You are on page 1of 14

BAB 2

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 PENGKAJIAN
a. Mengkaji identitas klien yang meliputi : nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan,
pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alamat.
b. Keluhan Utama : Pusing, kelelahan dan sesak nafas.
c. Riwayat Kesehatan:
RKD ( Riwayat Kesehatan Dahulu)
Kemungkinan klien kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat, Fe dan
vitamin B12.
RKK (Riwayat Kesehatan Keluarga).
RKS (Riwayat Kesehatan Sekarang):
a. Klien terlihat keletihan dan lemah.
b. Muka klien pucat.
c. Mengeluh nyeri mulut dan lidah.
d. Kebutuhan dasar Manusia :
1. Aktivitas / Istirahat
Gejala :

Keletihan, kelemahan otot, malaise umum.

Kehilangan produktifitas, penurunan semangat untuk bekerja.

Toleransi terhadap latihan rendah.

Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.


Tanda :

Takikardia, takipnea, dipsnea pada saat beraktivitas atau istirahat.

Letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya.

Ataksia, tubuh tidak tegak, kelemahan otot dan penurunan kekuatan.

Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda-tanda lain yang menunjukkan
keletih.
2. Sirkulasi

Gejala : Riwayat kehilangan darah kronis, misalnya: perdarahan GI kronis, menstruasi berat,
angina pektoris, dan riwayat endokarditis infektif kronis.

Tanda : palpitasi, takikardi, tekanan nadi lebar, disritmia, bunyi jantung murmur sistolik,
pucat pada kulit dan membran mukosa (konjungtiva, mulut, faring, bibir dan dasar kuku),
dispnea dan orthopnea.

as Ego

Gejala : Keyakinan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan misalnya penolakan


transfusi darah.

Tanda : Depresi
4. Eliminasi
Gejala : Sindrom malabsorpsi, gagal ginjal, hematemesisi, feses dengan darah segar, melena,
diare, konstipasi, penurunan haluaran urine.
Tanda : distensi abdomen.

an / cairan
Gejala : Penurunan masukan diet, nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada
faring), anoreksi, mual, muntah, dispepsia, adanya penurunan berat badan.
Tanda : Membrane mukusa kering, pucat, turgor kulit buruk, kering, tidak elastis, stomatitis,
glositis dan inflamasi pada bibir.

ensori
Gejala : Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidakmampuan berkonsentrasi,
insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata, kelemahan, keseimbangan buruk.
Tanda : Peka rangsang, gelisah, depresi, apatis, tidak mampu berespon lambat dan dangkal,
gangguan koordinasi, epistaksis, hemoragis retina.

asan
Gejala : Napas pendek pada istirahat dan aktivitas, riwayat TBC dan abses paru
Tanda : Takipnea, ortopnea dan dispnea.
Integumen : kulit berminyak, pucat sampai kuning, sklera agak ikterik, bibir dan mukosa
sangat pucat.
e. Pemeriksaan Diagnostik
1. Jumlah darah lengkap : Hematokrit menurun dan Hb menurun 4 sampai 5 gr/100ml.
2.

Jumlah eritrosit menurun, SDM bervariasi, ukuran abnormal (anisositosis), SDM bentuk
abnormal bervariasi (poikilositosis).

3. LED : peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misalnya peningkatan kerusakan


SDM.
4. Sel darah Putih : Meningkat (hemolitik), atau menurun (aplastik).

5. Jumlah trombosit : Menurun ( Aplastik), meningkat (DB), normal atau tinggi (Hemolitik).
6. Tes Schiling : penurunan ekskresi vitamin B12 urine (aplastik).
7.

Folat serum dan vitamin B12 : membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan
defisiensi masuknya/absorbsi.

8.

Aspirasi sumsum tulang/biopsi : sel mungkin nampak berubah dalam jumlah, ukuran, dan
bentuk, membentuk membedakan tipe anemia, misalnya : peningkatan megaloblastik.

9. Analisa lambung : tidak ada asam klorida (HCL) bebeas setelah penyuntikan pengastrin atau
histamin.
f. Kemungkinan Komplikasi

Kardiomegali

GJK

Gastritis

Halusinasi

Infeksi

g. Penatalaksanaan medis
Terapi pemberian vitamin B12
Pemberian zat besi
Obat kumur antijamur, analgesik
Pemantauan TTV.
2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul pada Anemia Megaloblastik, antara lain:
1)

Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk
pengiriman oksigen/nutrisi ke sel.

2)

Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan


kebutuhan.

3)

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna atau
ketidakmampuan mencerna makanan/absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel
darah merah.

4) Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi.
5)

Risiko tinggi terhadap infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan
hemoglobin leukopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan).

6)

Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan proses
pencernaan, efek samping terapi obat.

