You are on page 1of 9

MODUL 5

OBAT TRADISIONAL 1
Jump 1
1. Obat tradisional : bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan
sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan,
dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
2. Obat herbal terstandar : sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah
dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi.
3. Badan POM : lembaga pemerintah yang bertugas melakukan regulasi, standardisasi, dan sertifikasi produk
makanan dan obat yang mencakup keseluruhan aspek pembuatan, penjualan, penggunaan, dan keamanan makanan,
obat-obatan, kosmetik, dan produk lainnya.
Berdasarkan Keputusan Presiden No. 166 tahun 2000, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM)
ditetapkan sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang bertanggung jawab kepada Presiden dan
dikoordinasikan dengan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.
Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat Badan POM adalah sebuah lembaga di Indonesia yang bertugas
mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia. Fungsi dan tugas badan ini menyerupai fungsi dan
tugas Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat, antara lain:
1. Pengaturan, regulasi, dan standardisasi
2. Lisensi dan sertifikasi industri di bidang farmasi berdasarkan Cara-cara Produksi yang Baik
3. Evaluasi produk sebelum diizinkan beredar
4. Post marketing vigilance termasuk sampling dan pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produksi dan
distribusi, penyidikan dan penegakan hukum.
5. Pre-audit dan pasca-audit iklan dan promosi produk
6. Riset terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan;
7. Komunikasi, informasi dan edukasi publik termasuk peringatan publik.
Fungsi BPOM :

Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan Obat dan Makanan.
Pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang pengawasan Obat dan Makanan.
Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas Badan POM.
Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang pengawasan
Obat dan Makanan.
Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bindang perencanaan umum, ketatausahaan,
organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.

Jump 2
1. Mengapa Garing mengeluhkan sejak 2 jam yang lalu beberapa kali BAB encer dan tidak enak perut?
Menurut World Gastroenterology Organization global guidelines 2005, etiologi diare akut dibagi atas empat
penyebab:
1. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Stafilokokus
aureus, Campylobacter aeromonas
2. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus
3. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli, Trichuris trichiura, Cryptosporidium
parvum, Strongyloides stercoralis
4. Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas, imunodefisiensi, kesulitan makan,

2. Mengapa dengan memakan pucuk daun jambu biji dapat mengurangi keluhan Garing? (efektifitas pucuk
daun jambu biji)
daun jambu biji mengandung komposisi zat antara lain : tannin, minyak atsiri, flavonoid, alkaloid, ursolic,
oleanolic, karoten, vitamin B1, B2, B3, B6 dan vitamin C serta resin.
minyak atsiri bersifat antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri staphilococcus epidermis yang
memang biasanya terdapat saat diare dengan mengganggu proses terbentuknya membran atau dinding sel.
Tannin semakin halus serbuk daunnya, semakin tinggi kandungan tanninnya yang bekerja sebagai astrengentsia
(pengerut) yaitu melapisi mukosa usus terutama mukosa usus besar. Tannin mempunyai sifat sebagai pengelat
(pengerut) berefek spasmolitik, yang menciutkan atau mengkerutkan usus sehingga gerak peristaltik usus berkurang.
Efek negatif Tannin: efek spasmolitik dapat mengkerutkan dinding sel atau membran sel sehingga mengganggu
permeabilitas sel itu sendiri, sehingga menghambat pertumbuhan sel bahkan mati.
Alkaloid brotowali dapat menggangu terbentuknya jembatan sebrang silang komponen penyusunan peptidoglikan
pada sel bakteri sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut
(Robinson, 1998),
Penelitian terhadap kemampuan rebusan daun jambu biji dalam kadar 2% dapat menghambat pertumbuhan S.
Aureus dan dalam kadar 10% dapat menghambat pertumbuhan E. Colli. Penelitian lain tentang pemanfaatan daun
jambi biji dalam perawatan diare juga dimanfaatkan yaitu dengan cara memakan langsung daun jambu biji muda
dan biasanya penderita akan sembuh dalam waktu sekitar 3 hari (Staf Pengajar Universitas Bengkulu, Widiono,
2001).
3. Mengapa Garing bisa terlihat lemas padahal dia sudah mengonsumsi pucuk daun jambu biji yang
disarankan oleh ibunya?

