjadi semakin maju dan kehidupannya
semakin ke arah modern. Tetapi bukan berarti kemajuan tersebut membuat nilai moral dalam
dirinya hilang.






Daftar Pustaka
Eriyanti, Fitri 2006. Aplikasi Teori Emile Durkheim tentang Moralitas dan Pendidikan Moral.
Jurnal Demokrasi Vol. V No5. Kewarganegaraan
Hurlock, E. B. 1997. Perkembangan Anak Jilid 2 (Terjemahan oleh Meitasari Tjandra). Jakarta:
Erlangga
Johnson, Doyle Paul 1986 Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jakarta: Gramedia
Sarwono, Salito Wirawan. 2008 Psikologi Remaja, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Soekanto, Soerjoono 1986. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta CV Rajawali
Sugono, Dedy, dkk. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa, Depdiknas.
Sunarto, Kamanto, 2004 Pengantar Sosiologi, Jakarta : LPFE UI
Susatyo, Uyun Yuwono 2006 Correlation Between Social Adjustment And Problem Solving With
The Behavioral Delinquency at Adolescent. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 1