You are on page 1of 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Sikap
a. Pengertian Sikap
Azwar (2007), menggolongkan definisi sikap dalam tiga
kerangka pemikiran. Pertama, kerangka pemikiran yang diwakili
oleh para ahli psikologi seperti Louis Thurstone, Rensis Likert
dan Charles Osgood. Menurut mereka sikap adalah suatu bentuk
evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu
objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable)
maupun perasaan tidak

mendukung atau tidak memihak

(unfavorable) pada objek tersebut.


Kedua, kerangka pemikiran ini diwakili oleh ahli seperti
Chave, Bogardus, LaPierre, Mead dan Gordon Allport. Menurut
kelompok pemikiran ini sikap

merupakan semacam kesiapan

untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu.


Kesiapan yang dimaksud merupakan kecenderungan yang
potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu
dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya
respon .
Ketiga, kelompok pemikiran ini adalah kelompok yang
berorientasi pada skema triadik (triadic schema). Menurut
pemikiran ini suatu sikap merupakan konstelasi komponen
kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi didalam
memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu objek.
Jadi berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
sikap

adalah

kecenderungan

individu

untuk

memahami,

merasakan, bereaksi dan berperilaku terhadap suatu objek yang


merupakan hasil dari interaksi komponen kognitif, afektif dan
konatif.
b. Komponen Sikap
Menurut Azwar S (2011, p.23) sikap terdiri dari 3 komponen
yang saling menunjang yaitu:
1) Komponen kognitif
Merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu
pemilik

sikap,

komponen

kognitif

berisi

kepercayaan

stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat


disamakan

penanganan

(opini)

terutama

apabila

menyangkut masalah isu atau yang kontroversial.


2) Komponen afektif
Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional.
Aspekemosional inilah yang biasanya berakar paling dalam
sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling
bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah
mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan
dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
3) Komponen konatif
Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu
sesuai sikap yang dimiliki oleh seseorang. Aspek ini berisi
tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi
terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.
c. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Menurut Azwar S (2011, p.30) faktor-faktor yang mempengaruhi
sikap yaitu:
1) Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat menjadi dasar pembentukan
sikap apabila pengalaman tersebut meninggalkan kesan
yang kuat. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila

pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang


melibatkan faktor emosional.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Individu pada umumnya cenderung untuk memiliki sikap
yang konformis atau searah dengan sikap seseorang yang
dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi
oleh keinginan untuk berafiliasi dan untuk menghindari
konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
3) Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dapat memberi corak pengalaman individuindividu masyarakat asuhannya. Sebagai akibatnya, tanpa
disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh
sikap kita terhadap berbagai masalah.
4) Media massa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media
komunikasi

lainnya,

berita

yang

seharusnya

faktual

disampaikan secara obyektif berpengaruh terhadap sikap


konsumennya.
5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan
lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan.
Tidaklah mengherankan apabila pada gilirannya konsep
tersebut mempengaruhi sikap.
6) Faktor emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan
yang didasari emosi yang berfungsi sebagai sebagai
semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego.
d. Cara Pengukuran Sikap
Salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap
dan

perilaku

manusia

adalah

masalah

pengungkapan

(assessment) dan pengukuran (measurement) sikap (Azwar S,


2011, p. 87).
Menurut Azwar S (2011, p.126) Ada berbagai cara untuk
melakukan pengukuran sikap yaitu :
1) Thrustone
Metode penskalaan Thrustone sering disebut sebagai
metode

interval

tampak

setara.

Metode

penskalaan

pernyataan sikap ini dengan pendekatan stimulus yang


artinya penskalaan dalam pendekatan ini ditujukan untuk
meletakkan stimulus atau pernyataan sikap pada suatu
kontinum
favourable

psikologis
atau

yang
tak

akan

menunjukkan

favourable

derajat

pernyataan

yang

bersangkutan. Dengan metode ini perlu ditetapkan adanya


sekelompok orang yang akan bertindak sebagai panel
penilai (judging group). Tugasnya adalah menilai satu
penyataan

per

satu

dan

kemudian

menilai

atau

memperkirakan derajat favourable atau tak favourablenya


menurut suatu kontinum yang bergerak dari 1 sampai
dengan 11 titik. Anggota panel tidak boleh dipengaruhi oleh
oleh rasa setuju atau tidak setujunya pada isi pernyataan
melainkan semata-mata berdasarkan penilaiannya pada sifat
favourablenya.

