You are on page 1of 51

ANALISA STRUKTUR 1

2015
Bab I:

Teori lendutan dan putaran sudut dengan Bidang Momen sebagai Muatan

1.1.Umum
Dalam mencari lendutan y dan putaran sudut pada balok diatas balok dengan dua
perletakan ada beberapa cara, salah satunya adalah dengan cara bidang momen sebagai
muatan. Dalam bab ini dikhususkan dengan cara bidang momen sebagai muatan. Cara ini
akan membantu perhitungan momen, gaya lintang pada analisa struktur terutama pada
struktur statis tak tertentu.
Secara umum untuk mencari lendutan y dan putaran sudut digunakan rumus sebagai
berikut :
_

M
y
EI

(1.1)

EI

(1.2)

Dimana M adalah Momen dari luas bidang momen sebagai muatan, sedangkan Q
adalah gaya lintang dari luas bidang momen sebagai muatan.

1.2 Lendutan dan putaran sudut pada balok dua tumpuan dengan beban terbagi
rata
Aplikasi dari bidang momen sebagai muatan dapat dilihat pada Gambar 1.1, dimana suatu
balok diatas dua perletakan dengan beban terbagi rata q dengan bentang L dan
mempunyai kekakuan EI akan dihitung lendutan maximum y max yang terjadi dan
putaran sudut A dan B pada perletakan. Cara yang dibuat pada bab ini adalah dengan
bidang Momen sebagai muatan. Tentu harus diketahui dahulu bidang Momennya baru
kemudian dapat dihitung lendutan dan putaran sudutnya.
Bidang Momen dari gambar 1.1 adalah pada gambar 1.2 dimana Momen maximum
ditengah bentang adalah Mmax = 1/8 qL2. Bidang Momen tersebut dibuat jadi muatan.

[Type text]

[Type text]

[Type text]

ANALISA STRUKTUR 1

2015
q

B
EI
A

ymax
L

Gambar 1.1 : balok diatas 2 perletakan dengan beban terbagi rata q


yang akan dicari A , B dan y max
Untuk mencari A , B dan y max digunakan dengan cara bidang momen sebagai muatan
seperti gambar 1.2. Pada gambar ini A adalah luas dari bidang momen dan bekerja dititik
tangkap parabola dari luas bidang momen.
1
M= ql 2
8
_

_
_

1
L
2

AV

1
L
2

BV

Gambar 1.2 : bidang momen sebagai muatan

Luasan Bidang Momen parabola berdasarkan gambar 1.3 adalah sebesar


2 1
1
1 3
A . ql 2 . l
ql
3 8
2
24

Jika beban seperti pada gambar 1.2 maka reaksi yang terjadi ditumpuan A dan B didapat

AV B V A

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

1 3
ql
24

Page 2

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Titik berat parabola kuadratis dapat dilihat digambar 1.3


5
a
8

3
a
8

7
b
10

2
b
5
7
b
10

3
b
10
1
a
4

3
a
4

Gambar 1.3 : parabola yang kuadratis [.......]

Lendutan maximum y max ditengah bentang pada beban terbagi rata pada gambar 1.1
berdasarkan rumus 1.1 adalah
_

M1
y max

EI

1
3
1 3 1
1
3
5
M = AV . l A. l =
ql . l ql 3 . l =
ql 4
2
16
24
2
24
16
384

maka
y max

5
ql 4
384 EI

(1.3)

Sedangkan putaran sudut dititik A

A
Q
ql 3
A A V
EI
EI 24 EI

(1.4)

dan dengan demikian putaran sudut dititik B

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 3

ANALISA STRUKTUR 1

2015

B
Q
ql 3
B B V
EI
EI 24 EI

(1.5)

1.3 Lendutan dan putaran sudut pada balok dua tumpuan dengan beban terpusat.
Suatu balok dengan dua perletakan dibebani dengan P ditengah bentang dapat dilihat di
gambar 1.4.

P
A

ymax
L

Gambar 1.4 : lendutan, putaran sudut pada balok diatas dua perletakan.
Untuk menghitung besarnya y max , A dan B digunakan bidang momen sebagai muatan
seperti pada gambar 1.5. Di gambar ini dapat dilihat bebannya adalah bidang momen
yang berbentuk segitiga dimana A adalah luas segitiga sebelah kiri dan sama juga
besarnya dengan beban segitiga sebelah kanan karena bebannya simetri.

Besar luasan A adalah


A 12 . 12 L. 14 PL 161 PL2
_

R A A 161 PL2

PL
A

Gambar 1.5: Beban terpusat P dengan Bidang Momen sebagai muatan

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 4

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Dengan demikian
_

ML = R A . 12 L A 16 L 161 PL2 . 12 L 161 PL2 . 16 L


=
y max

Maka

1
48

PL3

M 12 L

EI

PL3
48EI
_

RA
PL2
Putaran sudut pada perletakan sebelah kiri adalah A
dan sedangkan untuk

EI 16 EI
_

R
PL2
perletakan sebelah kanan B B
.
EI 16 EI
1.4 Lendutan dan putaran sudut pada balok kantilever dengan beban terpusat.
Suatu balok kantilever seperti gambar 1.6. hendak dihitung lendutan (ymax) dan dan
putaran sudut .

