You are on page 1of 7

KESETARAAN JENDER

DI INDONESIA

Indriyanti Natasya Ayu Utami Kotten


0870750036

Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Kristen Indonesia
2009

I. PENDAHULUAN
Wacana dan isu kesetaraan jender (KJ) kini menggema luar biasa di Indonesia.
Berbagai program digelar untuk mensosialisasikan program ini. Bahkan, seolah-olah, paham
ini sudah dianggap sebagai satu kebenaran, yang tidak boleh dipersoalkan. Sebagian aktivis
jender kemudian mengangkat isu penjajahan dan penindasan perempuan oleh laki-laki.
Seolah-olah, selama ini kaum wanita mundur karena ditindas oleh laki-laki. Lalu, kaum
wanita disuruh bergerak untuk melawan apa yang mereka katakan sebagai hegemoni lakilaki.
Menyikapi wacana ini, diperlukan pemahaman yang lebih jelas dan mendalam
tentang kesetaraan jender. Bahwasanya tidak semua laki-laki menindas kaum perempuan dan
seharusnya kaum perempuan dapat menyadari bahwa mereka juga mempunyai peranan dalam
kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu saya mengambil judul Kesetaraan Jender di
Indonesia untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan serta untuk
dapat memberikan informasi mengenai kesetaraan jender di Indonesia.

II. KONSEP DASAR


Konsep Demokrasi
Kata demokrasi terdiri dari demos yang berarti rakyat, dan kratos yang berarti
pemerintahan sehingga dapat diartikan bahwa demokrasi berarti pemerintahan oleh Rakyat.
Rakyat secara bersama-sama memerintah diri mereka sendiri, dengan memilih sebagian dari
antara mereka menjadi Penyelenggara Negara, yang bertugas melayani Rakyat sesuai dengan
kehendak Rakyat1.
Susan Blackburn (Mariyah: 2001: 287) menegaskan bahwa demokrasi mencakup
tiga elemen dasar. Pertama: adanya kompetisi antar-individu dan kelompok secara sehat dan
terbuka (meaningful and extensive) bagi posisi-posisi strategis dalam politik secara wajar
dengan menghindari penggunaan kekerasan; Kedua, partisipasi politik yang bersifat inklusif
dalam menetapkan pemimpin yang dikehendaki dan kebijakan ditetapkan melalui,
setidaknya, mekanisme pemilihan yang wajar dan adil sehingga tidak ada elemen masyarakat
yang ditinggalkan. Ketiga, adanya kebebasan sipil dan politik, yaitu kebebasan berekspresi,
kebebasan pers, kebebasan untuk membentuk dan menjadi anggota suatu organisasi di mana
hal-hal tersebut cukup mampu untuk menjamin integritas kompetisi dan partisipasi politik 2.
1

Merphin Panjaitan, Logika Demokrasi, Jakarta. hal. 1


Mar'iyah, Chusnul, "Center-Regional Relations in Indonesia: Women's Exclusion from Politis, dalam R.
William Liddle, Crafting Indonesian Democracy (Bandung: Mizan Pustaka, 2001), hal. 285-291
2

Di samping fungsi kepemerintahan sebagaimana dicakup di atas, demokratisasi harus


