You are on page 1of 17

Hegemoni dalam Novel Renjana

1
HEGEMONI TOKOH-TOKOH DALAM NOVEL RENJANA
KARYA ANJAR ANASTASYA
Debbing Kumalasari (11020074035)
S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Surabaya
Debbing.kumalasari29@gamil.com
Nilla Tuwindasari (1102007040), Rian Dwi Mulyo (1102007050)
S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Surabaya
nillatuwinda@gmail.com
Abstrak
Karya tulis ini memfokuskan pada masalah hegemoni terhadap
tokoh-tokoh dalam novel Renjana menggunakan teori
hegemoni Gramschi. Tujuan penelitian ini adalah
mendeskripsikan hegemoni terjadi pada tokoh-tokoh dalam
novel Renjana karya Anjar Anastasya. Penelitian ini
merupakan jenis penelitian deskriptif. Metode yang digunakan
adalah metode kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah
novel Renjana karya Anastasya. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa novel Renjana karya Anastasya
merupakan novel yang bagus dan menarik karena di dalamnya
memuat beberapa konsep hegemoni yang beragam dan
dikemas dengan perilaku tokoh yang terhegemoni dengan
menunjukkan hal-hal positifnya. Dalam cerita Renjana
dikisahkan para tokoh melakukan perintah agama dengan
senang hati dan ketulusan, begitu juga dalam hal ketulusan
cinta. Hal yang kurang baik dalam novel Renjana ini adalah
di dalam novel tersebut digambarkan hegemoni terhadap
tokoh Dalima dan Ola. Hegemoni tersebut adalah pimikiran
bahwa perempuan harus mengerjakan semua pekerjaan rumah,
mengasuh anaknya sendiri, meninggalkan karir dan
kesenangan pribadinya. Secara tidak langsung novel tersebut
berpesan bahwa istri yang baik adalah istri yang mampu
mengerjakan semua pekerjaan rumahtangga sendiri,mengasuh
anak sendiri, dan lain sebagainya. Novel Renjana ini
Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0
- 216
merupakan novel yang tepat dibaca tingkatan mahasiswa
smester awal keatas
Kata kunci: mimetik, hegemoni, novel


PENDAHULUAN
Dalam pendekatan mimetik
adanya anggapan bahwa karya
sastra merupakan tiruan alam atau
penggambaran dunia dan kehidupan
manusia di semesta raya ini.
Sasaran yang dieliti adalah sejauh
mana novel merepresentasikan
dunia nyata atau sernesta dan
kemungkinan adanya intelektualitas
dengan karya lain. Hubungan antara
kenyataan dan rekaan dalam sastra
adalah hubungan dialektis atau
bertangga. Mimetis tidak mungkin
tanpa kreasi, tetapi kreasi tidak
mungkin tanpa mimesis. Takaran
dan perkaitan antara keduanya
dapat berbeda menurut
kebudayaannya.
Dalam mengkaji karya satra
kita dapat menghubungkan dengan
sosiologi sastra. Sosiologi sastra
membahas karya sastra yang
dihubungkan dengan masyarakat.
Karya sastra sesungguhnya adalah
dunia miniatur, karya sastra
berfungsi sebagai pengekspresian
kejadian-kejadian, yang telah
dikerangkakan dalam pola
kreativitas dan imajinasi.
Ketika menghubungkan
karya sastra dengan masyarakat
maka kita akan memahami karya
sastra dari sudut pandang sosiologi
sastra. Dalam sosiologi sastra
terdapat berbagai teori yang dapat
digunakan. Salah satunya adalah
teori hegemoni. Dalam teori
hegemoni terdapat dominasi
kekuasaan suatu kelas sosial atas
kelas soial lainnya, melalui
kepemimpinan intelektual dan
moral yang dibantu dengan
dominasi atau penindasan.
Berdasarkan uraian di muka, teori
hegemoni ini akan diterapkan pada
salah satu karya sastra yakni novel
yang berjudul Renjana karya
Anjar.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah diuraikan di atas,
permasalahan penelitian ini adalah
bagaimana hegemoni terjadi pada
tokoh-tokoh dalam novel Renjana
karya Anjar Anastasya?

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah
mendeskripsikan hegemoni terjadi
pada tokoh-tokoh dalam novel
Renjana karya Anjar Anastasya.

Kajian Teori
Dalam kerangka teori Gramsci
terdapat enam konsep kunci, yaitu
kebudayaan, hegemoni, ideologi,
Hegemoni dalam Novel Renjana
3
kepercayaan populer, kaum
intelektual, dan negara.
1. Kebudayaan
Gramsci menaruh perhatian
yang besar terhadap kebudayaan
sebagai satu kekuatan material
yang mempunyai dampak praktis
dan berbahaya bagi masyarakat.
Konsep kebudayaan itu khususnya
bagi proletariat. Ia hanya berfungsi
sebagai alat untuk menciptakan
masyarakat yang tidak dapat
menyesuaikan diri, masyarakat
yang percaya bahwa mereka
superior di hadapan manusia
lainnya karena sudah mengingat
data-data dan fakta-fakta dan yang
dengan cepat menyebutkannya
dalam setiap kesempatan yang
dengan demikian mengubah
mereka menjadi suatu perintang
antara diri mereka sendiri dengan
orang lain. Ia berfungsi
menciptakan sejenis
intelektualisme yang lemah dan
tanpa warna, yang melahirkan
tukang celoteh yang pretensius
yang mempunyai efek lebih
berbahaya daripada penyakit.
