You are on page 1of 35

KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA PADA Ny.

T
DENGAN GANGGUAN PSIKOSOSIAL: DEMENSIA DI RW 03
KELURAHAN BANDUNG KECAMATAN TEGAL SELATAN
KOTA TEGAL

Disusun untuk memenuhi tugas Keperawatan Gerontik

Disusun oleh:
Nama
NIM

: Ria Maya Sari, S.Kep


: D0013042

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKes BHAKTI MANDALA HUSADA
Jl. Cut Nyak Dien No. 16 Kalisapu Slawi

2014
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik dan
Inayah kepada semua hamba-Nya. Sholawat dan salam selalu tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan kerabat beliau
hingga akhir jaman. Alhamdulillah karena berkat rakhmat Allah-lah penulis dapat
menyelesaikan penulisan makalah ini yang berkaitan dengan Konsep dan Asuhan
Keperawatan Lansia Pada Ny. T dengan Gangguan Psikososial: Demensia Di RW 03
Kelurahan Bandung Kecamatan Tegal Selatan Kota Tegal yang ditujukan untuk
memenuhi tugas berstruktur Keperawatan Gerontik.
Selama penyusunan makalah ini kami selaku penulis telah banyak
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, terutama dari Bapak Wisnu Widyantoro,
S.Kp.,M.Kep, selaku pembimbing. Ucapan terima kasih tak lupa penulis
persembahkan kepada semua pihak yang telah ikut andil dan terlibat baik secara
langsung maupun tidak langsung dalam membantu penulisan makalah ini, yang mana
tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari ketidaksempurnaan dalam makalah ini, oleh karena itu
saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Akhirnya penulis hanya berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat dan menambah wawasan bagi kita semua, khususnya di bidang Keperawatan
Gerontik.

Tegal,

Desember 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan ilmu dan kiat
keperawatan yang mencakup pelayanan bio-psiko-sosio dan spiritual yang
komprehensif serta ditujukan kepada individu, keluarga serta masyarakat baik
yang sakit maupun yang sehat, keperawatan pada dasarnya adalah human science
and human care and caring menyangkut upaya memperlakukan klienss secara
manusiawi dan utuh sebagai manusia yang berbeda dari manusia lainnya dan kita
ketahui manusia terdiri dari berbagai sistem yang saling menunjang, di antara
sistem tersebut adalah sistem neurobehavior (Handayani, 2008).
Keperawatan gerontik adalah suatu bentuk pelayanan keperawatan yang
profesional dengan menggunakan ilmu dan kiat keperawatan gerontik, mencakup
biopsikososial dan spiritual, dimana klien adalah orang yang telah berusia >60
tahun, baik yang kondisinya sehat maupun sakit. Tujuan keperawatan gerontik
adalah memenuhi kenyamanan lansia, mempertahankan fungsi tubuh, serta
membantu lansia menghadapi kematian dengan tenang dan damai melalui ilmu
dan teknik keperawatan gerontik (Maryam, 2012).
Sistem neurobehavior terbentuk dari jaringan saraf, sistem saraf pusat dan
sistem saraf perifer. Pada sistem saraf pusat otak merupakan organ paling penting
dalam tubuh kita, sebab dapat dikatakan segala aktifitas tubuh dikoordinir oleh
organ ini. Anggapan tahap dewasa merupakan tahap tubuh kembang yang
maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya jumlah
sel-sel yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami
penurunan fungsi secara berlahan-lahan itulah yang dikatakan proses penuaan.
Berbagai keadaan/penyakit seperti demensia dapat menimbulkan gangguan fungsi
otak dan dapat menyebabkan gangguan memori dan orientasi (Sudoyo, 2009).
Salah satu penyakit degneratif adalah demensia yaitu yang mempunyai
awitan tersembunyi dan membahayakan serta secara umum progresif, menjadi
semakin memburuk. Gambaran khusus meliputi kehilangan berbagai segi
kemampuan intelektual, seperti memori, penilaian, pikiran abstrak, dan fungsi
kortikal lebih tinggi lainnya, serta perubahan pada keperibadian dan perilaku
(Townsend, 2000).
Demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi
intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi
hidup sehari-hari. Demensia merupakan keadaan ketika seseorang mengalami
penurunan daya ingat dan daya pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas
kehidupan sehari hari (Arif muttaqin, 2008).

Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun


atau lebih (WHO, 1965). Saat ini di seluruh dunia jumlah lanjut usia di perkirakan
mencapai 500 juta dan di perkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.
Di Indonesia sendiri pada tahun 2000, jumlah lansia meningkat mencapai 9,99%
dari seluruh penduduk Indonesia (22.277.700 jiwa) dengan umur harapan hidup
usia 65-70 tahun dan pada tahun 2020 di perkirakan akan mencapai 30 juta orang
dengan umur harapan hidup 70-75 tahun (Widagdo, 2008).
Di Indonesia sendiri, menurut data profil kesehatan yang di laporkan oleh
departemen kesehatan tahun 1998, terdapat 7,2 % populasi usia lanjut 60 tahun
keatas kasus demensia (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). Peningkatan
angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan
hidup suatu populasi. Kira kira 5 % usia lanjut 65 -70 tahun menderita demensia
dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia di atas
85 tahun. Penyakit ini adalah penyebab yang paling umum dari gangguan
intelektual yang berat pada orang lanjut usia dan kenyataannya merupakan suatu
masalah dalam perawatan orang usia lanjut di rumah (Maryam, 2012)..
Dampak serangan demensia adalah Penyakit akut atau kronis, seperti gagal
jantung kongestif, pneumonia, penyakit ginjal dan hati,kanker dan stroke, faktor
hormonal dan nutrisi, diabetes, ketidakseimbangan adrenal, atau tiroid, malnutrisi
dan dehidrasi, kerusakan sensorik yang berkaitan dengan kehilangan penglihatan
dan pendengaran serta deprivasi tidur, pengobatan, meliputi meminum berbagai
obat, resep (terutama kombinasi obat yang bersifat antikolinergik), obat-obat yang
mengganggu

sistem

kolinergik

dan

neurotransmitter

asetikolin

dapat

mempengaruhi memori, kemampuan belajar (Silvia, 2006 ).


Peran perawat gerontik memiliki tanggung jawab untuk membantu klien
dalam memperoleh kesehatan yang optimal, memelihara kesehatan, membimbing
klien, menerima kondisiya, serta persiapan dalam meghadapi ajal. Pelayanan
kesehatan terhadap lansia meliputi upaya pelayanan kesehatan yaitu peningkatan
(promation), pencegahan (prevention), diagnosa dini dan pengobatan (early
diagnosis and prompt treatment), pembatasan kecacatan serta pemulihan
(Maryam, 2012).
Peran perawat untuk demensia yaitu bina hubungan klien-perawat yang
terapeutik/ berkomunikasi verbal dengan menatap wajah klien serta berbicara
dengan suara yang rendah, pendek, instruksi sederhana dan berbicara berlahanlahan dengan klien. Dan membimbing klien untuk mengembangkan lingkungan
yang tenang, sehat, serta dibataskan dengan kemampuan klien.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu memahami konsep teoritis dan asuhan keperawatan
pada lansia pada PM Ny. D dengan Demensia di Uresos Purboyuwono Brebes.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada lansia dengan Demensia di
Uresos Purboyuwono Brebes.
b. Mahasiswa mampu mengelompokkan data sesuai dengan tanda dan gejala
pada penyakit Demensia di Uresos Purboyuwono Brebes.
c. Mahasiswa mampu merumuskan Diagnosa Keperawatan pada lansia
dengan Demensia di Uresos Purboyuwono Brebes.
d. Mahasiswa mampu menyusun intervensi keperawatan pada lansia dengan
Demensia di Uresos Purboyuwono Brebes.
e. Mahasiswa mampu melaksanakan implementasi pada lansia dengan
Demensia di Uresos Purboyuwono Brebes.
f. Mahasiswa mampu malakukan evaluasi pada lansia dengan Demensia di
Uresos Purboyuwono Brebes.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
1. Pengertian