Lemas Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium, klorida, dan
bikarbonat Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan demam Hal ini dapat
menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik, dan hipovolemia lemas. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling
berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian bila tidak diobati dengan
tepat.
4. Bagaimana cara pengolahan dan penggunaan pucuk daun jambu biji agar dapat mengurangi keluhan
Garing?
cara 1 :
a. ambil daun jambu biji yang masih muda (utamakan yang pucuk) 2-3 lembar kemudian cuci bersih
b. rebus daun tersebut dalam 1,5 liter air hingga mendidih atau sekitar 15 menit
c. saring airnya dan konsumsi 2x sehari
cara 2:
daun yang masih muda dapat dimakan atau mengunyah langsung dengan tambahkan sedikit garam untuk
menyamarkan rasa aslinya. telan airnya dan buang ampasnya, bila kurang suka dengan rasanya bisa ditambahkan
madu sebagai pemanis.
5. Pemeriksaan apakah yang kemungkinan dilakukan dokter sehingga Garing dapat didiagnosa mengalami
diare?
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi
paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Sementara untuk bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran
tinja >10 g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie, 2010).
Pemeriksaan :
1. Anamnesis.
Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas, yaitu mual, muntah, nyeri abdomen, demam,
dan frekuensi BAB yang sering, malabsorptif, atau berdarah tergantung bakteri patogen yang spesifik.
2. Pemeriksaan Fisik.
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan pernapasan
serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi: kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit
abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya: ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cowong atau tidak, ada atau
tidaknya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah.
Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising usus yang lemah atau tidak ada
bila terdapat hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan
derajat dehidrasi yang terjadi.
3. Laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umumnya tidak diperlukan, Hanya pada keadaan tertentu
mungkin diperlukan, misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau
pada penderita dengan dehidrasi berat.
Pemeriksaan tinja baik makroskopik maupun mikroskopik dapat dilakukan untuk menentukan diagnosa yang
pasti. Secara makroskopik harus diperhatikan bentuk, warna tinja, ada tidaknya darah, lender, pus, lemak, dan lainlain. Pemeriksaan mikroskopik melihat ada tidaknya leukosit, eritrosit, telur cacing, parasit, bakteri, dan lain-lain
6. Mengapa ibu Garing masih meragukan keamanan obat tradisional? dan apakah pucuk daun jambu biji td
aman dikonsumsi oleh Garing (8 tahun)?
7. Bagaimana efektifitas dan keamanan air rebusan daun naga dalam mengobati penyakit hipertensi yang
dialami oleh suaminya ibu Garing?
8. Apakah pengolahan(merebus daunnya) dan penggunaan (setiap hari) daun naga yang dilakukan oleh
suaminya ibu Garing sudah tepat?