7)

Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi


informasi, tidak mengenal sumber informasi.

2.3 RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN DAN RASIONAL


1. Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk
pengiriman oksigen/nutrisi ke sel.
Tujuan : Peningkatan perfusi jaringan yang adekuat.

Kriteria Hasil : Klien menunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil, membran mukosa berwarna
merah muda,haluaran urin adekuat.
Intervensi dan Rasional :
1.

Awasi tanda-tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku
dan CRT.

Rasional : Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan


membantu menetukan kebutuhan intervensi.

2. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.

Rasional : Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan


seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi.

3. Awasi upaya pernapasan dan auskultasi bunyi napas.

Rasional : dispnea, gemericik menununjukkan gangguan jantung karena regangan jantung


lama/peningkatan kompensasi curah jantung.

4. Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi.


Rasional : Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark.
5. Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium.
a.

Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi.


Rasional : Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki defisiensi untuk
menurunkan resiko perdarahan.

b. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.


Rasional : Memaksimalkan transport oksigen ke jaringan.

2. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan


kebutuhan.
Tujuan : Dapat mempertahankan /meningkatkan ambulasi/aktivitas.
Kriteria Hasil :
a. Melaporkan peningkatan aktivitas (toleransi termasuk aktivitas sehari-hari).
b. Menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan
darah masih dalam rentang normal.
Intervensi dan Rasional :
1. Kaji kemampuan ADL pasien.
Rasional : Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.
2. Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot.
Rasional : Menunjukkan perubahan neurologi karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi
keamanan pasien/risiko cedera.
3. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas.
Rasional : Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah
oksigen adekuat ke jaringan.
4. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising, pertahankan tirah
baring bila di indikasikan.

Rasional : Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan


menurunkan regangan jantung dan paru

5. Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.

Rasional : hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing, dan
peningkatan resiko cidera.

6. Berikan bantuan dalam aktivitas /ambulansi bila perlu.


Rasional : membantu mobilisasi kepada klien.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna atau
ketidakmampuan mencerna makanan /absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk
pembentukan sel darah merah.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi secara adekuat.


Kriteria hasil :
Menunujukkan peningkatan /mempertahankan berat badan dengan nilai laboratorium normal.
Tidak mengalami tanda mal nutrisi.
Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau
mempertahankan berat badan yang sesuai.
Intervensi dan Rasional :
1. kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang di sukai.

Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.

2. Obserpasi dan catat masukan makanan pasien.

Rasional : Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.

3. Berikan makanan sedikit dan prekuensi sering

Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan dan
mencegah distensi.

4. Observasi dan catat kejadian mual atau muntah, flatus dan gejala lain yang berhubungan.

Rasional : Gejala GI dapat menunjukan efek anemia (hipoksia) pada organ.

5. Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik sebelum dan sesudah makan,gunakan sikat gigi
halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa
oral luka.

Rasional : meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan pertumbuhan


bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin di
perlukan bila jringan rapuh, luka, pendarahan dan nyeri berat.

6. Berikan diet halus, jumlah serat, hindari makanan panas, pedas atau terlalu asam sesuai
indikasi.

Rasional : bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi tipe makanan yang dapat di toleransi
pasien.

7. Kolaborasi dengan ahli gizi.

Rasional : Membantu dalam membuat rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individu.

8. Pantau pemerikasaan laboratorium misalnya Hb / Ht, albumin, protein, besi serum, B12,
asam folat, elektrolit serum.

Rasional : meningkatkan efektivitas program pengobatan termasuk sumber diet nutrisi yang
dibutuhkan.

9. Berika obat sesuai indikasi misalnya vitamin dan suplemen mineral (vitamin B12, asam
folat(flovite), asam askorbat(vit C), besi dextran (IM/IV)), tambahan besi oral, HCL, anti
jamur.

Rasional : kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia atau adanya masukan oral
yang buruk dan defisiensi yang di identifikasi. Diberikan sampai defisit diperkrakan teratasi
dan di simpan untuk yang tak dapat di absorpsi atau terapi besi oral, atau bila kehilang darah
terlalu cepat untuk penggantian oral secara efektif. mempunyai sifat absorpsi vitamin B12
selama minggu pertama terapi.

4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b/d perubahan sirkulasi.


Tujuan : Tidak adanya kerusakan pada jaringan tubuh dan sirkulasi peredaran darah kembali normal.
Kriteria Hasil :
1. Mempertahankan integritas kulit.
2. Mengidentifikasikan faktor resiko atau perilaku individu untuk mencegah cidera dermal
Intervensi :
1. Kaji integritas kulit dan catat perubahan pada turgor, gangguan warna.

Rasional : kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi, dan imobilisasi. Jaringan dapat
menjadi rapuh dan cenderung menjadi infeksi dan rusak.

