You are on page 1of 13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

OBAT VASODILATOR DAN DIGITALIS


KELOMPOK: C XI

HENI EZZAWINA BINTI HASSAN

: 102009316

MUHAMAD FAZRIN BIN RAMAN

: 102009319

SITI NURJAWAHIR BINTI ROSLI

: 102009323

AMEER RIDHWAN BIN OSMAN

: 102009327

THIRUMURUGAN A/L NYANASEGRAM

: 102009334

NUR ANIS BINTI MOHD ANUAR

: 102009337

MEGALA A/P BALAKRISHNAN

: 102009343

Pendahuluan
Obat vasodilator merupakan obat yang sering diapakai untuk menanggulangi penyakit
kardiovaskuler seperti angina pectoris dan infark miokard. Semua obat vasodilator mempunyai
mula kerja dan lama kerja yang berbeda dan harus diberikan mengikut tahap keparahan serangan
peneyakit. Efek vasodilator berbeda-beda menurut cara pemberiannya misalnya amilnitrit
diberikan secara inhalasi untuk mendapatkan efek yang cepat. Isosorbid dinitrat yang diberikan
secara sublingual memberikan efek kerja sedang manakala isosorbid dinitrat, penta-eritritol-tetranitrat dan nitrogliserin dengan pemberian oral memberikan efek vasodilator yang lambat.

Sasaran belajar

Menjelaskan perbedaan mula kerja dan lama kerja berbagai obat vasodilator

Menjelaskan dan mengamati efek vasodilator kerja cepat,sedang dan lambat yang
diberikan pada orang percobaan.

Menjelaskan farmakodinamik obat-obat vasodilator

Percobaaan obat vasodilator oral dan sublingual


Persiapan
1. 2 orang percobaan yang siap puasa 4 jam sebelum praktikum dimulai.
2. Alat-alatan yang diperlukan : tensimeter,stetoskop,thermometer kulit, arloji dan sapu tangan.
3. obat-obat vasodilator :

Tatalaksana
1. Dua orang percobaan dari masing-masing kelompok yang telah mempersiapkan diri tidak
makan 4 jam sebelum percobaan, berbaring di atas meja laboratorium dengan tenang.
Lakukanlah pengukuran parameter basal, tekanan darah, denyut jantung/nadi, frekuensi
nafas dan suhu kulit sebanyak 2 kali dengan interval 5 menit dan hitung rata-ratanya.
2. Jika pengamatan parameter telah selesai mintalah obat vasodilator pada instruktur, seta
perhatikan

baik-baik

cara

penggunaannya

apakah

harus

ditaruh

dibawah

lidah( sublingual) atau ditelan dengan segelas air. Jangan tertukar.


3. Lakukanlah pengamatan parameter diatas untuk orang percobaan:
a) Yang mendapat obat sublingual, dilakukan tiap 3 menit selama jam.
b) Yang mendapat obat oral, dilakukan tiap 15 menit selama 2 jam atau bila
parameter telah kembalik ke nilai basal.
4. Tanyakan gejala-gejala apa yang dirasakan oleh orang percobaan selama percobaan dan
24 jam setelahnya. Bandingkan data-data yang diperoleh kelompok lain, apakah ada beda
mula kerja, lama kerja dari masing-masing obat vasodilator yang diberikan.

Hasil

ISOSORBID DINITRAT
Tabel 1 : hasil pengamatan parameter untuk obat sublingual, yang dilakukan tiap 3 menit selama jam

Parameter
dasar/menit

12

15

18

21

24

27

30

Tekanan
darah
(mm/Hg)

110/
70

110/
80

100/
80

94/
68

88/
68

94/
68

92/
74

100/
72

90/
76

90/
76

90/
76

Frekuensi
nafas

12

13

13

12

11

11

11

11

16

16

15

Frekuensi
nadi

69.0

78

66

76

72

72

72

74

60

72

72

Suhu (c)

34.9

35.0

35.7

35.8

35.4

35.4

35.3

35.0

35.7

34.4

34.7

Tabel 2: hasil pengamatan parameter untuk obat oral, yang dilakukan


tiap 15 menit selama 2 jam atau bila parameter telah kembali ke nilai basal.

Parameter
dasar/menit

15

30

45

60

Tekanan
darah
(mm/Hg)

110/70

110/ 80

100/ 80

94/ 68

88/ 68

Frekuensi
nafas

12

13

13

12

11

Frekuensi
nadi

69.0

78

66

76

72

Suhu (c)

34.9

35.0

35.7

35.8

35.4

Pembahasan
1. Isosorbid dinitrat adalah obat sediaan dari nitrat organic yang sering dipakai sebagai obat
anti-angina. Nitrat organik menyebabkan relaksasi otot sehingga terjadinya vasodilatasi
arteri dan vena dan menurunkan tekanan diastolic pada ventrikel kanan dan kiri..