a. Demensia (pikun) adalah kemunduran kognitif yang sedemikian beratnya


sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari-hari dan aktivitas sosial
(Nugroho,2008).
b. Demensia adalah salah satu penyakit yang ditandai gangguan daya pikir dan
daya ingat yang bersifat progresif disertai gangguan bahasa, perubahan
kepribadian, dan perilaku (Menkes).
c. Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang
secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, pikiran, penilaian, dan
kemampuan untuk

memusatkan fikiran, dan bisa

terjadi kemunduran

kepribadian.
2. Etiologi
1. Trauma (trauma kapitis)
2. Infeksi kronis seperti penderita HIV
3. Gangguan peredaran darah atau vaskular seperti hipertensi (darah tinggi) dan
ateriosklerosis (penyempitan pembuluh darah)
4. Penggunaan alkohol dan zat-zat terlarang serta merokok
5. Proses penuaan
6. Penyakit Alzheimer
Belum diketahui secara pasif, tetapi melibatkan faktor genetik (merupakan

kelainan gen tertentu)


Otak mengalami kemunduran
terjadinya kerusakan sel otak.
Ditemukan jaringan abnormal pada sel otak

3. Patofisiologi
a. Demensia Vaskuler
Merokok
Dimana pada rokok mengandung zat kimia berbahaya (nikotin),
zat-zat tersebut masuk ke dalam darah dan terjadi penumpukan di dalam
darah sehingga terjadi emboli dan penyumbatan pada aliran darah.
Sehingga otak kekurangan O2 yang dapat menggangu fungsi otak maka
terjadilah Demensia Vaskuler.

Stroke
Dimana pada stroke terjadi gangguan pada sistem saraf yang mana
terdapat lesi di ginus argularis thalamus, arteri serebri posterior dan
anterior yang menyumbat darah sehingga darah tidak mengalir
(tersumbat),dan menyebabkan Demensia Vaskuler.

Trauma kapitis

Trauma kapitis yang terjadi pada otak menyebabkan pada otak


terjadi emboli dan darah tidak dapat mengalir di otak dengan baik,
sehingga otak kekurangan O2 karena O2 yang berkurang maka fungsi
terganggu dan terjadi Demensia Vaskuler.

Demensia Vaskuler
Pada Demensia Vaskuler ini terjadi penurunan fungsi intelektual
dan kemunduran kognisi dan fungsional dalam berfikirsehingga
menimbulkan

perubahan

kepribadian.

Prilaku

kekerasan,depresi,

halusinasi, gangguan fungsi sosial pekerjaan, gangguan aktivitas seharihari, kesulitan tidur dan wandering.
b.

Demensia Alzheimer
Faktor genetik
Yang paling sering menyebabkan demensia adalah penyakit
Alzheimer.Penyebab penyakit Alzheimer tidak diketahui, tetapi diduga
melibatkan faktor genetik, karena penyakit ini tampaknya ditemukan
dalam beberapa keluarga dan disebabkan atau dipengaruhi oleh beberapa
kelainan gen tertentu. Pada penyakit Alzheimer, beberapa bagian otak
mengalami kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya
respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak
sehingga menyebabkan Demensia Alzheirmer.

Stroke
Stroke yang berturut-turut. Stroke tunggal ukurannya kecil dan
menyebabkan kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara
perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan kerusakan
jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan akibat tersumbatnya
aliran darah disebut infark dimana menyebabkan terjadinya Demensia
Alzheirmer.

Hipertensi dan DM
Demensia yang berasal dari beberapa stroke kecil disebut
demensia multi-infark. Sebagian besar penderitanya memiliki tekanan
darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan
pembuluh darah di otak sehingga menyebabkan Demensia Alzheirmer.

Demensia Alzheirmer
Dimana pada penderitanya terjadi perbahan-perubahan kognisi
berupa bahasanya lambat sering tidak dimengerti yang terjadi secara tibatiba sehingga ingatan hilang yang menyebabkan fungsi sosial terganggu,
aktifitas sehari-hari terganggu (membaca dan berkerja).

4. WOC
Trauma
(Kapitis)
Emboli diotak
Darah tidak
mengalir ke otak

Infeksi kronis

Gangguan peredaran
darah (hipertensi)

virus masuk
keperedaran darah

Kerusakan
pembuluh darah

Terganggunya
system peredaran
darah keotak

Terjadinya
penyumbatan

Otak kekurangan
02

Terjadinya
penyumbatan

Aliran darah
keotak
terganggu

Fungsi otak
terganggu

Penggunaan
alcohol/mero
kok

Mengandung
zat kimia yg
berbahaya
Masuk
kedalam darah

Proses
penuaan
nnnnnnn
nnnnnnn
Berkurangny
a spontanitas

Penyakit
alzheimer

Gangguan
memori

Fungsi
sosial
terganggu

Menumpuk
didalam darah

Terjadi emboli

Penyumbatan
aliran darah
Otak
kekurangan O2
DIMENSIA

Gangguan kepribadian &


perilaku

Mudah tersinggung

Menarik diri

Mk:- kurangnya
keperawatan diri

Kemampuan
otak berkurang

Dalam ingatan

Gangguan proses pikir

Mk: -perubahan proses


pikir
-perubahan pola tidur

Bahasa
lambat/s
ering
tidak
mengert
i

Fungsi kognitif

afasia

disorientasi

Mk:- perubahan persepsi


sensori
-resiko terhadap trauma

5.

Manifestasi Klinis
a. Penurunan dalam ingatan
b. Disorientasi (lupa hari, waktu, tanggal, orang, dan lain-lain)
c. Fungsi kognitif berkurang (pertimbangan dan penilaian berkurang)
d. Menarik diri
e. Gangguan kepribadian dan prilaku (cleptomania)

