You are on page 1of 6

Antibiotik Profilaksis Dalam Odontologi Pediatrik

Abstrak
Sebagian besar infeksi orofasial berasal dari odontogenik, dan bersifat self-limiting, yang
memiliki karakteristik berupa drainase spontan. Bakteri penyebabnya biasanya adalah saprofit.
Di sisi lain, intervensi gigi invasif meningkatkan bakterimia transien.
Jika lesi rongga mulut terkontaminasi oleh bakteri ekstrinsik, perawatan antibiotik harus
diberikan sesegera mungkin. Dalam kasus pulpitis, perawatan semacam itu tidak diindikasikan
jika infeksi hanya mencapai jaringan pulpa, atau pada jaringan di sekitarnya. Dalam kasus avulsi
gigi, dianjurkan untuk mengaplikasikan antibiotik lokal, serta antibiotik sistemik.
Profesional dental harus mengetahui keparahan infeksi dan kondisi umum anak agar rujukan ke
rumah sakit dapat dilakukan.
Semua pasien immunocompromised [rentan] membutuhkan profilaksis, serta individu yang
menderita penyakit jantung akibat endokarditis, memakai kateter atau protesa vaskuler.
Penisilin V yang mengandung asam klavulanat dan diadministrasikan melalui jalur oral dikenal
efektif melawan infeksi odontogenik. Dalam kasus alergi terhadap penisilin, dapat diberikan obat
alternatif yaitu klindamisin. Sebagian besar infeksi akut akan sembuh dalam 2-3 hari.
Beberapa tahun terakhir, kita cenderung mengurangi penggunaan antibiotik umum untuk tujuan
preventif atau terapeutik.
Kata kunci:antibiotik, antibioterapi, odontologi pediatrik, pasien pediatrik, infeksi, antibiotik
profilaksis.
Sumber: Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2006;11:E352-7.
PENDAHULUAN
Serangkaian karakteristik banding yang berhubungan dengan perawatan antibiotik pada anakanak harus diketahui.
Riwayat medis anak-anak lebih sedikit, hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya alergi atau
reaksi sampingan obat-obatan.
Jaringan anak-anak mengandung lebih banyak air, dan kerapuhan tulang mereka tinggi, hal ini
mempercepat difusi infeksi. Di sisi lain, pasien semacam itu membutuhkan kesesuaian dosis
obat-obatan yang tepat.
Sebagian besar anak memiliki oral higiene yang buruk, dan konsumsi makanan kaya-gula,
berperan dalam peningkatan kuman dalam mulutsehingga meningkatkan resiko bakterimia
setelah perawatan rongga mulut.
Dalam praktek klinis pediatrik dan telinga, hidung dan tenggorokan, anak-anak kecil dapat
terkena infeksi yang menyerang Waldeyers lymphatic ring. Perawatan antibiotik jangka panjang
yang terkadang tidak diperlukan atau akibat self-medicationmerupakan salah satu faktor
etiologi yang mendasari berbagai kondisi resistensi bakteri terhadap antibiotik yang diberikan
pada anak-anak di Spanyol, hal ini sangat berbeda dengan situasi pada orang dewasa. Masalah
tersebut harus dipertimbangkan sebelum memberikan antibiotik pada anak-anak. Jika merasa
ragu-ragu, profesional dental harus berkonsultasi dengan dokter anak atau spesialis yang khusus
menangani perawatan anak.
ETIOPATOGENESIS

Etiologi infeksi odontogenik pada anak-anak


Sebagian besar infeksi orofasial berasal dari odontogenik, dan bersifat self-limiting, yang
memiliki karakteristik berupa drainase spontan. Perawatan didasarkan pada dua prinsip:
eliminasi penyebab yang mendasarinya, serta drainase dan debridemen lokal. Jika infeksi lokal
tidak dirawat, infeksi akan menyebar ke bagian atas dan bawah wajah.