Dalam

menentukan

penilaian

derajat

favourable atau tak favourable setiap pernyataan sikap,


kepada kelompok penilai disajikan suatu kontinum psikologis
dalam bentuk deretan kotak-kotak yang diberi huruf A
sampai dengan K.
A

Tidak

Netral

favourable

favourable
Kotak berhuruf A yang berasa paling kiri merupakan tempat
untuk meletakkan pernyataan sikap yang berisi afek paling
tidak favourable.
Sebaliknya kotak berhuruf K adalah tempat meletakkan
pernyataan yang paling tidak favourable serta kotak F
merupakan tempat meletakkan sikap yang dianggap netral.
Sebelum itu, apabila terdapat penilai yang meletakkan lebih
dari 30 pernyataan ke dalam satu kotak yang sama, maka
penilai dianggap tidak melakukan penilaian dengan cara
yang semestinya dan hasil penilaiannya harus tidak ikut
dianalisis.
2) Likert
Menurut Likert dalam buku Azwar S (2011, p. 139), sikap
dapat diukur dengan metode rating yang dijumlahkan
(Method of Summated Ratings). Metode ini merupakan
metode penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan
distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai skalanya.
Nilai skala setiap pernyataan tidak ditentukan oleh derajat
favourable nya masing-masing akan tetapi ditentukan oleh
distribusi respons setuju dan tidak setuju dari sekelompok
responden yang bertindak sebagai kelompok uji coba (pilot
study). Prosedur penskalaan dengan metode rating yang
dijumlahkan didasari oleh 2 asumsi (Azwar S, 2011, p 139),
yaitu:

a) Setiap pernyataan sikap yang telah ditulis dapat


disepakati sebagai pernyataan yang favorable atau
pernyataan yang tidak favourable.
b) Jawaban yang diberikan oleh individu yang mempunyai
sikap positif harus diberi bobot atau nilai yang lebih
tinggi daripada jawaban yang diberikan oleh responden
yang mempunyai pernyataan negatif.
Suatu cara untuk memberikan interpretasi terhadap skor
individual dalam skala rating yang dijumlahkan adalah
dengan membandingkan skor tersebut dengan harga ratarata atau mean skor kelompok di mana responden itu
termasuk (Azwar S, 2011, p.155).
2. Diabetes Melitus
a. Pengertian
Diabates melitus (DM) merupakan penyakit yang ditandai
dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi
batas normal. Penyakit DM disebabkan oleh ada gangguan pada
metabolisme insulin, yang berperan penting sebagai media
transfer glukosa ke dalam sel. Bila metabolisme insulin
terganggu maka glukosa tidak dapat masuk kedalam sel,
akibatnya glukosa akan tetap tinggi didalam darah (Irfannuddin,
2008:186).
Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, (2011)
seseorang

dapat

didiagnosa

diabetes

melitus

apabila

mempunyai gejala klasik diabetes melitus seperti poliuria,


polidipsi dan polifagi diserta dengan gula darah sewaktu 200
mg/dL dan gula darah puasa 126mg/dL.

b. Klasifikasi
Diabetes melitus diklasifikasikan menjadi 4 yaitu diabetes melitus
tipe 1, diabetes melitus tipe 2, diabetes gestational dan diabetes
melitus tipe khusus (Price & Wilson, 2005).
1) Diabetes tipe 1
Diabetes tipe 1 (insulin-dependent diabetes melitus atau
IDDM) merupakan diabetes yang disebabkan oleh proses
autoimun

sel-

T (autoimmune

T- Cell

attack)

yang

menghancurkan sel- sel beta pankreas yang dalam keadaan


normal menghasilkan hormon insulin, sehingga insulin tidak
terbentuk dan mengakibatkan penumpukan glukosa dalam
darah. Pasien dengan diabetes tipe 1 membutuhkan
penyuntikan insulin untuk mengendalikan kadar glukosa
darah (Smeltzer & Bare, 2001).
2) Diabetes Tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 adalah diabetes melitus yang tidak
tergantung dengan insulin. Diabetes melitus ini terjadi
karena pankreas tidak dapat menghasilkan insulin yang
cukup atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara
efektif sehingga terjadi kelebihan gula dalam darah.
Diabetes melitus tipe 2 dapat terjadi pada usia pertengahan
dan kebanyakan penderita memiliki kelebihan berat badan
(Smeltzer & Bare, 2001).
3) Diabetes Gestastional ( diabetes kehamilan )
Diabetes gestastional adalah diabetes yang terjadi pada
masa kehamilan dan mempengaruhi 4% dari semua
kehamilan.

