You are on page 1of 4

ANALISA SOSIAL1

Sebuah Pengantar Memahami Realitas Sosial2


STRUKTUR SOSIAL
Lebih dahulu perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan struktur sosial. Kita ketahui,
bahwa orang-orang yang hidup dalam masyarakat saling berinteraksi. Interaksi ini didasari dan terus
diarahkan pada nilai-nilai kebersamaan, norma-norma yaitu standar tingkah laku yang mengatur
ineraksi antar individu yang menunjukkan hak dan kewajiban tiap-tiap individu sebagai sarana
penting agar tujuan bersama tercapai, dan akhirnya oleh sanksi, baik sanksi yang negatif dalam arti
mendapat hukuman kalau melanggar norma maupun sangat positif yaitu mendapat penghargaan
karena telah mentaati norma yang ada. Dasar dan arah umum interaksi inlah yang kita mengerti
sebagai kultur.
Kecuali itu, interaksi antar individu juga diantur sesuai dengan tujuan-tujuan khusus
interaksi itu. Interaksi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan keakraban diatur dalam
institusi keluarga. Interaksi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup diatur dalam institusi
ekonomi. Interaksi orang dalam hubungannya dengan Illahi diatur dalam institusi agama.
Sedangkan agar keseluruhan interaksi dalam masyarakat umumnya bisa bisa terjamin dan pasti
diadakan institusi politik. Institusi-institusi ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Bagaimana kadar saling hubungan dan saling mempengaruhi, serta mana institusi yang paling
berpengaruh harus dilihat langsung dalam masyarakat yang ada. Karl Marx umpamanya
berpendapat, bahwa institusi ekonomilah yang merupakan landasan di mana institusi-institusi lain
berdiri. Dengan kata lain semua institusi lainnya dipengaruhi dan ditentukan oleh institusi ekonomi.
Tidak ada pengaruh timbal balik.
Perlu diingat, bahwa dalam setiap institusi juga ada nilai-nilai, norma-norma dan sanksisanksi, karena tujuan institusi memang untuk mengatur interaksi. Keseluruhan institusi memang
untuk mengatur interaksi. Keseluruhan institusi serta saling berhubungan satu sama lain, itulah yang
disebut stuktur sosial. Kata stuktur menunjukkan saling adanya hubungan antara bagian
keseluruhan. Maka dapat dikatakan stuktur sosial adalah interaksi manusia yang sudah berpola
dalam institusi ekonomi, politik, agama, keluarga, budaya. Dengan kata lain struktur sosial adalah
pengorganisasian masyarakat yang ada atau keseluruhan aturan permainan dalam berinteraksi.
KEADILAN PERSONAL, KEADILAN SOSIAL
Selanjutnya perlu juga dimengerti perpindahan antara keadilan personal dan keadilan sosial.
Dalam keadilan personal sering mudah diketahui siapa yang bertanggungjawab. Si pembeli A
membeli barang dengan kualitas tertentu, ternyata dia mendapat barang dengan kualitas rendah.
Penjual barang tersebut jelas langsung bisa dimintai pertanggungjawabannya. Jelaslah mengenai
keadilan personal, pelaksanaannya tergantung pada kehendak individu yang bersangkutan. Keadilan
personal manuntut agar kita memperlakukan setiap orang yang kita hadapi dengan adil. Sebaliknya
mengenai ketidak adilan sosial tanggung jawab atas perbuatan dan efek perbuatan menjadi tanggung
jawab semua orang. Tidak bisa kita menunjuk satu orang untuk beranggung jawabsebagaimana pada
ketidak adilan personal. Pelaksanaan keadilan sosial tergantung pada struktur masyarakat. Karena
tergantungnya pad stuktir masyarakat maka tanggung jawab ketidak adilan sosial menjadi tanggung
jawab semua pihak.Hal ini diperjelas dengan seringnya individu dalam masyarakat yang tidak bisa
bersikap adil meski dia sudah insaf namun karena struktur sosiallah yang menbuat dia tidak bisa
bersikap adil. Umpamanya seorang pengusaha tekstil tidak dapat menaikkan upah buruh-buruhnya
karena perdagangan tekstil sedemikian rupa sehingga kalau dia menaikkan upah buruh-buruhnya
perusahaan akan gulung tikar. Dengan kata lain institusi ekonomi yang ada menyebabkan upah
buruh tetap rendah. Kalau pelaksanaan keadilan sosial tergantung pada struktur sosial yang ada,
maka perjuangan demi keadilan sosial berarti perjuangan membangun struktur sosial yang semakin
adil.
TUJUAN ANALISA SOSIAL
Analisa sosial adalah suatu usaha untuk mempelajari struktur sosial yang ada, mendalami
institusi ekonomi, politik, agama, budaya dan keluarga sehingga kita tahu sejauh mana dan
bagaimana institusi-institusi itu menyebabkan ketidak adilan sosial. Dengan mempelajari institusiinstitusi itu, kita akan mampu melihat satu masalah sosial yang ada dalam konteknya yang lebih
luas. Dan kalau kita berhasil melihat suatau masalah sosial yang henadak kita pecahkan dalam
kontek yang lebih luas, maka kita pun juga dapat menentukan aksi yang lebih tepat yang diharapkan

