You are on page 1of 13

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH

PSIKOSOSIAL: ANSIETAS

MAKALAH

Oleh
Kelompok 1B

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2015

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH


PSIKOSOSIAL: ANSIETAS

MAKALAH
diajukan unutk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Klinik VIII
dengan dosen: Ns. Emy Wuri Wuryaningsih, M.Kep.
Oleh:
Dita Oktaviana
Raras Rahmatichasari
Retno Puji Astuti

NIM 112310101000
NIM 122310101011
NIM 122310101027

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Masalah Psikososial: Ansietas dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik IV-B.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1

Ns. Emy Wuri Wuryaningsih, M. Kep. selaku dosen pembimbing mata kuliah
kuliah Keperawatan Klinik VIII;

teman-teman sekelompok yang telah membantu;

semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.


Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi

kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
menambah pengetahuan pembaca.

Jember, Februari 2014


Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL...............................................................................................i
HALAMAN JUDUL.................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR................................................................................................ iii
DAFTAR ISI.............................................................................................................. iv
BAB 1. PENDAHULUAN......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Tujuan.............................................................................................................2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................3
2.1 Contoh Kasus................................................................................................ 3
2.2 Pengertian......................................................................................................3
2.3 Tanda dan Gejala Kehilangan.....................................................................
2.4 Psikopatologi/ Psikodinamika (Pengkajian Stres Adpatasi Stuart).........4
2.5 Diagnosa Medis dan Diagnosa Keperawatan.............................................12
2.6 Penatalaksanaan............................................................................................13
2.7 Implementasi................................................................................................
2.8 Evaluasi.........................................................................................................
BAB 3. PENUTUP..................................................................................................... 19
3.1 Kesimpulan................................................................................................... 19
3.2 Saran.............................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 20

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Klien yang dirawat dirumah sakit dengan masalah fisik juga aan disertai masalah
psikososial seperti rasa kecemasan, takut akan kehilangan, dan juga akan mengalami
masalah distress spiritual. Timbulnya perasaan tersebut munculdisaat ketika keluarga
dan lingkungan merasa khawatir dengan keadaan klien ditambah dengan seringnya
waktu tim kesehatan seperti dokter, perawat, ahli terapi lain mengontrol dan
membicarakan keadaan klien saat diruangan. Pada umumnya masalaaah psikososial
tersebut menjadi hal pokok yang dirasakan klien dan keluarga disaat seperti kurangnya
informasi yang disampaikan oleh tim atau sumber-sumber informasi yang kurang.
Tindakan untuk masalah psikososial ini dapat diatasi dengna meningkatkan kualitas
pelayanan keperawatan. Salah satu aspek yang dapat dilakukan adalah asuhan
keperawatan psikososial yang membahas mengenaipenyakit terminal, penyakit kronis,
kehilangan, ansietas dan masalah kritis lainnya. Dengan demikian keterkaitan masalah
psikososial keyakindengan pelayanan kesehatan, dimana kebutuhan dasar manusia
diberikan pelayanan keseehatan tidak hanya berupa aspek biologis, tetapi aspek spiritual
agar tidak mengalami masalah psikososial seperti distress spiritual.
Masalah psikososial yang nantinya akan timbul pada kondisi-kondisi yang
disebutkan tadi akan menimbulkan masalah psikososial baru seperti aspek kehilangan.
Hal ini lebih banyak melibatkan emosi dan perasaan. Sehingga tim kesehatan
melakukan tindakan keperawataan membantu pasien untuk memahami dan menerima
kehilangan dan masalah psikososial lain dalam konteks kultur mereka sehingga
kehidupan mereka berlanjut. Untuk itu asuhan yang dapat diberikan dalam mengatasi
masalah-masalahpsikosial tersebut untuk menjaga keseimbanga atau balance antara
stress dan mekanisme koping serta menghindari ketidakseimbangan kondisi tersebut.