Prosedur dental invasif akan meningkatkan resiko bakterimia transien. Hanya sejumlah spesies
bakteri yang diimplikasikan dalam infeksi. Jika diindikasikan, antibiotik harus diadministrasi
segera sebelum melakukan prosedur dental. Jika prosedur semacam itu dilakukan di sekitar
jaringan yang terinfeksi, dibutuhkan dosis tambahan.
Beberapa penelitian telah mengevaluasi prevalensi dan perluasan bakterimia akibat berbagai
macam prosedur dental pada anak-anak. Dalam kaitan ini, telah dibuktikan bahwa menyikat gigi
menyebabkan bakterimia pada lebih dari sepertiga anak-anak, dan pemasangan/pelepasan
wedge/splint dan braket atau band meningkatkan jumlah kasus bakterimia dalam kasus pediatrik
secara bermakna.
Tingkat oral higiene sangat mempengaruhi tingkat bakterimia. Oleh karena itu, oral higiene yang
optimal merupakan faktor paling penting untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul
akibat bakterimiameskipun menurut beberapa penulis, dibutuhkan lebih banyak perawatan
antibiotik.
Pencabutan gigi sederhana dapat menyebabkan bakterimia pada 40-50% kasus. Tingkat
bakterimia tertinggi disebabkan oleh injeksi intraligamen dalam prosedur yang dilakukan di
bawah kondisi anestesi lokal [96,6% anak].
Trauma gigi merupakan salah satu faktor resiko infeksi rongga mulut, terutama jika terjadi
pembukaan pulpa dan/atau perubahan ruang periodontal. Kecenderungan infeksi akan meningkat
jika trauma pada jaringan keras gigi atau pendukungnya mengakibatkan luka membran mukosa
atau kulit terbuka.
Mikrobiologi infeksi odontogenik
Bakteri penyebab infeksi odontogenik umumnya adalah saprofit. Mikrobiologinya bervariasi,
dan melibatkan berbagai macam mikroorganisme yang memiliki karakteristik berbeda-beda.
Biasanya, terdapat bakteri aerob dan anaerob. Dalam kasus semacam ini, berbagai spesies bakteri
aerob menyebabkan infeksi odontogenikyang paling sering adalah streptococci.
Dalam rangkaian proses karies gigi, bakteri yang berpenetrasi ke dalam tubulus dentinalis
umumnya adalah anaerob fakultatif [yaitu, streptococci, staphylococci, dan lactobacilli]. Jika
jaringan pulpa mengalami nekrosis, bakteri masuk melalui saluran pulpa, dan proses tersebut
mengakibatkan inflamasi periapikalyang didominasi oleh Prevotella, Porphyromonas,
Fusobacterium, dan Peptostreptococci.
Sejak pertama kali karies gigi dinyatakan sebagai suatu fenomena infeksi, telah dilakukan
berbagai macam usaha untuk mengeliminasi bakteri kariogenik dari rongga mulut. Telah
diketahui bahwa sebelum gigi erupsi, lebih dari 50% bayi memiliki kolonisasi Streptococcus
mutans. Setelah erupsi, kolonisasi organisme tersebut tergantung pada kontagion bakteri
langsungbiasanya, dari ibu. Resiko meningkat jika oral higiene buruk, memiliki kebiasaan
makan yang tidak sehat terutama makanan bergula, dan tampilan gigi setelah erupsi dalam mulut.
Streptococcus mutans memanfaatkan kemampuannya untuk melekat pada permukaan yang
keras. Lactobacilli memiliki potensi kariogenik lebih kecil dibandingkan streptococci, dan tidak
melekat pada permukaan gigi.

Komplikasi infeksi
Komplikasi dapat terjadi akibat transmisi langsung ataupun hematogenous. Jika perawatan
ditunda, infeksi akan menyebar ke jaringan di sekitarnya, menyebabkan selulitis, pembengkakan
wajah dan demam dalam beberapa tingkatan. Terjadi inflamasi lokal, dan fistula gingiva akan
terbentuk pada regio apikalini merupakan karakteristik khas pada gigi-geligi sulung
[pembentukan abses]. Lengkung gigi rahang bawah dapat mengalami abses sublingual atau
submandibula, sedangkan infeksi pada lengkung rahang atas dapat menyebar ke ruang temporal.