1
2

dapat menyembhkan sebab terdalam masalah tersebut. Demikian menjadi jelas, analisis sosial
adalah suatu usaha nyata yang merupakan bagian penting usaha menegakkan keadilan sosial.
MODEL = KERANGKA BERPIKIR
Dalam menganalisis masyarakat, sadar atau tidak sadar orang biasanya mempunyai kerangka
berpikir atau memandang. Kerangka berpikir atau memandang inilah yang disebut model. Demikian
suatu model adalah asumsi atau gambaran umum mengenai masyarakat. Model ini mempengaruhi
begaimana seseorang memilih objek studi dan cara mendekati objek studi tersebut. Sedang teori
yang turunkan dari model berifat lebih terbatas dan persis. Suatu model hanya bisa dinilai lengkap,
produktif atau berguna, sedang teori bisa salah atau benar.
Ada dua model yang sering melatar belakangi orang dalam mendekati masalah-masalah
sosial, yaitu model konsensus dan model konflik.
MODEL KONSENSUS
Menurut model konsensus, stuktur sosial yang ada merupakan hasil konsensus bersama
aanggot masyarakat, perjanjian dan pengakuan bersama akan nilai-nilai. Menurut model ini, setiap
masyarakat pada hakikatnya teratur dan stabil. Keteraturan dan kestabilan ini disebabkan karena
adanya kultur bersama yang dianut dan dihayati oleh anggota-anggota masyarakat. Kultur bersama
ini meliputi nilai-nilai, norma dan tujuan yang hendak dicapai. Meskipun pada individu-individu
ada kemungkinan-kemungkinan perbedaan dalam persepsi dan pengjhayatan kultur bersama itu, toh
pada umumnya nilai-nilai sosial yang berdasar serta norma-norma ayang ada. Justru karena adanya
konsensus bersama inilah,maka tata sosial dalam suatu masyarakat.
Model ini menilai masalah sosial sebagai penyimpangan dari nilai-nialai dan norma-norma
bersama, karenanya juga masalah sosial dianggap membahayakan stabilitas sosial. Penyelesaian
masalah sosial selalu diusahakan dalam kerangka tata sosial yang sudah ada. Dengan kata lain tata
sosial tidak pernah dipersoalkan , bahkan kelangsungan stuktur sosial yang sudah ada dijunjung
tinggi. Model Konsensus melatar belakangi dua ideologi yaitu konservatif dan liberal.
a. Ideologi konservatif
Ideologi konservatif berakar pada kapitalisme dan liberalisme abad ke-19. Pasaran bebas
dianggap oleh ideologi iini sebagai fundamen bagi kebebasan ekonomi dan politik. Pasar
bebas dianggap akan menjamin adanya desentralisasi kekuatan politik. Kaum konservatif
menjunjung tinggi sruktur sosial. Demi tegaknya struktur sosial tersebut menurut kaum
konservatif otoritas dinilai sangat hakiki. Termasuk struktur sosial adalah stratifikasi sosial
atau tingkat sosial. Adanya perbedaan tingkat sosial ini dikarenkan perbedaan tingkat
individu dengan bakat-bakat yang berbeda. Setiap orang harus berkembang sesuai dengan
bakat yang berbeda. Setuap orang harus berkembang sesuai dengan bakat dan
pembawaannya. Karenanya sudah sewajarnya kalau ada perbedaan dalam tingkat prestasi
yang menuntut masyrakat untuk memberi imbalan dan balas jasa yang berbeda-beda,
merupakan dasar adanya hak milik pribadi. Dengankata lain hak milik pribadi dianggap
sebagai balas jasa atas jerih payah usaha tiap-tiap anggota masyarakat.
Kemiskinan Menurut Ideologi Konservatif
Pada umumya kaum konservatif melihat masalah kemiskinan sebagai kesalahan pada
orang miskin sendiri.Orang miskin dinilai umumnya bodoh,malas, tidak punya motivasi
beerprestasi tinggi, tidak punya ketrampilan dan sebagainya yang merka bialang sebagai
mental dan kultur penyebab kemiskinan. Menilai positif terhadap stuktur sosial yang ada.
Dan menggap kemiskinan sebagai penyimpangan ketentuan yang ada dalam konsensus.
Kaum konservatif tidak menggap kemiskinan bukan sebagai masalah serius dan kemiskinan
akan bisa diselesaikan dengan sendirinya, maka tidak perlu adanya campur tangan
pemerintah.
b. Ideologi Liberal
Liberasi memandang manusia pertama-tama sebagai yang digerakan oleh motivasi
kepentingan ekonomi pribadi, dan libaeralisme mempertahankan hak manusia untuk
semaksimal mungkin cita-cita pribadinay. Liberasi percaya akan efektifitas pasar bebas dan
hak atas milik pribadi. Hak-hak, kebebasan individu sangat ditekankan dan diperjuangkan
demi untuk melindungi individu-individu terhadap kesewenangan negara.