2. Pada pemberian cepat dengan dosis yang tinggi,nitrat organik dapat menyebabkan
vasodilatasi arteriol perifer yang menurunkan tekanan diastolic dan sistolik. Ini memicu
penurunan curah jantung sehingga menyebabkan takikardi dan risiko terjadinya
hipertensi ortostatik.
3. Isosorbid dinitrat yang diberikan sublingual adalah nitrat kerja singkat dengan lama kerja
10-60 menit. Karena mula kerjanya yang cepat,OP diminta untuk duduk sebelum
diberikan obat. Isosorbid dinitrat yang diberikan oral adalah nitrat kerja panjang dengan
lama kerja 4-6 jam.
4. Pada orang percobaan yang diberikan sediaan sublingual efek penurunan tekanan darah
dapat dilihat seawal minit ke-9 manakala orang percobaan dengan sediaan obat oral
hanya menunjukkan penurunan tekanan darah yang bermakna pada menit ke-45. Kedua
orang percobaan juga melaporkan merasa sakit kepala yang berdenyut beberapa menit
setelah makan obat akibat efek vasodilatasi.
5. Nitrat organik dapat menimbulkan vasodilatasi dan efek anti-agregasi trombosit melalui 2
mekanisme yaitu :
o

Non-endothelium-dependent : Nitrat organik adalah satu pro-drug yang setelah


dimetabolisme akan mengeluarkan nitrogen oksida (NO) dan endothelial derived
relaxing factor (EDRF). NO akan membentuk kompleks nitrosdoheme dengan
enzim guanilat siklase dan menstimulasi enzim ini sehingga terjadi peningkatan
cGMP. cGMP akan menyebakan defosforilasi myosin dan timbulnya relaksasi
otot polos.

Endothelium-dependent : Nitrat organik akan menyebabkan lepasnya prostasiklin


dari endothelium yang bersifat vasodilator. Tetapi jika endotel ini mengalami
kerusakan misalnya pada infark miokard, efek vasodilatasi ini akan hilang.

6. Nitrat organik menurunkan kebutuhan oksigen dan meningkatkan suplai oksigen dengan
cara mempengaruhi tonus vaskuler dan member efek kardiovaskuler yaitu :
a. Vasodilatasi pada seluruh sistem vaskuler.

b. Penurunan tekanan vaskuler


c. Peningkatan kapasitas vena
d. Dilatasi arteriol
7. Sediaan obat seperti nitrogliserin dan isosorbid dinitrat mengalami metabolism lintas
pertama di hati jadi bioavailibilitasnya menurun sebanyak 20% sehinggakan pada
serangan angina akut harus diberi secara sublingual.
8. Preparat dari nitrat organik diindikasikan untuk pasien dengan angina pectoris,infark
jantung dan gagal jantung kongestif.
9. Efek samping yang sering muncul adalah sakit kepala dan flushing karena vasodilatasi
dan dapat diatasi dengan pemberian parasetamol. Hipotensi postural juga bisa timbul dan
jika efek lebih berat mungkin disertai bersama refleks takikardi.
10. Pada OP dapat dilihat sedikit peningkatan suhu kulit muka dan warna kulit muka yang
agak kemerahan karena dilatasi arteriol temporal dan meningeal.
11. Penghentian obat ini secara mendadak dapat menimbulkan rebound angina.

Efek Digitalis Pada Manusia Melalui Pengamatan Yang Dilakukan Pada


Jantung Kodok
Persiapan
1. Hewan coba: kodok (rana), berukuran agak besar
2. Alat-alat: tempat fiksasi kodok, jarum pentul, gunting anatomis dan chirurgis, pinset,
semprit tuberkulin
3. Bahan/zat: larutan uretan 10% dan larutan ringer
Obat: larutan tinktura digitalis 10%

