You are on page 1of 5

Wulan

Susut Pengeringan
Pada uji susut pengeringan, dilakukan pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada
temperatur105oC selama 60 menit, 90 menit, dan 120 menit atau sampai berat konstan. Pada
suhu 105oC ini, air akan menguap, dan senyawa-senyawa yang mempunyai titik didih yang
lebih rendah dari air akan ikut menguap juga. Susut pengeringan dinyatakan sebagai nilai
prosen terhadap bobot awal. Pada praktikum ini uji susut pengeringan tidak sampai pada
berat konstan karena keterbatasan waktu. Pada menit ke 60 susut pengeringan sebesar 12%.
Pada menit ke 90 susut pengeringan sebesar 12,15%, dan pada menit ke 120 susut
pengeringan sebesar 12,35%. Dengan begitu, semakin lama pengeringan, semakin besar nilai
susut pengeringannya. Tetapi selisih kenaikan susut pengeringan amatlah sedikit yaitu sekitar
0,15% 0,2%. Tujuan mengetahui susut pengeringan adalah memberikan batasan maksimal
(rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan. Pada proses
pengeringan selama 30 menitnya, simplisia temulawak ini akan kehilangan senyawanya
sekitar 12%. Untuk 30 menit berikutnya , simplisia akan kehilangan senyawa dengan
kenaikan (selisih) sebesar 0,15% 0,2%.
Pada simplisia kulit jeruk ini mengandung minyak menguap, jadi susut pengeringan ini tidak
bisa dikatakan identik dengan kadar air, karena berat simplisia yang berkurang bukan hanya
disebabkan kehilangan air, namun juga ada zat lain seperti minyak atsiri. Sedangkan
kurkumin dalam bentuk kristal mempunyai titik lebur sebesar 183-185oC. Jadi pada suhu
105oC, kristal kurkumin ini tidak ikut menguap. Jadi pada susut pengeringan ini simplisia
temulawak ini akan kehilangan senyawa sebesar 12, 16% selama proses pengeringan.
Senyawa yang hilang (menguap) paling banyak adalah minyak menguap dan air.
Penetapan susut pengeringan. Susut pengeringan adalah persentase senyawa yang
menghilang selama proses pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi
juga senyawa menguap lain yang hilang).Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan
pada temperatur 105C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam
persen (metode gravimetri).
Metode gravimetri dilakukan, dengan menghitung susut pengeringan hingga tercapai bobot
tetap.
susut pengeringan = (bobot awal - bobot akhir)/bobot awal x 100%

Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap,
susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada
di atmosfer dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan
penyimpanan.

Kesimpulan
Uji Makroskopik. Uji makroskopik dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau
tanpa menggunakan alat. Cara ini dilakukan untuk mencari khususnya morfologi, ukuran, dan
warna simplisia yang diuji. Pemeriksaan secara makroskopik pengujian dilakukan dengan
mata telanjang atau dapat juga dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ
tanaman yang digunakan sebagai simplisia.
Parameter oranoleptik merupakan parameter spesiifik, digunakan untuk mendeskripsikan
bentuk, warna, bau, rasa menggunakan panca indera dengan tujuan pengenalan awal yang
sederhana dan seobyektif mungkin (Depkes RI, 2000).
Susut pengeringan merupakan parameter non spesifik, dimana pengukuran sisa zat setelah
pengeringan pada temperatur 105oC selama 30 menit atau sampai konstan, yang dinyatakan
dalam porsen. Dalam hal khusus (jika bahan tidak mengandung minyak menguap/atsiri dan
sisa pelarut organik) identik dengan kadar air, yaitu kandungan air karena berada di
atmosfer/lingkungan udara terbuka (Depkes RI, 2000).
Metode gravimetri dilakukan, dengan menghitung susut pengeringan hingga tercapai bobot
tetap(Anonim, 1995). Dengan rumus bobot simplisia awal-bobot simplisia akhir/bobot
simplisia awal x 100 %.
Daftar Pustaka
Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.
Anonim. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Depkes RI.