diarahkan untuk menguatkan eksistensi masyarakat sipil yang mandiri. Masyarakat sipil
merupakan suatu konteks di mana kelompok-kelompok yang terbentuk secara mandiri dan
`self organizing' mengartikulasikan nilai-nilai tertentu, membentuk asosiasi & solidaritas
serta memperjuangkan kepentingan-kepentingannya (Sudarsono: 2001: 29). Masyarakat sipil
terdiri dari berbagai bentuk gerakan sosial (social movement) yang meliputi organisasiorganisasi sosial yang berbasis pada agama, latar belakang akademik tertentu, kaum
profesional, serikat buruh, organisasi profesional dan organisasi perempuan.
Konsep Hak Asasi Manusia
Hak, secara definitif, merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman
berperilaku, melindungi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia
dalam menjaga harkat dan martabatnya. Hak mempunyai unsur-unsur sebagai berikut: a)
pemilik hak; b) ruang lingkup penerapan hak; dan c) pihak yang bersedia dalam penerapan
hak3. Ketiga unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak.
Hak merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Dalam kaitan dengan pemerolehan
hak paling tidak ada dua teori yaitu teori McCloskey dan teori Joel Feinberg4. Dalam teori
McCloskey dinyatakan bahwa pemberian hak adalah untuk dilakukan, dimiliki, dinikmati atau
sudah dilakukan. Sedangkan dalam teori Joel Feinberg dinyatakan bahwa pemberian hak
merupakan kesatuan dari klaim yang absah (keuntungan yang didapat dari pelaksanaan hak
yang disertai pelaksanaan kewajiban). Karena itu ketika seseorang menuntut hak juga harus
melakukan kewajiban.
Istilah yang dikenal di Barat mengenai Hak-hak Asasi Manusia ialah right of man,
yang menggantikan istilah natural right. Istilah right of man ternyata tidak secara
otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup right of women. Karena itu istilah
right of man diganti dengan istilah human rights oleh Eleanor Roosevelt karena
dipandang lebih netral dan universal.
Human rights could be generally defined as those rights which are inherent in our
nature and without which can not live as human being 5 (hak asasi manusia adalah hak-hak
yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai

James W. Nickel, 1990


James W. Nickel, 1996
5
Jan Materson, Teaching Human Rights sebagaimana dikutip oleh Baharuddin Lopa
4

manusia). Selanjutnya John Locke menyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak
yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati6.
Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
pasal 1 disebutkan bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat
pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa dan
merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia.
Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas, diperoleh suatu kesimpulan
bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan
fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan yang harus dihormati, dijaga dan dilindungi oleh
setiap individu, masyarakat dan negara.

III. PEMBAHASAN
Banyak laki-laki mengatakan, sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena
masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Mereka haruslah sosok kuat,
dan tidak cengeng. Ketika seorang anak laki-laki diejek, dipukul, dan dilecehkan oleh
kawannya yang lebih besar, ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih
dan malu. Sebaliknya, ia ingin tampak percaya diri, gagah, dan tidak memperlihatkan
kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak lakilaki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. Kenyataannya juga
menunjukkan, menjadi perempuan pun tidaklah mudah. Stereotip perempuan yang pasif,
emosional, dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Karenanya, jika
seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap
egois, tidak rasional dan agresif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan.
Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan jender yang sesungguhnya merugikan
baik bagi laki-laki maupun perempuan. Membicarakan jender tidak berarti membicarakan hal
yang menyangkut perempuan saja.
Dari penjelasan tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa jender merupakan
pembagian sifat, peran, kedudukan, dan tugas laki-laki dan perempuan sebagai hasil
sosialisasi budaya masyarakat berdasarkan norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan
masyarakat. Jender berkaitan dengan keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan
6

Masyhur Effendi, Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional

bagaimana seharusnya perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang
terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada.
Saat ini perempuan tidak lagi hanya berurusan dengan dapur dan terkungkung di
rumah untuk mengurus urusan rumah tangga. Perempuan juga sudah mendapatkan
pengakuan yang layak seperti halnya kaum lelaki. Hampir di semua lini dan profesi,
kehadiran kaum perempuan bisa terlihat. Mulai dari sopir hingga presiden. Bukan hanya
sebagai tenaga pelaksana semata, namun juga sebagai pembuat keputusan yang sifatnya
sangat penting.
Tak jarang perempuan bekerja bukan hanya sekedar untuk membantu perekonomian
keluarga, namun juga sebagai pencari nafkah (breadwinner) utama dalam keluarga. Tak
sedikit pula perusahaan dalam bidang jasa yang lebih suka mempekerjakan perempuan
ketimbang lelaki karena perempuan dianggap lebih ulet dan lebih sabar. Namun, sesukses
apapun perempuan berkarier di luar rumah, menjadi istri dan melahirkan anak menjadikan
hidup mereka lebih lengkap dan terasa sempurna. Karena memang sudah menjadi kodrat
perempuan untuk menjadi istri dan ibu yang mengayomi keluarga.
Di Indonesia sendiri, kesetaraan jender sudah diperjuangkan oleh kaum perempuan
sejak abad ke-20. Tokoh yang paling menonjol adalah RA Kartini, yang berjuang untuk dapat
menyekolahkan kaum perempuan Indonesia. Masih banyak para pejuang wanita lainnya
seperti Dewi Sartika serta Cut Nyak Dien. Mereka memperjuangkan kesetaraan jender bagi
perempuan, bahwasanya perempuan juga mempunyai hak yang sama seperti yang dipunyai
laki-laki.
Untuk itulah wanita harus mulai mempergunakan hak mereka, karena kesetaraan
jender jugalah merupakan sendi utama dari proses demokratisasi. Tidak tercapainya cita-cita
demokrasi seringkali dipicu oleh perlakuan yang diskriminatif dari mereka yang
mendominasi elemen dalam masyarakat. Jender, sebagaimana kategori sosial yang lain
seperti ras, etnis, agama dan kelas, dapat mempengaruhi kehidupan seseorang, termasuk
partisipasi mereka dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Suatu masyarakat
dengan nilai patriarkhi yang kental dapat menghalangi kaum perempuan untuk mendapatkan
manfaat dari pembangunan dan kemajuan peradaban manusia. Kesetaraan dalam konteks ini
adalah kesetaraan akses pada bidang hukum, kesempatan, kesetaraan upah kerja, kesetaraan
dalam pengembangan sumberdaya manusia dan sumber-sumber produktif lainnya7.