Bagi Gramsci sendiri konsep
kebudayaan yang lebih tepat, adil
dan lebih demokratis adalah
kebudayaan sebagai organisasi,
disiplin batiniah seorang yang
merupakan pencapaian suatu
kesadaran yang lebih tinggi, yang
dengan sokongannya, seorang
berhasil dalam memahami nilai
historis dirimya, fungsinya di
dalam kehidupan, hak-hak dan
kewajibannya. Revolusi sosisal
harus didahului oleh revolusi
kebudayaan atau revolusi ideologis.
Revolusi kebudayaan itu tidak
berlangsung secara spontan,
alamiah melainkan melibatkan
berbagai faktor cultural tertentu
yang memungkinkan terjadi
revolusi tersebut. Menurutnya,
bentuk-bentuk organisasi cultural
merupakan objek yang menarik
untuk diteliti secara konkret,
terutama dalam hubungan dengan
kemungkinan operasinya dalam
kehidupan praktis.
Studi semacam itu akan
melibatkan kelompok intelektual
yang kenyataannya berada dalam
kesenjangan yang besar dengan
massa popular. Selain itu akan
terlibat pula didalamnya tokoh-
tokoh intelektual tertentu yang pada
kenyataanya sering kali
berpengaruh dalam penyebaran
gagasannya daripada, misalnya
sebuah universitas. Segala aktivitas
cultural itu akan bermuara pada
satu sasaran yang tunggal, yaitu
penciptaan satu iklim cultural
tunggal melalui suatu proses yang
rumit. Penciptaan satu iklim yang
tunggal menuntut satu pemersatuan
social cultural yang melaluinya
multisiplitas kehendak dan tujuan
yang tersebar dan heterogen
tersatukan. Kegiatan serupa itu
merupakan aktivitas historis yang
Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0
- 216
hanya mungkin dilakukan oleh
manusia kolektif.
2. Hegemoni
Menurut Gramsci, kriteria
metodologis yang menjadi dasar
studi didasarkan pada asumsi
bahwa supremasi suatu kelompok
social menyatakan dirinya dalam
dua cara yaitu sebagai dominasi
dan sebagai kepemimpinan moral
dan intelektual. Suatu kelompok
social mendominasi kelompok
antagonistic yang cenderung ia
hancurkan atau bahkan ia
tahlukkan dengan kekuatan tentara.
Atau kelompok tersebut memimpin
kelompok yang sama dan beraliansi
dengannya. Suatu kelompok sosial
dapat dan sungguh harus,
melaksanakan kepemimpinan
sebelum memenangkan kekuasaan
pemerintahan. Ia menjadi dominasi
apabila menjalankan kekuasaan,
tetapi bahkan jika ia sudah
memegang dominasi itu, ia harus
meneruskan untuk memimpinnya
juga.
Kepemimpinan itulah oleh
Gramsci disebut sebagai hegemoni.
Hegemoni didefinisikan Gramsci
sebagai sesuatu yang kompleks
yang sekaligus bersifat ekonomik
dan etis-politis. Dalam hal
hegemoni harus diperhatikan
interes-interes kelompok dan
kecenderungan yang terhadap
hegemoni itu dijalankan. Kelompok
pemimpin harus membuat
pengorbanan tertentu. Pengorbanan
tersebut tidak dapat menyentuh
yang esensial yaitu, interes
ekonomi, sebab walaupun
hegemoni bersifat etis politis, ia
juga harus bersifat ekonomis, harus
didasarkan pada fungsi yang
menentukan yaitu inti aktivitas
ekonomi.Hegemoni mendefinisikan
sifat kompleks dari hubungan
antara massa rakyat dengan
kelompok pemimpin masyarakat:
suatu hubungan yang tidak hanya
politis dalam pengertian sempit,
tetapi juga persoalan mengenai
gagagsan atau kesadaran.
3. Ideologi, Kepercayaan dan
Kebiasaan Umum (Common
Sense)
Gramsci mengatakan bahwa
kepercayaan popular dan gagasan
serupa itu adalah juga kekuatan
material. Gagasan atau kepercayaan
itu tersebar sedemikianrupa
sehingga memengaruhi seseorang
tentang dunia. Ada tiga cara
penyebaran gagasan atau filsafat
tertentu itu, yaitu melalui bahasa
common sense dan folkor.
Menurut Gransci, jika benar bahwa
setiap bahasa mengandung elemen
suatu konsepsi mengenal dunia dan
kebudayaan. Common sense, bagi
Gramsci merupakan konsepsi
tentang dunia yang paling persvatif
tetapi tidak sistematik. Common
sense itu mempunyai dasar dalam
pengalaman popular tetapi tidak
merepresentasikan suatu konsepsi
yang terpadu mengenai dunia
Hegemoni dalam Novel Renjana
5
seperti halnya filsafat. Setiap
stratum social mempunyai common
sensenya sendiri yang secara
mendasar merupakan konsepsi
yang paling tersebar mengenai
kehidupan manusia. Dalam
pengaruh hegemoni yang serupa
itu, bagi Gramsci, manusia dalam
massa membutuhkan pemahaman
kritis mengenai dirinya sendiri
yang memungkinkannya melawan
hegemoni politik dan kontradiksi di
atas. Kesadaran untuk menjadi
bagian dari kekuatan hegemoni
yang khusus adalah tahap pertama
kearah kesadaran diri yang
progresif yang didalamnya teori
dan praktik menjadi satu. Suatu
ideologi dalam pengertian yang
luas yaitu dalam pengertian sebagai
suatu konsepsi mengenai dunia
yang secara implicit
memanifestasikan dirinya dalam
seni, hukum, aktivitas ekonomi dan
dalam kehidupan individual
maupun kolektif.