1.2 Tujuan
1.2.1

Mengetahui contoh kasus mengenai masalah psikologis tentang ansietas;

1.2.2

Mengetahui definisi mengenai masalah psikologis tentang ansietas;

1.2.3

Memahami psikopatologi mengenai masalah psikologis tentang ansietas;

1.2.4

Mengetahui diagnosa medis dan diagnosa keperawatan mengenai masalah


psikologis tentang ansietas;

1.2.5

Mengetahui penatalaksanaan mengenai masalah psikologis tentang ansietas.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Contoh Kasus
An. A seorang siswa SMA, ia seminggu lagi akan menghadapi ujian nasional.
An. A tampak gelisah saat di tanya tentang kesiapan menghadapi ujian nasional. Saat
ditanya oleh perawat, dia mengatakan kalau takut tidak lulus ujian. Tiap malam An. A
susah tidur karena selalu memikirkan ujian nasional. Ibu dari An. A mengatakan bahwa
anaknya seringkali melamun saat dirumah dan tampak tidak nafsu makan walaupun
sudah diberikan makanan kesukaannya.
2.2 Pengertian
Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai
respons autonom (sumber sering kali tidak spesifik atai tidak diketahui oleh individu);
perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan
isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan

memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman (NANDA, 2012).


Menurut Ermawati, dkk., (2009) dalam Pieter, Janiwarti & Saragih (2011), ansietas
merupakan respon emosional dan penilaian individu yang subjektif yang dipengaruhi
oleh alam bawah sadar dan belum diketahui secara khusus faktor penyebabnya. Menurut
Freud (1933) dalam Semiun (2006) menyatakan bahwa kecemasan merupakan keadaan
perasaan afektif yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang
memperingatkan orang terhadap bahayayang akan datang. Keadaan yang tidak
menyenangkan itu sering kabur dan sulit menunjuk dengan tepat, tetapi kecemasan itu
sendiri selalu dirasakan.
Menurut Stuart, (2006) ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai
kecemasan. Teori tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Teori psikoanalitik, kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua
elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id meewakili dorongan insting dan impuls
primitive, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan
norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi mengahi tuntutan dari dua elemen
yang bertentangan tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa
ada bahaya.
b. Teori interpersonal, kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan
dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan
trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu.
Individu dengan harga diri rendah terutama rentan mengalami kecemasan yang berat.
c. Teori perilaku, kecemasan merupakan hasil dari frustasi, yaitu segala sesuatu yang
mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli teori
perilaku lain mengangga kecemasan sebagai suatu dorongan yang dipelajari
berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk menghindari kepedihan.
d. Teori keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan biasanya terjadi dalam
keluarga. Gangguan kecemasan juga tumpang tindih antara gangguan kecemasan dan
depresi.
e. Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk
benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gamaaminobitirat (GABA), yang berperan penting dalam biologis yang berhubungan
dengan kecemasan.
Ansietas berbeda dengan rasa takut. ..

Menurut Asmadi (2008), tingkatan kecemasan dibagi menjadi 4, antara lain


sebagai berikut.
a. Kecemasan ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari
dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan
kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel,
lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi
meningkat dan tingkah laku sesuai situasi. Kecemasan

ringan mempunyai

karakteristik:
1. Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari.
2.

Kewaspadaan meningkat.

3. Persepsi terhadap lingkungan meningkat.


4. Dapat menjadi motivasi posotif untuk belajar dan menghasilkan kreatifitas.
5. Respon fisiologis : sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat
sedikit, gejala ringan pada lambung, muka berekrut, serta bibir bergetar.
6. Respon kognitif : mampu menerima rangsangan yang kompleks, konsentrasi
pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif, dan terangsang untuk
melakukan tindakan.
7. Respon perilaku dan emosi : tidak dapat duduk tenang, remor halus pada tangan,
dan suara kadang-kadang meninggi.
b. Kecemasan sedang
Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah
yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami
perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi
yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung
dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume
tinggi, lahan persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal,
kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan
yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar,mudah lupa, marah
dan menangis. Kecemasan sedang mempunyai karakteristik seperti:

