You are on page 1of 86

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

(MODUL I)
Oleh : Suyono,M.Sc. dan Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

I.

PENGERTIAN DAN DEFINISI


A. ARTI SEHAT

Arti kesehatan secara harfiah adalah sesuatu yang berhubungan dengan kondisi fisik
seseorang yaitu orang dikatakan sehat apabila terbebas dari serangan penyakit atau
sebaliknya dikatakan sakit apabila kondisi fisiknya tidak baik akibat penyakit menular
atau penyakit tidak menular. Kondisi ini dinamakan konsep sehat-sakit.
Sejak tahun 1948 WHO telah mendefinisikan yang dimaksud sehat sebagai berikut :
Health is a state of physical, mental and social well being and not
merely the absence of disease or infirmity

WHO definition of Health


Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely
the absence of disease or infirmity.
The correct bibliographic citation for the definition is:
Preamble to the Constitution of the World Health Organization as adopted by the
International Health Conference, New York, 19-22 June, 1946; signed on 22 July 1946 by
the representatives of 61 States (Official Records of the World Health Organization, no. 2,
p. 100) and entered into force on 7 April 1948.
The Definition has not been amended since 1948.
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Di atas dikatakan bahwa sehat itu adalah keadaan fisik, mental dan sosial yang baik,
tidak hanya terbebas dari penyakit, cacat atau kelemahan. Menurut pengertian tersebut
definisi sehat mempunyai makna yang sempurna dan lengkap. Misalnya seseorang yang
mengalami sakit lalu ada bekas luka parut, menurut pengertian WHO belum termasuk
kriteria sehat. Secara operasional White (1997) menyatakan sehat adalah keadaan dimana
seseorang ketika diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat
tanda-tanda penyakit atau kelainan.
Di Indonesia kriteria sehat ini ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 1960 tentang
Pokok-pokok Kesehatan dan telah diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 1 ayat 1 yang bunyinya :
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis
Hendrik L Blum menggambarkan status kesehatan seseorang atau masyarakat
dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut :

KETURUNAN

STATUS
KESEHAT-

PELAYANAN
KESEHATAN

AN

LINGKUNGAN
- FISIK
- BIOLOGIS
- SOSIAL

PERILAKU

Gambar 1. Konsep Status Kesehatan menurut HL Blum


Ke empat faktor tersebut diatas saling berpengaruh positif satu dengan yang lain dan
tentu saja sangat berpengaruh terhadap status kesehatan seseorang.
Status kesehatan akan tercapai optimal apabila ke empat faktor tersebut positif
mempengaruhi secara optimal pula. Apabila salah satu faktor tidak optimal maka status
kesehatan akan bergeser kearah dibawah optimal.
Berikut ini akan dijelaskan satu per satu ke empat faktor tersebut sebagai berikut :
1. Faktor Keturunan
Faktor ini lebih mengarah kepada kondisi individu yang berkaitan dengan asal usul
keluarga, ras dan jenis golongan darah. Beberapa penyakit tertentu disebabkan oleh
faktor keturunan antara lain : hemophilia, hypertensi, kelainan bawaan, albino dll.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

2. Faktor Pelayanan Kesehatan


Faktor ini dipengaruhi oleh seberapa jauh pelayanan kesehatan yang diberikan. Hal
ini berhubungan dengan tersedianya sarana dan prasarana institusi kesehatan antara
lain : Rumah Sakit, Puskesmas, Labkes, Balai Pengobatan, serta tersedianya fasilitas
pada institusi tersebut : tenaga kesehatan, obat-obatan, alat-alat kesehatan yang
kesemuanya tersedia dalam kondisi baik dan cukup dan siap pakai.
3. Faktor Perilaku
Faktor perilaku berhubungan dengan perilaku individu atau masyarakat, perilaku
petugas kesehatan dan perilaku para pejabat pengelola negeri ini (Pusat dan Daerah)
serta perilaku pelaksana bisnis.
Perilaku individu atau masyarakat yang positif pada kehidupan sehari-hari misalnya :
membuang sampah / kotoran secara baik, minum air masak, saluran limbah
terpelihara, mandi setiap hari secara higienis dll.
Perilaku petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan yang baik antara lain :
ramah, cepat tanggap, disiplin tinggi, terapi yang tepat sesuai diagnosa, tidak
malpraktek pemberian obat yang rasional, dan bekerja dengan penuh pengabdian.
Perilaku pemerintah Pusat dan Daerah dalam menyikapi
suatu permasalahan
kesehatan masyarakat secara tanggap dan penuh kearifan misalnya : cepat tanggap
terhadap adanya penduduk yang gizinya buruk, adanya wabah penyakit, serta
menyediakan sarana dan prasarana kesehatan dan fasilitas umum ( jalan, parit, TPA,
penyediaan air bersih, jalur hijau, pemukiman sehat) yang didukung dengan peraturan
perundang-undangan yang berhubungan dengan kesehatan dan lingkungan hidup dan
menerapkan sanksi hukum yang tegas bagi pelanggarnya.
4. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap status kesehatan, terlihat dari
diagram di atas dengan panah yang lebih besar dibanding faktor lainnya.
Faktor Lingkungan terdiri dari 3 bagian besar :
a. Lingkungan Fisik
Terdiri dari benda mati yang dapat dilihat, diraba, dirasakan antara lain :
bangunan, jalan, jembatan, kendaraan, gunung, air, tanah. Benda mati yang
dapat dilihat dan dirasakan tapi tidak dapat diraba : api, asap, kabut dll.. Benda
mati yang tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan : udara,
angin, gas, bau-bauan, bunyi-bunyian / suara dll.
b. Lingkungan Biologis
Terdiri dari makhluk hidup yang bergerak, baik yang dapat dilihat maupun tidak :
manusia, hewan, kehidupan akuatik, amoeba, virus, plankton. Makhluk hidup
tidak bergerak : tumbuhan, karang laut, bakteri dll.
c. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah bentuk lain selain fisik dan biologis di atas. Lingkungan
sosial tidak berbentuk secara nyata namun ada dalam kehidupan di bumi ini.
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Lingkungan sosial terdiri dari sosio-ekonomi, sosio-budaya, adat istiadat,


agama/kepercayaan, organisasi kemasyarakatan dll.
Melalui lingkungan sosial manusia melakukan interaksi dalam bentuk
pengelolaan hubungan dengan alam dan buatannya melalui pengembangan
perangkat nilai, ideologi, sosial dan budaya sehingga dapat menentukan arah
pembangunan lingkungan yang selaras dan sesuai dengan daya dukung
lingkungan yang mana hal ini sering disebut dengan etika lingkungan (Adnan
Harahap et-al)

B. LINGKUNGAN
Menurut Otto Sumarwoto, yang dimaksud lingkungan atau lingkungan hidup
manusia adalah :
Jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita
tempati yang mempengaruhi kehidupan kita
Menurut Sewell :
Environment can be defined as the sum of all external influences
and forces acting upon an object, usually assumed to be living being
Menurut Suwasono Heddy et-al :
Lingkungan disini mempunyai arti luas, mencakup semua hal di luar
organisme yang bersangkutan. Tidak termasuk cahaya, suhu, curah
hujan, kelembaban, topografi, tetapi juga parasit, predator dan
kompetitor.
Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup
dikatakan :
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan dan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain
M.Daud Silalahi :
Batasan tentang lingkungan berdasarkan isinya untuk kepentingan
praktis atau kebutuhan analisis kita perlu batasi hingga
lingkungan dalam arti biosphere saja yaitu permukaan bumi,
air dan atmosfir tempat terdapat jasad-jasad hidup

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

M.Daud Silalahi :
Ada 2 bentuk lingkungan hidup, yaitu :
1. lingkungan hidup alami (natural environment or the biosphere of his
inheritance)
2. lingkungan hidup buatan (man made environment or the technosphere
of his creation)
Adnan Harahap :
Lingkungan hidup alami secara garis besar dibagi menjadi
2 macam yaitu ekosistem darat dan ekosistem yang terbentuk
Ekosistem darat mempunyai komponen abiotik seperti tanah, udara, cahaya, dan
faktor-faktor yang terdapat di darat serta komponen biotik yang terdiri dari tumbuhan,
hewan dan hutan.
Luas tanah daratan di Indonesia diperkirakan meliputi 811.570 km2. Sedangkan
kawasan hutan mencapai 1.134.330 km2. Perairan 317 juta hektar. Panjang pantai
sekitar 81.000 km.
Ekosistem terbentuk mencakup ekosistem perairan dapat dibedakan antara perairan
laut dan perairan darat (air tawar). Adapun faktor yang menentukan jenis kehidupan
adalah air.
Pada dasarnya ekosistem perairan dan darat mempunyai konsep yang sama, yang
membedakannya adalah lingkungan abiotiknya, yaitu air pada ekosistem perairan dan
tanah pada ekosistem darat. Kedua ekosistem diatas masih murni disebut lingkungan
hidup alami.
Lingkungan hidup alami ini lambat laun akan berubah sesuai dengan perkembangan
kecerdasan manusia dalam mengelola dan menciptakan teknologi yang dapat
merubah keadaan lingkungan yang mampu untuk mempengaruhinya sehingga
terciptanya lingkungan hidup buatan manusia, yang tentunya mempunyai dampak
positif atau negatif bagi manusia itu sendiri.
Lingkungan hidup buatan adalah lingkungan hidup yang banyak dipengaruhi oleh
kegiatan manusia sejalan dengan perkembangan teknologi.
Lingkungan hidup buatan yang dibuat oleh manusia untuk menjaga kelestarian
lingkungan hidup alami misalnya dengan menanami pepohonan di wilayah perkotaan
(hutan kota, jalur hijau,pertamanan) dan melepas / membiarkan burung dan unggas
lainnya hidup bebas agar dicapai kesamaan / keseimbangan fungsi hutan sesuai
bentuk aslinya.
Penebangan hutan untuk keperluan kesejahteraan manusia perlu diimbangi dengan
penanaman kembali (reboisasi) tumbuhan sejenis atau tumbuhan lain yang cepat
tumbuh dan bermanfaat.
Akibat pengerasan permukaan tanah untuk pembangunan jalan aspal / beton dan
pembangunan perumahan / pemukiman, mall atau supermarket dan sebagainya perlu
diimbangi dengan pembuatan sumur-sumur resapan air di wilayah tersebut agar air
yang mengalir diatasnya tidak langsung menguap atau akhirnya mengalir ke laut.
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Kerusakan lingkungan terjadi karena tidak tercapainya keseimbangan tersebut di atas


sehingga berdampak kepada kerusakan alam secara keseluruhan.
Pembakaran, penggundulan atau kebakaran hutan akibat berbagai keperluan manusia
adalah salah satu contoh kerusakan alam. Dampaknya sangat luas tidak hanya terbatas
pada pencemaran udara karena asap, tetapi juga berakibat lain dengan menurunnya
kualitas/kesuburan tanah, menurunnya daya dukung tanah (longsor, banjir) dan
berkurangnya simpanan air di bumi (menurunnya muka air tanah, kekeringan) serta
adanya perubahan cuaca (kemarau panjang, musim hujan lebih pendek, antara musim
hujan dan musim kemarau tidak tepat siklusnya).

C. KESEHATAN LINGKUNGAN DAN UPAYA KESEHATAN


1. Kesehatan Lingkungan
W H O

:
Environmental health addresses all the physical, chemical, and
biological factors external to a person, and all the related factors
impacting behaviours. It encompasses the assessment and control
of those environmental factors that can potentially affect health. It
is targeted towards preventing disease and creating healthsupportive environments.

Kesehatan Lingkungan berhubungan dengan seluruh faktor fisik, kimia dan biologis
eksternal terhadap orang, dan semua faktor yang berkaitan yang berdampak terhadap
perilaku. Ini meliputi penetapan dan pengendalian faktor-faktor lingkungan tersebut
yang dapat berpotensi merugikan kesehatan. Hal ini ditargetkan pada pencegahan
penyakit dan menciptakan lingkungan yang sehat.
Soekidjo Notoatmodjo :
Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah suatu kondisi atau
keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif
terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula
Deklarasi Helsinki :
(WHO Regional Office for Europe) :
"Environmental health comprises those aspects of human health
including quality of life that are determined by the physical,
biological, social and psychosocial factors in the environment. It
also refers to the theory and practice of assessing, correcting,
controlling and preventing those factors in the environment that
can potentially affect adversely the health of present and future
generations.
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Kesehatan Lingkungan menyangkut aspek kesehatan manusia termasuk kualitas


hidup yang ditentukan oleh faktor-faktor fisik, biologis, sosial dan psikososial di
lingkungan, yang selalu dikait kan dengan teori dan praktek penilaian, koreksi,
pengendalian dan pencegahan faktor-faktor tersebut di lingkungan yang ber potensi
berpengaruh buruk dari generasi sekarang dan yang akan datang
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 22, yang dimaksud Kesehatan
Lingkungan :
a. Kesehatan Lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan
yang sehat
b. Kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan
pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum, dan lingkungan lainnya
c. Kesehatan Lingkungan meliputi penyehatan air dan udara, pengamanan limbah
padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian vektor
penyakit, dan penyehatan atau pengamanan lainnya
d. Setiap tempat atau sarana pelayanan umum wajib memelihara dan
e. Meningkatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar dan persyaratan
f. Ketentuan mengenai penyelenggaraan kesehatan lingkungan sebagaimana
dimaksud di atas ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
Paradigma Kesehatan Lingkungan
Paradigma kesehatan lingkungan adalah pola pikir keterkaitan terjadinya suatu
penyakit/masalah kesehatan berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan. Patogenesis
penyakit terjadi erat kaitannya dengan media lingkungan. Pertama kali secara ilmiah
Hipocrates (467-366 SM) telah menyatakan bahwa terjadinya penyakit berhubungan
dengan perspektif lingkungan yaitu air, udara, dan tanah.
Achmadi, 1987; menggambarkan patogenesis penyakit/masalah kesehatan dalam
bentuk teori simpul berikut ini:

Gambar 1. Teori Simpul

Media Transmisi

Sumber
Penyakit

Komponen
Lingkungan

Penduduk

Sakit/Sehat

Variabel lain yang Berpengaruh

Sumber: Achmadi, 1991

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Simpul 1: Sumber Penyakit


Sumber penyakit adalah titik yang secara konstan mengeluarkan atau mengemisikan agent penyakit. Agent penyakit adalah sesuatu yang dapat menimbukan
gangguan penyakit melalui kontak secara langsung atau melalui media perantara.
Sumber penyakit adalah titik yang secara konstan maupun kadang-kadang
mengeluarkan satu atau lebih berbagai komponen lingkungan hidup tersebut. Sumber
penyakit dikelompokan ke dalam 3 kelompok besar, yaitu:
a) Kelompok Mikroba, seperti virus, amoeba, jamur, bakteri, parasit, dan lain-lain
b) Kelompok Fisik, seperti kekuatan radiasi, energi, kebisingan, kekuatan cahaya,
dan lain-lain.
c) Kelompok bahan kimia toksik, misalnya pestisida, merkuri, cadmium, CO, dan
lain-lain.
Simpul 2: Komponen Lingkungan
Komponen lingkungan berperan sebagai media transmisi penyakit artinya bila
lingkungan sanitasinya bersih dan baik maka timbulnya penyakit tidak akan terjadi.
Komponen lingkungan sebagai media transmisi penyakit mencakup berikut ini:
a) Lingkungan Udara
b) Lingkungan Air
c) Lingkungan Tanah
d) Lingkungan lainnya seperti binatang/serangga, dan sebagainya
Simpul 3: Penduduk
Penduduk dimanifestasikan dengan perilaku atau kebiasaan hidup sehari-hari dalam
arti yang luas. Hubungan interaktif antara komponen lingkungan dengan penduduk
berikut perilakunya, dapat diukur dalam konsep yang disebut perilaku pemajanan
(Achmadi, 1985). Perilaku pemajanan adalah jumlah kontak antara manusia dengan
komponen lingkungan yang mengandung potensi bahaya penyakit. Misalnya
seseorang akan terkena risiko penyakit flu burung apabila kontak dengan unggas yang
sakit atau mati karena H5N1 lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 1 bulan sebelum
sakit (Budiman, 2009).
Simpul 4: Sakit /Sehat
Sakit merupakan dampak dari perilaku pemajanan yang mendukung sumber penyakit
masuk dalam tubuh manusia dimana lingkungan menjadi media transmisi. Pada saat
penduduk tidak mampu beradapatasi dengan lingkungan maka sumber penyakit akan
mudah menimbulkan sakit tetapi sebaliknya bila perilaku pemajanan mampu
beradaptasi maka akan tercipta konidi sehat.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

2. Upaya Kesehatan
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 1 ayat (2) :
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah dan
atau masyarakat
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 10 :
Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat,
diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan,
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif)
yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 11 ayat (1), rincian Upaya Kesehatan
adalah sebagi berikut :
1. Kesehatan Keluarga
2. Perbaikan Gizi
3. Pengamanan Makanan dan Minuman
4. Kesehatan Lingkungan
5. Kesehatan Kerja
6. Kesehatan Jiwa
7. Pemberantasan Penyakit
8. Penyembuhan Penyakit dan Pemulihan Kesehatan
9. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
10. Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
11. Pengamanan Zat Adiktif
12. Kesehatan Sekolah
13. Kesehatan Olahraga
14. Pengobatan Tradisional
15. Kesehatan Matra
Dari uraian diatas membuktikan bahwa Kesehatan Lingkungan merupakan urutan ke 4 dari
kegiatan Upaya Kesehatan.
Soekidjo Notoatmodjo :
Upaya Kesehatan Lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki
atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar merupakan
media yang paling baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum
bagi manusia di dalamnya

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :


1215/MENKES/SK/XI/2001
Kesehatan Matra adalah suatu bentuk khusus upaya kesehatan diselenggarakan untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal dalam lingkungan yang serba berubah.
Jenis-jenis Kesehatan Matra adalah sebagai berikut :
2. Kesehatan Lapangan yang meliputi :
a. Kesehatan haji
b. Kesehatan transmigrasi
c. Kesehatan dalam penanggulangan korban bencana
d. Kesehatan di bumi perkemahan
e. Kesehatan dalam situasi khusus
f. Kesehatan lintas alam
g. Kesehatan bawah tanah
h. Kesehatan dalam penanggulangan gangguan keamanan ketertiban masyarakat
i. Kesehatan dalam operasi dan latihan militer di darat
3. Kesehatan Kelautan dan Bawah Air meliputi :
a. Kesehatan pelayaran lepas pantai
b. Kesehatan penyelaman dan hiperbarik
c. Kesehatan dalam operasi dan latihan militer di laut
4. Kesehatan Kedirgantaraan meliputi :
a. Kesehatan penerbangan dan dirgantara
b. Kesehatan dalam operasi dan latihan militer di dirgantara

D. KESEHATAN MASYARAKAT
1. Pengertian Kesehatan Masyarakat

Charles-Edward Amory Winslow (1920) membuat definisi Kesehatan Masyarakat (Public


Health) yang sampai sekarang masih berlaku sebagai berikut :

Public health is the science and art of preventing disease, prolonging life, and
promoting health and efficiency through organized community effort for the
sanitation of the environment, the control of communicable infections, the education
of the individual in personal hygiene, the organization of medical and nursing
services for the early diagnosis and preventive treatment of disease, and the
development of social machinery to insure everyone a standard of living adequate for
the maintenance of health, so organizing these benefits as to enable every citizen to
realize his birthright of health and longevity.
Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni, dalam hal : mencegah
penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui
usaha-usaha Pengorganisasian Masyarakat untuk :
a. Perbaikan Sanitasi lingkungan
b. Pemberantasan Penyakit Menular

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

10

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

c. Pendidikan untuk Kebersihan Perorangan


d. Pengorganisasian pelayanan - pelayanan medis dan perawatan
untuk diagnosis dini dan pengobatan
e. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin stiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya
Dalam upaya kesehatan masyarakat ini dititikberatkan kepada pencegahan penyakit,
perpanjangan hidup dan peningkatan kesehatan masyarakat melalui kegiatan
pengorganisasian masyarakat.
Jadi inti dari kegiatan kesehatan masyarakat ini adalah upaya menggerakkan masyarakat
untuk melakukan upaya kesehatan masyarakat tersebut sesuai UU Nomor 23 Tahun 1992,
upaya ini juga melibatkan peran aktif Pemerintah.
2. Ruang lingkup Kesehatan Masyarakat

Berdasarkan definisi Winslow di atas bahwa kesehatan masyarakat merupakan ilmu dan seni,
maka ruang lingkup ilmu kesehatan masyarakat tersebut ditinjau dari 2 hal tersebut.
Pada mulanya ilmu kesehatan masyarakat terdiri dari 2 disiplin pokok keilmuan yaitu : ilmu
biomedis (medical biology) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences).
Sesuai dengan perkembangan zaman maka ilmu kesehatan masyarakat ikut berkembang
menjadi beberapa disiplin keilmuan antara lain : biologi, kedokteran, ilmu kimia, fisika,
matematika/statistika, sosiologi-anthropologi, psikologi sosial, ilmu pendidikan, ekonomi
kesehatan, ilmu teknik dll.
Disiplin ilmu yang mendukung ilmu kesehatan masyarakat diantaranya adalah (Soekodjo N.)
:
a. Epidemiologi
b. Biostatistik
c. Kesehatan Lingkungan
d. Pendidikan dan ilmu perilaku
e. Administrasi kesehatan masyarakat
f. Ilmu Gizi
g. Kesehatan Kerja
h. Kesehatan Reproduksi
Epidemiologi pada mulanya mempelajari tentang pola penyebaran penyakit menular, namun
perkembangan selanjutnya juga mencakup pengetahuan tentang penyakit tidak menular.
Dalam mempelajari ilmu Epidemiologi ini mencakup beberapa hal :
1) Mencakup seluruh penyakit
Epidemiologi mempelajari semua penyakit baik yang menular maupun yang tidak,
sehingga mempunyai cakupan lebih luas diantaranya : penyakit infeksi (wabah
muntaber, typhoid, flu burung, keracunan makanan dll.), non infeksi (jantung, kanker,
gizi buruk, termasuk kecelakaan kendaraan dan kecelakaan kerja)
2) Memperhatikan populasi
Epidemiologi lebih memusatkan perhatian terhadap kejadian penyakit (KLB) yang
menimpa pada sekelompok orang (populasi)
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

11

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

3) Pendekatan ekologi/ekosistem
4) Pendekatan waktu, tempat dan orang (time, place, person)
Waktu

Tempat
Orang

: kapan terjadinya (when) : (tanggal, bulan, tahun, jam berapa),


bagaimana penyebarannya (jumlah kasus) dikaitkan dengan kecepatan
waktu
: dimana terjadinya (where) : desa / kelurahan, kecamatan, kota /
Kabupaten, propinsi),
: siapa siapa yang menderita
(who), berapa yang menderita
(kasus / case), jenis kelamin, umur, pendidikan, siapa-siapa
kontak personnya ( contact person, orang yang paling dekat
dengan penderita), bagaimana asal mulanya terjadi (case history)

5) Pendekatan terhadap penyebab penyakit (khususnya penyakit menular) :


-

induk semang (host) : induk semang adalah tempat yang paling baik untuk
berkembang biaknya penyakit (bisa manusia atau hewan), apabila induk
semang menderita sakit disebut kasus (case), apabila mengandung penyakit
tetapi tidak sakit disebut karier (carrier), sedangkan contact person adalah
orang-orang yang paling dekat dengan penderita (high risk ), bisa anggota
keluarga, tetangga bahkan tamu sekalipun. Contact person bisa menjadi case
dan bisa menjadi carrier, atau mungkin merupakan sumber penularannya
karena ia sebagai human carrier.
lingkungan (environment) : bagaimana kondisi lingkungannya (baik, buruk),
yang diperhatikan adalah sanitasi lingkungannya, hygiene perorangannya serta
fasilitas hygiene sanitasi yang ada.
bibit penyakit (agent) : terutama penyakit menular, pada saat kejadian masih
diduga penyebabnya adalah penyakit tertentu, dugaan ini harus ditegakkan
menjadi penyebab yang pasti melalui uji / tes biostatistik dan hasil
pemeriksaan laboratorium.