Kemiskinan Menurut Ideologi Liberal

Berbeda dengan kaum konservatif, kaum liberal memandang kemiskinan sebagai masalah
yang serius, karenanya harus dipecahkan. Kemiskinan dapat diselesaikan bila tersedianya
kesempatan yang seluas-luasnya tanpa diskriminasi. Kaum liberal percaya bahwa orang
miskin dapat mengatasi kemiskinannya asal mereka mendapat kesempatan berusaha yang
memadahi, maka diusulkan untuk diperbaikinya pelayanan-pelayanan bagi kaum miskin,
membuka kesempatan kerja baru, membangun perumahan dan penyebarluasan pendidikan.
Kesimpulan
Baik konservatif maupun liberal mempertahankan struktur sosial yang telah ada, dan stuktur
sosial ini ditandai dengan perbedaan tingkat sosial, sistem ekonomi kapitalis dan demokratis
politik. Perbedaan dalam memandang kemiskinan, kalau kaum konservatif kemiskinan
adalah kesalahan orang miskin itu sendiri dan kaum konservatif cenderung membiarkan
sedang kaum liberal mengusahakan agar orang miskin mendapatkan kesempatan yang sama
dan mampu menyesuaikan dalan struktur.
MODEL KONFLIK
Berbeda dengan model konsensus, model konflik ini memandang stuktur sosial yang ada
sebagai hasil pemaksaan sekelompok kecil anggota masyarakat terhadap mayoritas warga
masyarakat. Jadi struktur sosial bukan merupakan hasil konsensus seluruh warga apalagi persetujuan
bersama mengenai nilai-nilai dan norma-norma. Stuktur sosial adalah dominasi sekelompok kecil
dan kepatuhan serta ketundukan sebagaian besar warga masyarakat atas dominasi kelompok kecil
tersebut. hukum dan undang-undang dalam masyarakat adalah ciptaan kelompok kecil, elit, dan
kelompok yang memerintah untuk mempertahankan kepentingan mereka. Hukum dan undangundang terutama ditujukan untuk melindungi milik-milik pribadi dan kepentingan.
Model ini memandang positif perubahan-perubahan yang memandang konflik sebagai
sumber-sumber potensial bagi perubahan sosial yang progresif. Penganut model ini selalu
mempertanyakan struktur sosial yang sudah ada. Mereka tidak mempersoalkan bagaimana orang
miskin bisa hidup dan berprestasi dalam stuktur sosial yang sudah ada sebagaimana ditekankan
kaum liberal, tetapi mereka mempersoalkan struktur sosial itu sendiri dan menganggapnya sebagai
penyebab kemiskinan. Maka persoalan kultur dan mentalitas orang miskin tidak menarik perhatian
penganut model konflik ini, sebab persoalan kultur orang miskin dianggapnya tidak mempersoalkan
secara mendasar struktur dan kekuasaan politik yang sudah ada. Bahkan mereka menilai kultur dan
mentalitas orang miskin yang digambarkan oleh kaum konservatuf itu disebabkan oleh struktur
sosial itu sendiri yang tetap bertahan berpuluh atau ratusan tahun.
Kaum penganut model menggap struktur sebagai penyebab kemiskinan, untuk membuat
analisis keadaan sosial pertanyaan yang mereka adalah:
- Kelompok mana yangmendapat untung dari sistem masyarakat yang ada dan kelompok mana
yang dirugikan ?
- Siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam kompetisi dalam grup dan diantara grup yang
ada ?
- Faktor-faktor mana yang menentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah ?
Penganut model ini, melihat masyarakat yang ada sebagai masyarakat massal, yang terdiri dari
kelompok elit yang berada di atas massa rakyat banyak yang ada di lapisan bawah yang sama
sekali tidak tidak terorganisir sehingga tidak memiliki kekuasaan yang efektif. Rakyat sebagai
konsumen media dengan komunikasi dari satu arah tanpa mampu menanggapi dan rekasi
berarti. Merka tidak menguasai mass media sehingga protes-protes yang mereka sampaikan
tidak pernah mampu menyuarakan pendapat mereka. Dalam kepentingan ekonomi orang miskin
didesain untuk dilanggengkan kemiskinannya oleh penguasa dan elit, sebab dengan kemiskinan
masih ada kerja-kerja kotor yang bisa dikerjakan oleh orang miskin dengan biaya murah
tenaga.
Orang miskin juga dijadikan komoditi politik kestabilan politik--oleh elit, karena orang miskin
kebanyakan tidak tertarik pada bidang politik dan peluang ini digunakan sebagai pendukung
suara dalam pemilu.
Orang-orang miskin dibutuhkan sebagai identifikasi pelanggaran-pelanggaran norma dan nilai,
kriminal-kriminal yang ditangkap kebanyakan memang dari orang miskin namun sementara
kriminal kerah putih (white collar crime) jauh dari penyelidikan apalagi pengadilan.
Jalan Keluar
Hal yng mengarah pada perubahan sosial sebagaimana digariskan menganut model konflik tadi,
disini kita temukan garis moderat sampai pada garis yang benar-benar radikal. Garis moderat
menghendaki demokrasi partisipatif baik dalam group-group sosial yang ada maupun dalam