PERAWATAN
Pertimbangan penatalaksanaan infeksi odontogenik
Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengadministrasikan
antibiotik pada anak-anak:
1.Keparahan infeksi, saat anak datang ke dokter gigi
2.Status pertahanan imun pasien
3.Dalam kasus infeksi akut, jika terjadi inflamasi sedang dan prosesnya terjadi dengan cepat, dan
dalam kasus selulitis difus yang disertai dengan nyeri sedang sampai parah, atau jika anak
mengalami demam, tanda-tanda yang ada mengindikasikan pemberian resep antibiotik serta
perawatan gigi yang mengalami kerusakan.
4.Infeksi pada anak yang rentan secara medis [medically compromised]
5.Infeksi yang meluas ke ruang ekstraoral wajah. Dalam situasi semacam ini, infeksi cukup
agresif dan dapat meluas sampai ke bibirhal ini mengindikasikan bahwa pertahanan tubuh host
tidak mampu mengendalikan infeksi. Untuk kasus yang parah, anak perlu dirawat inap di rumah
sakit.
6.Antibiotik jarang diberikan alam perawatan traumatisme ringan, meskipun kasus tersebut
melibatkan lesi jaringan lunak atau dentoalveolar, dibutuhkan antibiotik profilaksis untuk
melawan infeksi. Anak yang mengalami avulsi gigi dan direncanakan akan dilakukan
reimplantasi, perlu diberi antibiotik yang bagus. Sejak digunakannya antibiotik sistemik dalam
kasus semacam ini, insiden reabsorbsi akar eksternal berkurang. Kalender vaksinasi [vaksinasi
antitetanus] perlu dipertimbangkan jika trauma terjadi di lingkungan yang terkontaminasi.
7.Pemberian antibiotik perlu dipertimbangkan pada pasien yang menderita juvenile periodontitis
lokal atau tipe early periodontitis lainnya.
8.Adanya abses lokal, kronis, atau minor. Anak-anak sehat yang perlu menjalani pencabutan gigi
sulung yang mengalami abses, atau perawatan endodontik gigi permanen, dapat menjalani
prosedur tersebut tanpa pemberian antibiotik. Sebaliknya, pada anak-anak yang
immunocompromised, atau pasien yang menderita gangguan jantung, membutuhkan antibiotik
meskipun infeksi tidak selalu terjadi.
Prosedur dental yang mengindikasikan antibiotik profilaksis [Tabel 1 dan 2]
*Penatalaksanaan lesi rongga mulut:
Jika rongga mulut terkontaminasi oleh bakteri ekstrinsik, antibiotik harus diadministrasikan
sesegera mungkin agar diperoleh hasil yang optimaldengan mempertimbangkan jalur
administrasi yang paling efektif untuk setiap kasus [intravena, intramuskuler, dan oral]. Jika
perawatan tersebut telah dimulai, khasiatnya harus diawasi, diindikasikan untuk melakukan uji
kerentanan jika pasien tidak memberikan respon terhadap obat-obatan yang diberikan dalam
perawatan pendahuluan.

*Penatalaksanaan pulpitis, periodontitis apikal, inflamasi intraoral terlokalisir:


Bakteri dapat mencapai pulpa melalui lesi karies, jaringan pulpa yang terbuka akibat trauma,
atau mekanisme iatrogenik. Penetrasi dapat terjadi di sepanjang tubulus dentinalis, retakan
dentin, atau restorasi gigi yang buruk. Jika seorang anak mengalami pulpitis akut, maka harus
dilakukan perawatan gigi [pulpotomi, pulpektomi, atau ekstraksi]. Biasanya, perawatan
antibiotik tidak diindikasikan jika proses infeksi hanya mencapai pulpa atau jaringan sekitarnya,
tanpa tanda-tanda infeksi sistemik [yaitu, demam, atau pembengkakan wajah].