6. Stadium Dimensia
a. Stadium I ( berlangsung 2-4 tahun )/Stadium Amnesia
Stadium ditandai dengan amnesia yang menonjol, berkurangnya
spontanitas. Gangguan memori, terutama memori jangka pendek. Pada
stadium itu kegiatan sehari-hari didalam lingkungan keluarga/ yang sudah
dikenal biasanya tidak terganggu. Namun bila penderita dihadapkan pada
situasi yang baru/harus mengingat sesuatu secara aktif maka kesalahan dapat
terjadi. Penderita sering menjadi gugup, gusar atau bingung bila dihadapkan
kepada masalah yang baru, pasien lupa akan informasi, menempatkan objek
ditempat yang salah, mengulang-ulang ceritanya sehingga membosankan dan
mengganggu.
Pada stadium ini pasien mungkin menyadari kemampuan otaknya
berkurang dan ia bereaksi dengan sikap mudah tersinggung, menarik diri dan
pergaulan dan bersedih.
b. Stadium II ( berlangsung 2-10 tahun )/Stadium Bingung
Stadium ini ditandai dengan oleh mundurnya secara progresif bidang
kognitif yang melibatkan banyak aspek. Afasia, apraksia dan disorientasi
waktu dan tempat lambat laun menjadi lebih nyata.
Penderita mudah menjadi bingung dan dapat memperlihatkan episode
dan masalah behavior seperti agresif dan ingin mengembara. Pada stadium ini
perubahan kepribadian dapat menjengkelkan atau menyulitkan anggota
keluarganya. Sifat kepribadian yang dimilikinya sebelum sakit menjadi lebih
mencolok.
c. Stadium III/Stadium Akhir
Penderita hampir menjadi vegetatif, ia menjadi akinetik dan membisu.
Setelah 6-12 tahun sakit, intelek dan memori berdeteorasi terus sampai
penderita tidak lagi mengenal orng-orang dekatnya. Pada stadium ini
penderita menyendiri, inkontinen dan sebagian besar bergantung kepada orang
lain. Kebersihan diri dan kebutuhan nutrisi tidak diperhatikan lagi. Kontrol
spingter menghilang, penderita berak dan kencing tidak terkontrol. Ia jalan
dengan langkah yang pendek dan kurang pasti, kematian bias terjadi karena
penyakit infeksi/trauma.

7. Faktot-Faktor Resiko
a. Usia
Merupakan faktor resiko bagi semua jenis demensia. Bertambahnya
tinggi usia bertambah besar kemungkinan menderita demensia.
b. Riwayat Penderita
Pada keluarga derajat I meningkatkan resiko mendapatkan demensia
sebanyak 4x.
c.

Jenis Kelamin
Angka insidensi cenderung lebih tinggi pada wanita daripada pria di
semua kelompok usia, meskipun tidak ada penjelasan biologis yang
bertanggung jawab untuk perbedaan jenis kelamin tersebut.

d. Pendidikan
Pendidikan yang rendah mungkin juga insiden yang secara kasar dapat
dikatakan bahwa mereka yang berusia di atas 75 tahun dan tidak pernah
bersekolah. Maka kemungkinan mendapat demensia ialah 2x lebih besar
ketimbang mereka dengan pendidikan lebih tinggi dari SD.
e. Faktor Resiko Lain
Keluarga dengan sindrom down, fertilitas yang kurang, penggunaan
analgesik seperti fenasidin, kandung aluminium pada air minum, defisiensi
kalsium.
8. Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Jika Menghadapi Pasien Demensia
a. Terapi obat dengan pengawasan dokter
b. Terapi non obat berupa:
1) Terapi lingkungan
Bentuknya:

Jangan mengubah lingkungan, keadaan sekitarnya (lingkungan dalam


rumah) karena lingkungan tersebut sudah familiar (lingkungan sudah

dikenal)
Lingkungan di dalam kamar
- Tempatkan juga jam, kalender, radio, guna untuk membantu
-

orientasi lansia
Jelaskan pada nya apabila ia bertanya, berada dimana, siapa orang

disekitarnya, gunanya akan membantu orientasi tempat


Penerangan dalam kamar harus cukup, gunanya membantu lansia

dalam penglihatan.
2) Intervensi Prilaku
Wandering
- Yakinkan dimana keberadaan pasien
- Berikan keleluasaan bergerakan di dalam dan di luar ruangan

- Gelang pengenalHendaya Memory


Asitasi dan agresivitas
- Hindari situasi yang memprovokasi
- Hindari argumentasi
- Sikap kita tenang dan mantap
- Alihkan perhatian ke hal lain
Sikap dan pertanyaan yang berulang
- Tenang, dengarkan dengan baik, jawab dengan penuh pengertian,
bila masih berulang, acuhkan dan usahakan alihkan perhatian ke

hal yang menarik pasien.


Prilaku seksual yang tidak sesuai/wajar
- Tenang dan bimbing pasien ke ruang pribadinya
- Alihkan ke hal yang menarik perhatiannya
- Bila didapatkan dalam keadaan telanjang, berilah baju/selimut

untuk menutupi badannya


3) Intervensi Psikologis
Dapat berupa psikoterapi untuk mengurangi kecemasan, memberi rasa

aman dan ketenangan, dalam bentuk:


- Psikoterapi individual
- Psikoterapi kelompok
- Psikoterapi keluarga
Untuk pengasuh diperlukan:
- Dukungan mental
- Pengembangan kemampuan adaptasi dan peningkatan kemandirian
- Kemampuan menerima kenyataan
Mengatasi mudahlupa lakukan:
- Latihan terus - menerus, berulang-ulang
- Tingkatkan perhatian
- Asosiasikan hal yang diingat dengan hal yang sudah ada dalam

otak
9. Pemeriksaan yang Harus Dilakukan
a. Anamnesa
Telusuri perjalanan penyakit dengan teliti, bagaimana perjalanan
demensia apakah mendadak lambat laun, gradual, seperti anak tangga telusuri
pula apakah ada keluhan lain/gejala lain dan bagaimana perjalanannya.
b. Pemeriksaan keadaan mental
Dari bentuk gangguan mental tidak jarang kita dapat mengetahui
diagnosa etiologi. Apakah gangguan kognitifnya seluruh/sebagian. Fungsi
kognitif otak mana yang terutama terganggu, kortikal atau sub kortikal,
hemisfer, kiri/kanan, lobus frontal,temporal/lobus pariental.
c. Pemeriksaan fisik umum
Status interna harus diperiksa dengan baik, misalnya adakah gangguan
tiroid, gangguan hepar, ginjal, diabetes mellitus, dan hipertensi. Gejala efek
samping obat juga perlu diperhatikan.
d. Pemeriksaan neurologi

Dimensia disebabkan gangguan di otak, tidak jarang fungsi otak


lainnya ikut terganggu. Otak ikut berpartisipasi pada tiap kegiatan tubuh kita.
Apakah pernah kejang.
10. Penatalaksanaan
Demensia dapat disembuhkan bila tidak terlambat, secara umum terdiri
dari:
a. Terapi
1) Perawatan medis yang mendukung
2) Memberi dukungan emosional pada pasien dan keluarga
3) Farmakoterapi untuk gejala yang spesifik
Terapi simtomatik meliputi:
1) Diet
2) Latihan fisik yang sesuai
3) Terapi rekresional dan aktivitas
4) Penanganan terhadap masalah-masalah lain.
b. Pengobatan
1) Untuk ansietas dan insomnia obat farmakoterpi, benzodeazepam
2) Depresi diberikan anti depresan
3) Untuk gejala waham dan halusinasi diberikan antipsikotik.
Proses Asuhan Keperawatan pada Klien lansia dengan gangguan sistem
neurologis (Demensia)
1. Pengkajian
a. Identitas klien
Nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan
terakhir, alamat.
b. Alasan kunjungan ke panti
c. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang seperti gelisah, tidak berdaya, curiga, merasa

kehilangan, dan disorientasi.


Riwayat kesehatan dahulu
Apakah pernah mengalami hipertensi, stroke, menderita HIV,dan lain-

lain.
Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada diantara anggota keluarga pasien ada yang mengalami

penyakit yang sama dialami pasien (demensia).


d. Kebiasaan sehari-hari
1) Biologis
Pola makan : frekuensi, jumlah porsi yang habis, cara makan, makanan

yang disukai dan tidak disukai.


