You are on page 1of 52

SAATNYA BERBAGI

ASKEP
GAME
PATHWAYS
SAP

Selasa, 16 Oktober 2012

ASKEP HIV / AIDS

ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS


Pengertian
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat
menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia
dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.
Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan
Immune : Sistem kekebalan tubuh
Deficiency : Kekurangan
Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit
Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang dengan HIV
/AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang
biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan
meninggal.

AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh
yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan
dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda
G.Bare )

AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam
respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan
dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang
jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention )
Etiologi
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang
nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang
dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap
limfosit T.
Patofisiologi
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi
Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum
tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan
protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel
T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV )
menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga
dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang
terinfeksi.
Virus HIV dengan suatu enzim, reverse transkriptase, yang akan melakukan pemograman ulang
materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA. DNA ini akan
disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang
permanen. Enzim inilah yang membuat sel T4 helper tidak dapat mengenali virus HIV sebagai
antigen. Sehingga keberadaan virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan oleh sel T4 helper.
Kebalikannya, virus HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Fungsi dari sel T4 helper adalah
mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibodi,
menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi limfokin, dan mempertahankan tubuh terhadap
infeksi parasit. Kalau fungsi sel T4 helper terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak
menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan penyakit
yang serius.
Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif.
Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong.
Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak
memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4
dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per
ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik )
muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus

berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila
jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik,
kanker atau dimensia AIDS.
Klasifikasi
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C)
dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.
Kategori Klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis
B dan C.
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
1. Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty
)
2. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau
riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.
Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Angiomatosis Baksilaris
Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi
Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.
Leukoplakial yang berambut
Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton
saraf.
7. Idiopatik Trombositopenik Purpura
8. Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus


Kanker serviks inpasif
Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata
Kriptokokosis ekstrapulmoner
Kriptosporidosis internal kronis
Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )
Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )
Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )

10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.

Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )


Isoproasis intestinal yang kronis
Sarkoma Kaposi
Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner
M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
Pneumonia Pneumocystic Cranii
Pneumonia Rekuren
Leukoenselophaty multifokal progresiva
Septikemia salmonella yang rekuren
Toksoplamosis otak
Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)
Gejala Dan Tanda
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 2 minggu pasien akan merasakan
sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami
demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit,
limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.
Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5
tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang
paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu
protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal
:

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)


Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu
mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak
merah ditubuh.

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala


Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan
diperoleh hasil positif.

Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar
getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.
Komplikasi
a. Oral Lesi

Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human
Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan,
keletihan dan cacat.
b. Neurologik
1. kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV)
pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan,
disfasia, dan isolasi social.
2. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan
elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total /
parsial.
3. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.
4. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
c. Gastrointestinal
1. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi.
Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
2. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan
anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
3. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat
infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
d. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan
strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot,
lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f. Sensorik

Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan


Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.
Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus
(HIV), bisa dilakukan dengan :

1. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak
terinfeksi.

2. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak
terlindungi.
3. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human
Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya yaitu :
1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,nasokomial, atau
sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan
komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
1. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat
ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat
enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 .
Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif
asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
1. Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi
virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
1.
2.
3.
4.
1.

Didanosine
Ribavirin
Diedoxycytidine
Recombinant CD 4 dapat larut
Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit
khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan
penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.

1. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari


stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
2. Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi
Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian

a. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis
pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang
sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus
dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan
dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa
penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang
saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta
terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :

Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )


Terapiradiasi,defisiensinutrisi,penuaan,aplasia timik,limpoma,kortikosteroid,globulin anti
limfosit,disfungsi timik congenital.

Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)


Limfositik leukemia kronis,mieloma,hipogamaglobulemia congenital,protein liosing enteropati
(peradangan usus)
b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
- Aktifitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD,
frekuensi Jantun dan pernafasan ).
- Sirkulasi
Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan
pengisian kapiler.
- Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari
doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
- Eliminasi
Gejala : Diare intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri
panggul, rasa terbakar saat miksi

Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan
abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik urine.
- Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema
- Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
- Neurosensori
Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan
otot,tremor,perubahan penglihatan.
Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak
normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
- Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.
- Pernafasan
Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
- Keamanan
Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam
berulang,berkeringat malam.
Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar
limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.

-Seksualitas
Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil pencegah
kehamilan.
Tanda : Kehamilan,herpes genetalia

- Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS
Tanda : Perubahan interaksi
- Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan obat-obatan
IV,merokok,alkoholik.
c. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan
pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus
(HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human
Immunodeficiency Virus (HIV).
1. Serologis
- Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan
merupakan diagnosa
- Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
- Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
- Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
- T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 )
mengindikasikan supresi imun.
- P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
- Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal

- Reaksi rantai polimerase


Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
- Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif

2. Budaya
Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi,
untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral.
3. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
4. Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan
bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3
12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang
yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak
efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah
memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji kadar
Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut,
yaitu :
1. Tes Enzym Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya
menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus
(HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV)
disebut seropositif.
2. Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
1. Indirect Immunoflouresence

Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.


4. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.
c. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak
perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemerikasaan p24
antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV 1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya
kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS.

ASKEP HIV/AIDS TERBARU


BAB I
LANDASAN TEORITIS
A. Kosep Dasar
1. Defenisi
Acquired Immune Defiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang dapat
disebabkan oleh Human Immuno Deficiency Virus (HIV). Virus dapat ditemukan dalam cairan tubuh terutama
pada darah, cairan vagina, cairan sperma, cairan Air Susu Ibu. Virus tersebut merusak system kekebalan
tubuh manusia dengan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit
penyakit infeksi.
(Pedoman Nasional Perawat, Dukungan Dan Pengobatan Bagi ODHA, Jakarta, 2003, hal 1)
Human Immuno Deficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia
dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas
menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut T. Limfosit atau sel T-4 atau
disebut juga sel CD 4.
(100 Pertanyaan Seputar HIV / AIDS Yang Perlu Anda Ketahui, Medan, 2006, hal 1)

2. Etiologi

Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human


immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983
sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi
retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang
pathogen dibandingkan dengan HIV Maka untuk memudahkan keduanya
disebut HIV. Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
A. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak
ada gejala.
B. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes
illness.
C. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak
ada.
D. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat
malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi
mulut.
E. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai
system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun
wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak
terinfeksi.
Orang yang ketagian obat intravena
Partner seks dari penderita AIDS
Penerima darah atau produk darah (transfusi).

3.