Diabetes

gestastional

disebabkan

karena

peningkatan sekresi berbagai hormon yang mempunyai efek

metabolik terhadap toleransi glukosa. Diabetes gastastional


dapat hilang setelah proses persalinan selesai. (Price &
Wilson, 2005).
4) Diabetes melitus tipe khusus
Diabetes melitus tipe khusus merupakan diabetes yang
terjadi karena adanya kerusakan pada pankreas yang
memproduksi insulin dan mutasi gen serta mengganggu sel
beta pankreas sehingga mengakibatkan kegagalan dalam
menghasilkan insulin secara teratur sesuai dengan
kebutuhan

tubuh.

Sindrom

hormonal

yang

dapat

mengganggu sekresi dan menghambat kerja insulin yaitu


sindrom chusing, akromegali dan sindrom genetik (Arisman,
2011).
c. Gejala Diabetes Melitus
Menurut Wicak (2009) gejala umum yang ditimbulkan oleh
penyakit diabetes melitus dianataranya :
1) Pengeluaran urin (Poliuria)
Poliuria adalah keadaan dimana volume air kemih
dalam 24 jam meningkat melebihi batas normal. Poliuria
timbul sebagai gejala diabetes melitus dikarenakan kadar
gula dalam tubuh relatif tinggi sehingga tubuh tidak sanggup
untuk mengurainya dan berusaha untuk mengeluarkannya
melalui urin. Gejala pengeluaran urin ini lebih sering terjadi
pada malam hari dan urin yang dikeluarkan mengandung
glukosa.
2) Timbul rasa haus (Polidipsia)
Polidipsia adalah rasa haus berlebihan yang timbul karena
kadar glukosa terbawa oleh urinsehingga tubuh merespon
untuk meningkatkan asupan cairan.
3) Timbul rasa lapar (Polifagia)

Pasien diabetes melitus akan merasa cepat lapar,hal ini


disebabkan karena glukosa dalam tubuh semakin habis,
sedangkan kadar glukosa dalam darah cukup tinggi.
4) Berkeringat banyak
Glukosa yang tidak dapat terurai akan dikeluarkan oleh
tubuh melalui keringat sehingga pada pasien diabetes
melitus akan mudah berkeringat banyak.
5) Lesu
Pasien diabetes melitus akan mudah merasakan lesu. Hal ini
disebabkan karena pada gukosa dalam tubuh sudah banyak
dibuang oleh tubuh melalui keringat atau urin, sehinggu
tubuh merasa lesu dan mudah lelah.
6) Penyusutan berat badan
Penyusutan berat badan pada pasien diabetes melitus
disebabkan

karena

tubuh

terpaksa

mengambil

dan

membakar lemak sebagai cadangan energi.


d. Komplikasi
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang dapat
menimbulkan

berbagai

komplikasi.

Kompilkasi

DM

dibagi

menjadi dua, yaitu komplikasi metabolik akut dan komplikasi


metabolik kronik. Komplikasi terjadi akibat pengendalian glukosa
darah serta penanganan hipertensi dan hiperlipidemia yang
kurang baik (Ignativicius & Workman, 2010).
1) Komplikasi metabolik akut
Komplikasi metabolik akut pada penyakit diabetes melitus
terdapat tiga macam yang berhubungan dengan gangguan
keseimbangan

kadar

glukosa

darah

jangka

pendek

diantaranya : (Smeltzer & Bare, 2001)


a) Hipoglikemia
Hipoglikemia (kekurangan glukosa dalam darah) timbul
sebagai komplikasi diabetes yang disebabkan karena

pengobatan yang kurang tepat. Pasien diabetes melitus


pada umumnya mengalami hiperglikemia (kelebihan
glukosa dalam darah) namun karena kondisi tersebut
pasien diabetes melitus berusaha untuk menurunkan
kelebihan glukosa dengan memberikan suntik insulin
secara berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu
sedikit

dan

aktivitas

fisik

yang

berat

sehingga

mengakibatkan hipoglikemia (Smeltzer & Bare, 2001).


