You are on page 1of 26

Anemia Hemolitik

dr Yulia F, Sp. M
Anggota : Alvita Mega K, Aqmarina R, Ahmad Albera, Arrosy S

KASUS
Pasien wanita 28 tahun mengeluh seluruh badan terasa
lemas. Keluhan dirasakan sejak setengah bulan yang lalu.
Awalnya pasien merasa pandangan berkunang-kunang,
kemudian merasa pusing. Pasien tidak memiliki riwayat
perdarahan sebelumnya, tidak mual, tidak muntah.
Pasien mengeluh batuk, seperti berdahak tetapi tidak
dapat keluar. Pasien mengeluh saat malam hari sering
menggigil, dan merasa badannya demam. Tetapi hilang
saat siang hari. Sebelum pasien merasa badannya lemas,
pasien mengaku sering demam. BAK 3-4x sehari, warna
kuning kemerahan dan BAB 1x/ hari normal seperti biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien sebelumnya sering merasa badannya
lemas seperti sekarang
Riwayat Pengobatan
Pasien belum minum obat apa pun
Riwayat Alergi
Disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami
gejala penyakit seperti yang dialami oleh pasien
saat ini.

Riwayat Sosial Ekonomi Dan Lingkungan


Pasien tinggal bersama ibu, adik, suami, dan seorang
anaknya. Suami pasien bekerja sebagai buruh, sedangkan
pasien tidak bekerja. Pasien sehari-hari makan dengan
memasak sendiri (tidak beli di luar). Pasien minum dari
air sumur yang dimasak terlebih dahulu. Mandi dan
mencuci di kamar mandi.
Kesan : keadaan sosial, ekonomi dan lingkungan kurang
Riwayat Gizi
Pasien makan 2-3 kali dalam sehari. Menu yang sering
dikonsumsi berupa nasi, lauk pauk (tahu dan tempe)
dan sayur. Selama sakit, nafsu makan menurun.
Kesan : kebutuhan gizi kurang

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum :
Keadaan umum
: Lemah
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda tanda vital
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi
: 86 x/menit
Temperatur
: 37,1C
Respiration Rate : 20 x/menit
Kulit
: Turgor dan elastisitas kulit normal
Kelenjar limfe
: Tidak ada pembesaran limfe colli, aksila,
dan Inguinal
Otot
: Tidak terdapat atrofi otot
Tulang
: Tidak ada deformitas

Pemeriksaan Khusus
1. Kepala
Bentuk
: lonjong, simetris
Rambut
: hitam, bergelombang, tidak mudah dicabut
Mata
Konjungtiva : anemis +/+
Sklera
: ikterik -/Refleks pupil
: normal, pupil isokor 3mm/3 mm, refleks
cahaya +/+
Sekret
: (-)
Telinga
: sekret (-), perdarahan (-)
Hidung
: tidak terdapat secret, tidak terdapat perdarahan,
napas cuping hidung -/ Mulut
: Sianosis (-), bau (-), mukosa mulut pucat (-)
Kesan: didapatkan pada kedua mata anemis

2. Leher
Inspeksi
: tidak tampak pembesaran KGB leher
Palpasi
: tidak teraba pembesaran KGB leher
Kesan: tidak didapatkan kelainan pada leher

3. Dada
Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

:
:
:

Auskultasi :

Ictus Cordis tak terlihat


Ictus Cordis tidak teraba
Batas kanan : redup pada ICS IV PSL D
Batas kiri : redup pada ICS V MCL S
S1S2 tunggal

Kesan: tidak didapatkan kelainan pada jantung

Pulmo
Anterior
I

Simetris, retraksi -/-,


ketinggalan gerak -/-

Posterior
Simetris, retraksi -/Ketinggalan gerak -/-

P Fremitus raba +/+ normal Fremitus raba +/+ normal


P Sonor +/+

Sonor +/+

A Vesikuler, Rh-/-, Wh -/-

Vesikuler, Rh-/-,Wh -/-

Kesan: tidak didapatkan kelainan pada paru

Abdomen
:
Inspeksi
: cembung
Auskultasi
: Bising usus (+) normal
Palpasi
: hepar/ lien/ ren tidak teraba
Perkusi
: timpani
Kesan : abdomen tidak ada kelainan
Anogenital
: Anus (+)
Kesan : anogenital tidak ada kelainan
Extremitas :
Atas :
Bawah :

Akral Hangat
:+/+
Oedem
Akral Hangat
:+/+
Oedem

:-/:-/-

Kesan: tidak ada kelainan pada ekstremitas

Pemeriksaan Laboraturium
Tgl

05/11/2014

Ket
HEMATOLOGI
Hb (gr/dL)

7,3

Lekosit (/mm3)

9,6

LED

63/86

Hct (%)

40,1

Trombosit (/mm3)

324

Retikulosit

0,3 corected

Evaluasi Hapusan

E : Normokrom Normositer,
L: Kesan jumlah normal, toxic granul +,
tidak ditemukan sel muda
T : Kesan jumlah menurun

Faal Hati

05/11/2014

Bilirubin direct

0,89

Bilirubin total

4,43

05/11/2014
URINE LENGKAP
Warna

Kuning agak keruh

pH

6,0

BJ

1,015

Protein

Negatif

Glukosa

Normal

Urobilin

Normal

Bilirubin

Negatif

Nitrit

Negatif

Eritrosit

2-5

Leukosit

0-2

Epitel Skuamos

0-2

Epitel Renal

0-2

Kristal

Negatif

Silinder

Negatif

Bakteri/Yeast/Trichomonas

Negatif

Pemeriksaan Tambahan
Coombs test 05/11/2014
Direct
Indirect

: postif
: positif

Dasar Teori
DEFINISI
Anemia hemolitik adalah keadaan anemia yang
terjadi oleh karena meningkatnya penghancuran
dari sel eritrosit yang diikuti dengan
ketidakmampuan dari sumsum tulang dalam
memproduksi sel eritrosit untuk mengatasi
kebutuhan terhadap berkurangnya sel eritrosit

ETIOLOGI
1. Intrinsik (intra korpuskuler)
Kelainan bawaan : kelainan membran,
kelainan molekul hemoglobin, kelainan
salah satu enzim yang berperan dalam
metabolisme sel eritrosit.
2. Ekstrinsik (ekstra korpuskuler)
Kelainan didapat, yag disebabkan faktor
imun dan non imun.