4. Kaum Intelektual
Menurut Gramsci, penyebaran
itu tidak terjadi dengan sendirinya,
melainkan melalui lembaga social
tertentu yang menjadi pusatnya.
Pusat itu mempunyai fungsionaris
yang mempunyai peranan penting,
yaitu kaum intelektual. Kata
intelektual suatu strata social
yang menyeluruh yang
menjalankan suatu fungsi
organisasional dalam pengertian
yang luas-entah dalam lapangan
produksi, kebudayaan ataupun
dalam administrasi politik. Setiap
kelompok sosial dalam lapangan
ekonomi menciptakan satu atau
lebih strata intelektual yang
memberinya homogenitas dan
suatu kesadaran mengenai
fungsinya sendiri tidak hanya
dalam lapangan ekonomi, tetapi
juga dalam lapangan social dan
politik. Kelompok intelektual
pertama diatas disebut Gramsci
sebagai kelompok intelektual
organik, sedangkan kelompok
kedua disebut kelompok intelektual
tradisional.
5. Negara
Gramsci membedakan dua
wilayah dalam Negara: dunia
masyarakat sipil dan masyarakat
politik. Yang pertama penting bagi
konsep hegemoni karena
merupakan wilayah kesetujuan,
kehendak bebas, sedangkan
wilayah yang kedua merupakan
dunia kekerasan, pemaksaan dan
intervensi.

METODE
Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kualitatif.
Menurut Ratna (2011:47) metode
kualitatif memberikan perhatian
terhadap data alamiah, data dalam
hubungannya dengan konteks
keberadaannya.Dengan demikian,
data yang akan disajikan tidak
berupaangka-
angka melainkan berupa katakata te
Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0
- 216
rtulis. Afifuddin (2009:59)
berpendapat bahwa metode
kualitatif digunakan
untuk mendapatkan data yang
mendalam, suatu data yang
mengandung makna.
Makna adalah datayang sebena
rnya, data yang pasti dan
merupakan suatu nilai di balik data
yang tampak. Oleh karena itu,
penelitian kualitatif tidak
menekankan pada generalisasi,
tetapi lebih menekankan pada
makna.
Dalam penelitian ini yang
menjadi sumber data adalah novel
Renjana karya Anastasya. Data
penelitian ini adalah kata-kata yang
mengandung hegemoni.
Menurut Sugiyono (2012:308)
teknik pengumpulan data
merupakan langkah yang paling
utama dalam penelitian karena
tujuan utama dari penelitian adalah
mendapatkan data. Tanpa
mengetahui teknik pengumpilan
data, maka peneliti tidak akan
mendapatkan data yang memenuhi
standar data yang ditetapkan.
Dalam penelitian ini digunakan
teknik dokumentasi. Dokumen
merupakan catatan peristiwa yang
sudah berlalu. Dokumen bisa
berbentuk tulisan, gambar, dan
sebagainya. teknik dokumentasi
dilakukan dengan mencari Renjana
karya Anjar Anastasya. Teknik
penganalisisan data dalam
penelitian ini menggunakan analisis
kualitatif. Penelitian kualitatif
adalah data yang dikumpulkan
berupa kata-kata, gambar, dan
bukan angka-angka. Selain itu
semua yang dikumpulkan
kemungkinan menjadi kunci
terhadap apa yang sudah diteliti
(Moleong, 2005:5).


HASIL DAN PEMBAHASAN
Novel Renjana karya Anjar ini
merupakan novel yang bagus dan
menarik karena di dalamnya
memuat beberapa konsep hegemoni
yang beragam dan dikemas dengan
perilaku tokoh yang terhegemoni
dengan menunjukkan hal-hal
positifnya. Misalnya Anjar
menggambarkan hegemoni
terhadap para tokohnya atas dasar
hegemoni kebudayaan yang dapat
dijadikan contoh bagi para
pembacanya. Tak selamanya
hegemoni memiliki kenegatifan.
Dalam cerita Renjana dikisahkan
para tokoh melakukan perintah
agama dengan senang hati dan
ketulusan, begitu juga dalam hal
ketulusan cinta.
Hal yang kurang baik dalam
novel Renjana ini adalah karena
di dalam novel tersebut
digambarkan hegemoni terhadap
tokoh Dalima dan Ola. Hegemoni
tersebut adalah pimikiran bahwa
perempuan harus mengerjakan
semua pekerjaan rumah, mengasuh
anaknya sendiri, meninggalkan
Hegemoni dalam Novel Renjana
7
karir dan kesenangan pribadinya.
Secara tidak langsung novel
tersebut berpesan bahwa istri yang
baik adalah istri yang mampu
mengerjakan semua pekerjaan
rumahtangga sendiri,mengasuh
anak sendiri, dan lain sebagainya.
Begitu juga dengan Ola yang
dihegemoni dengan perasaan cinta
dengan Daus sehingga
menjadikannya memilih tidak
menikah dengan siapapun.
Novel Renjana ini merupakan
novel yang tepat dibaca tingkatan
mahasiswa smester awal keatas
karena mengusung cerita hegemoni
yang memerlukan pemikiran tinggi
sehingga tepat juga digunakan
untuk diskusi terutama
menggunkan teori hegemoni.