2. Ubah posisi secara periodik dan pijat permukaan tulang bila pasien tidak bergerak atau
ditempat tidur.

Rasional : Meningkatkan sirkulasi ke semua area kulit dan membatasi iskemik jaringan atau
mempengaruhi hipoksia seluler.

3. Upayakan permukaan kulit yang kering dan bersih.

Rasional : Area lembab, terkontaminasi memberikan media yang sangat baik untuk
pertumbuhan organisme patogenik.

4. Bantu untuk latihan gerak aktif pasif.

Rasional : Meningkatkan sirkulasi jaringan dan mencegah statis.

5. Hindari tekanan yang lama.

Rasional : Mencegah perluasan luka.

5. Risiko tinggi terhadap infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan
hemoglobin leukopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan).

Tujuan : Infeksi tidak dapat terjadi.


Kriteria Hasil :
a.

Mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi.

b. Meningkatkan penyembuhan luka, bebas drainase purulen atau eritema, dan demam.
Intervensi dan Rasional :
1. Tingkatkan cuci tangan yang baik, oleh pemberi perawatan dan pasien.

Rasional : mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. Catatan : pasien dengan anemia


berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit.

2. Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka.

Rasional : menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri.

3. Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat.

Rasional : menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi.

4. Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering, latihan batuk dan napas dalam.

Rasional : meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi
untuk mencegah pneumonia.

5. Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam.

Rasional : adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan.

6. Amati eritema/cairan luka.

Rasional : indikator infeksi lokal. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila
granulosit tertekan.

7. Kolaborasi dengan tim medis.


Berikan antiseptic topikal, antibiotik sistemik.

Rasional : mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk
pengobatan proses infeksi local.

6.

Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan

proses pencernaan, efek samping terapi obat.


Tujuan : Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus.
Kriteria Hasil : Menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup, yang diperlukan sebagai penyebab, factor
pemberat.
Intervensi dan Rasional :
1. Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah.

Rasional : Membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang tepat.

2. Auskultasi bunyi usus.

Rasional : bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi.

3. Awasi intake dan output serta haluaran urin (makanan dan cairan).

Rasional : dapat mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan berlebihan atau alat dalam


mengidentifikasi defisiensi diet.

4. Hindari makanan yang membentuk gas.

Rasional : menurunkan distress gastrik dan distensi abdomen.

5.

Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk serta Berikan obat
antidiare, misalnya defenoxilat hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat
mengabsorpsi air, misalnya Metamucil.

Rasional : menurunkan motilitas usus bila diare terjadi dan serat menahan enzim pencernaan
dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian
menghasilkan bulk, yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi.

7.

Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat, salah


interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.

Tujuan : Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit, prosedur diagnostic dan rencana
pengobatan.
Kriteria Hasil :
Pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan penatalaksanaan penyakit.
Mengidentifikasi factor penyebab.
Melakukan tiindakan yang perlu/perubahan pola hidup.
Intervensi dan Rasional :
1.

Berikan informasi tentang anemia spesifik. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung
pada tipe dan beratnya anemia.

Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan yang
tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi.

2. Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostik.

Rasional : ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress, selanjutnya


meningkatkan beban jantung. Pengetahuan menurunkan ansietas.

3. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.

Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang
penyakitnya.

4. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.

Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.

5.

Mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari
tindakan yang dilakukan.

Rasional : Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah
diberikan.

2.4 EVALUASI
1. S: Klien mengatakan kondisi membaik, pasien mengatakan tidak sesak nafas dan tidak pusing.
O: TD ( 120/80 mmHg), membran mukosa berwarna merah muda, haluaran urin adekuat
(kurang lebih 1500 ml/24 jam). RR (20x/menit), nadi 80x/menit,suhu 36C. Turgor kulit
dan CRT kembali 2 detik dan membaik serta konjungtiva merah muda. Hb dalam keadaan
normal.
A: Intervensi berhasil semua
P: Hentikan intervensi.
2. S: Pasien melaporkan peningkatan aktivitas (toleransi termasuk aktivitas sehari-hari), pasien
dapat melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan dari keluarga maupun perawat, dan pasien
tidak mengalami kesulitan dalam bergerak.
O: Kekuatan otot kaki ka/ki (5/5), tangan ka/ki (5/5), GCS : 15 (E:4,V:5,M:6), pasien dapat
melakukan aktivitas seperti biasa, dapat duduk dan bangun sendiri. Tanda-tanda vital dalam
rentang normal (Td :120/80, S: 37 C, RR: 21 x/mnt.
A: Masalah teratasi
P: Hentikan intervensi
3. S: Pasien mengatakan pola makan sudah baik dengan habis setiap porsi, mual dan muntah tidak
terjadi.
O: Makan 3x/hari, BB 50 kg, TB 160mm, tidak terdapat tanda-tanda kurang nutrisi separti:
Penurunan BB, pola makan pasien dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan
baik. Pasien terlihat bugar badannya dan tidak lemah.
A: Masalh teratasi
P: Hentikan Intervensi
4. S: -