EI

B
ymax
L

Gambar 1.6: Balok kantilever

Menghitung dengan bidang momen sebagai muatan. Jepit dirubah kearah B

PL
A

EI

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

2/3L

Page 5

ANALISA STRUKTUR 1

2015
1

Maka luas bidang momen adalah = 2 2


ymax=

1 2 2

2
3

= 3

Sedangkan putaran sudut titik B pada adalah


=

2
2

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 6

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Tabel 1: Lendutan dan putaran sudut dengan berbagai beban dan variasi

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 7

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Bab II:
Menghitung Momen dan Gaya Lintang pada balok dua perletakan statis
tak tertentu

Pada bab ini akan dibahas balok diatas dua perletakan dengan kondisi statis tak tentu
dimana dengan perletakan jepit sendi, jepit-jepit dengan berbagai variasi beban.
2.1 Balok diatas dua perletakan dengan jepit sendi dengan beban terpusat.
Pada gambar 2.1 adalah balok diatas dua perletakan dengan beban terpusat ditengah
bentang dan perletakan adalah jepit sendi. Yang akan dicari adalah Momen dan Gaya
Lintang.

P
C
A

B
1

MA

A*

B*

M A 163 PL
Bidang Momen

Mc

5
32

+
11
R A 16
P

Bidang Lintang

+
-

RB 165 P

Gambar 2.1 : Balok diatas dua perletakan dengan jepit sendi


Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 8

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Dari gambar 2.1 yang harus dicari adalah MA. Untuk mendapatkannya maka berdasarkan
syarat batas bahwa pada perletakan jepit putaran sudut adalah nol. Dan pada gambar 2.1
bahwa balok dengan tumpuan jepit sendi dapat dibuat dengan metode superposisi
menjadi dua balok, yakni satu dengan balok dengan perletakan sendi dan bekerja gaya P
sedangkan yang satu lagi adalah perletakan sendi-sendi dengan hanya MA saja yang
bekerja.
Dari pendekatan putaran sudut diperletakan jepit adalah nol maka

A A* 0
PL2
dari bab sebelumnya. Dan untuk mencari A* dapat dicari dengan
16 EI
bidang Momen sebagai muatan pada gambar 2.2. Dimana A adalah luas Bidang Momen
yakni A 12 LM A . Dari gambar ini maka didapat Reaksi di A adalah R A 13 M A L .
Dengan demikian putaran sudut dititik menjadi:
Sedangkan A

A*

M AL
3EI

Dengan

M B 0 maka

M AL
PL2
3PL
= 0 sehingga didapat M A
16 EI
3EI
16

MA
A
L
Gambar 2.2: Bidang momen akibat MA

M 0 maka R L M P. L 0 dan didapat


5
dengan M 0 maka didapatkan R P . Dengan
16

Setelah MA didapat maka dengan

1
2

11
P . Dan kemudian
A
B
16
5
demikian M C
PL . Gambar Bidang Momen dan Bidang Lintang dapat dilihat di
32
gambar 2.1.
RA

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 9

ANALISA STRUKTUR 1

2015

2.2. Balok dengan dua perletakan jepit sendi dan beban terbagi rata.
Digambar 2.3 dapat dilihat balok dengan dua perletakan jepit sendi dengan beban terbagi
rata. Maka balok tersebut dapat dibuat menjadi dua balok seperti pada bab 2.1, dimana
balok yang pertama dijadikan statis tertentu dengan beban terbagi rata q, dimana
M L
ql 4
, sedangkan akibat MA putaran sudut A* A . Sama dengan bab 2.1
A
3EI
24 EI
putaran sudut di titik A adalah nol.
Dengan demikian

M AL
ql 3
1
= 0 dan MA= ql 2 .
24 EI
3EI
8
q

A
L
MA

EI
RB

RA

M lap 161 ql 2

M A 18 ql 2

R A QA 85 ql 2
R A QA 83 ql 2

Gambar 2.3: balok sendi jepit dengan beban terbagi rata.


Dengan demikian Momen Lapangan menjadi M lap 18 ql 2 161 ql 2 18 ql 2 .
Mencari RA adalah dengan

0 , RAL - MA -

1 2
1
1
ql = 0, RAL - ql 2 - ql 2 =0
8
2
2

5 2
3
ql . Dengan M A 0 didapat RB = ql 2 . Gambar Bidang Momen dan
8
8
Gaya Lintang dapat dilihat di Gambar 2.3

Maka RA =

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 10

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Sedangkan untuk mencari Momen maximum adalah dengan persamaan


M x R A x M A 12 qx 2

dM x
R A qx 0
dx
5 2
5
ql qx 0 dan x L
8
8
dimana x adalah jarak dari titik A.
2

9
1
5
5 1
1 5
ql 2 ql 2
M max ( x 8 L) ql 2 . l ql 2 q l =
14
8
8 8
2 8 128
5

Titik momen sama dengan nol dihitung dengan


M x R A x M A 12 qx 2 0
5
1
ql.x ql 2 12 qx 2 0
8
8
4 x 2 5l.x l 2 0

5l 25l 2 16l 2 5l 3l
1

dari sini didapat x1 l dan x2 l .


8
8
4
1
demikian lokasi momen nol adalah berjarak x l dari titik A.
4
x1, 2

Dengan

2.3 Balok diatas dua perletakan dengan jepit jepit dengan beban terbagi rata.
Balok dengan perletakan jepit-jepit dan beban q terbagi rata dapat dilihat di gambar 2.4,
dimana dengan cara yang sama dengan bab 2.1 dan 2.2 adalah bahwa putaran sudut
ditumpuan A dan tumpuan B adalah nol dikarenakan perletakannya jepit.