9. Mengapa setelah setiap hari mngkonsumsi air rebusan daun naga tsb suaminya ibu Garing mengeluh
pusing?
10. Bagaimana cara kerja air rebusan daun naga tsb sehingga bisa menyebabkan tekanan darah suaminya
ibu Garing sangat rendah?
11. Bagaimana ringkasan sejarah mengenai obat tradisional?
Pada jaman mesir kuno, dimana para budak diberi ransum bawang setiap hari untuk membantu menghilangkan
banyak penyakit demam dan infeksi yang umum terjadi pada masa itu. Sejak itu catatan pertama tentang tanaman
obat dan berbagai khasiatnya telah dikumpulkan oleh orang-orang mesir kuno. Dari abad 1500 SM telah dicatat cara
membuat berbagai tanaman obat, termasuk jintan dan kayu manis.
Tahun 1864 National Association of Medical Herbalists didirikan, untuk mengorganisir pelatihan para praktisi
pengobatan herbal serta mempertahankan standart-standar praktek pengobatan. Hingga awal abad ini banyak
institute telah berdiri untuk mempelajari pengobatan herbal. Obat-obatan herbal dapat dipandang sebagai
pendahuluan farmakologi modern.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa di wilayah nusantara dari abad ke 5 - 19, tanaman obat merupakan sarana
paling utama bagi masyarakat tradisional untuk pengobatan penyakit dan pemeliharan kesehatan. Saat ini obat
herbal digunakan di klinik pengobatan Tradisional RS.Dr.,Sutomo Surabaya dan beberapa rumah sakit besar di
Jakarta juga sudah menyediakan obat herbal.
Tahun 1976, merupakan awal pengembangan O.T di Indonesia dengan dibentuknya DIREKTORAT
PENGAWASAN OBAT TRADISIONAL, PADA DIREKTORAT PENGAWAN OBAT DAN MAKANAN,
DEPARTEMEN KESEHATAN
Lahir aturan-aturan tentang obat radisional yang dikenal dengan paket deregulasi, yaitu Peraturan Menteri
Kesehatan R.I : 1. No. 179/Men.Kes/Per/VII/76, Produksi dan Distribusi Obat Tradisional
2. No. 180/Men.Kes/Per/VII/76, Wajib Daftar Obat Tradisional
3. No. 181/Men.Kes/Per/VII/76, Pembungkusan dan Penandaan Obat Tradisional
Beberapa dekade terakhir ini terdapat kecenderungan secara global untuk kembali ke alam. Kecenderungan untuk
kembali ke alam atau back to nature , dalam bidang pengobatan pada herbal ini sangat kuat di Negara-negara
maju dan berpengaruh besar di Negara-negara berkembang seperti Indonesia. Lembaga-lembaga pendidikan
pelatihan herbalpun kini telah banyak diminati masyarakat. Pentingnya Kepedulian kita akan tanaman obat atau
herbal yang telah sejak jaman dulu kala perlu di lestarikan dan di terapkan seperti negara-negara lain yang telah
menggunakan herbal sebagai obat leluhur.
12. Apa yg dimaksud dengan obat herbal terstandar? Apakah sama obat tradisional dengan obat herbal
terstandar?
Obat Herbal Terstandar (OHT) adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang
dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral.
Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan
tenaga kerja mengetahui dan terampil dalam pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan teknologi tinggi,
jenis herbal ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik
seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan obat
tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis. Tulisan OBAT HERBAL TERSTANDAR harus
jelas dan mudah dibaca, dicetak dengan warna hitam diatas dasar warna putih atau warna lain yang menyolok
kontras dengan tulisan OBAT HERBAL TERSTANDAR
Contoh OHT (Diapet, Hi-Stimono, Irex-Max, Kiranti Pegel Linu, Kiranti Sehat Datang Bulan) OHT adalah strata

ke-dua setelah Jamu.


Perbedaan obat herbal terstandar dengan obat tradisional
Obat Herbal dan Tradisional keduanya serupa tapi tidak sama, yang membedakan adalah Obat herbal sudah melalui
uji klinis maupun ilmiah, bahan yang dipakai biasanya sudah terstandar, sedankan Obat tradisional tidak melalui uji
klinis tetapi sudah teruji secara empiris (bukti nyata). Keduanya sama baiknya asal tidak dicampur dengan bahan
kimia maupun pengawet sintetis.
13. Apa saja klasifikasi obat tradisional?
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,
sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun-temurun telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman (DepKesRI).
Obat bahan alam yang ada di Indonesia saat ini dapat dikategorikan menjadi 3 kategori, yaitu jamu, obat herbal
terstandar, dan fitofarmaka.
1.Jamu (Empirical based herbal medicine)

Logo Jamu
Jamu adalah obat tradisional yang disiapkan dan disediakan secara tradisional. Berisi seluruh bahan Tanaman yang
menjadi penyusun jamu tersebut, higienis (bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional berdasarkan
pengalaman. Sifat jamu umumnya belum terbukti secara ilmiah (empirik) namun telah banyak dipakai oleh
masyarakat luas. Belum ada pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi digunakan dengan bukti empiris
berdasarkan pengalaman turun temurun. Perlu diperhatikan, JAMU itu bisa diartikan denga kata lain OBAT
ASLI INDONESIA, jadi jika meyebutkan jangan JAMU INDONESIA tapi cukup dengan JAMU.
2. Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine)