Pola minum : frekuensi
Pola tidur : jumlah jam tidur, kesulitan dalam tidur.
Pola eliminasi ( BAB dan BAK ) : frekuensi, konsistensi.

Aktifitas sehari-hari : kegiatan WBS yang dilakukan dari bangun tidur

sampai mau tidur kembali


Rekreasi : rekreasi yang

pernah

dilakukan,

bersama

siapa,

frekuensinya.
2) Psikologis
Keadaan emosi : kondisi psikologis
3) Sosial
Dukungan keluarga : perhatian anggota keluarga terhadap klien,

jadwal/frekuensi anggota keluarga yang berkunjung.


Hubungan antar keluarga : pengambilan keputusan
Hubungan dengan orang lain
Hubungan klien dengan lingkungan, orang lain, disekitar tempat

tinggal/panti.
4) Spiritual/cultural
Pelaksanaan ibadah : rutinitas melakukan ibadah
Keyakinan tentang kesehatan
5) Dasar Data Pengkajian Pasien
a) Aktivitas/istirahat
Gejala : Merasa lelah
Tanda : Siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur,
Letargi : penurunan minat/perhatian pada aktivitas yang biasa, hobi,
ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca,
Gangguan keterampilan motorik.
b) Sirkulasi
Gejala : Riwayat penyakit vaskuler serebral,hipertensi,episode emboli.
c) Integritas Ego
Gejala : Curiga/takut terhadap situasi, Kesalahan persepsi terhadap
lingkungan, Kehilangan multipel, perubahan citra tubuh dan harga diri
yang dirasakan
Tanda : Menyembunyikan ketidak mampuan, Duduk dan menonton
yang lain, Aktifitas utama mungkin menumpuk benda tidak bergerak,
menyembunyikan barang-barang/berjalan-jalan, Emosi labil : Mudah
menangis, tertawa tidak pada tempatnya, perubahan alam perasaan
marah secara tiba-tiba.
d) Eliminasi
Gejala : dorongan berkemih
Tanda : Inkontinensia urine/feses
e) Makanan/Cairan
Gejala : Perubahan dalam pengecapan, dan nafsu makan, Kehilangan
BB

Tanda : Kehilangan kemampuan untuk mengunyah, Menghindari atau


menolak makanan, Tampak semakin kurus
f) Higiene
Tanda : Tidak mampi mempertahankan penampilan personal yang
kurang, Lupa untuk pergi ke kamar, Kurang berminat pada/lupa
tentang waktu makan
g) Neurosensori
Gejala : perubahan kognitif, pusing, sakit kepala, penurunan
kemampuan kognitif, mengambil keputusan, Mengingat yang baru
berlalu, penurunan tingkah laku, Kehilangan sensasi propriosepsi,
Adanyanya

riwayat

penyakit

serebral

vaskuler/sistemik,

emboli/hipoksia yang berlangsung secara priodik ( sebagai faktor


predisposisi )
Tanda : kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia. Kesulitan dalam
menemukan kata-kata yang benar, bertanya berulang-ulang/percakapan
dengan substansi kata yang tidak memiliki arti. Kehilangan
kemampuan untuk membaca/menulis,

Status

neurologis,

Kesulitan dalam berfikir kompleks dan abstrak, Biasanya orientasi


pada orang tetap baik hingga fase akhir dari penyakit ini, Gangguan
daya ingat pada yang baru berlalu, memorinya cukup baik, tidak
mampu menghitung sederhana. Gangguan dalam keterampilan motorik
dengan adanya tremor, Adanya refleks primitive.
h) Kenyamanan
Gejala : adanya riwayat trauma kepala yang serius, Trauma kecelakaan
Tanda : ekimosis, laserasi, Rasa bermusuhan /menyerang orang lain.
i) Interaksi sosial
Gejala : merasa kehilangan kekuatan, Faktor psikososial sebelumnya,
pengaruh personal dan individu yang muncul mengubah pola tingkah
laku.
Tanda : kehilangan kontrol sosial, prilaku tidak tepat.
j) Pemeriksaan diagnostik
antibody : kadarnya cukup tinggi
DDL, NPN, elektrolit, pemeriksaan

tiroid

dapat

menentukan/menghilangkan disfungsi yang dapat di obati.


B12 : dapat menentukan secara nyata adanya kerusakan nutrisi
Tes dexamethason depresan (DST)= tidak untuk menenangkan

depresi
EKG : mungkin tampak normal

EEG : mungkin normal


Sinar X tengkorak : biasanya normal
Tes penglihatan dan pendengaran : untuk menemukan adanya

penurunan yang mungkin disebabkan oleh pada diorientasi.


Scan otak , seperti PET, BEAM, MRI: dapat memperlihatkan
daerah otak yang mengalami penurunan metabolise

yang

merupakan karakteristik dari DAT.


Scan CT : dapat memperlihatkan adanya ventrikel otak yang

melebar, adanya atrovi kortikel.


CSS : munculnya protein abnormal dari sel otak sekitar 90%
merupakan inidakasi adanya DAT.

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Perubahan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi,
transmisi dan atau integrasi sensori.
3. Resiko terhadap trauma berhubungan dengan

ketidakmampuan untuk

mengenali dan disorientasi.


4. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori dan
tekanan psikologis.
5. Kurang perawatan diri berhubungan dengan peurunan kognitif, keterbatasan
fisik.
3. Diagnosa Prioritas
a) Perubahan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori.
b) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi, trnsmisi
dan atau integrasi sensori.
c) Resiko terhadap trauma berhubungan dengan ketidak mampuan untuk
mengenali dan disorientasi.

Rencana Asuhan Keperawatan ( Nursing Care Planning/NCP)


No
1.

Diagnosa
keperawatan
Perubahan
proses pikir
berhubungan
dengan
kehilangan
memori

Tujuan

Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

Setelah
dilakukan
intervensi
keperawatan
diharapkan
perubahan
proses pikir
dapat teratasi

Dengan criteria:
- Mampu
mengenali
perubahan
dalam pikir/
tingkah laku
dan faktorfaktor
penyebabnya
- Mampu
memperlihatka
n penurunan
tingkah laku
yang
diinginkan

Mandiri:
1. Kaji derajat gangguan kognitif
seperti perubahan orientasi terhadap
orang, tempat, waktu, kemampuan
berpikir.
2. Pertahankan lingkungan yang
menyenangkan dan tenang
3. Panggil pasien dengan namanya
4. Gunakan suara yang agak rendah
dan berbicara dengan perlahan pada
pasien
5. Gunakan kata kata yang pendek dan
kalimat yang sederhana dan berikan
intruksi yang sederhana
6. Hindarai kritikan, argumentasi, dan
konfrontasi negativ
7. Gunakan hal hal yang humoris saat
berinteraksi pada pasien
8. Ciptakan aktivitas yang sederhana
9. Buat aktivitas yang bermanfaat dan
gerakan yang berulang
10. Evaluasi pola kecukupan tidur
11. Kolaborasi :
12. Berikan obat sesuai indikasi yaitu
vasodilator, seperti sihlandelat
ergoloid mesilat
asam aksiolitik,seperti diazepam

