You are on page 1of 5

A.

Identitas
1. Nama / NIM : M. Abd. Fathir/ 201210070311112
2. Jurusan/Semester/Kelas : Pendidikan Biologi/ II/ IIC
3. Asisten Koordinator : Rizal Isnaini
4. Mata Praktikum : Dasar-dasar Ilmu Gizi
5. Topik : Pneumonia

B. Bibliografi
1. Nama penulis : Fitriarma Putri Santoso, dkk.
2. Tahun Jurnal : 2012
3. Judul Jurnal : (Jurnal Sains dan Seni; 37-42,vol. 1)

C. Tujuan Penulisan :Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor
faktor eksternal yang mempengaruhi pneumonia balita di Jawa Timur
dengan menggunakan GWR.

D. Fakta-fakta Unik :
1. Faktor geografis berpengaruh terhadap kejadian pneumonia balita di
Jawa Timur sehingga model GWR yang terbentuk berbeda-beda tiap
kabupaten.
2. Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pneumonia balita di Jawa
Timur adalah pemberian vitamin A dan balita mendapat imunisasi.
3. Jika suatu daerah terjangkit suatu penyakit menular, maka terdapat
kemungkinan bahwa daerah sekitarnya akan tertular penyakit ini pula.
Oleh karena itu diperlukan suatu metode pemodelan statistik dengan
memperhitungkan aspek spasial yaitu menggunakan metode
Geographically Weighted Regression (GWR) yang diharapkan mampu
menghasilkan model pneumonia balita yang tepat di tiap wilayah.
4. Vitamin A bermanfaat untuk meningkatkan imunitas dan melindungi
saluran pernapasan dari infeksi kuman, sedangkan imunisasi
merupakan pemberian kekebalan agar tubuh tahan terhadap penyakit
yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang sehingga
pemberian vitamin A dan imunisasi dapat menurunkan risiko untuk
terkena pneumonia.

E. Konsep Utama :
1. Geographically Weighted Regression (GWR) adalah bentuk lokal dari
regresi linier dan merupakan metode statistik yang digunakan
menganalisis data spasial.
2. Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang
mengenai parenkim paru.



F. Refleksi Diri :
1. Adakah klasifikasi pada Pneumonia?
Jawaban: a) Berdasarkan klinis dan epideologis :
Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia/
nosocomial pneumonia)
Pneumonia aspirasi Pneumonia pada penderita
Immunocompromised pembagian ini penting untuk
memudahkan penatalaksanaan.

b) Berdasarkan bakteri penyebab
Pneumonia bakterial / tipikal. Dapat terjadi pada semua
usia. Beberapa bakteri mempunyai tendensi menyerang
sesorang yang peka, misalnya Klebsiella pada penderita
alkoholik, Staphyllococcus pada penderita pasca infeksi
influenza.
Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella
dan Chlamydia
Pneumonia virus
Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder.
Predileksi terutama pada penderita dengan daya tahan
lemah (immunocompromised).

c) Berdasarkan predileksi infeksi
Pneumonia lobaris. Sering pada pneumania bakterial,
jarang pada bayi dan orang tua. Pneumonia yang terjadi
pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder
disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya : pada
aspirasi benda asing atau proses keganasan
Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak
infiltrat pada lapangan paru. Dapat disebabkan oleh
bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua.
Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus
Pneumonia interstisial
2. Strategi apa yang digunakan untuk menurunkan angka kematian?
Jawaban: Salah satu strategi untuk menurunkan angka kematian yaitu
dengan Millenium Development Goals (MDGs) dengan
tujuan untuk menurunkan 2 per 3 kematian balita pada
rentang waktu antara tahun 1990-2015 (Depkes RI, 2005).
3. Apa yang menjadi faktor kejadian pneumonia pada balita?
Jawaban: kondisi fisik bangunan salah satunya kepadatan hunian
mempunyai hubungan terhadap kejadian pneumonia pada
balita. Kepadatan hunian erat kaitannya dengan penularan
penyakit. Bila penghuni terlalu padat dan terdapat penghuni
yang sakit, maka akan mempercepat transmisi atau penularan
penyakit tersebut (Nurjazuli dan Widyaningtyas, 2006).
merokok juga dalam rumah merupakan salah satu faktor yang
bermakna dalam kejadian ISPA termasuk pneumonia. Lama
merokok dan jumlah konsumsi rokok mempunyai hubungan
bermakna dengan prevalensi penyakit ISPA, asma,
pneumonia, serta jantung (Yuwono, 2008) .
4. Bagaimana ciri-ciri penyakit pneumonia?
Jawaban: Pneumonia merupakan penyakit batuk pilek disertai napas
sesak atau napas cepat. Napas sesak ditandai dengan dinding
dada bawah tertarik ke dalam, sedangkan napas cepat
diketahui dengan menghitung tarikan napas dalam satu menit.
Untuk balita umur 2 tahun sampai 5 tahun tarikan napasnya
40 kali atau lebih dalam satu menit, balita umur 2 bulan
sampai 2 tahun tarikan napasnya 50 kali atau lebih per menit,
dan umur kurang dari 2 bulan tarikan napasnya 60 kali atau
lebih per menit (Depkes, 1991).
5. Apa saja yang menyebabkan timbulnya pneumonia di masyarakat?
Jawaban: Bakteri, virus, mikroplasma, dan protozoa adalah hal yang
menyebabkan tumbuhnya pneumonia di masyarakat
(Misnadiarly, 2008 dan Djojodiboroto, 2009).
6. Apa saja tanda-tanda penyakit pneumonia pada balita?
Jawaban: Batuk nonproduktif, Ingus (nasal discharge), Suara napas
lemah, Penggunaan otot bantu napas, Demam, Cyanosis
(kebiru-biruan), Thorax photo menujukkan infiltrasi melebar,
Sakit kepala, Kekakuan dan nyeri otot, Sesak napas,
Menggigil, Berkeringat, Lelah, Terkadang kulit menjadi
lembab, dan Mual dan muntah (Misnadiarly, 2008)
7. Bagaimana cara penularan penyakit pneumonia?
Jawaban: Pada umumnya pneumonia termasuk kedalam penyakit
menular yang ditularkan melalui udara. Sumber penularan
adalah penderita pneumonia yang menyebarkan kuman ke
udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk droplet.
Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman
penyebab pneumonia kedalam saluran pernapasan yaitu
bersama udara yang dihirup, di samping itu terdapat juga
cara penularan langsung yaitu melalui percikan droplet yang
dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan berbicara
kepada orang di sekitar penderita, transmisi langsung dapat
juga melalui ciuman, memegang dan menggunakan benda
yang telah terkena sekresi saluran pernapasan penderita
(Azwar, 2002).

G. Daftar Pustaka :
Handayani, Resty, P. 2011. Gambaran Kegiatan Penemuan Kasus
Pneumonia pada Balita di Pusekesmas se-Kota Semarang tahun
2011. Jurnal Kesehatan Masyarakat 1 (2): 1-12

Pramudiyani, dkk. 2011. Hubungan antara Sanitasi Rumah dan Perilaku
dengan Kejadian Pneumonia pada Balita. Jurnal Kesehatan
Masyarakat 6 (2): 71-78

Riskianti, Annissa. 2009. Faktor-faktor yang Menyebabkan Pneumonia.
Universitas Indonesia: 8-26