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 11

ANALISA STRUKTUR 1

2015

MA

MA=

MB

1 2
ql
12

MB =

+
ML=

1
RA= ql
2

1 2
ql
12

1 2
ql
24

+
-

1
RB= ql
2

L
Gambar 2.4: Balok dengan perletakan jepit-jepit
dan beban terbagi rata.
Persamaan pada titik A, adalah A A* A** 0

ql 3
Dari bab 1.1 dalam kondisi perletakan sendi-sendi putaran sudut A
24 EI

M AL
didapat dari gambar.2.2, sedangkan A** didapat
3EI
dari bekerjanya MB pada titik B, sedangkan MA=MB, seperti pada gambar 2.5
Sedangkan putaran sudut A*

A**

MB

Gambar 2.5: Putaran sudut akibat MB


Dengan bidang sebagai muatan seperti pada gambar 2.2 makan A**
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

M B .L M A L

6 EI
6 EI
Page 12

ANALISA STRUKTUR 1

Maka A A* A**
MA

2015

M l M L
gl 4
A A 0
24 EI 3EI
6 EI

1 2
1
ql demikian juga M B ql 2
12
12

1
1
1 2
Momen maximum pada tengah bentang adalah M max ql 2 ql 2
ql
8
12
24

2.4. Balok dengan jepit sendi dengan Momen M

Balok dengan beban M bekerja pada balok AB

M
A

L/2

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

MB

L/2

Page 13

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Tabel : Momen tumpuan pada balok diatas dua perletakan dengan beban yang variatif

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 14

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 15

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 16

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Tugas 1:
Soal 1: Gambarkan bidang M dan Q

0.5L

Soal 2: Gambarkan bidang M dan Q

0.75L

P
q

L
Soal 3: Gambarkan bidang M dan Q

0.25L

0.25L

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 17

ANALISA STRUKTUR 1

Nim akhir
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0

L(m)
6
8.5
8
6.5
7.5
7
9
10
5
5.5

2015

P(kN)
10
55
15
20
40
45
30
25
70
50

q(kN/m)
5
5
6
7
8
8
9
10
4
3

Dikumpul 16 Maret 2015

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 18

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Bab III:
Balok menerus diatas beberapa perletakan

Suatu konstruksi dengan balok menerus diatas beberapa perletakan dapat dilihat
digambar 3.1.

Gambar 3.1 : Balok menerus diatas beberapa perletakan

Cara untuk menghitung gaya-gaya dalam pada konstruksi ini ada beberapa cara seperti
dengan cara Bidang Momen sebagai muatan, Unit Load Method, Clayperon, Slope
Deflection, Cross, Finite Element Methode, Kraftgrossverfahren, dll.

3.1 Cara Unit Load Method


Cara ini dperkenalkan oleh J.C. Maxwell pada tahun 1864 dan O.C.Mohr pada tahun
1874. Untuk memperkenalkan metode ini dapat dilihat pada gambar 3.2 yakni, balok
diatas 3 tumpuan dengan beban terbagi rata q

q
A

EI
1
2

q
1
2

EI

L
q

RB

Gambar 3.2 : Balok ditumpu diatas 3 perletakan


Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 19

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Pada konstruksi tersebut titik B dilepas terlebih dahulu, maka dititik B akan terjadi
lendutan kebawah sebesar B . Lantas kemudian dititik B dikerjakan gaya satuan RB = 1,
maka pada titik B akan terjadi deflection keatas sebesar 11 . Oleh karena sebenarnya
dititik B lendutan adalah nol maka dapat dibuat persamaan seperti dibawah ini

B + RB 11 = 0
Dimana lendutan jika titik B dilepas, sedangkan 11 adalah lendutan dengan gaya satu
satuan. Dan yang tidak diketahui pada persamaan ini adalah RB.

5 ql 4
dapat dilihat di bab I perhitungannya, yakni lendutan pada balok dua
384 EI
tumpuang dengan perletakan sendi-sendi dengan beban terbagi rata. Sedangkan 11 =
Besar B =

l3
, dimana ini adalah lendutan pada balok diatas dua perletakan sendi-sendi dengan
48 EI
beban terpusat P=1 ditengah bentang seperti yang telah dihitung di Bab I.

Dengan demikian besar RB dapat dihitung dengan

5 ql 4
l3
- RB.
=0
384 EI
48 EI
RB

5
ql
8

Setelah diketahui RB maka selanjutnya dapat dihitung gaya-gaya dalamnya.


RA diperoleh dengan membuat

0 , R A .l RB . 12 l 12 ql 2 0 ,
RA .l 85 ql. 12 l 12 ql 2 0

RA

Karena simetri maka RC R A


Kontrol bahwa

V 0 , R

3
ql ,
16

3
ql
16

RB RC ql ,

3
5
3
ql ql ql ql (memenuhi).
16
8
16

Selanjutnya dalam menghitung gaya dalam maka pada batang AB


1
M X R A x qx 2
2
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 20

ANALISA STRUKTUR 1

2015

dM X
3
R A qx ql qx 0
dx
16
2

3
3
3
1 3
3 2
x l dan M max ( x 163 l ) ql. l q l
ql
16
16 16
2 16
32
3
1
1
2
M B ( x 12 l ) ql. 12 l q 12 l ql 2
16
2
32

Pada batang BC momen adalah simetri dengan batang AB. Gambar Bidang Momen dan
Lintang dapat dilihat di gambar 3.3.
MB

M max

3 2
ql
32

1 2
ql
32

M max

3 2
ql
32

+
B
1
2

Qa

3 2
ql
16

1
2

L
QB

13 2
ql
16

+
A

+
-

QC

B
QB

3 2
ql
16

13 2
ql
16

Gambar 3.3 : Balok diatas 3 perletakan dengan unit load method.

