You are on page 1of 15

TUGAS

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BUDI PEKERTI


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Budi Pekerti

Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Aprilia Rizky Arifiani


Effi Muharyati
Eka Yuliana Fatimah
Mia Tri Adhani
Putri Aprilia Rianti

NIM. P07120112047
NIM. P07120112055
NIM. P07120112056
NIM. P07120112066
NIM. P07120112070

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Seorang perawat adalah sebagai tenaga kesehatan yang memberikan


pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum. Dalam menghadapi pasien,
seorang perawat harus mempunyai etika, karena yang dihadapi perawat
adalah juga manusia. Perawat harus bertundak sopan, murah senyum dan
menjaga perasaan pasien. Ini harus dilakukan karena perawat adalah
membantu proses penyembuhan pasien bukan memperburuk keadaan.
Dengan etika yang baik diharapkan seorang perawat bisa menjalin hubungan
yang lebih akrab dengan pasien. dengan hubungan baik ini, maka akan
terjalin sikap saling menghormati dan menghargai di antara keduanya. Etika
dapat

membantu

para

perawat

mengembangkan

kelakuan

dalam

menjalankan kewajiban, membimbing hidup, menerima pelajaran, sehingga


para perawat dapat mengetahui kedudukannya dalam masyarakat dan
lingkungan perawatan.
Dengan demikian, para perawat dapat mengusahakan kemajuannya
secara sadar dan seksama. Oleh karena itu dalam perawatan teori dan
praktek dengan budi pekerti saling memperoleh, maka 2 hal ini tidak dapat
dipisah-pisahkan.Sejalan dengan tujuan tersebut, maka dapat dikemukakan
bahwa nama baik rumah sakit antara lain ditentukan oleh pendapat/kesan dari
masyarakat umum. Kesehatan masyarakat terpelihara oleh tangan dengan
baik, jika tingkatan pekerti perawat dan pegawai-pegawai kesehatan lainnya
luhur juga. Sebab akhlak yang teguh dan budi pekerti yang luhur merupakan
dasar yang penting untuk segala jabatan, termasuk jabatan perawat.
Selain apa yang terurai diatas, yang namanya faktor-faktor yang
mempengaruhi budi pekerti seorag pasti ada, dan problematika moral pasti
terjadi. Oleh karena itu dalam makalah ini, kami akan membahas tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi budi pekerti/ akhlak dan problematika moral.
Serta analisis kejadian di lapangan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Faktor internal apa saja yang mempengaruhi budi pekerti/akhlak?
2. Faktor internal apa saja yang mempengaruhi budi pekerti/akhlak?

3. Bagaimana pengaruh faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi


budi pekerti/akhlak problematika moral yang terjadi dilapangan?

BAB II
KAJIAN TEORI

A. FAKTOR INTERNAL
Yaitu keadaan seseorang itu sendiri, yang meliputi latar belakang
kognitif (pemahaman ajaran agama,kecerdasan) dan latar belakang
afektif (motivasi, minat, sikap, bakat, konsep diri dan kemandirian). Selain
kecerdasan yang dimiliki, seseorang juga harus mempunyai konsep diri
yang matang. Konsep diri dapat diartikan gambaran mental seorang
terhadap dirinya sendiri, pandangan terhadap diri, penilaian terhadap diri,
serta usaha untuk menyempurnakan dan mempertahankan diri. Dengan
adanya konsep diri yang baik, seseorang tidak akan mudah terpengaruh
dengan pergaulan bebas, mampu membedakan antara yang baik dan
buruk, benar dan salah. Selain konsep diri yang matang, faktor internal
juga dipengaruhi oleh minat, motivasi dan kemandirian belajar. Minat
adalah suatu harapan, dorongan untuk mencapai sesuatu atau
membebaskan diri dari suatu perangsang yang tidak menyenangkan.
Sedangkan motivasi adalah menciptakan kondisi yang sedemikian rupa,
sehingga seseorang mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.
Dalam pendidikan motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan,
usaha, keinginan, menentukan arah dan menyeleksi tingkah laku
pendidikan.
Faktor internal juga bisa diartikan faktor yang ada dalam diri
seseorang itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis
tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri.
Faktor Genetika (Hereditas), Hereditas merupakan totalitas
karakeristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala
potensi baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa
konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen. Dalam
46 kromosom yang dimiliki seseorang terdapat beribu-ribu gen yang
mengandung sifat-sifat fisik dan psikis individu atau yang menentukan
potensi-potensi hereditasnya. Masa dalam kandungan dipandang sebagai
periode yang kritis dalam perkembangan kepribadian individu, sebab

