You are on page 1of 9

ARTHROPODA

1.1. Phylum Arthropoda


Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas, buku, segmen; podos =
kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau
bersegmen. Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya.Tubuh Arthropoda
merupakan simetri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata.

1.2. Ciri tubuh


Ciri tubuh Arthropoda meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.

1.3. Ukuran dan bentuk tubuh


Ukuran tubuh Arthropoda sangat beragam, beberapa diantaranya memiliki
panjang lebih dari 60 cm, namun kebanyakan berukuran kecil.Begitu pula
dengan bentuk Arthropoda pun beragam.

1.4. Struktur tubuh


Tubuh Arthropoda bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi.Pada
tiap segmen tubuh tersebut terdapat sepasang kaki yang beruas.Segmen
bergabung membentuk bagian tubuh, yaitu Kaput (kepala), toraks (dada), dan
abdomen (perut).
Ciri lain dari Arthropoda adalah adanya kutikula keras yang membentuk
rangka luar (eksoskeleton).Eksoskeleton tersusun dari kitin yang di sekresikan
oleh sel kulit.Eksoskeleton melekat pada kulit membentuk perlindungan tubuh
yang kuat.
Eksoskeleton terdiri dari lempengan-lempengan yang dihubungkan oleh
ligamen yang fleksibel dan lunak.Eksoskeleton tidak dapat membesar mengikuti
pertumbuhan tubuh.Oleh karena itu, tahap pertumbuhan Arthropoda selalu

diikuti dengan pengelupasan eksoskeleton lama dan pembentukan eksoskeleton


baru.Tahap pelepasan eksoskeleton disebut dengan molting atau ekdisis.Hewan
yang biasanya melakukan ekdisis misalnya kepiting, udang, dan laba-laba.
Sistem saraf Arthropoda berupa sistem saraf tangga tali berjumlah
sepasang yang berada di sepanjang sisi ventral tubuhnya. Pada berbagai tempat
di segmen tubuh, ada pembesaran saraf tangga tali yang disebut ganglia.Ganglia
berfungsi sebagai pusat refleks dan pengendalian berbagai kegiatan.Ganglia
bagian anterior yang lebih besar berfungsi sebagai otak.
Sistem pencernaan Arthropoda terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus,
dan anus.Mulutnya dilangkapi dengan berbagai alat tambahan yang beragam,
misalnya mandibula dan maksila pada belalang.
Arthropoda bernapas dengan insang, trakea, atau paru-paru buku.Sisa
metabolisme berupa cairan dikeluarkan oleh organ ekskresi yang disebut
saluran/tubula Malpighi, kelenjar ekskresi, atau keduanya.Sistem sirkulasi
Arthropoda bersifat terbuka.Sistem sirkulasi terdiri dari jantung, pembuluh darah
pendek, dan ruang disekitar organ tubuh yang disebut sinus atau hemosol.Darah
Arthropoda disebut juga hemolimfa.

1.5. Cara hidup dan habitat


Cara hidup Arthropoda sangat beragam, ada yang hidup bebas, parasit,
komensal, atau simbiotik.Dilingkungan kita, sering dijumpai kelompok hewan
ini, misalnya nyamuk, lalat, semut, kupu-kupu, capung, belalang, dan lebah.
Habitat penyebaran Arthropoda sangat luas.Ada yang di laut, periran tawar,
gurun pasir, dan padang rumput.

1.6. Reproduksi
Sistem reproduksi Arthropoda umumnya terjadi secara seksual.Namun ada
juga yang secara aseksual, yaitu dengan partenogenesis.

Partenogenesis adalah pembentukan individu baru tanpa melalui fertilisasi


(pembuahan).Individu yang dihasilkan bersifat steril.Organ reproduksi jantan dan
betina pada Arthropoda terpisah, masing-masing menghasilkan gamet pada
individu yang berbeda sehingga bersifat dioseus (berumah dua).Hasil fertilisasi
berupa telur.