Teori hegemoni Faruk dibangun
atas dasar enam hal. Enam hal
tersebut antara lain
a. Kebudayaan
Kehidupan di desa Ola yang
membudaya adalah perempuan
yang bekerja keras sedangkan laki-
laki justru hidup santai-santai. Hal
ini telah membudaya di desa
tersebut sehingga membuat para
lelaki di desa tersebut juga akan
malas-malasan dan berpangku
tangan. Tidak ada perubahan yang
terjadi pada kehidupan di desa
tersebut. ola pun akhirnya juga
terhegemoni oleh kehidupan di
desa tersebut. inlah yang
mendorong ola akhirnya menjadi
lebih giat dalam bekerja keras. Hal
tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
Ola tersenyum kecil.
Ia ingat betul banyak laki-laki
di desa itu yang ternyata
memilih menganggur daripada
bekerja.
Sebuah pilihan hidup yang
aneh.
Lalu, bagaimana mereka bisa
hidup?
Dari istri atau ibunya. Para
perempuan itulah yang terlibat
sangat giat bekerja. Merekalah
yang memenuhi kebutuhan
rumah tangga. Sementara, para
laki-laki entah nongkrong,
merokok, menonton TV,
sesekali membereskan rumah,
atau malah tidur.
Ola sempat risi dengan
pemandangan ini.
Tapi menurut Aisah,
demikianlah yang terjadi,
seperti lingkaran setan yang
tidak menemui ujungnya.
Cara bertamu dan menghadap
Romo merupakan suatu
kebudayaan yang dianut oleh orang
banyak. Sikap dan cara bertemu
dengan pemuka memang harus
menghormati pemuka agama
tersebut. dalam hal ini adalah Daus.
Ola menghargai dan monghormati
Daus sehingga terkesan sikapnya
menjadi canggung. Hal ini
sebenarnya juga karena
terhegemoni oleh konsep
pemikirannya bahwa ia harus
menghargai dan menghormati
orang lain dengan cara menghargai
dan menghormati diri sendiri. Hal
Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0
- 216
ini dilakukan Ola ketika ia bertemu
dengan Daus. Tampak dalam
kutipan sebagai berikut.
Selamat siang, Ola. Selamat
datang kembali di biara ini.
Ehhh. Hei, Romo
Firdaus, Ola berdiri lalu
menyalami. Selamat siang,
Romo. Selamat siang.
Senang bertemu Romo lagi.
Senyum manis ia kembangkan
bagi seseorang yang tetap tak
akan terganti ini.
Walah kok jadi resmi gini
tho, La? protes Daus sembari
menerima uluran tangan Ola.
Keduanya pun duduk di tempat
duduk masing-masing.
Ah, aku kan Cuma
menghargai tata krama
bertamu. Apalagi di tempat
yang resmi seperti ini.
Aku orang biasa. Meski
pekerjaanku memang
mengharuskanku berhubungan
dengan orang banyak, tapi aku
masih ingin punya batas antara
diriku dan orang luar. Ola
mengambil HP-nya. Kamu
tahu kenapa dari tadi aku tidak
membalas SMS, BBM atau
bahkan menolak telepon yang
masuk?
Kepala Daus bergeleng.
Itu karena aku bukan saja
sedang bertamu di rumahmu
dan mengobrol begini, tetapi
juga karena aku menghormati
diriku sendiri.
Membiasakan berdoa sebelum
tidur merupakan sesuatu hal yang
pasti Daus lakukan. Daus
melakukannya setiap hari.
Kebiasaan itu ia mulai dari dirinya
sendiri sebelum akhirnya ia
tularkan kepada umatnya. Hal
tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
Segala bentuk karunia-Mu di
hari ini telah hamba
selesaikan. Izinkan raga
hamba boleh berbaring
nikmat pada selebar kasur,
tanda sesaat kenikmatan
duniawi sejenak hamba, utara
hati Daus kepada Sang
Pencipta. Di bungkukkan
tubuhnya menghadap ke alam
semesta.

Romo Daus menghegemoni
umatnya untuk berdoa sebelum
tidur. Ia berharap kebiasaan baik itu
dapat dilakukan umatnya setiap
hari. Kebiasaan tersebut sudah
Daus lakukan sebelumnya. Hal
tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
Blackberry Romo Daus
bergetar. Ada BBM yang
masuk
Rm. Daus: berdoalah dulu
sebelum tidur. Ingatlah
Tuhan telah baik menjagamu
hari ini.
Romo Daus menghegemoni Tra
untuk tidak memanggilnya dengan
sebutan Den. Pangilan Den ada
atas ajaran Romo Kusumo
almarhum. Panggilan itu pun
menjadi kebiasaan para pekerjanya,
tak terkecuali Bi Mumun. Romo
Daus hendak mengubah klama
kebiasaan itu karena ia merasa
Hegemoni dalam Novel Renjana
9
tidak nyaman dipanggil dengan
panggilan Den. Romo Daus
merasa Bi Mumun sudah tidak
mungkin lagi mengubah
kebiasaannya memanggil Den
sehingga ia meminta Tra yang
belum menjadikan panggilan
Den untuk para Romo sebagai
kebiasaan untuk tidak melakukan
hal yang sama seperti Bi Mumun.
Hal tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
Tuh kan, di sini aja ada
pangilan Rama, Romo, Pastor
dan kadang-kadang
Padre. Romo Bernard
senyum-senyum.
HahaApalah arti
pangilan-pangilan itu. Itukan
tergantung kebiasaan dan
lidah orang saja, sangkal
Romo Daus. Artine yo podo
wae O ya, satu lagi
Daus teringat sesuatu,
jangan ikut-ikutan mangil
saya dan romo disini dengan
tambahan Den ya bibimu
itu sudah terbiasa mangil
kami begitu karena terlanjur
diajarkan Romo Kusumo
almarhum Baik, Den
Romo Hayuk, Neng..
Trapun menuruti langkah Bi
Mumun di hadapannya.