Bank Dunia, Pembangunan Berperspektif Gender (Bank Dunia, 2000) hal. 3

Kemerdekaan Indonesia merupakan jaminan bagi terjadinya proses demokratisasi


sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 19458 yang memuat persamaan hak bagi
seluruh rakyat Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi pada prakteknya, masih
saja dapat banyak kita temukan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan di dalam
masyarakat kita. Salah satu yang paling sering terjadi adalah rendahnya akses pendidikan
bagi perempuan. Anak-anak perempuan merupakan pihak yang paling rentan terhadap
kecenderungan putus sekolah apabila keuangan keluarga tidak mencukupi. Hal tersebut
disebabkan oleh suatu pandangan kultural yang mengutamakan anak laki-laki, baik sebagai
penerus keluarga maupun sebagai mencari nafkah utama. Pandangan tersebut sangat
merugikan perempuan dalam tingkat ekonomi menengah ke bawah di mana mereka juga
harus memberikan kontribusi ekonomi keluarga. Akses pendidikan yang rendah dapat
berakibat pada minimnya kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Untuk itulah diperlukan kesadaran yang besar dari kaum perempuan sendiri agar
dapat menjadi lebih baik lagi. Karena sesungguhnya hanya perempuan itu sendirilah yang
dapat mewujudkan cita-cita persamaan harkat, derajat serta martabat antara laki-laki dan
perempuan tanpa pula melupakan kewajiban atau kodrat perempuan sebagai istri dan juga ibu
yang mengayomi keluarga.

IV. KESIMPULAN
Seiring dengan berkembangnya jaman, sudah seharusnyalah kaum perempuan ikut
ambil bagian dalam memajukan bangsa dan negara. Seharusnya kaum perempuan tidak hanya
menuntut agar disamakan derajatnya dengan laki-laki tetapi harus juga dapat terjun langsung
di masyarakat, mengabdi tidak hanya untuk keluarganya tetapi juga kepada masyarakat.
Partisipasi termudah yang dapat dilakukan perempuan adalah dengan menjadi ibu yang
terbaik bagi putra-putrinya, yang kelak akan menjadi penerus bangsa ini.

Pasal 28A 28J

V. DAFTAR PUSTAKA

Bank Dunia, Pembangunan Dunia Berspektif Gender, Bank Dunia, 2000.


Dzuhayatin, Siti Ruhaini, Demokratisasi dan Masalah Kesetaraan Gender,
www.komunitasdemokrasi.or.id, 2005.
Effendi, Masyhur, Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan
Internasional, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1994.
Kompas, Jangan Pernah Sebut Perempuan Kaum yang Lemah, Jakarta, 2009.
Liddle, R. William, Crafting Indonesian Democracy, Bandung: Mizan Pustaka, 2001.
Lopa, Baharuddin, Al-Quran dan Hak-hak Asasi Manusia, Yogyakarta: PT Dana Bhakti
Prima Yasa, 1999.
Panjaitan, Merphin, Logika Demokrasi, Jakarta, 2008.
Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaran Rakyat Republik Indonesia, Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Jakarta, 2002.