1. memberikan dasar untuk evaluasi yang akan datang dan


mempengaruhi pilihan terhadap intervensi
2. kebisingan , keramaia, merupakan sensori yang berlebihan
yang meningkatkan ganguan neuron
3. pendekatan yang terburu buru dapat mengancam pasien
bingung yang mengalami persepsi.
4. Nama merupakan bentuk identitas dan menimbulkan
pergerakan terhadap realita dan individu.
5. Peningkatan kemungkinan pemahaman.
6. Sesuai dengan berkembangnya penyakit ,pusat komunikasi
dalam otak mungkin saja terganggu yang menghilangkan
kemampuan individu pada proses penerimaan pasien.
7. Provokasi menurunkan harga diri dan mungkin diartikan
sebagai satu ancaman yang mencetus agitasi.
8. Tertawa dapat membantu dalam komunikasi dan membantu
meningkatkan kestabilan emosi.
9. Memotivasi pasien dalam cara yang akan menguatkan
kegundaanya dan kesenangan diri dan merangsang realita.
10. Dapat menurunkan kegelisaan dan memberikan pilihan
terhadap aktivitas yang dapat menyenangkan.
11. Kekurangan tidur dapat menggangu proses pikir.
Dapat meningkatkan kesadaran mental
Meningkatkan kemampuan otak untuk melakukan
metabolisme glukosa dan menggunakan oksigen.
Dapat meningkatkan kekacauan mental pada lansia
untuk menghilangkan kecemasan
Untuk memperlambat berkembannya gangguan keadaan


2.

Perubahan
persepsi
sensori
berhubungan
dengan
perubahan
persepsi,
transmisi dan
atau integrasi
sensori.

Setelah
dilakukan
intervensi
keperawatan
diharapkan
perubahan
persepsi
sensori tidak
terjadi.

Dengan criteria:
- Mampu
mendemostrasika
n respon yang
meningkat
- Mengontrol
faktor-faktor
eksternal yang
berperan
terhadap
perubahan dalam
kemampuan
persepsi

3.

Resiko
terhadap
trauma
berhubungan
dengan
ketidak
mampuan
untuk
mengenali dan
disorientasi.

Setelah
dilakukan
intervensi
keperawatan
diharapkan
klien tidak
mengalami
trauma

Dengan criteria :
- Keluarga
mengenali risiko
potensial di
lingkungan dan
mengidentifikasi
tahap-tahap
untuk
memperbaikinya.

tiamin

Mandiri :
1. Kaji derajat sensori/gangguan persepsi
2. Anjurkan untuk mengunakan kaca mata
3. Berikan lingkungan yang tenang dan
tidak kacau
4. Berikan sentuhan dengan cara berlahan
5. Berikan perhatian dalam kenangan
indah secara berkala
6. Ajak piknik sederhana, jalan-jalan
keliling rumah sakit
7. Tingkatkan keseimbangan fungsi
fisiologis dengan menggunakan bola
lantai
8. Libatkan aktifitas dengan yang lain
sesuai indikasi dengan keadaan
tertentu.
Mandiri :
1. Kaji derajat gangguan
kemampuan/kompetensi, munculnya
tingkah laku yang impulsive dan
penurunan persepsi-visual. Bantu orang
terdekat untuk mengidentifikasi risiko
terjadinya bahaya yang mungkin
timbul.
2. Alihkan perhatian pasien ketika prilaku
berbahaya
3. Berikan gelang identifikasi yang
memperlihatkan nama, nomor telepon,
dan diagnosa.
4. Lakukan pemantauan terhadap efek
obat, tanda-tanda adanya takar lajak,
seperti tanda gangguan penglihatan,

kognisi secara sederhana


1. Dalam persentase yang kecil mungkin memperlihatkan masalah
yang bersifat asimetrik yang menyebabkan pasien kehilangan
kemampuan pada salah satu sisi tubuhnya
2. Dapat meningkatkan masukkan sensori
3. Membantu untuk menghindari masukan sensori penglihatan atau
pendengaran yang berlebihan dengan mengutamakan kualitas
yang tenag
4. Dapat meningkatkan persepsi pada diri sendiri
5. Menstimulasi ingatan, membangkitkan memory
6. Memberikan stimulus sensori yang menyenangkan yang dapat
menurunkan perasaan curiga
7. Menjaga mobilitas dan memberikan kesempatan untuk
berinteraksi dengan orang lain
8. Memberi kesempatan terhadap stimulasi partisipasi dengan orang
lain.
1. Mengidentifikasi resiko potensial di lingkungan dan
mempertinggi kesadaran sehingga memberi asuhan lebih sadar
akan bahaya. Pasien yang memperlihatkan tingkah laku impulsif
menghadapi peningkatan resiko trauma karena mereka kurang
mampu mengendalikan prilaku/kegiatannya sendiri. Penurunan
persepsi visual meningkatkan risiko jatuh.
2. Mempertahankan keamanan dengan menghindari konfrontasi
yang dapat meningkatkan prilaku/meningkatkan risiko terjadinya
trauma.
3. Memfasilitas keamanan untuk kembali jika hilang. Karena
penurunan kemampuan verbal dan kebingungan, pasien mungkin
tidak dapat menyebutkan alamat, dan sebagainya.
4. Pasien mungkin tidak dapat melaporkan tanda/gejala dan obat
dapat dengan mudah menimbulkan kadar toksisitas pada lansia.
Ukuran dosis/pengagantian obat mungkin diperlukan untuk
mengurangi gangguan.

gangguan gastrointestinal dan lain-lain.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA PADA PM Ny. D
DENGAN GANGGUAN PSIKOSOSIAL: DEMENSIA
DI URESOS PURBOYUWONO BREBES
Pengkajian riwayat kesehatan
(1) Identitas/Data Biografis Klien
Nama
TTL/Umur
Pendidikan terakhir
Golongan Darah
Agama
Status Perkawinan
Alamat
Telepon
Jenis Kelamin
(2) Riwayat Keluarga
(a) Pasangan
Hidup/mati
Kesehatan
Umur
Pekerjaan
Alamat

: Ny. T
: 65 tahun
::: Islam
: Menikah
: Bandung RT 02 RW 03
Tegal Selatan-Tegal
:: Perempuan
: Tn. T
: Hidup
: Riwayat Melena
: 70 tahun
:: Bandung RT 02 RW 03
Tegal Selatan-Tegal
::::6
: Hidup 4/ meninggal 2
:::::::-

Kematian
Sebab Kematian
Tahun meninggal
(b) Anak
Hidup/mati
Kesehatan
Umur
Pekerjaan
Alamat
Kematian
Sebab Kematian
Tahun meninggal
(3) Riwayat Pekerjaan
Setiap harinya Ny. T hanya bekerja sebagai buruh.
(4) Riwayat Lingkungan Hidup
Luas bangunan rumah klien 6:5, klien tinggal bersama dengan suami, dua anak
dan 3 orang cucu-cucunya, bentuk rumah petak dengan jenis bangunan atap
rumah menggunakan atap genteng berdindingkan tembok, lantai semen.
Kebersihan lantai kurang, ventilasi <15% luas lantai dan teras pengap,
pencahayaan kurang karena tidak ada ventilasi dan ukuran rumah yang sempit.
(5) Riwayat Rekreasi
Ny. T mengatakan jarang sekali melakukan rekreasi bahkan hampir tidak pernah.
Ny. T dan suaminya hanya sering dirumah dan bermain-main dengan cucunya.
(6) Sumber/Sistem Pendukung yang digunakan

Ny. T mengatakan bersyukur masih memiliki suami dan cucunya yang sering
menemaninya.
(7) Kebiasaan Ritual
Ny. T menganut agama islam, setiap hari melakukan ibadah sholat.
(8) Status Kesehatan Saat ini
Ny. T mengatakan badannya sering merasa pegal-pegal.
(9) Status Kesehatan Masa Lalu
Ny. T mengatakan tidak mempunyai penyakit yang parah, hanya pusing dan
pegel-pegel saja.
(10) Tinjauan Sistem
Keadaan umum

: Baik

Tanda-tanda
a. TD
b. N
c. S
d. RR
e. BB
Kepala

: 140/90 mmHg
: 87 x/menit
: 36,7 oC
: 20 x/menit
: 45 kg
: Mesocepal, rambut tampak ubanan, dan kelihatan
kotor, tidak ada luka, tidak ada nyeri tekan pada
kepala dan tidak ada benjolan, terkadang sakit kepala

Mata

: Pandangan masih jelas, mata cekung, konjungtiva


ananemis, sklera anikterik, terlihat ngantuk pada
siang hari

Telinga

: Pendengaran baik

Hidung dan sinus

: Bentuk tampak simetris, tidak ada luka, tidak ada


peradangan, tidak ada secret pada hidung, tidak ada
nyeri tekan, penciuman masih cukup baik.

