You are on page 1of 8

Morfometri Daerah Aliran Sungai

00.58 Aq Dhianti 4 comments

Morfometri adalah suatu studi yang bersangkutan dengan variasi dan perubahan dalam
bentuk (ukuran dan bentuk) dari organisme, meliputi pengukuran panjang dan analisis kerangka
suatu organisme (Anonim1, 2010). Studi morfometri didasarkan pada sekumpulan data
pengukuran yang mewakili variasi bentuk dan ukuran ikan. (Turan, 1998).
Morfometri DAS
Morfometri DAS merupakan ukuran kuantitatif karakteristik DAS yang terkait dengan
aspek geomorfologi suatu daerah. Karakteristik ini terkait dengan proses pengatusan (drainase)
air hujan yang jatuh di dalam DAS. Parameter tersebut adalah luas DAS, bentuk DAS, jaringan
sungai, kerapatan aliran, pola aliran, dan gradien kecuraman sungai.

Daerah Aliran Sungai (DAS)/Daerah Pengaliran Sungai (DPS) atau drainage basin adalah
suatu daerah yang terhampar di sisi kiri dan dan kanan dari suatu aliran sungai, dimana semua
anak sungai yang terdapat di sebelah kanan dan kiri sungai bermuara ke dalam suatu sungai
induk. Seluruh hujan yang terjadi didalam suatu drainage basin, semua airnya akan mengisi
sungai yang terdapat di dalam DAS tersebut. oleh sebab itu, areal DAS juga merupakan daerah
tangkapan hujan atau disebut catcment area. Semua air yang mengalir melalui sungai bergerak
meninggalkan daerah daerah tangkapan sungai (DAS) dengan atau tampa memperhitungkan
jalan yang ditempuh sebelum mencapai limpasan (run off). (Mulyo, 2004).

Daerah Aliran Sungai (DAS) juga dapat didefinisikan sebagai suatu daerah yang dibatasi
oleh topografi alami, dimana semua air hujan yang jatuh didalamnya akan mengalir melalui
suatu sungai dan keluar melalui outlet pada sungai tersebut, atau merupakan satuan hidrologi
yang menggambarkan dan menggunakan satuan fisik-biologi dan satuan kegiatan sosial ekonomi
untuk perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam. (Suripin, 2001).
Menurut I Made Sandy (1985), seorang Guru Besar Geografi Universitas Indonesia;
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah bagian dari muka bumi, yang airnya mengalir ke dalam
sungai yang bersangkutan, apabila hujan jatuh. Sebuah pulau selamanya terbagi habis ke dalam
Daerah-Daerah Aliran Sungai. Antara DAS yang satu dengan DAS yang lainnya dibatasi oleh
titik-titik tertinggi muka bumi berbentuk punggungan yang disebut stream devide atau batas
daerah aliran (garis pemisah DAS). Bila suatu stream devide itu merupakan jajaran pebukitan
disebut stream devide range. (Hallaf H.P., 2006).
Morfomeri Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan
keadaan jaringan alur sungai secara kuantitatif. keadaan yang dimaksud untuk analisa aliran
sungai antara lain meliputi:
a.

Luas DAS
DAS merupakan tempat pengumpulan presipitasi ke suatu sistem sungai. Luas daerah
aliran dapat diperkirakan dengan mengukur daerah tersebut pada peta topografi. Garis batas
antara DAS adalah punggung permukaan bumi yang dapat memisahkan dan membagia air hujan
ke masing-masing DAS. Garis batas tersebut ditentukan berdasarkan perubahan kontur dari peta
tofografi sedangkan luas DAS nya dapat diukur dengan alat planimeter.
Skala peta yang digunakan akan mempengaruhi ketelitian perhitungan luasnya. adapun
formula untuk perhitungan luas yaitu:
Luas = Jumlah kotak x (skala)2

b. Panjang dan lebar


Panjang DAS adalah sama dengan jarak datar dari muara sungai ke arah hulu sepanjang
sungai induk. Sedangkan lebar DAS adalah perbandingan antara luas DAS dengan panjang
sungai induk.
Lebar = Luas DAS/Panjang Sungai Induk
c.

Kemiringan atau Gradien Sungai


Gradien atau kemiringan sungai dapat diperoleh dengan persamaan sebagai berikut:

g = Jarak Vertikal/Jarak HorisontalKet :


g = Gradien Sungai
J. Vertikal = Beda tinggi antara hulu dengan hilir (m)
J. Horisontal = Panjang sungai induk (m)
d. Orde dan tingkat percabangan sungai
1.) Orde Sungai
Alur sungai dalam suatu DAS dapat dibagi dalam beberapa orde sungai. Orde sungai
adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai di dalam suatu
DAS. Dengan demikian makin banyak jumlah orde sungai akan semakin luas pula DAS nya dan
akan

semakin

panjang

pula

alur

sungainya.