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 21

ANALISA STRUKTUR 1

2015

3.2: Metode Clayperon


Clayperon (1799-1864) adalah nama insinyur Perancis yang pertama kali memakai
metode ini. Metode ini lebih mudah dari metode lain.Metode ini disebut juga Dalil Tiga
Momen. Metode ini dipakai untuk menyelesaikan gaya dalam pada balok diatas beberapa
tumpuan.
Prinsip pengerjaan metode ini adalah dengan menerapkan keseimbangan sudut
diperletakan. Tiap perletakan akan dipengaruhi oleh 3 Momen yakni Momen Mm
diperletakan tersebut dan Momen dikiri Mkr dan kanan Mkn perletakan tersebut.Lihat
gambar

Mm

Mkr

kr
A

Mkn

kn
B

Gambar 3.4 : Metode Clayperon


Dari gambar 3.4 dapat dibuat suatu persamaan dititik B
B0 B*
Dimana B0 adalah putaran sudut akibat beban dan sedangkan B* juga adalah momen
akibat Mm, Mkr dan Mkn . Contoh soal seperti pada gambar 3.2 yang dikerjakan dengan
Metode Clayperon. Maka pada titik B berlaku

B0 B*
1
1 1 3 M B 12 L M B 12 L
q( 12 l ) 3
( l)

24 EI
24 EI 2
3EI
3EI
MB

1 2
ql
32

Dalam hal contoh soal ini harga MB adalah sama jika dibandingkan antara unit load
method dengan Clayperon.
Berikutnya adalah contoh penyelesaian dengan balok diatas 4 perletakan dengan EI yang
sama seperti pada gambar 3.5.

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 22

ANALISA STRUKTUR 1

2015

B
MB

C
MC

Gambar 3.5: Balok dengan beban terbagi rata q diatas 4 perletakan

Pada titik B

M L M L M L
ql 3
ql 3

B B C dan 8M B 2M C ql 2
,
24 EI 24 EI
3EI
3EI
6 EI

Pada titik C

C0 C*

0
B

*
B

M L M L M L
ql 3
ql 3

C C B dan 2M B 8M C ql 2
24 EI 24 EI
3EI
3EI
6 EI

Dari kedua persamaan dititik B dan C didapat M B M C

1 2
ql , gambar Bidang
10

Momen dan Gaya Lintang dapat dilihat digambar 3.6.

MB

1 2
ql
10

A
M max

MC

B
2 2

ql
25

C
M max

Q A 52 ql

1 2

ql
40

M max

QB 12 ql

D
2 2

ql
25

QC 53 ql

B
QB ql

C
Qc ql

3
5

1 2
ql
10

D
QD ql

1
2

2
5

Gambar 3.6: Bidang Momen dan Lintang pada beban terbagi rata
diatas 4 perletakan
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 23

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Untuk menghitung Reaksi pada perletakan A, B, C dan D maka batang tersebut dipisah
menjadi 3 batang statis tertentu yakni AB, BC dan CD.
Batang AB
q

l
RA

RB M B

1 2
ql
10

1 2
l
3
ql ql. 0 , RB ql , selanjutnya
10
2
5
1
l
2
dengan M B 0 , R A .l ql 2 ql. 0 , R A ql .
10
2
5

Maka dengan

0 didapat RB .l

Untuk menghitung momen max ditengah bentang AB, maka


1
dMx
2
2
M X R A .x . qx 2 0 ,
0 , R A qx 0,
ql qx 0 , x l
2
dx
5
5
2 2
maka momen maximum M 2
ql
X l
25
5
1
1 2
Untuk batang BC dengan cara yang sama akan diperoleh RB Rc ql , M max
ql
2
40
Pada batang CD perhitungannya sama dengan batang AB.
2
3
1
ql , QB ql , sedangkan batang BC QB ql
5
5
2
1
3
2
dan QC ql dan untuk batang CD Qc ql dan QD ql
2
5
5

Untuk Gaya Lintang Batang AB Q A

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 24

ANALISA STRUKTUR 1

2015

3.3 Metode Cross

Metode Cross dapat digunakan untuk menghitung Gaya dalam pada konstruksi Balok
diatas beberapa perletakan ataupun pada konstruksi portal Bidang.
3.3.1 Penggunaan Cross pada balok diatas beberapa tumpuan
Dalam metode Cross ada dikenal istilah a.l. Momen Primer, Kekakuan dan Koefisien
distribusi. Momen Primer dikenal dengan kondisi Momen pada balok diatas dua
perletakan dengan kondisi perletakan jepit atau sendi. Ini sudah diperkenalkan pada bab
sebelumnya. Momen primer dapat ditentukan dengan tabel yang sudah pernah diberikan.
Kenyataannya pada balok diatas beberapa perletakan kondisinya perletakan yang diapit
dua balok akan mengalami pengaruh sama lain. Padahal pada perletakan momen harus
seimbang atau M 0 . Oleh karena itu maka untuk mengiterasi perbedaan kedua
Momen tergantung kepada koefisien distribusi. Dan Koef distribusi sangat tergantung
kepada kekakuan. Sebagai contoh dapat dilihat balok diatas 3 perletakan digambar..
P