tidak hanya sebagai saat pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga


sebagai masa pembentukan kemampun-kemampuan yang menentukan
jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran.
Pengaruh gen terhadap kepribadian, sebenarnya tidak secara langsung,
tetapi yang berpengaruh langsung dengan gen adalah kualitas system
syaraf, keseimbangan biokimia tubuh, dan struktur tubuh.
B. FAKTOR EKSTERNAL
Istilah lingkungan dapat juga disebut dengan istilah Environment,
yang mempunyai arti segala sesuatu yang ada sekitar anak baik berupa
benda-benda, peristiwa yang terjadi maupun kondisi masyarakat terutama
yang dapat memberikan pengaruh kuat terhadap individu.
Sejak manusia dilahirkan bahkan ketika
masih di dalam
kandungan,

sudah mendapatkan pengaruh dari sekitarnya, misalnya

jumlah makanan yang diterimanya, keadaan lingkungannya dan semua


kondisi lingkungan baik yang bersifat membantu pertumbuhan maupun
lingkungan yang bersifat menghambat pertumbuhan. Lingkungan (milliu)
mempunyai peranan yang sangat penting terhadap pembentukan akhlak
anak, lingkungan dapat memberikan pengaruh yang positif dan pengaruh
yang negatif terhadap pembentukan akhlak anak. Pengaruh positif dari
lingkungan yang baik di dalamnya terdapat sarana dan prasarana yang
memadai seperti, masjid (tempat ibadah), sekolah dan lain sebagainya
yang didukung oleh kondisi kondisi yang tertib dan rapi. Dan sebaliknya
lingkungan kondisi yang masyarakatnya tinggal di kawasan kumuh
dengan kemampuan ekonomi di bawah rata-rata dan tanpa ada fasilitas
umum seperti masjid, sekolah dan fasilitas umum yang lainnya,
lingkungan seperti inilah yang menimbulkan pengaruh negatif bagi
pembentukan akhlak. Di dalam buku Psikologi perkembangan lingkungan
yang berpengaruh terhadap pembentukan akhlak itu di bagi menjadi tiga
kelompok :
1. Lingkungan rumah
Tingkah-tingkah-laku anak tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana
sikap-sikap orang yang berada di dalam rumah itu, melainkan juga
bagaimana

mereka

mengadakan

atau

melakukan

hubungan-

hubungan dengan orang-orang di luar rumah. Dalam hal ini peranan


orang tua penting sekali untuk mengetahui apa-apa yang dibutuhkan

si anak dalam rangka perkembangan nilai-nilai akhlak si anak, serta


bagaimana orang tua ini dapat memenuhinya. Pentingnya peranan
lingkungan

rumah,

kususnya

peranan

keluarga

terhadap

perkembangan akhlak anak dapat disingkat sebagai berikut :


a. Tingkah laku orang di dalam rumah (ortang tua, saudara, atau
orang lain yang tinggal serumah) berlaku sebagai suatu model
kelakuan bagi anak melalui peniruan yang diamatinya.
b. Melalui pelarangan-pelarangan terhadap perbuatan yang tidak
baik, atau anjuran untuk melakukan perbuatan yang baik.
Sehingga anak tersebut dengan tidak sengaja akan megetahui
mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang tidak baik.
c. Anggota-anggota keluarga di dalam rumah dapat berbuat banyak
untuk