Tingkat percabangan sungai (bufurcation ratio) adalah angka atau indeks yang ditentukan
berdasarkan jumlah alur sungai untuk suatu orde.
2.) Tingkat percabangan sungai
Untuk

menghitung

tingkat

percabangan

Rb = Nu/Nu+1
Ket:
Rb = Indeks tingkat percabangan sungai
Nu = jumlah alur sungai untuk orde ke u
Nu + 1 = jumlah alur sungai untuk orde ke u + 1
Adapun karakteristik dari tiap nilai Rbnya yaitu:

e.

Kerapatan sungai

sungai

dapat

digunakan

rumus:

Kerapatan sungai adalah suatu angka indeks yang menunjukkan banyaknya anak sungai di
dalam

suatu

DAS.

Indeks

tersebut

diperoleh

dengan

persamaan

sebagai

berikut:

Dd = L/A
Ket:
Dd = indeks kerapatan sungai (km/km2)
L = jumlah panjang sungai termasuk anak-anak sungainya
A = Luas DAS (km2)
Adapun karakteristik dari nilai indeks kerapatan sungai (Dd) yaitu:

f.

Bentuk Daerah Aliran Sungai


Pola sungai menentukan bentuk suatu DAS. Bentuk DAS mempunyai artipenting dalam
hubungannya dengan aliran sungai, yaitu berpengaruh terhadap kecepatan terpusat aliran
Menurut Gregari dan Walling (1975), untuk menentukan bentuk DAS dapat diketahui
dngan terlebih dahulu menentukan nilai Rc nya.
Rc = 4A/P2
Ket:
Rc = Basin circularity
A = Luas DAS (m2)
P = Keliling (m)

= 3,14
Adapun karakteristik dari nilai Basin circularity yaitu:

Bentuk DAS mempengaruhi waktu konsentrasi air hujan yang mengalir menuju outlet.
Semakin bulat bentuk DAS berarti semakin singkat waktu konsentrasi yang diperlukan, sehingga
semakin tinggi fluktuasi banjir yang terjadi. Sebaliknya semakin lonjong bentuk DAS, waktu
konsentrasi yang diperlukan semakin lama sehingga fluktuasi banjir semakin rendah. Bentuk
DAS secara kuantitatif dapat diperkirakan dengan menggunakan nilai nisbah memanjang
('elongation ratio'/Re) dan kebulatan ('circularity ratio'/Rc). Macam-macam benntuk Daerah
Aliran Sungai:
DAS berbentuk bulu burung
DAS ini memiliki bentuk yang sempit dan memanjang, dimana anak-anak sunga (subDAS) mengalir memanjang di sebalah kanan dan kiri sungai utama. Umumnya memiliki debit
banjir yang kecil tetapi berlangsung cukup lama karena suplai air datang silih berganti dari
masing-masing anak sungai.
DAS berbentuk radial
Sebaran aliran sungai membentuk seperi kipas atau nyaris lingkaran. Anak-anak sungai
(sub-DAS) mengalir dari segala penjuru DAS dan tetapi terkonsentrasi pada satu titik secara
radial, akibat dari bentuk DAS yang demikian. Debit banjir yang dihasilkan umumnya akan
sangat besar, dalam catatan, hujan terjadi merata dan bersamaan di seluruh DAS tersebut.
DAS berbentuk paralel
Sebuah DAS yang tersusun dari percabangan dua sub-DAS yang cukup besar di bagian
hulu, tetapi menyatu di bagain hilirnya. Masing-masing sub-DAS tersebut dapat memiliki
karakteristik yang berbeda. Dan ketika terjadi hujan di Kedua sub-DAS tersebut secara
bersamaan, maka akan berpotensi terjadi banjir yang relative besar
g. Pola Pengairan Sungai

Sungai di dalam semua DAS mengikuti suatu aturan yaitu bahwa aliran sungai
dihubungkan oleh suatu jaringan suatu arah dimana cabang dan anak sungai mengalir ke dalam
sungai induk yang lebih besar dan membentuk suatu pola tertentu. Pola itu tergantungan dari
pada kondisi tofografi, geologi, iklim, vegetasi yang terdapat di dalam DAS bersangkutan.
Adapun Pola-pola Pengairan Sungai yaitu:
1.