Tugas seorang Ahli Kesehatan Masyarakat dalam kegiatan Epidemiologi ini terutama bukan
menangani penderita (membantu mengobati penderita atau membawa ke RS), tetapi lebih
bergerak ke aspek preventif diantaranya :
- menjauhkan penderita dari kontak,
- mengamankan kontak dari bahan-bahan yang mengandung penyakit (pakaian,
alat makan/minum,muntahan, kotoran penderita)
- mengamankan sanitasi lingkungannya, sebagai contoh pada kasus muntaber
perlu diamankan sumber air minumnya, apabila sumur gali perlu didesinfeksi
- secara rutin melakukan surveillance di tempat-tempat / kawasan yang
dicurigai mengandung penyakit epidemi atau endemi.
- secara rutin melakukan Penyuluhan Kesehatan terhadap Masyarakat di
wilayah kerjanya.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

12

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Biostatistik sangat diperlukan dalam menganalisis data, baik data epidemiologis maupun
data kesehatan lainnya, khususnya untuk menguji suatu hasil riset / penelitian.

E. EKOLOGI DAN EKOSISTEM


1. Ekologi
Istilah Ekologi berasal dari Yunani, terdiri dari 2 kata yaitu oikos dan logos.
Istilah ini dikemukakan oleh ahli zoology Jerman bernama Ernst Haeckel (1860). Oikos
berarti suatu tempat untuk kelangsungan makhluk hidup atau rumah atau lingkungan paling
dekat dengan manusia, logos berarti ilmu.
Kalau diartikan sacara harfiah berarti : ilmu yang mempelajari tempat makhluk hidup atau
tentang rumah tangga makhluk hidup.
Beberapa konsep dasar dalam Ekologi yaitu : Ekosistem, Sistem Produksi, Konsumsi dan
Dekomposisi, Materi dan Energi, Keseimbangan dan lain-lain.
M.Daud Silalahi :
Setiap makhluk hidup berada dalam suatu proses penyesuaian diri
(adaptasi) dalam system kehidupan yang dipengaruhi oleh iklim,
kawasan (geografis, dan lingkungan biota yang rumit (complex)
Sistem inilah yang menjamin berlangsungnya kehidupan di bumi
(survive)
Ecological Framework :

Sumber : WHO. Ecological Framework. 2009

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

13

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Gambar 2. Ecological Framework

Ada 4 komponen dalam pengaruhnya terhadap keseimbangan ekologi yaitu : Individual,


Relationship, Community dan Social.
Pengaruh Individual : Korban dari penanganan yang salah terhadap kanak-kanak,
gangguan psikologis / personal, pengaruh penggunaan yang berlebihan alkohol/bahan
lainnya, sejarah/latar belakang perilaku kekerasan.
Pengaruh Relationship : praktek-praktek keorangtuaan yang samgat kurang (kurang
asuhan), gangguan perkawinan, konflik kekerasan orangtua, status ekonomi keluarga
yang rendah, teman-teman yang mempengaruhi berbuat kekrasan
Pengaruh Community : kemiskinan, tingginya tingkat kriminalitas, tingginya
mobilitas didaerah, tingginya pengangguran, perdagangan obat lokal yang tidak sah,
faktor-faktor situasional
Pengaruh sosial : perubahan sosial yang cepat, ketidak seimbangan sosial-ekonomis
dan gender, kemiskinan, jaringan pengaman sosial yang lemah, miskinnya / lemahnya
penegakan keadilan, norma-norma cultural yang menyumbang tindak kekerasan
2. Ekosistem
Ekosistem adalah suatu rangkaian dalam ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik
antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
M.Daud Silalahi :
Dalam system ini semua komponen bekerja teratur sebagai suatu kesatuan
Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup (biotic) dan komponen tidak
hidup (abiotic) di suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur.
Adnan Harahap :
Ekosistem adalah suatu komunitas biota atau makhluk hidup yang berhubungan dengan lingkungan fisiknya seperti sinar matahari, air, udara,
tanah atau batuan.
Ketentuan ekosistem menunjukkan adanya suatu keseimbangan tertentu. Keseimbangan ini
selalu berubah-ubah (dinamis) baik akibat perlakuan manusia maupun secara alamiah.
Ekosistem dapat dibagi dalam beberapa sub ekosistem :
a.
b.
c.
d.
e.

sub ekosistem daratan


sub ekosistem lautan
sub ekosistem danau
sub ekosistem hutan
sub ekosistem padang pasir

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

14

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Setiap sub ekosistem saling memandang bahwa unsur-unsur di lingkungan kita tidak
terpisah-pisah, terintegrasi dalam berbagai komponen yang saling terkait dalam suatu system.
Pendekatan ini disebut juga sebagai pendekatan holistic. Lawan kata dari pendekatan holistic
adalah pendekatan analitik parsial.
Suatu ekosistem biasanya dihuni oleh makhluk-makhluk hidup yang mengelompok disebut
populasi.
Populasi dapat diartikan sebagai kesatuan dari individu-individu makhluk yang masih satu
jenis (spesies), sedangkan berbagai populasi yang mendiami suatu tempat, ruang atau relung
disebut komunitas. Ekosistem alamiah dihuni oleh suatu komunitas sering disebut sebagai
habitat.
3. Sistem Produksi, Konsumsi, Dekomposisi dan Daur Ulang
Produksi Utama dari ekosistem dimana saja berasal dari proses fotosintesis, yaitu proses
mengikat energi matahari yang dilakukan oleh tumbuhan berhijau daun (khlorofil). Energi
matahari oleh tumbuhan dirubah menjadi karbohidrat.
Energi satuan panas yang diserap oleh makhluk hidup agar tetap hidup dan tumbuh. Proses
ini berkembang menjadi proses biokimia dan berubah lagi menjadi produk lainnya seperti
lemak, protein, asam, karbohidrat dll. Dalam hal ini tumbuhan berkhlorofil disebut Produsen
Utama di alam. Energi ini juga berasal dari makhluk hidup.
Materi dan energi yang dihasilkan makhluk hidup akan dimanfaatkan oleh makhluk lainnya
dalam bentuk lain pula.
Karbohidrat dan Khlorofil (misalnya rumput hijau) dimakan oleh rusa dan dalam tubuh rusa
diolah menjadi energi yang dibutuhkan oleh rusa tersebut. Selain rusa, pemakan tumbuhan
lainnya seperti sapi, kuda, kambing dll. memakan tumbuhan hijau yang kesemua hewan
tersebut disebut Herbivora. Hewan-hewan pemakan tumbuhan tersebut disebut Konsumen
Utama dan sebagai Produsen Kedua.
Herbivora ini akan dimangsa oleh hewan lain pemakan daging (predator) antara lain singa,
macan, serigala, buaya dll. untuk kepentingan kelangsungan hidupnya. Hewan pemakan
daging ini disebut Carnivora. Hewan Carnivora ini disebut Konsumen Kedua dan sebagai
Produsen Ketiga.
Produsen Utama , Kedua dan Ketiga ini kemudian mati membusuk lalu dimanfaatkan oleh
jasad-jasad renik untuk keperluan hidupnya disamping terurai menjadi bentuk lain
(dekomposisi).

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

15

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

S iklus rantai makanan (F ood C hain)

KONSUMEN KEDUA/
PRODUSEN KETIGA

PRODUSEN
UTAMA

10/12/2006

KONSUMEN UTAMA/
PRODUSEN KEDUA

SUYONO_MSc DASKESLING 06

19

Gambar 3. Skema Sistem Produksi dan Konsumsi

Kejadian di atas disebut rantai makanan / food chain).


4. Materi dan Energi
Dalam ekosistem dikenal 2 proses yaitu proses peralihan materi (daur materi) dan proses
peralihan energi, proses ini berjalan beraturan mengikuti hukum termodinamika sebagai
berikut :
a. energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, namun dapat mengalami
transformasi. Ini berarti bahwa jumlah energi di alam tetap kekal
b. Transformasi energi :
1) tidak pernah spontan, kecuali perubahan dari padat ke cair dan sebaliknya
2) tidak pernah utuh (100%). Kelebihannya berbentuk limbah (inefisiensi).
5. Keseimbangan
Kejadian pada proses transformasi energi meskipun tidak spontan dan tidak utuh, namun
dalam system ekosistem mempunyai kemampuan untuk memelihara, mengatur dan
menyeimbangkan kembali. Kemampuan ini sesuai hukum keseimbangan atau
homeostatis sebagai berikut :
a. setiap ekosistem memiliki kekuatan dinamis yang akan berubah menjadi variabel
lentur mengikuti perubahan dalam batas-batas tertentu
b. setiap ekosistem menanggapi setiap gangguan yang disengaja maupun tidak, sesuai
dengan kelenturan (resilience) yang dimiliki.
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

16

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

6. Siklus-siklus
Energi akan diambil dari ekosistem pada saat melalui system rantai makanan (food chain).
Sistem tersebut tidak akan berfungsi secara berkesinambungan tanpa adanya masukan energi
dari luar yang tetap. Dalam hal ini tidak ada siklus energi.
Siklus ini hanya berlaku untuk rantai makanan tersebut di atas.
Berbeda dari apa yang dinamakan siklus bahan, pada siklus bahan ini siklus terjadi berulangulang melewati ekosistem secara tidak terbatas.
Ada beberapa siklus bahan yang dikenal sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Siklus Air
Siklus Karbon
Siklus Nitrogen
Siklus Fosfat

Berikut ini akan dijelaskan satu per satu siklus bahan tersebut :

a. Siklus Air

SIKLUS AIR

laut

sungai
LAPISAN AIR

KEDAP AIR

Gambar 4. Siklus Air

5/4/2008 & Dr. Budiman


Suyono,M.Sc.

SUYONO_MSc DASKESLING 07

17

28

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Dengan adanya energi panas matahari terjadi penguapan ke angkasa (1) dari air permukaan
(sungai, danau, laut) kemudian dengan energi pendinginan di ketinggian tertentu akan terjadi
pengembunan (kondensasi) membentuk awan (2).
Proses pendinginan berjalan terus sehingga terjadi penebalan awan yang terdiri dari uap air
yang mengembun lama kelamaan menjadi berat dan terbentuklah awan hujan/ mendung (3).
Oleh karena gaya berat uap air akan turun kembali ke permukaan bumi berupa hujan /
presipitasi (4).
Air hujan sebagian akan mengalir di permukaan tanah (runoff) kemudian masuk ke sungai,
danau atau laut . Sebagian air hujan akan meresap ke dalam tanah membentuk air resapan
(5).
Air resapan dapat tinggal di dalam tanah ataupun keluar lagi ke permukaan tanah berupa air
rembesan atau mata air.
Pada siklus air ini terjadi peristiwa penguapan, pengembunan dan peresapan.

b. Siklus
Karbon
SIKLUS
KARBON

minyak, gas, batuan

respirasi

fotosintetis /
respirasi

penguapan

mati

mati & sisa yg


dilepas
DEKOMPOSER

5/4/2008

SUYONO_MSc
DASKESLING
07
Gambar 5. Skema
Siklus Karbon

29

Karbon terdapat di udara sebagai CO2 berasal dari respirasi tanaman hijau pada malam hari,
respirasi herbivora dan carnivora termasuk juga manusia, serta berasal dari pembakaran
bahan bakar fosil dan penguapan dari bahan dekomposer, sedangkan di air sebagai CO2
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

18

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

terlarut, dan di tanah sebagai bebatuan karbonat (soda, gamping, kapur) dan senyawa lain
(Larry Gonick et-al).
Pada proses fotosintetis, tanaman hijau memerlukan CO2 untuk membentuk zat gula dan
karbohidrat yang diambil dari udara pada siang hari dengan menggunakan bantuan sinar
matahari.
Dengan banyaknya tanaman hijau yang memerlukan CO2 akan membantu menyeimbangkan
kelebihan CO2 di alam karena CO2 tetap akan diproduksi terus menerus selama proses
respirasi, pembakaran dan penguapan masih berlangsung.
Tanaman hijau akan dimakan oleh herbivora atau mati terurai menjadi bahan dekomposer,
demikian pula binatang herbivora akan dimakan oleh carnivora atau mati terurai menjadi
bahan dekomposer. Kotoran binatang tersebut akan dikeluarkan dan menjadi bahan
dekomposer.
Binatang maupun tanaman mati akan membebaskan kembali sebagian CO2 ke udara dan
juga mengalirkan senyawa-senyawa karbon lain ke dalam tanah. Di bawah tanah, sebagian
karbon tersimpan sebagai bahan bakar fosil, gambut, batubara, minyak dan gas alam.

SIKLUS NITROGEN

c. Siklus Nitrogen

Bakteria
Denitrifikasi

Pengikat N
bebas

Pengikat N
simbiotis

NO
3

Bakteria
Nitrat

Tanaman
Hijau

NH
4

NO
2
Bakteri
Nitrit

Hewan

Dekomposer
NH3

5/4/2008
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

SUYONO_MSc DASKESLING 07

30

Gambar 6. Skema Siklus Nitrogen

19

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Hampir 80% atmosfir berupa Nitrogen murni (N2), bagi manusia dan hewan, unsur ini
hampir tidak ada manfaatnya karena masuk keluar pernafasan tidak dimanfaatkan oleh tubuh.
Namun bagi bakteri tertentu yang hidup pada bintil-bintil akar tanaman kacang-kacangan
dapat mengikat Nitrogen dan mengubahnya menjadi Nitrat (NO3) dan Amoniak (NH3).
Unsur-unsur ini kemudian dimanfaatkan oleh mikroorganisme dalam sintesis bahan yang
mengandung Nitrogen (N) organik atau melepaskannya ke tanah atau air dimana mereka
hidup.
Unsur N organik ini dibutuhkan oleh tanaman karena mengandung unsur penyubur tanaman.
Kesuburan tanah untuk tanaman tergantung dari beberapa banyak unsur N yang terkandung
didalamnya.
Namun unsur yang masih dalam bentuk Nitrit (NO2) yang terlarut dalam air akan
membahayakan apabila terminum bayi yang dikenal dengan penyakit Blue Baby Diseases.
Karena Nitrit ini daya serap Oksigennya sangat kuat, maka oksigen yang seharusnya diikat
oleh Hb darah menjadi gagal, sehingga bayi tersebut kekurangan Oksigen dengan tandatanda sesak nafas dan pada ujung-ujung jarinya berwarna kebiru-biruan.

SIKLUS FOSFAT

d. Siklus Fosfat

KARANGKARANG
FOSFAT

Sedimen
laut

Fosfat
terlarut

Bakteri
Fosfat

Tanaman

Hewan

Gambar 7. Skema Siklus Fosfat

5/4/2008

Selain Nitrogen, mineral Fosfat merupakan unsur utama dalam pupuk komersial.

SUYONO_MSc DASKESLING 07

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

3
20

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Berbeda dengan C dan N yang cadangannya ada di udara, Fosfat mempunyai cadangan di
dalam karang. Secara alamiah perbandingan antara keberadaan Fosfat dan Nitrogen adalah 1
berbanding 23, jadi P lebih sedikit.
Fosfat dihasilkan dari dekomposisi hewan dan tanaman membentuk Fosfat terlarut kemudian
tersimpan di karang-karang dan sedimen laut.

II.

PARADIGMA HIDUP SEHAT 2010

A. PARADIGMA LAMA
Hidup sehat adalah kebutuhan yang sangat pokok dan mendasar bagi manusia, namun. masih
banyak faktor yang menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dan kurang maksimalnya
kinerja Pembangunan Kesehatan..
Akar masalah dari kejadian ini terletak pada kenyataan bahwa Pembangunan Kesehatan
belum berada dalam arus utama Pembangunan Kesehatan. Anggaran Pembangunan
Kesehatan Indonesia masih cukup kecil yaitu + 2 % dari APBN sehingga akibatnya banyak
program penting Pembangunan Kesehatan yang seharusnya dilaksanakan terpaksa
mengalami penundaan atau pembatalan.
Kegiatan program di bidang kesehatan masih diarahkan kepada upaya untuk mengatasi
penyakit dan penyembuhan serta rehabilitasi dan ini dapat disebut sebagai paradigma lama,
sedangkan sumber masalahnya terletak pada kondisi lingkungan dan status gizi yang buruk,
serta masih belum optimalnya perilaku masyarakat dalam melaksanakan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS).
B. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
Pembangunan manusia dapat diukur melalui suatu instrument yang disebut IPM atau Indeks
Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) adalah nilai
yang menunjukkan tingkat kemiskinan, kemampuan baca tulis, pendidikan, harapan hidup,
dan faktor lainnya. Peringkat IPM ini diberikan tiap tahun kepada seluruh negara di dunia.
IPM ini asal mulanya dikembangkan oleh seorang ahli ekonomi Pakistan bernama
Mahbub ul Haq tahun 1990, kemudian digunakan oleh UNDP tahun 1993 dan dimasukkan
sebagai agenda laporan tahunan UNDP.
IPM merupakan nilai pencapaian rata-rata suatu negara dengan mengacu kepada 3 hal
yaitu :
1. Usia yang panjang dan memenuhi syarat kesehatan melalui ukuran Angka Harapan
Hidup (AHH)
2. Aspek Pendidikan yang diukur dengan Tingkat Baca Tulis atau Angka Melek Huruf
(AMH) dengan pembobotan 2/3, serta Angka Partisipasi Kasar (APK) dengan
pembobotan 1/3.
3. Aspek Standar Hidup Layak, diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita
pada paritas daya beli

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

21

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Khususnya untuk IPM kesehatan yang diukur dengan AHH nilainya sangat dipengaruhi oleh
Angka Kematian Bayi baru lahir (AKB), Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) dan Angka
Kematian Balita (AKABA) serta Angka Kematian Kasar (AKK).
IPM Indonesia pada tahun 2000 menduduki peringkat ke 112 dari 190 negara di dunia.
C. PARADIGMA BARU
Untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan di atas maka Departemen Kesehatan telah
menetapkan Visi dan Misi yang baru yang berorientasi pada pemecahan masalah masa kini
dan jauh kedepan.
Dengan Visi dan Misi yang baru ini maka orientasi Pembangunan Kesehatan yang semula
sangat menekankan upaya kuratif dan rehabilitatif secara bertahap diubah menjadi upaya
terintegrasi menuju kawasan sehat dengan peran aktif masyarakat. Pendekatan baru ini
menekankan pentingnya upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya
kuratif dan rehabilitatif. Pendekatan baru ini disebut sebagai paradigma baru bidang
kesehatan.
Visi dan Misi Departemen Kesehatan ini direfleksikan dalam bentuk motto yang berbunyi
Indonesia Sehat 2010. Diharapkan bahwa pada tahun 2010 tersebut akan tercapai tingkat
kesehatan masyarakat :
a. Hidup dalam lingkungan yang sehat
b. Mempraktekkan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
c. Mampu menyediakan dan memanfaatkan (menjangkau)
pelayanan kesehatan yang bermutu, sehingga
d. Memiliki derajat kesehatan yang tinggi

III.