ANATOMI FISIOLOGI

HIV berbeda dalam struktur dengan retrovirus yang dijelaskan sebelumnya. Besarnya sekitar 120 nm
dalam diameter (seper 120 milyar meter, kira-kira 60 kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya
"spherical"

4. Patofisiologi

HIV masuk ke dalam tubuh manusia

Menginfeksi sel yang mempunyai molekul CO4


(Limfosit T4, Monosit, Sel dendrit, Sel Langerhans)

Mengikat molekul CO4

Memiliki sel target dan memproduksi virus

Sel limfosit T4 hancur

Imunitas tubuh menurun

Infeksi opurtinistik

Sist pernafasan Sist Pencernaan

Peradangan pd
Infeksi jamur
Peristaltik
Jaringan paru

Peradangan mulut Diare kronis

Sist. Integumen Sist Neurologis

Peradangan kulit Infeksi ssp

Timbul lesi/

Sesak, demam

bercak putih
Peningkatan

Sulit menelan Cairan output

kesadaran, kejang
Tdk efektif
Mual

Gatal, nyeri
Nyeri kepala
Ggn pertukaran

Bibir kering
Bersisik

gas
Intake kurang
Turgor kulit

MK: perubahan
suhu

MK: Ggn rasa proses pikir


MK: Ggn pemenu MK: kekurang
nyaman
Han nutrisi
an vol cairan
Ggn eliminasi
BAB, diare

5. Manifestasi Klinis
Menurut WHO:
1) Gejala mayor
Penurunan BB 10%
Demam memanjang atau lebih dari 1 bulan
Diare kronis
Tuberkulosis
2) Gejala minor
Koordinasi orofaringeal
Batuk menetap lebih dari 1 bulan
Kelemahan tubuh
Berkeringat malam
Hilang nafsu makan
Infeksi kulit generalisata
Limfodenopati
Herpes zoster
Infeksi herpes simplek kronis
Pneumonia
Sarkoma kaposi
Manifestasi klinis
Angiomatosis
Kandidiosis orofaringeal

Kandidiasis vulvovaginal
Displasisa leher rahim
Herpes zoster
Purpura idiopatik trombositopenik
Kandidiasis esophagus
Manifestasi Klinis
Stadium

Asimptomatic, aktivitas normal


a. Asimptomatic
b. Limfodenopati generalisata

II

Simptomatic, aktivitas normal


a. BB menurun < 10%
b. Kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti: dermatitis,
pruigo, ulkus oral, seboroik, onikomikosis yang rekuren dan
kheilitis angularis
c. Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
d. Infeksi saluran afas bagian atas seperti: sinusitis bakteriaslis

III

Pada umumnya lemah, aktivitas di tempat tidur kurang dari


50%
BB > 10%
Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
Kandidiasi orofaringeal
Oral hairy leukoplakia
TB Paru dalam tahun terakhir
Infeksi bacterial yang berat seperti: pneumonia dan
piomiositish

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
IV
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

6.

Skala Aktivitas Gambaran Klinis

Pada umumnya sangat lemah, aktivitas di tempat tidur lebih


dari 50%
HIV wasting syndrome seperti: yang didefenisikan oleh CDC
Pneumonia pneumocytis carinii
Toksoplasmosis otak
Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan
Retinitis virus sitomegalo
Kriptokokosis extra pulmonal
Herpes simplex mukokutan > 1 bulan
Leukoensepalopati multifokal progresif
Mikosis disminata seperti histoplasmosis
Kandidiasis disofags, trakea, bronkus dan paru
Mikobakteriasis atipikal diseminata
Septisemia salmonelosis nontifoid
Tuberkulosis di luar paru
Limfoma
Sarkoma kaposi

Pemeriksaan Diagnostik

1.Tes untuk diagnosa infeksi HIV :


-. ELISA
-. Western blot
-. P24 antigen test
-. Kultur HIV
2.Tes untuk deteksi gangguan system imun.
-. Hematokrit.
-. LED
-. CD4 limfosit
-. Rasio CD4/CD limfosit
-. Serum mikroglobulin B2
-. Hemoglobulin

7.

Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency
Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
b. Neurologik
- kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf,
berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
- Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis /
ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
-. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.
- Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
c. Gastrointestinal
- Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek,
penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
- Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual
muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.

- Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan
efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
d. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides
dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi
scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f. Sensorik
- Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
- Pendengaran : otitis eksternal aku

7. Penatalaksanaan
Respon biologis / aspek fisik
a. Universal precaution
1) Menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh
2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
3) Dekontaminasi cairan tubuh pasien
4) Memakai alat kedokteran sekali pakai atau mensterilisasi semua alat kedokteran yang dipakai
5) Memelihara kebersihan tempat pelayanan kesehatan
6) Membuang limbah yang tercemar berbagai cairan tubuh secara benar dan aman
b. Peran perawat dalam pemberian ARV
Tujuan terapi ARV:
1) Menghentikan replikasi HIV
2) Memulihkan system imun dan mengurangi terjadinya infeksi opurtunistik
3) Memperbaiki kualitas hidup
4) Menurunkan morbiditas dan mortalitas karena infeksi HIV

c. Pemberian nutrisi
Pasien dengan HIV AIDS harus mengkonsumsi suplemen atau nutrisi tambahan bertujuan untuk beban HIV
AIDS tidak bertambah akibat defisiensi vitamin dan mineral
d. Aktivitas dan istirahat
Respon adaptif psikologis
1) Pikiran positif tentang dirinya
2) Mengontrol diri sendiri
3) Rasionalisasi
4) Teknik perilaku
Respon sosial
1) Dukungan emosional
2) Dukungan penghargaan
3) Dukungan instrumental

4) Dukungan informatif
Respon spiritual
1) Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan
2) Padai mengambil hikmah
3) Kestabilan hati
Resiko epidemiologis infeksi HIV sistomatik
1) Perilaku beresiko epidemiologis
i. Hubungan seksual dengan mitra seksual resiko tinggi tanpa menggunakan kondom
ii. Pecandu narkotik suntikan
iii. Hubungan seksual yang tidak aman
1. Memiliki banyak mitra seksual
2. Mitra seksual yang diketahui pasien HIV / AIDS
3. Mitra seksual di daerah dengan prevalensi HIV / AIDS yang tinggi
4. Homoseksual
ii. Pekerjaan dan pelanggan tempat hiburan seperti: panti pijat, diskotik, karaoke atau tempat prostitusi terselubung
iii. Mempunyai riwayat infeksi menular seksual (IMS)
iv. Riwayat menerima transfusi darah berulang
v. Riwayat perlukaan kulit, tato, tindik atau sirkumsisi dengan alat yang tidak steril

BAB II
Asuhan Keperawatan

asien
Aktivitas / istirahat
Gejala:
a. Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya, progresi kelelahan / malaise
b. Perubahan pola tidur
Tanda:
Kelemahan otot, menurunnya massa otot
Respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan dalam TD, frekuensi jantung, pernapasan
Sirkulasi
Gejala:
Proses penyembuhan luka yang lambat (bila anemia); perdarahan lama pada cedera (jarang terjadi)
Tanda:
Takikardia, perubahan TD postural
Menurunnya volume nadi perifer
Pucat atau sianosis: perpanjangan kapiler
Integritas ego
Gejala:
Faktor stres yang berhubungan dengan kehilangan, mis: dukungan keluarga, hubungan dengan orang lain
Penghasilan, gaya hidup tertentu dan stres spiritual

Mengkuatirkan penampilan: alopesia, lesi cacat dan menurunnya BB


Mengingkari diagnosa, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak berguna, rasa bersalah
Kehilangan kontrol diri dan depresi
Tanda:
Mengingkari, cemas, defresi, takut, menarik diri
Perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata kurang
Gagal menepati janji atau banyak janji untuk periksa dengan gejala yang sama
Eliminasi
Gejala:
Diare yang intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa disertai kram abdominal
Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