Mulut dan tenggorokan : Mulut tampak sedikit kotor, mukosa mulut tampak
kering, tidak ada peradangan, gigi tampak kuning,
tampak careas gigi dan gigi tampak ompong, sudah
hilang tiga, mengalami kesulitan saat mengunyah dan
tidak ada kesulitan saat menelan.
Telinga

: Bentuk simetris, tidak ada luka, tidak tampak


serumen, tidak ada peradangan, tidak nyeri tekan pada
bagian belakang telinga (mastoideus), tidak ada
benjolan, pendengaran masih bagus

Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada


luka, tidak ada bendungan vena jugularis, klien
mengeluh leher bagian belakang, terasa berat (kaku
kuduk).

Dada

: Tampak simetris, tidak ada retraksi dinding dada,


tidak ada nyeri tekan.

Abdomen

: Bentuk simetris, tidak ada oedema, tidak ada nyeri


tekan, tidak ada massa.

Genetalia

: Tidak terkaji

Ekstremitas

: Kekuatan otot tangan kanan dan kiri 4, kaki kanan dan


kiri 4

Integument

: Kebersihan cukup baik, warna kulit hitam, lembab,


tidak ada gangguan pada kulit.

Sintem saraf pusat

N1 (olfaktorius)

: klien dapat membedakan bau minyak kayu putih

N2 (optikus)

: lapang pandang klien agak berkurang berhubungan


dengan penuaan,

N3 (okulomotorius)

: normal (bila terkena cahaya miosis dan midriasis bila


tidak terkena cahaya)

N4 (trakelis)

: mata masih terkoordinasi sesuai perintah.

N5 (trigeminus)

: reflek mengunyah ada, kelopak mata(+), rahang dapat


mengatup secara simetris

N6 (abdusen)

: klien dapat menggerakan bola mata ke kiri dan ke


kanan.

N7 (fasialis)

: klien dapat menggerakan muka.

N8 (cochlealis)

: pendengaran baik.

N9 (glosopharingeus) : ada reflek menelan.


N10 (vagus)

: kemampuan menelan baik.

N11 (accesorius)

: kedua bahu masih mampu mengatasi tahanan dengan


cukup baik.

N12 (hipoglosus)

: pergerakan lidah normal.

Sistem endokrin

: Tidak ada keluhan

Sistem imun

: Tidak ada keluhan

Sistem pencernaan

: Tidak ada keluhan

Sistem Penciuman

: Tidak ada keluhan, masih berfungsi dengan baik

Psikososial

: ada gangguan, Ny. T mengatakan sering lupa. Ny. T


mengatakan malas untuk berfikir, Ny. T mengatakan
tidak tahu, Lupa saat diberi pertanyaan, terlihat
bingung saat diberikan pertanyaan

Pengkajian status fungsional, kognitif, afektif dan sosial


(a) Pengkajian Status Fungsional

INDEKS KATZ
SKORE
A
B
C
D
E
F
G
Lainlain

INDEKS KATZ
KRITERIA
Kemandirian dalam hal makan, kontinen, ke kamar kecil,
berpakaian dan mandi
Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali satu
dari fungsi tersebut
Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali
mandi dan satu fungsi tambahan
Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali
mandi, berpakaian dan satu fungsi tambahan
Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali
mandi, berpakaian, ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan
Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali
mandi, berpakaian, berpindah dan satu fungsi tambahan
Ketergantungan pada enam fungsi tersebut
Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat
diklasifikasikan sebagai C, D, E, F, dan G

Hasil Pengkajian:
Ny. T mengatakan saya bisa makan, ke WC, ke kamar kecil, berpakaian dan
mandi sendiri tanpa dibantu.

(b) Pengkajian Status Kognitif dan Afektif


Short Portable Mental Status Questionnaire (SPSMQ)
Short Portable Mental Status Questionnaire (SPSMQ)
Skore
+

No
1.
2.

Pertanyaan

Jawaban

Tanggal berapa hari ini?


Tidak tahu
Hari apa sekarang ini? (hari, tanggal,
Tidak tahu
tahun)

3. Apa nama tempat ini?


Bandung
4. Berapa nomor telepon nomor Anda?
Tidak punya

4a. Dimana alamat Anda? (tanyakan hanya


Bandung Kimpling
bila klien tidak mempunyai telepon)

5. Berapa umur Anda?


Tidak tahu

6. Kapan Anda lahir?


Lupa

7. Siapa presiden Indonesia sekarang?


Tidak tahu

8. Siapa presiden sebelumnya?


Lupa

9. Siapa nama kecil ibu Anda?


Tarmini
10. Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan Tidak bisa
3 dari setiap angka baru semua secara
menurun
3
7
Jumlah kesehatan total
3
Penilaian SPMSQ
(1) Kesalahan 0-2
fungsi intelektual utuh
(2) Kesalahan 3-4
fungsi intelektual ringan
(3) Kesalahan 5-7
fungsi intelektual sedang
(4) Kesalahan 8-10
fungsi intelektual berat

(a) Bisa dimaklumi bila lebih dari satu kesalahan bila subjek hanya
berpendidikan sekolah dasar
(b) Bisa dimaklumi bila kurang dari satu kesalahan bila subjek mempunyai
pendidikan di atas sekolah menengah atas
(c) Bisa dimaklumi bila lebih dari satu kesalahan untuk subjek kulit hitam
dengan menggunakan kriteria pendidikan yang sama
Hasil Pengkajian:
Ny. T mengalami 7 kesalahan dalam menjawab soal, hal ini membuktikan
bahwa Ny. T mengalami gangguan psikososial: Demensia dengan fungsi
intelektual sedang.
(c) Depresi Beck
Intervensi Depresi Beck
Skore
Uraian
A. Kesedihan
3
Saya sangat sedih atau tidak bahagia dimenghadapinya saya tidak dapat
2
Saya galau atau sedih sepanjang waktu dan darinya saya saya tidak dapat
keluar
1
Saya merasa sedih atau galau
0
Saya tidak merasa sedih
B. Pesimisme
3
Saya merasa bahwa masa depan saya adalah sia-sia dan sesuatu dapat
membaik tidak
2
Saya merasa tidak mempunyai apa-apa untuk memandang ke depan
1
Saya merasa berkecil hati mengenai masa depan
0
Saya tidak begitu pesimis
C. Rasa kegagalan
3
Saya merasa benar-benar gagal sebagai seseorang (Orang tua, suami, Istri)
2
Seperti melihat ke belakang hidup saya,semua yang dapat saya lihat hanya
kegagalan
1
Saya merasa telah gagal melebihi orang pada umumya
0
Saya tidak merasa gagal
D. Ketidakpuasan
3
Saya tidak puas dengan segalanya
2
Saya tidak lagi mendapatkan kepuasan dari apapun
1
Saya tidak menyukai cara yang saya gunakan
0
Saya tidak merasa tidak puas
E. Rasa bersalah
3
Saya merasa seolah olah saya sangat buruk atau tak berharga
2
Saya merasa sangat bersalah
1
Saya merasa buruk atau tak berharga sebagai bagian dari waktu yang baik
0
Saya tidak merasa benar-benar bersalah
F. Tidak menyukai diri sendiri
3
Saya benci diri saya sendiri
2
Saya merasa muak dengan diri saya sendiri
1
Saya tidak suka dengan diri saya sendiri
0
Saya tidak merasa kecewa dengan diri sendiri
G. Membahayakan diri sendiri
3
Saya akan membunuh diri saya sendiri jika saya mempunyai kesempatan