DISIPLIN ILMU TEKNIS PENUNJANG

Beberapa disiplin ilmu kesehatan lingkungan yang menunjang diantaranya sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pengolahan Sampah Padat


Pengolahan Limbah Cair Domestik / Industri & B3
Manajemen Penyehatan Makanan dan Minuman
Kesehatan Lingkungan Pemukiman dan Perkotaan
Pencemaran Lingkungan Fisik
Pengelolaan Sumber Daya Air
Sanitasi Tempat-tempat Umum
Pengendalian Vektor dan Binatang Mengganggu
Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

22

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

IV.

PERMASALAHAN KESEHATAN LINGKUNGAN


UPAYA SOLUSINYA SECARA KOMPREHENSIF

DAN

A. PERMASALAHAN
Sebagaimana telah diuraikan terdahulu bahwa status kesehatan menurut Blum dipengaruhi 4
faktor yang salah satu faktornya yang cukup dominan adalah Perilaku Manusia.
Permasalahan Kesehatan Lingkungan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor perilaku
manusia.
Berkaitan dengan prinsip Ekologi, permasalahan terjadi karena terganggunya keseimbangan
(out of balance) lingkungan hidup alami dan lingkungan buatannya, secara fundamental
mengalami konflik (potentially in deep conflict) yang mengawali krisis lingkungan karena
manusia sebagai pelakunya sekaligus menjadi korbannya (M.Daud Silalahi).
Permasalahan perilaku manusia adalah terhadap cara pandang yang berbeda dalam suatu
keinginan. Disuatu pihak menginginkan adanya lingkungan yang lestari dengan tidak
mengganggu system yang ada, namun dilain pihak menginginkan adanya pembaharuan
sesuai kemajuan teknologi. Sebagai contoh untuk meningkatkan produksi sektor pertanian
perlu diciptakan alat atau bahan yang dapat meningkatkan hasil pertanian tersebut. Maka
dibuatlah berbagai jenis pupuk kimia dengan jumlah yang besar kemudian digunakan seluasluasnya tanpa menyadari dampak buruknya terhadap tingkat kesuburan tanah dan kehidupan
akuatik yang ada. Selain itu untuk mencegah dan memberantas serangga pengganggu
produksi pertanian tersebut dibuat pula berbagai jenis pestisida yang cukup ampuh mengatasi
gangguan serangga tersebut, namun dampaknya sangat merugikan masyarakat karena
terjadinya pencemaran terhadap makanan (buah-buahan, sayur-sayuran) hasil produksi
pertanian tersebut.
Masalah lainnya adalah faktor lingkungan sosial yang menyangkut kependudukan
(demografi), pendidikan serta sosial budaya (adat kebiasaan, kepercayaan) juga berperan
sangat penting terhadap terjadinya masalah kesehatan lingkungan.
Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali mengakibatkan gangguan terhadap
keseimbangan lingkungannya yaitu kurangnya lahan tempat tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan, kemiskinan karena tidak tertampungnya tenaga produktif sebagai tenaga kerja
aktif mengakibatkan pengangguran dan meningkatnya jumlah anak putus sekolah atau tidak
sekolah sama sekali. Daya beli rendah sehingga untuk mendapatkan pakaian dan makanan
yang layak menjadi tidak terjangkau sehingga untuk berpakaian dan makan dengan apa
adanya tanpa nilai gizi yang memadai.. Selain itu pertumbuhan pertumbuhan penduduk yang
besar akan meningkatkan penggunaan sumber daya alam yang jumlahnya memang sudah
terbatas serta meningkatkan jumlah bahan buang / sampah dan limbah.
Pembuangan sampah yang tidak terkendali menghasilkan sumber pencemaran tanah, air dan
udara. Selain itu sampah menjadi tempat yang paling baik bagi berkembangnya serangga dan
tikus serta gangguan kesehatan lainnya.
Faktor sosial budaya menyangkut kebiasaan buruk yang dilakukan dalam kehidupan seharihari diantaranya membuang sampah sembarangan, rumah tanpa ventilasi yang memadai,
minum air tanpa dimasak dll.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

23

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

B. SOLUSI
1. PENGGALANGAN DUKUNGAN
a. Sosial Budaya
Aspek sosial budaya yang mendukung cukup banyak, diantaranya budaya kerja gotong
royong, kegiatan ritual (tabligh akbar, pengajian, ceramah agama, peringatan hari besar
keagamaan dll.) arisan, kelompok pewayangan/pedalangan dan kegiatan kemasyarakatan
lainnya.
Aspek ini dapat dimanfaatkan untuk memasukkan misi kesehatan lingkungan ke dalam
kegiatan tersebut. Tentu hal ini memerlukan koordinasi yang baik dan merupakan seni
bagaimana kemampuan pendekatan petugas kesehatan terhadap tokoh masyarakat yang
bersangkutan.
Pada zaman dahulu salah seorang Walisongo menyebarkan agama Islam melalui media
pewayangan.
Kegagalan Program Kesehatan Lingkungan dimasa lalu karena tidak mengikut sertakan
masyarakat dalam melaksanakan program tersebut mulai dari perencanaan sampai dengan
pelaksanaannya.
Apabila kita telah mempelajari Ilmu Administrasi dan Manajemen akan lebih dapat
mengimplementasikan kegiatan tersebut sesuai teori yang didapat.
Sebelum proyek itu dibuat, terlebih dahulu harus dibahas dulu dengan masyarakat yang ada
di lokasi proyek tersebut apakah masyarakat mengerti dan mau menerimanya. Contoh yang
tidak baik adalah pembangunan TPA Bojong di Bogor, bangunan sudah siap dijalankan,
terjadi demo penolakan masyarakat sekitar lokasi TPA tersebut sehingga mubazir.
Hal yang paling mendasar adalah apabila kita membuat program untuk kesejahteraan
masyarakat, maka mulai dari idea, penetapan tujuan dan sasaran, dituangkan dalam konsep,
lalu dibuat perencanaan, dihitung biayanya, siapa-siapa yang terlibat (termasuk masyarakat),
berapa jangka waktunya, berapa luas cakupan wilayahnya dan kemudian dibuat proposalnya,
diajukan kepada pimpinan.

b. Lintas Sektoral
Kerjasama lintas sektoral sangat perlu untuk mensukseskan program karena kita tidak dapat
melaksanakan sendiri program tersebut. Lintas sektoral adalah kerjasama kita dengan
Instansi terkait misalnya Dinas Kesehatan, Dinas Cipta Karya, Dinas Penerangan / Informasi,
Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan, Pemerintah Daerah, Laboratorium Kesehatan dll.

c. Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat adalah orang yang sangat berpengaruh di lingkungannya serta disegani
dapat bertindak sebagai Key Person yang akan membantu kita dalam melaksanakan program
karena sesuai pengaruhnya dapat mengajak masyarakat untuk mengikuti apa yang kita
inginkan. Tanpa bantuan Key Person tersebut jangan terlalu mengharap program kita
didukung masyarakat setempat.
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

24

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Beberapa tokoh masyarakat diantaranya adalah para ulama, Lurah /Kepala Desa, Guru, tokoh
pemuda, bahkan tokoh yang ditakuti masyarakatpun dapat dijadikan Key Person.

d. Organisasi Kemasyarakatan
Kegiatan kita dapat dilakukan melalui Organisasi Kemasyarakatan yang banyak dijumpai
misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Karang Taruna, Paguyuban-paguyuban dll.

2. ASPEK TEKNIS
Demi suksesnya program, kita harus menguasai teknis program kita tersebut, misalnya kita
akan menggalakkan program Air Bersih di pedesaan, kita harus menguasai teknisnya dulu
bagaimana cara membuat perangkat penjernihan air kotor serta bagaimana mekanisme kerja
alat tersebut, bagaimana proses yang terjadi sehingga air yang tadinya kotor menjadi air
bersih yang dapat diminum.
Kita akan membuat program pengelolaan sampah namun tidak menguasai ilmu dan teknisnya
sehingga menimbulkan masalah baru maka kita akan menemui kegagalan yang akhirnya
tidak diterima masyarakat.
Dalam mata kuliah ini mahasiswa diberi pengetahuan dan teknis Ilmu Kesehatan Lingkungan
dan beberapa disiplin ilmu pendukung lainnya, namun baru sebatas pengetahuan dasar saja.

3. PENEGAKAN HUKUM
Penegakan Hukum diperlukan untuk melindungi dan memayungi kegiatan program. Selain
itu yang lebih penting lagi bahwa setiap kerugian yang timbul akibat pelanggaran terhadap
norma-norma lingkungan hidup akan mendapatkan sanksi secara hukum.
Beberapa peraturan perundang-undangan yang telah dibuat oleh Pemerintah sebenarnya
sudah cukup, diantaranya :
-

Undang-undang Kesehatan
Undang-undang tentang Pokok-pokok Lingkungan Hidup
KUHP
KUH Perdata
Undang-undang tentang Pokok Kehutanan
Peraturan Daerah
Peraturan lainnya

4. RISET / PENELITIAN
Bagi masyarakat ilmiah, kegiatan riset sangat diperlukan dan sebagai andalan dalam
membuat suatu karya ilmiah
Kegiatan ini bertujuan untuk :
a. Menemukan teori baru
b. Pembuktian teori yang sudah ada
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

25

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

c. Menegakkan pembuktian terhadap suatu masalah


d. Solusi permasalahan
Dengan metode dan cara analisis yang tepat hasilnya akan dapat digunakan untuk
kepentingan ilmiah dan hendaknya bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat.
Tahapan kegiatan riset ini adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

Muncul dari ide seseorang atau kelompok


Dituangkan dalam bentuk konsep-konsep
Ditentukan orang-orang yang terlibat
Persiapan pengadaan bahan / instrument riset
Persiapan lembaga yang membantu analisis, contoh : laboratorium
Penetapan metode analisis
Persiapan lokasi riset
Perencanaan biaya
Dibuat proposalnya
Perlu uji coba sebelum riset yang sebenarnya
Pelaksanaan
Analisis hasil riset
Dipresentasikan dihadapan para pakar
Kalau perlu dipublikasikan
Hasil riset ini merupakan bahan acuan ( referensi) untuk kegiatan riset lain

5. PUBLIKASI
Mass media mempunyai peran cukup besar dalam mensukseskan program. Mass media
terdiri dari media cetak (Koran, majalah, tabloid, poster, leaflet, booklet) dan media
elektornik (radio, TV, video, tape recorder, internet).
Media ini cukup efektif karena mempunyai jangkauan yang cukup luas (kecuali video dan
Tape recorder). Kita tinggal memilih media mana yang paling cocok untuk menyampaikan
pesan kita.
Poster merupakan media cetak berbentuk lembaran teks maupun gambar yang ditempel di
dinding, digunakan untuk sararan program dalam jumlah terbatas tergantung pada orang yang
lewat dan membacanya. Agar dapat / mau dibaca masyarakat maka poster dibuat sejelas
mungkin dan semenarik mungkin.
Leaflet ataupun booklet berupa lembaran kecil kertas baik lembaran maupun terlipat, berisi
pesan teks maupun gambar yang dibagikan kepada sasaran program.

6. PERTEMUAN ILMIAH
Pertemuan ilmiah berupa seminar, panel diskusi, symposium, lokakarya, semiloka, yang melibatkan
para pakar / ahli dibidangnya, membahas suatu topik masalah. Dalam pertemuan ilmiah ini dapat
menghasilkan suatu kesimpulan atau solusi, dapat juga tidak menghasilkan keputusan apa-apa.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

26

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

KISI-KISI :
1. Sebutkan Definisi SEHAT Menurut WHO dan UU Kesehatan
2. Jelaskan Status kesehatan menurut HL Blum
3. Sebutkan beberapa contoh dari faktor yang mempengaruhi status
kesehatan
4. Jelaskan Faktor Lingkungan menurut Blum
5. Jelaskan arti Lingkungan hidup Menurut M.Daud Silalahi, Adnan
Harahap dll.
6. Jelaskan tentang Kesehatan lingkungan menurut UU RI, Soekijo
Notoatmodjo, Otto Sumarwoto, Deklarasi Helsinki dll
7. Gambar melalui Skema Teori Simpul
8. Sebutkan beberapa upaya Sanitasi lingkungan dan Personal Hygiene
9. Apa yang dimaksud dengan Kesehatan Matra dan beberapa contoh
10. Jelaskan Kesehatan Masyarakat Menurut Winslow
: beberapa
kegiatannya
11. Jelaskan Ekologi : batasan, definisi
12. Jelaskan tentang Ekosistem : definisi, beberapa jenis sub ekosistem
13. Jelaskan tentang rantai makanan : Produsen utama, Produsen kedua,
Konsumen Utama, Konsumen kedua, , Produsen Ketiga dll.
14. Jelaskan tentang apa yang dimaksud dengan Paradigma Baru bidang
kesehatan
15. Jelaskan apa yang dimaksud dengan IPM bidang kesehatan

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

27

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi F.U, Prof. Dr., Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Penerbit Buku Kompas Jakarta,
2005
Budiman. Disertasi: Kajian Peranan Lingkungan sebagai Faktor Risiko Terjadi KLB Penyakit Flu
Burung pada Manusia, IPB Bogor, 2009.
Daud Silalahi, M, Prof.Dr.SH. Hukum Lingkungan
Lingkungan Indonesia. PT.Alumni Bandung, 2001

Dalam System Penegakan

Hukum

Gonick, Larry, Alice Outwater. Kartun Lingkungan. Kepustakaan Populer. Gramedia. Jakarta. 2004
Harahap, Adnan H, Dr., et-al. Islam dan Lingkungan Hidup. Yayasan Swarna Bhummy.Jakarta. 1997
Heddy Suwasono, Ir., Drs.Sutiman B.Sumitro, Ir.Sarjono Soekartomo.
Rajawali.Jakarta. 1986

Pengantar Ekologi. CV

Menteri Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1202/MENKES/SK/VIII/2003 tentang


Indikator Indonesia Sehat 2010. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 2003
Notoatmodjo, Soekodjo, Prof. Dr. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar. Rineka
Cipta. Jakarta. 2003
Sumarwoto, Otto. Analisis Dampak lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.1990
WHO. Definition of Health. Gemeva. 1948
WHO. The Ecological Framework. Geneva. 2009
WHO. Health topic of Environmental Health. Geneva.2009

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

28

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

DALAM RANGKA

PENYEDIAAN AIR BERSIH


(MODUL II)
Oleh : Suyono,M.Sc & Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

I.

PERANAN AIR BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

A. Peranan Umumnya
Air merupakan unsur yang sangat vital bagi kehidupan makhluk di muka bumi ini. Tanpa
makan orang dapat bertahan hidup sampai 3 - 6 bulan, namun tanpa air orang hanya
bertahan hidup paling lama 3 hari. Dalam tubuh manusia terdapat sekitar 50 80 %
terdiri dari cairan.
Air digunakan untuk berbagai keperluan diantaranya : minum, mandi, mencuci
peralatan rumah tangga, mencuci pakaian, memasak, yang keseluruhannya itu
merupakan kebutuhan pokok selain kebutuhan lainnya misalnya : menyiram tanaman,
mencuci kendaraan, membersihkan lantai, pendingin mesin atau pelarut bahan (kimia,
bangunan, obat/jamu dll.)
Keperluan manusia akan air bervariasi sesuai dengan tempat dimana orang tersebut
tinggal. WHO memperhitungkan bahwa kebutuhan air masyarakat di Negara

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

29

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

berkembang (pedesaan) termasuk di Indonesia antara 30 60 liter perorang perhari,


sedangkan di Negara-negara maju atau di perkotaan memerlukan 60 120 l/orang/hari.
Sifat-sifat air yang menguntungkan adalah :
- Fleksibel yaitu dapat menyesuaikan bentuk dengan tempat dimana air tersebut
berada
- Netral, yaitu tidak mengandung bau, rasa, warna, penguapan relatif rendah dan
tidak bersifat racun terhadap tubuh
- Mengalir ke bawah sesuai gravitasi bumi, dengan gaya berat tertentu air mengalir ke
tempat yang lebih rendah, begitu pula titik-titik air di angkasa akan turun ke bumi
sesuai gravitasi bumi menjadi hujan
- Dapat berubah bentuk dari cair, padat dan gas dengan volume yang relatif tetap.
Sifat-sifat yang merugikan adalah :
- Mudah tercemar, baik oleh bahan anorganik / organik dan jasad renik
- Media yang paling baik untuk berkembangnya bakteri / virus berbahaya.
Air yang dikonsumsi manusia harus bersih yaitu harus bebas dari bahan pencemar
kimiawi maupun biologis / bakteriologis. Bersih tidak sama dengan steril . Steril adalah
tidak mengandung bahan kimia maupun biologis / bakteriologis. Air bersih masih
mengandung bahan kimia dan bakteri yang tidak berbahaya misalnya mineral, beberapa
bakteri apatogen / saprophit.
B. Peranan dalam menimbulkan gangguan kesehatan
1. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air adalah :
a. Melalui mulut
Penularan terjadi karena minum air yang tidak bersih antara lain :
1) Cholera disebabkan oleh Vibrio Cholera
2) Demam Typhoid oleh Salmonella typhi
3) Dysentri basiler oleh Shygella dysentriae, Shygella flexneri, Shygella
boydii, Shygella sonnei
4) Dysentri Amoeba oleh Protozoa Entamoeba hystolytica
5) Demam Paratyphoid oleh Salmonella paratyphi, Salmonella
schottmulleri, Salmonella hirschfeldi
6) Tularemia oleh Pasteurella tularensis
7) Poliomyelitis acuta oleh virus Polio
8) Hepatitis infectiosa oleh virus Hepatitis
9) Guinea worm disease (Dracuntiasis) disebabkan oleh cacing gelang
Dracunculus medimensis
10) Toxic Cyanobacteria, keracunan akibat toksin yang dihasilkan oleh
bakteri dalam air

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

30

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

b. Melalui kulit
Penularan terjadi karena kontak langsung air dengan kulit antara lain :
1) Scabies disebabkan oleh Sarcoptes scabiei
2) Penyakit mata oleh virus
2. Beberapa bahan anorganik / organik yang dapat menimbulkan masalah kesehatan
manusia :
a. Melalui mulut
1) Beberapa logam berat seperti Mercury, Pb, As menimbulkan
keracunan
2) Beberapa mineral seperti besi, mangaan, tembaga, Calsium dalam
jumlah yang besar menimbulkan gangguan pencernaan
3) Beberapa gas seperti Nitrit (blue baby disease), H2S, Ammoniak
4) Bahan organik yang berasal dari dekomposisi sampah, sisa makanan
5) Bahan radiasi
b. Melalui kulit
1) Mineral tertentu dapat menimbulkan irritasi kulit
2) Bahan organik juga dapat menimbulkan irritasi kulit
3) Bahan radiasi
II.

SUMBER AIR

Sesuai dengan Siklus Air di bumi ada 4 sumber air di bumi ini :
A.
B.
C.
D.