b) Ketoasidosis diabetik
Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah komplikasi diabetes
yang disebabkan karena kelebihan kadar glukosa dalam
darah sedangkan kadar insulin dalam tubuh sangat
menurun sehingga mengakibatkan kekacauan metabolik
yang ditandai oleh trias hiperglikemia, asidosis dan
ketosis (Soewondo, 2006).
c) Sindrom HHNK (koma hiperglikemia hiperosmoler
nonketotik)
Sindrom HHNK adalah komplikasi diabetes melitus yang
ditandai dengan hiperglikemia berat dengan kadar
glukosa serum lebih dari 600 mg/dl. Sindrom HHNK
disebabkan karena kekurangan jumlah insulin efektif.
(Price & Wilson, 2005).
2) Komplikasi metabolik kronik
Komplikasi metabolik kronik pada pasien diabetes melitus
menurut Price and Wilson (2005) dapat berupa kerusakan
pada pembuluh darah kecil (mikrovaskuer) dan komplikasi
pada pembuluh darah besar (makrovaskuer) diantaranya :
i.
Komplikasi pembuluh darah kecil (mikrovaskuer)

Komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit diabetes


melitus terhadap pembuluh darah kecil (mikrovaskuler)
yaitu:
Kerusakan retina mata (Retinopati)
Kerusakan retina mata (retinopati) adalah suatu
mikroangiopati

ditandai

dengan

kerusakan

dan

sumbahan pembuluh darah kecil. Retinopati belum


diketahui penyebabnya secara pasti, namun keadaan
hiperglikemia diangap sebagai faktor risiko yang
paling utama. Pasien diabetes melitus memiliki risiko
25 kali lebih mudah mengalami retinopati dan
meningkat dengan lamanya diabetes. (Pandelaki,
(2009).
Kerusakan ginjal (Nefropati diabetik)
Nefropati diabetik merupakan penyebab

utama

terjadinya gagal ginjal terminal. Pasien diabetes


melitus tipe 1 dan tipe 2 memiliki faktor risiko yang
sama namun angka kejadian nefropati diabetikum
lebih tinggi pada pasien diabetes melitus tipe 2
dibandingkan pada pasien diabetes melitus tipe 1
(Hendromartono, 2006).
Keruskan syaraf (Neuropati diabetik)
Neuropati diabetik merupakan komplikasi yang paling
sering ditemukan pada pasien diabetes melitus.
Neuropati pada diabetes melitus mengacu pada
sekelompok penyakit yang menyerang semua tipe
saraf. Neuropati diabetik berawal dari hiperglikemia
yang berkepanjangan. Risiko yang dihadapi pasien

diabetes melitus dengan neuropati diabetik yaitu


adanya ulkus yang tidak sembuh- sembuh dan
ii.

amputasi jari atau kaki (Subekti, 2006).


Komplikasi pembuluh darah besar ( makrovaskuer )
Komplikasi

pada

pembuluh

darah

besar

(efek

makrovaskuler) pada pasien diabetes yaitu stroke dan


risiko jantung koroner.
Penyakit jantung koroner
Komplikasi penyakit jantung koroner pada pasien
diabetes melitus disebabkan karena adanya iskemia
atau infark miokard yang terkadang tidak disetai
dengan nyeri dada atau disebut dengan SMI (silent
myocardial infarction) (Yanti, 2008).
Penyakit serebrovaskuler
Pasien diabetes melitus berisiko

kali

lipat

dibandingkan dengan pasien nondiabetes untuk


terkena

penyakit

serebrovaskuler.

Gejala

yang

ditimbulkan pada penyakit ini menyerupai gejala pada


komplikasi akut diabetes, seperti adanya keluhan
pusing

atau

vertigo,

gangguan

penglihatan,

kelemahan dan bicara pelo. (Smeltzer & Bare, 2001).


3. Ulkus Diabetikum
a. Pengertian
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau
selaput lendir dan ulkus adalah kematian jaringan yang luas dan
disertai invasif kuman saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut
menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga merupakan
salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM dengan
neuropati perifer (Andyagreeni, 2010).