1.7. Macam Golongan Phylum Arthropoda yang banyak di jumpai:


1.3.1. Ostrakoda
Ostrakoda merupakan binatang air (aquatique animal) yang
berukuran kecil berbentuk seperti kacang tanah. Termasuk ke dalam
golongan udang (Subphylum Crustacae) dan kelas Ostrakoda, dengan
ukurancangkang (yangdisebut carapace) berkisar antara 0,5 hingga 4 mm.
Carapace sendiri merupakan cangkang yang terdiri dari dua bagian,
tersusun oleh khittin dan kalsium karbonat, yang bertaut pada bagian
dorsalnya. Cangkang ini membungkus tubuh yang beruas-beruas yang
memiliki tujuh pasang appendages. Pada dinding terdapat hiasan yang
pola dan bentuknya sangat penting untuk identitas spesies Ostrakoda
tersebut.

Gambar 1.4 Ostracoda

Ostrakoda muncul pada awal Jaman Ordovician, berkembang pesat


pada jaman Kapur dan Jaman Tersier dan sampai masakini (Holosen)
masih umum di jumpai baik di laut, air payau, maupun air tawar. Hidup di
dasar perairan dan mampu bergerak (vagile) ke daerah sekitarnya dengan
jalan merayap maupun berenang.
Fosil Ostrakoda merupakan sarana korelasi stratigrafis yang sangat
penting. Karena ukurannya yang kecil maka mereka mudah dijumpai
pada contoh-contoh yang berasal dari lubang bor. Untuk batuan berumur
Paleozoik dimana mikrofosil lain belum ditemukan maka peranan
Ostrakoda sebagai sarana biostratigrafi sangatlah besar.
1.3.2. Trilobita
Trilobita merupakan binatang yang temasuk ke dalam Subphylum
Trilobitomorpha kelas Trilobita. Kelompok ini mencakup binatang laut
yang muncul pada awal jaman Cambrian dengan diwakili beberapa genus
utama, misalnya Olenellus berembang pesat selama jaman Cambrian dan
Ordovician, mulai menyusul pada Silur dan akhirnya punah pada akhir
Perm.

Gambar 1.1 Bagian-bagian cangkang Trilobita

Nama Trilobita berasal dari kenampakan binatang tersebut yang


khas terdiri ari tiga bagian (three lobes) yaitu cephalon (kepala), thorax
(dada atau perut) dan pygdium (ekor). Disamping itu kea rah samping
tubuh Trilobita juga terbagi menjadi tiga bagian , yaitu bagian tengah
(central/axial lobe) dan bagian pinggir kedua sisinya (lateral lobes).
Tubuh dari bagian ini terbungkus dari rangka luar (exoskeleton) yang
tersusun oleh senyawa khitinan. Ruas-ruas pada kerangkanya sedemikian
lentur sehingga memungkinkan Trilobita menggulung dirinya menjadi
berbentuk seperti bola. Sebagaimana dengan arthropoda yang lain,
pertumbuhan Trilobita dilakukan dengan jalan berganti rangka (molting).

Seluruh kehidupannya dijalani di dasar laut sering membuat lubang dan


melata ketempat lain dengan meninggalkan fosil jejak berupa burrow dan
trail. Fosil Trilobita banyak ditemukan bersama dengan koral, crinoids,
brachiopoda dan cephalopoda sehingga di tafsir mereka hidup baik di laut
dangkal.

Gambar 1.2 Fosil track yang dibuat oleh seekor Trilobit.

Contoh fosil trilobita:

Gambar 1.3 Fosil dari trilobite berupa Rusophycus (Kiri), Cruziana


(Tengah), dan Diplichnites (Kanan)

1.3.3. Balanus
Seperti halnya Ostrakoda, Balanus merupakan anggota dan
Subphylum Crustacea kelas Cirripeda. Kelompok binatang laut ini dalam
bentuk dewasa membentuk cangkang yang sama sekali tidak mirip
udang,tetapi berupa cangkang berbentuk tajuk bunga, terdiri dari
lempeng-lempeng kalsium karbonat. Binatang ini dalam bentuk dewasa
hidup tertambat kuat pada batuan yang keras, cangkang dari
Intervetrebrata lain. Balanus pada masa kini banyak dijumpai ditepi laut
pada zona litoral (zona pasang surut), melekat pada dinding atau tiang
dermaga

dipelabuhan,

bahkan

menempel

pada

lambung

kapal.