1. Respon biologis : sering nafas pendek, nadi ekstra sistol dan tekanan darah
meningkat, mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi, sakit kepala, sering
berkemih, dan letih.
2. Respon kognitif : memusatkan perhatian pada hal yang penting dna
mengesampingkan yang lain, lapang persepsi menyempit, dan rangsangan dari
luar tidak mampu diterima.
3. Respon perilaku dan emosi : gerakan tersentak-sentak, terlihat lebih tegas, bicara
banyak dan lebih cepat, susah tidur, dan perasaan tidak aman.
c. Kecemasan berat
Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan
kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan
spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan
banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi
yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak
dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit,
tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk
menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung, disorientasi.
Kecemasan berat mempunyai karakteristik :
1. Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang
lain.
2. Respon fisiologis : nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, berkeringat dan
sakit kepala,penglihatan kabur, serta tampak tegang.
3. Respon kognitif : tidak mampu berpikir berat lagidan membutuhkan banyak
pengarahan / tuntunan, serta lapang persepsi menyempit.
4. Respon perilaku dan emosi : perasaan terancam meningkat dan komunikasi
menjadi terganggu (verbalisasi cepat).
d. Panik
Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami
kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu
walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini
adalah susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan

inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak,


menjerit, mengalami halusinasi dan delusi. Panik mempunyai karakteristik seperti:
1. Respons fisiologis : nafas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat,
hipotensi, serta rendahnya koordinasi motorik.
2. Respons kognitif : gangguan realitas, tidak dapat berfikir logis, persepsi
terhadap lingkungan mengalami distorsi, dan ketidakmampuan memahami
situasi.
3. Respons prilaku dan emosi : agitasi, mengamuk dan marah, ketakutan, berteriakteriak, kehilangan kendali atau kontrol diri (aktifitas motorik tidak menentu),
perasaan terancamm serta dapat berbuat sesuatu yang membahayakan dii sendiri
dan atau orang lain.
2.3 Bagan Sistem Saraf Simpatis dan Parasimpatis
Otak memiliki reseptor khusus terhadap benzodiazepin, reseptor tersebut
berfungsi membantu regulasi kecemasan. Regulasi tersebut berhubungan dengan
aktivitas neurotransmiter Gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol
aktivitas neuron di bagian otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan. Bila
GABA bersentuhan dengan sinaps dan berikatan dengan reseptor GABA pada membran
post-sinaps akan membuka saluran/pintu reseptor sehingga terjadi perpindahan ion.
Perubahan ini akan mengakibatkan eksitasi sel dan memperlambat aktivitas sel. Teori
ini menjelaskan bahwa individu yang sering mengalami kecemasan mempunyai
masalah dengan proses neurotransmiter ini. Mekanisme koping juga dapat terganggu
karena pengaruh toksik, defisiensi nutrisi, menurunnya suplai darah, perubahan hormon
dan sebab fisik lainnya. Kelelahan dapat meningkatkan iritabilitas dan perasaan cemas.
Maramis
2.4 Tanda dan Gejala Ansietas
Menurut NANDA (2012), tanda dan gejala ansietas adalah sebagai berikut.
a. Perilaku
1. Penurunan produktivitas
2. Gerakan yang irelevan
3. Gelisah
4. Melihat sepintas

5. Insomnia
6. Kontak mata yang buruk

7. Mengekspresikan kekhawatiran
karena perubahan dalam

8. Agitasi
9. Mengintai
10. Tampak waspada

peristiwa hidup
b. Afektif
1. Gelisah
2. Kesedihan yang mendalam
3. Distress
4. Ketakutan
5. Perasaan tidak adekuat
6. Berfokus pada diri sendiri
7. Peningkatan kewaspadaan
8. Iritabilitas
9. Gugup
10. Senang berlebihan

11. Rasa nyeri yang meningkatkan


ketidakberdayaan
12. Peningkatan rasa
ketidakberdayaan yang persisten
13. Bingung
14. Menyesal
15. Ragu atau tidak percaya diri
16. Khawatir

c. Fisiologis
1.
2.
3.
4.