Ulkus Diabetik merupakan komplikasi kronik dari Diabetes


Melllitus sebagai sebab utama morbiditas, mortalitas serta
kecacatan penderita Diabetes. Kadar LDL yang tinggi memainkan
peranan

penting

untuk

terjadinya

ulkus

diabetic

melalui

pembentukan plak atherosklerosis pada dinding pembuluh darah


(Zaidah, 2005).
b. Manifestasi Klinis
Gangren diabetik akibat mikroangiopatik disebut juga
gangren panas karena walaupun nekrosis, daerah akral itu tampak
merah dan terasa hangat oleh peradangan, dan biasanya teraba
pulsasi arteri di bagian distal. Biasanya terdapat ulkus diabetik
pada

telapak

kaki.

Proses

makroangiopati

menyebabkan

sumbatan pembuluh darah, sedangkan secara akut emboli akan


memberikan gejala klinis 5 P, yaitu :
1) Pain (nyeri)
2) Paleness (kepucatan)
3) Paresthesia (parestesia dan kesemutan)
4) Pulselessness (denyut nadi hilang)
5) Paralysis (lumpuh).
Bila terjadi sumbatan kronik, akan timbul gambaran klinis menurut
pola dari Fontaine, yaitu 4 :
1)
2)
3)
4)

Stadium I : asimptomatis atau gejala tidak khas( kesemutan ).


Stadium II : terjadi klaudikasio intermiten.
Stadium III : timbul nyeri saat istirahat.
Stadium IV : berupa manifestasi kerusakan jaringan karena

anoksia (ulkus) (Smeltzer C Suzanne, 2001).


c. Faktor Risiko Ulkus Kaki Diabetes
Faktor risiko ulkus kaki diabetes menurut May (2008) meliputi :
1) Neuropati Perifer
Pasien yang mengalami neuropati perifer tidak mengetahui
trauma dan cedera yang dialaminya. Neuropati mengganggu
biomekanika, yang menyebabkan peningkatan gesekan dan

tekanan. Hal ini mengakibatkan risiko injuri dan komplikasi


menjadi meningkat (Lavery, McGuire, Baranoski & Ayello,
2008). Diabetisi yang mengalami neuropati tidak mampu
mendeteksi benda asing yang terdapat di sepatu dan tidak
merasakan ketidaknyamanan akibat dari sepatu yang sesuai di
kakinya. Trauma yang tidak terdeteksi ini sering menjadi trauma
yang tidak tertangani dan tidak bisa sembuh, dan potensial
mengalami konsekuensi amputasi ekstremitas bawah.
2) Deformitas kaki
Deformitas kaki disebabkan dari meningkatknya tekanan kaki,
dan jika dikombinasikan dengan adanya neuropati akan
meningkatkan risiko komplikasi pada kaki. Deformitas kaki
dapat didapat secara kongenital, atau berkembang akibat alas
kaki yang kurang sesuai dan juga bisa diakibatkan dari proses
penyakit terutama diabetes.
3) Penyakit vaskuler perifer
Penyakit vaskuler perifer bukan penyebab langsung ulkus kai
diabetes, namun sebagai faktor yang berkontribusi dalam
menghambat penyembuhan ulkus kaki diabetes.
4) Trauma
Trauma yang sering mencetuskan terjadinya ulkus biasanya
berawal dari luka lecet akibat sepatu baru atau luka bakar dari
air panas.
d. Penatalaksanaan Ulkus Diabetes
Tujuan utama dalam penatalaksanaan ulkus diabetes adalah
penutupan luka. Penatalaksanaan ulkus diabetes secara garis
besar ditentukan oleh derajat keparahan ulkus, vaskularisasi dan
adanya infeksi. Dasar dari perawatan ulkus diabetes meliputi 3 hal
yaitu :
1) Debridement

Debridement menjadi salah satu tindakan yang terpenting


dalam perawatan luka. Debridement adalah suatu tindakan
untuk membuang jaringan nekrosis, callus dan jaringan fibrotik.
Jaringan mati yang dibuang sekitar 2-3 mm dari tepi luka ke
jaringan sehat. Debridement meningkatkan pengeluaran faktor
pertumbuhan yang membantu proses penyembuhan luka
Metode debridement yang sering dilakukan yaitu surgical
(sharp), autolitik, enzimatik, kimia, mekanis dan biologis.
Metode surgical, autolitik dan kimia hanya membuang jaringan
nekrosis (debridement selektif), sedangkan metode mekanis
membuang jaringan nekrosis dan jaringan hidup (debridement
non selektif).
2) Offloading
Offloading adalah pengurangan tekanan pada ulkus, menjadi
salah satu komponen penanganan ulkus diabetes. Ulserasi
biasanya terjadi pada area telapak kaki yang mendapat
tekanan tinggi. Bed rest merupakan satu cara yang ideal untuk
mengurangi tekanan tetapi sulit untuk dilakukan.
3) Penanganan Infeksi
Ulkus diabetes memungkinkan masuknya bakteri,