Tanda:
Feces dengan atau tanpa disertai mukus dan marah
Diare pekat yang sering
Nyeri tekan abdominal
Lesi atau abses rectal, personal
Perubahan dalam jumlah, warna dan karakteristik urin

Makanan / cairan
Gejala:
Anoreksia, perubahan dalam kemampuan mengenali makanan / mual / muntah
Disfagia, nyeri retrostenal saat menelan
Penurunan berat bada: perawakan kurus, menurunnya lemak subkutan / massa otot
Turgor kulit buruk
Lesi pada rongga mulut, adanya selaputnya putih dan perubahan warna
Kesehatan gigi / gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal
Edema (umum, dependen)

Higiene
Gejala:
Tidak dapat menyelesaikan aktivitas
Tanda:
Memperlihatkan penampila yang kurang rapi
Kekurangan dalam banyak atau perawatan diri, aktivitas perawatan diri

Neurosensori
Gejala:
Pusing, pening / sakit kepala, perubahan status mental
Kehilangan ketajaman atau kemampuan diri untuk mengatasi masalah, tidak mampu mengingat dan konsentrasi
menurun
Kerusakan sensasi atau indera posisi dan getaran
Klemahan otot, tremor dan perubahan ketajaman penglihatan
Kebas, kesemutan pada ekstremitas (kaki tampak menunjukkan perubahan paling awal)

Tanda:
Perubahan status mental dan rentang antara kacau mental sampai dimensia, lupa, konsentrasi buruk, tingkat
kesadaran menurun, apatis, retardasi psikomotor / respon melambat
Ide paranoid, ansietas yang berkembang bebas, harapan yang tidak realistis
Timbul refleksi tidak normal, menurunnya kekuatan otot dan gaya berjalan ataksia
Tremor pada motorik kasar / halus, menurunnya motorik
Vocalis: hemi paresis; kejang
Hemoragi retina dan eksudat
Nyeri / kenyamanan
Gejala:
Nyeri umum atau local, sakit, rasa terbakar pada kaki
Sakit kepala (keterlibatan ssp)
Nyeri dada pleuritis
Tanda:
Pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan
Penurunan rentang gerak, perubahan gaya berjalan / pincang
Gerak otot melindungi bagian yang sakit

Pernapasan
Gejala:
Isksering, menetap
Napas pendek yang progresif
Batuk (sedang sampai parah), produktif / non produktif sputum (tanda awal dari adanya PCP mungkin batuk
spasmodic saat napas dalam)
Bendungan atau sesak dada

Tanda:
Takipnea, distres pernapasan
Perubahan pada bunyi napas / bunyi napas adventisius
Sputum: kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum)

Keamanan
Gejala:
Riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka yang lambat proses penyembuhannya
Riwayat menjalani transfusi darah yang sering atau berulang (mis: hemofilia, operasi vaskuler mayor, insiden
traumatis)
Riwayat penyakit defisiensi imun, yakni kanker tahap lanjut
Riwayat / berulangnya infeksi dengan PHS
Demam berulang; suhu rendah, peningkatan suhu intermitten / memuncak; berkeringat malam
Tanda:

Perubahan integritas kulit: terpotong, ruam mis: ekzema, eksantem, psoriasis, perubahan warna / ukuran mola;
mudah terjadi memar yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
Rektum, luka-luka perianal atau abses
Timbulnya nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe pada 2 area tubuh atau lebih (mis: leher, ketiak, paha)
Menurunnya kekuatan umum, tekanan otot, perubahan pada gaya berjalan

Seksualitas
Gejala:
Riwayat perilaku beresiko tinggi yakni mengadakan hubungan seksual dengan pasangan yang positif HIV,
pasangan seksual multipel, aktivitas seksual yang tidak terlindung dan seks anal
Menurunnya libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan seks
Penggunaan kondom yang tidak konsisten
Menggunakan pil pencegah kehamilan (meningkatkan kerentanan terhadap virus pada wanita yang diperkirakan
dapat karena peningkatan kekurangan (pribilitas vagina)

Tanda:
Kehamilan atau resiko terhadap hamil
Genetalia:
Manifestasi kulit (mis: herpes, kulit); rabas
Interaksi sosial
Gejala:
Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, mis: kehilangan kerabat / orang terdekat, teman, pendukung, rasa
takut untuk mengungkapkannya pada orang lain, takut akan penolakan / kehilangan pendapatan
Isolasi, kesepian, teman dekat ataupun pasangan seksual yang meninggal akibat AIDS
Mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana
Tanda:
Perubahan pada interaksi keluarga / orang terdekat
Aktivitas yang tidak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan
Penyuluhan / pembelajaran
Gejala:
Kegagalan untuk mengikuti perawatan, melanjutkan perilaku beresiko tinggi (mis: seksual ataupun penggunaan
obat-obatan IV)
Penggunaan / penyalahgunaan obat-obatan IV, saat ini merokok, penyalahgunaan alkohol
Pertimbangan rencana pemulangan:
Memerlukan bantuan keuangan, obat-obatan / tindakan, perawatan kulit / luka, peralatan / bahan; trasportasi,
belanja makanan dan persiapan perawatan diri, prosedur keperawatan teknis, tugas perawatan / pemeliharaan
rumah, perawatan anak, perubahan fasilitas hidup.

Adapun diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem imunologis HIV / AIDS adalah:
1) Resiko tinggi terhadap infeksi b/d pertahanan primer tidak efektif

2)
3)
4)
5)

Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan yang berlebihan, diare berat
Resiko tinggi terhadap tidak efektifnya pola nafas b/d ketidakseimbangan muscular
Resiko tinggi terhadap perubahan faktor pembekuan b/d penurunan absorpsi Vitamin K
Perubahan nutrisi kurang dari tubuh b/d perubahan pada kemampuan untuk mencerna d/d penurunan berat
badan
6) Nyeri kronik b/d inflamasi d/d keluhan nyeri
7) Kerusakan integritas kulit b/d defisit imunologi d/d lesi kulit
8) Perubahan membran mukosa oral b/d defisit imunologi d/d candidiasis
9) Kelelahan b/d perubahan produksi energi metabolisme d/d kekurangan energi
10) Perubahan proses pikir b/d hipoksemia d/d perubahan lapang perhatian
11) Ansietas b/d ancaman pada konsep pribadi d/d peningkatan tegangan
12) Isolasi sosial b/d perubahan status kesehatan d/d perasaan ditolak
13) Ketidakberdayaan b/d perubahan pada bentuk tubuh d/d bergantung pada orang lain untuk perawatan
14) Kurang pengetahuan mengenai penyakit b/d tidak mengenal sumber informasi d/d permintaan informasi
3.