MBA

P1

MBC

C
EI
L1

EI
L2

Momen Primer MBA dan MBC dapat dihitung dengan tabel yang sudah diberikan.
Sedangkan koefisien distribusi dapat dihitung dengan
kondisi perletakan jepit-jepit

Kekakuan
4 EI
k
L

Kondisi perletakan jepit-sendi

Kekakuan
3EI
k
L

Koefisien distribusi adalah faktor pembagi disetiap simpul yang dapat dihitung
berdasarkan kekakuan balok yang bertumpu pada simpul. Secara umum mengitung
koefisien distribusi adalah

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 25

ANALISA STRUKTUR 1

2015
mi

k mi
k mi

Contoh perhitungan cross pada balok diatas 3 perletakan dibawah


q=1,0 t/m
C

EI

MBA

L1=6m

Momen primer MBA = -

MBC

MCB

L2=6m

1 2
ql = - 4.5 tm, tanda minus berlawanan dengan jarum jam dan
8

1 2
ql = + 5.33 tm dimana tanda positif adalah karena searah dengan jarum
12
1 2
jam dan MCB =
ql =-5.33 tm. Sedangkan kekakuan balok AB adalah
12
3EI 3EI
4 EI 4 EI
sedangkan balok BC kekakuannya k
k

0.5EI .
L1
6
L2
8

MBC = +

Adapun kekakuan adalah sbb:

BA

k AB
k AB k BC

BC

k BC
k AB k BC

BA 0.427
BC 0..573

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 26

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Iterasi dapat digunakan dengan menggunakan tabel dibawah

Momen Primer

MBA
-4.5

Koef.
Distribusi

MBC
5.33

BA

BA

0.427
-0.354
-4.854

0.573
-0.476
4.854

MCB
-5.33

-0.238
-5.568

Hasil iterasi digambar pada balok dibawah ini

A
MBA=-4.854

MBC=4.854

MCB=-5.568

Untuk mengambarkan Bidang Momen dan Gaya Lintang terlebih dahulu dibuat free
body/pemisahan balok per balok.
Balok AB
q=1t/m
MBA=4.854

A
B
RA

RB

RB 3,809 t

R A 2,191 t

l
RB .l M BA q.l. 0
2

l
R A .l M BA q.l. 0
2

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

6
RB .6 4.854 1.6. 0
2

6
R A .6 4.854 1.6. 0
2

Page 27

ANALISA STRUKTUR 1

2015

M x RA .x 1 2 qx 2 2,191.x 0,5.x 2

dM x
2,191 x 0 sehingga x 2,191
dx

M max ( x 3,82) 2,400 tm

Batang BC

q=1t/m

MCB=5.568
MBC=4.854

RB

RC

RB .6 M BC M CB ql. 12 l 0 RB .6 4,854 5,568 1.6. 12 6 0

RB = 2,881 ton

M
M

B
B

RC .6 M BC M CB ql. 12 l 0 RC .6 4,854 5,568 1.6. 12 6 0

Rc = 3,119ton

M x RB .x 1 2 qx 2 M BC 2,881.x 0,5.x 2 4.854

dM x
2,881 x 0 x 2,881 m
dx

M max ( x 2,93) 0,700

Selanjutnya gambar bidang Momen dan gaya lintang dapat dilihat digambar dibawah ini
4.854

5.568

`
A

C
+

+
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 28

ANALISA STRUKTUR 1

M 2,4 tm

2,191
ton

2015

M 0,700 tm

2,881
ton
B

3,119
ton

3, 809ton

3.3.2 Metode Cross pada balok dan beban yang simetri


Pada balok dan beban yang simetri dapat dihitung lebih cepat dengan cara menghitung
secara simetris. Caranya dapat dilihat ditabel dibawah, dimana untuk mengihutng
kekakuan pada daerah yang dipotong dapat dilihat ditabel tersebut. Dengan cara ini
mempermudah waktu pengerjaan iterasi.

A
A

B C D

D
C

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

A
A

A B

4 EI 2 EI

L
L
4 EI 3EI
0.75 *

L
L

k BC 0.5 *

k AB

k BC

4 EI
L

Page 29

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Bab IV:
Metode Cross pada Portal
Menghitung gaya dalam portal dapat digunakan metode Cross. Dalam tulisan ini ada dua
type portal yakni Portal tidak bergoyang dan portal bergoyang. Portal tidak bergoyang
diartikan jika tidak terjadi perpindahan kearah horizontal sedangkan disebut portal
bergoyang jika terjadi perpindahan diarah horizontal.
4.1 Portal tidak bergoyang.
Portal tidak bergoyang terjadi jika portalnya dan bebannya simetri. Sebagai contoh dapat
dilihat portal dibawah ini
q = 10 t/m
B