serta

menimbulkan infeksi pada luka. Karena angka kejadian infeksi


yang tinggi pada ulkus diabetes, maka diperlukan pendekatan
sistemik untuk penilaian yang lengkap. Diagnosis infeksi
terutama berdasarkan keadaan klinis seperti eritema, edema,
nyeri, lunak, hangat dan keluarnya nanah dari luka. Penentuan
derajat infeksi menjadi sangat penting. Menurut The Infectious
Diseases Society of America membagi infeksi menjadi 3
kategori, yaitu:

a) Infeksi ringan : apabila didapatkan eritema < 2 cm


b) Infeksi sedang: apabila didapatkan eritema > 2 cm
c) Infeksi berat : apabila didapatkan gejala infeksi sistemik.
Ulkus diabetes yang terinfeksi dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
a. Non-limb threatening : selulitis < 2cm dan tidak
meluas sampai tulang atau sendi.
b. Limb threatening : selulitis > 2cm dan telah
meacapai tulang atau sendi, serta adanya infeksi
sistemik.
e. Perawatan Luka
Penggunaan balutan yang efeklif dan tepat menjadi bagian
yang penting untuk memastikan penanganan ulkus diabetes yang
optimal. Keuntungan pendekatan ini yaitu mencegah dehidrasi
jaringan

dan

kematian

sel,

akselerasi

angiogenesis,

dan

memungkinkan interaksi antara faktor pertumbuhan dengan sel


target. Beberapa jenis balutan telah banyak digunakan pada
perawatan luka serta didesain untuk mencegah infeksi pada ulkus
(antibiotika), membantu debridement (enzim), dan mempercepat
penyembuhan luka. Balutan basah-kering dengan normal salin
menjadi standar baku perawatan luka.
Selain itu dapat digunakan Platelet Derived Growth Factor
(PDGF), dimana akan meningkatkan penyembuhan luka, PDGF
telah

menunjukan

mitogenesis

dapat

neutrofil,

menstimulasi

fibroblast

dan

kemotaksis

monosit

dan

pada proses

penyembuhan luka. Penggunaan pengganti kulit/dermis dapat


bertindak sebagai
penyaluran

faktor

balutan

biologis,

pertumbuhan

dimana memungkinkan
dan

komponen

matrik

esktraseluler. Recombinant Human Platelet Derived Growth


Factors (rhPDGF-BB) (beclpermin) adalah satu-satunya faktor

pertumbuhan yang disetujui oleh US Food and Drug Administration


(FDA). Living skin equivalen (LSE) merupakan pengganti kulit
biologis yang disetujui FDA untuk penggunaan pada ulkus
diabetes.
4. Keluarga
a. Pengertian
Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan
anak tempat anak belajar dan mengatakan sebagai makhluk
sosial. Dalam keluarga umumnya anak melakuka n interaksi
yang

intim.

Keluarga

adalah

sekumpulan

orang

yang

dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi kelahiran yang


bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang
umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional
dan sosial dari tiap anggota keluarga (Duval, 1972 dalam Setiadi
2008).
Menurut

Slameto

(2006)

keluarga

adalah

lembaga

pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anaknya baik


pendidikan bangsa, dunia, dan negara sehingga cara orang tua
mendidik anak-anaknya akan berpengaruh terhadap belajar.
Sedangkan menurut Mubarak, dkk (2009) keluarga merupakan
perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan
darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga
selalu berinteraksi satu dengan yang lain.
b. Fungsi Keluarga
Dalam suatu keluarga ada beberapa fungsi keluarga yang dapat
dijalankan yaitu sebagai berikut :
1) Fungsi biologis adalah fungsi untuk meneruskan keturunan,
memelihara, dan membesarkan anak, serta memenuhi
kebutuhan gizi keluarga (Mubarak, dkk 2009).

2) Fungsi psikologis adalah memberikan kasih sayang dan rasa


aman

bagi

keluarga,

memberikan

perhatian

diantara

keluarga, memberikan kedewasaan kepribadian anggota


keluarga,

serta

memberikan

identitas

pada

keluarga

(Mubarak, dkk 2009).