menimbulkan

pengertian-pengertian

dan

kehendak-

kehenda agar anak selalu cenderung untuk melakukan hal yang


baik
2. Lingkungan sekolah
Corak hubungan antara murid dengan guru atau murid dengan murid,
banyak mempengaruhi aspek-aspek kepribadian, termasuk nilai
moreol yang masih perlu mengalami perubahan-perubahan. Type
guru yang keras mungkin menyebabkan sikap-sikap rendah diri pada
si anak, akan tetapi sikap tersebut akan berubah manakala anak
tersebut menemukan guru yang demokratis. Kepribadian yang
dipancarkan oleh guru dapat menjadi tokoh yang dikagumi, dan
karena itulah timbul hasrat peniruan terhadap sebagain atau
keseluruhan tingkahlaku guru tersebut.
3. Lingkungan teman-teman sebaya
Makin bertambah umur, si anak makin memperoleh kesempatan lebih
luas untuk mengadakan hubungan dengan teman-teman bermain
sebaya, sekalipun kenyataanya perbedaan umur yang relatif lebih
besar tidak menjadi sebab tidak adanya kemungkinan melakukan
hubungan-hubungan dalam suasana bermain. Anak yang bertindak
langsung atau tidak langsung sebagai pemimpin, atau yang
menunjukkan ciri-ciri kepemimpinan dengan sikap menguasai temantemannya, akan besar pengaruhnya terhadap pola-pola sikap atau
pola kepribadianya.
C. PROBLEMATIKA MORAL

Moral dalam arti yang luas mencakup bagaimana hubungan


dengan Tuhan, hubungan sesama manusia dan hubungan dengan alam
semesta. Menurut Syahrin (2005: 45) orang yang memiliki moral yang
baik adalah yang mampu menyeimbangkan ketiga hubungan di atas pada
setiap tempat dan setiap waktu. Moral juga harus dipandang sebagai
suatu yang memiliki nilai otonom dan universal sehingga ia dapat berlaku
pada lintas waktu, lintas aktivitas dan lintas tempat.
Secara etimologis istilah moral berasa! dari kata latin mos (mores)
yang berarti tata cara, adat istiadat atau kebiasaan. Kata moral
mempunyai arti yang sama dengan kata Yunani ethos, yang menurunkan
kata etika. Bahasa Arab kata moral disebut dengan akhlak yang berarti
budi pekerti, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata moral dikenal
dengan arti kesusilaan (Adiwardhana, 1991).
Hurlock (1978) mengemukakan bahwa tingkah laku moral berarti
tingkah laku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Pengertian
ini hampir sama dengan pendapat sebagian besar ahli psikologi dalam
menerangkan masalah moral. Penganut teori behaviorisme menyatakan
bahwa moral itas identik dengan konfonnitas terhadap aturan-aturan
sosial. Nilai moral merupakan evaluasi dari tindakan yang dianggap baik
oleh anggota masyarakat tertentu. Dengan demikian jelas bahwa
pemahaman moral merupakan proses internalisasi dari norma budaya
atau norma dari orangtua (Setiono, 1993).
Moral (akhlak) dalam ajaran Islam berfungsi sebagai sarana untuk
mencapai derajat al-Insn Kam l (manusia sempurna). Ibnu Miskawaih
(1994: 61-65) berpendapat bahwa kesempurnaan manusia diawali dari
kesempurnaan individu, karena dari individu-individu yang sempurna
akan melahirkan masyarakat yang beradab yang pada akhirnya akan
berimplikasi pada kesempurnaan moral.
Sementara itu Aristoteles sebagaimana dijelaskan oleh Simon
(2004: 70) berpendapat bahwa moral (etika) berfungsi sebagai alat untuk
mencapai kebahagiaan. Lebih lanjut sebagaimana diuraikan Russel
(2004: 234) bahwa pencapaian kebahagiaan dapat dilakukan dengan

melalui dua keutamaan yaitu keutamaan intelektual ( rasio ) dan moral.