*Penatalaksanaan inflamasi akut yang berasal dari gigi:
Seorang anak yang mengalami pembengkakan wajah akibat infeksi gigi membutuhkan
perawatan gigi segera. Tergantung pada tanda-tanda klinisnya, penatalaksanaannya dapat berupa
perawatan atau ekstraksi gigi, serta terapi antibiotik. Alternatifnya, antibiotik dapat diberikan
selama beberapa hari untuk menghindari penyebaran infeksi, yang dilanjutkan dengan perawatan
gigi kausal. Profesional dental harus mengetahui keparahan infeksi dan kondisi umum anak
dalam menentukan rujukan ke rumah sakit untuk administrasi antibiotik melalui jalur intravena.
*Penatalaksanaan traumatisme dental:
Aplikasi antibiotik secara lokal pada permukaan akar gigi yang mengalami avulsi [doksisisklin 1
mg/20 ml] mengurangi kemungkinan terjadinya reabsorbsi akar dan meningkatkan vaskularisasi
pulpa. Administrasi antibiotik sistemik dapat dilakukan sebagai perawatan kombinasi [penisilin
dan derivatnya dalam dosis tinggi, atau doksisiklin dosis-normal].
*Penatalaksanaan penyakit periodontal pediatrik:
Dalam penyakit periodontal yang berhubungan dengan neutropeni, Papillon-Lefevre syndrome,
dan defisiensi adhesi leukosit, sistem imun anak tidak dapat mengendalikan pertumbuhan
patogen periodontal. Jadi, dalam kasus semacam itu, dibutuhkan terapi antibiotik. Kultur dan uji
kerentanan dapat dilakukan untuk memilih obat yang paling tepat dalam kasus semacam ini.
Antibioterapi jangka panjang diindikasikan untuk penatalaksanaan penyakit periodontal kronis.
*Penatalaksanaan penyakit viral:
Primary herpetic gingivostomatitis bukanlah subyek terapi antibiotik kecuali jika terdapat tandatanda infeksi bakteri sekunder.
Pasien yang termasuk dalam indikasi antibiotik profilaksis
Antibiotik profilaksis pada pasien sehat diindikasikan jika direncanakan untuk melakukan
pembedahan di lokasi yang terkontaminasi parah [misalnya, bedah periodontal]. Autotransplantasi gigi juga dapat dilakukan bersamaan dengan terapi antibiotik. Pada pasien
immunocompromised, profilaksis semacam itu harus selalu diberikan.
Dalam administrasi suatu antibiotik untuk keperluan profilaksis, konsentrasi obat dalam plasma
harus jauh lebih tinggi dibandingkan jika antibiotik digunakan untuk tujuan terapeutik. Jadi,
dosis profilaktik yang diberikan sebelum pembedahan haruslah dua kali lipat dibandingkan dosis
terapeutik.
Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk situasi berikut ini:
a)Pasien yang mengalami gangguan jantung akibat endokarditis; banyak pasien yang beresiko
menderita endokarditis setelah menjalani perawatan dental, akibat riwayat gangguan jantung.
The American Academy of Pediatric Dentistry [AAPD] telah menyetujui pedoman pencegahan

bakterial endokarditis yang dibuat oleh American Heart Association. Pedoman tersebut
menegaskan abhwa anak-anak yang memiliki riwayat administrasi obat-obatan melalui
intravena, dan anak-anak yang menderita sindrom tertentu [seperti, Down syndrome, atau
Marfan syndrome], beresiko mengalami bakteriall endokarditis, akibat anomali jantung.
b)Pasien immunocompromise: pasien semacam ini tidak dapat mentolerir bakterimia transien
setelah perawatan dental invasif. Jadi, pasien yang sedang menjalani kemoterapi, iradiasi, atau
transplantasi sumsum tulang harus dirawat dengan hati-hati. Kriteria tersebut juga berlaku pada
pasien yang mengalami kondisi berikut ini: infeksi human immunodeficiency virus [HIV],
defisiensi imun, neutropenia, imunosupresi, anemia, splenectomy, terbiasa mengkonsumsi
steroid, lupus eritematosus, diabetes, dan transplantasi organ.
c)Pasien yang memakai shunt, kateter atau protesa vaskuler: bakterimia setelah perawatan dental
invasif akan meningkatkan kolonisasi pada kateter atau shunt vaskuler. Pasien yang menjalani
dialisis atau kemoterapi, atau transfusi darah, juga sangat rentan terhadap gangguan ini.