Logo Obat Herbal terstandar (OHT)


Penjelasan dapat dilihat di nmr 12
Intinya OHT sudah terstandardisasi komposisinya, dan sudah diujikan dan terbukti berkhasiat lewat
penelitian pada hewan.
3.Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)

Logo Fitofarmaka
Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan obat modern karena :
Proses pembuatannya yang telah terstandar,
Ditunjang bukti ilmiah s/d uji klinik pada manusia dengan criteria- memenuhi syarat ilmiah,
Protokol uji yang telah disetujui,
Dilakukan oleh pelaksana yang kompeten,
Memenuhi prinsip etika,
Tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat.
Pada intinya, fitofarmaka itu obat dari bahan alam yang secara penelitian dan khasiat sudah bisa
disetarakan dengan obat-obatan sintesis/modern. Penelitiannya sudah melalui uji klinis (pada manusia)
Produk fitofarmaka yang beredar di Indonesia:
1. Diabmeneer (Nyonya Meneer), fitofarmaka diabetes.
2. Rheumaneer (Nyonya Meneer), fitofarmaka rematik.
3. Nodiar (Kimia Farma), fitofarmaka diare.
4. Stimuno (Dexa Medica), fitofarmaka modulator imun.
5. Tensigard (Phapros), fitofarmaka hipertensi.
6. X-Gra (Phapros), fitofarmaka lemah syahwat.
Perbedaan Jamu OHT dan Fitofarmaka :
- Jamu Obat tradisional terbukti berkhasiat dan aman berdasarkan bukti empiris turun temurun.
- OHT Obat Tradisional terbukti berkhasiat melalui uji pra-klinis dan teruji aman melalui uji toksisitas, bahan
terstandar dan diproduksi secara higienis.
- Fitofarmaka Obat tradisional terbuksi berkhasiat melalui uji pra-klinis dan uji klinis, teruji aman melalui uji
toksisitas, bahan terstandar, dan diproduksi secara higienis dan bermutu.
14. Pengawasan seperti apa yang dilakukan oleh Badan POM spt di skenario?
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen melaksanakan penilaian dan
registrasi obat tradisional, kosmetik dan suplemen makanan sebelum beredar di Indonesia. Selanjutnya melakukan
pengawasan peredaran obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen, termasuk penandaan dan periklanan.
Penegakan hukum dilakukan dengan inspeksi Cara Produksi yang Baik, sampling, penarikan produk, public
warning sampai pro justicia. Didukung oleh antara lain Tim Penilai Obat Tradisional dan Tim Penilai Kosmetik.
15. Bagaimana proses pengawasan yg dilakukan badan POM? Adakah tugas atau tanggung jawab Badan
POM yg lain selain sebagai pengawas?
Berdasarkan Keputusan Presiden No. 166 tahun 2000, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM)
ditetapkan sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang bertanggung jawab kepada Presiden dan
dikoordinasikan dengan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.
Sekretariat Utama melaksanakan koordinasi perencanaan strategis dan organisasi, pengembangan pegawai,
pengelolaan keuangan, bantuan hukum dan legislasi, hubungan masyarakat dan kerjasama internasional, serta akses
masyarakat terhadap Badan POM melalui Unit Layanan Pengaduan Konsumen yang menerima dan
menindaklanjuti berbagai pengaduan dari masyarakat di bidang obat dan makanan.

Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA melaksanakan penilaian dan evaluasi khasiat,
keamanan dan mutu obat, produk biologi dan alat kesehatan sebelum beredar di Indonesia dan juga produk uji
klinik. Selanjutnya melakukan pengawasan peredaran produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif
lainnya. Disamping itu juga melakukan sertifikasi produk terapetik, dan inspeksi penerapan Cara Pembuatan Obat
yang Baik, inspeksi sarana produksi dan distribusi, sampling, penarikan produk, public warning sampai pro justicia.
Didukung oleh antara lain Komite Nasional Penilai Obat Jadi, Komite Nasional Penilai Alat Kesehatan dan
Tim Penilai Periklanan Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, Obat Tradisional dan Suplemen Makanan.
Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya melaksanakan penilaian dan evaluasi
keamanan pangan sebelum beredar di Indonesia dan selama peredaran seperti pengawasan terhadap sarana produksi
dan distribusi maupun komoditinya, termasuk penandaan dan periklanan, dan pengamanan produk dan bahan
berbahaya. Disamping itu melakukan sertifikasi produk pangan. Produsen dan distributor dibina untuk menerapkan
Sistem Jaminan Mutu, terutama penerapan Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB), Hazard Analysis Critical
Control Points (HACCP), Cara Distribusi Makanan yang Baik (CDMB) serta Total Quality Management (TQM).
Disamping itu diselenggarakan surveilan, penyuluhan dan informasi keamanan pangan dan bahan berbahaya.
Didukung antara lain Tim Penilai Keamanan Pangan.
Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional melakukan pemeriksaan secara laboratorium, pengembangan
prosedur pengujian dan penilaian mutu produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, alat kesehatan,
obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan bahan berbahaya. Disamping merupakan rujukan
dari 26 (duapuluh enam) laboratorium pengawasan obat dan makanan di seluruh Indonesia, telah diakreditasi oleh
Komite Akreditasi Nasional, Badan Standardisasi Nasional tahun 1999 serta merupakan WHO Collaborating
Center sejak 1986 dan anggota International Certification Scheme.
Pusat Penyidikan Obat dan Makanan melaksanakan kegiatan penyelidikan dan penyidikan terhadap perbuatan
melawan hukum di bidang produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif, obat tradisional, kosmetik dan
produk komplemen dan makanan serta produk sejenis lainnya.
Pusat Riset Obat dan Makanan melaksanakan kegiatan di bidang riset toksikologi, keamanan pangan dan produk
terapetik.
Pusat Informasi Obat dan Makanan memberikan pelayanan informasi obat dan makanan, informasi keracunan
dan koordinasi kegiatan teknologi informasi Badan POM.
16. Hal-hal lain apa saja yang berkaitan dengan obat tradisional?
Efek samping obat tradisional
tidak benar, bila dikatakan OT/TO itu tidak memiliki efek samping, sekecil apapun efek samping tersebut tetap ada.
Ada beberapa contoh misalnya merica, pada satu sisi baik untuk diabetes tetapi efek lainnya dalah dapat
meningkatkan tekanan darah sehingga bagi penderita diabetes sekaligus hipertensi dianjurkan untuk tidak
memasukkan merica dalam obat tradisional yang dikonsumsi. Beras kencur yang bermanfaat untuk menekan batuk
tetapi efek sampingnya dapat meningkatkan tekanan darah maka orang yang menderita hipertensi dilarang
mengkonsumsinya.dan brotowali yang dinyatakan memiliki efek samping dapat mengganggu kehamilan dan
pertumbuhan plasenta.
Selain yang telah disebutkan diatas, ada beberapa tanaman obat/ramuan yang memang berefek keras atau
mempunyai efek samping berbahaya terhadap salah satu organ tubuh. Selengkapnya TO tersebut seperti tersaji
pada tabel berikut :
Tanaman Obat/Ramuan OT yang berefek keras (mempunyai efek samping berbahaya)
NO
1.
2.

EFEK TERHADAP
Jantung
Susunan syaraf otonom

CONTOH TANAMAN OBAT


Daun digitalis, daun oleander, daun senggunggu
Umbi gadung, biji saga, daun dan buah kecubung, daun
gigil, biji jarak, daun tuba

3.
4.
5.
6.

Susunan Syaraf Pusat


Sistem Pencernaan
Saluran Pernafasan
Sistem Reproduksi Wanita (Abortivum)

7.

Sistem Reproduksi Pria

8.

Saluran Kencing

9.
10.
11.