Keutamaan intelektual dihasilkan dari pengajaran, sedangkan keutamaan
moral berasal dari kebiasaan. Senada dengan Aristoteles, al-Ghazali
sebagaimana dikemukakan Quasem (1988: 36-71) mengemukakan
bahwa sesungguhnya fungsi dari moral adalah sarana untuk mencapai
kebahagiaan jiwa.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan
bahwa moral tidak dapat dipelajari karena moral adalah perbuatan baik
dan buruk yang dilakukan manusia tanpa direnungkan atau dipikirkan
terlebih dahulu.
Prinsip Moral
Menurut Suseno (1995) prinsip-prinsip moral, yaitu:
1. Prinsip Sikap Baik
Prinsip moral dasar pertama dapat di sebut sebagai prinsip
sikap baik. Prinsip itu mendahului dan mendasari semua prinsip
moral lain. Prinsip ini mempunyai arti yang amat besar bagi
kehidupan manusia. Hanya karena prinsip itu memang diresapi dan
rupa-rupanya mempunyai dasar dalam struktur psikis manusia,
seseorang dapat bertemu dengan orang yang belum dikenal tanpa
takut. Sikap dasar itu membuat seseorang dapat mengendalikan
bahwa orang lain, kecuali mempunyai alasan khusus, tidak langsung
mengancam atau merugikannya. Sikap dasar itu membuat seseorang
seialu mengumpamakan bahwa yang memerlukan alasan bukan
sikap yang baik, melainkan sikap yang buruk. Jadi yang biasa pada
manusia bukan sikap memusuhi dan mau membunuh, melainkan
sikap bersedia untuk menerima baik dan membantu. Oleh karena itu,
berulang kali seseorang dapat mengalami bahwa orang yang sama
sekali tidak dikenal, secara spontan membantunya dalam kesusahan.
Jadi, prinsip sikap baik bukan hanya sebuah prinsip yang
dipahami secara rasional, melainkan juga suatu kecondongan yang
memang sudah ada dalam watak manusia. Prinsip sikap baik,
menyangkut sikap dasar manusia yang harus meresapi segala sikap

konkret, tindakan dan kelakuannya. Prinsip ini menyatakan bahwa


pada dasarnya, kecuali ada alasan yang khusus, manusia harus
mendekati siapa saja dan apa saja dengan positif, dengan
menghendaki yang baik bagi dia. Bukan semata-mata perbuatan baik
dalam arti sempit, melainkan sikap hati positif terhadap orang lain,
kemampuan baik terhadapnya. Bersikap baik berarti, memandang
seseorang dan sesuatu tidak hanya sejauh berguna bagi saya,
melainkan menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung,
membela,

membiarkan

dan

menunjang

perkembangannya,

mendukung kehidupan dan mencegah kematiannya demi dia itu


sendiri. Bagaimana sikap baik itu harus dinyatakan secara kongkret
tergantung pada apa yang baik dalam situasi kongkret itu. Prinsip ini
menuntut suatu pengetahuan tepat tentang realita supaya dapat
diketahui apa yang masing-masing baik bagi yang bersangkutan.
Kalau itu sudah diketahui, maka diketahui juga bagaimana prinsip
sikap baik mesti diterapkan dalam situasi itu. Prinsip sikap baik
mendasari semua norma moral karena hanya atas dasar prinsip itu
masuk akal bahwa manusia harus bersikap adil, atau jujur, atau setia
kepada orang lain.
2. Prinsip Keadilan
Prinsip sikap keadilan mengungkapkan kewajiban untuk
memberikan perlakuan yang sama terhadap semua orang lain yang
berada dalam situasi yang sama dan untuk menghormati hak semua
pihak yang bersangkutan. Suatu perlakuan yang tidak sama adalah
tidak adil, kecuali dapat diperlihatkan mengapa ketidaksamaan dapat
dibenarkan (misalnya karena orang itu tidak membutuhkan bantuan).
Suatu perlakuan yang tidak sama selalu dibenarkan secara khusus,
sedangkan perlakuan yang sama dengan sendirinya betul kecuali
terdapat alasan-alasan khusus. Secara singkat keadilan menuntut
agar manusia jangan mau mencapai tujuan-tujuan, termasuk yang
baik, dengan melanggar hak seseorang.
3. Prinsip Hormat Terhadap Diri Sendiri
Prinsip ini mengatakan bahwa manusia wajib untuk selalu
memperlakukan diri sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya

sendiri. Prinsip ini berdasarkan paham bahwa manusia adalah


person, pusat pengertian dan kehendak, yang memiliki kebebasan
dan suara hati, makhluk berakal budi. Manusia tidak boleh dianggap
sebagai sarana semata-mata demi suatu tujuan lebih lanjut. la adalah
tujuan yang bernilai pada dirinva sendiri. Nilainya bukan sekedar
sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud atau tujuan lebih jauh.
Hal ini juga berlaku bagi diri sendiri. Maka manusia juga wajib
memperlakukan dirinya sendiri dengan hormat. Seseorang wajib
menghormati martabat dirinya sendiri.
Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa kebaikan dan keadilan
yang di tunjukkan kepada orang lain, perlu diimbangi dengan sikap
yang menghormati diri sendiri sebagai makhluk yang bernilai.
Seseorang semestinya mau berbaik kepada orang lain dan bertekad
untuk bersikap adil, tetapi tidak dengan membuang diri. Dalam
pandangan Kohlberg (dalam Nashori, 1995) prinsip moral merupakan
gabungan nilai-nilai moral pada tingkat poskonvensional, baik tahap
kelima maupun tahap keenam.

BAB III
ANALISA MASALAH

A. MASALAH
Karena kasus yang kami ambil kejadian fakta di salah satu RS di
Yogyakrta,kami menggunakan inisial
Perawat S masuk ke ruangan Bp. J untuk memberikan obat melalui
nebulizer. Sebelum perawat S memberikan obat nebulizer, keluarga pasien
bertanya pada perawat tersebut kalau nanti Bp.J sesak napas apa yang
harus dilakukan. Perawat S menjawab apabila pasien merasa sesak napas

alat bisa dimatikan. Namun perawat tidak memberitahu keluarga pasien


bagaimana cara mematikan nebulizer.Ketika Perawat akan memasang
masker, Bp.J menolak,kemudian perawat S keluar dari kamar pasien
begitu saja dengan meninggalkan alat nebulizer.
Dokter visite ke kamar Bp.J dokter menanyakan apakah Bp.J sudah
diberikan obat melalui nebulizer atau belum., keluarga pasien menjawab
tadi sudah ada perawat (perawat S) yang datang untuk memberikan obat
melalui nebulizer namun Bp.J menolak untuk diberikan obat tersebut.
Kemudian dokter memberikan motivasi pada Bp.J agar mau diberikan obat
melalui nebulizer dan akhirnya Bp.J bersedia.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah yang muncul dalam kasus
tersebut adalah dalam melakukan tindakan keperawatan kepada pasien,
perawat kurang dalam melakukan komunikasi pada pasien, khususnya
komunikasi terapeutik yang menyebabkan pasien merasa tidak percaya
kepada perawat.
Faktor internal yang mempengaruhi perawat berperilaku seperti kasus diatas
dikarenakan beberapa hal, yaitu :
1. Perawat sedang mempunyai masalah pribadi
2. Perawat memiliki karakteristik orang yang emosional.
Sedangkan faktor eksternalnya yaitu :
1. Masih banyak tindakan keperawatan yang lebih darurat yang harus
dikerjakan dalam waktu bersamaan.
2. Masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan, seperti membuat asuhan
keperawatan, resume pasien pulang, visite dokter, dan lain lain.
3. Perbandingan jumlah perawat dan pasien lebih banyak pasien yang
harus dirawat.
Dilihat dari problematika moral, dari kasus tersebut perawat telah melanggar
hak pasien, salah satunya adalah hak pasien untuk memperoleh informasi
tentang pengobatan secara lengkap. Sedangkan perawat juga mempunyai
kewajiban terhadap pasien lain yang lebih membutuhkan.
B. SOLUSI
Saat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, perawat harus
menjaga emosinya, karena setiap pasien memiliki sifat yang berbeda beda
sehingga komunikasi yang dilakukan juga berbeda yaitu komunikasi yang
baik dan edukasi yang benar maka pasien akan lebih mengerti dan percaya
kepada perawat.