Dari studi anatomi dan perkembangan dari larva ke bentuk dewasa dapat
diketahui bahwa Balanus merupakan anggota dari golongan Crustacea.
Setelah menetas dari telur larvanya (yang disebut sebagai Cypris)
menjalani kehidupan bebas (plagis neanic) bergerak dengan jalan
berenang. Selama itu terjadi terjadi pergantian kulit sekali sampai tiga
kali, baru terjadi perubahan, dimana larva tersebut membentuk cangkang
setangkup seperti Ostrakoda dan mencari tempat untuk bertambat.
Pertambatan ini terjadi pada bagian kepala selanjutnya cangkang yang
setangkup dilepas dan selanjutnya ditumbuhkan lempeng-lempeng yaitu
lempeng dasar yang dilekatkan secara kuat ke batuan atau tempat
penambat yang lain dan lempeng samping yang bersifat tetap dan kaku
tak bisa bergerak. Lempeng-lempeng ini berfungsi sebagai pelindung
binatang tersebut dalam posisinya yang tertambat. Didalam lempeng yang
kaku tersebut terdapat lempeng-lempeng yang bisa digerakkan oleh
jaringan-jaringan otot yang melindungi tubuh.
Balanus mendapatkan makanannya dari aliran air yang diatur oleh
juluran-juluran tubuhnya (appendages) sehingga memasuki mulut dan
kemudian dicernakan oleh system pencernaannya. Oleh karena sifatnya
yang tertambat (sessile benthonic), maka agar pasokan makanan dapat

diperoleh dalam jumlah yang cukup, mereka memilih tempat yang


arusnya relative kuat, yaitu daerah perairan yang sangat dangkal, sampai
dengan daerah pasang surut. Pada saat ia berada di bawah permukaan air
pada saat air pasang, lempeng yang bisa bergerak dibuka dan aliran air
yang membawa makanannya diatur agar masuk ke mulutnya. Pada saat
air surut dan binatang itu berada di atas permukaan air, maka lempeng
yang dapat bergerak tersebut ditutup rapat-rapat dengan sejumlah air laut
yang terperangkap agar tubuh tidak menjadi kering. Setelah air pasang,
lempeng tersebut dibuka kembali.
Fosil Balanus, misalnya saja dari spesies Balanus Concavus, yang
banyak dijumpai ada batuan sedimen berumur Tersier umumnya
berbentuk kerucut terpancung. Kerucut ini disusun oleh 6 lempeng yang
saling berhimpitan dan tidak dapat bergerak. Adanya fosil alanus dalam
jumlah banyak pada batuan sedimen menunjukkan bahwa batuan sedimen
tersebut pada laut yang sangat dangkal, banhkan hingga zona pasang
surut. Hal ini dapat terjadi pada masa regresi atau awal masa transgresi.
Namun yang banyak dijumpai adalah yang merupakan awal transgresi,
karena yang terbentuk pada akhir regresi umumnya hancur atau hilang
akibat erosi yang mengikuti regresi tersebut. Sedangkan apabila erosi
tidak terlalu kuat batuan yang kaya akan Balanus terebut yang merupakan
batuan gamping akan mengalami proses pelarutan sehingga akan
terbentuk struktur karst.

Sumber:
Staff Asisten Makropaleontologi. 2011. Buku Panduan Praktikum
Makropaleontologi. Semarang: Teknik Geologi Universitas Diponegoro
Ir. Wartono Ranardjo.dkk, 2001
gurungeblog.wordpress.com (diakses pada 11 November 2012)