Wajah tegang
Tremor tangan
Peningkatan keringat
Peningkatan ketegangan

5. Gemetar
6. Tremor
7. Suara bergetar

d. Simpatik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Anoreksia
Eksitasi kardiovaskuler
Diare
Mulut kering
Wajah merah
Jantung berdebar-debar
Peningkatan tekanan darah
Peningkatan denyut nadi

9. Peningkatan refleks
10. Peningkatan frekuensi
pernapasan
11. Pupil melebar
12. Kesulitan bernafas
13. Vasokontriksi superficial
14. Kedutan pada otot
15. Lemah

e. Parasimpatik
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nyeri abdomen
Penurunan tekanan darah
Penurunan denyut nadi
Diare
Vertigo
Letih

7. Mual
8. Gangguan tidur
9. Kesemutan pada ekstremitas
10. Sering berkemih
11. Anyang-anyangan
12. Dorongan segera berkemih

f. Kognitif
1.
2.
3.
4.
5.

Menyadari gejala fisiologis


Bloking pikiran
Konfusi
Penurunan lapang persepsi
Kesulitan konsentrasi

6. Penurunan kemampuan untuk


belajar
7. Penurunan kemampuan untuk
memecahkan masalah

8. Ketakutan terhadap konsekuensi


yang tidak spesifik
9. Lupa
10. Gangguan perhatian

11. Khawatir
12. Melamun
13. Cenderung menyalahkan orang
lain

g.
h.
i.
j.
k.
l. 2.5 Psikopatologi/ Psikodinamika (Pengkajian Stres Adaptasi Stuart)
m. 2.6 Diagnosa Medis dan Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa medis menurut
b. Diagnosa keperawatan
1. Ansietas berat ditandai dengan perasaan gelisah menghadapi ujian nasional
2. ketakutan ditandai dengan klien takut tidak lulus ujian
3. gangguan pola tidur ditandai dengan klien mengalami susah tidur tiap
malam karena memikirkan ujian nasional
n. 2.7 Penatalaksanaan
o.
p. 2.8 Implementasi
q. 2.9 Evaluasi
r.
s.
t.
u. BAB 3. PENUTUP
v.
w.
1.3 Kesimpulan
x.
Kecemasan sebagai respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara
subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Dua faktor yang
mempengaruhi cemas faktor predisposisi (peristiwa traumatic, konflik emosional,
konsep diri terganggu, frustasi, gangguan fisik, riwayat gangguan kecemasan dalam
keluarga, medikasi) dan faktor presipitasi meliputi ancaman aktivitas fisik kehilangan
disimpulkan suatu pemisahan yang nyata mungkin secara bertahap atau mendadak yang
tidak terduga. Sehingga setalah dilihat dari tanda dan gejala dapat dilihat seberapa besar
mekanisme koping setiap individu tersebut dengan nursing diagnosis.
y.
1.4 Saran
z. Sebagai seorang perawat dalam menangani masalah psikososial seperti
yang dijelaskan diatas dengan lebih banyak keterampilan dalam berkomunikasi.
Hal ini bertujuan untuk meminimalkan terjadinya pemahaman yang salah dari
klien dan keluarga sehingga dapat tercipta pelayanan kesehatan yang berkualitas.

aa.
ab.
ac.
ad.

ah.

ae. DAFTAR PUSTAKA


af.
ag.
Bulecheck, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, J. McCloskey. 2012.
Nursing Interventions Classification (NIC): Fifth Edition. Lowa: Mosby
Elsavier.

ai.
aj.

Jhonson, Marion. 2012. Lowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC):


Missoury: Mosby.

ak.
al.

NANDA International. 2012. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications


2012-2014. Jakarta : EGC.