2
Saya mempunyai rencana yang pastitentang tujuan bunuh diri
1
Saya merasa lebih baik mati
0
Saya tidak mempunyai pikiran-pikiran mengenai membahayakan diri sendiri
H. Menarik diri dari social
3
Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan tidak peduli
pada mereka semuanya
2
Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan mempunyai
sedikit perasaan pada mereka
1
Saya kurang berminat pada orang lain dari pada sebelumnya
0
Saya tidak kehilangan minat pada orang lain
I. Keragu-raguan
3
Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali
2
Saya mempunyai banyak kesulitan dalam membuat keputusan
1
Saya membuat keputusan yang baik
0
Saya membuat keputusan yang baik
J. Perubahan gambaran diri
3
Saya merasa bahwa saya jelek atau tambak menjijikan
2
Saya merasa bahwa ada perubahan-perubahan yang permanen dalam
penampilan saya dan ini membuat saya tak menarik
1
Saya khawatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik
0
Saya tidak merasa bahwa saya tampak lebih buruk dari pada sebelumnya
K. Kesulitan kerja
3
Saya tidak melakukan pekerjaan sama sekali
2
Saya telah mendorong diri saya sendiri dengan keras untuk melakukan
sesuatu
1
Ini memerlukan upaya tambahan untuk melakukan sesuatu
0
Saya dapat bekerja kira-kira sebaik senelumnya
L. Kletihan
3
Saya sangat lelah untuk melakukan sesuatu
2
Saya lelah untuk melakukan sesuatu
1
Saya lelah lebih dari yang biasanya
0
Saya tidak lebih lelah dari biasanya
M. Anoreksia
3
Saya tidak lagi mempunyai nafsu makan sama skali
2
Nafsu makan saya sangat memburuk sekarang
1
Nafsu makan saya tidak sebaik sebelumnya
0
Nafsu makan saya tidak baik dari yang biasanya
Penilaian :
0-4

: depresi tidak ada atau minimal

5-7

: depresi ringan

8-15

: depresi sedang

>16

: depresi berat

Hasilnya 10, jadi Ny. T mengalami depresi sedang


(d) Pengkajiaan Sosial
Status social lansia dapat diukur dengan menggunakan APGAR Keluarga.
Penilaian: jika pertanyaan-pertanyaan yang dijawab selalu (poin 2), kadangkadang (poin 1), hampir tidak pernah (poin 0).
No

Fungsi

APGAR Keluarga
Uraian

Skore

Adaptasi

Saya puas bahwa saya dapat kembali pada


keluarga (teman-teman) saya untuk membantu
pada waktu sesuatu menyusahkan saya.
Jawaban: Kadang- kadang
2
Hubungan
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)
saya membicarakan sesuatu dengan saya dan
mengungkapkan masalah dengan saya.
Jawaban: Sering
3
Pertumbuhan Saya puas bahwa keluarga (teman-teman) saya
menerima dan mendukung keinginan saya untuk
melakukan aktivitas atau arah baru.
Jawaban: Kadang-kadang
4
Afeksi
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)
saya mengekspresikan afek dan berespon
terhadap emosi-emosi saya, seperti marah, sedih,
atau mencintai.
Jawaban: Kadang- kadang
5
Pemecahan
Saya puas dengan cara teman-teman saya dan
saya menyediakan waktu bersama-sama.
Jawaban: Kadang- kadang
Jumlah

(1)

(2)

(1)

(1)

(1)

ANALISA DATA
No
1

Data

Problem
Perubahan
Proses Pikir

DS :
- Ny. T mengatakan malas untuk
berfikir
- Ny. T mengatakan tidak tahu,
Lupa saat diberi pertanyaan
- Ny. T mengatakan sering lupa
DO :
- Hasil SPMSQ terdapat 7 kesalahan
- Terlihat bingung saat di beri
pertanyaan
- Hasil penilaian Depresi Beck:
depresi sedang
DS :
Perubahan
- Ny. T juga mengatakan sering
pola tidur
terbangun di malam hari
DO:
- Terlihat ngantuk pada siang hari
- Mata: Pandangan masih jelas,
mata
cekung,
konjungtiva
ananemis, sklera anikterik
DS :
Resiko
- Ny. T mengatakan badannya terhadap cidera
-

sering merasa pegal-pegal.


Hasil pengkajian indeks Katz: Ny.
T mengatakan saya bisa makan, ke
WC, ke kamar kecil, berpakaian

Etiologi
Penurunan
fungsi otak

Perubahan
proses pikir

Kelemahan
otot

dan mandi sendiri tanpa dibantu


DO :
-

Kekuatan otot tangan kanan dan


kiri 4, kaki kanan dan kiri 4
Jalannya terlihat pelan-pelan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
2.
3.

Perubahan proses pikir berhubungan dengan penurunan fungsi otak


Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan proses pikir
Resiko terhadap cidera berhubungan dengan kelemahan otot

INTERVENSI
No.
Tujuan
Dx
Umum
Khusus
1
Menunjukkan a. Mampu
peningkatan
memperlihatkan
daya ingat
kemampuan
kognitif
b. Mampu
mengembangkan
stategi untuk
mengatasi
anggapan diri
yang negative
c. Mampu mengenali
tingkah laku dan
faktor penyebab

Rencana Keperawatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kembangkan lingkungan yang mendukung


dan hubungan klien dan perawat yang
terapeutik
Pertahankan lingkungan yang nyaman dan
tenang
Tatap wajah ketika berbicara dengan klien
Panggil klien dengan namanya
Gunakan suara yang agak rendah dan
berbicara dengan perlahan ke klien
Gunakan kata-kata pendek, kalimat dan
instruksi sederhana
Ciptakan aktivitas sederhana, bermanfaat dan
bersifat kompetitif
Ajarkan senam otak

Rasional
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kebutuhan
tidur
tercukupi

a.
Memahami faktor
penyebab
gangguan pola
tidur
b.
Melaporkan dapat
beristirahat yang
cukup

1.
2.
3.
4.
5.

Jangan menganjurkan klien tidur siang


apabila berefek negative pada tidur malam
hari
Tentukan kebiasaan dan rutinitas klien waktu
tidur malam
Anjurkan untuk mengatur lingkungan yang
nyaman
untuk
meningkatkan
tidur
(mematikan lampu)
Ingatkan pada klien saat waktunya tidur
Turunkan jumlah minum saat sore hari dan
berkemih sebelum tidur

1.
2.
3.
4.
5.