organisasi-organisasi sebagai tujuan yang harus dicapai oleh setiap masyarakat. Mereka tidak
menganggap pentingnya kepemimpinan, sebaliknya mereka yakin bahwa semua orang ikut
ambil bagian dalam pengambilan keputusan-keputusan yang mempengharuhi hidup mereka.
Mereka menentang segala bentuk birokrasi, pengaturan dari luar. Mereka menginginkan kontrol
mahasiswa atas sekolahnya, rakyat atas polisi, buruh atas pabrik mereka. Sedang penganut garis
radikal menganjurkan aksi-aksi menentang sistem sosial yang ada umpamanya ketidaktaatan
rakyat akan segala aturan yang ada (civil diobedience), sebab mereka ini yakin bahwa tidak
mungkin mengadakan perubahan-perubahan lewat saluran-saluran resmi/legal yang ada atau
lewat pemilihan-pemilihan umum, saluran-saluran semacam ini mereka anggap tidak efektif.
EPILOG
Studi ini sebenarnya masih begitu terbatas, analisa sosial akan lebih dipahami ketika kita semua
mau untuk mengamati segala sesuatu disekitar kita, kehidupan sosial hidup kita sehari-hari.
Kemudian adakan sebuah analisis tentang ketidakadilan sosial yang ada didalamnya dan kita
akan bisa menyusun action plan untuk menindaklanjuti sebagai aksi nyata untuk menyelamatkan
eksploitasi, pembodohan dan penindasan rakyat kecil atau mungkin diri kita sendiri di
lingkungan kita sendiri, mungkin juga di kampus dan organisasi ini ???
MERDEKAKAN
DIRI
ANDA
DARI
KETIDAKTAHUAN,
KETIDAKMAMPUAN, DAN KETIDAKPEDULIAN TERHADAP KONDISI
SOSIAL YANG TIMPANG DI DEPANMATA ANDA, KARNA ANDA TAK
LEBIH DARI SEORANG PENINDAS KETIKA ANDA DIAM YANG SAMA
ARTINYA IKUT MENIKMATI KETIDAKBERDAYAAN
MEREKA YANG
PAPA
mbetek, 164 panjaitan malang 582970