Perencanaan
Dx
1

Kriteria Hasil

Intervensi

Rasionalisasi

Mengidentifikasi / Cuci tangan sebelum Mengurangi resiko


ikut serta dalam
dan sesudah
terkontaminasi
perilaku yang
seluruh kontak
silang
megurangi resiko
perawatan
infeksi mencapai
dilakukan
masa
instruksikan pasien /
penyembuhan luka
orang terdekat
/ lesi tidak demam
untuk mencuci
dan bebas dari
tangan sesuai
pengeluaran /
indikasi
Mengurangi patogen
sekresi purulen dan
Berikan lingkungan
pada sistem imun
tanda-tanda lain
yang bersih dan
dan mengurangi
dari kondisi infeksi
berventilasi baik
kemungkinan
periksa pengunjung
pasien mengalami
/ staf terhadap
infeksi nosokomial
tanda infeksi dan
mempertahankan Meningkatkan kerja
kewaspadaan
sama dengan cara
sesuai indikasi
hidup dan berusaha
Diskusikan tingkat
mengurangi rasa
dan rasional isolasi
terisolasi
pencegahan dan Memberikan informasi
mempertahankan
dasar awitan /
kesehatan pribadi
peningkatan suhu
secara berulangulang dari demam
Pantau tanda-tanda
yang terjadi untuk
vital termasuk suhu
menunjukkan
bahwa tubuh

bereaksi pada
proses infeksi yang
baru dimana obat
tidak lagi dapat
secara efektif
mengontrol infeksi
yang tidak dapat
disembuhkan
Kandidiasis oral,
herpes, CMV dan
crytocolus adalah
penyakit yang
umum terjadi dan
memberikan efek
pada membran kulit
Identifikasi /
Bersihkan kulit /
perawatan awal dari
membran mukosa
infeksi sekunder
oral terdapat bercak dapat mencegah
putih / lesi
terjadinya sepsis
Mengontrol mikro
organisme pada
permukaan keras
Periksa adanya luka /
lokasi alat
infasif,perhatikan
tanda-tanda
inflamasi / infeksi
lokal
Bersihkan percikan
cairan tubuh / darah
dengan larutan
pemutih 1 : 10
2

Mempertahankan Pantau tanda-tanda Indikator dari volume


hidrasi dibuktikan
vital termasuk CVP,
cairan sirkulasi
oleh membran
bila terpasang,
mukosa lembab,
catata hipertensi
turgor kulit baik,
termasuk
haluaran urine
perubahan postural
adekuat secara Kaji turgor kulit,
pribadi
membran mukosa Indikator tidak
dan rasa haus
langsung dari status
Pantau pemasukan
cairan
oral dan masukan Mempertahankan
cairan sedikitnya
keseimbangan

2500 ml / hari

cairan, mengurangi
rasa haus, dan
melembabakan
membran mukosa

Mempertahankan Tinggikan kepala


Meningkatkan fungsi
pola pernapasan
tempat tidur
pernafasan yang
efektif membran
usahakan pasien
optimal dan
mukosa tidak
untuk berbalik,
mengurangi aspirasi
mengalami sesak
batuk, menarik
/ infeksi yang
nafas / sianosis
nafas sesuai
ditimbulkan karena
dengan bunyi nafas kebutuhan
atelektasis
dan sinar x bagian
Nyeri dada pleuritis
dada yang bersih /
dapat
meningkat dan
Selidiki tentang
menggambarkan
AGD dalam batas
keluhan nyeri dada
adanya pnemonia
normal pasien
non spesifik / efusi
pleura berkenaan
dengan keganasan
Menurunkan
konsumsi O2

Berikan periode
istirahat yang cukup
diantara waktu
aktivitas
pertahankan
lingkungan yang
tenang
4

Menunjukkan
Lakukan pemeriksaan Mempercepat deteksi
homosatis yang
darah pada cairan
adanya perdarahan
ditunjukkan dengan tubuh untuk
/ penentuan awal
tidak adanya
mengetahui adanya
dari therapi mungkin
perdarahan mukosa darah pada urine,
dapat mencegah
dan bebas dari
feses dan cairan
perdarahan kritis
ekimosis
muntah
Timbulnya
Pantau perubahan
perdarahan /
tanda-tanda vital
hemoragi dapat
dan warna kulit
menunjukkan
kegagalan sirkulasi /
syok
Perubahan dapat
Pantau perubahan
menunjukkan
tingkat kesadaran
adanya perdarahan
dan gangguan
otak
penglihatan

Mempertahankan Kaji kemampuan


Lesi mulut,
BB atau
untuk mengunyah,
tenggorokan, dan
memperlihatkan
merasakan dan
esofagus dapat
peningkatan BB
menelan
menyebabkan
yang mengacu
dispagia, penurunan
pada tujuan yang
kemampuan pasien
diinginkan
untuk mengolah
makanan dan
mengurangi
keinginan untuk
makan
Indikator kebutuhan
nutrisi / pemasukan
Timbang BB sesuai
yang adekuat
kebutuhan, evaluasi
BB dalam hal
adanya BB yang
tidak sesuai.
Gunakan
serangkaian
Lambung yang penuh
pengukuran BB dan akan mengurangi
antropometrik
nafsu makan dan
Jadwalkan obatpemasukan
obatan diantara
makanan
makan dan batasi
pemasukan cairan Mempermudah
dengan makanan,
proses menelan dan
kecuali jika cairan
mengurangi resiko
memiliki nilai gizi
aspirasi
Dorong pasien untuk Mengidentifikasi
duduk pada waktu
kebutuhan terhadap
makan
suplemen atau
alternatif metode
Catat pemasukan
pemberian makanan
kalori

Keluhan hilangnya/ Kaji keluhan yeri,


Mengindikasikan
terkontrolnya rasa
perhatikan lokasi,
kebutuhan untuk
sakit
intensitas (skala 1 intervensi dan juga
10), frekuensi dan
tanda-tanda
waktu menandai
perkembangan /
gejala non verbal
resolusi komplikasi
Dorong
Dapat mengurangi
pengungkapan
ansietas dan rasa
perasaan
takut, sehingga
mengurangi
persepsi akan

intensitas rasa sakit


Meningkatkan
relaksasi /
menurunka
tegangan otot

Lakukan tindakan
pariatif mis:
pengubahan posisi,
masase, rentang
gerak pada sendi Infeksi diketahui
yang sakit
sebagai penyebab
Berikan kompres
rasa sakit dan
hangat / lembab
abses steril
pada sisi infeksi
pentamidin / IV
selama 20 menit
setelah pemberian
7

Menunjukkan
Kaji kulit setiap hari, Menentukan garis
tingkah laku / teknik catat warna, turgor,
dasar dimana
untuk mencegah
sirkulasi dan
perubahan pada
kerusakan kulit /
sensasi.
status dapat
meningkatkan
Gambarkan lesi dan dibandingkan dan
kesembuhan
amati perubahan
melakukan
intervensi yang
tepat
Pertahankan sprei Friksi kulit disebabkan
bersih, kering dan
oleh kain yang
tidak berkerut
berkerut dan basah
yang menyebabkan
iritasi dan potensial
terhadap infeksi
Dapat mengurangi
kontaminasi bakteri,
meningkatkan
Tutupi luka tekan
proses
yang terbuka
penyembuhan
dengan pembalut
yang steril atau
barrier produktif