KLASIFIKASI

Anemia hemolitik bawaan


Herediter spherositosis
Herediter elliptositosis
Anemia hemolitik didapat
Anemia hemolitik autoimun (warm &
cold) >>

EPIDEMIOLOGI
Sferositosis herediter merupakan anemia hemolitik
yang sangat berpengaruh di Eropa Barat, terjadi sekitar
1 dari 5000 individu.
Di Amerika, prevalensi eliptospirosis kira-kira 3-5 per
10.000. eliptospirosis paling sering pada orang Afrika
dan Amerika. Eliptospirosis sering terjadi pada daerah
dengan endemik malaria.
Insiden anemia hemolitik autoimun kira-kira 1 dari
80.000 populasi. Pada perempuan predominan terjadi
tipe idiopatik. Tipe sekunder terjadi peningkatan pada
umur 45 tahun dimana variasi idiopatik terjadi
sepanjang hidup.

PATOMEKANISME

Gangguan
metabolism/enzim
eritrosit
Defek pada jalur
heksosemonofosfat
Defisiensi G-6PD
(glucose-6phosphate
dehydrogenase)

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Gejala umum anemia Hb , 7-8 g/dl
Gejala hemolitik
Ikterus Prehepatik
Splenomegali dan Hepatomegali
Kholelithiasis
Ulkus Kaki
Kelainan Tulang
Krisis (Aplastik, hemolitik, megaloblastik)

Kelainan Laboratorium
Anemia Penurunan Hb, Ht/ hitung eritrosit
Tanda hemolisis Penurunan massa hidup
eritrosit, haptoglobin serum, hemoglobin
terglikolisasi, peningkatan katabolisme
heme, aktivitas dehidrogenase laktase
serum
Tanda hemolisis intravaskular
Hemoglobinemia
Hemoglobunuria
Methemalbunemia
Penurunan kadar hemopeksin serum

Peningkatan katabolisme heme


Meningkatnya kadar billirubin indirek darah.
Meningkatnya pembentukan CO yang
endogen.
Meningkatnya kadar billirubin darah
(hiperbillirubinemia).
Meningkatnya ekskresi urobillinogen dalam
urin.

Meningkatnya proses eritropoesis dalam


sumsum tulang
Pemeriksaan darah tepi : Retikulositosis
(polikromatopilik, stilling), makrosistosis,
eritroblastosis, leukositosis dan trombositosis
Pada sumsum tulang ditemui eritroid
hiperplasia
Ferrokinetik : meningkat PIT (plasma iron
turnover), EIT (eritrosit iron turnover)
Biokimiawi darah : meningkatnya kreatinin
eritrosit, enzim eritrosit (urophorphyrin syntese
hexokinase, SGOT)

Menentukan penyebab spesifik dari


anemia hemolitik dari hasil pemeriksaan
sediaan apus darah tepi Clan Antiglobulin
Test (Coombs Test)
+ menunjukan Anemia Hemolitik
Autoimune (AlHA).
- anemia hemolitik spherositik yaitu
pada hereditary spherositosis.

TATALAKSANA
1. Kortikosteroid
Prednison 40-60 mg perhari, tappering off
dosis pemeliharaan 10-20 mg perhari
2. Splenektomi (bila kortikosteroid tdk memberi
respon)
3. Imunosupresif
Azathioprin 2-2,25 mg/kgBB dengan atau tanpa
kombinasi kortikosteroid
4. Transfusi

RESUME
Pasien wanita 28 tahun mengeluh seluruh badan terasa lemas.
Keluhan dirasakan sejak setengah bulan yang lalu. Awalnya
pasien merasa pandangan berkunang-kunang, kemudian
merasa pusing. Pasien tidak memiliki riwayat perdarahan
sebelumnya, tidak mual, tidak muntah. Pasien mengeluh
batuk, seperti berdahak tetapi tidak dapat keluar. Pasien
mengeluh saat malam hari sering menggigil, dan merasa
badannya demam. Tetapi hilang saat siang hari. Sebelum
pasien merasa badannya lemas, pasien mengaku sering
demam. BAK 3-4x sehari, warna kuning kemerahan dan BAB
1x/ hari normal seperti biasa.

Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah,


kesadaran compos mentis. Pemeriksaan kepala pada
konjungtiva anemis.
Pemeriksaan Laboratorium
Darah lengkap: Hb 7,3 g/dl
HDT: normokrom normositer
Urin: eritrosit 2-5
Dari pemeriksaan hapusan darah tepi dan dari
anamnesis, dapat ditarik diagnosis mengarah ke anemia
hemolitik
Pemeriksaan tambahan
Coombs test: direct : positif
indirect : positif
Ditunjang dengan pemeriksaan tambahan maka bisa
ditegakkan diagnosis anemia hemolitik autoimun