Pemilihan antibiotik
Antibiotik oral yang efektif melawan infeksi odontogenik antara lain penisilin, klindamisin,
eritromisin, cefadroxil, metronidazole, dan tetrasiklin. Antibiotik-antibiotik tersebut efektif
melawan streptococci dan anaerob rongga mulut. Penisilin V adalah penisilin pilihan untuk kasus
infeksi odontogenik. Yang bersifat bakterisidal, dan meskipun spektrum aksinya relatif terbatas,
agen ini dapat digunakan untuk perawatan indeksi odontogenik. Untuk profilaksis endokarditis,
yang berkaitan dengan perawatan dental, amoksisilin adalah antibiotik pilihan. Amoksisilin yang
dikombinasikan dengan asam klavulanat [klavulanat] dapat digunakan dalam kasus-kasus
tertentu, karena dapat mempertahankan aktivitas melawan betalaktamase yang biasa diproduksi
oleh mikroorganisme penyebab infeksi odontogenik.
Klindamisin merupakan salah satu alternatif untuk pasien yang alergi terhadap penisilin. Obat
tersebut bersifat bakteriostatik, meskipun secara klinis, dapat diperoleh aksi bakterisidal
menggunakan dosis yang umum dianjurkan. Generasi makrolid terakhir, clarithromycin dan
azithromycin juga dapat digunakan jika anak alergi terhadap penisilin. Sefalosporin cefadroxil
merupakan pilihan tambahan jika dibutuhkan aksi dalam spektrum yang lebih luas.
Metronidazole biasanya digunakan untuk melawan anaerob, dan biasanya diberikan dalam
situasi yang dicurigai hanya terdapat bakteri anaerob. Tetrasiklin sangat jarang digunakan dalam
praktek kedokteran gigi karena obat-obatan ini dapat menyebabkan perubahan warna gigi,
sehingga tidak boleh diberikan pada anak yang berusia kurang dari 8 tahun, atau wanita hamil
dan menyusui.
Durasi terapi antibiotik dalam infeksi odontogenik
Durasi ideal terapi antibiotik adalah siklus tersingkat yang mampu mencegah relaps klinis dan
mikrobiologis. Sebagian besar infeksi akut akan sembuh dalam waktu 3-7 hari. Jika digunakan
antibiotik oral, perlu dipertimbangkan pemberian dosis yang lebih tinggi agar diperoleh batas
terapeutik dengan cepat.
KESIMPULAN
Sebelum melakukan perawatan dental pada anak-anak yang menderita beberapa jenis sindrom,
gangguan medis atau penyakit lain yang kurang familier, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan
dokter anak, agar kerentanan anak terhadap infeksi yang diinduksi melalui bakterimia dapat
ditentukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan antibiotik untuk tujuan preventif atau terapeutik
cenderung dikurangi. Langkah ini didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang ada, dan berdasarkan
pengalaman profesional. Perkembangan resistensi bakteri, keraguan terhadap khasiat perawatan
preventif, dan kemungkinan terjadinya reaksi toksik atau sampingan memunculkan berbagai
pertanyaan tentang resiko dan manfaat penggunaan antibiotik. American Academic of Pediatric
Dentistry telah menyajikan serangkaian pedoman klinis penggunaan antibiotik yang
menganjurkan pemberian resep konservatif, hal ini dipicu oleh meningkatnya prevalensi
resistensi.
Di Spanyol, dianjurkan untuk membuat suatu sistem pengawasan epidemiologis agar resistensi
semacam itu dapat diawasi. Penelitian follow up periodik tingkat nasional yang dilakukan
berbasis multi-center merupakan langkah yang bermanfaat untuk mengambil keputusan tentang
cara terbaik menghindari insiden dan penyebaran resistensi bakteri.