Air Angkasa
Air Permukaan
Air Tanah
Mata Air

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

31

S IKLU S AIR

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

4
5

laut

sungai
LAPISAN AIR

KEDAP AIR

Gambar 1. Siklus Air di Bumi


9/25/2006

SUYONO_MSc DASKESLING 06
A. Air Angkasa

28

Air Angkasa atau air hujan adalah sumber air yang tertentu akibat proses penguapan air di
permukaan bumi oleh panas matahari. Uap air ini naik ke atas sampai pada ketinggian
tertentu sampai tercapainya persamaan temperatur dengan udara sekitarnya.
Selanjutnya terjadi proses sebagai berikut :
1. Proses Coalescence
Proses ini diawali dengan terjadinya tetes-tetes air dengan ukuran yang lebih besar,
hal ini disebabkan oleh adanya peristiwa hammer (benturan-benturan) diantara
uap air satu dengan lainnya kemudian saling mengikat. Pengggabungan uap air
tersebut akan membentuk uap air yang lebih besar (awan), lama-kelamaan akan
menjadi berat dan turun menjadi hujan.
2. Proses Bergeron
Pada proses ini terjadinya awan yang terletak pada bagian atas mengandung kristalkristal es dan pada bagian bawah sudah dalam kondisi yang sangat dingin
(supercooled).
Kondisi supercooled di permukaan bumi banyak terjadi di puncak gunung yang
tinggi, di daerah subtropis dan di kutub membentuk salju abadi.
Kristal-kristal es yang ada di bagian atas tersebut akan menjadi tetes-tetes air yang
bertambah besar, akibat sifat air yang higroskopis akan bercampur dengan uap air
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

32

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

supercooled. Akibatnya proses Coalescence akan semakin besar airnya akan turun
sebagai air hujan.
Proses selanjutnya air hujan akan turun ke bumi (presipitasi) dengan mengalami 2
peristiwa yaitu : menguap lagi sebelum jatuh ke bumi, atau turun ke bumi sebagai
aliran di atas tanah (runoff).
Pada daerah yang mengalami 4 musim (semi, panas, rontok, dingin) maka pada
musim dingin (winter) akan terjadi hujan salju akibat gaya berat materi supercooled
turun ke bumi tanpa intervensi panas matahari.
Dengan demikian ada 3 jenis air permukaan yaitu : hujan, es dan salju.
Beberapa sifat (karakteristik) air hujan sebagai berikut :
1. Bersifat lunak, maka dari itu disebut air lunak (soft water)
2. Air hujan yang asli belum tercemar bakteri maupun material lainnya, oleh sebab itu
maka air hujan disebut air murni
3. Tidak mengandung mineral karena proses penguapan tidak membawa materi
mineral, adapun setelah turun ke bumi mengandung mineral terjadi karena kontak
dengan udara yang mengandung debu mineral
4. Mengandung / membawa beberapa jenis gas yang terlarut di udara antara lain CO 2
agresif, NH3 dan bakteri tertentu
5. Pada musim hujan debit airnya cukup besar dan melimpah ruah, sebaliknya pada
musim kemarau tidak demikian dalam arti debitnya tidak tetap / kontinyu.
Ke lima sifat tersebut diatas dapat dikatakan sebagai kelemahan dari air hujan, sehingga
penggunaanya untuk air minum dianjurkan hanya dalam keadaan terbatas dan merupakan
alternatif terakhir apabila tidak ada lagi sumber air lainnya yang lebih baik.
Selain itu air hujan sebagai air lunak tidak cukup nyaman untuk mandi karena tidak dapat
melarutkan busa sabun dalam jumlah air yang banyak dalam arti busa sabun masih ada di
kulit meskipun disiram banyak air , dan karena tidak mengandung mineral yang diperlukan
tubuh sehingga tubuh akan kekurangan mineral apabila mengkonsumsi air hujan untuk
minum jangka lama.
Masalah lain dari air hujan yang bersifat asam akan bersifat korosif (mengkaratkan logam),
air hujan yang mengandung sulfur akan menghasilkan asam sulfat lemah yang berakibat
irritasi pada kulit dan lambung dan akan merusak benda-benda antik (patung pualam,
patung dari logam) serta dapat membunuh tumbuhan.
Cara pemanfaatan air hujan untuk keperluan sehari-hari dengan menggunakan
Penampungan Air Hujan (PAH).
B. Air Permukaan

Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan melalui 2 proses yaitu :
1. Mengalir di permukaan tanah membentuk / mengisi genangan air yang besar
disebut danau, atau mengalir ke tempat yang lebih rendah melalui saluran yang
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

33

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

disebut sungai kemudian akan berakhir di laut. Sumber air ini : danau, sungai dan
laut disebut sumber air permukaan (surface water).
2. Meresap ke dalam tanah membentuk pusat resapan air tanah.
Kualitas air permukaan pada umumnya tidak baik, kotor, berbau dan berasa karena banyak
dicemari berbagai bahan pencemar baik bakteriologis maupun kimiawi.
Untuk dapat memanfaatkan air permukaan ini biasa digunakan alat penjernih disebut
Saringan Pasir Cepat (Rapid Sand Filter) dan Saringan Pasir Lambat (Slow Sand Filter).
Saringan Pasir Cepat biasa digunakan dalam skala besar oleh PDAM, sedangkan Saringan
Pasir Lambat digunakan dalam skala kecil oleh masyarakat atau rumah tangga.
C. Air Tanah

Air hujan yang meresap ke dalam tanah disebut infiltrasi. Air yang meresap ke dalam tanah
ada yang kembali ke permukaan tanah membentuk Mata Air kemudian mengalir ke sungai,
danau dan laut. Aliran in I disebut interflow.
Air yang tersimpan di dalam tanah disebut air tanah (ground water), Air Tanah ini tersimpan
diantara batu-batuan kedap air (impermeable) atau pada lapisan batuan tidak kedap air
(permeable, poreus), atau tersimpan dalam lapisan tanah.
Ada 2 jenis air tanah yaitu Air Tanah Dangkal dan Air Tanah Dalam. Disebut Air Tanah
Dangkal karena muka airnya (water level) dangkal antara 2 10 meter. Air Tanah Dangkal ini
terletak antara lapisan batuan kedap air dengan permukaan tanah. Air Tanah Dangkal
tersebar pada lapisan tanah lempung atau tanah poreus berpasir. Air Tanah Dangkal dapat
diambil langsung melalui penggalian (sumur gali / dug well) atau pengeboran dangkal. Jenis
sumurnya disebut Sumur Dangkal (Shallow Well).
Air Tanah Dalam muka airnya lebih dari 10 meter, jenis sumurnya dinamakan Sumur Air
Dalam (Deep Well). Air Tanah Dalam ini umumnya tersebar dalam lapisan Aquifer.
Lapisan aquifer adalah susunan suatu batuan yang menyimpan / menangkap air tanah,
terdiri dari Aquifer Bebas (Unconfined Aquifer) dan Aquifer Tertekan (Confined Aquifer).
Aquifer bebas menyimpan air tanah dipengaruhi oleh tekanan atmosfir, sedangkan pada
aquifer tertekan yang terapit oleh lapisan impermeable tidak dipengaruhi oleh tekanan
atmosfir sehingga tekanannya lebih besar. Tekanan air pada Aquifer tertekan dipengaruhi
gaya berat air itu sendiri.
Kekuatan tekanan air pada aquifer ditentukan oleh garis piezometrik (piezometric level).
Garis piezometrik adalah garis imaginer yang menunjukkan garis tekanan air yang masih
dapat naik ke permukaan tanah.
Sumur artesis adalah sumur bor yang airnya keluar permukaan tanah tanpa dipompa karena
aliran air keluar masih dibawah garis piezometrik.
Artesis ada 2 macam : artesis alami dan artesis buatan. Artesis alami terjadi dengan
sendirinya karena kuatnya tekanan air dari kedalaman tertentu yang menebus batuan keras
untuk memancar ke permukaan tanah, artesis buatan terjadi akibat penggalian atau
pengeboran sumur dalam.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

34

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

D. Mata Air

Mata air sebenarnya adalah air tanah yang keluar ke permukaan bumi, mata air tidak
memancar ke atas seperti artesis.
Ada 2 macam Mata Air : Mata Air Gravitasi (Gravity Spring) dan Mata Air Artesis (artesian
Spring).
Mata Air Gravitasi terjadi akibat tekanan dari lapisan aquifer bebas, besar debit airnya
tergantung dari musim, kalau musim hujan debitnya besar dan sebaliknya kalau musim
kemarau.
Mata Air Artesis terjadi akibat tekanan dari lapisan aquifer tertekan sehingga debit airnya
tidak terpengaruh musim (debitnya relatif tetap sepanjang tahun).
Pemanfaatan Mata Air dengan mengunakan sarana Perlindungan Mata Air (PMA).
Berikut ini ditampilkan tentang bagan penampang lapisan air di dalam bumi :

Gambar 2. Penampang Aquifer


Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

35

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

III.

PERSYARATAN AIR BERSIH

Air Bersih berbeda dengan Air Minum.


Menurut Dirjen PPM PLP Depkes RI :
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya
memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila dimasak
Air Minum adalah air yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum
Persyaratan Air Bersih diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 416 tahun 1990
tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air, sedangkan untuk Air Minum diatur
oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syaratsyarat Pengawasan Kualitas Air Minum..
Pembahahasan pada mata kuliah ini lebih ditekankan kepada Persyaratan Air Bersih. Air
Bersih harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
A. SYARAT FISIK
1.
2.
3.
4.

Tidak berbau
Tidak Berwarna
Tidak berasa
Terasa segar

B. SYARAT KIMIAWI
1. Derajat keasaman (pH) antara 6.5 9.2
2. Tidak boleh ada zat kimia berbahaya (beracun), kalaupun ada jumlahnya
harus sedikit sekali
3. Unsur kimiawi yang diizinkan tidak boleh melebihi standard yang telah
ditentukan
4. Unsur kimiawi yang disyaratkan mutlak harus ada dalam air
C. SYARAT BAKTERIOLOGIS
1. Tidak ada bakteri / virus kuman berbahaya (pathogen) dalam air
2. Bakteri yang tidak berbahaya namun menjadi indikator pencemaran tinja
(Coliform bacteria) harus negatif.
D. SYARAT RADIOAKTIVITAS
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

36

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Tidak ada zat radiasi yang berbahaya dalam air.


E. PERMASALAHAN YANG DITIMBULKAN KARENA AIR TIDAK BERSIH
1. Fisik
a. Bau
Air yang berbau dapat berasal dari hasil pembusukan benda organik
(sampah, sisa makanan, bangkai, tumbuhan), buangan industri, limbah
rumah tangga yang terlarut dalam air.
b. Warna
Warna air terbagi dalam 2 jenis :
1) Warna asli (true color) : akibat pembusukan atau pelarutan
bagian dari tumbuhan yaitu batang, akar, daun. Selain itu
sebagai hasil kegiatan industri textile, penyamak kulit, sablon,
pabrik cat dll. Warna asli tidak dapat dihilangkan dengan
penyaringan sederhana, harus ada intervensi bahan lain.
2) Warna tidak asli (apparent color), akibat dari partikel-partikel
padat yang sangat halus antara lain tanah, pasir, batuan dll.
Warna tidak asli dapat dihilangkan dengan penyaringan
sederhana atau pengendapan.
c. Rasa
Rasa air bisa berasal dari kandungan zat kimia yang terlarut dalam air
(asam,asin, manis, pahit, payau). pH air yang rendah dapat mengakibatkan
rasa air menjadi menjadi asam / kesat. Air bersih harus tidak berasa (netral).
Air yang berasa sering menimbulkan masalah, baik masalah
kesehatan.maupun masalah lainnya. Air asam akan mempengaruhi
ketahanan gigi dan mengganggu pencernaan, selain itu akan menyebabkan
iritasi pada kulit. Selain itu air asam tidak melarutkan busa sabun meskipun
dengan menggunakan banyak air. Sebaliknya air yang terlalu basa akan
mengganggu pencernaan dan ginjal.
Air asin atau sadah sama sekali tidak dapat digunakan untuk aktivitas seharihari, sabun sulit berbusa meskipun dengan menggunakan dalam jumlah
banyak.
Air yang berasa pahit disebabkan pH yang sangat rendah atau dapat juga
karena adanya bahan kimia atau bahan berbahaya (toksik) yang terlarut.
d. Kesegaran
Kesegaran air dapat tercapai apabila temperatur air lebih rendah dari
temperatur udara sekitarnya.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

37

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

2. Kimiawi
a. Bahan kimia yang dilarang / tidak diizinkan berada dalam air bersih karena
berbahaya diantaranya gas H2S, CO2 agresif, NO2, NH3. Gas-gas ini dapat
menimbulkan gangguan kesehatan maupun kerusakan material (terjadinya
korrosi). NO2 dalam air apabila terminum bayi akan mengakibatkan penyakit
Blue baby disease.
b. Bahan kimia yang masih diizinkan ada dalam air bersih dengan jumlah yang
dibatasi sesuai standard air minum. Bahan kimia ini terutama logam berat
antara lain Hg, Pb, Se, dll. Dalam jumlah diatas standard akan mengakibatkan
keracunan. Sebagai contoh kejadian di Minamata Jepang dan Teluk Buyat di
Sulawesi Utara, akibat mengkonsumsi air yang tercemar Mercury (Hg).
c. Bahan kimia yang disyaratkan harus ada dalam air karena sangat diperlukan
untuk metabolisme tubuh antara lain mineral F, Ca, Na, Cu dll.
3. Bakteriologis
Bakteri atau virus dalam air yang dapat menular ke manusia sebagian besar
berasal dari tinja dan urine. Untuk mengetahui pencemaran tinja tersebut perlu
dilakukan pemeriksaan di laboratorium, namun untuk memeriksa adanya bakteri
atau virus tidaklah mudah karena harus menggunakan peralatan khusus dan
memerlukan waktu, sedangkan bakteri dalam tinja yang relatif lebih mudah
ditemukan adalah bakteri jenis Coli padahal bakteri ini umumnya tidak pathogen
karena berada dalam perut manusia, kecuali ada beberapa bakteri seperti
Escherichia Coli jenis 0157 dan Enterohaemorrhagic E.Coli (EHEC) yang patogen.
Untuk mengatasi masalah penegakkan diagnosa pencemaran air oleh bakteri
atau virus dalam air maka ditetapkan bakteri Coli sebagai indikatornya, artinya
apabila ditemukan adanya Coli dalam air, maka patut diduga air tersebut
tercemar tinja sehingga dugaan selanjutnya adalah kemungkinan ada bakteri
atau virus lain dalam air tersebut.

Gambar 3. Coliform bacteria


4. Radioaktivitas
Zat radiasi berasal dari limbah khusus yang dihasilkan oleh industri, reaktor
nuklir, Rumah Sakit, pertambangan. Penanganannya harus khusus pula.
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

38

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

IV.

UPAYA MEMPEROLEH AIR BERSIH

A. AIR ANGKASA
Air hujan dari segi kuantitas sangat berlebih pada musim hujan, namun tidak dapat
diharapkan pada musim kemarau sehingga untuk menjamin tersedianya air pada
musim kemarau perlu dibuat suatu penampungan yang volumenya memadai untuk
cadangan dimusim kemarau tersebut. Hal ini dilakukan oleh masyarakat yang
daerahnya kesulitan sumber air yaitu didaerah pantai / rawa, pegunungan batu /
kapur.
Sarana yang digunakan untuk penyediaan air hujan lazim disebut Penampungan Air
Hujan (PAH). PAH ini terbuat dari bahan semen pasir, atau dari logam, atau dari
bahan kayu.
Untuk menentukan kecukupan air hujan pada musim kemarau perlu dihitung curah
hujan rata-rata perbulan, berapa lama musim kemaraunya, berapa luas atap
penangkap airnya dan berapa jumlah orang yang memerlukannya.
Contoh perhitungan sederhana :
Apabila rata-rata curah hujan 250 mm perbulan, sedangkan luas atap penampungan
yang ada (atap rumah) yang airnya tercurah ke tempat penampungan tersebut
adalah 80 m2, maka banyaknya curah hujan yang tertampung adalah = 0.25 x 80 m2
= 20 m3 = 20.000 liter per bulan.
Misalnya rata-rata pertahun musim hujan berlangsung selama 5 bulan, sehingga
jumlah air yang tersedia melalui atap penampungan tersebut menjadi = 5 x 20.000
liter = 100.000 liter.
Jumlah pemakai sesuai jumlah air yang tertampung. Setiap orang memerlukan air
sebanyak 15 liter perhari*, maka jumlah orang yang terlayani selama setahun =
100.000
= 18 orang , cukup untuk 6 keluarga @ 3 orang
15 x 30 x 12
*Keperluan 15 l/or/hari adalah hanya untuk minum dan masak saja
PAH yang dibuat disesuaikan dengan kebutuhan 18 orang tersebut per tahun
ditambah 10 % untuk toleransi penyusutan maka volume bak PAH tersebut menjadi
= (100.000 + 10.000) liter = 110.000 liter atau 110 m3. dengan ukuran sebagi berikut
:
a.

Apabila bak berbentuk segi empat dengan tinggi 2 meter, maka panjang x lebar
bak tersebut adalah = (110 : 2) meter persegi = 55 m2 atau panjang x lebarnya
adalah 7.4 x 7.4 meter.

b.

Apabila bak tersebut berbentuk bulat / tabung dengan tinggi (t) = 2 meter,
maka luas lingkaran tabung bak tersebut = 55 m2. Berapa garis tengahnya ?

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

39

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

_
Volume tabung = // r 2 . t
_
___________
R = 2 r, luas lingkaran = // r 2 = 3,14 x r 2 = 55 m2 , maka r = V (55 : 3,14) =
4,19 m. R atau garis tengah bak tersebut menjadi 2r = 8.4 meter.
Agar bak tersebut tidak terlalu luas dapat dibagi 2 atau 3 buah.
Bahan bak yang paling baik, kuat dan irit bahan adalah terbuat dari ferrocement,
yaitu campuran semen pasir dengan rangka besi dibalut kawat ayam.

Berikut ini ditampilkan gambar penampang PAH untuk rumah tangga.


atap penampungan

pipa penyalur

bak PAH

Gambar 4. Penampungan Air Hujan (PAH)

B. AIR PERMUKAAN
Air yang mudah diambil adalah air permukaan, disamping itu kuantitasnya boleh
dikatakan tidak terbatas. Namun dari segi kualitas memerlukan penanganan yang
baik dan cermat. Pembuatan Saringan Pasir Lambat (Slow Sand Filter) adalah
alternatif yang dapat dikedepankan karena bahannya murah, cara pembuatannya
mudah dan hasilnya optimal dapat menjernihkan air kotor sampai diatas 90 %
bersih.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

40

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

INFLUENT

(A)

kerikil, setebal 5 cm

(B) Pasir halus,


setebal 20 cm

(C) kerikil, setebal


10 cm

EFFLUENT
Gambar 5. Saringan Pasir Sederhana

Saringan Pasir Sederhana ini sangat mudah dibuat dan murah biaya pengadaan bahannya.,
tidak memerlukan teknologi canggih sehingga setiap anggota masyarakat dapat
membuatnya sendiri.
1. Persiapan bahan
a. Blek bekas tempat kue tinggi 35 cm, panjang = lebar = 24 cm
b. Kerikil diameter + 0,5 cm, dicuci bersih
c. Pasir halus, dicuci bersih sampai hilang lumpurnya (air cucian sampai jernih),
sebaiknya tidak tercampur kerikil
d. Kran air diameter 0,5 inci atau pipa pralon 0,5 inci atau bambu bolong ukuran + 0,5
inci
e. Lem plastic steel 1 set
2. Cara membuat bak saringan
a. Blek dicuci dengan sabun sampai bersih lalu dilubangi selebar + 0,5 inci, tinggi
lubang + 2,5 cm dari lantai blek
b. Masukkan kerikil kedalam bak sampai setara permukaan lubang bagian bawah
c. Pasang pipa keluar (effluent) pada lubang kemudian dilem, tunggu sampai lem
kering
d. Masukkan kembali kerikil sampai setinggi 10 cm dari dasar bak
e. Masukkan pasir halus diatas kerikil no.4. di atas sampai setebal 20 cm
f. Masukkan kerikil setebal 5 cm di atas pasir halus
g. Coba masukkan air kotor kedalam bak (bagian influent) secara pelan-pelan
h. Tunggu hasilnya pada bagian effluent, pada tahap pertama mungkin masih agak
keruh karena terjadi penyesuaian endapan pasir dengan kerikil
i. Teruskan sampai aliran air pada bagian effluent menjadi jernih
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

41

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Bak Saringan Pasir Sederhana siap digunakan


3. Mekanisme penyaringan
a. Secara Mekanis
Pada waktu 1 7 hari setelah pembuatan, system yang bekerja pada bak pasir
tersebut masih mekanis yaitu dengan mengandalkan gaya gravitasi dan daya saring
pasir
b. Secara mekanis dan biologis
Setelah 7 hari, disamping proses mekanis secara alamiah akan terjadi proses
pembentukan bakteri saprofit yang menghasilkan lendir non toxic yang sangat
bermanfaat untuk menangkap kotoran dan beberapa bakteri berbahaya yang
menjadi makanan bakteri saprofit tersebut

4. Keuntungan dan kelemahan Saringan Pasir Sederhana


a. Keuntungan dari Saringan Pasir ini adalah :
1. dapat menyaring air kotor setiap waktu dengan hasil yang cukup
memuaskan.
2. beberapa bakteri berbahaya dapat disaring dan dihilangkan.
3. selain itu bahannya cukup sederhana dan tidak mahal
b. Kelemahan dari Saringan Pasir ini adalah :
1. tidak dapat menyaring warna asli (true color) dari air kotor, misalnya warna
air yang diakibatkan oleh zat warna, getah pohon, daun-daunan/akar-akaran
yang membusuk
2. tidak dapat menyaring rasa asli dari air kotor, misalnya rasa air yang
diakibatkan oleh derajat keasaman (pH) air, rasa asin/payau, rasa akibat
kelebihan mineral dalam air
3. tidak dapat menyaring bau asli dari air kotor, misalnya rasa air yang
diakibatkan oleh kotoran hasil pembusukan bahan organik, bau yang berasal
dari bahan kimia atau mineral
4. kecepatannya lambat sehingga hanya dianjurkan untuk keperluan minum
saja, Saringan Pasir jangan dipaksakan untuk menghasilkan debit air yang
banyak dalam waktu singkat karena akan mengganggu proses alamiah
penyaringan
5. Tidak semua bakteri berbahaya dapat tersaring, khususnya virus tertentu dan
jasad renik yang sangat halus. Untuk itu dianjurkan sebelum diminum agar
tetap dimasak atau didesinfeksi terlebih dahulu.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

42

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

6. Saringan pasir ini mudah tersumbat (clogging) khususnya dibagian influent,


sehingga perlu secara teratur dibersihkan. Clogging cepat terjadi dengan
semakin pekatnya kotoran pada air tersebut
7. Blek tempat pasir ini terbuat dari seng dan besi yang lambat laun akan
berkarat dan rusak dalam waktu
1 tahun ke atas tergantung derajat
keasaman airnya. Untuk itu perlu disediakan cadangan penggantinya.
Bahan pengganti yang lain yang lebih tahan lama adalah dengan bahan
plastik (ember), namun kurang baik karena bersifat elastis yang dapat
mengganggu/merubah kestabilan lapisan pasir apabila diangkatangkat/dipindah-pindah. Kalaupun harus dipindah maka pemindahannya
harus hati-hati dan diangkat dari bawah/dasar bak dengan menggunakan
penyangga/lantai papan.
5. Cara membersihkan Saringan Pasir
Dalam kondisi normal Saringan Pasir ini dapat berfungsi dengan baik antara 1 3 bulan.
Apabila dirasakan kemampuan menyaringnya terganggu akibat sumbatan (clogging) maka
segera dilakukan pembersihan.
Caranya cukup sederhana yaitu dengan mengangkat lapisan kerikil bagian (A) influent dicuci
bersih, kemudian ambil lapisan pasir halus (B) bagian atas setebal 3 5 cm lalu dicuci bersih.
Setelah itu pasir dan kerikil tersebut dikembalikan lagi kedalam bak Saringan
6. Tambahan
1. Sebelum proses penyaringan, dapat dilakukan pembentukan gumpalan kotoran
dengan menggunakan tawas secukupnya diaduk dalam putaran yang teratur,
penggunaan tawas ini juga dapat mengurangi warna asli air meskipun tidak 100
persen.
2. Pada bagian effluent dibawah lapisan kerikil dapat ditambahkan lapisan ijuk yang
bersih dan terpilih. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa ijuk dapat
merupakan tempat berkembangnya bakteri yang tidak diinginkan.
3. Air bersih yang berbau dapat dikurangi dengan melewatkannya pada lapisan arang
batok kelapa atau arang kayu, atau arang tersebut dibungkus kain (karung terigu)
dimasukkan kedalam air bersih, dibiarkan selama + setengah sampai satu jam
kemudian diangkat. Arang ini akan jenuh apabila digunakan terus menerus, perlu
dibersihkan dan dijemur. Kalau sudah jenuh sekali harus diganti baru.
4. Air yang berasa asam atau pahit akibat pH rendah dapat diatasi dengan
pembubuhan kapur secukupnya

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

43

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Cara lain untuk penjernihan air adalah dengan Saringan Pasir Cepat (Rapid Sand Filter),
Saringan Pasir Cepat ini digunakan dalam kapasitas besar pada Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM).
Cara kerjanya hampir sama dengan SPL namun hanya bersifat mekanis karena ditujukan
untuk memperoleh hasil / kuantitas yang besar dalam waktu segera.