Menunjukkan
Kaji membran
Edema, lesi,
membran mukosa
mukosa / catat
membran mukosa
utuh, berwarna
seluruh lesi oral.
oral dan tenggorok
merah jambu,
Perhatikan keluhan
kering
basah dan bebas
nyeri, bengkak, sulit menyebabkan rasa
dari inflamasi /
mengunyah /
sakit dan sulit
ulserasi
menelan
mengunyah /
Berikan perawatan
menelan

oral setiap hari dan Mengurangi rasa


setelah makan,
tidak nyaman,
gunakan sikat gigi
meningkatkan rasa
halus, pasta sisi non sehat dan
abrasif, obat
mencegah
pencuci mulut non
pembentukan asam
alkohol dan
yang dikaitkan
pelembab bibir
dengan partikel
makanan yang
Cuci lesi mukosa oral
tertinggal
dengan
Mengurangi
menggunakan
penyebaran lesi dan
hidrogen peroksida / krustasi dari
salin atau larutan
kandidiasis dan
soda kue
meningkatkan
Anjurkan permen
kenyamanan
karet / permen tidak Merangsang saliva
mengandung gula
untuk menetralkan
asam dan
melindungi
membran mukosa
Dorong pasien untuk Rokok akan
tidak merokok
mengeringkan dan
mengiritasi
membran mukosa
9

Melaporkan
Kaji pola tidur dan Berbagai faktor dapat
peningkatan energi
catat perubahan
meningkatkan
dalam proses
kelelahan, termasuk
berpikir / perilaku
kurang tidur,
penyakit ssp,
tekanan emosi dan
efek samping obatobatan / kemoterapi
Periode istirahat yang
sering sangat
dibutuhkan dalam
Rencanakan
memperbaiki /
perawatan untuk
menghemat energi.
menyediakan fase
Perencanaan akan
istirahat. Atur
membuat pasien
aktivitas pada waktu menjadi aktif pada
pasien sagat
waktu dimana
berenergi. Ikut
tingkat energi lebih
sertakan pasien /
tinggi, sehingga
orang terdekat pada dapat memperbaiki

penyusunan
rencana

Tetapkan
keberhasilan
aktivitas yang
realitas dengan
pasien
10

perasaan sehat dan


kontrol diri
Mengusahakan
kontrol diri dan
perasaan berhasil,
mencegah
timbulnya perasaan
frustasi akibat
kelelahan karena
aktivitas berlebihan

Mempertahankan Kaji status mental dan


Menetapkan tingkat
orientasi realita
neurologis dengan
fungsional pada
umum dan fungsi
menggunakan alat
waktu penerimaan
kognitif optimal
yang sesuai. Catat
dan mewaspadakan
perubahan orientasi, perawat pada
respon terhadap
perubahan status
rangsang,
yang dapat
kemampuan untuk
dihubungkan
mencegah masalah, dengan infeksi /
ansietas, perubahan kemungkinan
pola tidur, halusinasi penyakit ssp yang
dan ide paranoid
makin buruk,
stressor lingkungan,
tekanan fisiologis,
efek samping terapi
obat-obatan
Pantau adanya tanda Gejala ssp
tanda infeksi ssp,
dihubungkan
mis: sakit kepala,
dengan meningitis /
kekakuan nukal,
ensefalitis
muntah, demam
diseminata mungkin
memiliki jangkauan
dari perubahan
kepribadian yang
tidak kelihatan
sampai kekacauan
mental, peka
rangsangan,
mengantuk,
pingsan, kejang dan
demensia
Memberikan waktu

tidur, emngurangi
Susun batasan pada
gejala kognitif dan
perilaku mal adaptif
kurang tidur
/ menyiksa, hindari
pilihan pertanyaan Mendapatkan
terbuka
informasi bahwa
Diskusikan penyebab
A2T telah muncul
/ harapan di masa
untuk memperbaiki
depan dan
kognisi dapat
perawatan jika
memberikan
demensia telah
harapan dan kontrol
terdiagnosa.
terhadap kehilangan
Gunakan istilah
yang kongkret
11

Menyatakan
Jamin pasien tentang Memberikan
kesadaran tentang
kerahasiaan dalam
penentraman hati
perasaan dan cara
batasan situasi
lebih lanjut dan
sehat untuk
tertentu
kesempatan bagi
menghadapinya
pasien untuk
memecahkan
masalah pada
situasi yang
Berikan informasi
diantisipasi
akurat dan konsiste Dapat mengurangi
mengenai
ansietas dan
prognosis, hindari
ketidakmampuan
argumentasi
pasien untuk
mengenai persepsi
membuat keputusan
pasien terhadap
/ pilihan
situasi tersebut
berdasarkan realita
Membantu pasien
untuk merasa
Berikan lingkungan
diterima pada
terbuka dimana
kondisi sekarang
pasien akan merasa tanpa perasaan
aman untuk
dihakimi dan
mendiskusikan
meningkatkan
perasaan atau
perasaan harga diri
menahan diri untuk
dan kontrol
berbicara
Menciptakan interaksi
personal yang lebih
Berikan informasi
baik dan
yang dapat
menurunkan
dipercaya dan
ansietas dan rasa
konsisten, juga
takut
dukungan untuk

orang terdekat
12

Menunjukkan
Tentukan persepsi
peningkatan
pasien tentang
perasaan harga diri situasi

Isolasi sebagian
dapat
mempengaruhi diri
saat pasien takut
penolakan / reaksi
orang lain
Batasi / hindari
Mengurangi perasaan
penggunaan
pasien akan isolasi
masker, baju dan
fisik dan
sarung tangan jika
menciptakan
memungkinkan mis: hubungan sosial
jika berbicara
yang positif yang
dengan pasien
dapat meningkatkan
rasa percaya diri
Partisipasi orang lain
Dorong kunjungan
dapat meningkatkan
terbuka, hubungan
rasa kebersamaan
telepon dan aktivitas
sosial dalam tingkat Membantu
yang
menetapkan
memungkinkan
partisipasi pada
Dorong adanya
hubungan sosial
hubungan yang aktif dapat mengurangi
dengan orang
kemungkinan upaya
terdekat
bunuh diri

13

Menyatakan
Kaji tingkat perasaan Menentukan status
perasaan dan cara
tidak berdaya, mis:
individual pasien
yang sehat untuk
ekspresi verbal /
dan mengusahakan
berhubungan
non verbal yang
intervensi yang
dengan mereka
mengindikasikan
sesuai pada waktu
kurang kontrol, efek
pasien imobilisasi
daftar kurangnya
karena perasaan
komunikasi
depresi
Dorong peran aktif Memungkinkan
pada perencanaan
peningkatan
aktivitas,
perasaan kontrol
menetapkan
dan menghargai diri
keberhasilan harian, sendiri dan
yang realitas / dapat tanggung jawab
dicapai dorong
kontrol pasien dan
tanggung jawab
sebanyak mungkin,
identifikasi hal-hal
yang dapat dan

tidak dapat dikontrol


pasien
14

Mengungkapkan Tinjau ulang proses Memberikan


pemahamannya
penyakit dan apa
pengetahuan dasar
tentang kondisi /
yang menjadi
dimana pasien
proses dan
harapan di masa
dapat membuat
perawatan dari
depan
pilihan berdasarkan
penyakit tertentu
informasi
Mengoreksi mitos dan
Tinjau ulang cara
kesalahan konsepsi,
penularan penyakit
meningkatkan
keamanan bagi
pasien / orang lain
Memberikan pasien
kontrol mengurangi
resiko rasa malu
dan meningkatkan
Berikan informasi
kenyamanan
mengenai
penatalaksanaan
gejala yang
melengkapi aturan Memberi kesempatan
medis, mis: pada
untuk mengubah
diare intermiten,
aturan untuk
gunakan lomotil
memenuhi
sebelum pergi
kebutuhan
kegitan sosial
perubahan /
Tekankan perlunya
individual
melajutkan
Memudahkan
perawatan
pemindahan dari
kesehatan dan
lingkungan
evaluasi
perawatan akut,
mendukung
pemulihan dengan
kemandirian
Identifikasi sumbersumber komunitas,
mis: rumah sakit /
pusat perawatan
tempat tinggal (bila
ada)