O: Peredaran darah normal,pasien dapt mencegah (mengatasi) perdarahan, pasien dapat


mempertahankan integritas kulitnya dengan meningkatkan kecukupan gizi, turgor kulit dan
CRT kembali normal, keadaan kulit kering.
A: Masalah teratasi
P: Hentikan Intervensi
5. S: pasien mengatakan luka yang ada sudah tidak terasa sakit, panas maupun nyeri, luka sudah
mengering dan sudah membentuk jaringan yang baru.
O: Pasien dapat mencegah/menurunkan risiko infeksi, penyembuhan luka meningkat, produksi
drainase purulen atau eritema menurun, dan demam pasien turun hingga taraf normal(36C),
integritas kulit sudah membaik.
A: Masalah teratasi
P: Hentikan intervensi
6. S: Pasien mengatakan pola eliminasi sudah normal (seperti pola BAB sebelum sakit), BAB
1-2 x/ hari.
O: BAB 1-2x/hari, warna kuning, konsistensi berbentuk lunak tidak keras, jumlah tidak lebih dari
200ml.
A: Masalah teratasi(pasien pulang).
P: Hentikan intervensi
7. S: Pasien mengatakan paham tentang proses penyakit yang di derita.
O: Pasien dapat mengatasi tentang masalahnya, pasien paham tentang penyakitnya, pasien
mendapatkan informasi tentang penyakitnya dan dapat menerapkan informasi yang di
dapatnya pada saat pasien sakit.
A: Masalah teratasi
P: Hentikan intervansi

BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Anemia Megaloblastik adalah sekelompok anemia yang khas ditandai oleh
adanya eritoblas yang besar dalam sumsum tulang sebagai akibat dari maturasi inti sel-sel
tersebut adalah megaloblas. Sel megaloblas adalah sel precursor eritrosit dengan bentuk sel
yang besar dimana maturasi sitoplasma normal tetapi inti besar dengan susunan kromosom
yang longgar.Penyebab anemia megaloblastik adalah defisiensi vitamin B12 dan defisiensi
asam folat. Menurut penyebabnya anamia megaloblastik di bagi menjadi tiga yaitu anemia
megaloblastik karena defisiensi vitamin B12, anamia megaloblastik karena defisiensi asam
folat,dan anemia megaloblastik karena kombinasi defisiensi vitamin B12 dan asam folat.
Gejala klinis yang biasanya muncul pada anemia megaloblastik adalah sebagai berikut :
Tubuh lemah, tidak bertenaga dan pucat.
Anemia karena eritropoesis yang inefektif.
Ikterus ringan akibat pemecahan hemoglobinmeninggi karena usia eritrosit memendek.

Glositis dengan lidah berwarna merah, halus, seperti daging (buff tongue), stomatitis
angularis, anoreksia, diare,nyeri dan gejala sindrom malabsorbsi ringan.
Penurunan jumlah hematokrit dan Hb.
Selain mengurangai pembentukan sel darah merah, kekurangan vitamin B12 yang berat
juga mempengaruhi
Penurunan fungsi intelektual.
Gangguan keseimbangan dan terjadi perubahan sebral, demensia,dll.
Pemeriksaan yang dilakukan pada penderita anemia megaloblastik adala
pemeriksaan sel darah tepi dan pemeriksaan sumsum tulang. Penatalaksanaan pada penderita
anemia megaloblastik adalah terapi suportif, terapi untuk defisiensi vitamin B12, terapi untuk
defisiensi asamfolat,terapi untuk penyakit dasar.

3.2 SARAN

Pada penderita anemia megaloblastik harus dilakukan pemeriksaan sel darah tepi
dan sumsum tulang untuk mengetahui kondisi sel darah merah dan jenis dari anemia
megaloblastik itu sendiri. Terapi untuk penderita anemia megaloblastik di tentukan oleh jenis
anemianya, hal tersebut bertujuan agar dalam penyembuhan anemia tidak terjadi
kesalahan.contohnya pada penderita anamia megaloblastik defisiensi vitamin B12,
penatalaksanaanya adalah dengan terapi untuk defisiensi vitamin B12 bukan terapi untuk
dafisiensi asam folat sehingga bila pengobatan benar sesuai penyebab dapat mempercepat
proses penyembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, et.al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. FKUI : Media Aesculapius.
Doenges, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam . Jakarta :
Balai Penerbit FKUI.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Susan, Martin Tuckler.et.al. 1998. Standar Keperawatan Pasien.Jakarta : EGC.