Mangga, Romo Mangga
Tra mangga
Romo Daus menghegemoni Tra
untuk membaca buku. Hal tersebut
ia lakukan karena ia mengetahui
Tra yang mempunyai hobi
membaca buku. Romo Daus yang
pada dasarnya juga gemar
membaca memiliki wawasan
tentang buku-buku mana saja yang
bagus untuk dibaca dan buku-buku
mana yang kurang bagus. Oleh
sebab itu, ia menyarankan Tra
untuk membaca buku-buku yang
menurutnya bagus untuk dibaca.
Tra pun mematuhi anjuran Romo
Daus. Hal tersebut tampak dalam
kutipan sebagai berikut.
Kamu hobi membaca y?
Tanya Daus Heh, Tra
menyeringai. Iya Romo saya
senang membaca. Itu karena
almarhum Ua Jun, suami Bi
Mumun suka ngasih buku-
buku ke saya semasa
hidupnya. Selain buku
favoritmu itu, coba baca buku
karya Paulo Coelho ini. Ada
sang Alkemis, Di Tepi
Sungai Piedra Aku Duduk
dan Menangis, dan yang lain.
Dua ini saja dulu.
Semangatnya kian mengebu
sesaat ia tahu aka nada
sesuatu yang bias dijadikan
tambahan pengetahuan baru
dari buku-buku yang barusan
ditawarkan Romo Daus.
b. Hegemoni
Hegemoni dalam
kepemimpinan moral Novel
Renjana ini dapat dilihat dari sikap
Aisyah dalam melaksanakan
sesuatu yang telah dinazarkan
sebagai wujud syukur atas
tercapainya sesuatu yang
diinginkan. Hal tersebut tampak
dalam kutipan sebagai berikut.
Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0
- 216
So glad to meet you,
Aisyah. Ola memeluk
kencang perempuan cantik
berkulit putih bersih yang
sudah sejak masuk kuliah
memutuskan untuk
mengenakan jilbab. Selain demi
mengikuti ajaran agama,
pilihan berjilbab itu dilakukan
sebagai pemenuhan nazarnya
karena bisa menembus
perguruan tinggi negeri, sesuai
cita-citanya.
Aisyah memilih melakukan
sesuatu atas dasar keharusan, yaitu
karena tuntutan agamamya.
Agamnya mengharuskan ia
menggunakan jilbab juga
mengharuskan menepati nazarnya.
Ia melakukan dengan senang dan
menikmati keterkekangan tersebut.
Hal yang sama juga dilakukan
oleh tokoh Dalimah. Memakai
jilbab yang dilakukan oleh Dalimah
merupkan hal yang dilakukan
karena tuntutan dan paksaan
agamnya namun dia menikmati
semua itu. Dia melakukan dengan
suka rela dan senang hati. Hal
tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
KEANGGUNAN perempuan
dengan jilbab putih itu telah
menjadikan hati Wie tiada
mampu mengelak lagi

........... Perempuan berkulit
kuning langsat, dengan jilbab
nan anggun telah melelehkan
hati Wie yang sekian lama
entah tersembunyi di mana
dan karena apa.
Hegemoni yang terjadi pada
umat Daus adalah mereka
melakukan perintah gereja dengan
senang hati dan sadar. Perintah
tersebut adalah sesuatu yang
mengikat namun mereka
melakukannya tanpa merasa
terbebani. Apapun yang dia
lakukan kalau atas dasar perintah
agama akan membuatnya menjadi
sesuatu yang menjadi kebutuhan
dan harus dia lakukan tanpa beban.
Kerelaan melakukan semua itu
adalah wujud hegomoni ajaran
agama terhadap umat Daus. Begitu
juga Daus, ia melakukan kegiatan-
kegiatan keromoannya dengan
melakukan lima tugas dengan rela
dan senang hati. Lima perinta itu
justru membuatnya puas bahkan
hal-hal yang mengikatnya itu
merasa beruntung karena umatnya
juga melakukan hal yang sama
dengannya, yaitu melakukan dan
mengerjakan perintah agama atas
dasar patu dan taat dengan agama
tanpa merasa terbebani. Hal
tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
Usai sudah tugas untuk
meringankan beban umatnya
sekaligus melakukan satu dari
lima perintah gereja. Daus
merasa beruntung sekali,
umatnya di sini masih mau
melihat perintah gereja itu
sebagai sesuatu yang tidak
membebani, tetapi mereka
secara sadar
melaksanakannya.
Hegemoni dalam Novel Renjana
11
Hegemoni yang terjadi pada
tokoh Ola adalah keputusan yang
dipilihnya untuk tidak menikah
dengan siapapun. Rasa cintanya,
kekagumannya terhadap Daus
membuatnya memilih hidup sendiri
tanpa laki-laki lain dengan senang
hati dan suka rela. Keinginannya
untuk menikah terbengkalai oleh
rasa cinta dan setianya terhadap
Daus. Hal tersebut tampak dalam
kutipan sebagai berikut.
Tak pernah terpikirkan oleh
Tra, ia akan bertemu Romo
Daus yang pernah ia kagumi.
Bukan saja karena tahi lalat di
pinggir pipi kanan itu, tetapi
juga karena karisma yang
terpancar dari laki-laki yang
menurut Ola memilih untuk
hidup selibat alias tidak
menikah seumur hidup itu.