Tatalaksana
1. Pilih satu kodok untuk satu kelompok, suntikan ke dalam saccus lymphaticus dorsalisnya
larutan uretan 10% sebanyak 2ml
2. Bila sudah terjadi anestesi pada kodok, fiksasilah kodok pada papan fiksasi dengan posisi
terlentang, dengan telaapak tangan dan kaki terfiksasi dengan jarum pentul
3. Bukalah toraks kodok dimulai dengan kulit, dilanjutkan dengan lapisan dibawahnya,
dengan irisan berbentuk V, dimulai dari bawah processus ensiformis ke lateral, sampai
jantung terlihat jelas dan hindari tindakan yang menyebabkan banyak perdarahan
4. Bila jantung telah tampak, singkirkan jaringan yang menutupinya, dan bukala secara hatihati perikard jantung kodok yang tampak sebagai selubung jantung berwarna perak
5. Sekarang jantung tampak utuh, teteskan segera setetes larutan ringer laktat untuk
membasahi jantung , lalu perhatikan dengan teliti siklus jantung antara sistol dan diastol,
terutama dengan memperhatikan bentuk dan warna ventrikel
6. Tetapkan frekuensi denyut jantung per-menit sebanyak 3 kali, dan ambil rata-rata
7. Teteskan larutan tinktura digitalis 10% dengan tetesan kecil melalui semprit tuberkulin
yang dilepas jarumnya, langsung pada permukaan jantung, tiap 2 menit, dan hitung
frekuensi denyut jantungnya tiap selesai meneteskan digitalis.
8. Pelajarilah perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus jantung (sistol-diastol) dan
perubahan warna jantung. Pemberian digitalis akan menyebabkan penurunan prekuensi

jantung, ventrikel akan berwarna lebih merak pada saat ddiastol dan menjadi lebih putih
pada saat sistol, serta amati juga interval A-V yang makin besar. Hal-hal tadi sesuai
dengan efek terapi digitalis pada manusia. Penetesan digitalis diteruskan tiap 2 menit,
sampai terjadi keracunan yang teramati sebagai terjadinya hambatan jantung parsial,
disusul terjadinya hambatan mutlak dan berakhir dengan berhentinya denyut ventrikel,
biasanya dalam keadaan sistol (asistole)
9. Tentukan apakah jantung yang telak berhenti berdenyut tadi masih bisa dirangsang
dengan rangsangan mekanis, yaitu dengan menyentuh permukaannya dengan pinset
10. Buatlah catatan dari seluruh pengamatan tadi, dan buatlah kurva yang menggmbarkan
hubungan antara frekuensi denyut jantung dengan jumlah tetesan digitalis yang dipakai

Hasil
Tabel : hubungan antara bilangan tetes larutan digitalis dan frekuesi denyut jantung

Bilangan tetes larutan digitalis

Frekuensi denyut jantung

35

32

22

17

14

14

12

15

10

11

12

13

14

Percobaan obat digitalis dengan menggunakan kodok sebagai hewan percobaan

Pembahasan
1. Larutan tiktura digitalis 10% digunakan dengan tetesan kecil melalui semprit tuberculin
langsung pada permukaan jantung kodok. Larutan tersebut perlu diteteskan oleh orang
yang sama agar tekanan yang digunakan untuk mengeluarkan larutan dari semprit adalah
sama, lalu menghasilkan volume yang sama untuk setiap tetesan larutan digitalis.
2. Digitalis yang diberikan memperlihatkan khasiat vagotonik, yang menyebabkan
penghambatan aliran kalsium di nodus AV dan aktivasi aliran kalium yang diperantarai
asetilkolin di atrium. Efek elektrofisiologik yang ditimbulkan oleh efek tak langsung
digitalis ini adalah hiperpolarisasi, pemendekan aksi potensial atrium dan peningkatan
masa refrakter di nodus AV. Efeknya terhadap nodus AV ini dimanfaatkan mengakhiri
aritmia arus pada nodus AV dan untuk mengendalikan denyut ventrikel pada fibrilasi
atrium. Digitalis khusus berguna pada fibrilasi atrium yang menyertai payah jantung,

dimana pada keadaan ini antagonis kalsium atau penyekat reseptor beta, bila diberkan
sebagai obat aritmia, akan memperburuk fungsi jantung.
3. Obat-obat gagal jantung atau digitalis adalah penghambat ACE, antagonis angiotensin II,
diuretic, antagonis aldosteron, -blocker, vasodilator, digoksin, antitrombotik dan anti
aritmia
4. Digitalis atau glikosida jantung yang digunakan adalah digoksin. Digoksin tergolong di
dalam inotropic drugs. Saat ini hanya digoksin yang digunakan untuk terapi gagal
jantung, sedangkan digitoksin dan folia digitalis tidak digunakan lagi.
5. Efek digoksin pada pengobat gagal jantung adalah
Inotropik positif
Kronotropik positif
Mengurangi aktivasi sara simpatis
6. Digoksin yang digunakan dalam ujikaji adalah inotropik positif karena kekuatan
kontraksi ventrikel dan atrium meningkat, dan kemudian apabila larutan digitalis yang
ditambahkan semakin banyak, terjadi keracunan yang diamati sebagai hambatan jantung
parsial, menyebabkan kekuatan kontraksi semakin berkurang dan disusuli hambatan
jantung total/mutlak yang berakhir dengan berhentinya kontraksi atrium dan ventrikel.
7. Efek dromotropik dapat dinilai dari interval denyut atrium dan ventrikel. Berlaku
pemanjangan masa interval atrium dan ventrikel dari pemberian 1 tetes hingga 7 tetes.
Namun pada tetes ke 8, berlaku percepatan masa interval denyut atrium dan ventrikel.
Namun, akibat keracunan digitalis, disusuli masa interval yang lebih panjang untuk
denyut atrium dan ventrikel lalu berhenti berdenyut, walaupun telah dirangsang jantung
kodok tersebut.
8. Efek kronotropik yaitu efek pada frekuensi denyut atrium dan ventrikel. Pada tetesan ke
8 larutan digitalis, dapat memperlihatkan efek kronotropik yang positif karena berlaku
peningkatan yang jelas frekuensi denyut atrium dan ventrikel. Akibat keracunan
9.