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan republik Indonesia Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Meular Dan Penyehatan
Lingkungan, Pedoman Nasional Terapi, 2004.
Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan Departemen RI, Buku Pedoman
Untuk Petugas Kesehatan Dan Petugas Lainnya, Jakarta, 2003.
Doenges Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 2000.
Suzanne C Smeltzer, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta, 2001.
Umar Zein, 100 Pertanyaan Seputar HIV / AIDS Yang Anda Ketahui, USU Press, Medan, 2006.

Konsep Dasar
I. Pengertian
AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada
seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat
menerangkan tejadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat
supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya.
II. Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human
immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983
sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan
lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus
kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan
keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak

ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes
illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak
ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat
malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi
mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama
kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai
system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun
wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
1. Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
2. Orang yang ketagian obat intravena
3. Partner seks dari penderita AIDS
4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
IV. Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
- ELISA
- Western blot
- P24 antigen test
- Kultur HIV
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun.
- Hematokrit.
- LED
- CD4 limfosit
- Rasio CD4/CD limfosit
- Serum mikroglobulin B2
- Hemoglobulin
V. Penatalaksanaan
Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian.
1. Riwayat : tes HIV positif, riwayat perilaku beresiko tinggi, menggunakan
obat-obat.
2. Penampilan umum : pucat, kelaparan.
3. Gejala subyektif : demam kronik, dengan atau tanpa menggigil, keringat
malam hari berulang kali, lemah, lelah, anoreksia, BB menurun, nyeri, sulit
tidur.
4. Psikososial : kehilangan pekerjaan dan penghasilan, perubahan pola
hidup, ungkapkan perasaan takut, cemas, meringis.
5. Status mental : marah atau pasrah, depresi, ide bunuh diri, apati,
withdrawl, hilang interest pada lingkungan sekitar, gangguan prooses piker,
hilang memori, gangguan atensi dan konsentrasi, halusinasi dan delusi.

6. HEENT : nyeri periorbital, fotophobia, sakit kepala, edem muka, tinitus,


ulser pada bibir atau mulut, mulut kering, suara berubah, disfagia,
epsitaksis.
7. Neurologis :gangguan refleks pupil, nystagmus, vertigo,
ketidakseimbangan , kaku kuduk, kejang, paraplegia.
8. Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidak mampu melakukan ADL.
9. Kardiovaskuler ; takikardi, sianosis, hipotensi, edem perifer, dizziness.
10. Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis, SOB, menggunakan otot
Bantu pernapasan, batuk produktif atau non produktif.
11. GI : intake makan dan minum menurun, mual, muntah, BB menurun,
diare, inkontinensia, perut kram, hepatosplenomegali, kuning.
12. Gu : lesi atau eksudat pada genital,
13. Integument : kering, gatal, rash atau lesi, turgor jelek, petekie positif.
II. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan
pola hidup yang beresiko.
2. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV,
adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
3. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen,
malnutrisi, kelelahan.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya
absorbsi zat gizi.
5. Diare berhubungan dengan infeksi GI
6. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang
keadaan yang orang dicintai.
Daftar Pustaka
Grimes, E.D, Grimes, R.M, and Hamelik, M, 1991, Infectious Diseases, Mosby Year Book, Toronto.
Christine L. Mudge-Grout, 1992, Immunologic Disorders, Mosby Year Book, St. Louis.
Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua, EGC, Jakarta.
Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott Company, London.
Phipps, Wilma. et al, 1991, Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi
3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta

Tn W dirawat diruang medikal bedah karena diare sudah sebulan tak sembuh-sembuh
meskipun sudah berobat ke dokter. Pekerjaan Tn W adalah supir truk dan dia baru
saja menikah dua tahun yang lalu. Tn W mengatakan bahwa dia diare cair 15 x hari
dan BB menurun 7 kg dalam satu bulan serta sariawan mulut tak kunjung sembuh
meskipun telah berobat dan tidak nafsu makan. Hasil foto thorax ditemukan pleural
effusi kanan,hasil laboratorium sebagai berikut : Hb 11 gr/dL, leukosit 20.000/Ul,

trombosit 160.000/UL, LED 30 mm, Na 8 mmol/L, K 2,8 mmol/L, Cl 11o mmol/L,


protein 3,5. Hasil pemeriksaan ditemukan TD 120/80 mmHg, N 120x/mnt, P
28x/menit, S 390C, konjungtiva anemis, sklera tak ikterik, paru-paru : ronchi +/+ dan
wheezing +/-.
Diagnosa Medis pada kasus diatas adalah AIDS
AIDS
Pengertian
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala
penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV.
Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan
Tubuh Dapatan.
Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan
Immune : Sistem kekebalan tubuh
Deficiency : Kekurangan
Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit
Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang
dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit.
Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan
menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.

AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan


daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus
yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ).
( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare )
AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari
kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga
keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat
membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi
( Center for Disease Control and Prevention )

1. Etiologi

AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV,
RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang
berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan
punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.
1. Patofisiologi
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang
terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar
limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV )
menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus
yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam
respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain
dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga
dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel
yang terinfeksi.
Virus HIV dengan suatu enzim, reverse transkriptase, yang akan melakukan
pemograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat doublestranded DNA. DNA ini akan disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah
provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Enzim inilah yang membuat sel
T4 helper tidak dapat mengenali virus HIV sebagai antigen. Sehingga keberadaan
virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan oleh sel T4 helper. Kebalikannya, virus
HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Fungsi dari sel T4 helper adalah mengenali
antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibodi,
menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi limfokin, dan mempertahankan
tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi sel T4 helper terganggu, mikroorganisme
yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk
menginvasi dan menyebabkan penyakit yang serius.
Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara
progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel
T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat
tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama
waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum
infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur
oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru
akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang
didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml
darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.

1. Klasifikasi
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS
(kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap
menderita AIDS.
1. Kategori Klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam
kategori klinis B dan C.
1. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
2. Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized
Limpanodenophaty )
3. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang
menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang
akut.
1. Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
1. Angiomatosis Baksilaris
2. Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek
terhadap terapi
3. Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
4. Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.
5. Leukoplakial yang berambut
6. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari
satu dermaton saraf.
7. Idiopatik Trombositopenik Purpura
8. Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
1. Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :
1.
2.
3.
4.

Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus


Kanker serviks inpasif
Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata
Kriptokokosis ekstrapulmoner

5. Kriptosporidosis internal kronis


6. Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )
7. Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )
8. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
9. Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )
10. Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )
11. Isoproasis intestinal yang kronis
12. Sarkoma Kaposi
13. Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
14. Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata /
ekstrapulmoner
15. M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
16. Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
17. Pneumonia Pneumocystic Cranii
18. Pneumonia Rekuren
19. Leukoenselophaty multifokal progresiva
20. Septikemia salmonella yang rekuren
21. Toksoplamosis otak
22. Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)
5. Gejala Dan Tanda
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 2 minggu
pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3
tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan,
diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan
lesi oral.
Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS
(bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala
infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC),
Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk
menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal :

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam
berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang
kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala

Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah
akan diperoleh hasil positif.

Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala


pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.

6. Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan
berat badan, keletihan dan cacat.
b. Neurologik
1. kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency
Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan
kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
2. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit
kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
3. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
4. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human
Immunodeficienci Virus (HIV)
c. Gastrointestinal
1. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat
badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
2. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam
atritis.
3. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang
sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatalgatal dan siare.
d. Respirasi

Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza,


pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas
pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa
terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f. Sensorik

Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan


Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran
dengan efek nyeri.

7. Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human
Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
1. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan
yang tidak terinfeksi.
2. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir
yang tidak terlindungi.
3. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status
Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya
yaitu :
1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi
opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk
mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan
bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
1. Terapi AZT (Azidotimidin)

Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap
AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus
(HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien
AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
1. Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan
menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya.
Obat-obat ini adalah :
1.
2.
3.
4.

Didanosine
Ribavirin
Diedoxycytidine
Recombinant CD 4 dapat larut

1. Vaksin dan Rekonstruksi Virus


Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka
perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses
keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi
AIDS.
1. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan
sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang
mengganggu fungsi imun.
2. Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan
mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur
kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan
pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada
lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak
penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes
meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan

penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status
imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi
yang berhubungan dengan kelainan hospes :

Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )

Terapiradiasi,defisiensinutrisi,penuaan,aplasia timik,limpoma,kortikosteroid,globulin
anti limfosit,disfungsi timik congenital.

Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)

Limfositik leukemia kronis,mieloma,hipogamaglobulemia congenital,protein liosing


enteropati (peradangan usus)
b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
- Aktifitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas (
Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
- Sirkulasi
Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis,
perpanjangan pengisian kapiler.
- Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan,
mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
- Eliminasi
Gejala : Diare intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal,
nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri
tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan
karakteristik urine.
- Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk,
edema
- Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
- Neurosensori
Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status
indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.
Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak
normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
- Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.
- Pernafasan
Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
- Keamanan
Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi
imun, demam berulang,berkeringat malam.

Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran


kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
-Seksualitas
Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil
pencegah kehamilan.
Tanda : Kehamilan,herpes genetalia
- Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma
AIDS
Tanda : Perubahan interaksi
- Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan
obat-obatan IV,merokok,alkoholik.
c. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian.
Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta
responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
1. Serologis
- Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi
bukan merupakan diagnosa
- Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
- Sel T limfosit

Penurunan jumlah total


- Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
- T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 )
mengindikasikan supresi imun.
- P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
- Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
- Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
- Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
2. Budaya
Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan
sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri,
viral.
3. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
4. Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun
akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody

terbentuk dalam 3 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 12 bulan. Hal ini
menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes
positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah
dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji
kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau
plasma. Tes tersebut, yaitu :
1. Tes Enzym Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya
menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody
Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
2. Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan
seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
1. Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
4. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.
c. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV)
untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein
virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV 1. tapi
kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat
rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari
menjadi AIDS.
Pengkajian
Data dasar :

Nama

Tn. W

Umur

40 tahun

Jenis kelamin

Alamat

Laki-laki
:

Jakarta

Analisa Data
DS : -

diare sudah 1 bulan tak sembuh-sembuh meskipun sudah berobat kedokter.

Tn. W mengatakan bahwa dia diare cair kurang lebih 15x/hari

DO : -

hasil foto thorax, pleural effusion kanan

Hasil LAB :
-

Hb 11 gr/dl

Leukosit 20.000/uL

Trombosit 160.000/uL

LED 30 mm

Na 98 mmoL/L

K 2,8 mmol/L

Cl 110 mmol/L

2. Diagnosa keperawatan
1.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih

2.

Resiko terhadap infeksi b.d imunodefisiensi

Analisa data
No Data
1 DS :

Etiologi
Output yang
berlebih

Masalah
Kekurangan volume
cairan

diare sudah 1 bulan tak sembuhsembuh meskipun sudah berobat


kedokter.
Tn. W mengatakan bahwa dia diare
cair kurang lebih 15x/hari
DO :

Na 98 mmoL/L

K 2,8 mmol/L

DS :

Cl 110 mmol/L
Imunodefisiensi

Resiko infeksi

Tn.W mengatakan BB menurun 7 kg


dalam 1 bulan serta sariawan mulut
tak kunjung sembuh.
DO :
-

Leukosit 20.000/uL

Trombosit 160.000/uL

LED 30 mm

Rencana asuhan keperawatan


Dx :

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih

Tujuan : mempertahankan hidrasi cairan yang dibuktikan oleh normalnya kadar


elektrolit
Kriteria hasil : Terpenuhinya kebutuhan cairan secara adekuat
- Defekasi kembali normal, maksimal 2x sehari
Intervensi
Mandiri

Rasional
Indikator tidak langsung dari status

Kaji turgor kulit,membran mukosa,


dan rasa haus
Pantau masukan oral dan
memasukkan cairan sedikitnya
2500 ml/hari
Hilangkan makanan yang potensial
menyebabkan diare, yakni yang
pedas/ makanan berkadar lemak
tinggi, kacang, kubis, susu.
Berikan makanan yang membuat
pasien berselera.

Meningkatkan asupan nutrisi


secara adekuat.

Mengurangi insiden muntah,


menurunkan jumlah keenceran
feses mengurangi kejang usus dan
peristaltik.
Mewaspadai adanya gangguan
elektrolit dan menentukan
kebutuhan elektrolit.
Diperlukan untuk mendukung
volume sirkulasi, terutama jika
pemasukan oral tidak adekuat.

Kolaborasi

Berikan obat-obatan sesuai indikasi


: antiemetikum, antidiare atau
antispasmodik.

cairan.
Mempertahankan keseimbangan
cairan, mengurangi rasa haus,
melembabkan mukosa.
Mungkin dapat mengurangi diare.

Pantau hasil pemeriksaan


laboratorium.
Berikan cairan/elektrolit melalui
selang makanan atau IV.

Dx : Resiko infeksi b.d imunodefisiensi


Tujuan :

Mengurangi resiko terjadinya infeksi

- Mempertahankan daya tahan tubuh


Kriteria hasil:

Infeksi berkurang

- Daya tahan tubuh meningkat


Intervensi
Mandiri

Pantau adanya infeksi : demam,


mengigil, diaforesis, batuk, nafas
pendek, nyeri oral atau nyeri
menelan.