Terhegemoni oleh aturan agama
juga dialami tokoh Tra pada setiap
hendak salat. Melakukan salat
setiap hari merupakan paksaan dan
keharusan agamanya. Hal ini dia
lakukan dengan rela dan suka cita
tanpa merasa terbebani. Begitu juga
ketika akan melakukan salat subuh
pada pagi hari. Rasa dingin air
yang menusuk kulitnya ketika
wudhu tidak membuatnya
meninggalkan niat memuji Sang
Kuasa. Walaupun ia tersiksa
dengan rasa rasa dingin yang
membekukan wajahnya namun hal
itu justru membuatnya justru
menikmati hal itu. Semua yang
berhubungan dengan perintah
agamanya dilakukan dengan suka
rela. Hal tersebut tampak dalam
kutipan sebagai berikut.
.... MEMBASUH wajah,
tangan, dan kaki denagn air
wudu setiap pagi adalah sebuah
hal yang kini sangat dinikmati
Tra. Dinginnya udara tidak
menghalangi niatnya untuk
segera memuji Sang Pemberi
Nikmat.....
.....Halangan kantuk dan rasa
lelah sisa sehari lalu yang
begitu menyerang seluruh
tubuhnya itu sekuat tenaga ia
singkirkan lebih dahulu. Niat di
kalbu tak ingin ketinggalan
waktu untuk tepat menghadap-
Nya, sesuai lima waktu yang
diminta-Nya......
Sikap Tra yang selalu membaca
salawat ketika sedang resah
merupakan bentuk hegemoni dari
saran dan kata orang tuanya. Tanpa
dipaksa membaca salawat, Tra
melakukannya. Kebahagian dan
ketenangan dia rasakan setelah
mekukan hal itu. Ini menunjukkan
bahwa dia telah dihegemoni saran
orang tuanya yang dihubungkan
dengan ajaran agamanya. Hal
tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
Bismillahirrahmaanirrahim.
Allhumma shalli alaa
sayyidina muhammadin
waalaa aali sayyidina
muhammadin shalaatan
daaimatan mustamirratan
taduumu bidawaamika
watabqa-ka watakh-ludubi-
khuludika walaa-ghaa yata
Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0
- 216
lahaa duuna mardhaa-tika
walaa-jazaa-aliqaa-
ilihaawamushalli-haa ghaira
jannatika wannazhri ilaa waj-
hikal karimi.
Tra melafalkan shalawat itu
berulang kali sembari
memejamkan mata.
Ketenangan itu pun kian
menjalar dari ujung kaki hingga
ujung kepala. Benar kata
Mamah dan Abah, jika sedang
gelisah dan resah, ucapkan
salawat, niscaya akan
membawa ketenangan.
Sebagaimana fungsinya,
shalawat nabi itu akan
membuat hati tenteram dan
pikiran menjadi tenang, jernih.
Hal yang sama tentang
hegemoni saran orang tua terjadi
pula pada Daus. Dia selalu
mengingat saran orang tuanya
bahwa ia tak boleh terjebak atas
putaran kenangan. Ia harus melihat
kepentingannya bukan hanya
keindahan semata. Hal tersebut
tampak dalam kutipan sebagai
berikut.
Sekonyong-konyong Daus
gelisah sendir, tak menentu.
Mata yang bisa memandang
banyak hal itu mempermainkan
rasa lho, Le Kalau kamu lihat
biru lalu kamu merasa indah,
coba kamu renungkan baik-
baik, indahnya itu sebatas mata
atau benar sampai hatimu.
Kalau Cuma sampai mata, ya
biarkan saja. Kalau benar sudah
sampai hati, kamu juga perlu
tanya, untuk apa? Nek ora
penting, yo nengke wae,
nasihat Ibunya bergema lagi di
dada. Daus mengambil napas
pendek.
Ya. Keindahan ini memang
belum pasti sampai ke hati.
Mungkin hanya karena
keindahan pandangan sesaat.
Daus tak hendak terjebak atas
putaran kenangan yang dibawa
olehnya.
uang itu urusan duniawi, Le
Kalau ada yang mencintai uang
tanpa mengerti bagaimana cara
menggunakannya dengan baik
dan berguna bagi dirinya dan
sesama, yo kuwi keliru. Tapi,
Le, kamu mesti inget juga uang
itu bisa menjadi bentuk dari
energi yang bisa dipakai
sebagai alat kebaikan. Jadi, ibu
pesan padamu, sing bijak yo,
Le menggunakan uangmu.
Salah satu pesan dari sang
Ibunda yang sangat Daus
pegang meski tak semudah
membuka dan menutup tangan.
Pilihan hidup yang dipilih
Halimah adalah menjadi ibu rumah
tangga. Pilihan tersebut berarti
pilihan meninggalkan semua karir
mapannya. Hal itu didasarkan
tuntutan untuk menjadi istri yang
baik untuk keluarganya. Ia
merelakan atau meninggalkan
kesukaan pribadinya dan memilih
kesengsaraan adalah wujud dari
sikap yang terhegemoni. Dibalik itu
semua, Dalimah justru menemukan
kebahagian tersendiri terhadap
pilihannya tersebut. ini dia lakukan
karena ingin menjadi perempuan
Hegemoni dalam Novel Renjana
13
ayng salihah dan berbakti. Dari
pemikiran yang demikian tentunya
membuatnya menjadi menikmati
tekanan-tekanan yang mengikatnya
menjadi ibu rumah tangga. Hal
tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
Dalimah rupanya sudah siap
lahir batin menjadi ibu rumah
tangga.
Ia tinggalkan karier mapan dan
kesukaan pribadinya demi
menapaki hidup berdua
bersama Wie, menyusuri hidup
dengan segenap suka-duka
sepanjang hari. Dalimah ingin
menjadi istri sekaligus
perempuan salihah nan
berbakti.