C. AIR TANAH
Pemanfaatan air tanah dapat dilakukan dengan menggali atau mengebor sampai kedalaman
tertentu.
Jenis sumur yang digunakan untuk memperoleh air tanah ini adalah :
1. Sumur Gali (Dug Well)
Sumur gali termasuk sumur dangkal dengan kedalaman 1 10 meter. Hal yang perlu
diperhatikan pada pembuatan sumur gali ini adalah :
a. Harus diperkirakan dulu apakah didalam tanah ini ada sumbernya atau
adanya lapisan batuan keras, jangan sampai terjadi setelah digali dalamdalam ternyata tidak ada airnya
b. Harus diteliti dulu apakah tanah dibawahnya adalah tanah asli, artinya bukan
bekas timbunan sampah, rawa dan lainnya atau bekas sumur yang ditimbun.
c. Radius jarak 10 meter dari titik penggalian harus bebas dari sumber
pencemar (Sampah, Septictank). Radius 100 meter harus bebas dari sumber
pencemar kimiawi.
d. Setiap kedalaman tertentu hendaknya selalu dicek apakah mengandung gas
berbahaya atau tidak dan apakah oksigen didalamnya masih cukup. Caranya
dengan memasukkan lilin menyala kedalam sumur dengan terlebih dahulu si
penggali keluar dari lubang, kalau tetap menyala berarti kondisi aman,
namun apabila mati berarti kandungan oksigennya kurang cukup dan
mungkin ada gas berbahaya dalam sumur tersebut. Hati-hati terhadap
kemungkinan terjadi ledakan akibat adanya gas berbahaya dalam lubang
sumur.
e. Harus diteliti dulu apakah lapisan tanah dan batuan yang ada dalam tanah
tersebut bukan tipe tanah atau lapisan kapur gamping yang mudah retak /
runtuh
f. Dinding sumur harus cukup kuat tidak mudah runtuh dan 3 meter dari
permukaan tanah harus kedap air untuk mencegah pencemaran
bakteriologis
g. Pada bagian atas / bibir sumur diberi dinding kedap air dan ditutup untuk
mencegah pencemaran dari luar
h. Pengambilan airnya sebaiknya menggunakan pompa tangan atau pompa
listrik. tidak dianjurkan menggunakan kerekan timba karena disamping
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

44

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

i.

j.

mengkeruhkan air juga terjadi pencemaran dari tangan serta pencemaran


akibat sumur tidak ditutup.
Setelah selesai penggalian dan mendapatkan air yang cukup, segera
dilakukan penyemenan lantai sumur minimal selebar garis tengah 2 meter
untuk mencegah pencemaran dari sekeliling sumur
Sebelum digunakan agar air di dalam sumur tersebut setelah dikuras,
didesinfeksi dulu

2. Sumur Pompa Tangan Dangkal (Shallow Well)


Sumur pompa tangan dangkal diperoleh dari hasil pengeboran dangkal 3 20 meter.
Hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan sumur pompa ini adalah :
a. Peralatan pengeboran harus lengkap, termasuk mata bor untuk lapisan
batuan keras.
b. Harus diperkirakan dulu apakah didalam tanah ini ada sumbernya, ,jangan
sampai terjadi setelah dibor dalam-dalam ternyata tidak ada airnya.
c. Harus diteliti dulu apakah tanah dibawahnya adalah tanah asli, artinya bukan
bekas timbunan sampah, rawa dan lainnya atau bekas sumur yang ditimbun.
d. Radius jarak 10 meter dari titik penggalian harus bebas dari sumber
pencemar (Sampah, Septictank). Radius 100 meter harus bebas dari sumber
pencemar kimiawi.
e. Setelah selesai pengeboran dan mendapatkan air yang cukup, segera
dilakukan penyemenan lantai sumur minimal selebar garis tengah 2 meter
untuk mencegah pencemaran dari sekeliling sumur.
f. Sebelum digunakan agar air di dalam sumur tersebut setelah dikuras,
didesinfeksi dulu
g. Pengambilan airnya menggunakan Pompa Tangan Dangkal atau pompa
listrik.
3. Sumur Pompa Tangan Dalam (Deep Well)
Sumur pompa tangan dalam diperoleh dari hasil pengeboran dangkal kedalaman
20 meter.
Hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan sumur pompa ini adalah :

>

a. Peralatan pengeboran harus lengkap, termasuk mata bor untuk lapisan


batuan keras.
b. Harus diperkirakan dulu apakah didalam tanah ini ada sumbernya, ,jangan
sampai terjadi setelah dibor dalam-dalam ternyata tidak ada airnya.
c. Harus diteliti dulu apakah tanah dibawahnya adalah tanah asli, artinya bukan
bekas timbunan sampah, rawa dan lainnya atau bekas sumur yang ditimbun.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

45

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

d. Radius jarak 10 meter dari titik penggalian harus bebas dari sumber
pencemar (Sampah, Septictank). Radius 100 meter harus bebas dari sumber
pencemar kimiawi.
e. Setelah selesai pengeboran dan mendapatkan air yang cukup, segera
dilakukan penyemenan lantai sumur minimal selebar garis tengah 2 meter
untuk mencegah pencemaran dari sekeliling sumur.
f. Sebelum digunakan agar air di dalam sumur tersebut setelah dikuras,
didesinfeksi dulu
g. Pengambilan airnya menggunakan Pompa Tangan Dalam atau pompa listrik
submersible (pompa yang ditenggelamkan dalam air).
D. MATA AIR
Perlindungan Mata Air adalah alternatif untuk memanfaatkan mata air bagi konsumsi air
bersih. Sebelum dibuat PMA, terlebih dahulu harus diukur debit airnya kemudian
bandingkan dengan jumlah penduduk yang akan memanfaatkan mata air tersebut,
pengukuran debit air mata air dapat dilakukan langsung dengan menggunakan alat yang
dinamakan V-notch weir.
Jika suatu mata air dengan debit 10 liter perdetik berarti setiap 24 jam akan
mengeluarkan air sebanyak = 10 x 360 x 24 liter = 86.400 liter per hari. Apabila
keperluan per orang per harinya 60 liter, maka mata air itu akan memenuhi kebutuhan
penduduk sebanyak = 86.400 / 60 orang = 1.440 orang perhari.
Bak PMA terbuat dari bahan ferrocement dilengkapi dengan penutup dan pipa untuk
effluent dan pipa untuk membuang kelebihan air (overflow) serta pipa udara.
Dalam membuat PMA ini harus diperhatikan ketinggian air yang dicapai oleh mata air
tersebut dalam arti menetapkan tinggi pipa effluent harus sesuai dengan level air
tersebut. Jangan coba-coba memaksakan untuk meninggikan dinding bak untuk
memperoleh debit air yang besar karena hal ini akan membuat aliran balik ke
sumbernya dan kemungkinan aliran air akan mencari tempat lain sehingga bak akan
kosong.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

46

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

lapisan kedap air

lapisan aquifer

lapisan tanah

pipa udara
bak ferrocement
pipa peluap

pipa effluent

Gambar 6. Perlindungan Mata Air (PMA)

Untuk lebih mendalami Mata Kuliah Pengelolaan Sumber Air ini akan dapat dipelajari
lebih lanjut pada Mata Kuliah Peminatan (khusus) Pengelolaan Sumber Daya Air

KISI KISI :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Jelaskan tentang pentingnya air bagi kehidupan manusia


Jelaskan perbedaan air bersih dan air minum
Jelaskan sifat air yang menguntungkan dan merugikan
Sebutkan beberapa contoh keracunan logam berat, Nitrit dll
Sebutkan beberapa sumber air
Jelaskan yang dimaksud dengan proses Coalescence
Jelaskan yang dimaksud dengan proses Bergeron
Sebutkan beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air
Jelaskan yang dimaksud dengan Artesis positif dan negatif
Jelaskan tentang runoff , infiltrasi, interflow
Jelaskan beberapa Sifat-sifat Air hujan
Sebutkan beberapa jenis sumber air

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

47

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

13. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Shallow well dan deep well
14. Jelaskan yang dimaksud dengan Confined aquifer dan Unconfined
aquifer
15. Jelaskan yang dimaksud dengan Piezometric
16. Apa perbedaan lapisan Impermeable dan Permeable
17. Sebutkan beberapa jenis Mata air
18. Jelaskan tentang alternatif penggunaan PAH
19. Coba prektekkan cara perhitungan sederhana membuat PAH
20. Sebutkna syarat fisik, kimiawi air bersih
21. Jelaskan tentang Indikator Bakteri Coli
22. Apa perbedaan antara True Color dan Apparent Color
TUGAS DI WORKSHOP
A. TUJUAN
Dalam rangka implementasi mata kuliah Dasar-dasar Kesehatan Lingkungan
khususnya Modul Pengelolaan Sumber Daya Air, diperlukan keterampilan praktek di
workshop/bengkel kerja yang bertujuan agar mahasiswa dapat membandingkan
antara teori yang didapat dengan kondisi keadaan nyata di lapangan.
Dengan melaksanakan praktek di workshop ini ini diharapkan mahasiswa dapat lebih
terampil dan dapat dijadikan bekal untuk melaksanakan tugas nanti setelah lulus
menjadi seorang Ahli Kesehatan Masyarakat.
Selain itu hasil dari kegiatan mahasiswa ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
yang memerlukannya dalam rangka tugas Pengabdian Masyarakat.
B. TOPIK
Topik masalah tahun 2008 ini adalah Pembuatan Saringan Pasir Sederhana.
C. PERSIAPAN BAHAN-BAHAN
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh mahasiswa adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Bahan bacaan tentang Cara Membuat Saringan Pasir Sederhana


Persiapan bahan baku pasir kali, sesuai keperluan, dicuci bersih
Persiapan kerikil secukupnya, dicuci bersih
Persiapan bak/wadah dari blek biskuit ukuran 20 liter atau kotak plastik yang
biasa dipakai untuk tempat pakaian atau perabotan rumah tangga (plastic ware)
5. Persiapan kran atau pipa saluran uotlet
6. Persiapan lem plastik (plastic steel)

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

48

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Setelah dicatat bahan-bahan yang diperlukan, Ketua Kelompok segera mengajukan


rencana biaya untuk pengadaan bahan-bahan tersebut kepada Ketua Prodi
Kesehatan Masyarakat.
D. TEMPAT PELAKSANAAN PRAKTEK
Pelaksanaan praktek dilakukan di bengkel kerJa STIKES Jenderal A.Yani atau di
tempat terbuka dilingkungan STIKES Jenderal A.Yani.
E. WAKTU PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan ini dimulai pada perkuliahan semester III bagian I tahun 2008
Waktu pelaksanaan dilaksanakan diluar jadwal kuliah dasar-dasar Kesehatan
Lingkungan.
F. PEMBAGIAN KELOMPOK MAHASISWA
Mahasiswa dibagi menjadi 4 kelompok sesuai daftar yang akan dibuat kemudian
G.

LAPORAN KEGIATAN PRAKTEK


Hasil kerja di workshop segera dilaporkan per kelompok kepada Penanggung jawab
Mata Kuliah Dasar-dasar Kesehatan Lingkungan.
TUGAS LAPANGAN

A. TUJUAN
Dalam rangka implementasi mata kuliah Dasar-dasar Kesehatan Lingkungan
khususnya Modul Pengelolaan Sumber Daya Air, diperlukan keterampilan praktek di
lapangan dan dilanjutkan di laboratorium yang bertujuan agar mahasiswa dapat
membandingkan antara teori yang didapat dengan kondisi keadaan nyata di
lapangan.
Dengan melaksanakan praktikum ini ini diharapkan mahasiswa dapat lebih terampil
dalam melaksanakan tugas pengawasan lingkungan khususnya mengamanan
sumber air bersih milik masyarakat dan dapat dijadikan bekal untuk melaksanakan
tugas nanti setelah lulus menjadi seorang Ahli Kesehatan Masyarakat.
B. TOPIK
Kegiatan Praktek ini adalah untuk melakukan pengujian contoh air dari berbagai
sumber air yang ada di sekitar kampus yang diteliti kandungan kimiawi dan
bakteriologisnya.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

49

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

C. PERSIAPAN BAHAN-BAHAN
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh mahasiswa adalah sebagai berikut :
1. Bahan bacaan tentang Cara Mengambil Sampel Air dan pemeriksaan di
laboratorium
2. Persiapan bahan dan peralatan pengambilan dan pemeriksaan sampel air
3. Persiapan lokasi pengambilan sampel air dan laboratorim pemeriksa
4. Persiapan surat menyurat
5. Persiapan transportasi
D. TEMPAT PELAKSANAAN PRAKTEK
Pelaksanaan praktek pengambilan contoh air dilakukan di sekitar lokasi dilingkungan
STIKES Jenderal A.Yani.
Untuk ini diperlukan peninjauan pendahuluan lokasi yang dimaksud oleh masingmasing Kelompok.
Setelah lokasi ditentukan, masing-masing Ketua Kelompok membuat rencana
praktek bersama anggota kelompoknya.
Pemeriksaan sampel air dilakukan di Laboratorium STIKES Jenderal A.Yani Cimahi
E. CARA PENGAMBILAN SAMPEL AIR
1. Contoh air untuk Pemeriksaan kimiawi
Untuk pengambilan sampel air kimiawi menggunakan jerrycan 5 liter.
a.Jerrycan dicuci dulu sampai bersih, kemudian dibilas dengan air dari
sumber yang akan diperiksa tersebut
b. Pada prosedur ini aspek sterilitas tempat sampel air diabaikan
c. Sebelum diisikan ke jerrycan, hendaknya air yang akan diperiksa
harus dijamin tidak terkontaminasi oleh sumber lain. Kran air
dibiarkan dulu airnya mengalir selama 1 menit, baru ditampung
d. Setelah diambi simpan didalam termos es, kemudian sampel air
harus segera dikirim ke labotarorium
2. Contoh air untuk Pemeriksaan bakteriologis
Pengambilan sampel air bakteriologis menggunakan botol steril (botol bisa
diperoleh di laboratorium)
a. Air yang hendak diambil harus betul-betul air dari sumber tersebut
tidak tercemar oleh sumber lain.
b. Apabila air dari kran, maka kran tersebut harus disterilkan dulu
menggunakan api spiritus alau alkohol, kemudian dialirkan/dibuang

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

50

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

beberapa saat untuk menjamin tidak ada kontaminasi dari ujung


kran
c. Buka tutup botol, lalu bibir botol disterilkan dengan api
spiritus/alkohol, bibir tutup botol jangan sampai tercemar tangan
d. Bilas botol dengan air sumber tersebut lalu diisi hampir penuh. Cara
menutupnya harus hati-hati jangan sampai tercemar tangan kita.
e. Botol sampel dimasukkan ke dalam termos yang berisi es, kemudian
segera dikirim ke laboratorium
F. PEMERIKSAAN DI LABORATORIUM
1. Pemeriksaan Bakteriologis
Pemeriksaan bakteriologis ditujukan terhadap penemuan bakteri jenis E.Coli
dengan metode MPN Index (contoh panduan terlampir)
Bakteri E.Coli merupakan bakteri apatogen yang hidup dan berkembangbiaknya
di dalam usus manusia yang keluar dari tubuh bersama dengan tinja manusia.
Dengan ditemukannya adanya bakteri E.Coli ini di dalam air yang diperiksa dapat
merupakan indikator bahwa sumber air tersebut telah tercemar tinja manusia,
dengan asumsi bahwa sumber penularan penyakit berbahaya seperti : Typhus,
Cholera Dysenteria, GE, Poliomyelitis dll. kemungkinan berada di dalam tinja
tersebut.
2. Pemeriksaan Kimiawi
Pemeriksaan kimiawi ditujukan terhadap ada atau tidak adanya unsur kimiawi
anorganik maupun organik yang ada dalam contoh air. Unsur kimiawi ini dapat
merupakan unsur yang merugikan maupun menguntungkan bagi tubuh manusia
sehingga dengan adanya unsur-unsur ini dalam air maka dapat disimpulkan
apakah sumber air yang diperiksa itu memenuhi atau tidak memenuhi syarat
kesehatan dari segi kimiawinya.
Metode pemeriksaan meliputi metode : Titrasi atau menggunakan Water Test
Kit.
Adapun unsur-unsur kimia air yang diperiksa antara lain adalah :
1. Fisik : bau, rasa, warna, temperatur
2. Kimiawi :
a.
b.
c.
d.
e.

pH
Kesadahan
Total Solid
Turbidity (kekeruhan)
Conductivity (daya hantar listrik)

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

51

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Total hardness (Kesadahan Total)


Chlorida
Sulfat
Nitrat
Iron (besi, Fe)
Manganese (Mn)
Aluminum (Al)
Fluor (F)

G. WAKTU PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan ini dimulai pada perkuliahan semester III bagian I tahun 2009.
Waktu pelaksanaan dilaksanakan diluar jadwal kuliah dasar-dasar Kesehatan
Lingkungan.
H. PEMBAGIAN KELOMPOK MAHASISWA
Mahasiswa dibagi menjadi 4 kelompok sesuai daftar yang dibuat
I.

LAPORAN KEGIATAN PRAKTEK


Hasil kerja lapangan ini segera dilaporkan per kelompok kepada Penanggung jawab
Mata Kuliah Dasar-dasar Kesehatan Lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Litbang Kesehatan. Standar Design Penyediaan Air Minum Pedesaan di
Indonesia. Jakarta
Chorus, Ingrid, Jamie Bartram (editor). Toxic Cyanobacteria in Water: A guide to their
public health consequences, monitoring and management. WHO. Geneva.
1990
Clair N Sawyer, PM Carty. Chemistry for Sanitary Engineering. Mc Graw Hill Book
Company.
Dirjen PPM & PLP. Pedoman Teknis Tentang Pengawasan Kualitas Air. Depkes RI.
Jakarta 1977
Ehler, VM. Municipal and Rural Sanitation. Mc Graw Hill Publ.Co. New Delhi.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

52

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Lannoix, JN. Water Supply for Rural Areas and Small Community. WHO. Geneva. 1958
Menteri Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 461 /Menkes /Per /IX
/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Jakarta. 1990
Menteri Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 907 /Menkes /SK /VII
/2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Jakarta.
2002
Steel, EW. Water Supply and Sewerage. Mc Graw Hill Kogakusha. Tokyo
Tim Penyusun Pedoman Bidang Studi APK-TS. Penyediaan Air Bersih. Pusdiknakes
Depkes. Jakarta.
WHO. Fact Sheet on Environmental Sanitation. Robens Institute, University of Surrey,
UK. Geneva. 1996
WHO. Guidelines for Drinking Water Quality Vol.I. WHO. Geneva. 2006

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

53

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

(MODUL III)
Oleh : Suyono,M.Sc & Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

I.