digitalis, akhirnya frekuensi kembali menurun dan jantung tidak berdenyut lagi.
efek toksik dan letal digitalis dapat dilihat dengan memerhatikan frekuensi denyut
jantung untuk setiap tetesan larutan digitalis. Efek toksik dapat dilihat setelah
peningkatan denyut jantung pada tetes ke 8, pada tetes ke 9 berlaku penurunan yang
ketara pada denyut jantung. Ini adalah hambatan jantung yang partial. Dan apabila
tetesan yang diberikan diteruskan, jantung berhenti berdenyut, dan tahap ini adalah

hambatan jantung yang total, yaitu letal digitalis.


10. Efek toksin digoksin berupa:

Efek proaritmik, yakni penurunan potensial istirahat (akibat hambatan pompa Na)
menyebabkan after potential yang mencapai ambang rangsang, dan penurunan

konduksi Av serta peningkatan automatisitas


Efek samping gastrointestinal: anoreksia, mual, muntah, nyeri lambung
Efek samping visual: penglihatan berwarna kuning
Lain-lain : delirium, rasa lelah, malaise, bingung, mimpi buruk.
11. Margin of safety (perbedaan antara dosis terapeutik dan dosis letal) digitalis adalah
sangat kecil. Hal ini dibuktikan pada tetes ke 8, berlaku peningkatan kontraksi dan juga
frekuensi denyut jantung kodok yang jelas. Namun, pada tetes ke 9 terdapat penurunan
yang ketara pada denyut dan kontraksi jantung kodok. Oleh itu, dosis yang sesuai
diberikan adalah dosis yang sebelum berlakunya hambatan jantung yang parsial agar
mengelakkan berlakunya intoksikasi digitalis.
12. Terdapat implikasi klinis pada pemakaian digitalis pada pasien payah jantung. Digoksin
sekarang ini hanya diindikasikan untuk :
pasien gagal jantung dengan fibrilasi atrium,

digoksin dapat memperlambat ventrikel (akibat hambatan pada

nodus AV)
pasien gagal jantung dengan ritme sinus yang masih simtomatik, terutama yang
disertai takikardi, meskipun telah mendapat terapi maksimal dengan penghambat
ACE dan -blocker.

Digoksin tidak mengurangi mortalitas sehingga tidak lagi dipakai


sebagai obat lini pertama, tapi memperbaiki gejala-gejala dan mengurangi
hospitalisasi, terutama hospitalisasi karena memperburuknya gagal
jantung.

Sebaiknya kadar digoksin dipertahankan <1 ng/mL karena pada


kadar yang lebih tinggi, risiko meningkat.

Kesimpulan

Preparat obat dari nitrat organik seperti isosorbid dinitrat dan nitrogliserin mempunyai
efek vasodilator dan anti-agregasi trombosit.

Nitrat memberi

efek kardiovaskuler yang bermakna dengan menurunkan kebutuhan

oksigen dan meningkat suplai oksigen.

Pemberian obat vasodilator adalah berdasarkan tahap keparahan serangan serta mula
kerja dan lama kerja obat tersebut. Pemberian sublingual diindikasikan untuk serangan
angina akut dan juga sebagai profilaksis jangka pendek saat beraktifitas.

Digitalis memberikan efek tidak langsung dengan menghambat aliran kalsium di AV dan
mengaktivasi aliran kalsium di atrium. Digitalis diindikasikan untuk penderita aritmia di
sinus AV dan penderita fibrilasi payah jantung.

Pemberian digitalis memperlihatkan efek pada jantung seperti perpanjangan interval AV, penurunan frekuensi denyut jantung dan perubahan warna jantung saat sistol dan
diastole.