EI
h=8m

EI

EI

D
L=8m

Momen Primer

M BC = +
M BC = -

1
12

1
12

ql 2 = + 53,33 tm

ql 2 = - 53,33 tm

Kekakuan
kAB = kCD=

kBC =

4 EI 4 EI
= 0.5 EI

L
8

4 EI 4 EI
= 0.5 EI

L
8

Koefisien distribusi
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 30

ANALISA STRUKTUR 1

2015

AB

k AB
0.5EI

0.5
k AB k BC 0.5EI 0.5EI

BC

k BC
0.5EI

0.5
k AB k BC 0.5EI 0.5EI

CB 0.5
CD 0.5
Iterasi
Untuk hitungan iterasi dapat dilihat di tabel dibawah
Batang

BA

Momen Primer
-13.333

-4.1664

-0.2604

-0.0163

-0.001

0.5
0
26.665

BC

CB

CD

0.5
53.33

0.5
-53.33

0.5
0

0.5
0

-26.665

-13.333
33.331

33.331

16.666

-4.166
2.083

2.083

1.042

-0.260
0.130

0.130

0.065

-0.016
0.008

0.008

0.004

-0.001
0.001

0.001

0.000

-35.553

35.553

17.777

-8.333

16.666
-8.333

-0.521

1.042
-0.521

-0.033

0.065
-0.033

-0.002

0.004
-0.002
0.000

Momen

-17.777

35.553

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

35.553

Page 31

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Penggambaran Bidang Momen, Gaya Lintang dan Normal


Dari hasil iterasi kemudian dimasukkan kedalam portal dan momen-men ditumpuan
adalah
B

C
35,553
35,553

h=8m

D
A

17,777

17,777

Bid. M

Batang AB
HB

35,553
h=8m

17,777

HA
A

+
Bid. M

Bid. Q

0 maka - HA.8 + 17,777 + 35,553 = 0 dan HA = 6,66625 ton, HB= 6,66625 t

Batang CD
Perhitungan sama dengan batang AB

Bid. M

HC=6,6662
5

Bid. Q

35,553

+
D

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 32

ANALISA STRUKTUR 1

2015
+

17,777

HD=6,6662
5
Batang BC
q=10 t/m

35,553

35,553
RA

35,553

RC

35,553

Bid Momen

+
44.447
+

Bid. Lintang
RA = 0,5. q. L = 0,5 .10. 8 = 40 ton
RB = 40 ton
Mmax = 1/8. q l2 35,553 = 1/8. 10. 82 35,553 = 44.447 tm
Secara keseluruhan Bidang Momen, Lintang dan Normal akan digambarkan dibawah ini.
Namun sebelumnya digambarkan Reakasi yang terjadi pada Portal, dari hasil batang AB,
BC dan CD.
B

HA=6,66625
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

HB=6,66625
Page 33

ANALISA STRUKTUR 1

RA=40 ton

2015

RB=40 ton

Bidang Momen, gabungan dan batang AB, BC dan CD

.
35,553

35,553

44.447

+
17,777

Bidang Lintang digambarkan juga dengan kombinasi batang AB, BC dan CD


40 t

+
-

40 t
17,777

6,66625

6,66625

Bidang Normal dapat digambarkan dari Reaksi yang terjadi secara berkaitan. Reaksi di
titik B dan C akan menjadi Normal tekan pada batang AB dan CD, sedangkan reaksi dari
gaya Horizontal di A dan C akan menjadi Normal di batang BC.

6,66625

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

6,66625

Page 34

ANALISA STRUKTUR 1

40

2015

40

4.2 Portal yang simetris


Pada portal yang simetris maka pengerjaan iterasi dapat lebih cepat. Kekakuan pada
daerah yang dipotong dapat dilihat di tabel dibawah.

B
C

B
k BC 0.5 *

A
D
B

k BC

4 EI 2 EI

L
L

4 EI
L

4.3. Portal Bergoyang


Pada umumnya portal yang beban maupun strukturnya adalah portal bergoyang. Akibat
bergoyang maka akan ada tambahan momen, gaya lintang dan Normal yang harus
dihitung.
Secara umum dalam portal bergoyang maka Momen yang akan didapat adalah dari
perhitungan sbb:

M total Mo cM dimana c adalah suatu koefisien yang akan didapat dari perhitungan
horizontal H cHo 0 dimana H adalah gaya horizontal akibat portal tidak bergoyang
dan Ho adalah suatu gaya horizontal yang dihitung dari satu satuan gaya. Untuk jelasnya
lihat gambar dibawah.

=
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

tdk bergoyang

bergoyang
Page 35

ANALISA STRUKTUR 1

2015
Mo

c.M

Pada level lantai akan berlaku H 0 , baik dari portal a dan b.


Pada gambar a diatas dihitung dengan cross tidak bergoyang sedangkang gambar b diatas
dihitung secara umum seperti dibawah

M1
k1
M1

M2
l1

l2

k2
M2

Perletakan jepit-jepit di kedua kolom

l k
M 1l12 M 2 l 22

atau M 2 M 1 1 2
l 2 k1
6 EI 1 6 EI 2

M1
k1
M1

M2
l1

k2

l2

Perletakan jepit-sendi di kedua kolom

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 36

ANALISA STRUKTUR 1

2015

l k
M 1l12 M 2 l 22
2
atau M 2 M 1 1 2

3
l 2 k1
6 EI 1 3EI 2

Dengan memisalkan M1 menjadi satu satuan gaya, maka akan didapat koefisien c dari
perjumlahan gaya horizontal di level 1 dari portal a maupun b.
Contoh perhitungan portal bergoyang dapat dilihat berikut ini, dimana dalam contoh ini
diambil dari bab sebelummnya, dan hanya ditambah gaya horizontal H=10 ton. Untuk
kasus tidak bergoyang sudah diselesaikan sebelumnya dan pada bab ini hanya
menambahkan hal yang bergoyang saja.