JENIS LIMBAH
Limbah adalah semua benda yang berbentuk padat (solid wastes), cair (liquid wastes)
maupun gas (gaseous wastes), merupakan bahan buangan yang berasal dari aktivitas
manusia secara perorangan maupun hasil aktivitas kegiatan lainnya diantaranya industri,
rumah sakit, laboratorium, reaktor nuklir dll.
Seperti yang dikatakan Willgooso tentang air limbah :
Wastewater is water carrying wastes from homes, business, and industries
that is mixture of water and dissolved or suspended solids.
Menurut US Environmental Protection Agency (USEPA) :
Wastewater is water carrying dissolved or suspended solids from homes,
farms, businesses and industries.
Ada beberapa jenis limbah diantaranya sebagai berikut :
A. LIMBAH RUMAH TANGGA (DOMESTIC WASTES)
Limbah yang berasal dari aktivitas manusia secara perorangan yaitu berupa hasil
kegiatan pencucian pakaian, pencucian sayuran / bahan masakan, pencucian alat
makan / minum, limbah kamar mandi, tinja manusia dan air seni (faecal and excreta
wastes), sampah padat dari dapur, dari dalam rumah serta dari halaman.
B. LIMBAH INDUSTRI (INDFUSTRIAL WASTES)
Limbah ini merupakan kegiatan yang dapat dibagi lagi menjadi sebagai berikut :
1. Limbah air panas hasil proses pendinginan mesin, air panas hasil proses industri
yang dibuang ke saluran limbah pabrik.
2. Proses pencucian bahan mentah, bahan jadi, pembilasan, pencucian peralatan
dan mesin-mesin, dimana air pencuci / pembilas dan kotoran dibuang ke saluran
limbah.
3. Proses pemurnian material dengan menggunakan bahan kimia misalnya
pemisahan hasil tambang emas menggunakan logam Mercuri dan Asam Sulfat.
4. Limbah produk jadi berupa ampas, sampah, zat warna dan asap

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

54

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

C. LIMBAH RUMAH SAKIT (HOSPITAL WASTES)


Limbah berbahaya dari Rumah Sakit, laboratorium, berupa sisa-sisa organ tubuh,
pembalut, bahan kimia / obat-obatan, bakteri penyakit, bahan radioaktif dan lain-lain.
D. LIMBAH PERKOTAAN (MUNICIPAL WASTEWATER)
Limbah perkotaan hampir sama dengan limbah rumah tangga berupa sampah padat /
cair.
E. LIMBAH NUKLIR (NUCLEAR WASTES)
Limbah berbahaya dari Reaktor Nuklir berupa air pendingin reaktor dan zat radioaktif
Dalam pembahasan mata kuliah ini khusus hanya membicarakan tentang Limbah Cair
saja (wastewater).
Pembahasan bidang studi Air Limbah ini sangat erat kaitannya dengan bidang studi
Penecemaran Lingkungan, Pengelolaan Sampah dan Pengelolaan Air Bersih.

II.

PERMASALAHAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN


Ada 3 karakteristik air limbah yaitu :
A. Karakteristik Fisik
B. Karakteristik Kimiawi
C. Karakteristik Bakteriologis
A. KARAKTERISTIK FISIK
1. Warna (color)
Terdiri dari limbah padat, limbah cair dan limbah gas. Warna limbah tergantung dari jenis
limbah yang dihasilkan. Limbah padat umumnya berwarna hitam, coklat, abu-abu bahkan
ada yang berwarna putih. Demikian pula limbah cair warnanya hampir tidak berbeda
dengan limbah padat, tidak terkecuali limbah rumah tangga.
2. Bau (odor)
Umumnya semua limbah mengandung bau yang tidak sedap dan busuk, kadang sangat
menyengat. Limbah gas umumnya berbau yang tajam, kadang-kadang limbah gas berupa
asap yang berwarna putih, abu-abu, kuning bahkan hitam.
Karater fisik untuk limbah cair yang dapat diidentifikasi di laboratorium terdiri dari :
1. Total Solids
Total Solids adalah semua zat padat yang terlarut dalam air limbah, terdiri dari Suspended
Solids dan Dissolved Solids/Filterable Solids
Total Solids merupakan ukuran banyaknya bahan padat yang terdapat dalam air limbah
tersebut. Suspended Solids adalah jumlah zat padat yang tersuspensi / akan mengendap
dalam waktu tertentu sedangkan filterable solids merupakan zat padat yang sangat halus
yang mampu lolos melalui saringan kertas dan tidak mengendap (terlarut).
2. Odors

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

55

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Odors adalah bau-bauan pada air limbah yang terjadi karena adanya gas hasil
dekomposisi bahan organik maupun yang berasal dari bau asli bahan buangan itu sendiri.
Hasil dekomposisi mikroorganisme anaerobik antara lain gas H2S yang merubah sulfates
menjadi sulfides. Senyawa yang menimbulkan bau pada air limbah antara lain : Ammes,
Ammonia, Drammes, H2S, Mercaptans, Organic sulfides dan skatole.
3. Temperature
Umumnya temperatur air limbah lebih tinggi dari air baku karena telah melalui berbagai
proses kegiatan industri maupun rumah tangga / perkotaan. Temperatur air limbah yang
tinggi akan mematikan kehidupan akuatik dan mengurangi oksigen yang terlarut dalam air
(Disolved Oxygen).
4. Colors
Warna air limbah yang baru biasanya abu-abu, dengan proses dekomposisi bakteri akan
meningkatkan BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan akan menurunkan DO (Dissolved
Oxygen) sampai titik nol sehingga warna air akan berubah menjadi hitam (septic). Warna
air limbah tanpa pengolahan sesuai warna aslinya khususnya limbah pabrik tekstil,
penyamakan kulit, pabrik cat dan pewarna.
B. KARAKTERISTIK KIMIAWI
Limbah rumah tangga dan perkotaan banyak mengandung zat organik dari buangan hasil
kegiatan di dapur (sisa makanan, sisa sayuran, lemak, minyak, sabun / deterjen, dll), dan
pencucian (sabun / deterjen), serta dari kamar mandi / WC ( tinja, air seni, shampoo,lysol
dll.), sedangkan limbah industri biasanya terdiri dari buangan zat organik dan anorganik
dan gas buang serta air panas.
Zat organik biasanya terdiri dari zat yang mengandung nitrogen misalnya : urea, protein,
amine, asam amino, dan zat yang tidak mengandung nitrogen misalnya : lemak,
sabun/deterjen, karbohidrat, selulosa dll.
Zat anorganik biasanya terdiri dari logam berat : Hg, Pb, Se, Cn, Cr dll. Sedangkan yang
bukan logam berat diantaranya : Fe, Zn, Cu, Si, Ca dll.
Karakteristik kimiawi yang dapat diidentifikasi di laboratorium adalah :
1. Organic Matter
Benda-benda organik umumnya terdapat pada air limbah berupa 75 % suspended solids
dan 35 % filterable solids terdiri dari zat organik.
Senyawa organik ini tersusun dalam senyawa/kombinasi Carbon (C), Hydrogen (H), dan
Oxygen (O) bersama dengan Nitrogen (N). Unsur lainnya juga ada seperti Sulphur,
Phosphorus, Iron dll..
Komponen organic matter adalah kelompok protein, carbohydrate, lemak, minyak
surfactant (deterjen), phenol, pestisida dan agricultural chemicals.
2. Inorganic Matter
Zat anorganik dalam air limbah terdiri dari : pH, Chlorides, Alkalinity, Acidity, Minerals (Fe,
N, P, S, Ca, Na dll.) serta toxic compounds (diantaranya logam berat) dan gas.
3. B3 (Bahan Beracun Berbahaya)

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

56

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Bahan beracun berbahaya terdiri dari toxic compounds diantaranya : logam berat, bakteri
berbahaya dan bahan radiant. Sumber pencemarnya dari industri dan pertambangan,
reaktor nuklir serta Rumah Sakit dan yang terakhir adalah dari peternakan.
C. KARAKTERISTIK BAKTERIOLOGIS
Bakteri dalam air limbah berfungsi untuk menyeimbangkan DO dan BOD. Sedangkan
bakteri pathogen banyak terdapat dari hasil buangan dari Peternakan (kandang ternak),
rumah sakit, laboratorium, sanatorium, buangan rumah tangga khususnya dari kamar
mandi/WC.
Limbah industri tidak banyak mengandung bakteri kecuali dari bahan produksinya memang
berhubungan dengan potensi adanya bakteri diantaranya : industri makanan/minuman,
pengalengan ikan/daging, abbatoir (pejagalan).
Beberapa mikroorganisme dalam air limbah antara lain :
1. Kelompok Protista : virus, bakteri, jamur, protozoa,
2. Kelompok Plants and animals : algae, worm.
Permasalahan yang terjadi akibat limbah tersebut pengelolaannya tidak memenuhi syarat
adalah :
1. Membahayakan kesehatan manusia karena dapat membawa suatu penyakit (vehicle)
ataupun secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan.
2. Kerugian secara ekonomis karena terjadi kerusakan pada benda ataupun bangunan
serta tumbuhan dan hewan.
3. Mengganggu atau membunuh kehidupan akuatik
4. Merusak keindahan (estetika) akibat bau busuk limbah, timbunan sampah / limbah
padat
5. Menjadikan berkembang biaknya serangga dan binatang pengganggu (tikus)
Berikut ini akan dijelaskan lebih terperinci permasalah yang terjadi akibat pembuangan
limbah dari sumbernya ke lingkungan :
1. Limbah rumah tangga
Limbah rumah tangga berupa limbah padat (sampah kering, sampah basah), limbah
kotoran manusia (tinja, air seni), limbah cair hasil kegiatan cuci-mencuci.
a. Limbah padat berasal dari sampah rumah tangga : kertas, plastik, kain, logam,
karton, rambut, sampah pekarangan (daun, ranting), sisa makanan
Limbah/sampah ini kalau tidak dibuang dengan baik dapat menimbulkan
masalah pencemaran lingkungan, mengganggu estetika, menjadi tempat
bersarangnya / berkembang biaknya serangga dan tikus. Lebih mendalam lagi
akan dibahas pada Bidang Studi Pengelolaan Sampah Padat.
b. Limbah kotoran manusia
Kotoran manusia berpotensi besar untuk menularkan penyakit kepada orang
lain, adapun mekanisme penularannya adalah sebagai berikut :

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

57

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Air

Mati

Lalat

Sayuran

Tinja

Host
Makanan/
minuman

Tangan

Tanah

Sakit
Gambar 1. Skema penularan penyakit dari tinja

Penjelasan skema di atas :


Tinja yang dibuang sembarangan akan mencemari lingkungan (tanah, air), dan apabila
dibuang ke tempat terbuka akan dihinggapi lalat, selain itu tangan / kuku yang tidak bersih
karena berhubungan dengan tinja merupakan sumber penyakit yang akan masuk ke mulut
melalui makanan / minuman. Lalat yang hinggap pada makanan/minuman dengan
membawa penyakit yang melekat pada anggota tubuhnya akan mencemari
makanan/minuman tersebut dan penyakitnya akan masuk melalui mulut manusia.
Tinja akan mencemari air baku kemudian air baku ini diminum manusia tanpa dimasak,
atau mencemari sayuran yang dicuci air tercemar tersebut. Sayuran yang tidak dimasak
(lalapan) masuk ke mulut manusia.
Beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui tinja manusia diantaranya adalah :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)
12)

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

Kholera
Dysentria
Gastro enteritis
Typhus abdominalis
Polio myelitis anterior acuta
Hepatitis infectiosa
Cacingan : cacing gelang, cacing pita, cacing kremi dll
Anthax
Leptospirosis
Schistosomiasis
Legionellosis
Dll

58

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

c.

Limbah cair hasil aktivitas pencucian


Kegiatan pencucian antara lain cuci pakaian, cuci alat dapur, cuci alat rumah
tangga lainnya. Limbah hasil cucian ini berupa kotoran lemak dan sabun /
deterjen. Lemak dan kotoran dari sisa makanan akan terurai dan menghasilkan
limbah yang mengeluarkan bau busuk akibat proses dekomposisi, selain itu
dapat menjadi media berkembang biaknya bakteri tertentu. Hasil dekomposisi
ini akan mengurangi jumlah Oksigen dalam air dan akan meningkatkan BOD
(Biochemical Oxygen Demand) yaitu kebutuhan Oksigen untuk menguraikan
benda organik dalam air melalui proses biokimia dengan satuan mg/l. Selain
BOD dikenal juga istilah COD (Chemical Oxygen Demand) yaitu kebutuhan
Oksigen untuk menguraikan bahan organik dalam air melalui proses kimiawi.
Dilain pihak Oksigen dibutuhkan untuk berlangsungnya kehidupan dalam air
(akuatik). Semakin semakin kotor air limbah maka semakin besar angka BOD.
Bahan deterjen potensial sekali menimbulkan pencemaran air. Deterjen adalah
senyawa dari golongan molekul organik yang digunakan untuk bahan pencuci
sebagai pengganti sabun batangan.. Pada saat baru diperkenalkannya bahan
detergen ini, busa yang terjadi keberadaanya dalam air relatif lama malahan
cenderung tetap.
Ada 2 jenis deterjen yaitu ABS (Alkyl Benzene Sulfonate) dan LAS (Linear
Alkyl Solfonate).
Pada mulanya sebelum tahun 1965, ABS banyak digunakan secara massal,
namun berhubung dampak negatifnya cukup besar yaitu busa yang terjadi
tidak dapat diuraikan secara alamiah maupun biologis sehingga
keberadaannya di dalam air mengakibatkan masalah pencemaran lingkungan,
mengganggu proses penjernihan air karena busanya memenuhi ruangan
mesin pompa. Selain itu ABS dapat mematikan kehidupan dalam air karena
busanya disamping toksik juga akan menutupi permukaan air terutama pada
pusaran terjunan atau riak air.
Sebagai alternatif pengganti ABS maka dibuat jenis LAS yang ramah
lingkungan karena busanya dapat diuraikan secara alamiah maupun biologis.

2. Limbah industri
Limbah ini tergantung dari jenis produk yang dibuat dan dihasilkan. Limbah yang
dihasilkan dari pendingin mesin terbuang ke saluran limbah masih dalam keadaan
temperatur tinggi sehingga mengakibatkan terganggunya kehidupan akuatik dan
mengganggu proses BOD. Selain itu air hangat akan meningkatkan pertumbuhan
tumbuhan air tertentu (algae) yang mengganggu kualitas air dan meningkatkan BOD
karena memerlukan Oksigen untuk keperluan hidupnya.
Limbah industri umumnya terdiri dari bahan organik atau anorganik. Beberapa zat
tersebut diantaranya : Khlorida, Sulfur, Acidity, Alkalinity, Fenol, deterjen, Mercury,
Plumbum, Arsenicum, Magnesium, Silica, Sulfida, Carbon, Ferrum, Ammonia, Nitrat,
Nitrit, Asbestos, Chromium, Borron, Cyanide, lemak, garam-garaman, zat warna, zat
pelarut dll.
3. Limbah perkotaan
Untuk daerah yang sudah maju system pembuangan limbahnya dibuat secara terpadu.
Limbah dari rumah tangga, perdagangan, perkantoran, perhotelan, restoran, tempattempat umum lainnya, tempat ibadah dll, disalurkan melalui suatu saluran limbah kota
yang bermuara pada suatu system pengolahan limbah cair terpadu.
Salah satu monument sejaran kesehatan lingkungan di kota Bandung adalah adanya
instalasi yang dinamakan Imhofftank. Imhofftank bukan hanya sekedar nama jalan,
namun nama itu mengandung arti penting dalam perkembangan penanganan limbah
kota Bandung. Nama tersebut diambil dari seorang ahli dari Belanda yaitu Van Imhoff
yang pada waktu itu telah berhasil membuat suatu instalasi pengelolaan limbah cair se
kota Bandung. Prosesnya sedemikian baik sehingga seluruh limbah yang masuk dapat
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

59

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

diolah dan dikeluarkan lagi dalam bentuk air jernih dan hasil endapan padatnya dapat
dijadikan pupuk. Namun saat ini instalasi tersebut hanya tinggal nama saja yang
diabadikan dalam nama sepotong jalan di wilayah Bandung Selatan.
4. Limbah berbahaya dari Rumah Sakit, Laboratorium, Sanatorium dan Reaktor Nuklir
Limbah ini berupa hasil buangan rumah sakit dan laboratorium yaitu alat kesehatan
habis pakai (infus set, jarum suntik, alat bedah, kapas, kasa pembalut, dll), sisa-sisa
obat-obatan, potongan organ tubuh manusia, bahan mengandung radio aktif.dll.
Limbah Sanatorium berupa bahan buangan infectious mengandung penyakit menular.
Limbah Reaktor Nuklir lebih berbahaya lagi karena hanya air pendingin reaktornya
saya sudah mengandung zat radiant, apalagi bahan intinya.
Berikut ini dapat diketahui tingkat yang mencemari tanah dan sumber air, baik pencemar
bakteriologis maupun pencemar kimiawi.

5m

6m

Sumber pencemar

2m

9m

Pencemaran bakteri
25 m

70 m

Pencemaran kimiawi

Gambar 2. Jarak pemcemaran bakteriologis dan kimiawi di dalam tanah


1. Pencemaran air tanah oleh bakteri dari sumber pencemar dapat mencapai jarak 11 meter
searah aliran air tanah. Untuk hal tersebut maka pembuatan sumur pompa atau sumur gali
harus berjarak minimal 11 meter dari sumber pencemar bakteriologis.
2. Pencemaran secara kimiawi dapat mencapai jarak 95 meter sesuai arah aliran air. Untuk hal
tersebut maka pembuatan sumur pompa atau sumur gali harus berjarak minimal 95 meter
dari sumber pencemar kimiawi.

III. UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH


A. LIMBAH RUMAH TANGGA
Limbah rumah tangga yang berbahaya adalah limbah kotoran manusia. Tidak disarankan
sama sekali untuk membuang tinja ke badan air.
Pembuangan tinja yang sehat melalui sarana Jamban Sehat yang hygienis. Dikatakan
sehat karena tidak mencemari lingkungan, dikatakan hygienis karena faktor kebersihan,
keamanan, estetika dan kenyamanan bagi penggunanya.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

60

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Jamban sehat dianjurkan menggunakan bowl type leher angsa (angsa latrine) dan
ditampung dalam septic tank. Type leher angsa ini dapat menghambat bau yang keluar
dari septic tank karena tertutup air sebatas water level.