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dilihat dari tinjauan teori dan analisa kasus dapata ditarik kesimpulan :
masalah yang muncul dalam kasus tersebut adalah dalam melakukan
tindakan keperawatan kepada pasien, perawat kurang dalam melakukan
komunikasi

pada

pasien,

khususnya

komunikasi

terapeutik

menyebabkan pasien merasa tidak percaya kepada perawat.

yang

Faktor internal yang mempengaruhi perawat berperilaku seperti kasus diatas


dikarenakan beberapa hal, yaitu :
1. Perawat sedang mempunyai masalah pribadi
2. Perawat memiliki karakteristik orang yang emosional.
Sedangkan faktor eksternalnya yaitu :
1. Masih banyak tindakan keperawatan yang lebih darurat yang harus
dikerjakan dalam waktu bersamaan.
2. Masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan, seperti membuat asuhan
keperawatan, resume pasien pulang, visite dokter, dan lain lain.
3. Perbandingan jumlah perawat dan pasien lebih banyak pasien yang
harus dirawat.
Dilihat dari problematika moral, dari kasus tersebut perawat telah
melanggar hak pasien, salah satunya adalah hak pasien untuk
memperoleh informasi tentang pengobatan secara lengkap. Sedangkan
perawat juga mempunyai kewajiban terhadap pasien lain yang lebih
membutuhkan.
B. SARAN
1. Bagi Mahasiswa
Jangan mencontoh perilaku perawat yang kurang sesuai dengan etika
keperawatan yang ada. Dan lebih menerapkan praktek budi pekerti yang
telah didapatkan diinstitusi.
2. Bagi Rumah Sakit
Mengadakan survei kepuasan pelanggan untuk mengevaluasi kinerja
tenaga medis yang ada.
3. Bagi Insitusi Pendidikan
Melakukan follow up terhadap tempat praktek tentang kinerja tenaga
medis di ruangan, sehingga terjadi kesinambungan antara pendidikan dan
kondisi lapangan.
4. Bagi Pemerintah
Melakukan seleksi penerimaan tenaga medis bukan hanya dilihat dari
penilaian kognitif dan keterampilan tetapi juga kepribadian.

DAFTAR PUSTAKA
Adiwarna, S.S. 1991. Peranan Orangtua Terhadap Perkembangan Mental
Anak dalam Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta :
BPK Gunung Mulia.
Bernardin & Russel. 2004.

Manajemen Sumber Daya Manusia.

Diterjemahkan oleh Bambang Sukoco. Bandung: Armico.


Bertens, K. 2007. Etika Jakarta: Gramedia.
Desmita. 2012. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. PT
Rosda Karya.
Elizabeth B, Hurlock. (1978). Perkembangan Anak(jilid 1, terjemahan).
Inggris: McGraw-Hill.Inc.

Magnis

Suseno.1995.Pokok-Pokok

Etika

Profesi

Hukum

.Jakarta

.Pradnya paramitha
Mustafa. 2005. Akhlak Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia
Nashori, F. 1995. Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Shapiro, Linda G. & Stockman, George C. 2002. Computer Vision.
Prentice Hall. ISBN 0-13-030796-3
Simon, A. Herbert. 2004. Administrative Behavior, Perilaku Administrasi :
Suatu Studi tentang Proses Pengambilan Keputusan dalam
Organisasi Administrasi, Edisi Ketiga, Cetakan Keempat, Alih
Bahasa ST. Dianjung, Bumi Aksara, Jakarta.
Singgih D. Gunarsa. 1995. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Gunung
Mulia.
Suseno. 1995. Prinsip-prinsip Moral.Jakarta.
Syahrin Harahap. 2005. Penegakan Moral Akademik Di Dalam dan Di
Luar Kampus. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.