q = 10 t/m
H = 10 ton

h=8m

EI

B
EI

EI

D
L=8m

Untuk kasus mencari koefisien c maka portal diatas akan dimodelkan menjadi. Pada
kolom AB akan dimisalkan 1 satuan, sedangkan pada kolom CD juga menjadi sama
besarannya karena kolom sama tinggi, kekakuannya juga sama.
C
B
M=100 tm

EI
EI

M = 100 tm
EI

M=100 tm
L=8m
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

M = 100 tm
D
Page 37

ANALISA STRUKTUR 1

2015

Proses iterasi dapat dilihat ditabel di halaman berikutnya.

EI

MBA=60 tm

MCD = 60tm

EI

EI

MAB=80 tm

MDC = 80 tm
D

A
Kiri

B
Kanan

Kiri

C
Kanan

0.50

0.50

0.50

0.50
100.00

100.00

(37.50)

(18.75)

(2.34)

(1.17)

(0.15)

(0.07)

(0.01)

(0.00)

M
Primer

100.00

100.00

Siklus 1

(25.00)

(50.00)

(50.00)

(25.00)

(18.75)

(37.50)

9.38

4.69

(1.17)

(2.34)

0.59

0.29

(0.07)

(0.15)

0.04

0.02

(0.00)

(0.01)

Siklus 2

9.38
4.69

Siklus 3

0.59
0.29

Siklus 4

0.04
0.02

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 38

ANALISA STRUKTUR 1
80.00

60

80

60.00

2015

(60.00)

(60.00)

60.00

80.00

60

80

- 10 6.66 6.66 c(

80 60 80 60

)0
8
8
8
8

10 + c. 35=0, dengan demikian didapat c = - 0,2857


Berdasarkan syarat keseimbangan maka H 0 atau 10 + H0 + c.H1 = 0, dimana H0
adalah gaya hrizontal pada portal tidak bergoyang dan H1 portal yang bergoyang.

H 0
10

10

M0
M
c. 1 0
h
h

17.777 17.777 35.553 35.553


80 60 80 60

c(

)0
8
8
8
8
8
8
8
8

10 + c. 35=0, dengan demikian didapat c = -0,2857

Perhitungan Momen akhir dapat dilihat ditabel dibawah ini


Tdk
Bergoyang
MAB
MBA
MBC

-17.777
-35.553
35.553

c
-0.2857
-0.2857
-0.2857

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Bergoyang
80
60
-60

Momen Total
-40.633
-52.695
52.695

Page 39

ANALISA STRUKTUR 1
MCB
MCD
MD

-35.553
35.553
17.777

2015

-0.2857
-0.2857
-0.2857

-60
60
80

-18.411
18.411
-5.079

C
52.695
18.411

h=8m

D
A

40.633

-5.079

Batang AB
HB

52,695
h=8m

40.633

HA
A

+
Bid. M

Bid. Q

0 maka - HA.8 + 52,695+ 40,633 = 0 dan HA = 16,666 ton, HB = 16,666 ton

Batang CD
C

Bid. M

Bid. Q

HC
18,411
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 40

ANALISA STRUKTUR 1

2015
+
D

5,079

HD

0 maka - HC.8- 18,411+5,079 =0, Hc=6,666, HD = 6,666


Kontrol 10-16,666+6,666=0 ok.
D

Batang BC
q=10 t/m

52,695

18.411
RB

52,695

RC

Bid Momen

18.411

+
45,365
+

Bid. Lintang
-

M
M

RC .8 18.411 52.695 10.8.4 0

RC = 35,7145 ton

RB .8 18.411 52.695 10.8.4 0

RB = 44,2855 ton

Mx RB .x 12 qx 2 52,695

dMx
RB . qx 0 , 44,2855 10 x = 0, x = 4,43 m
dx

M max 45,365 tm
Secara keseluruhan Bidang Momen, Lintang dan Normal akan digambarkan dibawah ini.
Namun sebelumnya digambarkan Reakasi yang terjadi pada Portal, dari hasil batang AB,
BC dan CD.
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 41

ANALISA STRUKTUR 1

2015
C

10 ton
B

A
HA=16,666 t

HB=6,666

RA=44 ton

RB = 36 ton

Bidang Momen, gabungan dan batang AB, BC dan CD

.
52,695

18,411

45,365

40,633

5,079

Bidang Lintang digambarkan juga dengan kombinasi batang AB, BC dan CD


44 t

+
-

36 t

16,666

6,666 t

Bidang Normal dapat digambarkan dari Reaksi yang terjadi secara berkaitan. Reaksi di
titik B dan C akan menjadi Normal tekan pada batang AB dan CD, sedangkan reaksi dari
gaya Horizontal di A dan C akan menjadi Normal di batang BC.

ton

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

10 ton
Page 42

ANALISA STRUKTUR 1

2015

44

36
V. Beban virtuel

5.1 Menghitung lendutan dengan Gaya virtual


Menghitung lendutan dengan gaya virtual adalah sbb
L

L
L
M M
MM
QQ
NN
SSs
ds
ds
ds T T ds
1 P
EI
GF
EF
GJ T
EF
0
0

5.2 Rangka Batang


_

S Ss

EF
Suatu rangka batang dengan beban P=10 kN dititik C, tentukan lendutan dititik m.
E=2,1x104 kN/cm2