Mengurangi kecemasan dan emosional


Kebisingan merupakan sensori berlebihan yang
meningkatkan gangguan neuron
Menimbulkan perhatian, terutama pada klien
dengan gangguan perceptual
Nama adalah identitas diri dan menimbulkan
pengenalan terhadap realita dan klien
Meningkatkan pemahaman, ucapan tinggi dan
keras menimbulkan stress yang yang
mencetuskan konfrontasi dan respon marah
Komunikasi dalam otak terganggu sehingga
menghilangkan kemampuan klien dalam respon
penerimaan pesan
Memotivasi klien dalam cara menguatkan diri
serta merangsang realita
Senam otak akan mempengaruhi kerja otak
sehingga dapat meningkatkan daya ingat
Irama sirkandian (Irama tidur bangun) akibat
tidur siang
Mengubah pola yang sudah terbiasa dari asupan
makanan terbukti mengganggu tidur
Meningkatkan respon otomatik,
Penguatan
bahwa
saatnya
tidur
dan
memperthankan kestabilan lingkungan
Menurunkan kebutuhan akan bangun dan
berkemih selama malam hari

Meningkatkan a. Meningkatkan
1. Kaji derajat gangguan kemampuan, tingkah 1. Klien dengan tingkah laku impulse beresiko
kekuatan otot
tingkat aktivitas
laku dan penurunan persepsi visual
trauma karena kurang mampu mengandalikan
b. Tidak mengalami
perilaku
cidera
2. Hilangkan sumber bahaya lingkungan
2. Menurunkan resiko terjadinya cidera
3. Kaji tanda ekstramidal, hipotensi ortostastik, 3. Klien dapat melaporkan tanda/gejala
gangguan penglihatan dll.
IMPLEMENTASI

No.
Dx
1

Hari/Tanggal/Waktu

Implementasi
1.

Menjalin
hubungan DS :
terapeutik dengan Ny. T -

Jam 17.05 WIB


2.
Jam 17.30 WIB
2

3.
Jam 18.00

4.
Jam 04.30

Respon

Menatap wajahnya saat


berbicara,
memanggil
namanya
dan
menggunakan
kata/kalimat
yang
pendek dan sederhana
Menganjurkan Ny. T
untuk tidak tidur siang
Menilai kekuatan otot

Ny. T mengatakan senang saat


mengobrol dengan mahasiswa
DO :
Ny. T kooperatif
Dalam menjawab pertanyaan banyak
yang bingung dan lupa
DS :
DO :
Ny. T mau bertatap muka
Terlihat senang saat di panggil namanya
DS :
- Ny. T mengatakan terkadang tidur siang karena tidak ada kegiatan
dan kalau malam susah tidur
DO :DS :
Ny. T mengatakan kakinya sering pegel-pegel

TTD

5.

Jam 16.30

Menganjurkan Ny. T
dan keluarga untuk
selalu
membersihkan
lantai rumah agar tidak
licin

1. Melakukan
sederhana
menceritakan
dahulu

aktivitas
dengan
peristiwa

2. Menanyakan
saat malam

tidurnya

DO :
- kekuatan otot 4444 4444/4444 4444
- Jalannya terlihat pelan-pelan
- PM kooperatif
DS :
- Ny. T mengatakan ya,saya tahu
DO :
- Lantai bersih dan kesad
DS :
- Ny. T mengatakan saya sudah lupa tentang masa lalu saya
DO :
- Terlihat banyak mikir dan bingung saat bercerita

Jam 16.45

Jam 17.00
2

3. Menanyakan kebiasaan
yang dilakukan sebelum
tidur
Jam 17.10
4. Memberikan lingkungan
yang aman dan nyaman
dengan mematikan lampu

DS :
- Ny. T mengatakan tadi malem tidurnya terbangun di tengah malam
DO :DS
- Ny.T mengatakan biasanya sebelum tidur sering bermain-main
dengan cucunya
DO :
Ny. T kooperatif
DS :
PM mengatakan lebih suka lampu di matikan
DO :
- -

Kamis, 18 Desember 1. Memberikan pendidikan DS:2014 jam 07.00


kesehatan
tentang DO:
demensia/pikun
- Terlihat sangat antusias dalam menyimak apa yang sedang di

jam 07.00

2. Melakukan
tindakan
sederhana
untuk
meningkatkan
kognitif
Ny. T dengan melatih
senam otak

jelaskan mahasiswa
DS :
- Ny. T mengatakan merasa senang dengan adanya kegiatan seperti
ini karena terhibur
DO :
- Ny. T kooperatif
- Ny. T dapat menirukan senam otak
EVALUASI

No.
Dx
1

Hari/Tanggal/Waktu
Rabu, 29 Oktober 2014
Jam 07.00

Evaluasi
S:
-

Ny. T mengatakan merasa senang saat ada yang mengajaknya

berbicara
O:
A:
Masalah belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi
2

Terlihat bingung saat bercerita


Kadang kadang tidak bisa menjawabnya

07.00
S:
O:
A:
P:
-

Ny. T mengatakan sering tidur siang jadi pada malem harinya tidak bisa tidur
Ny. T mengatakan akan melakukan senam otak yang telah di latih oleh mahasiswa
kooperatif
Masalah belum teratasi
Lanjutkan intervensi

TTD

07.00
S:
O:
A:
P:
Kamis, 30 Oktober 2014 S;
jam 07.00
O:
A:
P:
07.00

S:
O:
A:
P:
-

Tidak ada benda yang membahayakan


Lantai bersih dan kesad
Masalah teratasi
Intervensi selesai
Ny. T mengatakan lupa saat ditanya tentang keluarganya
Ny. T terlihat banyak berfikir dan lupa dalam menjawab pertanyaan
Masalah belum teratasi
Lanjutkan intervensi
Ny. T mengatakan bisa tidur tanpa terbangun di malam hari
Terlihat lebih segar
Masalah teratasi sebagian
Lanjutkan intervensi

Jumat, 31 Oktober 2014 S :


jam 06.00
O:
A:
P:
16.00

S:
O:
A:
P:
-

Ny. T mengatakan supaya sering untuk mengadakan kegiatan kegiatan


Ny. T terlihat senang sekali saat mengikuti kegiatan yang mahasiswa buat
Masalah teratasi sebagian
Lanjutkan intervensi
Ny. T mengatakan jadi mengerti bagaimana cara supaya tidak sering lupa
Ny. T kooperatif
Masalah teratasi
intervensi selesai

DAFTAR PUSTAKA
Christopher, M . 2007. Pikun dan Pelupa. Jakarta : Dian Rakyat
Copel, L. 2007. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Jakarta ; EGC
Kusuma, W. 2007. Kedaruratan Psikiatri dalam Praktek. Jakarta : Profesional
Books
Nurviandari, K. 2007. Mengenal Demensia
www.komnaslansia.co.id( 27 Juni 2008)

pada

Lanjut

Usia.

Subaidah, M. 2008. Demensia. www.mitrakeluarga.com ( 27 Juni 2008)


Yatim, F. 2003. Pikun ( Demensia) , Penyakit Alzheimer, dan Sejenisnya.
Jakarta:Pustaka Populer Obor
http://www.e-psikologi.com/ gangguan psikologi dan perilaku pada dimensia,
2002