Water level

Gambar 3. Bowl type angsa latrine


Konstruksi septic tank yang memenuhi syarat kesehatan adalah sebagai berikut :
manhole
Scum/buih

influent

Ruang
lumpur

Ruang pencerna

effluent

Ke sumur
peresapan
Cairan jernih

Lumpur/
sludge

Gambar 4. Konstruksi Septic Tank


Proses dekomposisi yang terjadi pada septic tank adalah sebagai berikut :

a. Proses kimiawi
Pada proses ini terjadi penghancuran tinja dan mereduksi zat padat 60 70 % menjadi
Lumpur (sludge) dan mengendap di dasar tangki. Zat-zat yang tidak hancur termasuk
lemak dan busa akan terapung dan membentuk lapisan yang akan menutupi permukaan
air., lapisan ini disebut scum.
Pada kondisi ini terjadi keadaan anaerob (tidak ada pengaruh udara)., hal ini akan
meningkatkan aktivitas bakteri anaerob dan bakteri fakultatif anaerob untuk melakukan
proses dekomposisi lanjutan.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

61

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

b. Proses biologis
Proses ini merupakan lanjutan proses kimiawi diatas dengan meningkatnya aktivitas
bakteri anaerob untuk menghancurkan sludge dan scum dengan hasil meningkatnya
jumlah cairan dan gas serta pengurangan bahan padat (sludge).
Akibat positif yang terjadi adalah dengan tidak cepat penuhnya septic tank serta terjadi
penghancuran bakteri pathogen. Cairan yang keluar melalui effluent kadar BOD nya
rendah dan tidak mengandung bakteri pathogen, sebaiknya aliran effluent dimasukkan ke
dalam sumur peresapan. Sludge yang dihasilkan dapat diambil langsung dengan aman
dan dapat digunakan untuk pupuk tanaman.
Septic tank yang dibuat harus memenuhi ketentuan berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Dinding harus terbuat dari bahan kedap air


Aliran effluent disalurkan melalui daerah peresapan
Dapat menampung tinja dengan volume sekitar 100 liter/orang/hari
Waktu bertahan air limbah dalam tangki (detention period) minimal 24 jam
Kapasitas raung Lumpur 30 liter/orang/tahun, pengambilan Lumpur minimal 4 tahun
Lantai dasar tangki miring kearah effluent
Pipa influent lebih tinggi + 2,5 cm daripada pipa effluent
Harus ada pipa udara untuk membuang gas hasil proses dekomposisi
Harus ada manhole (lubang cek) untuk menguras tangki
Jangan sekali-sekali membuang cairan antiseptic ke septic tank (lysol, karbol wangi,
pencuci porselen, deterjen dll.) karena akan mematikan bakteri anaerob sehingga
mengganggu proses dekomposisi.
Cara menghitung volume tangki :

Misalnya jumlah anggota keluarga 6 orang, jangka pengurasan 5 tahun, detention period
2 hari :
Besarnya ruang pencerna = waktu bertahan air selama 2 hari = 2 hari x 6 orang x 100
liter = 1.200 liter
Besarnya ruang Lumpur = 6 orang x 30 liter x 5 tahun = 900 liter
Jumlah volume tangki = 1.200 liter + 900 liter = 2.100 liter = 2,1 meter kubik
Apabila lebar tangki 1 m, kedalaman 1 meter, memerlukan panjang tangki = 2,1 m.
B. LIMBAH INDUSTRI
1. Pengolahan secara lengkap
Pengolahan limbah industri secara lengkap dan canggih melalui 6 tahapan :
a. Pengolahan Pendahuluan (Pre Treatment)
b. Pengolahan Pertama ( Primary Treatment)
c. Pengolahan Kedua (Secondary treatment)
d. Pengolahan Ketiga (Tertiaty Treatment)
e. Pembunuhan Kuman (Desinfection)
f. Pembuangan Lanjutan (Ultimate Disposal)
a. Pengolahan Pendahuluan (Pre Treatment)
Sebelum melalui proses pengolahan perlu dilakukan tindakan pembersihan berupa
pengambilan benda terapung dan pengambilan benda yang mengendap seperti
Lumpur dan pasir. Pengambilan benda-benda kasar ini dapat dilakukan secara
otomatis atau manual.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

62

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

b. Pengolahan Pertama (Primary Treatment)


Pengolahan Pertama ini bertujuan untuk mengambil benda-benda padat yang halus
dan terlarut dalam air limbah. Prosesnya melalui pengendapan atau pengapungan.
Dalam proses ini dapat digunakan bahan kimia koagulan untuk memisahkan benda
cair dan benda padat dan mengumpulkan benda padat yang terlarut. Proses ini terjadi
pada suatu bak pengendapan.
c. Pengolahan Kedua (Secondary treatment)
Pada proses ini berlangsung proses biologis untuk mengurangi bahan-bahan organik
melalui mikroorganisme yang terdapat di dalamnya.
Pada tahap ini terjadi 2 proses :
1) Proses penambahan oksigen (aerasi)
2) Proses pertumbuhan bakteri
Proses aerasi dimaksudkan untuk mengikat zat organik maupun anorganik berupa gas,
ion, colloidal, cairan atau bahan terlarut lainnya. Hasil ikatannya berupa bahan padat
ataupun cair yang sudah tidak berbahaya.
Proses pertumbuhan bakteri dimaksudkan untuk mengikat atau menghancurkan zatzat organik.
d. Pengolahan Ketiga (tertiary Treatment)
Pengolahan ketiga adalah lanjutan dari pengolahan tahap sebelumnya. Pada tahap ini
terdapat beberapa jenis sarana pengolahan antara lain :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Saringan Pasir
Saringan Multinedia
Precoal Filter
Microstaining
Vacuum Filter
Penyerapan (absorbtion)
Pengurangan besi dan mangaan
Perubahan CN
Osmosis bolak-balik

e. Pembunuhan Kuman (Desinfection)


Proses ini bertujuan untuk menghilangkan mikroorganisme pathogen dalam air limbah.
Proses ini menggunakan bahan kimia desinfektan antara lain Chlorine, Bromine,
Rodine, Permanganate, Logam berat, asam dan basa kuat.
Syarat penggunaan bahan kimia ini adalah :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Seberapa kuat daya toksisnya


Berapa lama waktu kontak yang dibutuhkan
Seberapa jauh efektifitasnya
Dengan dosis rendah apakah mampu
Tidak toksis terhadap manusia dan hewan
Tahan lama dalam air
Biaya rendah

f. Pembuangan Lanjut (Ultimate Disposal)

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

63

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Hasil akhir dari pengolahan limbah ini adalah bahan cair dan bahan padat. Bahan cair
yang sudah tidak berbahaya dapat dibuang ke sungai, sedangkan bahan padat berupa
limbah Lumpur yang sudah tidak berbahaya akan menjadi masalah apabila tidak
dikelola dengan baik karena akan terjadi penumpukan di lokasi pembuangan.
Umumnya Lumpur ini kandungan nutrisinya (N,P,K) rendah sehingga kurang baik
untuk pupuk. Untuk pembuangan ke tempat akhir memerlukan biaya pengangkutan
yang cukup mahal. Untuk memprmudah proses pengangkutan perlu dilakukan
beberapa tahap pengolahan lagi antara lain :
1)
2)
3)
4)
5)

Proses Pemekatan
Proses Penstabilan
Proses Pengaturan
Proses Pengurangan Air
Proses Pengeringan

Limbah padat ini dapat dimanfatkan untuk keperluan pengurugan/pemadatan lahan.


2. Pengolahan secara sederhana
Pengolahan
a.
b.
c.

sederhana dilakukan melalui 3 tahap :


Pengenceran (Dilution)
Kolam Oksidasi (Oxydation Pond)
Pembuangan (Irrigation)

Proses Pengenceran
Untuk limbah cair dilakukan penambahan air bersih dan diencerkan sampai
mencapai konsentrasi tertentu sehingga konsentrasi toksisitasnya menjadi rendah
baru dibuang ke badan air.
Proses ini tidak populer karena memerlukan air pengencer cukup banyak serta
memerlukan tempat yang luas, sedangkan apabila terdapat bahan berbahaya
radioaktif dan bahan beracun yang dengan konsentrasi kecil masih berbahaya tidak
dapat diatasi dengan cara ini.
Proses Kolam Oksidasi
Prinsip kerjanya menggunakan sinar matahari, kehidupan algae, bakteri dan oksigen.
Dalam proses ini limbah dibersihkan secara alamiah.

Udara luar

Zone Aerobik

Zone Fakultatif
Zone Anaerobik
Zone Anaerobik

Gambar 5. Kolam Oksidasi


Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

64

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Algae (ganggang) dengan klorophilnya melakukan proses photosynthesis


menggunakan sinar matahari, sehingga berkembang subur. Pada proses ini terjadi
pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh klorophil dibawah pengaruh sinar
matahari terbentuk Oksigen (O2). Oksigen ini oleh bakteri aerobik digunakan untuk
melakukan dekomposisi zat organik yang terdapat dalam air limbah. Selain itu terjadi
proses pengendapan. Endapan zat organik akan diproses oleh bakteri anaerobik
untuk dihancurkan. Hasli akhirnya akan terjadi air limbah yang BOD nya rendah dan
siap untuk disalurkan ke badan air.
Irigasi
Air limbah yang telah melalui proses pembersihan dialirkan ke parit-parit terbuka,
akan terjadi resapan ke dalam tanah. Air limbah ini akan digunakan untuk pengairan
pertanian yang berfungsi sebagai pupuk. Air limbah tanpa proses pengolahan yang
langsung dialirkan dengan cara ini khususnya limbah dari peternakan, produksi susu,
rumah potong hewan, dll. Yang mana kandungan zat organik dan proteinnya cukup
tinggi dan tidak mengandung senyawa anorganik yang berbahaya.
C. LIMBAH RUMAH SAKIT
Limbah dari instalasi ini perlu didesinfeksi dulu sebelum dibuang, kalau perlu semua
limbah harus dibakar pada incinerator.
D. LIMBAH PERKOTAAN
Penanganan limbah perkotaan prinsipnya tidak berbeda jauh dengan penanganan
limbah rumah tangga hanya saja dalam jumlah besar.
Seluruh limbah perkotaan disalurkan ke suatu tempat tertentu yang telah tersedia unit
pengolah air limbah (wastewater treatment plan) dengan proses yang mirip dengan
proses yeng terjadi pada septic tank seperti apa yang telah dirintis oleh Van Imhoff
melalui ciptaannya Imhoff Tank.
Kenyataan yang terjadi sampai saat ini air limbah perkotaan semuanya dibuang ke
sungai yang melintasi kota yang bersangkutan sehingga sungai menjadi tempat
penampungan limbah terbesar baik dari rumah tangga maupun dari perkotaan. Kondisi
buruk ini diperparah dengan pembuangan limbah padat (sampah) ke sungai.
Penanganannya harus melibatkan seluruh jajaran pemerintahan dan masyarakat.
E. LIMBAH NUKLIR
Limbah ini perlu mendapatkan penanganan khusus karena mengandung bahan
radioaktif. Penanganan limbah ini memerlukan pembahasan khusus.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

65

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

KISI KISI :
1.
2.
3.
4.
5.

Sebutkan definisi limbah menurut Wilgooso, USEPA dll.


Sebutkan jenis-jenis limbah
Apa yang dimaksud dengan Total Solids dan Dissolved Solids
Jelaskan tentang BOD, COD, DO
Jelaskan mekanisme pencemaran dari tinja ke manusia
(tangan, lalat, sayuran dll)
6. Sebutkan penyakit yang dapat ditularkan melalui tinja
7. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis bahan deterjen dan
permasalahannya
8. Jelaskan mekanisme pencemaran bacterial dan pencemaran
kimiawi pada lapisan tanah
9. Jelaskan tentang type jamban sehat
10. Jelaskan proses yang terjadi dalam septic tank
11. Sebutkan beberapa bagian septic tank
12. Pelajari tentang perhitungan sederhana kapasitas septic tank
13. Jelaskan tentang proses pengolahan lengkap limbah industri (6
macam Treatment)

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

66

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

DAFTAR PUSTAKA
Chanlett, Emil T. Environmental Protection. Mc Graw Hill. New York. 1979
Hammer, Mark J. Water and Wastewater Technology. New York. John Wiley and Sons Inc. 1977
Metcalf & Eddy. Wastewater Engineering Treatment Disposal Reuse. Mc Graw Hill Kogakusha.
New York 1979
Steel EW, Terance J Mc Ghee. Water Supply and Sewerage. Fifth Ed. Mc Graw Hill Kogakusha.
Tokyo. 1979
Sukidjo Notoatmodjo. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT. Rineka Cipta. Jakarta. 2003
Sugiharto. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Universitas Indonesia. Jakarta. 1987
Tim Penyusun Bidang Studi PTA. Pedoman Bidang Studi Pembuangan Tinja dan Air Limbah pada
Institusi pendidikan Sanitasi. Kesehatan Lingkungan. Pusdiknakes Depkes RI.
Jakarta. 1990
Wagner EG, JN Lannoix. Excreta Disposal for Rural Area and Small Communities. WHO.
Geneva.1958

WHO. Fact Sheet on Environmental Sanitation. Robens Institute, University of Surrey, UK.
Geneva. 1996

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

67

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

(MODUL IV)
Oleh : Suyono,M.Sc & Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

I. DEFINISI DAN PRINSIP DASAR


A. DEFINISI DAN BATASAN
Hygiene Makanan adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik
beratkan aktivitasnya pada usaha-usaha kebersihan / kesehatan dan keutuhan
makanan itu sendiri (whole someness of food)
Sanitasi Makanan adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik
beratkan kegiatannya kepada kesehatan lingkungan dimana makanan dan
minuman itu berada (food environment)
Dalam pembahasan ini minuman termasuk dalam kategori makanan.
Peran Hygiene & Sanitasi Makanan (HSM) sangat penting khususnya
apabila telah menyangkut kepentingan orang banyak (umum), sehingga mata
kuliah ini sangat berkaitan dengan mata kuliah Sanitasi Tempat-tempat
Umum (Public Health Sanitation) yang berhubungan dengan HSM
diantaranya : Hotel, Restoran, Terminal/Pelabuhan Udara/Laut, Tempat
Rekreasi, Angkutan Umum (Kereta Api/Pesawat Udara/Kapal Laut) dll..
B. PRINSIP DASAR HYGIENE & SANITASI MAKANAN
1).

LIMA PRINSIP HYGIENE MAKANAN

Dalam membahas Hygiene Makanan dikenal 5 prinsip (Five


Principles of Food Hygiene) yaitu :
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

68

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

1.
2.
3.
4.
5.
2).

Pengotoran Makanan (Food Contamination)


Keracunan Makanan (Food Infection & Food Intoxication)
Pembusukan Makanan ( Food Decomposition)
Pemalsuan Makanan ( Food Adulteration)
Pengawetan Makanan (Food Preservation)

ENAM PRINSIP SANITASI MAKANAN


Sedangkan dalam membahas Sanitasi Makanan dikenal 6 prinsip (Six
Principles of Food Sanitation) yaitu :
1.
Kebersihan Alat-alat Makanan (Cleanliness of Food Utensils
/Equipment)
2.
Cara Penyimpanan Makanan ( Food Storage)
3.
Cara Pengolahan Makanan (Food Production) terdiri dari :
a. Kebersihan Dapur ( Kitcen Sanitation)
b. Kebersihan Pengolahan (Method of Food
Processing)
c. Kesehatan Individu Penjamah Makanan
(Food Handlers Individual Health)
4.
Cara Penyimpanan Dingin ( Food Refrigeration)
5.
Cara Pengangkutan Makanan (Food Transportation)
6.
Cara Penyajian Makanan (Food Serving)

C. PERSYARATAN MAKANAN SEHAT


1). Secara Kualitas
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Dilihat secara fisik segar dan baik


Bau, warna dan rasanya wajar
Tidak ada tanda-tanda pembusukan
Kemasan tidak bocor
Tidak beracun
Asli, bukan hasil pemalsuan makanan
Nilai gizi baik
Tidak mengandung kuman penyakit
Sesuai dengan waktu kadaluarsanya (expired date)

2). Secara kuantitas


Kuantitas dalam hal ini menyangkut kecukupan dalam memenuhi
kepuasan pemakainya diantaranya :
1. Jumlah volumetris
2. Jumlah unsur penting dalam makanan
3. Jumlah kalori
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

69

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

D. PERMASALAHAN KESEHATAN
Makanan dapat menimbulkan gangguan kesehatan karena penyebab
sebagai berikut :
1). Penyakit karena bakteri dalam makanan (Food Borne Disease)
Penyakit yang ditimbulkan karena makanan tidak memenuhi syarat
kesehatan diantaranya adalah :
1.
Cholera Karena Vibrio Cholera
2.
Dyseteria amoeba karena Entamoeba hystolytica
3.
Dysenteria basiler karena Bacillus dysentriae
4.
Typhus abdominalis karena Salmonella/Shigella Typhi
5.
Botulism karena Mycobacterium botulinum
6.
Polio myelitis anterior acuta
7.
Listeria monocytogenes
8.
Foodborne trematodes
9.
Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE)
10. Dan lain-lain
2). Penyakit karena keracunan makanan (Food Intoxication)
Adanya racun dalam makanan akibat tercemar bahan kimia dan jenis
pembangkit rasa atau zat warna bukan untuk makanan diantaranya
adalah :
1.
Keracunan karena wadah makanan yang rusak (logam, plastik
dll)
2.
Karena tercemar dari luar (karena kemasan bocor, pada proses
pembuatannya atau pada saat penyimpanannya tercemar)
3.
Karena bahan makanan tersebut sengaja dicampur bahan lain
yang toksis (pemanis, pewarna, penyedap)
4.
Karena allergi makanan (kepiting, udang dll.)
Food borne diseases jumlahnya relatif meningkat karena beberapa
penyebab antara lain :
1.
2.
3.
4.

Akibat globalisasi supplai makanan.


Akibat kelalaian dalam mengenal pathogenitas penyakit pada
wilayah geografis yang baru
Pelancong, pengungsi, dan imigran terpapar oleh bahaya
foodborne yang tidak dikenal ketika bepergian
Perubahan mikroorganisme akibat perubahan populasi
menimbulkan perubahan evolusi pathogen baru, adanya

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

70

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

5.
6.

perubahan virulensi, pengenbangan kekbalan terhadap antibiotik


dan perubahan kondisi lingkungan
Perubahan pada populasi manusia yang rentan akibat malnutrisi,
infeksi HIV dan penyebab lainnya
Perubahan gaya hidup akibat kebiasaan makan yang bukan
olahan sendiri yaitu dari rsetoran, catering, makanan siap saji
(fast food), kantin dan lainnya

E. PRINSIP-PRINSIP HYGIENE MAKANAN


1. Pengotoran Makanan (Food Contamination)
a. Pengotoran karena faktor intrinsik (dalam makanan sendiri) :
(1) Kandungan asli dari bahan makanan itu sendiri :
(a) Cianida dari singkong atau kentang
(b) Asam jengkol pada jengkol
(c) Asam bongkrek dari tempe bongkrek
(2)

Kandungan bukan Asli dari makanan sendiri :


(a) Racun Botulisme karena adanya bakteri Chlostridium
botulinum pada makanan kaleng
(b) Cacing pita pada daging babi
(c) Cacing Trichinella spiralis pada daging sapi
(d) Cacing usus dalam usus ternak

b. Pengotoran karena faktor ekstrinsik (dari luar makanan) :


(1) Debu
(2) Peralatan kotor
(3) Pembungkus kotor
(4) Kemasan bocor
(5) Alat penyimpan makanan tidak bersih
(6) Pengolahan makanan yang tidak sehat
(7) Proses pengolahan yang salah mengakibatkan rusaknya
makanan
(8) Penyimpanan yang salah
(9) Pengolah atau Penjamah makanan sambil merokok
(10) Pekerja atau penjamah tidak menggunakan masker pada
saat pengolahan dan proses penyimpanan
(11) Penjamahan yang salah (makanan dipegang langsung
tangan tanpa sendok atau sarung tangan) dll.
2. Keracunan Makanan (Food Infection & Food Intoxication)
a. Jenis racun (toxin/poison)
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

71

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

(1)

Keracunan karena jasad renik (food infection)


(a) Mikroorganisme penyebab gangguan kesehatan
tantara lain Cholera, Dyseteri, Typhus, Botulism
(b) Makroorganisme menyebabkan gangguan kesehatan
antara lain cacing-cacing perut
(c) Setiap keracunan makanan karena jasad hidup
disebut Food Infection

(2)

Keracunan karena unsur kimia dan radioaktif (food


intoxication)
(a) Keracunan karena zat kimia anorganik (logam berat)
(b) Keracunan karena zat kimia organik (insektisida/
pestisida)
(c) Keracunan karena bahan radioaktif
(d) Setiap kearacunan karena bahan kimia disebut Food
Intoxication

b. Beberapa jenis keracunan makanan


(1) Keracunan makanan karena bakteri (Bacterial Infection)
(a) Cholera
(b) Dysenteria
(c) Typhus abdominalis
(d) Botulism
(e) TBC karena dari susu sapi yang menderita dll.
(2)

Keracunan makanan karena Parasit (Parasitic Infection)


(a) Ascariasis
(b) Taeniasis
(c) Trichinosis
(d) Oxyuriasis

(3)

Keracunan makanan karena kontak


Intoxication)
(a) Keracunan karena bahan radiasi

(4)

Keracunan makanan karena bahan kimia (Chemical


Intoxication)
(a) Makanan mengandung logam berat Pb
(b) Makanan mengandung logam berat Cd
(c) Makanan mengandung logam berat As
(d) Makanan mengandung logam berat An
(e) Makanan mengandung Pestisida/Insektisida

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

fisik

(Physical

72

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

(f)
(g)

Makanan mengandung zat pewarna bukan untuk


makanan (pewarna pakaian dll)
Makanan mengandung zat pengawet bukan untuk
makanan (formalin dll.)

(5)

Keracunan
makanan
karena
tumbuhan
(Poisonous Plant)
(a) Makanan mengandung racun singkong
(b) Makanan mengandung racun jamur
(c) Makanan mengandung racun kentang
(d) Makanan mengandung racun jengkol
(e) Makanan mengandung racun bongkrek

beracun

(6)

Keracunan makanan karena racun hewan (Poisonous


Animal)
(a) Keracunan kepiting
(b) Keracunan Rajungan
(c) Keracunan Udang
(d) Keracunan Kerang
(e) Keracunan karena alergi daging babi
(f) Keracunan karena alergi daging kambing

3. Pembusukan Makanan ( Food Decomposition)


Pembusukan makanan terjadi karena :
a. Karena prosesnya kurang sempurna (kurang matang)
b. Karena proses penyimpanannya kurang baik (tanpa pendingin,
kena sinar matahari, terkena udara terlalu lama, tercemar bahan
lain)
c. Karena penjamahnya ceroboh (tanpa sarung tangan atau
masker, pencucian kurang bersih)
d. Karena bahan bakunya kurang baik (sudah ada gejala
membusuk, terkena penyakit)
4. Pemalsuan Makanan ( Food Adulteration)
Pemalsuan terjadi karena produsen ingin mendapatkan untung
besar dengan menggunakan bahan baku yang murah dengan
kualitas rendah :
a. Pemalsuan merk dagang (logo dan namanya sama atau
dimiripkan dengan nama merk dagang yang sudah terkenal
misalnya ikan sardines merk Botan dipalsu atau dimiripkan

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

73

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

b.

c.
d.
e.

dengan merk Boton dengan logo, gambar dan disain


kemasannya hampir sama)
Pemalsuan bahan baku (daging burung rawa atau ayam ras
jantan dikatakan sebagai ayam kampung, daging import
dikatakan daging lokal karena lebih murah, import daging
illegal daging bison dikatakan sebagai daging sapi)
Pemalsuan warna (warna daging dibuat cerah seolah masih
segar)
Pencampuran santan atau air pada susu untuk menambah
takaran
Pencampuran air gula merah pada madu untuk menambah
takaran

5. Pengawetan Makanan (Food Preservation)


Pengawetan makanan diperlukan agar makanan yang cepat
membusuk menjadi tahan lama. Ada beberapa cara pengawetan
makanan antara lain :
a. Pendinginan : menyimpan makanan ditempat pendingin
(refrigerator) untuk menghambat pertumbuhan bakteri
pembusuk
b. Pengeringan : dengan pengeringan (dewaterisasi) bakteri
pembusuk akan mati
c. Pengeringan dengan menjemur dibawah terik matahari
(biasanya diatas atap) untuk beberapa hari dengan tujuan
membuang racun dalam makanan tersebut (gaplek/gatot dari
singkong beracun)
d. Ditanam dalam tanah untuk menetralkan racun (jengkol
menjadi beweh atau sepi)
e. Penggaraman : pencampuran makanan dengan garam dapur
(NaCl) konsentrasi tinggi akan mematikan bakteri.
f. Pengasaman : ada upaya mengawetkan makanan dengan
pengasaman menggunakan suatu buah yang berasa asam
untuk mencegah hidupnya bakteri, biasanya untuk ikan
g. Pengasapan : khususnya ikan dan daging, ditaruh diatas asap
pembakaran kayu
h. Pemanisan : mengawetkan makanan dengan menggunakan
larutan gula (manisan) akan mematikan bakteri pembusuk
i. Penipisan, dikeringkan kemudian dicampur rempah-rempah
(dendeng), khusus untuk daging dan ikan

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

74

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

F. PRINSIP-PRINSIP SANITASI MAKANAN


1.