3) Fungsi sosialisasi adalah membina sosialisasi pada anak,
membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan
tingkat perkembangan masing-masing dan meneruskan
nilai-nilai budaya (Mubarak, dkk 2009). Fungsi sosialisasi
adalah fungsi yang mengembagkan proses interaksi dalam
keluarga yang dimulai sejak lahir dan keluarga merupakan
tempat individu untuk belajar bersosialisasi (Setiawati,
2008).
4) Fungsi

ekonomi

adalah

mencari

sumber-sumber

penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat ini


dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimana
yang akan datang (Mubarak, dkk 2009). Fungsi ekonomi
merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
seluruh anggota keluarga termasuk sandang, pangan dan
papan (Setiawati, 2008).
5) Fungsi pendidikan adalah menyekolahkan anak untuk
memberikaan

pengetahuan,

keterampilan,

membentuk

perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang


dimilikinya, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa
yang akan datang dalam memenuhi perannya sebagai orang
dewasa

serta

mendidik

anak

sesuai

perkembanganya (Mubarak, dkk 2009).

dengan

tingkat

c. Tugas Kesehatan Keluarga


Menurut Mubarak, dkk (2009) keluarga dapat melaksanakan
perawatan atau pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas
kesehatan keluarga, yaitu sebagai berikut :
1) Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh
diabaikan. Karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak
akan berarti. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan
dan perubahan-perubahan yang dialami oleh anggota
keluarganya. Perubahan sekecil apa pun yang dialami
anggota keluarga, secara tidak langsung akan menjadi
perhatian keluarga atau orang tua. Apabila menyadari
adanya

perubahan,

keluarga

perlu

mencatat

kapan

terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan seberapa besar


perubahanya.
2) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
Tugas ini merupakan upaya utama keluarga untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga,
dengan pertimbangan di antara anggota keluarga yang
mempunyai kemampuan memutuskan sebuah tindakan.
Tindakan

kesehatan

yang

dilakukan

oleh

keluarga

diharapkan tepat agar masalah kesehatan yang sedang


terjadi

dapat

dikurangi

atau

teratasi.

Jika

keluarga

mempunyai keterbatasan dalam mengambil keputusan,


maka keluarga dapat meminta bantuan kepada orang lain di
lingkungan tempat tinggalnya.
3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Sering kali keluarga mengambil tindakan yang tepat, tetapi
jika keluarga masih merasa mengalami keterbatasan, maka

anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan


perlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar
masalah yang lebih parah tidak terjadi. Perawatan dapat
dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di rumah
apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan
tindakan untuk pertolongan pertama.
4) Mempertahankan suasana rumah yang sehat
Rumah merupakan tempat berteduh, berlindung, dan
bersosialisasi bagi anggota keluarga. Sehingga anggota
keluarga

akan

memiliki

waktu

yang

lebih

banyak

berhubungan dengan lingkungan tempat tinggal. Oleh


karena itu, kondisi rumah harus dapat menunjang derajat
kesehatan bagi anggota keluarga.
5) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat
Apabila mengalami gangguan atau masalah yang berkaitan
dengan kesehatan keluarga atau anggota keluarga harus
dapat

memanfaatkan

fasilitas

kesehatan

yang

ada

disekitarnya. Keluarga dapat berkonsultasi atau meminta


bantuan tenaga keperawatan untuk memecahkan masalah
yang dialami anggota keluarganya, sehingga keluarga dapat
bebas dari segala macam penyakit.
B. Kerangka Teori

Sikap :
a. Komponen
kognitif
b. Komponen
afektif
c. Komponen
konatif

Sikap keluarga
terkait perawatan
luka ulkus
Faktor yang mempengaruhi
sikap :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pengalaman pribadi
Pengaruh orang lain
Pengaruh kebudayaan
Media massa
Lembaga pendidikan
Faktor emosional

Meliputi :
a. Pengertian
diabetes melitus
b. Gejala diabetes
melitus
c. Komplikasi
diabetes melitus
d. Pengertian ulkus
diabetikum
e. Manifestasi klinis
ulkus diabetikum
f. Faktor risiko
terjadinya ulkus
diabetikum
g. Penatalaksanaan
ulkus diabetikum
h. Perawatan luka
ulkus diabetikum
i.