Hati/Lever
Meningkatkan kadar asam urat darah
Menurunkan Jumlah Sel Darah Putih

Daun koka
Biji ceguk, daun widuri
Kulit buah jambu monyet
Jungrahap, jarong, daun maja, akar kelor, buah nanas
muda
~ penurun libido => biji kapas
~ melemahkan spermatozoa => biji pare
Diuretik kuat => daun keji beling, meniran
Memacu batu ginjal => bayam, kubis, nenas
Konfrei, arak, daun imba
Mlinjo, kacang-kacangan
Ochrosia spp.
Vinca rosea (daun tapak dara)

Tanaman yang dianggap berbahaya (LD 50 : kecil, tetapi belum diketahui kandungan mana yang
mengakibatkan gejala negatif
NO BAHAN BAKU DAN TANAMAN ASAL
FAMILIA
LD-50
1.
Majakan (proses reaksi daun Quercus lusitanica Roxb.)
Fagaceae
16,45 mg/kg. BB
2.
Nagasari (bunga Mesua ferae L.)
Guttiferae
20,93 mg/kg. BB
3.
Sukmadiluwih (buah Gunera macrophyla Bl.)
Halorrhagidaceae
21,91 mg/Kg.BB
4.
Sidowayah (bunga Woodfor-dia floribunda)
Litraceae
24,22 mg/kg.BB
5.
Kulit buah delima (Punica granatum L.)
28,0 mg/kg.BB
Tanaman yang bersifat oksitosik ( merangsang uterus), tetapi belum diketahui zat penyebabnya
1. Jungrahap (daun Beachea frutescen L. familia Myrtaceae)
2. Majakan (eksudat daun Quercus lusitanica Lamk. Familia Fagaceae)
3. daun kaki kuda (Centela asiatica Urb.familia Umbeliferaeae)
4. Meniran (Phyllathus niruri L.familia Euphorbiaceae)
5. umbi Angelica sinensis L. ~ ramuan yang menyebabkan cacat
Kelima bahan tersebut disusun berdasarkan urutan paling kuat sifat oksitosiknya.
17. Apa saja contoh penyakit lainnya yang dapat diobati dengan obat tradisional dan bagaimana cara
penggunaannya? (diprint)
18. Apa saja kelebihan dan kekurangan penggunaan obat tradisional?
Kelebihan Obat Tradisional .
1). Efek samping OT relatif kecil bila digunakan secara benar dan tepat
OT/TO akan bermanfaat dan aman jika digunakan dengan tepat, baik takaran, waktu dan cara penggunaan,
pemilihan bahan serta penyesuai dengan indikasi tertentu.
2). Adanya efek komplementer atau sinergisme dalam ramuan obat tradisional/komponen bioaktif tanaman obat
Dalam suatu ramuan OT umumnya terdiri dari beberapa jenis TO yang memiliki efek saling mendukung satu
sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Misalnya suatu formulasi yang ditujukan untuk menurunkan
tekanan darah, komponennya terdiri dari : daun sledri (sebagai vasodilator), daun apokat atau akar teki (sebagai
diuretika), daun murbei atau besaren (sebagai Ca-antagonis) serta biji pala (sebagai sedatif ringan).
3). Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi
Zat aktif pada tanaman obat umumnya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tanaman bisa
menghasilkan beberapa metabolit sekunder; sehingga memungkinkan tanaman tersebut memiliki lebih dari satu efek
farmakologi. Efek tersebut adakalanya saling mendukung (seperti pada daun kumis kucing), tetapi ada juga yang
seakan-akan saling berlawanan atau kontradiksi (sperti pada akar kelembak). Sebagai contoh misalnya pada
rimpang temu lawak (Curcuma xanthoriza) yang disebutkan memiliki beberapa efek farmakologi, antara lain :
sebagai anti inflamasi (anti radang), anti hiperlipidemia (penurun lipida darah), cholagogum (merangsang

pengeluaran produksi cairan empedu), hepatoprotektor (mencegah peradangan hati) dan juga stomakikum (memacu
nafsu makan).
4). Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif
Kelemahan Produk Obat Alam / Obat Tradisional
beberapa kelemahan tersebut antara lain : efek farmakologisnya yang lemah, bahan baku belum terstandar dan
bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis
mikroorganisme.