Menjadi ibu rumah tangga
dengan melakukan semua
pekerjaan dengan tangannya
sendiri, merupakan bentuk
hegemoni yang dialami oleh
Dalimah. Ia akan merasa senang
dengan kesibukan yang sebenarnya
membuatnya repot karen harus
mengasuh kedua anaknya dan
semua pekerjaan rumah dengan
tangannya sendiri. Sebenarnya
Dalimah akan merasa senang dan
bangga bisa melakakan semua
pekerjaannya. Bahkan dia akan
memilih susah-susah demi
mendapatkan kebahagian atau
kepuasan dari konsep istri yang
baik namun pada akhirnya dia
harus menerima kenyataan bahwa
dia masih membutuhkan bantuan
pembantu. Sikap ngeyel Dalimah
merupakan wujud dari hegemoni
pemikirannya sendiri tentang ibu
rumah tangga yang baik. Hal
tersebut dapat tercermin dari
kutipan berikut.
Kalau bukan karena kesibukan
istrinya mengasuh dua anak
mereka dan juga sebab sempat
drop karena darah rendahnya
mendadak kambuh, Bu Darsih
tidak akan ada di rumah ini.
Istri tercintanya itu masih
keuhkeuh ingin menyelesaikan
semua pekerjaan ruamh dengan
tangannya.
Rasa cinta yang menghegemoni
Tra terlihat dari sikapnya yang
selalu menyiapkan sarapan, makan
siang, membuatkan kopi, dan
memberi Raka minum. Sebenarnya
hal itu merupakan sesuatu yang
sangat merepotkan dan
menyusahkan namun Tra melkukan
hl itu dengan senang hati. Dirinya
telah dihegemoni oleh perasaannya
sendiri. Hal tersebut tampak dalam
kutipan sebagai berikut.
Pagi ketika ia datang, sarapan
selalu Tra bawakan.
Demikian juga saat siang.
Sesaat sebelum Raka pulang,
Tra pun masih sempat
memberikan sekadar air putih
penyegar tenggorokannya
atau sesekali kopi jika
memang Raka berkehendak.
Semua Tra lakukan dengan
hati.
Kata dan saran ustad dalam
Novel Renjana dapat juga
menghegemoni tokoh Aisyah dan
Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0
- 216
Tra. Aisyah percaya bahwa apa
yang dikatakan dan disarankan
ustad adalah suatu kebenaran yang
harus dilakukan. Tanpa harus
dipaksa, apa kata dan saran ustad
adalah hal yang patut ditaati.
Bahkan menurut pandangsn Ola
saran dari ustad dapat membuat
mata hati kakak Aisyah menjadi
terbuka kembali dan Aisyah pun
juga mempercayai hal itu. Apapun
dapat dia lakukan untuk dapat
menumpahkan perasaannya
bertemu dengan ustad sekalipun
harus pergi menempuh perjalanan
jauh menuju kampung halaman
ustad. Hal ini menunjukkan bahwa
sikap yang dilakukan Aisyah dan
Ola telah terhegemoni oleh ustad.
Tampak dalam kutipan sebagai
berikut.
Coba minta tolong ustad
kalian, Sah. Minta tolong
untuk memberi saran supaya
mata hati kakakmu terbuka,
saran Ola lagi.
Itu dia, La. Kebetulan
ustad yang sekarang itu beda
dengan zaman kami kecil
dulu. Dia malah memberi
dukungan pada kakakku.
Jauh-jauh dari kampung
halaman, Aisyah cuma ingin
menumpahkan perasaannya
saja. Selain karena ingin
bertemu dengan seorang
ustad yang pernah menjadi
pendamping rohaninya
selama kuliah dulu.
Aisyah berharap, lewat ustad
itu ia bisa mendapatkan
peneguhan atau penjelasan
yang bisa menguatkan dan
bisa ia bawa ke kampung
halamannya. Hingga ketika
nanti bertemu dengan
kakaknya itu, ia bisa
meneruskan apa yang ia dapat
dari ustad kepercayaannya
itu.

c. Ideologi, Kepercayaan, dan
Kebiasaan Umum
Perilaku Dalima yang memiliki
kebiasaan mengisi penuh air
minum di gelas khusus merupakan
bentuk kepercayaan yang
diturunkan dari ibunya.
Kepercayaan ini tentunya juga
dianut oleh banyak orang, termasuk
keluarga Dalima. Ia selalu
menyediakan segelas air dan
ditutup rapat agar air tersebut
tidakterkena debu dan akan segar
ketika diminum suami ketika
pulang kerja. Mereka percaya
bahwa dengan melakukan hal itu,
sang suami tidak akan merasa
kehausan saat bekerja.
Kepercayaan inilah yang
mendorong Dalima selalu
melakukannya dengan senang hati
demi suaminya. Hal tersebut
tampak dalam kutipan sebagai
berikut.
Istri tercintanya itu selalu
punya kebiasaan mengisi penuh
air minum di gelas khusus
miliknya selepas ia pergi. Tentu
saja dalam keadaan tertutup
rapat agar tidak terkena debu
atau kotoran lain. Ketika Wie
Hegemoni dalam Novel Renjana
15
kembali ke rumah, air putih
yang sudah ada di gelasnya itu
terasa lebih segar.
Katanya itu adalah ajaran
orangtuanya.
Papanya yang sering pergi ke
luar kota, selalu mendapati
gelasnya terisi air putih jernih di
gelas khusus miliknya jika pulang.
Kata sang Mama, agar keluarganya
selalu mengingat keberadaan
papanya itu di mana pun ia berada
kini dan supaya sang Papa tidak
kehausan selama bekerja.