Floren
Pendahuluan
Latar Belakang
Pada praktikum sebelumnya para praktikan telah moncoba untuk membuat simplisia
nabati yang berbahan dasar kulit jeruk dan kunyit (rimpang). Setelah mencoba untuk
membuat simplisia makan tahap selanjutnya adalah memeriksa mutu dari simplisia tersebut.
Mutu sangat diperhatikan karena simplisia langsung di kosumsi sehingga harus aman.
Pemeriksaan mutu simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik, organoleptik, dan susut
pengeringan. Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi
langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk menyusun parameter standar mutu yaitu
sebagai berikut :
1. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya mempunyai tiga parameter
mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurnian
(bebas dari kontaminasi kimia dan biologis), serta aturan penstabilan (wadah,
penyimpanan dan transportasi).
2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap
diupayakan

memiliki

tiga

paradigma

seperti

produk

kefarmasian

lainnya,

yaituQuality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat).
3. Bahan simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggungjawab
terhadap respons biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi
komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan (Anonim,2000).
Kontrol kualitas merupakan parameter yang digunakan dalam proses standarisai suatu
simplisia . Parameter standardisasi simplisia meliputi parameter non spesifik dan spesifik.
Parameter nonspesifik lebih terkait dengan factor lingkungan dalam pembuatan simplisia
sedangkan parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang ada di dalam tanaman
(Anonim,1995).
Tujuan
1. Setelah melakukan praktikum ini, praktikan mampu membedakan simplisia yang telah
dibuat sebelumnya secara makroskopik (bentaku, ukuran, dan keadaan fisik lain yang
spesifik) dan organoleptik (warna, bau, dan rasa).

2. Praktikan dapat melakukan standarisasi mutu dengan penentuan susut pengeringan


simplisia.
Makroskopis
Uji makroskopik yaitu pemeriksaan awal dengan mengamati bentuk organoleptik
simplisia menggunakan panca indra dengan mendiskripsikan bentuk, warna, bau, dan rasa
kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya (spesies). Bentuk dari simplisisa misalnya
bulat, oval, memanjang, serbuk. Warna simplisia didefinisikan sesuai apa yang dilihat setelah
proses pengeringan. Bau bisa seperti khas aromatik atau bahkan tidak berbau. Dan rasa
misalkan pahit, manis, asam dan sebagainya.
Organoleptik
Organoleptik merupakan suatu metode yang digunakan untuk menguji kualitas suatu
bahan atau produk menggunakan panca indra manusia. Jadi dalam hal ini aspek yang diuji
dapat berupa warna, rasa, bau, dan tekstur. Organoleptik merupakan salah satu komponen
yang sangat penting dalam menganalisis kualitas dan mutu produk. Hampir sama seperti
makroskopis.
Susut Pengeringan
Susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses
pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa menguap lain
yang hilang). Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105C
selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri).
Susut

Pengeringan

(bobot

awal

bobot

akhir)/bobot

awal

100%

Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap,
susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada
di atmosfer dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan
penyimpanan.

1. Karena proses pengeringan dapat mengurangi kadar air dan menghentikan reaki
enzimatik dalam mencegah penurunan mutu atau perusakan simplisia. Air yang masih
tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat menjadi media pertumbuhan kapang
dan jasad renik lainnya. Enzim tertentu dalam sel masih dapat bekerja, menguraikan
senyawa aktif sesaat setelah sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masih
mengandung kadar air tertentu. Sehingga setelah dilakukan pengeringan maka
simplisia tidak mudah rusak, dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama.
2. Susut pengeringan mengetahui persentase senyawa yang menghilang selama proses
pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa
menguap lain yang hilang), sedangkan kadar air hanya untuk mengetahui batasan
maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan.
3. Metode Titrimetri
Metode ini berdasarkan atas reaksi secara kuantitatif air dengan larutan
anhidrat belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan ion
hidrogen. Kelemahan metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak tepat dan
reproduksibilitas bergantung pada beberapa faktor seperti kadar relatif komponen
pereaksi, sifat pelarut inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang
digunakan pada penetapan tertentu. Metode ini juga perlu pengamatan titik akhir
titrasi yang bersifat relatif dan diperlukan sistem yang terbebas dari kelembaban udara
(Anonim, 1995).
Metode Destilasi
Metode ini efektif untuk penetapan kadar air karena terjadi penyulingan
berulang kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah
adanya penguapan berlebih. Sistem yang digunakan tertutup dan tidak dipengaruhi
oleh kelembaban (Anonim, 1995).

Metode Gravimetri
Dengan menghitung susut pengeringan hingga tercapai bobot tetap (Anonim, 1995).