Pola trellis dimana memperlihatkan letak anak-anak sungai yang paralel menurut strike atau
topografi yang paralel. Anak-anak sungai bermuara pada sungai induk secara tegak lurus. Pola
pengaliran trellis mencirikan daerah pegunungan lipatan (folded mountains). Induk sungai
mengalir sejajar dengan strike, mengalir di atas struktur synclinal, sedangkan anak-anak
sungainya mengalir sesuai deep dari sayap-sayap synclinal dan anticlinal-nya. Jadi, anak-anak
sungai juga bermuara tegak lurus terhadap induk sungainya

2. Pola Rektanguler, dicirikan oleh induk sungainya memiliki kelokan-kelokan 90o, arah anakanak sungai (tributary) terhadap sungai induknya berpotongan tegak lurus. Biasanya ditemukan
di daerah pegunungan patahan (block mountains). Pola seperti ini menunjukkan adanya pengaruh
joint atau bidang-bidang dan/atau retakan patahan escarp-escarp atau graben-graben yang saling
berpotongan.

Gambar Pola-pola Pengairan Sungai


3.

Pola Denritik, yaitu pola sungai dimana anak-anak sungainya (tributaries) cenderung sejajar
dengan induk sungainya. Anak-anak sungainya bermuara pada induk sungai dengan sudut lancip.
Model pola denritis seperti pohon dengan tatanan dahan dan ranting sebagai cabang-cabang dan

anak-anak sungainya. Pola ini biasanya terdapat pada daerah berstruktur plain, atau pada daerah
batuan yang sejenis (seragam, homogen) dengan penyebaran yang luas.
4. Pola Radial Sentripugal, Pola pengaliran beberapa sungai di mana daerah hulu sungai-sungai itu
saling berdekatan seakan terpusat pada satu titik tetapi muaranya menyebar, masing-masing ke
segala arah. Pola pengaliran radial terdapat di daerah gunungapi atau topografi bentuk kubah
seperti pegunungan dome yang berstadia muda, hulu sungai-sungai berada di bagian puncak,
tetapi muaranya masing-masing menyebar ke arah yang lain, ke segala arah.
5.

Pola Radial Sentripetal, Kebalikan dari pola radial yang menyebar dari satu pusat, pola
sentripetal ini justru memusat dari banyak arah. Pola ini terdapat pada satu cekungan (basin), dan
biasanya bermuara pada satu danau. Di daerah beriklim kering dimana air danau tidak
mempunyai saluran pelepasan ke laut karena penguapan sangat tinggi, biasanya memiliki kadar
garam yang tinggi sehingga terasa asin.

6. Pola Paralel, Adalah pola pengaliran yang sejajar. Pola pengaliran semacam ini menunjukkan
lereng yang curam. Beberapa wilayah di pantai barat Sumatera memperlihatkan pola pengaliran
parallel
7.

Pola Annular, Pola pengaliran cenderung melingkar seperti gelang; tetapi bukan meander.
Terdapat pada daerah berstruktur dome (kubah) yang topografinya telah berada pada stadium
dewasa. Daerah dome yang semula (pada stadium remaja) tertutup oleh lapisan-lapisan batuan
endapan yang berselang-seling antara lapisan batuan keras dengan lapisan batuan lembut.
c) Jaringan sungai
Jaringan sungai dapat mempengaruhi besarnya debit aliran sungai yang dialirkan oleh
anak-anak sungainya. Parameter ini dapat diukur secara kuantitatif dari nisbah percabangan yaitu
perbandingan antara jumlah alur sungai orde tertentu dengan orde sungai satu tingkat di atasnya.
Nilai ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nisbah percabangan berarti sungai tersebut
memiliki banyak anak-anak sungai dan fluktuasi debit yang terjadi juga semakin besar. Orde
sungai adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai pada
suatu DAS. Semakin banyak jumlah orde sungai, semakin luas dan semakin panjang pula alur
sungainya. Orde sungai dapat ditetapkan dengan metode Horton, Strahler, Shreve, dan
Scheidegger. Namun pada umumnya metode Strahler lebih mudah untuk

diterapkan

dibandingkan dengan metode yang lainnya. Berdasarkan metode Strahler,alur sungai paling hulu
yang tidak mempunyai cabang disebut dengan ordepertama (orde 1), pertemuan antara orde

pertama disebut orde kedua (orde 2), demikian seterusnya sampai pada sungai utama ditandai
dengan nomor orde yang paling besar.
DAFTAR PUSTAKA
Hallaf, H.P., 2005. Geomorfologi Sungai dan Pantai. Jurusan geografi FMIPA UNM.
Makassar.
Soewarno, 1991. Hidrologi: Pengukuran dan Pengolahan Data Aliran Sungai
(Hidrometri). Nova.Bandung
Asdak C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Linsley RK, Kohler MA, Paulhus JLH. 1982. Hidrologi Untuk Insinyur. Hermawan
Y, penerjemah; Sianipar Y, Haryadi E, editor. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Terjemahan dari: Hydrology for Engieneers
http://utha-miy.blogspot.com/2011/05/morfometri-das-daerah-aliran-sungai-i.html