d. Kaum Intelektual
Apapun yang dikatakan oleh
kaum intelektual tanpa dipaksa
akan dilakukan dengan suka rela.
Begitu juga dalam hal Renjana
hal ini adalah Romo Kusumo
ketika masih hidup. Beliau adalah .
Apapun yang dikatakna Romo
terhadap Bi Mumun akan segera
dilaksanakan tanpa paksaan. Ini
merupakan hegemoni
kepemimpinan yang terjadi di
biara. Begitu juga dilakukan oleh
Tra. Aturan tersebut akan
dilaksanakan sebagai sesuatu yang
memang harus dilaksanakan tanpa
merasa terbebani. Ia merasa bahwa
hal itu adalah baik sehingga ia
dihegemoni dengan konsep baik
pada pemikirannya. Hal tersebut
tampak dalam kutipan sebagai
berikut.
SEPERTI kebiasaan Bi
Mumun yang sudah-sudah, ia
sengaja menyisakan
secukupnya terlebih dahulu
makanan untuk para pekarya
di biara yang berjumlah enam
orang. Hal ini memang sudah
diajarkan oleh Romo
Kusumo saat masih hidup
dulu.
Menurut romo sepuh yang
sangat dihormati itu, meski
pekarya, mereka juga bekerja
bagi kemuliaan-Nya dengan
cara meladeni para penghuni
biara. Maka mereka juga
layak dan pantas untuk
mendapatkan makanan yang
sama. Bukan sisa setelah
dihidangkan.
Jangan pernah melanggarnya.
Karena jika melanggarnya,
Romo Kusumo bisa marah
besar. Biar begitu, hal baik
ini tetap dipertahankan Bi
Mumun. Sampai sekarang,
malah selalu diingatkan.
Demikian pula dengan Tra
Laksmi. Ia menuruti aturan
itu. Tra memahami bahwa hal
itu adalah baik. Tidak perlu
dibantah.
Pilihan hidup menjadi seorang
Romo adalah sebuah pilihan yang
tidak mudah. Banyak hal duniawi
yang harus ia tinggalkan untuk
menjalani panggilan suci ini. Romo
Daus merupakan Romo muda yang
telah berpengalaman dalam hal
pengabdiannya terhadap umat
sehingga tak heran jika seorang
Frater meminta pendapat dan
pencerahan darinya. Frater Jajang
mengalami goncangan dalam
melaksanakan kewajibannya.
Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0
- 216
Romo Daus tak tinggal diam, ia
menguatkan Frater Jajng yangg
sempat ingin keluar dari pastores.
Hal tersebut tampak dalam kutipan
sebagai berikut.
Saya berharap apa yang
terjadi padamu tidak
menyurutkan semangatmu
Frater, ujar Daus mengakhiri
lamunannya Saya paham
Frater. Kita sama-sama
berjuang untuk
mempertahankan pangilan
ini, ujar Daus kalem. Kita
sama-sama saling
mendukung ya, meskipun
kamu junior saya.
e. Negara
Bagaimanapun juga negara juga
bisa menghegemoni masyarakat.
Dalam hal ini adalah Daus yang
dihegemoni peraturan dan
penempatan Daus di daerah
pedalaman yang jauh. Apa pun
keputusan tersebut tidak akan dapat
merubah keadaan Daus. Daus pun
juga akan menerima dengan suka
cita. Hal tersebut terdapat pada
kutipan berikut.
Pedalaman yang jauh dari apa
pun dan siapapun menantang
darah muda romo yang baru
ditasbihkan ini.

PENUTUP
Simpulan
Novel Renjana karya Anjar ini
merupakan novel yang bagus dan
menarik karena di dalamnya
memuat beberapa konsep hegemoni
yang beragam dan dikemas dengan
perilaku tokoh yang terhegemoni
dengan menunjukkan hal-hal
positifnya. Misalnya Anjar
menggambarkan hegemoni terhadap
para tokohnya atas dasar hegemoni
kebudayaan yang dapat dijadikan
contoh bagi para pembacanya. Tak
selamanya hegemoni memiliki
kenegatifan. Dalam cerita
Renjana dikisahkan para tokoh
melakukan perintah agama dengan
senang hati dan ketulusan, begitu
juga dalam hal ketulusan cinta.
Hal yang kurang baik dalam
novel Renjana ini adalah karena
di dalam novel tersebut
digambarkan hegemoni terhadap
tokoh Dalima dan Ola. Hegemoni
tersebut adalah pimikiran bahwa
perempuan harus mengerjakan
semua pekerjaan rumah, mengasuh
anaknya sendiri, meninggalkan
karir dan kesenangan pribadinya.
Secara tidak langsung novel
tersebut berpesan bahwa istri yang
baik adalah istri yang mampu
mengerjakan semua pekerjaan
rumahtangga sendiri,mengasuh
anak sendiri, dan lain sebagainya.
Begitu juga dengan Ola yang
dihegemoni dengan perasaan cinta
dengan Daus sehingga
menjadikannya memilih tidak
menikah dengan siapapun. Novel
ini merupakan novel yang tepat dan
sesuai untuk mahasiswa smestera
awal katas.

DAFTAR PUSTAKA
Hegemoni dalam Novel Renjana
17
Af i f uddi n, Beni Ahmad Sae
bani . 2009. Metodologi Pe
nelitian Kualitatif . Bandung:
CV Pustaka Setia.
Anastasya, Anjar. 2013. Renjana.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Faruk. 2012. Pengantar Sosiologi
Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Moleong , 2005. Metodologi
Kualitatif Edisi Revisi.
Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Teori,
Metode, dan
Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.