Kebersihan Alat-alat Makanan (Cleanliness of Food Utensils/Equipment)


Alat makanan / minuman harus selalu dalam keadaan bersih.
Penularan penyakit dapat terjadi karena alat makan/minum kurang
bersih. Selain itu peralatan makanan tersebut terbuat dari bahan
logam yang bersifat racun yang luntur karena asam, garam atau
pemanasan tinggi. Nama logam tersebut antara lain Antimon,
Cadmium, Plumbum, Tembaga, Kuningan atau Besi.
Cara pencucian alat makanan dan minuman sangat berperan penting
dalam mencegah timbulnya penyakit.
Penggunaan sabun / deterjen digunakan untuk dish washing
(pencucian piring) dan glass washing (pencucian gelas serta untuk
food utensils & equipment washing (pencucian alat-alat lainnya
misalnya sendok, garpu, pisau roti, dll)
Pencucian alat makan dan minum yang berkapasitas besar dilakukan
sebagai berikut :
a. Three Compartment Sink (Alat pencuci 3 ruang)
Sebelum proses pencucian dimulai, semua peralatan harus
dibebaskan dulu dari kotoran sisa makanan pada preparation table
( meja persiapan untuk mengumpulkan piring/gelas kotor).
Alat ini terdiri dari 3 ruang / bak :
1) Bak I disebut bak pencuci (wash) : pada bak ini terdapat air
hangat ( + 150O F ) serta detergent
2) Bak II disebut bak pembilas ( rinse) : dalam bak ini piring dan
gelas dibilas dengan air panas 160 170O F
3) Bak III disebut bak pembilas akhir (final rinse) atau disebu
desinfection. Pada proses ini pembilasan dengan air panas
dengan suhu 180O F dimaksudkan untuk menghilangkan sisasisa lemak yang mungkin masih tertinggal sekaligus
membunuh mikroorganisme penyakit. Apabila sulit
mendapatkan air panas sesuai suhu tersebut maka desinfeksi
dapat dilakukan dengan bahan kaporit 1 mg/l atau 1 ppm
dengan catatan semua peralatan harus bebas dari lemak.
Setelah selesai maka piring dan gelas bersih tersebut dikeringkan
pada alat drip board (meja penuntas), pengeringan denga dianginanginkan (air dried), tidak diperkenankan mengeringkan alat
dengan lap, tissue atau serbet. Setelah kering boleh dilap dengan
serbet bersih, lalu disimpan pada rak penyimpan yang tertutup
(bebas dari debu dan serangga / binatang pengganggu)
b. Dish washing & glass washing machine (mesin cuci piring & gelas)

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

75

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Untuk pencucian dalam jumlah besar, biasanya menggunakan


peralatan otomatik yang melakukan pencucian sistem ban
berjalan, cara ini disebut Dish & Glass Washing type conveyer yang
terletak di washing area (area pencucian) dan scullery (tempat
peralatan kotor) dibagian dapur.
Pada unit peralatan ini terdiri dari 3 bagian :
1) Wash tank
2) Power Rinse Tank
3) Final Rinse Tank
Mesin ini dapat bekerja maksimal tergantung dari :
1) Jenis deterjen yang digunakan
2) Temperatur masing-masing tank
3) Tekanan (pressure) air pencuci
Wash Tank :
Penyemprotan menggunakan deterjen pada suhu air 150O F. Pada
temperatur tersebu diharapkan semua kotoran dapat dibersihkan.
Dijaga jangan sampai terlalu panas karena deterjen dan sisa
makanan malah akan melekat pada peralatan makan/minum.
Power Rinse Tank :
Penyemprotan tanpa deterjen pada suhu air 160 170O F, tujuan
pencucian ini untuk membersihkan sisa makanan yang mungkin
masih ada sekaligus membilasnya.
Final Rinse / Desinfection :
Ini merupaka rangkaian proses terakhir pencucian alat
makan/minum. Penyemprotan air temperatur 180O F. Deterjen
yang digunakan pada proses ini berbeda dengan deterjen pada
proses pertama, deterjen disini berfungsi sebagai sabun pengering
(dry detergent) sekaligus sebagai pembasmi kuman (desinfection).
Temperatur tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari 180O F
karena menyangkut aspek desinfeksi dan keutuhan alat.
2.

Cara Penyimpanan Makanan ( Food Storage)


Ada 2 hal pokok dalam sistem storage ini :
a.
Pengaturan (arrangement)
b.
Kesehatan (Sanitation)
Pengaturan (arrangement)
a. Barang-barang dapat mudah disimpan atau diambil
b. Sistem FIFO (First In First Out)

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

76

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

c. Traffic System yang baik :


1) Main traffic : lebarnya 2 x pintu biasa (1,6 m)
2) Block Traffic : Lebar minimal dapat dilalui orang
berpapasan (2 x 0,4 m)
3) Round The Corner Traffic : lalu lintas keliling, lebar
minimal 0,5 m
4) Between Rack Traffic : lalu lintas antar rak, minimal 1 x
0,4 m
Kesehatan gudang
a. Konstruksi Ratproof dan Insectproof
b. Tinggi rak barang minimal 30 cm untuk :
1) Mencegah tikus bersarang
2) Mencegah tumbuhnya lumut/jamur karena tidak lembab
3) Mudah dibersihkan dan diawasi
c. Ada ruang terbuka pada susunan paling atas (ceiling) minimal 50
cm dari plafon untuk tujuan :
1) Mendapat pencahayaan dan ventilasi yang cukup
2) Tidak dapat dipanjati tikus dari/ke plafon
3. Cara Pengolahan Makanan (Food Production) terdiri dari :
a. Kebersihan Dapur ( Kitcen Sanitation)
1) Tersedia air bersih yang cukup dan memenuhi syarat
kesehatan
2) Pembuangan air limbah memenuhi syarat kesehatan
3) Pembuangan sampah memenuhi syarat kesehatan
4) Ratproof & Insectproof
5) Pencahayaan dan ventilasi yang baik
b. Kebersihan Pengolahan (Method of Food Processing)
1) Cara-cara penjamahan makanan yang memenuhi syarat
kesehatan dan estetika
2) Nilai nutrisis makanan memenuhi syarat
3) Teknik memasak yang baik, menarik dan lezat
4) Cara pengolahan yang abaik dan bersih
5) Penerapan dasar-dasar Huygiene/Sanitasi makanan
6) Penerapan Hygiene/Sanitasi Perorangan
7) Kesehatan petugas pengolah/penjamah makanan : yang sakit
dilarang melakukan pekerjaannya
c. Kesehatan Individu Penjamah Makanan (Food Handlers Individual
Health)
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

77

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Tugas penjamah makanan adalah mempersiapkan, mengolah,


menyimpan, mengangkut dan menyajikan makanan. Untuk itu harus
diperhatikan :
1) Kesehatan/kebersihan masing-masing individu : pakaian,
rambut, kuku, tangan, telinga, kulit, mata dll.
2) harus
memiliki
dasar-dasar
pengetahuan
Ilmu
Hygiene/Sanitasi Makanan : pernah mengikuti pelatihan dari
Instansi berwenang
3) Memiliki Surat Keterangan Kesehatan (Health Sertificate) :
bebas penyakit menular, bebas penyakit kulit, bukan human
carrier, kalau perlu telah divaksinasi untuk mencegah
menyakit menular tertentu, tidak buta warna, secara fisik
dapat melakukan pekerjaan yang ditugaskan.
4) Penggunaan alat pelindung diri dan pelindung kebersihan
makanan : sarung tangan, masker, penutup rambut, celemek
dll.
5) Penggunaan pakaian kerja
4. Cara Penyimpanan Dingin ( Food Refrigeration)
Penyimpanan dingin disebut Refrigeration, alatnya disebut Refrigerator
Bermacam-macam fungsi Refrigerator antara lain :
a.

Ditinjau dari bentuk fisiknya :


1) Thermos
2) Ice Box
3) Frigidair (Freezer)
4) Koelkast
5) Walk In Refrigerator (lemari es besar)
6) Room Refrigerator (kamar pendingin)

b.

Ditinjau dari tenperaturnya :


1) Room Temperature Storage : 27 30O C
2) Cool storage : 10 20O C
3) Cold Storage : 0 10O C
4) Freeze Storage : 0O C
5) Deep Freeze Storage : - 0O C

c.

Ditinjau dari macam makanannya :


1) Buah-buahan, sayuran dan susu harus disimpan pada Cool
Storage, terlalu dingin akan merusak sel bahan makanan
tersebut
2) Makanan kaleng bukan sayuran/buah-buahan dapat
disimpan pada Cold storage

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

78

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

3) Daging dan ikan dapat disimpan pada freeze atau deep freeze
5. Cara Pengangkutan Makanan (Food Transportation)
a.
Alat pengangkutan makanan harus bersih, umumnya terbuat dari
bahan stainless steel atau aluminium, tidak dianjurkan dari bahan
besi karena mudah berkarat
b. Pengangkutan makanan harus baik, tertutup terutama makanan
terbuka dan tidak terlalu jauh dari dapur ke ruang penyajian
(melalui jalan singkat)
c.
Tenaga
pengangkut/penyaji
makanan
harus
terampil,
berpakaian rapi, penampilan bersih karena menyangkut estetika
harus kelihatan menarik
6. Cara Penyajian Makanan (Food Serving)
a.
Tempat / ruang penyajian harus bersih, tidak terganggu
pemandangan yang menjijikan, bebas dari gangguan serangga
maupun pemandangan lainnya
b. Alat penyajian harus sesuai peruntukannya, sesuai bahannya,
dijamin dalam keadaan bersih
c.
Kebersihan dan penampilan penyaji makanan, harus
diperhatikan :
1) Pakaian seragam bersih dan rapi
2) Kebersihan diri penyaji
3) Kesehatan penyaji
4) Penambilan penyaji (appearance)
5) Sikap penyaji (attitude)
6) Menguasai standard teknik penyajian untuk umum (food
service, table setting, table decoration, table manner)

II. PENANGANAN BEBERAPA JENIS MAKANAN


A. BAHAN BAKU DAN JENIS MAKANAN KHUSUS
Beberapa jenis makanan dan bahan bakunya perlu ditangani secara
khusus sehubungan dengan karakteristiknya yang mudah berubah dan
membusuk.
Beberapa jenis bahan baku dan makanan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Daging
Daging segar dapat dilihat dari fisiknya yaitu warna, konsistensi dan
baunya.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

79

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

a. Warna daging yang baik terlihat cerah kemerah-merahan tapi tidak


pucat. Daging yang tidak segar terlihat berwarna pucat atau
kebiru-biruan bahkan kehitam-hitaman.
Pemalsuan warna daging
dengan menambah cairan pewarna
daging. Dengan zat pewarna ini warna daging kelihatan lebih
cerah bagian luarnya, apabila disayat maka bagian dalamnya akan
memperlihatkan warna asli daging tidak segar
b. Konsistensi yaitu kekenyalan daging, daging segar apabila ditekan
dan apabila dijatuhkan ke atas meja akan menunjukkan kekenyalan
normal ( berdenyut), apabila diraba terasa basah namun kering
(tidak berlendir)
c. Bau daging segar adalah spesifik, tidak menyengat dan tidak
terlalu tercium dibandingkan dengan bau daging yang tidak segar
(mulai membusuk). Daging kambing berbeda baunya dengan
daging sapi. Bau daging busuk dapat disamarkan (dipalsukan)
dengan penambahan asam cuka atau jahe.
Pembusukan daging terjadi karena :
a. Terlalu lama tidak dikonsumsi atau tidak dimasukkan dalam
lemari pendingin
b. Kotornya tempat pengerjaan atau tempat penyimpanan, daging
terlalu banyak dikerumuni lalat
c. Penyayatan yang salah (dekat tulang-tulang)
Tanda-tanda pembusukan daging dapat diketahui sebagai berikut :
a. Baunya tidak normal, menyengat dan bukan spesifik
b. Bau busuk keluar dari sendi-sendi tulang
c. Permukaan daging berlendir
d. Adanya infestasi lalat dengan larva-larvanya
e. Tidak menunjukkan konsistensi normal
2. Susu
Susu yang asli (murni) sangat mudah sekali berubah kualitasnya
karena :
a. Mudah membusuk
b. Tidak tahan udara luar dan sinar matahari
c. Tidak tahan pemanasan suhu tinggi dalam waktu lama (direbus
sampai mendidih)
d. Mengandung kuman TBC yang menular ke manusia apabila
hewan penghasil susu tersebut menderita TBC (Bovinus
Tuberculosis) yang pada manusia berubah menjadi Humanus
Tuberculosis.
Untuk mengawetkan susu dilakukan dengan cara Pasteurisasi :
a. Cara lambat (Holding Method)
Susu dipanaskan pada temperatur 60 65O C selama 30 menit
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

80

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

b. Cara Cepat (Flash Method)


Pemanasan susu pada temperatur 70 75O C selama 15 detik
Setelah itu susu harus disimpan di lemari pendingin dengan suhu <
10O C. Peralatan yang berhubungan dengan susu harus bersih dan
hygienis.
3. Makanan dalam kaleng (canned food)
Makanan dalam kaleng berpotensi besar dalam menimbulkan
gangguan kesehatan karena beberapa hal sebagai berikut :
a. Bacterial Infection khususnya penyakit Botulism karena aktivitas
bakteri Chlostridium botulinum
b. Chemical Intoxication karena karat atau bahan kemasannya terbuat
dari bahan yang tidak aman (toksis)
Indikasi kecurigaan akan potensi terjadinya keracunan makanan
kalengan adalah :
a. Sweller
Tutup kaleng menggelembung karena aktivitas bakteri anaerobik
diantaranya Chlostridium yang mengeluarkan gas. Hal ini terjadi
karena adanya pencemaran bakteri tersebut, baik dari mulai
diprosesnya bahan makanan kaleng tersebut atau karena terjadi
kebocoran kemasan
b. Springer
Tutup kaleng terlepas dan terbuka. Hal ini sebagai kelanjutan dari
Sweller., tutup kaleng kurang kuat atau dari bahan yang
kualitasnya jelek, atau sering jatuh.
c. Leaker
4. Telur
Telur adalah makanan yang mudah berubah dan membusuk karena
penanganannya kurang tepat atau kurang hati-hati karena kulitnya
tipis mudah pecah dan mudah dimasuki oleh mikroorganisme
berbahaya.
Telur sangat disukai oleh mikroorganisme (bakteri / virus) untuk
berkembang biak. Beberapa penyakit
berbahaya dari telur
diantaranya :
a. Polio myelitis
b. Influenza
c. Salmonellosis
d. Dll.
Kesegaran telur dapat dilihat dari :
a. Tidak ada retakan / pecah
b. Warna kulitnya terang
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

81

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

c. Tidak tercium bau


d. Apabila diterawang pada cahaya lampu atau matahari aka
terlihat terang / jernih, tidak ada noda atau warna gelap
e. Kulitnya hendaknya terhindar dari kotoran (dicuci)
baru
disimpan
Tempat penyimpanan :
a. Sebelum disimpan harus dicuci bersih dahulu
b. Di dalam lemari pendingin suhu antara 10 15O C agar tahan
lama
c. Apabila untuk keperluan segera, dapat disimpan di tempat yang
bersih (di rak khusus, di dalam keranjang telur ) tidak tercampur
dengan bahan lainnya
d. Jangan sampai diganggu oleh serangga atau tikus
e. Apabila sudah dibuka atau karena pecah, masih dapat disimpan
sampai 36 jam di lemari pendingin
f. Untuk menghindari kerugian, apabila akan menggunakan telur
dalam jumlah banyak, proses memecahkannya jangan langsung
diatas wadah adonan, tetapi di wadah lain dulu untuk
menghindari tercampurnya telur yang sudah busuk
B. PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PADA MAKANAN /
MINUMAN
Penambahan bahan tambahan pada makanan dengan tujuan untuk
menjaga
/
meningkatkan
penampilan,
meningkatkan
citarasa,
menguatkan/mengawetkan makanan dan menambah kesegaran minuman.
1. Peningkatan penampilan agar makanan/minuman lebih menarik adalah
dengan memberikan warna, pemberian warna menggunakan zat warna
alami yang khusus diperuntukkan bagi makanan/minuman.
Permasalahan terjadi karena zat warna yang digunakan bukan zat
pewarna makanan melainkan zat pewarna kain atau kertas yang tentu
saja merupakan bahan yang toksis.
2. Peningkatan citarasa makanan dengan menggunakan bahan kimian
Sodium glutamat, penggunaan yang berlebihan akan berakibat gangguan
fungsi organ tubuh.
3. Peningkatan citarasa minuman dengan penambahan bahan kimia yang
mempunyai efek kesegaran, tahan tidak tidur, semangat terus dalam
bekerja tanpa lelah padahal melewati batas kekuatan tubuh. Bahan ini
antara Cafein dan Tonikum untuk kesegaran dan kekuatan tubuh
(minuman suplemen), dan zat kimia lainnya misalnya alkohol.
Sedangkan bahan untuk kesegaran minuman diantaranya adalah CO2
untuk kesegaran minuman ringan (soft drink).
Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

82

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

4. Pengawetan makanan dengan penambahan zat kimia pengawet makanan


antara lain asam benzoat. Permasalahan terjadi apabila zat pengawet
makanan bukan khusus untuk makanan contoh : formalin akan
mengakibatkan gangguan fungsi organ tubuh.

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

83

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

KISI KISI :

1. Apa yang dimaksud Hygiene sanitasi makanan


2. Sebutkan 5 Prinsip Hygiene Makanan
3. Sebutkan 6 Prinsip Sanitasi Makanan
4. Sebutkan jenis-jenis keracunan makanan/minuman
5. Sebutkan beberapa jenis penyakit karena makanan/minuman tidak sehat
6. Jelaskan beberapa proses pengawetan makanan
7. Jelaskan beberapa proses pencucian peralatan makan/minum otomatis
8. Jelaskan beberapa proses penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi
9. Jelaskan beberapa proses penanganan makanan spesifik (susu, daging,
makanan kaleng, telur dan beberapa penyakit yang ditimbulkannya

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

84

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Penyehatan Air dan Sanitasi. Pedoman bagi Petugas Dalam Penyusunan
Peraturan Daerah Tentang Hygiene Sanitasi Makanan & Minuman.
Ditjen PPM & PL Depkes RI. Jakarta 2004
Ehlers, VM and EW Steel.Municipal and Rural Sanitation. Mc Graw Hill Book
Company Inc. New York. 1958
Longree, Karla, Ph.D.et-al. Sanitary Technique in Food Sevice. John Wiley & Sons.Inc.
New York. 1971
Menteri

Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 715 /


Menkes./SK/V/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Jasaboga.
Departemen Kesehatan RI. Jakarta 2003

Menteri

Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 942 /


Menkes./SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi
Makanan Jajanan. Departemen Kesehatan RI. Jakarta 2003

Menteri Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1098 /


Menkes./SK/VII/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah
Makan dan Restoran. Departemen Kesehatan RI. Jakarta 2003
Reksosoebroto, Soebagio, Drs. Sanitasi Perhotelan. HAKLI. Jakarta.1995
Subdinas Penyehatan Lingkungan. Pedoman Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan
Restoran. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. bandung. 2005
Tim Penyusun Pedoman Bidang Studi APK-TS. Bidang Studi Hygiene & Sanitasi
Makanan Pusdiknakes Depkes. Jakarta. 1986
WHO. Fact Sheet Foodborne Diseases, Emerging. Geneva. 2002

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

85

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM KONTEKS KESEHATAN LINGKUNGAN

Suyono,M.Sc. & Dr. Budiman

86