Rasional
Deteksi dini terhadap infeksi
penting untuk melakukan tindakan
segera. Infeksi lama dan berulang
memperberat kelemahan pasien.
Berikan deteksi dini terhadap

Ajarkan pasien atau pemberi


perawatan tentang perlunya
melaporkan kemungkinan infeksi.
Pantau jumlah sel darah putih dan
diferensial
Pantau tanda-tanda vital termasuk
suhu.

Awasi pembuangan jarum suntik


dan mata pisau secara ketat dengan
menggunakan wadah tersendiri.

Kolaborasi

infeksi.

Beriakan antibiotik atau agen


antimikroba, misal : trimetroprim
(bactrim atau septra), nistasin,
pentamidin atau retrovir.

Peningkatan SDP dikaitkan dengan


infeksi
Memberikan informasi data dasar,
peningkatan suhu secara berulangulang dari demam yang terjadi
untuk menunjukkan bahwa tubuh
bereaksi pada proses infeksi ang
baru dimana obat tidak lagi dapat
secara efektif mengontrol infeksi
yang tidak dapat disembuhkan.
Mencegah inokulasi yang tak
disengaja dari pemberi perawatan.
Menghambat proses infeksi.
Beberapa obat-obatan ditargetkan
untuk organisme tertentu, obatobatan lainya ditargetkan untuk
meningkatkan fungsi imun

Like this:
Apakah AIDS?
Ditularkan dari orang ke orang.A (Acquired)
Merusak sistem kekebalan manusia. Kekebalan adalah bagian dari tubuh untuk mempertahankan diri dengan melawan infeksi spt
bakteri atau virus.I (Immune)
Membuat sistem kekebalan merugi atau berkurang.D (Deficiency)
Orang dgn AIDS mengalami bbg infeksi opportunistikS (Syndrome) & penyakit lainnya.
ETIOLOGI
H : Human
I : Immunodeficiency
V : Virus
HIV adalah virus yg menyebabkan penyakit AIDS & termasuk kelompok retrovirus (memiliki enzim reverse transcriptase)
Cara penularan
Melalui hubungan sexual
Tranfusi darah
Jarum suntik
Dari ibu yang mengidap HIV ke bayinya selama kehamilan, persalinan, melalui asi.
Tanda dan gejala
Gejala mayor
Berat badan turun dalam 1 bulan lebih dari 10%
Diare kronik lebih dari 1 bulan.
Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan.
Penurunan kesadaran dan gangguan neurologist.
Dimensia
Tanda dan gejala
Gejala minor
Batuk menetap lebih dari 1 bulan
Dermatitis
Adanya herpes zoster berulang

Kandidiasis orofaringeal
Herpes simplek kronik progresif
Limfadenopati generalisata
Infeksi jamur berulang pada alat kelamin
Manifestasi klinis
Perjalanan penyakit HIV dibagi dalam tahap-tahap berdasarkan keadaan klinis dan jumlah CD4
a. Infeksi retroviral akut
Demam
Pembesaran kelenjar
Hepatoslenomegali
Nyeri tenggorakan
Mialgia
Rast seperti morbili
b. Masa asimtomatik
Pada masa ini pasien tidak menunjukkan gejala, tetapi dpt terjadi limfadenopati.
Penurunan jumlah CD4 terjadi secara bertahap disebut window period.
c. Masa gejala dini
Pada masa ini CD 4 berkisar antara 100-300, gejala ini timbul akibat infeksi pneumonia, kandidiasis vagina, sariawan herpes
zoster, TB paru.
d. Masa gejala lanjut
CD4 dibawah 200, penurunan daya tahan tubuh yang lanjut ini menyebabkan resiko tinggi terjadinya infeksi oportunistik
Korelasi komplikasi dengan CD4
> 500
Sindroma retroviral akut
Vaginitis candid
Limfadenopati
Sindrome gullain barree
Miopati
Meningitis
200-500
Pnemonia
TBC
Herpes zoster
Kandidiasis oroparing
Neoplasma cervical
ITP
< 200
Pneumonia
Dimensia
Neuropati peripheral
TBC milier dan ektra pulmonal
Cardiomiopati
Poliradikulopati
< 100
Herpes simplek
Toksoplasma gondii
Esofagitis kandida
< 50
Cytomegali virus
Limfoma pada ssp
Prinsip pengobatan
1. Pengobatan suportif
Pengobatan ini bertujuan untuk meningkatkan keadaan umum pasien, dengan cara pemberian gizi yang sesuai, obat sistemik,
vitamin, dukungan psikososial.
Kebutuhan gizi pada pasien HIV-AIDS
Energi tinggi 45-50 kkal/kg BB
Protein 1,1-1,5 g/kg/bb pada berat normal,1,5-2 pada BB actual kaheksia.
Lemak 17-20 % kalori total.
2. Pengobatan infeksi oportunistik
3. Pengobatan antiretroviral
Prinsip pemberian ARV:
Indikasi sesuai pedoman WH
Atasi dulu infeksi oportunistik.
Hati hati gangguan fungsihati
Pengkajian keperawatan
1. Riwayat penyakit sekarang

Kehilangan BB
Demam
Diare
2. Penyakit yang menyertai
Candidiasis
Herpes simplek
Limpoma
3. Riwayat penyakit masa lalu
Riwayat menerima tranfusi darah
Riwayat penyakit seksual
4. Riwayat sosial
Penggunaan obat obat terlarang
Pekerjaan
Perjalanan
Support sistem
Pemeriksaan fisik
Penampilan umum tampak sakit sedang, berat
Tanda vital
Kulit terdapat rush, steven jhonson
Mata merah, icterik, gangguan penglihatan
Leher: pembesaran KGB
Telinga dan hidung; sinusitis berdengung
Rongga mulut: candidiasis
Paru: sesak, efusi pleura, otot bantu
Jantung: pembesaran jantung
Abdomen: ascites, distensi abdomen, pembesaran hepar
Genetalia dan rectum: herpes
Neurologi: kejang, gangguan memori, neuropati.
Pemeriksaan penunjang
Hitung limfosit
CD4
Mantouk test
Test elisa
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko tinggi infeksi b.d. imunodefisiensi
Kurangi dan batasi jumlah kunjungan pasien
Jelaskan teknik personal hygiene
Awasi tanda infeksi lebih lanjut
Jalan nafas tidak efektif b.d. akumulasi mucus
Ajarkan batuk efektif
Beri posisi tidur semi fowler
Pertahankan kebersihan jalan nafas
Kaji pola nafas, irama
Resti/actual kekurangan volume cairan b.d. kehilangan cairan yang berlebihan
Berikan intake cairan yg adequat
Hindari makanan yang merangsang diare
Monitor tanda vital
Kaji elastisitas turgor dan kelembaban membran mukosa
Monitor intake dan output
Timbang BB tiap hari
DK yg lain
Gangguan integritas kulit b.d. imobilisasi
Isolasi sosial b.d. stigma, ketakutan
Gangguan pola tidur b.d. kecemasan
Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik
Gangguan peran b.d. penyakit kronik