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 43

ANALISA STRUKTUR 1

2015
P=10 kN

6
8

4
7
m

2.00

2.00

P=1
2.00

2.00
Batang

S
kN

0
1
2
3
4
5
6
7
8

-10
-10
11.2
0
-5
-10
11.2
0
-8

0
-1
1.1
0
-0.5
-1
1.1
0
-0.5

F
cm2

S cm

20
20
10
10
15
20
10
10
15

100
200
224
200
100
200
224
200
100

s
F
kN/cm
0
100
280
0
17
100
280
0
17

S. S .

794
_

E.

S . S .s
794
EF

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 44

ANALISA STRUKTUR 1
Maka

2015

794
0.038 cm
2.1 *10 4

5.3 Balok Over Hang

MM
QQ
P
ds
ds
EI
GF
0
q

P
L2

P=1

_
_
1

M
.
M
dx

Q
.
Q
dx
EI
GF 0
L

Pada titik x
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 45

ANALISA STRUKTUR 1

2015

M= 0.5 qx2
_

M x
Q=qX
_

Q 1

q x4 l
qx l
q 4
q 2
3
0
.
5
qx
.
dx

qx
.
1
.
dx

0
0
L
L

EI 0
GF 0
EI 8
GF 2
8EI
2GF

E
G
1
atau

2(1 )
E 21

8EI q 2
1 4
L
qL 2GF
qL4 8I 1

8EI L2 F 1

qL4

8EI

Dengan I=F*i2
2
qL4
i

1 8 1
8EI
L
Contoh profil I 240 dengan L=200
F
46.1

=
2.478
FSteg 0.8724 2 *1.31
2

1 8 * 2.4781 0.33 9.59 1 0.061 1

200

L
Catatan, pada batang yang langsing jika 1 maka effek dari gaya lintang terhadap
h
lendutan dapat diabaikan.

qL4

8EI

5.4 Balok diatas dua perletakan

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 46

ANALISA STRUKTUR 1

2015

L
Dihitung lendutan ditengah bentang dengan metode gaya virtual dengan mengabaikan
effek gaya lintang
_
_
M . M .ds
1
m

M
.
M
.dx
EI
EI
Mx=0.5ql x- 0.5 qx2

M = 0.5 x
Karena bidang momen simetris maka dkali 2
_

M . M .ds
2
m 2

EI
EI
4
5qL
m
384 EI

q
0.5qLx 0.5qx .0.5x...dx 2EI Lx
2

0.25qx 3 dx

1.4. Portal
q

q
b

0.5qx(l x)

d
a

d
a

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 47

ANALISA STRUKTUR 1
q

2015
q

a
L

_
_
1
2
M
.
M
.
dx

M
.
M
.dh
EI o
EI 0
Mx=0.5 qx(l x- x2)
M =h
L
h
_
1
2
2
2
d
0
.
5
qx
(
Lx

x
).
h
.
dx

0
.
5
qx
(
LX

x
).
0
.
dh
EI o
EI 0

1
qL3 .h
2
d
0
.
5
qx
(
Lx

x
).
h
.
dx

EI o
12 EI
II Menghitung perputaran sudut
L

MM
QQ
NN
1.
ds
ds
ds
EI
GF
EF
0
0
2.1 Balok overhang

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 48

ANALISA STRUKTUR 1

2015
PL

P
A

B
L

M
M

MM
1.
ds
EI
_

Dimana M = Px dan M 1
L
1
1 PL2
1.
Px
.
1
.
dx

EI
EI 2
(putaran sudut di titik b)
2.2 Balok dengan oversteck

P
C

C
L

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 49

ANALISA STRUKTUR 1

2015
M=1

C
L

Batang AB
L

MM
1.
ds
EI
Mx

Pc
x
L

1
x
L
Batang BC
M=PX
M=1
M

c
L
c
P cL c 2
MM
MM
1 pc 1

1.

x x.dx px.1.dx

EI
EI
EI L L
EI
2
3

Daftar Pustaka
Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 50

ANALISA STRUKTUR 1

2015

1. Wagner/Erlhof, 1983, Praktische Baustatik 2, B.G.Teubner Stuttgart


2. Hirschfeld Kurt, 1984, Baustatik, Springler-Verlag, Berlin
3. Weaver William/Gere James, 1989, Analisa Matriks Untuk Struktur Rangka,
Erlangga, Jakarta.
4. Meskouris, 2009, Baustatik I, RWTH Aachen, Germany
5. Boresi, Arthur 1992 :Advanced Mechanics of Materials
6. Salmon, Charles G. 1992 :Struktur Baja
7. Daryl L. Logan 1991:Mechanics of Materials
8. Thimoshenko, 1986 :Teori Elastisitas.
9. Bornsheuer, 1980:Vorlesungen In Baustatik Einfuehrung in die Torsion
Universitas Stutgart,
10. Vazirani, 2002, Analysis of Structures, Khanna Publishers, Delhi, India
11. Schneider, 2008, Bautabellen fuer Ingenieure, Werner Verlag, Jerman

Prof Dr.-Ing Johannes Tarigan

Page 51